Oleh: sururudin | September 29, 2008

Abrahamic Religion

Abrahamic Religion

Bagi peminat pemikiran keagamaan, istilah “Abrahamic Religion” atau “agama Ibrahim” tidaklah asing. Istilah ini sudah lama disebut-sebut oleh banyak kalangan dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah lazim dalam isilah studi-studi agama, seperti halnya pembagian agama menjadi “agama samawi” (agama langit) dan “agama ardhi” (agama bumi).

Abrahamic religion atau agama-agama Ibrahim mewakili lebih dari setengah dari seluruh pemeluk agama di dunia. Namun demikian, banyak dari para pemeluk agama ini yang menolak pengelompokan agama atau kepercayaan mereka seperti ini dengan alasan bahwa agama mereka pada intinya dan dasarnya mengandung cerita yang berbeda atau bahkan berlawanan dengan cerita agama yang lainnya mengenai Ibrahim dan Allah. Agama ini merupakan kelompok besar dari agama-agama monoteistik. termasuk Yuhudi, Kristen, Islam.

Abraham mempunyai arti yang sangat penting bagi semua agama samawi yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Islam menganggap Ibrahim sebagai bapaknya orang-orang mu’min, karena Allah menetapkannya demikian. Beliau adalah contoh ideal dari seorang yang disebut mu’min. Ini ditunjukkannya dengan penyerahan diri yang sempurna kepada Allah, dengan kesediaannya untuk menyembelih anak kesayangannya.

Agama Yahudi memandang Abraham sebagai salah satu leluhur mereka. Di dalam Kitab Suci Ibrani, Allah sering menyatakan diri-Nya sebagai “Allah Abraham, Ishak, dan Yakub”. Hal ini misalnya terjadi ketika Allah menyatakan diri kepada Musa di padang belantara di Midian: “Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.” (Keluaran 3:6).

Bagi orang Kristen, Abraham adalah bapak orang percaya. Imannya menjadi teladan bagi semua orang. Surat Ibrani mengatakan demikian: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui… Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal” (Ibrani 11:8, 17).

Ibrahim juga memang melahirkan sejumlah keturunan yang kebetulan juga menjadi nabi (seperti Ismail dan Ishaq dan keturunannya) sehingga ia sering disebut Abu al-Anbiya’ (Bapak Para Nabi). Selain itu, agama Islam, Yahudi dan Kristen juga sering dianggap berakar pada ajaran yang sama, yakni monoteisme (tauhid), yang tidak lain bersumber dari ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim). Karena itu, Ibrahim pun sering disebut sebagai “Bapak Monoteisme”. Karena itu pula, secara sederhana kemudian disimpulkan bahwa Islam, Yahudi dan Kristen adalah “bersaudara”. Ketiganya, sebagaimana kata Azyumardi, ibarat “kakak-adik” yang memiliki banyak kesamaan, juga berbagi sejarah yang sama. Inilah kira-kira yang mendasari diusungnya wacana mengenai pentingnya “trialog” sesama saudara; bukan hanya dalam tataran transenden (keyakinan/spiritualitas), tetapi bahkan dalam tingkat peradaban. Dengan itu diharapkan, tidak akan lagi terjadi konflik antar ketiga pemeluk agama besar tersebut.

Berdasarkan kenyataan sejarah itu maka ketiga agama itu merupakan warisan Ibrahim (Abrahamic religion) meminjam istilah yang digunakan oleh Karen Armstrong , Max Weber menyebutnya sebagai Ibrahimiah, di dalam bukunya; Protestan Etic, and Spirit of Cavitalism . Ungkapan Karen Armstrong maupun Weber bahwa Islam, Yahudi dan Kristen sebagai agama Ibrahim adalah sah berdasarkan sejarah maupun kitab suci Alquran. Hal ini sesuai dengan ayat:
وَقَالُواْ كُونُواْ هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُواْ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِين البقرة : 135

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS: Albaqarah 2: 135

Kemudian dipertegas lagi oleh Alquran:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ البقره : 62

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Albaqarah 2: 62)

Dalam perspektif netral agama, secara historis-fenomenologis, bisa saja Islam, Kristen, dan Yahudi dimasukkan ke dalam kategori Abrahamic Religion, karena ketiganya memiliki klaim sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Tetapi, Al-Quran sudah menjelaskan apa yang dimaksud dengan millah Ibrahim yang hanif. “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif.” (QS 4:125). “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Dengan penegasan Al-Quran itu, tidaklah tepat jika ada cendekiawan yang mengakui bahwa agama Kristen dan Yahudi saat ini termasuk ke dalam kategori “millah Ibrahim” yang hanif. Jika kaum Yahudi dan Kristen mengklaim mereka sebagai pelanjut agama Ibrahim, itu adalah urusan mereka. Tetapi, sebagai Muslim, seyogyanya pandangan kita bersandar kepada konsep-konsep yang diajarkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. wallahu a’lam bissawab.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori