Oleh: Mawar | Maret 23, 2009

ILMU DAN PEMBELAJARAN

ILMU DAN PEMBELAJARAN

Ketauhilah bahwa dalil-dalil keutamaan ilmu dalam Al Qur’an banyak sekali. Diantaranya adalah firman-Nya: Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Al- Mujadilah(58):11)

Ibnu ‘Abbas ra. Mengatakan ,”Para ulama memiliki derajat di atas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, jarak diantara dua derajat tersebut perjalanan lima ratus tahun .”

Alloh SWT. Berfirman:

Katakanlah:” Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”(QS. Az-Zumar(39):90)

Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba Nya hanyalah ulama (QSFathir(35) : 28)

Dan perumpamaan – perumpamaan itu Kami buat untuk menusia. Dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-olrang yang berilmu (QS Al Ankabut (29) :43)

Diantara dalil-dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah SAW,:

“Para ‘Ulama adalah waris para nabi.”

“Seutama-utama manusia adalah orang Mukmin yang berilmu yang apabila diperlukan, ia berguna. Kalaupun tidak diperlukan, maka ia dapat mengurus dirinya.”

“Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah rasa malu, buahnya adalah ilmu.”

“ Manusia yang derajatnya paling dekat pada kenabian adalah ahli ilmu dan ahli jihad. Adapun ahli ilmu karena mereka telah menunjukkan manusia apa yang dibawa rasul. Sedangkan ahli jihad karena mereka telah memperjuangkan dengan pedang mereka apa yang dibawa rasul.”

“Orang berilmu adalah kepercayaan Alloh di Bumi.”

“Yang memberi syafaat pada hari kiamat adalah para nabi, para ulama’, dan para syuhada.”

Fath Al Maushuli bertanya ,” Bukankah jika orang sakit tidak diberi makan, minum, dan obat, ia akan mati?’ orang – orang menjawab,”Benar.” Selanjutnya ia berkata,” Demikian pula dengan hati, ia akan mati jika tidak diberi hikmah dan ilmu selama tiga hari.”Ia benar, karena santapan hati adalah ilmu dan hikmah. Kedua hal itu adalah kehidupannya. Sebagaimana santapan tubuh adalah makanan dan minuman.

Barangsiapa yng kehilangan ilmu, maka hatinya sakit dan biasanaya mati. Ia tidak menyadarinya, karena kesibukan-kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan- kesibukan itu menampakkan kematian , maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir. Inilah makna sabda Rasulullah SAW. ,” Manusia tidur . Maka ketika mereka mati mereka bangun.”

Hadits-hadits lain yang menjadi dalil keutamaan ilmu adalah sabda Rasulullah SAW.:

“Para malaikat membentangkan sayap-syapnya bagi penuntut ilmu sebagai kerelaan terhadap perbuatannya.’

“Apabila masuk waktu pagi, sedangkan engkau mempelajari satu bab ilmu, maka itu adalah lebih baik bagimu daripada shalat seratus raka’at..’

Abu Darda’ berkata ,”Barang siapa berpendapat bahwa untuk menuntut ilmu bukan merupakan juhad, maka ia memiliki kekurangan dalam pandangan dan akalnya.”

Adapun keutamaan mengerjakan ilmu ditunjukkan dalam Firman Alloh SWT. , Dan (ingatlah) , Ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab(yaitu): ”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu meneyembunyikannya(QS. Ali ‘Imran (3) 187)

Ketika membaca ayat ini rasulullah SAW. bersabda, “Alloh tidak memberi seorang alim ilmu kecuali mengambil darinya janji seperti apa yang Dia Ambil dari para nabi agar menerangkannya dan tidak menyembunyikannya.”

Ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, RasulullahSAW. Bersabda,” Sesungguhnya Alloh memberi petunjuk kepada seseorang karena perantaraan kamu, maka itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya,”

Umar RA. Berkata, “Barangsiapa yang menyampaikan sebuah hadits, lalu diamalkan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.”

Mengenai belajar dan mengajar, Mu’adz bin Jabal – riwayat marfu’ – mengatakan,’Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Alloh adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adaklah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan membelanjakan hartanya kepada ahlinya adalah kedekatan (qurbah). Ia adalah teman yang menghibur dalam kesendirian, sahabat dalam kesepian, petunjuk dalam suka maupun duka, pembantu di sisi sahabat karib, teman di sisi kawan dan penerang jalan surga. Dengannya Alloh mengangkat bangsa-bangsa, lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan. Jejak mereka diikuti dan perbuatan mereka diperhatikan. Malaikat suka pada perilaku mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Segala yang basah dan kering memohon ampunan atas dosa mereka, hingga ikan, binatang laut, binatang buasserta bninatang jinak di darat dan di langit beserta bintang-bintangnya. Karena ilu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya mata dari kezaliman kekuatan tubuh dari kelemahan. Dengan ilmu, seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan yang paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan sholat. Dengannya Alloh ditaati, disembah, diesakan, dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Ilmu diilhamkan kpada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang yang celaka.”

Dari segi akal, maka tidak tersembunyi keutamaan ilmu yang dengannya seorang hamba sampai kepada Alloh dan mencapai kedekatanNya, yaitu kebahagiaan kekal dan kelezatan abadi yang tiada akhirnya. Di dalamnya terdapat kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Maka orang berilmu dengan ilmunya menyemai untuk dirinya kebahagiaan abadi, yaitu dengan memeperbaiki akhlaqnya berdasarkan tuntutan ilmu. Juga dengan pengajaran, ia menyemai kebahagiaan abadi, karena ia memperbaiki akhlaq manusia. Ia menyeru mereka dengan ilmunya untuk mendekatkan mereka kepada Alloh SWT. Firman Alloh SWT. , “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl (16): 125).

Ia menyeru khawash dengan hikmah, orang awam dengan nasihat-nasihat, dan orang-orang yang keras kepala dengan debat. Maka ia menyelamatkan dirinya dan orang lain. Inilah manusia yang sempurna.

Ilmu Terpiji dan Tercela, Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah.

Rasulullah SAW. bersabda,” Menuntut Ilmu adalah fardhu bagi setiap Muslim dan Muslimat.” Yang wajib baginya setelah mencapai akil balig dan keislamannya adalah mengetahui dua kalimah syahadah dan memaknai maknanya. Tidak wajib baginya meneyempurnaknnya dengan penjelasan-penjelasan terperinci. melainkan cukup meyakininya tanpa kebimbangan dan keraguan, walaupun melalui taklid.

Demikian yang dialakukan Rasululah SAW. terhadap orang yang masuk Islam dari orang – orang Arab yang keras. Kemudian setelah itu, ia menyibukkan diri dengan mempelajari apa yang akan dihadapinya berupa perintah-perintah Alloh seperti sholat. Untuk melaksanakan perintah tersebut itu, maka ia mempelajari sholat dngan menguasainya sebelum tiba saat kewajibannya. Demikian pula puasa. Ia juga wajib mempelajari ihwal zakat jika ia memiliki harta yang harus dikeluarkan zakatnya ketika sampai haul setelah ia masuk Islam. Hal itu hanya diwajibkan kepadanya sesuai dengan kadar keperluan. Ia pun diingatkan terhadap kewajiban haji, Ia tidak harus tergesa-gesa mempelajarinya, sebagaimana tidak harus segera menunaikannya.

Ia wajib mempelajari apa yang harus ditingggalkan berupa perbuatan-perbuatan kemaksiatan atas berlalunya waktu berdasarkan kebutuhannya. Apabila terlintas dipikirannya keraguan akan akidahnya, maka ia harus belajar dan mengkaji sebatas menghilangkan keraguan itu, dan mempelajari ilmu yang dapat menyelamatkan dari kebinasaan dan memperoleh derajat yang tinggi adalah fardhu ‘ain, sementara ilmu –ilmu yang lebih dari itu adalah fardhu kifayah , bukan fardhu ‘ain.

Ketahuilah, bahwa tingkatan-tingkatan ilmu adalah berdasarkan kadar kedekatannya dengan ilmu akhirat. Sebagai mana ilmu-ilmu syari’at lebih utama daripada ilmu-ilmu lainnya, maka ilmu yang berkaitan dengan hakikat-hakikat syari’at lebih utama daripada ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum lahiriah. Maka ahli fiqh menghukumi bentuk lahir dengan sah dan batil. Di balik itu ada ilmu untuk mengetahui bentuk ibadah yang diterima dan di tolak. Hal itu termasuk ilmu-ilmu sufistik, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian. Para ulama masyhur, yang madzhab-madzhabnya dianut dan diikuti manusia, menggabungkan antara ilmu fiqh dan ilmu hakikat, serta mengamalkannya.

Hal itu hanya dapat diketahui dengan peyingkapan ihwal mereka dan menukil pendapat-pendapat mereka. Mereka itu ada lima: Syafi’i, Malik, Abu hanifah, Ahmad bin Hambal, dan Sufyan Tyauri – semoga Alloh merahmati mereka. Masing-masing mereka adalah ahli ibadah, zuhud, dan alim dalam ilmu-ilmu akhirat, sekaligus alim dalam ilmu fiqh lahiriyah yang berkaitan dengan kepentingan – kepentingan makhluk. Mereka semuanya dengan ilmu-ilmu tersebut menghendaki keridhoan Alloh.

Lima tokoh ini memiliki lima perangai, tetapi yang diikuti para fuqaha kontemporer adalah satu saja, yaitu menyebarkan dan memberikan perhatian besar dalam merinci fiqih. Sebab, empat perangai lainnya hanya berlaku untuk kepentingan akhirat, sementara perangai yang satu ini berlaku untuk kepentingan dunia dan akhirat. Kami mengambil dari ihwal mereka apa yang menunjukkan empat perangai ini:

*) Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin (Mutiara Ihya’ Ulumuddin) , Al Ghozali, Muassasah Al Kutub Al Tsaqofiyyah, Cetakan I , Beirut, 1410/1990

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: