Oleh: sururudin | Maret 21, 2009

KONSEP PERKAWINAN LINTAS AGAMA (TINJAUAN MENURUT ATURAN SYARI’AT ISLAM)

KONSEP PERKAWINAN

 

LINTAS AGAMA

(TINJAUAN MENURUT ATURAN SYARI’AT ISLAM)

I. PENDAHULUAN

 

Perkawinan bernuansa keberagaman banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, contoh kasus yang sering terekspos ke masyarakat adalah kasus pasangan selebritis. Dengan dalil atau alasan apa mereka lebih memilih jalur perkawinan semacam ini, yang jelas seperti yang terjadi pada pasangan Nurul Arifin dan Moyang, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo, Dewi Yull dan Rae Shahetapy serta Ari Sihasale dengan Nia Zulkarnaen.

Perkawinan mereka tidak lagi didasarkan pada satu aqidah agama, melainkan hanya berdasarkan pada rasa cinta belaka. Bahagiakah perkawinan mereka. Kelihatannya memang bahagia, tetapi mungkin rasa kebahagiaannya semu, karena tentu saja banyak kendala yang mereka akan hadapi dengan model perkawinan yang semacam ini.

Bila kita cermati bersama, perkawinan beda agama yang mereka lakukan itu, apakah sah menurut Undang-Undang atau bahkan batal menurut aturan agama. Apakah perkawinan dengan orang yang musyrik atau dengan ahli kitab ataupun dengan orang kafir dapat ditolelir keabsahannya.

 

 

II. PEMBAHASAN

Perkawinan Beda Agama atau sering disebut dengan Perkawinan Lintas Agama, adalah perkawianan yang terjadi di Indonesia antara orang yang menganut agama yang berbeda, misalnya antara seorang pria muslim dengan wanita non muslim. ( Depag RI, Pedoman Pegawai Pencatat Nikah (PPN), Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat, Jakarta, 1992/1993, h. 54).

Menurut Undang-Undang No. I Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pada Pasal 1, disebutkan tentang definisi perkawinan, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (Moch. Asnawi, Himpunan Peraturan Dan Undang-Undang Republik Indonesia, Tentang Perkawinan, serta Peraturan Pelaksanaannya, Menara Kudus, Semarang,1975, h. 5).

Pada dasarnya setiap agama manapun menghendaki perkawianan berlangsung di dalam satu keyakinan. Tidak satupun agama yang menginginkan pemeluk dan penganutnya melaksanakan perkawianan antara mereka yang berlainan agama atau keyakinan maupun kepercayaannya.

Berdasarkan hukum munakahat perkawianan yang dibenarkan oleh Allah SWT. adalah suatu perkawianan yang didasarkan pada satu aqidah, disamping cinta dan ketulusan hati, juga tidak dapat dipungkiri hal ini merupakan modal paling mendasar

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: