Oleh: Mawar | Juli 4, 2009

KRITIK SASTRA FEMINIS; READING AS WOMAN

Kritik Sastra Feminis; Reading as Woman

Diposkan oleh Ukon Purkonudin

 

Marjinalisasi perempuan dalam tatanan hidup social-kulturalnya (femenimis) telah menjadi masalah bersama. bukan hanya masalah orang timur akan tetapi ini menjadi masalah orang barat juga, yang permasalahannya perlu perhatiaan dan penyelesaian bersama baik dari timur maupun barat. Dengan melihat latarbelakang kelahiran sejarahnya sebagai gerakan modern feminimisme lahir awal abad ke 20, yang di pelopori oleh Virginia woolf dalam bukunya yang berjudul A Room Of Ones Own (1929). Perkembangan yang pesat adalah sebagai salah satu aspek teori kebudayaan kontempoler terjadi pada tahun 1960-an. Model analisisnya sangat beragam sangat kontekstual, berkaitan dengan aspek-aspek social, politik, ekonomi. Maka dari ini di perlukan suatu kritik feminism untuk membedah problematika tersebut yangni kritik ini berkembang di Amerika pada tahun-tahun 1960-an, yang berdampak luas bukan hanya pada kaum perempuan saja, akan tetapi meluas ke seluruh masyarakat Amerika, yang akhirnya membuat masyarakat sadar akan kedudukan perempuan yang inferior.

Kesejarahan khusus dari munculnya kritik sastra feminis ini menurut Soenarjati  dikarenakan adanya hasil survei di Amerika pada akhir tahun 1960-an yang mengungkapkan, bahwa kanon sastra di negeri itu- dengan hanya beberapa perkecualian- merupakan tulisan kaum laki-laki. Elaine Showalter mengatakan, bahwa sejumlah besar bentuk sastra, kurun-kurun waktu, bahkan berabad-abad dalam sejarah sastra Amerika tidak menyinggung satupun penulis perempuan. Karenanya, salah satu kegiatan awal para pengkritik sastra feminis adalah menggali, mengkaji, serta menilai karya penulis-penulis perempuan dari masa-masa silam. Mereka mempertanyakan tolak ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulu sehingga kanon sastra di dominasi penulis laki-laki. Para pengkritik feminisme pertama juga berusaha menyediakan suatu konteks yang dapat mendukung penulis masa kini agar mereka mampu mengungkapkan pengalaman, perasaan, serta pikiran yang selama ini diredam.

Secara etimologi feminis berasal dari kata femme (women) berarti perempuaan (tunggal) yag bertujuaan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuaan (jamak). Sebagai kelas social. Dalam hubngan ini perlu dibedakan antara male dan female yang ditentukan secara kodrati sebagai aspek perbedaan biologis dan sebagai hakikat ilmiah bisda dikatakan male dan female mengacu pada seks. Sedangkan maskulin dan feminine mengacu pada jenis kelamin atau gender sebagai he dan she dalam aspek perbedaan fsikologi dan kutlural. Juga sebagai hasil pengaturan kembali infrastruktur material dan super struktur idiologis, seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuaan tetapi menjadi perempuaan bukan sebagai perempuaan yang mempunyai konstruksi negatif, perempuaan sebagai makhluk takluk, perempuaan yang terjerat dalam dikotomi sentral narginal, superior inferior. Jadi tujuan feminis adalah keseimbangan dan interelasi gender. Dalam pengertiaan yang lebih luas adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala bentuk yang di marginalisasikan, disubordinasikan dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, maupun pada kehidupan sosial pada umumnya.dalam pengertiaan sastra cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi. Emansioasi wanita dengan demikiaan merupakan slah satu aspek dengan kaitannya dengan persamaan hak (kesetaraan gender).

Banyak para kritikus melihat bahwa dalam membedah karya sastra dengan menggunakan pendekataan feminis lebih cendrung kepada kritik sosial kultural dimana ada sesosok perempuaan yang termarjinalkan, perempuaan makhluk lemah yang mempunyai anggapan negatif dalam berbagai aspek kehidupan dan itu yang membuat ia terbelenggu dan perlu sebuah pendekatan yang baik dalam penyelesaiaan diskursus ini yakni dengan pendekatan kritik feminis.

Secara teoritis kritik ini menitik beratkan pada ilmu sastra, feminisme berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra Barat adalah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Prinsip dasar pandangan kritik feminis adalah untuk memahami suatu ilmu pengetahuan baru yang timbul karena adanya kmponen genus yang dari tidak kasat mata muncul menjadi kasat mata dalam berbagai wacana yang dihasilkan oleh bidang ilmu humanitas dan sosial.Yoder menyebutkan, bahwa kritik sastra feminis bukanlah berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan; arti sederhana kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan. Jenis kelamin inilah yang membuat banyak perbedaan di antara semuanya, yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang.

Soenarjati memberikan keterangan lebih jauh, bahwa kajian wanita yang dikaitkan dengan kesusasteraan boleh dikatakan memiliki dua fokus. Di satu sisi terdapat sejumlah karya sastra tertentu, yaitu kanon, yang sudah diterima dan dipelajari dari generasi ke generasi secara tradisional. Di sisi lain terdapat seperangkat teori tentang karya itu sendiri, tentang apa itu sastra, bagaimana mengadakan pendekatan terhadap karya sastra, dan tentang watak serta pengalaman manusia yang ditulis dan dijelaskan dalam karya sastra. Dari sini juga kritik sastra feminis berawal, yaitu disebabkan oleh kenyataan bahwa baik kanon tradisional maupun pandangan tentang manusia dalam karya sastra pada umumnya, mencerminkan ketimpangan relasi jender.

Analisis dalam kejadian feminis hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketertindasan wanita atas diri pria. Mengapa wanita pada posisi inferior. Stereotip bahwa wanita hanyalah pendamping laki-laki, menjadi tumpuan kajian feminisme. Dengan adanya perilaku politis tersebut, apakah wanita menerima secara sadar ataukah justru malah menghadapi ketidakadilan gender. Jika dianggap perlu, analisis peneliti harus sampai pada radikalisme perempuan dalam memperjuangkan persamaan hak. Kritik ini berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penukis-penulis pria, yang menampilkan wanita sebagai mahluk yang ditekan dan disalahtafsirkan oleh tradisi patriarkhal yang dominan.

Dalam praktiknya, kritik sastra feminis diaplikasikan melalui penggunaan teori yang beragam yang intinya berperspektif feminis. Dari para pengkritik sastra feminis tersebut ada yang melalui penggunakan pendekatan struktural, lalu menganalisa tokoh-tokoh wanitanya dalam suatu karya sastra, ada yang menggunakan teori resepsi sastra, yaitu pendekatan pragmatisme dalam karya sastra, ada yang menggunakan teori semiotik dalam kaitannya dengan fungsi komunikasi sebuah karya sastra, ada juga yang menggunakan sistem dialektik yaitu paduan dari beberapa teori seperti teori kritik sastra feminis Anglo Amerika menggunakan Pendekatan citra perempuan (images of women).

Dasar dalam melakukan penelitiaan sastra berprespektif feminis adalah upaya dalam pemahaman kedudukan dan kepahaman perempuaan seperti tercermin dalam karya sastra. Peran dan kedudukan perempuan tersebut akan menjadi sentral dalam pembahasan penelitiaan sastra. Peneliti bakan melihat dominasi laki-laki atau gerakan perempuaan.

Dan untuk terciptanya kesuksesan dalam penelitiaan tersebut. Penyusun menggunakan penelitiaan kritik femenis sastra memanfaatkan kajiaan kualitatif misalkan deskrifsi dalam cerpennya karya Taufik El Hakim yang judulnya rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf), yang akan kita bedah menggunakan fisau analisis sastra feminis yang mendeskrifsikan setatus dan peranan perempuaan dalam keluarga, masyarakat dan lingkunganya. Data-data ini penulis akan dibahas secara proposional, artinya bukan diambil dari persfektif (sudut pandang) laki-laki melainkan diambil dari presfektif perempuaan. Kendati pengarang cerpen ini laki-laki tetapi penulis sangat lihai dalam memainkan alur, termasuk dalam mendeskrifsikan tokoh-tokoh. Yang menarik dalam cerpen ini adalah deskripsi dan hidupnya tokoh sentral yang bernama Saunah ini hidup oleh tokoh kedua yang menjadi lawan bicaranya yakni lelaki yang menjadi suaminya Saunah lewat dialog antar tokoh dan penafsiaan kisah yang hebat.

Dalam tulisan menggunakan presfektif reading as woman, penulis atau peneliti membaca sebagai wanita. Singkatnya, peneliti dalam memahani karya sastra harus menggunakan kesadaran khusus yakni kesadaran multi gender yang berhubungan dengan masalah keyakinan, idiologi dan wawasan hidup. Kesadaran khusus peneliti untuk memahami karya sastra sangat perlu diperlukan. Perbedaan jenis kelamin akan mempengaruhi pemaknaan cipta sastra. Sejalan dengan kodratnya, teks sastra yang dilahirkan pengarang laki-laki dan wanita memang sering berbeda. Keduanya akan sangat kental dalam perjuangan terhadap nasib/hal masing-masing. Itulah sebabnya, kondisi ini telah memunculkan pemahaman penelitiaan sastra yang orientasinya ke arah perjuangan hak.

Menurut Culler, dengan berpijak pada konsep “pembaca perempuan”, pendekatan ini lebih menekankan pada kesinambungan antara pengalaman perempuan mengenai struktur keluarga/sosial dan pengalaman mereka sebagai pembaca. Kritik sastra feminis yang berpegang pada postulat ini lebih tertarik pada situasi dan psikologi tokoh-tokoh perempuan. Mereka menelusuri sikap-sikap terhadap perempuan atau “citra-citra perempuan” di dalam karya-karya seorang pengarang, sebuah genre, atau satu periode tertentu Kritik sastra yang demikian ini yang dikarenakan fokusnya pada perempuan sebagai suatu tema dalam karya sastra, maka menjadi sangat tematis, termasuk juga dalam ketertarikannya atas pengalaman para pembaca sastra maupun non-sastra. Dalam pendekatan ini, tindakan membaca dipandang sebagai sebentuk komunikasi antara pengalaman/kehidupan pembaca dan pengalaman/kehidupan pengarang. Apabila pembaca ini kemudian menjadi kritikus, maka yang ia kerjakan adalah memberi penilaian terhadap pengalaman tersebut sehingga memungkinkan para pembaca selanjutnya menjadi sadar akan posisi yang diambilnya.

tulisan ini merupakan resume dr proposal penelitian yang ada di blog……………………………… http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2010/05/proposal-penelitian-kritik-feminis.html

http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/06/kritik-sastra-feminis-reading-as-woman.htmldiakses tgl 13-7-2012 jam 21.00 wib

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: