Oleh: sururudin | Maret 24, 2009

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

DAN AMALAN –AMALAN YANG DIANJURKAN

A. MUQODDIMAH

Sementara itu ada sebagian umat Islam yang mempunyai faham bahwa semua amaliyah di bulan Sya’ban adalah bid’ah tidak boleh dilakukan apalagi yang hanya merupakan warisan dari zaman sebelum Islam dan harus ditinggalkan.Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa oleh orang Indonesia khususnya orang jawa disebut bulan Ruwah / arwah, karena di bulan itu mereka banyak melakukan kegiatan mendoakan para arwah leluhurnya. Amalan tersebut sudah menjadi tradisi dan merupakan warisan sejak nenek moyang. Dan ada pula amalan-amalan umat islam yang dilakukan di bulan Sya’ban, karena memang merupakan amalan yang dianjurkan agama.

B. KEMULIAAN BULAN SYA’BAN

Bulan Sya’ban termasuk bulan yang mulia bagi umat Islam karena di bulan Sya’ban Allah memberikan keutamaan-keutamaan untuk beribadah dan beramal sholeh serta banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan tersebut.

Firman Allah dalam QS. Ad Dukhon : 3 :

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ *

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan”.

Menafsiri لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ (pada suatu malam yang diberkahi) pada ayat tersebut, pengarang Tafsir Al Jalalain mengatakan :

هِيَ لَيْلَةُ اْلقَدَرِ أَوْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، نُزِلَ فِيْهَا مِنْ أُمِّ اْلكِتَابِ مِنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

“Yang dimaksud dengan لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ (pada suatu malam yang diberkahi) adalah Lailatul Qodar atau malam Nishfusy Sya’ban, pada malam itu Al Qur’an diturunkan dari Ummul Kitab di langit ke tujuh ke langit dunia”.[1]

Sementara Al Alusi dalam Tafsir Al Alusi (Ruhul Ma’ani) mengatakan :

{فِى لَيْلَةٍ مُّبَـٰرَكَةٍ} هِيَ لَيْلَةُ اْلقَدَرِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَتَادَةَ، وَابْنِ جُبَيْرٍ، وَمُجَاهِدٍ، وَابْنِ زَيْدٍ، وَالْحَسَنِ. وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْمُفَسِّرِيْنَ وَالظَّوَاهِرِ مَعَهُمْ، وَقَالَ عِكْرِمَةُ وَجَمَاعَةٌ: هِيَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ. وَتُسَمَّى لَيْلَةَ الرَّحْمَنِ وَاللَّيْلَةَ الْمُبَارَكَةَ وَلَيْلَةَ الصَّكِّ وَلَيْلَةَ الْبَرَاءَةِ، …

Yaitu Lailatul Qodar sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Qotadah, Ibnu Jubair, Mujahid, Ibnu Zaid, dan Al Hasan. Ini adalah pendapat yang diikuti oleh kebanyakan mufassir dan kaum dhowahir (tekstualis). Ikrimah dan sekelompok orang mengatakan : itu adalah malam Nishfusy Sya’ban. Dinamakan juga Lailatur Rohman, Al Lailah Al Mubarokah, Lailatush Shokki, dan Lailatul Baro’ah. …”.[2]

Tentang keutaman bulan Sya’ban Nabi Muhammad SAW mengatakan:

“فَضْلُ الشَّعْبَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِيْ عَلَى سَائِرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَفَضْلُ رَمَضَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ”. ( درة الناصحين، ص. ۲۰۸)

“Keutamaan bulan Sya’ban diatas semua bulan seperti keutamaanku di atas semua Nabi dan keutamaan bulan Ramadhan di atas semua bulan seperti keutamaan Allah di atas semua hambaNya”. (Durrotun Nasihin, hlm. 208)

C. KEUTAMAAN DAN PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

I. Dilaporkannya amal manusia dalam setahun di hadapan Allah SWT (Laporan Amal Tahunan)

Dalam Hadist disebutkan bahwa ketika sahabat Usamah bin Zaid RA. bertanya tentang puasa di bulan Sya’ban, maka Nabi bersabda :

۲٣٥٧-حَدَّثَنِيْ أُسَامَةُ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ. قَالَ :” ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ”.(رَوَاهُ النَّسَائِيُّ, حَدِيْثٌ حَسَنٌ, وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاْلبَيْهَقِيُّ)

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilupakan kebanyakan manusia karena bulan yang terletak diantara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Padahal di bulan Sya’ban amal semua umat manusia (dalam setahun) dilaporkan kepada Allah Robbul ’Alamin, maka Aku senang (berharap) ketika amalku itu dilaporkan di waktu aku sedang berpuasa”. [HR. An Nasa'i (2357) dalam Sunan An Nasa'i, Malik dalam Al Muwaththo' riwayat Muhammad bin Al Hasan (372), Ahmad (21801), Ibnu Abi Syaibah (9765), Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (3820), An Nasa'i dalam Sunan An Nasa'i Al Kubro (2666)]

Diriwayatkan pula dalam hadits yang lain Aisyah RA. mengatakan :

1868 - عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : ” كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ وَ يُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ. فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَ مَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ”.(رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَأَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ وَاْلبَيْهَقِيُّ وَالنَّسَائِيُّ)

Adalah Rosululloh saw jika berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah berbuka, dan jika sedang tidak berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah berpuasa. Aku tidak melihat Rosululloh saw, menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali puasa di bulan Ramadhan dan aku tidak melihat di suatu bulan yang paling banyak digunakan oleh Rosululloh untuk berpuasa kecuali di bulan Sya’ban”. [HR. Al Bukhari (1868), Muslim (1156), Abu Dawud (2434), Ahmad (24801), Ibnu Hibban (3648), Al Baihaqi dalam Sunan Al Baihaqi Al Kubro (8245), An Nasa'i dalam Sunan An Nasa'i Al Kubro (2660)]

Dari mafhum dua hadist tersebut dan hadits lainnya yang senada, Umat Islam banyak yang berlomba untuk melakukan berbagai amal sholeh, ibadah dan banyak berdoa di bulan Sya’ban seperti berpuasa, shalat-shalat sunat, mengeluarkan shadaqah, berziarah qubur, mengirim doa untuk keluarga yang sudah meninggal dengan membaca Al-Quran, tahlil, dsb. Dengan harapan saat melakukan amal–amal sholeh tersebut saat itu pula dilaporkan kepada Allah SWT.

Hal ini sudah menjadi pengertian umat Islam, sehingga menjadi kebiasan umat Islam di bulan Sya’ban melakukan kegiatan-kegiatan beramal shaleh apalagi menjelang bulan suci Ramadhan sekaligus digunakan sebagai persiapan untuk melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan dan amalan-amalan lainnya.

DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, dalam kitabnya “Maadzaa Fii Sya’baan ?”[3] menambahkan bahwa dilaporkannya amal manusia kepada Allah selain di bulan Sya’ban juga terjadi pada beberapa waktu, yaitu :

1) Laporan Harian

Di awal malam (waktu Ashar) untuk melaporkan amal siang hari, dan di awal siang hari (yakni waktu Subuh) untuk melaporkan amal malam hari.

Hadist Nabi saw :

٣۲۲ - عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “يَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِيْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ وَ صَلاَةِ الْعَصْرِ. فَيَجْتَمِعُوْنَ فِيْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَتَثْبُتُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ، وَ يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ صَلاَةِ الْعَصْرِ فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ وَتَثْـبُتُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ. فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ :”كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ ؟”، فَيَقُوْلُوْنَ أَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ فَاغْفِرْ لَهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِ. (رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَأَحْمَدُ)

“Berkumpul Malaikat (yang bertugas melaporkan catatan amal manusia) di siang hari dan Malaikat (yang bertugas melaporkan catatan amal manusia) di malam hari di saat sholat Shubuh dan shalat Ashar. Malaikat-malaikat tersebut bertemu di waktu Subuh, maka naiklah malaikat malam untuk melapor kehadirat Allah SWT dan tetap tinggal malaikat siang. Demikian pula bertemu lagi malaikat-malaikat tersebut di waktu Ashar. Kemudian naiklah malaikat siang (kehadirat Allah SWT) dan tetap tinggal malaikat malam. Kemudian Allah bertanya kepada malaikat-malaikat tersebut (saat melapor): “Bagaimana hambaKu saat kalian tinggalkan dan saat kalian datang ? “. Malaikat menjawab : “Saat kami datang mereka sedang sholat dan saat kami tinggalkan mereka juga sedang sholat, maka ampunilah dosa-dosa mereka di akhirat”. [HR. Ibnu Khuzaimah (322), dan Ahmad (9140)]

2) Laporan mingguan pada setiap hari Senin dan Kamis.

Hadist Nabi saw dari sahabat Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda :

٣٦ – ( ۲٥٦٥ ) ” تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ فِيْ كُلِّ يَوْمِ خَمِيْسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ ذَلِكَ اْليَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ارْكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا”.(رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ وَالطَّبْرَانِيُّ وَاْلبَيْهَقِيُّ)

“Amal-amal manusia dilaporkan setiap hari Senin dan Kamis, pada hari itu Allah mengampuni dosa orang-orang yang tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu kecuali orang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya. Dikatakan : “Tangguhkanlah untuk dua orang yang sedang bermusuhan ini sampai keduanya berdamai”. [HR. Muslim (2565), At Tirmidzi (747), Ahmad (7627), Ibnu Hibban (3644), Ath Thobroni dalam Al Mu'jam Al Kabir (409), Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6627)]

II. Bulan Sya’ban adalah Bulan Perpindahan Qiblat

Perpindahan Qiblat shalat dari menghadap Baitul Muqoddas ke Ka’bah adalah hal yang sangat dinanti-nanti oleh Rosululloh SAW agar segera turun ayat tentang perpindahan Qiblat tersebut Maka setelah 6 bulan Nabi berada di Madinah yakni hari Selasa Nifsu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) turunlah Surat Al-Baqorah : 144 :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ اْلحَرَامِ، وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ (سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ : ١٤٤)

Artinya : “Sungguh Kami (Allah) sering melihat wajahmu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram, di mana saja kamu berada palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al Baqoroh : 144)

III. Bulan Sya’ban Adalah Bulan Shalawat Nabi

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah bulan diturunkannya ayat Shalawat Nabi yaitu firman Allah :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (سُوْرَةُ اْلأَحْزَابِ: ٥٦)

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-MalaikatNya bershalawat untuk Nabi (Muhammad). Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam peng hormatan untuk dia.” (QS. Al Ahzab : 56)

IV. Malam Nisfu Sya’ban

Di bulan Sya’ban terdapat suatu malam yang agung yang berkah dan mulia yakni malam Nishfu Sya’ban (malam separo bulan Sya’ban). Di malam itu Allah membuka pintu rahmat dan maghfirah untuk semua mahkluk serta mengabulkan untuk orang-orang yang berdoa.

Banyak Hadist-Hadist Nabi yang menerangkan tentang kemuliaan malam Nishfu Sya’ban antara lain :

1. Hadits Aisyah ra, yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi :

٣۸٣٧ - … قَالَتْ عَائِشَةُ: “دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ عَنْهُ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ لَمْ يَسْتَتِمَّ أَنْ قَامَ فَلَبِسَهُمَا، فَأَخَذَتْنِيْ غِيْرَةٌ شَدِيْدَةٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَأْتِيْ بَعْضَ صُوَيْحِبَاتِيْ. فَخَرَجْتُ اَتَّبِعُهُ فَأَدْرَكْتُهُ بِاْلبَقِيْعِ بَقِيْعِ اْلغَرْقَدِ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ. فَقُلْتُ :”بِأَبِيْ وَأُمِّيْ, أَنْتَ فِيْ حَاجَةِ رَبِّكَ وَ أَنَا فِيْ حَاجَةِ الدُّنْيَا”.

فَانْصَرَفْتُ فَدَخَلْتُ حُجْرَتِيْ وَ لِيْ نَفَسٌ عَالٍ وَلَحِقَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :”مَا هَذَا النَّفَسُ يَا عَائِشَةُ ؟”.

فَقَالَتْ :”بِأَبِيْ وَأُمِّيْ, أَتَيْتَنِيْ فَوَضَعْتَ عَنْكَ ثَوْبَيْكَ ثُمَّ لَمْ تَسْتَتِمَّ أَنْ قُمْتَ فَلَبِسْتَهُمَا. فَأَخَذَتْنِيْ غِيْرَةٌ شَدِيْدَةٌ ظَنَنْتُ أَنَّكَ تَأْتِيْ بَعْضَ صُوَيْحِبَاتِيْ حَتَّى رَأَيْتُكَ بِاْلبَقِيْعِ تَصْنَعُ مَا تَصْنَعُ”. قَالَ : “يَا عَائِشَةُ، أَكُنْتِ تَخَافِيْنَ أَنْ يَحِيْفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُوْلُهُ، بَلْ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَالَ :”هَذِهِ اللَّيْلَةُ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَ ِللهِ فِيْهَا عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ بِعَدَدِ شُعُوْرِ غَنَمِ كَلْبٍ، لاَ يَنْظُرُ اللهُ فِيْهَا إِلَى مُشْرِكٍ وَ لاَ إِلَى مُشَاحِنٍ وَ لاَ إِلَى قَاطِعِ رَحِمٍ وَ لاَ إِلَى مُسْبِلٍ وَ لاَ إِلَى عَاقٍّ لِوَالِدَيْهِ وَ لاَ إِلَى مُدْمِنِ خَمْرٍ”. قَالَ : ثُمَّ وَضَعَ عَنْهُ ثَوْبَيْهِ, فَقَالَ لِيْ :”يَا عَائِشَةُ تُأَذِّنِيْنَ لِيْ فِيْ قِيَامِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ ؟”.

فَقُلْتُ :”نَعَمْ بِأَبِيْ وَأُمِّيْ”. فَقَامَ فَسَجَدَ لَيْلاً طَوِيْلاً حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قُبِضَ، فَقُمْتُ اِلْتَمَسْتُهُ وَ وَضَعْتُ يَدِيْ عَلَى بَاطِنِ قَدَمَيْهِ فَتَحَرَّكَ، فَفَرِحْتُ وَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِهِ :

“أَعُوْذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَأَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ جَلَّ وَجْهُكَ لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“.

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرْتُهُنَّ لَهُ فَقَالَ :”يَا عَائِشَةُ تَعَلَّمْتِهِنَّ ؟”. فَقُلْتُ : “نَعَمْ”، فَقَالَ : “تَعَلَّمِيْهِنَّ وَ عَلِّمِيْهِنَّ فَإِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَّمَنِيْهِنَّ وَأَمَرَنِيْ أَنْ أُرَدِّدُهُنَّ فِي السُّجُوْدِ”.

(رَوَاهُ وَاْلبَيْهَقِيُّ : وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيْفٌ وَ رُوِيَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ, كَذَا فِيْ شُعَبِ اْلإِيْمَانِ)

Aisyah berkata :”Rosululloh saw masuk mendatangiku lalu beliau meletakkan kedua pakaiannya, tidak lama kemudian beliau berdiri dan memakainya kembali. (Melihat hal itu) perasaanku terbakar oleh rasa cemburu yang sangat, aku menyangka bahwa beliau mendatangi salah satu dari sahabat-sahabatku (istri-istri beliau) yang lain. Lalu akupun keluar menguntit beliau dari belakang. Ternyata aku menjumpai beliau berada di pekuburan Baqi’ (Baqi’il Ghorqod) sedang memohonkan ampunan bagi kaum mukminin mukminat dan para syuhada’. Aku berkata :”Demi Ayah dan ibuku, engkau memenuhi hajat kepada Tuhanmu, sedangkan aku mengikuti hajat duniawi”.

Akupun kemudian pulang dan masuk ke kamarku dengan nafas terengah-engah. Lalu Rosululloh saw menyusulku, dan beliau berkata : “Wahai Aisyah, ada apa dengan nafasmu ?”.

Aisyah berkata : “Demi Ayah dan ibuku, engkau mendatangiku lalu engkau letakkan kedua pakaianmu, lalu tidak lama kemudian engkau berdiri dan memakainya kembali. (Melihat hal itu) perasaanku terbakar oleh rasa cemburu yang sangat, aku menyangka bahwa engkau mendatangii salah satu dari sahabat-sahabatku (istri-istrimu) yang lain, sampai aku melihatmu sedang berada di Baqi’ sedang melakukan apa yang engkau lakukan.

Beliau bersabda :” Wahai Aisyah, apakah engkau takut jika Allah dan Rosulnya berbuat dzolim kepadamu ?”. Telah datang kepadaku Jibril as dan berkata :” Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban, di mana Allah memerdekakan banyak orang dari siksa neraka, sebanyak bulu-bulu kambing milik Bani Kalb[4]. Di malam ini Allah tidak memandang kepada orang musyrik, orang yang bermusuhan, orang yang memutus tali persaudaraan, orang yang suka mencaci maki, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan orang yang biasa minum khomer”.

Kemudian beliau meletakkan kedua pakaiannya dan berkata kepadaku :” Wahai Aisyah, apakah engkau mengizinkanku untuk qiyamullail pada malam ini ?”.

Aku menjawab ;Ya, demi ayah dan ibuku”.

Kemudian beliau sholat dan bersujud melewati malam yang panjang, sampai aku menyangka bahwa beliau telah wafat. Lalu aku bangun mencari beliau dan aku letakkan tanganku di perut telapak kakinya, ternyata bergerak-gerak. Akupun senang.

Aku mendengar dalam sujudnya beliau berkata : “(Ya Allah) aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksaMu dan aku berlindung dengan ridhoMu dari murkaMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu, maha Agung Wajah-Mu, aku tidak membatasi pujian kepada-Mu, sebagaimana Engkau memuji kepada Mu sendiri “.

Ketika pagi tiba aku menyebut-nyebut doa itu di hadapan beliau. Lalu beliau bersabda:”Wahai Aisyah, engkau telah mempelajarinya?”. Aku menjawab :”Ya”. Beliau bersabda : ” Pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain. Karena Jibril telah mengajarkan kepadaku dan memerintahkanku untuk mengulang-ulangnya dalam sujud”.

(Ini adalah Isnad yang dho’if dan hadits ini juga diriwayatkan dari jalur periwayatan yang lain, demikian keterangan dalam kitab Syu’abul Iman karya Al Baihaqi) [HR. Al Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman (3837)][5]

Juga hadits yang diriwayatkan Sayyidina Ali KRW, menceritakan bahwa Rosululloh SAW bersabda:

١٣۸۸عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا . فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا . فَيَقُوْلُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرُ لَهُ أَلاَ مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقُهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيْهِ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ”.(رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ)

“Ketika datang malam Nishfu Sya’ban maka sholatlah pada malamnya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala pada malam itu turun ke langit dunia pada saat terbenam matahari sampai fajar, dan berfirmn : “Barang siapa yang meminta kepadaKu akan Aku kabulkan permohonannya, dan barang siapa minta ampun maka akan Aku ampuni dosanya, dan barang siapa yang meminta rezeki maka akan Aku berikan rizki kepadanya”. [H.R. Ibnu Majah dengan isnad dho'if (1388)]

Hadist dari sahabat Mu’adz bin Jabbal, Nabi SAW bersabda :

٥٦٦٥- عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “يَطْلُعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ”.(رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ:حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ بِشَوَاهِدِهِ, وَالطَّبْرَانِيُّ وَاْلبَيْهَقِيُّ)

“Allah mendatangi kepada semua mahkluknya di malam Nishfu Sya’ban untuk memberi ampunan kepada semua mahkluknya, kecuali bagi orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan”. [HR. Ibnu Hibban (5665), Ath Thobroni dalam Al Mu'jam Al Kabir (215), Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (3833 & 6628)]

Sahabat Atho’ bin Yasar R.A. meriwayatkan tidak ada satupun sesudah malam lailatul qodar yang lebih utama kecuali malam Nishfu Sya’ban.

V. Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Dari hadits tersebut di atas dan masih banyak hadits-haditis lainnya menunjukkan bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah malam yang mulia. penting sekali bagi umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban tersebut dengan memperbanyak beramal sholih seperti : sholat sunat, membaca Al Qur’an, bershodaqoh, bertaubat, berdo’a, dsb.

DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, dalam kitabnya “Maadzaa Fii Sya’baan ?” menyatakan :

لَمْ يَثْبُتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُعَاءٌ مُعَيَّنٌ خَاصٌّ بِلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ. وَكَذَالِكَ لَمْ تَثْبُتْ صَلاَةٌ مُعَيَّنَةٌ خَاصَّةٌ بِلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَإِنَّمَا جَاءَ التَّرْغِيْبُ بِإِحْيَائِهَا مُطْلَقًا, بِأَيِّ أَنْوَاعِ الدُّعَاءِ وَالْعِبَادَةِ دُوْنَ تَعْيِيْنٍ, فَمَنْ قَرَأَ وَدَعَا وَصَلَّى وَتَصَدَّقَ وَعَمِلَ بِمَا تَيَسَّرَ لَهُ مِنْ أَنْوَاعِ اْلعِبَادَةِ، فَقَدْ أَحْيَاهَا وَنَالَ الثَّوَابَ عَلَى ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Tidak ada doa tertentu dan khusus pada malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) dari Rosululloh saw. Demikian pula tidak ada sholat tertentu dan khusus pada malam Nishfu Sya’ban. Tetapi yang ada adalah targhib (anjuran) untuk menghidupkan malam itu secara mutlak, dengan doa dan ibadah apa saja tanpa ditentukan. Maka barangsiapa yang membaca (Al Qur’an), berdoa, bershodaqoh, dan melakukan amal ibadah apa saja yang mudah baginya, berarti dia telah menghidupkan malam itu dan memperoleh pahala dengan hal itu, insya Allah”.[6]

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Nabi Muhammad bersabda:

٧٩٢٧ - عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: “خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ : لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَتَيِ اْلعِيْدَيْنِ”. (رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِيْ مُصَنَّفِهِ, الجزء : 4, ص. ٣١٧)

“Ada Lima malam yang do’a tidak ditolak di dalamnya : (1) malam Jum’at, (2) malam pertama di bulan Rojab, (3) malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban), (4&5) malam dua hari Raya (malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha)”. [Mushonnaf Abdirrozzaq (7927), Juz : 4, hlm. 317]

VI. Tradisi Umat Islam di Bulan Ruwah / Sya’ban

Kegiatan umat Islam Indonesia khususnya Jawa di bulan Sya’ban, sebagian umat Islam ada yang melarangnya sebab hal tersebut dianggap banyak yang berbau syirik, karena kebanyakan merupakan peninggalan agama sebelum Islam. Namun juga tidak dipungkiri bahwa mayoritas umat Islam masih banyak melakukan. Bahkan mempertahankannya karena hal tersebut masih dianggap banyak bermanfaat, selama diamalkan dengan cara yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.

Sebab agama Islam tidak harus meninggalkan tradisi umat sebelumnya, ternyata banyak juga tradisi jaman jahiliyah yang masih diteruskan di jaman Islam, yang kemudian sudah diisi dengan yang sesuai aqidah dan syariah Islam. Seperti ibadah haji, menyantuni anak yatim, memuliakan tetangga, dan menjamu tamu.

Hadits Nabi saw menceritakan bahwa Sa’ib seorang sahabat Nabi yang baru saja masuk Islam, diberi nasehat oleh Nabi saw :

١٥٥٣٩ - عَنِ السَّائِبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : “جِيْءَ بِيْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ جَاءَ بِيْ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَزُهَيْرُ فَجَعَلُوْا يُثْنُوْنَ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لاَ تُعْلِمُوْنِيْ بِهِ، قَدْ كَانَ صَاحِبِيْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ قَالَ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ, فَنِعْمَ الصَّاحِبُ كُنْتَ. قَالَ فَقَالَ:”يَا سَائِبُ، اُنْظُرْ أَخْلاَقَكَ الَّتِيْ كُنْتَ تَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاجْعَلْهَا فِي اْلإِسْلاَمِ : “أَقْرِ الضَّيْفَ وَأَكْرِمِ اْليَتِيْمَ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ”.

(رَوَاهُ أَحْمَدُ فِيْ مُسْنَدِهِ: إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ, الجزء : 3, ص. 425, وَ ابْنُ عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ فْي اْلآحَادِ وَالْمَثَانِيِّ)

“Wahai Saib, perhaikan akhlaq yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, laksanakan pula ia dalam masa keIslaman, yaitu : jamulah tamu, muliakan anak yatim, dan berbuat baiklah kepada tetangga.[HR. Ahmad (15539) dan Ibnu 'Amr Asy Syaibani dalam Al Ahad Wal Matsani (692)]

Hal tersebut sesuai dengan kaidah fiqh:

اْلمحُاَفَظَةُ عَلَى اْلقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَاْلأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ اْلأَصْلَحِ

“Mempertahankan dan melestarikan tradisi-tradisi lama yang masih dianggap bagus, dan mengambil hal- hal yang baru yang dianggap lebih bagus”.

Tradisi/ kebiasaan tersebut antara lain:

a. Mengirim doa kepada para arwah dengan cara membaca Al Qur’an, Surah Yasin, membaca Tahlil, dsb.

b. Berziarah Kubur ke makam keluarga, orang tua, para ulama, para wali, dan orang-orang yang telah berjasa kepada kita.

c. Mengadakan acara selamatan, sodaqohan, pengajian haul, yang biasa disebut nyadran, dll.

Sebetulnya mengirim doa kepada para arwah dengan berbagai cara seperti tersebut diatas, juga berziarah kubur apalagi untuk orang tuanya sendiri, tidak terbatas di bulan Sya’ban saja tetapi bulan lain kapan saja, tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan dalam setiap harinya dengan berbagai alasan, maka maka atas inisiatif para ulama penyiar agama Islam antara lain Sultan Agung Hanyokro Kusumo (Raja Mataram) diadakan penjadwalan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan dalam bulan-bulan tertentu, dan nama-nama bulannya pun dinamai dengan nama yang sesuai dengan kegiatannya, sehingga umat Islam mudah mengingatnya dan melaksanakannya, Seperti :

a) bulan Muharrom dalam kalender Hijriyah diganti bulan Suro, karena di bulan tersebut ada hari ‘Asyuro tepatnya tanggal 10 yang disunatkan untuk melakukan puasa pada hari itu, agar umat Islam tidak lupa menjalankannya.

b) bulan Robi’ul Awal dalam kalender Hijriyah diganti bulan Mulud, karena di bulan tersebut terjadi peristiwa maulid-nya (lahirnya) Nabi Muhammad SAW. Sehingga umat Islam teringat untuk memperingatinya.

c) Demikian pula bulan Sya’ban, di kalender Hijriyah oleh Sultan Agung diganti bulan Ruwah (arwah), supaya umat Islam teringat kepada arwah para leluhurnya, sehingga mau mengirim doa, pahala amal sholeh, dan memintakan maghfiroh kepada Allah SWT atas dosa-dosanya dan mau berzirah ke kuburnya, terutama yang di bulan-bulan sebelumnya tidak ada kesempatan.

d) Bulan Ramadhan diganti bulan Poso, supaya umat Islam teringat dan melakukan puasa.

Dalam hal ini sebetulnya Nabi SAW telah memberikan arahan dalam sebuah hadits :

١۰٥٤ - عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، فَقَدْ أَذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِيْ زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ”. (سنن الترمذي) “.(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهَ وَأَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ)

Dari Buroidah ra berkata : Rosululloh saw saw bersabda :

“Aku (dahulu) telah melarang kalian berziarah kubur (yang tidak sesuai dengan syariat Islam), (Aku) Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke kubur ibunya, maka (sekarang) berziarah kuburlah kamu sekalian (dengan cara-cara Islam), karena sesungguhnya ziarah kubur itu bisa mengingatkan akherat”. [HR. At Tirmidzi (1054), An Nasa'i (5652), Ahmad (1235), Al Hakim (1387), Ibnu Majah (1571)]

Hadits Nabi riwayat Abu Hurairoh RA :

٩٥٥ – عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَرًّا”.(رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ وَاْلبَيْهَقِيُّ)

“Barang siapa berziarah Kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at, maka Allah akan mengampuni dosanya, dan sudah termasuk berbakti kepada kedua orang tuanya”. [HR. Ath Thobroni dalam Al Mu'jam Ash Shoghir (955), serta Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (7901)]

Adapun tradisi umat Islam berziarah qubur setahun sekali yang oleh orang Jawa biasa disebut Nyadran ” adalah kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh Nabi sendiri yang setiap tahun (haul) beliau berziarah qubur di makam para syuhada’ Uhud dan tentunya di makam syuhada’ lainnya.

Hadits Nabi SAW:

عَنِ اْلوَاقِدِيِّ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِيْ شَرْحِ الصُّدُوْرِ)

Dari Al Waqidi berkata : “Adalah Rosululloh SAW setiap tahun (haul) berziarah ke makam para Syuhada’ perang Uhud”. (HR. Ibnu Hibban dalam Syarhush Shuduur)

kegiatan ini juga diteruskan oleh Kholifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Dari hadits ini kemudian umat Islam banyak melakukan ziarah qubur setidaknya setahun sekali dan kebanyakan pada bulan Sya’ban (Ruwah) dan juga banyak mengadakan acara haul untuk memperingati wafat seseorang / ulama setiap tahunnya.

VII. Kesimpulan :

1. Bulan Sya’ban adalah bulan barokah yang banyak fadhilahnya

2. Dianjurkan memperbanyak ibadah di Bulan Sya’ban, taqorrub kepada Allah, puasa, sholat, shodaqoh, membaca Al Qur’an, ziarah kubur dan amal-amal sholih yang lain dengan tanpa mengkhususkan ibadah tersebut.

3. Adapun niyat sholat Nishfusy Sya’ban, membaca Yasin, shodaqoh, dan lain-lain bukan merupakan takhshish ibadah, tapi merupakan penunjukan waktu saja. Sholatnya adalah sholat sunat muthlaq.

4. Kebiasaan yang biasa dilakukan pada bulan Sya’ban bukan merupakan pengkhususan tapi sekedar pengagungan dan penjadwalan saja. Karena jika dikhususkan menjadi bid’ah madzmumah

Wallohu a’lam


[1] Lihat Tafsir Al Jalalain, karya Imam jalaluddin As Suyuthi dan Al Mahalli, Daru Ihya’ At Turots Al Arobi, hlm. 655, termuat dalam CD At Tafsir wa Ulumul Qur’an (berbentuk CD), Syirkah Al Ma’arif Ad Dauliyyah, Jeddah, KSA

[2] Lihat Tafsir Al Alusi (Ruhul Ma’ani), Daru Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, juz 52, hlm. 21, termuat dalam CD At Tafsir wa Ulumul Qur’an

[3] Lihat kitab Maadzaa Fii Sya’baan ?, karya DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, ,ttt, cet. Pertama, tahun 1424 H, hlm. 11-17

[4] Bani Kalb adalah suku yang paling banyak anggotanya, atau paling banyak kambingnya (Maadzaa Fii Sya’baan ?…, hlm. 67, catatan kaki nomor 1)

[5] Tentang riwayat doa dalam sujud dalam hadits tersebut banyak riwayat lain yang senada, di antaranya terdapat dalam Sunan An Nasa’i (95534, hadits shohih), Sunan Ad Daruquthni (35), Syu’abul Iman (3838), Syarah Ma’anil Atsar (1304)

[6]Lihat Maadzaa Fii Sya’baan ?…, hlm. 100

About these ads

Responses

  1. Aku ini bingung lo maz…ktnya hari2 yang anda sebutkan kok nggak ada dasar yg shohih….jd skarang kok bimbang…apa saran maz untuk itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: