Oleh: Mawar | September 20, 2008

Pesan Gaib Ki Ageng Mangir

Dhandhang Gula

Sasadara huwus panglong iki / Parandene mancorong baskara
Sumelet kelet panase / Kabeh wong padha bingung
Salang tunjang angkara sirir / Ananging kang pinanggya
Geni mulad murub / Bumi bengkah luru tumbal
Tan kawilang kehing layon nggondhol tangis / Nuswantara kantaka
Dhuh, dhuh, adhuh Risang Maha Yekti
Abdi muja konjuk Maha Wikan / Krama galana hambeke
Mulat karuganipun / Bumintara kawula dasih
Tuwahing lampah tama / Kawarna pra luhur
Lumembat sang sinatriya / Tentrem ayem tata titi kuswa rukmi
Mandhireng mulya jaya
Punapa ta badhe klampah malih / Pralayane prabu Dharmawangsa
Tanapi sirna ilange / Majalungga karuhun
Mawut ambyar talining asih / Putra anglaga bapak
Kadang dados satru / Sadayanipun punika
Krana polah wiyasaning gatra wangsi / Angugung durangkara
Kang kajangka dening pra winasis / Nagri mami kalungge sapendhah
Wong jawa ilang jawane / Nyingkur pepakon luhung
Wusanane ibu Pratiwi / Rumaos yen katilar
Datan den pailu / Dhuh Gusti Sang Murbeng jagad
Mugi krenan paring lejar lan udani / Dhumateng abdi nDika
Nadyan amba wus kamuksan jati / Kapiyandhem satuti ngastawa
Maring napi kula wngse / Ndeek angudar simpul
Kinthung silung kapugut yekti / nanging abdi paduka
Jalma punggung cubluk / pramilanta nyuwun wucal
Kados pundi lampahing pambudi / sumangga mawarsita

Sinom

1 . Ingsun pranataning jagad/ maha welas maha asih
Tanpa wates tuhu tresna / tumrap titah kang ngabekti
Lan setya angugemi / marang angger dhawuh Ingsun
Fhuh nguni Ingsun serat / ing watu loh cacah kalih
Sun paringke marang Musa dhutaning wong

Marwa hawya melang driya / Ingsun krenan ngijabahi
Panyuwun umat Ingwang / Nuswantara bakal bangkit
Tandane jaman iki / timbul titah sipat rasul
Sumrambah ing bawana / kanthen asta ngesthi Gusti
Tanpa pamrih ider warih tirta marta

Ki Ageng Mangir dan Misteri Teka-teki

IBARAT misteri angin, kisah Ki Ageng Mangir adalah misteri sejarah Jawa. Angin itu mampu berhembus halus hingga tak terjaring, bagitu juga kisah Ki Ageng Mangir selalu saja mengalir dari mulut ke mulut manusia Jawa dengan sangat halus yang tak mungkin di disaring-saring demi kepentingan politis atau apapun. Seperti halnya keberadaan angin yang tak mungkin dibatasi pada satu tempat , kisah Mangir mengalir sesuai situasi dan keadaan masyarakat penutur. Kapan penuturan itu mulai terjadi tak ada yang bisa membuktikan secara persis, pada kenyataaannya, ada kisah Ki Ageng Mangir yang selalu hidup di masyarakat. Termasuk dalam tradisi tutur, misteri tragedi Ki Ageng Mangir selalu saja mengundang pembicaraan.
Masyarakat Jawa menganggap Ki Ageng Mangir adalah tokoh sejarah yang legendaris. Dan mungkin saja, Ki Ageng Mangir adalah pahlawan, seperti halnya Pangeran Diponegoro adalah pahlawan buat Bangsa indonesia dan pemberontak buat pemerintah kolonial pada waktu itu.
Sebenarnya, Mangir sendiri adalah nama sebuah tanah perdikan, sedangkan nama asli Ki Ageng Mangir adalah Ki Ageng Wanabaya yang menjadi tokoh lokal pada tanah perdikan Mangir.
Menyebut nama Mangir tak bisa dipisahkan dari nama Pembayun, putri Panembahan Senopati. Pembayun yang dijadikan penjerat Mangir sebagai musuh Mataram akhirnya justru menjadi istri Mangir. Dengan menyamar sebagai penari ledhek, pengamen keliling, hati Mangir yang kokoh sinatria bertekuk lutut dalam pelukan cinta Pembayun. Begitu sebaliknya. Itulah kisah Ki Ageng Mangir, kisah hati yang semula musuh akhirnya menjadi cinta asmara.
Kisah Mangir adalah kisah kekuasaan sekaligus kisah tragedi asmara. Karena dua hal alasan itulah tokoh Mangir adalah menjadi sangat misteri bagai teka teki sejarah. Akhir hidupnya Ki Ageng Mangir mengundang derai air mata. Karena jiwanya harus pergi meninggalkan raga lantaran asmara dengan Pembayun , putri musuh bebuyutan, Panembahan Senopati. Dari kisah asmara Mangir dan Pembayun yang sering menarik perhatian masyarakat Jawa adalah kisah Permbayun menjadi penari ledhek, pengamen keliling dengan menari yang diikuti oleh sejumlah tokoh Mataram yang menyamar dengan nama-nama sandi.
Dalam penuturan lisan yang berkembang, ada empat orang dari generasi yang berbeda yang menggunakan nama Ki Ageng Mangir, yaitu Ki Ageng Mangir I atau Ki Ageng Wanabaya I, Ki Ageng Mangir II atau Wanabaya II, Ki Ageng Mangir III atau Wanabaya III dan terakhir Ki Ageng Mangir IV atau Wanabaya IV, seperti dituturkan oleh Amiluhur Suroso, seorang yang menyatakan dirinya adalah keturunan Ki Ageng Mangir.
Tetapi ada sumber lain yang menegaskan hanya ada dua tokoh yang dikenal sebagai orang yang bergelar Ki Ageng Mangir Wanabaya, yaitu Ki Ageng Mangir Wanabaya I dan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Yang terakhir juga disebut sebagai Ki Ageng Mangir Wanabaya muda. Pendapat kedua dijelaskan oleh Pramudya Ananta Toer dalam bukunya Drama Mangir.
Yang pertama memberikan penjelasan tambahan bahwa ada empat makam untuk masing-masing Ki Ageng Mangir tersebut. Yaitu : Ki Ageng Mangir I dimakamkan di Alas Ketangga-Ngawi, yang ke II di Paliyan-Gunung Kidul, yang ke III di Makam Sewu-Bantul dan yang ke IV di Sorolaten-Sleman.
Sementara ada pendpat ke tiga yang dilontarkan oleh Sugeng Pramono dalam bukunya Ki Ageng Mangir, ada tiga Ki Ageng Mangir, yaitu Mangir I, II dan III.
Dari tokoh tersebut yang dianggap legendaris oleh masyarakat Jawa adalah Ki Ageng Mangir IV atau Mangir muda karena kematiannya di tangan Panembahan Senopati yang juga mertuanya sendiri.
Tidak heranlah jika hingga kini tiga nama sejarah Jawa, yaitu Panembahan Senopati dan Ki Ageng Mangir dan Pembayun, sama-sama tak lekang ditelan jaman. Seakan Mangir adalah lambang tokoh cinta kemerdekaan dan Senopati adalah tokoh sejarah yang hendak menegakkan derajat bangsa Mataram, Mataram Raya yang satu, besar dan jaya. Sementara, Pembayun adalah tokoh romantis yang membawa cinta dan dendam hingga dibawa mati.
Ada monumen-monumen sejarah yang menjadi saksi bisu sehingga masyarakat mengenang terus tragedi Ki Ageng mangir. Di antaranya sebuah makam yang berada makam raja-raja di Kota Gede, Yogyakarta yang dianggap makam Ki Ageng Mangir muda. Juga, batu gilang yang berada di dekat pemakaman Kota Gede, termasuk pula sendang di Kasihan Bantul yang juga disebut Sendang Kasihan. Nama desa mangir sendiri yang berada di wilayah Bantul selatan, desa nan asri. Belum lagi banyak buku-buku sejarah soal Ki Ageng Mangir juga menjadi monumen sejarah soal perseteruan Mangir-Senopati. Lebih kontroversi lagi adalah keberadaan pusaka Ki Ageng Mangir yang disebut Kyai baru Klinthing dan Kyai Baru Kuping dengan legendanya menjadi mercusuar sejarah soal Mangir.
Namun sekali lagi, meski banyak fakta sejarah yang mendukung soal adanya perseteruan Mangir dan Senopati, hingga sekarang tetap saja terdapat beberapa pertanyaan yang tak pernah ada jawaban pasti. Pertanyaan itu bagai teka-teki soal Mangir, Seperti misalnya, benarkah Mangir muda dibunuh Senopati dengan cara menghempaskan kepala Mangir di atas batu gilang ataukah dibunuh oleh Pangeran Purubaya yang juga sebagai saudara iparnya dengan cara menusukkan tombak atau sebilah keris atas perintah Senopati. Pertanyaan lain, dimanakah sebenarnya tempat pemakaman Ki Ageng Mangir itu sendiri? Dan juga menjadi misteri adalah mengenai temapat dimana senjata pamungkas Mangir yang sakti yang disebut sebagai Kyai Baru Klinthing dan Baru Kuping itu berada. Pertanyaan tak kalah menarik adalah dimana makam Pembayun yang telah menjadi istri Mangir yang juga putra sulung Panembahan Senopati itu. Hanya saja, teka-teki Mangir ini tampaknya akan selalu menjadi misteri abadi.
Suatu kesimpulan yang juga bersifat pembelaan atas tragedi Mangir, akankah Mataram raya terwujud tanpa ada penundukan Ki Ageng Mangir yang akhirnya menjadi korban sejarah. (Uung).

Korban Cita-cita Mataram Raya

AWAL kisah Mangir bermula dari terjadinya perubahan kekuasaan di tanah Jawa. Tenggelamnya kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang dan digantikan cahaya kekuasaan Panembahan Senopati di Kraton Mataram menerbitkan cita-cita besar, Mataram Raya seperti halnya Nusantara Jaya di jaman Majapahit dibawah Hayamwuruk-Gadjah Mada.
Cita-cita Mataram Raya pada benak Panembahan Senopati sebagai pemula Kerajaan Mataram Islam mengharuskan banyak tokoh bupati di wilayah Jawa Tengah hingga Jaw Timur seperti bupati Pati, Jepara, Kudus, Tuban hingga Blambangan di ujung timur Jawa ini haruslah tunduk dibawah panji Mataram. Begitu pula tanah perdikan di Desa Mangir dengan pimpinan tokoh lokal yang sangat berpengaruh dan sakti yang oleh masyarakatnya disebut Ki Ageng Mangir.
Tanah Perdikan Mangir sendiri bukan wilayah yang baru saja muncul, tanah perdikan yang merupakan wilayah yang dibebaskan membayar pajak telah ada sejak pemerintahan Majapahit. Perdikan Mangir saat itu dibawah Ki Ageng Wanabaya I yang kemudian dikenal dengan Ki Ageng Mangir I. Setelah Pemanahan bersama danang Sutowijaya berhasil mengalahkan Aryo Penangsang dari Kadipaten Jipang-Panolan, Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan alas mentaok yang juga menjadi tanah perdikan dibawah pimpinan Ki Ageng Pemanahan yang kemudian dikenal dengan Mataram.
Kadipaten Mataram inilah yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram setelah kerajaan Pajang surut dengan meninggalnya Sultan Hadiwijaya. Bersmaan dengan cita-cita Mataram Raya dibawah Panembahan Senopati, tidak jauh dari ibukota Mataram yang pada waktu itu berada di Kota Gede (berjarah 30 km ke arah selatan), Kadipaten Mangir masih bersiwat istimewa sebagai daerah perdikan, daerah merdeka. Tentu saja ini tidak bisa dibiarkan untuk terwujudnya Mataram Raya. Mangir harus tunduk dibawah Senopati.
Dengan niat penguasai seluruhnya tanah Mataram dan janji pada Jaka Tingkir, Ki Ageng Pemanahan ingin menaklukkan Mangir yang diteruskan oleh keturunannya yaitu Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang selanjutnya mendirikan Kraton di Kota Gede atau Sargede. Pertempuran demi pertempuran pun tak terelakkan lagi, namun Panembahan Senopati tak kunjung berhasil melumpuhkan Ki Ageng Wanabaya yang mempunyai senjata sangat sakti, yakni Tombak Baruklinting dan Baru Kuping
Meski kekuasaan perdikan Mangir telah beralih pada turunan Ki Ageng Wanabaya I sampai dengan Ki Ageng Wabaya IV, prinsip merdeka dan tak mau menyembah Senopati tetap kukuh tertanam di darah Ki Ageng Mangir IV. Tetapi mengapa kemerdekaan Perdikan Mangir berlangsung lama hingga empat generasi? Karena Ki Ageng Mangir memiliki pusaka yang sangat sakti yang disebut Kyai Baru Klinthing dan Kyai Baru Kuping. Agaknya pusaka andalan Mataram yang disebut Kyai Pleret tak mampu mengalahkan.
Akhirnya ditempuhlah politik seksual, yaitu mengumpankan putri panembahan Senopati yang berparas cantik untuk memikat hati Ki Ageng Mangir muda, Ki Ageng Mangir IV. Untuk bisa memikat hati Ki Ageng Mangir IV ini Putri Pembayun haruslah menjadi penari ledek yang mbarang turut desa, Tugas menjadi ledek pemikat hati mangir diawali mandi Sendang Kasihan yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Kasihan-Bantul.
Sejarah Mangir mengkisahkan, siasat seksual itu membawa hasil. Ki Ageng Mangir IV akhirnya mencintai Pembayun hingga Pembayun mengandung benih Mangir. Cinta mangir inilah yang juga mengantar kepala Mangir pada batu gilang dibawah singgasana Senopati yang berujung pada kematian Ki Ageng Mangir IV yang disaksikan Pembayun. Menurut versi Pramudya Ananta Toer dalam bukunya “Drama Mangir”, Mangir meninggal karena dibunuh oleh Pangeran Purubaya, saudara ipar Ki Ageng Mangir karena saudara seayah lain ibu dengan Pembayun (Pangeran Purubaya adalah anak Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Giring)

Denting Dawai Cinta Mangir- Pembayun

Siasat politik perang pamungkas pun dilancarkan untuk melumpuhkan kekuatan Mangir. Adalah Retno Pembayun putri Panembahan Senopati sendiri sebagai senjata penakluk yang menyamar menjadi ledhek/Tayub atau penari keliling hingga sampai di Mangir dan bertemu dengan Ki Ageng Wanabaya. Ternyata pertemuan itu membuat Ki Ageng Wanabaya dan Retno Pembayun saling memadu denting dawai cinta, hingga akhirnya sepasang kekasih tersebut menikah.
Pada saat Ki Ageng Wanabaya bertemu dengan Retno Pembayun, mereka menyanyikan sebuah kidung:
Duh Pembayun / Pudyanku wong kuning/Cahyane mancorong/Gandhes luwes kenes wicarane/
Dhuh kakang paduka pundhen mami / Kawula sayekti bekti marang kakung//…
Rasa cinta Pembayun pada Ki Ageng Wanabaya begitu besar sehingga Ia tidak tega untuk membohongi suaminya bahwa Ia adalah putri Panembahan Senopati yang merupakan musuh bebuyutan sekaligus mertua Ki Ageng Wanabaya. Ki Ageng Wanabaya sempat berang, marah, dan dendam hingga berniat membunuh pembayun. Ki Ageng Giring tak tega. Bahkan lebih jauh, Pembayun berhasil mengajak Ki Ageng Wanabaya menghadap (sungkem) Panembahan Senopati, ayah mertuanya, di kraton kota Gede. Tetapi dengan syarat harus dikawal sepasukan lengkap.
Sesampainya di Kota Gede, Panembahan Senopati telah menunggu di atas Singgasana Kerajaan. Namun ketika Ki Ageng Wanabaya bersimpuh di hadapan mertuanya, Panembahan Senopati membenturkan kepala Ki Ageng Wanabaya pada batu gilang tempat Panembahan Senopati menaruh kaki hingga batu gilang legok. Akhirnya Ki Ageng Mangir meninggal di hadapan Panembahan Senopati dan Retno Pembayun.

Dalam cerita tutur yang lain dikisahkan bahwa ketika Ki Ageng Mangir dan Pembayun yang sangat cantik menghadap Panembahan Senopati, Kyai Baruklinting dan Kyai Barukuping dilepas. Sebab menghadap raja tidak boleh membawa senjata. “Ki Ageng Mangir ditombak Kyai Pleret sebagai pengageng bukan di watu gilang, secara logika tidak mungkin sekeras-kerasnya orang membenturkan kepala langsung meninggal.” Menurut putra pertama dari tiga bersaudara putra Alm. Suroso ini.
Ki Ageng Mangir dimakamlan di Kota Gede, separuh makamnya berada di luar Bangsal Prabayaksa dan separuhnya di dalam. Bangsal Prabayaksa merupakan bangunan berdinding tembok, di dalam bangsal ini terdapat 72 makam yang dibuat dengan bahan marmer berwarna putih, yaitu antara lain makam Panembahan Senopati, Sultan Sedo Krapyak, Sultan Sepuh, Pangeran adipati Pakualam I, ki Ageng Mangir, PA II, PA III, dan PA IV.
Makam di Kotagede hanya bagian politis dan itu kosong. Panembahan Senopati ingin mengatakan pada rakyat bahwa ini anak saya, sebagian adalah taklukan saya. Karena sebagai anak dan musuh karenanya makam di Kota gede terpisah.
Menurut sumber setempat Ganjuran juga pernah menjadi tempat pengasingan pasangan kekasih Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan Rara Pembayun. Peristiwa percintaan semacam Romeo-Juliet ini dipercaya mengilhami Keraton Mataram untuk menciptakan sebuah gending sakral yang dinamakan gending Kala Ganjur.
Istilah Kala Ganjur ini dipercaya pula menjadi cikal bakal penamaan dusun Ganjuran yang secara administratif terletak di Kalurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
Kisah percintaan Ki Ageng Mangir dengan Retno Pembayun menurut beberapa orang sangat bernuansa politis, namun itulah cikal bakal berdirinya Mataram Islam pada akhir abad XVI. Memang cerita Mangir ini ada beberapa versi dalam cerita tutur dan babad, seringkali dijadikan kisah/lakon dalam kethoprak. Misteri Mangir yang masih menyimpan misteri ini disebabkan penduduk Mangir sendiri dilarang membaca babad Mangir karena tidak kuat.
Menurut Subakri, babad Mangir yang asli sekarang berada di Negeri Belanda dan tidak semua orang sanggup membacanya. Sehingga cerita Mangir hanya berada pada cerita tutur rakyat Jawa. Namun bergabungnya Mangir dalam Mataram merupakan cikal bakal berdirinya Indonesia. Apabila Mangir yang dianggap sebagai klilip tidak bergabung dengan Mataram, maka perjanjian Gianti dan nama besar Mataram tidak akan ada dalam sejarah. (Untung)

Silsilah Mangir

Trah Mangir ini dalam babad diceritakan berasal dari Brawijaya terakhir (V) yang berputra Radyan Alembumisani. Alembumisani ini melarikan diri dari Majapahit ke arah barat bersama istrinya. Kemudian dia mempunyai seorang putra yang diberi nama Radyan Wanabaya. Radyan Alembumisani meninggal di daerah Gunungkidul. Radyan Wanabaya inilah yang kemudian tinggal di Mangir sehingga ia terkenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wanabaya (Mangir I).
Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Konon dari rahim Rara Jalegong ini lahir seorang anak yang berupa ular/naga (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.
Jadi, Ki Bagus Baruklinting adalah saudara tiri dari Mangir II dan paman dari Mangir III. Mangir III ini pula yang kelak hidupnya tidak pernah berpisah dengan tombak Kiai Baruklinting. Demikian, Babad Mangir menceritakan. Nama baru sendiri dalam dunia tosan aji (senjata logam) menjadi nama salah satu dhapur.

“Namun menurut keluarga kami, Panembahan Senopai mengutus Demang Tangkil membawa Jenazah Mangir ke Sebaran daerah Purwokerto. Ditengah jalan ditanya orang “membawa jenazah mau dibawa kemana?” “Mau ke Sebaran”, jawab Demang Tangkil. Orang tersebut berkata lagi “Nah Sebaran itu sini”. Maka mangir Wanabaya dimakamkan di Sebaran Godean yang secara fisik masih ada. Disebelahnya ada batu nisan panjang sebagai makam kuda tunggangan Mangir yang mencari tuannya.” Imbuh keturunan ke-IV Prawiroharjo ini.
Selanjutnya Demang Tangkil pulang menghadap Panembahan Senopati. Kemudian oleh Panembahan Senopati bertanya “Loh cepat sekali pulang? Demang Tangkilan menjawab “Sudah dilaksanakan di Sebaran Godean.” Ternyata pekerjaan Demang Tangkilan tidak sesuai dengan perintah raja, maka Demang Tangkil dibunuh di alas Bering (sekarang Beringharjo).
Sedangkan Pembayun diserahkan pada Ki Ageng Karanglo sampai melahirkan anak. Anak tersebut kemudian bernama Bodronoyo. Panembahan Senopati sempat berpesan untuk membunuh anak Ki Ageng Mangir tersebut apabila melahirkan anak laki-laki dan bila perempuan harus dibuang. Untuk keselamatan jabang bayi, maka Bodronoyo dilarikan ke arah barat, persisnya di daerah Banyumas.
Masih menurut Keturunan Ki Ageng Mangir ini berkata: “Setelah Bodronoyo besar menjadi gamel (pengurus kuda) yang secara otomatis dekat denga raja. Suatu saat membalas perbuatan Panembahan Senopati pada ayahnya dengan membunuh Panembahan Senopati. Bodronoyo kembali lari ke Banyumas dan dimakamkan di sana yang makamnya dikramatkan oleh masyarakat setempat.”
Dari sana keluarga terpecah menjadi dua karena domisili. Keluarga yang tinggal di Banyumas menjadi Adipati Banyumas dengan marga Kolopaking (kelopo akeng). Dan sebagian lagi kembali ke tanah Mataram memakai marga Prawiroharjo. Silsilah keturunan Ami Luhur Soeroso sendiri adalah dari keluarga Prawiroharjo I, dan Prawiroharjo I makamnya terletak di Gunung Brejo Godean. Kemudian dia mempunyai anak Prawiroharjo II seorang Bupati Keraton dengan gelar Rio yang dimakamkan di Gunung Tambalan. Namun tidak ada Prawiroharjo III langsung turun ke silsilah Prawiroharjo IV yaitu Soeroso Hadisuwarno Prawiroharjo yang tidak lain adalah Ayah dari Ami Luhur Soeroso.
Mengenai keberadaan kedua tombak pusaka milik Ki Ageng Mangir Wanabaya memang keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang. Ami hanya menuturkan bahwa Tombak Barukuping dibawa pengawal Mangir ke Jawa Timur dan Baruklinting ke daerah Barat. Menurut konon cerita bahwa pada suatu saat yang tepat kedua pusaka akan dipersatukan.
Soal kematian Ki Ageng Mangir, ada versi lain. Menurut Pramudya Ananta Toer dalam bukunya, Ki Ageng Mangir meninggal karena ditusuk keris tombak Kyai Pleret. (UNTUNG)

Kontroversi Makam Ki Ageng Mangir Wanabaya
(Mengungkap Keberadaan Makam KI Ageng Mangir Saralaten)

MALAM sunyi di pemakaman desa Saralaten. Tak ada pejiarah yang datang di pemakaman yang belum banyak diketahui umum sebagai pemakaman tokoh legendaris, Ki Ageng Mangir. Bangunan makam itu sendiri sebenarnya sudah memberikan pertanda bahwa makam itu bukan makam orang sembarangan. Apalagi jika orang bertanya pada penduduk setempat, penduduk Saralaten yakin bahwa makam yang ada di pemakaman tersebut adalah pemakaman Ki Ageng Mangir yang dibunuh oleh Panembahan Senopati . Ini merupakan salah satu sisi lain perihal kepastian dimana makam Ki Ageng Mangir.
Di lain pihak ada fakta sejarah yang menarik soal pemakaman Ki Ageng Mangir. Di pemakaman raja-raja Mataram di Kota Gede, tepatnya di bangsal prabayasa terdapat makam yang dinyatakan sebagai makam Ki Ageng Mangir. Pemakaman ini sangat misteri dan unik. Sebab sebagian batu nisan berada di dalam gedung pemakaman dan sebagian berada di luar gedung pemakaman. Menurut penjelasan para abdi dalem yang menjaga di Pemakaman Kota Gede, keanehan letak batu nisan itu merupakan peringatan bahwa Ki Ageng Mangir sebenarnya adalah musuh tetapi sekaligus menantu Panembahan Senopati.
Bangsal Prabayaksa merupakan bangunan berdinding tembok, di dalam bangsal ini terdapat 72 makam yang dibuat dengan bahan marmer berwarna putih, yaitu antara lain makam Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Sultan Sedo Krapyak, Sultan Sepuh, Pangeran Adipati Pakualam I, Paku Aalam II, Paku Alam III, dan Paku Alam IV.
Sedangkan Pembayun sendiri pada akhirnya diserahkan oleh Panembahan Senopati kepada Ki Ageng Karanglo yang menjadi penasehat dan pengusul srategi melumpuhkan Ki Ageng Mangir lewat Pembayun itu.
Seiring berjalannya waktu yang sekaligus diikuti oleh perubahan jaman, ternyata, monumen bersejarah yang berupa makam di pemakaman Kota Gede itu tidak begitu saja memberikan keyakinan pada masyarakat bahwa memang di pemakaman itulah jasad Ki Ageng Mangir dimakamkan. Dari cerita mulut ke mulut beredarlah berita, jasad Ki Ageng Mangir tidak dimakamkan di Pemakaman Kota Gedhe tetapi di lain tempat yang sangat dirahasiakan oleh penguasa Kerajaan Mataram pada waktu itu, Panembahan Senopati.
Pemakaman di makam Kotagede itu hanyalah pemakaman politis. Sehingga, peristiwa atas pembunuhan putra menantu sendiri oleh Raja Mataram itu kelihatan sah. Panembahan Senopati pun merasa sah pula mengakui musuhnya sebagai menantu.
Dikisahkan, ketika Ki Ageng Mangir dan Pembayun sempat mendapatkan buah hati yang masih dalam kandungan. Tetapi tidak jelas nasib bayi yang berada dalam kandungan Pembayun. Panembahan Senopati hanya berpesan untuk membunuh anak Ki Ageng Mangir tersebut apabila melahirkan anak laki-laki dan bila perempuan harus dibuang.
Rentang waktu yang panjang seiring dengan surutnya kekuasaan mutlak Tahta Mataram membuat rakyat kecil, termasuk keturunan Ki Ageng Mangir berani menyampaikan keyakinannya tentang keberadaan makam Ki Ageng Mangir. Jasad Ki Ageng Mangir dimakamkan di sebuah dusun yang kini dikenal sebagi Dusun Saralaten, Kelurahan Sidakarta, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Posisi makam ini sekitar 7 km ke arah barat dari pusat kota Yogyakarta.
Mendengar letak pemakaman jasat Ki Ageng mangir tersebut, pastilah timbul teka-teki yang melekat pada masyarakat pecinta sejarah dan legenda Jawa, mengapa makam Ki Ageng Mangir bisa berada di Dusun Saralaten. Dan apakah makam di Dusun Saralaten tersebut benar-benar merupakan makam Ki Ageng Mangir yang dibunuh oleh Panembahan Senopati tersebut?
Informasi yang lengkap memang tidak dapat diperoleh tentang “salah satu” makam Ki Ageng Mangir yang ada di Sarolaten tersebut. Selain tidak adanya catatan sejarah (babad) yang menceritakan hal itu, dikarenakan juga sesepuh yang mengetahui secara mendalam hal tersebut sudah meninggal sejak 2000 yang lalu dan belum ada penggantinya hingga saat ini.
Tetapi untunglah Budi Sugeng Raharja (40), salah seorang anak Alm. Madiyo Wiyono (sesepuh makam yang sudah meninggal) mau memberi penjelasan pada Tamansari. “Kalau sesepuh makamnya adalah bapak saya tapi sudah meninggal. Sedang juru kuncinya Mas Parji. Tugasnya berbeda, karena tugas juru kunci kalau disini hanya membersihkan dan merawat makam mas”, ujar Budi Sugeng Raharjo mengawali pembicaraan.
Diceritakan oleh Sugeng (berdasar cerita dari bapaknya) bahwa makam yang dipercaya sebagai makam Mangir tersebut ditemukan tahun 1971. Penemunya adalah R. Warno Pramujo, warga Gamelan Lor Yogyakarta. Pada saat ditemukan, makam itu hanya berupa gundukan tanah dengan tumpukan batu yang di sekelilingnya tumbuh ilalang yang tinggi dan ditutupi rimbunnya daun pohon bamboo.
Tapi tidak diketahui juga secara pasti bagaimana cara membuktikan bahwa itu makam Ki Ageng Mangir. “Memang disekitar makam Mangir itu juga ada beberapa makam tua dengan nisan kuno, tapi warga disini juga tidak ada yang tahu itu makam siapa?”, lanjut Sugeng.
Sedang ikhwal penemuan makam itu, Budi Sugeng sendiri juga tidak tahu secara pasti. “Waktu itu saya masih kecil. Saya tahunya juga dari bapak”, terang karyawan swasta ini. Dikisahkan bahwa R. Warno adalah seorang yang gemar laku batin. Ritualnya ditempuh dengan jalan kaki ke makam-makam keramat. Pada waktu beliau sedang tirakat di sebuah makam tua yang dikatakan masih trah Majapahit, beliau mendapat bisikan. Intinya agar mencari makam Ki Ageng Mangir. Tidak dikatakan dimana tempatnya, hanya diberi petunjuk tentang arah makam tersebut.
Setelah makam itu ditemukan, selanjutnya oleh R. Warno Pramujo makam itu dibangun. Makam yang dahulunya penuh ilalang, sejak 17 Maret 1972 (1 Sapar 1904) menjadi makam yang cukup apik. Sedang makam yang ada disekitarnya tetap dibiarkan apa adanya hingga sekarang.
Bangunan makam terdiri dari 2 ruang. Ruang utama terdapat makam Mangir, sedang samping timurnya yang hanya terhalang tembok adalah makam R. Warno Pramujo (penemu sekaligus sesepuh makam yang pertama) yang meninggal tahun 1983. Lebih lanjut diceritakan oleh Sugeng, makam itu biasa ramai dikunjungi tiap malam Kamis Legi. Peziarah yang datang kebanyakan orang yang memiliki hajat, tapi belum terkabul. Mereka datang dari berbagai daerah. “Bahkan banyak yang datang dari luar Jawa. Bahkan orang-orang penting pun kerap kemari, namun siapanya tidak etis kalau disampaikan”, kata Sugeng.
Anehnya kebanyakan yang datang adalah warga tionghoa. Masih menurut Budi Sugeng, banyak dari peziarah yang berhasil setelah prihatin dimakam tersebut. Kebanyakan yang ingin berhasil dalam hajatnya membawa pasir yang ada diatas makam itu untuk keselamatan. Pasir tersebut memang disediakan oleh juru kunci untuk kepentingan peziarah. Sedangkan larangan yang harus ditaati oleh peziarah di makam itu diantaranya tidak sombong, tidak bicara kotor dan harus melepas alas kaki ketika memasuki ruang makam.
Pernah ada peziarah yang sombong. Dia mengaku jagonya puasa dan ingin puasa di makam itu selama 7 hari 7 malam. Ternyata baru 1 hari puasanya sudah “badar”. Dia mengaku sudah tidak kuat lagi dan berhenti.
Peziarah yang boleh dikatakan berhasil tidak harus ditemui wewujudan apapun. “Hanya orang yang kebatinannya tinggi yang bisa “ketemu” dengan Ki Ageng Mangir. Itu cerita dari para peziarah yang punya kebatinan tinggi. Percaya atau tidaknya cerita itu terserah, karena memang tidak bisa dibuktikan secara nyata”, imbuhnya. Dikisahkan pula, pernah ada peziarah yang tertarik pada Ki Ageng Mangir. Kemudian dia tirakat di makam Kotagede. Namun setelah beberapa hari tidak menemui apa yang dicari. Setelah itu dia tirakat di makam Mangir Saralaten. Baru sebentar, dia mengaku ditemui Ki Ageng Mangir. Karenanya orang itu percaya kalau itu makam Mangir yang asli. “Banyak yang cerita seperti itu. Bahkan banyak masyarakat Dusun Mangir yang percaya dan ziarah kemari, bukan ke Kotagede”, jelas anak kedua dari 2 bersaudara ini. Sedang masyarakat sekitar makam rata-rata mengaku senang dengan keberadaan makam itu. Walaupun belum pernah ada kejadian ganjil, hanya saja dahulu waktu belum ditemukan, tempat itu terkenal angker. Banyak warga yang sering melihat macan ditempat itu. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi.
Waktu jaman penjajahan dahulu juga tidak ada warga makam yang menderita akibat kekejaman penjajah. Padahal makam itu belum ditemukan, belum seperti sekarang ini. Karenanya, masyarakat sekitar selalu mengadakan acara tahunan Yassinan dan Tahlilan di makam Mangir itu untuk selamatan. “Tujuannya untuk mendoakan Ki Ageng Mangir Wanabaya dan mohon kepada Allah agar masyarakat sekitar diberi keselamatan lahir dan batin”. Pungkas Budi Sugeng Raharjo mengakhiri pembicaraan.
Cerita tutur lainya menyebutkan bahwa Ki Ageng Mangir memang masih keturunan Majapahit. Ki Ageng Mangir I tinggal di Alas Ketonggo yang sampai sekarang masih ada perkumpulan Mangir, Ki Ageng Mangir (Bondan Surati) II tinggal di Paliyan Gunungkidul, Ki Ageng Mangir III tinggal di Gunung Buthak Bantul, dan Ki Ageng Mangir IV tinggal di Dusun Mangir.
Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Konon dari rahim Rara Jalegong ini lahir seorang anak yang berupa ular/naga (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru. Jadi, Ki Bagus Baruklinthing adalah saudara tiri dari mangir II dan paman dari Mangir III. Mangir III ini yang tak pernah lepas dari tombak Kiai Baruklinthing. (Untung/Febriyanto)

Antara Dusun Mangir Dan Dusun Mangiran

DUSUN Mangir kini. Suasana perkampungan bersejarah itu asri, damai, tentram jauh. Seakan tak lagi sebagai perkampungan tetapi lebih terasa sebagai perdesaan yang masih melukiskan suasana hampir lima ratus tahun lalu. Lebih dari kesan asri dan damai, kesan yang lekat pada Dusun Mangir adalah kesan mistisnya.
Lingkungan sosialnya terasa masih sangat tradisional. Kaum lelaki Dusun Mangir adalah petani di sawah. Kini mereka sedang menerima anugerah panen raya. Sementara para ibu Dusun Mangir lebih memilih tinggal di rumah mengasuh anak-anak dan mengatur rumah tangga. Terasa penuh keaktifan, Demikian pula kaum manula yang telah uzur seakan tak mau begitu saja membebani hidup anak cucunya, mereka tetap aktif melaklukan segala kegiatan rumah tangga meski hanya membersihkan pekarangan.
Dusun Mangir sendiri terletak kurang lebih 30 km di sebelah selatan Yogyakarta, tepatnya di Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul, Propinsi D.I. Yogyakarta. Srcara administratif, Dusun Mangir sekarang terbagi menjadi tiga, yaitu Mangir Lor, Mangir Tengah, dan Mangir Kidul.
Dusun Mangir ini dusun bukan sembarang dusun, Dusun Mangir adalah dusun yang mempunyai nilai sejarah sangat tinggi dan menyimpan berbagai situs kebudayaan. Di antara situs kebudayaan di Mangir adalah batu gilang petilasan Ki Ageng Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, Kebo Jerum sebagai kendaraan Dewa Siwa, dan sisa-sisa bata bangunan keraton Mangir. Batu bata sisa bangunan keraton ini konon dipercaya dapat menyebabkan rusaknya hubungan rumah tangga, apabila sampai dibawa pulang ke rumah.

Kisah Kyai Baru Klinthing – Kyai Baru Kuping

DEMIKIAN, Babad Mangir menceritakan. Nama baru sendiri dalam dunia tosan aji (senjata logam) menjadi nama salah satu dhapur.
Dalam cerita rakyat dipercaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah naga yang berubah wujud menjadi tombak pusaka (Kiai Baruklinting). Akan tetapi apabila dinalar tentulah hal ini menjadi muskil. Perkawinan Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tentu saja melahirkan seorang bayi manusia pula (bukan ular naga). Memang, cerita dalam babad/cerita tutur sering berisi hal-hal yang tidak wantah (terus terang), banyak dibumbui cerita-cerita yang berbau mitos, sandi, sanepa ‘perumpamaan/teka-teki’, dan legenda sehingga cukup sulit diterima nalar begitu saja dan harus ditelaah dengan penafsiran.
Misteri Ki Bagus Baruklinting sampai sekarang ini masih kontroversial. Sebagian orang meyakini bahwa dia adalah benar-benar naga. Akan tetapi sebagian orang percaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah benar-benar manusia biasa. Paling tidak Pramudya Ananta Toer mempunyai versi yang terakhir ini.
Hanya saja karena ia lahir dari rahim seorang wanita yang sebenarnya tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular/naga dan seolah-olah tidak diakui sebagai anak oleh Mangir I. Barangkali hal ini ditempuh penulis babad untuk tidak terlalu memberi efek negatif bagi dinasti Ki Ageng Mangir maupun Rara Jalegong sendiri.
Kesaktian tombak Ki Baruklinting yang diceritakan demikian luar biasa ini barangkali sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kisah hidup Ki Bagus Baruklinting sendiri. Dalam babad diceritakan bahwa tombak Kiai Baruklinting senantiasa disanding oleh Ki Ageng Mangir. Bahkan setiap Ki Ageng Mangir berdekatan dengan Pembayun tombak ini bersuara (berkokok). Apa yang disuarakan tombak ini sebenarnya dapat dipandang sebagai simbol bahwa Ki Baruklinting memperingatkan agar Ki Ageng Mangir selalu berhati-hati terhadap Pembayun.
Tidak aneh kalau kemudian pada gilirannya bahwa tombak Kiai Baruklinting ini dibungkam/dilumpuhkan oleh Pembayun dengan kembennya. Pelumpuhan itu dilakukan dengan membungkam bilah tombak tersebut dengan kemben milik Pembayun. Namun menurut Ami Soeroso sejatinya pusaka yang dimiliki lelakilah yang hilang kesaktiannya tidak lain adalah kelamin laki-laki, bukan pusaka Baruklinting. Sebab jika pusaka diluluri minyak jrupa akan hilang kesaktiannya
Dalam versi yang berbeda pusaka Tombak Baruklinting bukanlah terbuat dari lidah naga. “Kedua tombak milik Ki Ageng Mangir (Kyai Baruklinting dan Kyai Barukuping) adalah pusaka yang telah ada di jaman Majapahit. Artinya tidak dibuat pada masa Mangir ke-IV. Itukan semacam pataka, dan tidak pernah memakan darah.” Kata Ami Luhur Soeroso.
Dalam cerita rakyat dipercaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah naga yang berubah wujud menjadi tombak pusaka (Kiai Baruklinting). Akan tetapi apabila dinalar tentulah hal ini menjadi muskil. Perkawinan Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tentu saja melahirkan seorang bayi manusia pula (bukan ular naga). Memang, cerita dalam babad/cerita tutur sering berisi hal-hal yang tidak wantah (terus terang), banyak dibumbui cerita-cerita yang berbau mitos, sandi, sanepa ‘perumpamaan/teka-teki’, dan legenda sehingga cukup sulit diterima nalar begitu saja.
Misteri Ki Bagus Baruklinting sampai sekarang ini masih kontroversial. Sebagian orang meyakini bahwa dia adalah benar-benar naga. Akan tetapi sebagian orang percaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah benar-benar manusia biasa. Hanya saja karena ia lahir dari rahim seorang wanita yang sebenarnya tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular/naga dan seolah-olah tidak diakui sebagai anak oleh Mangir I. Barangkali hal ini ditempuh penulis babad untuk tidak terlalu memberi efek negatif bagi dinasti Ki Ageng Mangir maupun Rara Jalegong sendiri.
Kesaktian tombak Ki Baruklinting yang diceritakan demikian luar biasa ini barangkali sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kisah hidup Ki Bagus Baruklinting sendiri. Dalam babad diceritakan bahwa tombak Kiai Baruklinting senantiasa disanding oleh Ki Ageng Mangir. Bahkan setiap Ki Ageng Mangir berdekatan dengan Pembayun tombak ini bersuara (berkokok). Apa yang disuarakan tombak ini sebenarnya dapat dipandang sebagai simbol bahwa Ki Baruklinting memperingatkan agar Ki Ageng Mangir selalu berhati-hati terhadap Pembayun.
Tidak aneh kalau kemudian pada gilirannya bahwa tombak Kiai Baruklinting ini dibungkam/dilumpuhkan oleh Pembayun dengan kembennya. Pelumpuhan itu dilakukan dengan membungkam bilah tombak tersebut dengan kemben milik Pembayun.
Beteng Mangir yang disebut-sebut sangat sakti hingga batu-batanya dapat membuat crah atau hancurnya hubungan rumah tangga kini telah dibangun dengan bahan bangunan baru. Subakri menceritakan semasa hidup belum pernah melihat beteng Mangir yang asli. Dia hanya menyaksikan pembangunan beteng baru yang dibangun pada 1978 pada pemerintahan Sudarisman Purokusumo. (Untung)

Sendang Kasihan dan Sejarahnya

DALAM pengembaraannya, Raden Mas Sahid atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga di tengah perjalanan ditemui sosok misterius yang memberi petunjuk pada beliau. Sosok misterius itu pada intinya memberikan pesan, agar Kanjeng Sunan Kalijaga lebih memperdalam ilmu agamanya. Selain itu, sosok itu juga memberi sebuah tongkat sakti pada Kanjeng Sunan. Tongkat itu bisa digunakan jika suatu saat sangat dibutuhkan, pesan sosok itu.
Ketika Sunan Kalijaga sampai di daerah yang kering, beliau ingin wudhu untuk shalat dan tidak ditemukan air. Lalu teringat dengan tongkat pemberian sosok waktu di perjalanan. Akhirnya beliau berdo’a, memohon kepada Allah dan kemudian menancapkan tongkat itu ke tanah. Do’a Sunan Kalijaga dikabulkan oleh Allah. Dari bekas tancapan itu keluar mata air yang bersih untuk wudhu.
Balutan suasana pedesaan nan asri dan tenang, dengan keramahtamahan penduduknya, menambah daya tarik mata air yang tidak pernah surut sejak memancar pertama kali pada Abad ke- 15. “Tapi dulu baru berupa mata air, belum berwujud sendang seperti saat ini”, ungkap Harjo Broto Sumantri (82), juru kunci sekaligus ahli waris pemilik sendang memulai pembicaraan dengan Taman Sari.
Pak Broto, panggilan akrabnya, saat dijumpai di kediamannya di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, juga menjelaskan, jika Sendang Kasihan juga terjalin dalam kisah Sekar Pembayun dan Ki Ageng Mangir. Secara singkat diceritakan, bahwa Perdikan Mangir dianggap musuh oleh Panembahan Senapati. Tapi karena kedigdayaan Ki Ageng Mangir, Patih Mandaraka (Ki Juru Mertani) melarang Raja Mataram itu untuk melawan sendiri. Melalui strategi rantai mas (memikat), Juru Mertani meminta pada Panembahan Senapati agar Sekar Pembayun, putri sulung P. Senapati sendiri, diutus untuk menjadi Penari ledhek (tayub). Perutusan ini dimaksudkan untuk memikat Mangir hingga nantinya tunduk pada Mataram.
Karena “kewaskithaan” Ki Mandaraka yang mengetahui bahwa ada sendang peninggalan Sunan Kalijaga, sebelum berangkat, Pembayun dan rombongan diminta mandi di sendang itu. Konon katanya, setelah mandi di sendang itu wajah Sekar Pembayun yang cantik menjadi semakin cantik. Hingga menimbulkan daya pikat yang luar biasa. Tragisnya, dalam perjalanan kisah memikat hati Mangir, ternyata tidak hanya Mangir yang jatuh cinta, tapi Pembayun ternyata juga jatuh cinta pada Mangir.
Dalam perjumpaan dengan Mangir, saat ditanya perihal orang tuanya oleh Mangir, Pembayun menjawa, dia adalah anak dari Mbok Rondho Kasihan. Itulah pertama kali nama Kasihan disebut, yang kemudian menjadi nama sendang dan nama daerah di sekitarnya. Sedang nama Sendang Pengasihan timbul karena sesaat setelah Sekar Pembayun mandi di sendang muncul daya pikat Pembayun seperti pengasihan.
Kini, seturut perjalanan waktu, terkait kisah Sekar Pembayun itu, dan adanya keyakinan yang hidup bahwa air sendang itu membawa keberuntungan, makin lama makin banyak orang yang datang. Akhirnya, pada tahun 1923 pemilik lahan tempat sendang itu berada, yaitu Nyi Wirodiwiryo merehab tempat itu. Jadi sendang itu milik pribadi. Bukan dimiliki oleh pemerintah. Sedang dana perawatan diperoleh dari uang pribadi dan sumbangan para pengunjung yang merasa hajatnya terkabul.
Dulu mata airnya hanya selebar 4 m. Saat dibangun dan dilebarkan, areal keseluruhan menjadi 1500 m 2. Saat pelebaran sendang, ditemukan 2 buah arca. Diketahui bernama Ganesha, anak Bathara Guru) dan Agastya lambang dari Siwa. Tempat kedua arca itu berada di bwah pohon soka yang telah tua usianya, diperkirakan telah berusia 350 tahun.
“Pembakaran kemenyan Itu hanya untuk pertanda saja. Bukan berarti minta pada arca”, jelas pensiunan seorang pengunjung yang juga pegawai di Yogyakarta. Pohon soka tua itu berbunga kuning, padahal umumnya berbunga merah. Juga ada pohon gayam besar di pinggiran sendang itu. Selain itu ada rumah pengawas dan mushala yang merupakan sumbangan dari pengunjung. Menambah kemistikan tempat itu, di samping selatan juga mengalir Sungai Kontheng yang bermuara di Sungai Bedhog.
Tidak ada hari khusus yang dipercaya untuk laku prihatin di Sendang Kasihan. Kebanyakan pengunjung datang pada Selasa dan Jum’at Kliwon, Sabtu Pahing, Selasa dan Kamis Legi. Pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Dari pembicaraan dengan pejiarah diketahui, banyak tokoh yang pernah mengunjungi Sendang Kasihan. Di antaranya Sri Sultan HB IX, Sri Paduka PA VIII, Para artis ibu kotaIbu Megawati. Berbagai macam alasan orang yang datang ke Sendang Kasihan. Ada yang minta keselamatan hidup, berwibawa di depan orang lain, keinginan tercapai, dsb. Ada juga yang datang untuk olah kebatinan dengan “kungkum” (berendam) di sendang. Menurut pak Broto banyak yang berhasil setelah prihatin di tempat itu, tapi jangan lupa bahwa itu semua karena Allah, demikian diingatkannya.
Banyak pengunjung yang sebelumnya tidak tahu Sendang Kasihan tapi bisa sampai ketempat itu. Mereka mengaku mendapat bisikan agar tirakat di Sendang Kasihan. Seperti banyak cerita yang dituturkan pak Broto pada Taman Sari. “Biasanya mereka sedang ada masalah. Lalu mendapat bisikan. Seperti Direktur BPR Rembang kemarin yang baru saja kesini”, ungkap bapak dari saudara kembar Riyani-Riyanti. Tidak ada pantangan di Sendang Kasihan. Asalkan berlaku sopan. Sedangkan syarat yang seyogianya disiapkan oleh pengunjung yang akan tirakat, yaitu kembang setaman, kinang, 2 kembang kanthil, menyan madu 1 buah, “wajib” (uang) seikhlasnya, dan tambahan 1 bungkus rokok kretek.
Para pelaku tirakat akan dituntun oleh Rr. Mujilah Harjo Sumantri.”Istri saya hanya sebagai syarat pengabsah saja. Sedang niat, keyakinan dan permintaan, pengunjung sendiri yang meminta”, ujar bapak 6 anak ini. Untuk tata cara tirakat, pria kelahiran 1925 ini menyebutkan minimal dengan cuci muka atau mandi. Akan lebih baik jika mau “kungkum” walaupun sebentar, dengan memanjatkan do’a dan permintaan pada Allah. Untuk urutan do’a yang dibaca, menurut Pak Broto pertama ditujukan pada Gusti Allah, Raden Mas Sahid, Panembahan Senapati, Sekar Pembayun, selanjutnya Kyai dan Nyi Soka. Banyak kejadian mistik yang dialami pengunjung, oleh mereka lalu diceritakan pada Pak Broto. Tapi saat dikonfirmasi, Pak Broto sendiri mengaku belum pernah mengalami.
Diceritakan olehnya, ada yang melihat sinar muncul dari tengah sendang saat kungkum. Ada juga yang dilompati seekor naga yang besar saat kungkum (berendam). Bahkan ada yang mengaku ditemui oleh pria tua dengan jubah dan pakaian “ireng wulung” yang dipercaya sebagai Sunan Kalijaga. Juga ada yang ditemui seorang wanita cantik yang diyakini sebagai Sekar Pembayun. “Percaya dan tidaknya itu monggo saja, karena hal itu memang sulit dibuktikan dengan rasional”, kilah Priyayi sepuh ini.
Itu semua tergantung bagaimana menyikapinya. Sebenarnya tempat seperti sendang dan sebagainya hanya sebagai tempat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Hal yang utama adalah tetap harus percaya pada Allah. Sebagai manusia harus memiliki keterbukaan, jujur dan hidup secara “prasaja”. Dan yang penting bisa hidup berdampingan dengan alam disekitar kita, seperti apa yang dipesankan oleh Harjo Broto Sumantri di akhir pembicaraan. (febriyanto)

MISTERI BATU GILANG
Perebutan kekuasaan dan politik tidak hanya terjadi saat ini. Sebuah bukti sejarah dari tahun 1509, mampu menerangkan hal tersebut. Batu Gilang, yang dimuliakan di Ndalem, Kotagede, Purbayan. Batu gilang ini sebenarnya adalah singgasana Panembahan Senopati, Mataram. Hal itu seperti dikatakan oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta, Hastino Darwinto yang mengabdi pada Kraton Yogyakarta sejak 1996.
“Awalnya dari penyerahan Tanah Kemerdekaan, Alas Mentaok dari Ki Ageng Mangir III, …” Bp. Hastino Darwinto, abdi dalem sejak 1996 mendapat kehormatan sebagai jurukunci Batu Gilang, mulai mengurai sejarah. Kala itu, 1509, Panembahan Senopati mendapatkan tanah kekuasaan, warisan dari ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, Alas Mentaok. Namun seperti yang diketahui, wilayah tersebut sudah terlebih dahulu berada di tangan Ki Ageng Mangir III, yang masih mempunyai silsilah dari Kerajaan Majapahit. Panembahan Senopati kemudian menyuruh Ki Ageng Mangir untuk menyerahkan daerah tersebut agar menjadi tanah Mataram. Namun Ki Ageng Mangir III yang terkenal dengan pusakanya –Tombak Baru Minting- menolak. Ki Ageng Mangir merasa lebih dulu mempunyai hak atas wilayah tersebut dan ingin membangun kekuasaan sendiri.
Akibat dari sikap kukuh Ki Ageng Mangir itulah, akhir hayat Ki Ageng dihantar melalui tragedi batu gilang yang berada di bawah singgasana Panembahan Senopati, meski melalui jalan asmara terlebih dahulu. Batu gilang itu tak lain adalah yang sekarang ini dijaganya sebagai juru kunci Kraton Yogyakarta. Batu Gilang sekarang masih terawat baik. karena sudah dimuliakan oleh Sultan H.B. VIII, bersamaan dengan pembangunan Hasto Renggo (makam trah raja Mataram).
Anehnya, .seperti diungkapkan oleh Tim Peneliti Lembaga Studi Jawa dalam bukunya “Kota Gede” batu gilang di Kota Gede ini memuat ungkapan berbahasa asing dalam empat bahasa (bahasa Latin : ITA MOVETUR MUNDUS, Perancis : AINSI VALE MONDE, belanda : ZOOGAAT DE WERELD dan Italia : COSI VAN IL MONDE). Ungkapan lain dalam bahasa Latin : AD AETERNAM MEMORIAM SORTIS INFELICIS yang diterjemahkan : untuk memperingati nasib yang kurang baik. Dan ungkapan : IN FORTUNA CONSURTES DIGNI VALETE, QUID STUPEARIS AINSI, VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMITE VOS CONSTEMTU VERE DIGNI :
Dan In Gloriam Maximam (Untuk Kemuliaan yang sangat tinggi)
Sementara itu di Desa Mangir sendiri juga dikenal legenda riwayat batu gilang. Batu gilang ini menurut cerita penduduk, merupakan bukti sejarah tentang keberadaan padepokan Ki Ageng Wanabaya. Sehingga ketika orang menanyakan dimanakah letak padepokan Ki Ageng Wanabaya di mangir, orang dapat mengetahui dengan menyaksikan batu gilang. Batu itu hitam, berbentuk persegi empat berukuran kira-kira 1×1 m. Di atas batu gilang ini ini dipercaya sebagai dhampar / singgasana. Subakri sebagai juru kunci Batu Gilang tersebut menuturkan bahwa di tempat tersebut dahulu pernah berdiri sebuah Keraton Mangir. “Petilasan tersebut sebagai bukti tempat ini adalah rumah Ki Ageng Mangir” tambahnya.
Tetapi ada juga yang percaya sebagai tempat menyimpan pusaka

Batu Gilang Gilangharjo

Ganjuran adalah kawasan yang merupakan bagian dari Alas Mentaok. Keberadaannya tidak terpisahkan dengan suatu wilayah yang dalam Babad Tanah Jawa dikenal dengan nama Lipura. Di Lipura inilah Panembahan Senopati pernah melakukan laku spiritual dan mendapatkan wisik untuk mendirikan pusat Keraton Mataram. Tempat Panembahan Senopati teteki ini sekarang terkenal dengan peninggalannya yang berupa batu berbentuk kotak yang sering disebut Watu Gilang. Letak Watu Gilang ini berada di Dusun Janggan, Gilangharjo, Bambanglipuro, Bantul.
Semula Panembahan Senopati pernah punya niat mendirikan pusat pemerintahan Keraton Mataram di tempat dia teteki. Akan tetapi letak dusun Janggan ini tidak terlalu jauh dengan wilayah Mangir. Oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan menasihati Panembahan Senopati agar jangan mendirikan keraton di Gilangharjo.
Jika hal ini dilakukan, maka Panembahan Senopati akan selalu berhadapan dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Sekalipun Panembahan Senopati memiliki senjata sakti berupa tombak bernama Kyai Ageng Pleret, tetapi Ki Ageng Mangir pun memiliki senjata sakti yang juga berupa tombak bernama Kyai Baruklinting.
Sedigdaya apa pun orang, tidak akan kuat menerima tusukan tombak Kyai Baruklinting. Demikian Sunan Kalijaga dalam Babad Mangir pernah menyatakan hal tersebut. Untuk itulah Panembahan Senopati mengurungkan niatnya untuk mendirikan keraton di wilayah ini. Dengan demikian Kyai Pleret batal berhadapan dengan Kyai Barklinting (Untung/Febrianto/ Tia setiyani / Theresia Karninda)

About these ads

Responses

  1. Dilain cerita sudah saya sampaikan bahwa dusun Janggan desa Gilangharjo kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. bukan kecamatan Bambanglipuro.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: