Oleh: Mawar | September 6, 2009

FILSAFAT JAWA UNTUK INDONESIA

FILSAFAT JAWA UNTUK INDONESIA

Badan njaba wujud kita iki

Badan njero munggwing jroning kaca

Ananging dudu pangilon

Pangilon jroning kalbu

Yeku wujud kita pribadi

Tinitah jro panyipto

Ngeremken pandulu

Luwih gede berkahira

Lamun Janma wus gambuh ing badan batin

Sasat SRIRA BATHARA

(Serat Dewa-Ruci)

Pengantar Kutipan tersebut diatas adalah salah satu bait serat Dewa-Ruci, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia, kurang lebih adalah sebagai berikut : (Badan luar/lahir/fisik kita ini, Adalah badan didalam kaca, namun bukannya cermin melainkan didalam Cipta, Sambil memejamkan mata, sungguh lebih besar barokahnya, manakala manusia sudah mengenal dengan betul Badan batin, Seolah-olah Badan cahaya).Psikologi jawa itu bukan “Trikhotomi”, melainkan “dikhotomi”, karena Cipta dan rasa itu menyatu, dengan sosok miring/gambar -wayang-nya adalah arjuna, sedangkan karsanya dilambangkan Bima.Orang jawa yang cipta-rasanya dominan, seyogyanya mengambil lakon Cipta-Hening/Arjuna-Wiwaha sebagai acuan hidup; sedangkan kalau yang dominant itu karsanya, dipersilahkan mendalami serat Dewa-ruci.Mereka yang akrab dengan persoalan-persoalan Filsafat, tentu segera merasakan nuansa Eksistensialisme Sartre, dengan Being-In-Itself serta Being-For-Itself, antara bayangan dalam cermin serta cermin tanpa bayangan/Being and Nothingness (Sartre, 1943).

Filsafat itu apa? Dari sejarahnya yang panjang setidak-tidaknya orang akan mendapatkan 5 kandungan maknawi filsafat.Pertama, Pengantar Hikmah.Disini orang menjadi lapang dada; pendirian kokoh, namun lentur, sehingga beban terasa ringan; ingatan pun meninggi, sehingga urutan kejadiannyapun benar,””Beserta kesulitan itu kemudahan”.Dengan begitu orang akan siap berprestasi.Untuk makna yang pertama ini, Orang jawa mengemasnya dalam filsafat UDENG/Mudheng.Puncaknya ialah sosok Darmakusuma atau lebih jelas lagi SAMI-AJI, lambing Ratu adil, raja tanpa mahkota, bahkan memakai UDHENG (destar/ikat kepala, yang didalamnya tersimpan “Kesaksian Awal-Akhir/lahir Batin”, yakni layang Kalimasada/kalimah syahadat).

Kedua, Sistem hakikat, mencakup syariat yang informative, Tarekat yang transformative, Hakekat yang konformaatif, serta makrifat yang illuminatif.Halnya tersimpul dalam Dentawyanjana, Sistem alphabet, Neng-ning-Nung-Nang/kakang kawah, adhi Ari-ari/Kakangne mBarep-Adhine Wuragil.Keempat, Pandangan hidup demi hidup abadi.(Tanggal pisam kapurnaman), Kelima, Induk segala pengetahuan, Mbobot”Firman yang membadan”/Jiwa kang kajawi.

Pokok-pokok Bahasan Garis-garis besar bahasannya akan mencakup 7 hal : 1) Penelusuran Nilai filsafat jawa; 2) Filsafat Jawa diantara filsafat Etnis lainnya; 3) Karakter manusia Jawa; 4) Karakter pemimpin jawa;5) Filsafat Jawa dan pencerahan; 6) Titik singgung Filsafat jawa dalam pembangunan; 7) Kontribusi filsafat Jawa dalam pembentukan karakter Bangsa dan Negara.

Sementara itu perlu diingat bahwa ketika filsafat lahir pertama kali di Ionia (Yunani Kuno), maka mitologi lalu diganti oleh Pencerahan akal budi. Atlas yang semula adalah Dewa penyanga bumi, menjadi peta bumi.Ketika pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945, apakah sejak saat itu Mitos lalu “Lenyap”? Apakah tahapan Metafisis-Ontologis menggantikan mitologi) sementara itu Negara Barat bahkan telah mencapai tahapan ilmiah-Fungsional? (Peursen, 1988). Ada 2 jawaban hipotetik terhadap problema demikian itu. Pertama dibalik mitologi tradisonal terdapat nilai-nilai yang perlu digali; kedua, kadar kajian kefilsafatan tidak berkembang atau bahkan rudiment, sampai-sampai kita sekedar ikut modernitas namun hanya sebagai pelengkap pelaku atau bahkan Pelengkap penderita.Maka perlu penegasan karakter ketimuran kita, agar kita tidak malah menjadi obyek penderita residu Modernisme Barat. Rentangan diakhronik sinkhronik pencerahan ke Budhaan di Timur segelombang dengan momentum munajatnya Nabi Musa, kalimullah, a.s., namun Dunia belum memahami bahasa RUH apalagi Bahasa terpuji sebagai suatu system. Filsafat Jawa untuk Indonesia, bahkan untuk dunia mengandung potensi mBobot RUH (“Jiwa kang kajawi”’ bahkan Hamemayu Hayuning’Rat”. (baca lampiran : BERJALAN DI TEMPAT)

Kearifan local (Jawa, Sunda, Bali, Minang, Batak, Aceh, Borneo, Bugis, Maluku, Papua, dan suku-suku lainnya)demi”mata-Air”-nya yang jernih harus tetap dijaga Muara Besarnya yang satu dan sama, yakni Lautan Indonesia demikian pula kesepakatan kita bersama disertai TUAH SAKATO-nya yakni pancasila dengan inti Filsafat Gotong-Royongnya harus bermuara pada skala Glonal-Universal, yang tidak lain adalah FILSAFAT ORGANISME/Filsafat proses (Witehead, 1979) yang memandang semeta itu sebagai berstruktur (Lahir-Batin) dan berproses (Awal-akhir). Dalam hal kajian structural itu Filsafat Jawa mengemasnya dalam ajaran Pamoring Kawula-Gusti, sedangkan mengenai kajian proses-fungsionalnya, Sangkan-Paraning Dumadi.(Wedyodiningrat, 1952)

Penelusuran Nilai Filsafat Jawa Bahwa filsafat jawa itu mengandung nilai berskala Dunia, terbukti dengan diakuninya beberapa Global Cultural Heritage, yakni Borobudur, Tosan aji, serta Pergelaran wayang Purwa.Borobudur yang dalam Babad tanah jawi disebut sebagai “Bangunan seribu Ksatriya terkurung dalam snagkar”, menyadarkan tema Pencerahan yang membebaskan, yakni Ruh dari kurungan Spasial & Temporal, “Jiwa kang kajawi”. Dengan demikian pendapat bahwa manusia itu mikrokosmis, sementara alam ini makrokosmis sudah semestinya dikoreksi; benar manusia itu mikrokosmis dalam hal tubuh jasmaninya, sementara Ruh itu urusan-Nya.Antara yang mikro dan yang makro itu terdapat sekat, hijab/kelir tanpa batas (menurut umar khayyam), yang menurut filsafat jawa disebut “Aling-aling”. Mereka yang bersekutu dengan “aling-aling” disebut maling. Inilah pangkal penyakit social, yakni korupsi.Perilaku koruptor itu sesungguhnya mendholimi diri sendiri.Pernyataanya “Aku ambilnya mumpung tidak ada orang”, membatalkan dirinya sebagai orang dan karenanya tertutuplah kesempatan “Kalenggahan”’ “Jumenengan”pamoring kawula-Gusti.

Bagaimana halnya dengan filsafat dibalik Tosan Aji, agar orang bersifat “Kandel” Kalingga-murda, dapat dipercaya sebagai andalan dalam kehidupan bersama, atau bahkan menjadi personifikasi sebagai SANG AJI ? tentu saja memilih dan memilah ‘guru bakal”, guru dadi”’ bakale/begitu bahannya demikian pula bakale/nanti jadinya, yakni memilih bahan yang anti karat, kalis dari segala yang mengotori.Bahwa dalam kamus Tosan Aji dikenal besi Akhidiat, memberi pelajaran pentingnya archetypus illahi dari laku “adeg-adeg”, ngadeg-jejeg, bahkan madeg-pribadi. Bahan pilihan itupun masih harus ditempa gara luluh dengan pamor “langit” dari meteor, sebagai lambang Ajaran Jawa, “Pamoring Kawula-Gusti”’ baik dalam makna”immanensi” curiga manjing warangka) ataupun Transcendensi (“Warangka manjing Curiga”). Agar nyatalah keindahan “pamor”nya, maka warangkanya harus berlalu, ngunus curiga, demi “Jiwa kang kajawi”’ Sejatosing boten wonten punopo-punopo , kajawi kang kajawi/sejatine ora ana apa-apa, kajaba kang kandha.Itulah lakon MURWA-KANDHA/MURWA-KALA, tuntunan dibalik tontonan Wayang Purwa.

Lakon mengurai keruwetan/”Ruwatan”, baik itu dengan totntonan wayang Purwa dengan lakon Murwakala ataupun Pukulan sarung Gada Inten, ternyata malah harus dengan dikoreksi, dengan reformasi Dentawyanjana (Sistem Alfabet Jawa) sesuai dengan kekeliruan hal ihwal “waktu” (KALA) yakni “kama salah tetes” menjadi KAMA BATHARA.Ketika Bathara kala dipukul dengan sarung Gada inten, maka berkeping-kepinglah dirinya menjadi “Kala-bang”/Terorisme, “Kala Menthel”/Hedonisme, “Kala”/Laso, jerat Hutang piutang, yang ternyata sampai kini malah makin merajalela.

Filsafat jawa sebagaimana yang tersirat berupa “tuntunan” dibalik Tontonan Wayang Purwa/dibalik wayang kulit memperlihatkan bahwa manusia jawa sungguh-sungguh menekuni Libido-Sexualis di balik kisah Ramayana, serta Libido-Maortalitas dibalik kisah Maha-Barata umumnya, Barat-Yuda khususnya. Kisah perangnya perang atau perang besar antara Kurawa dan pandhawa itu bukan lagi perang saudara, melainkan transformasi diri dari diri Ontoseno (“Air”) yang penuh keikhlasan transformasi diri dari Nar ke Nur/Wisanggeni, sementara Tirta sublimatif menjadi NIRTA.Hakikatnya ialah REVOLUSI SPIRITUAL, tanpa huru-hara apalagi berdarah-darah (Jacob, 2004). Itulah sebabnya maka pertunjukan wayang kulit/Purwa, diawali dan diakhiri dengan ditegakkannya Gunungan/kayon.Filsafat Kayon/Gunungan tadi bukan hanya sebagaimana namapak pada ungkapan SRI-GUNUNG serta SRI-TAMAN, Melainkan bahkan menggapai kejiwaan syukuran bagi para pemimpin sebagaimana yang dipergelarkan GUNUNGAN (kakung 7 putri), yang istilah resminya untuk memperlihatkan bahwa pemimpin itu yakni mereka yang berkelapangan itu syukurannya bergunung-gunung, ialah “Ancala”/gunung putra & ancala putri sehingga sistemnya memungkinkan laku “Mancala-putra &Mancala putri, dalam arti terbukanya kesempatan seluas-luasnya bagi angkatan muda untuk mendapatkan lapangan pekerjaan khususnya, aktualisasi diri pada umumnya.

Terhadap kritik yang mengatakan bahwa filsafat jawa itu serba lambat, sebagaimana nampak pada pedoman “Alon-alon waton klakon” yang dalam bahasa indonesianya ialah “Biar lambat asal selamat” sebagai sesuatu yang menghambat pembangunan , semuanya itu seharusnya “Empan-papan, kala-mangsa, lambe asti, duga prayaga, eguh-tangguh”. Itulah sisi Evolusionitisnya; padahal disisi lain Filsafat Jawa itu juga Revolusiner, sebagaimana nampak pada ungkapan TANGGAL SEPISAN KAPURNAMAN, yang berarti baru tanggal satu sudah terang bulan, sebagaimana juga pada perbuatan menenun : SENTEG PISAN ANIGASI, menggerakkan alat tenun sekali, begitu langsung memotong benang terakhir yang evolusionistis itu yang lahir/Rakyat sementara yang Revolusioner itu Batin/Jiwa/Pemimpin.

Filsafat Jawa diantara Filsafat Etnis lainnya

Bahwa dalam filsafat jawa terkandung bibit patriotisme dan Nasionalisme terbukti dari ungkapan “Samuduk bathuk sanyari Bumi”. Walaupun demikian Filsafat Jawa mengandung kelemahan yang nyata dalam hal pandangannya mengenai “uang”.Betapapun “saktinya” seorang jawa, namun tidak ada yang kebal menghadapi “peluru emas”.Bahwa terhadap tahapan kehidupan menurut ajaran Hindu & Budha, yakni KAMA, HARTA, DHARMA dan MOKSWA, orang Jawa bahkan menemukan personifikasinya, yakni “Kama” pada laku membongkar, Bung Karno, dalam hal “Harta” pada sosok Suharta, namunternyata disitu yang seharusnya “Hambeg Parama Ata, ternyata kesrimpet harta benda.Kini bersama-sama dengan suku bangsa lainnya manusia Indonesia menghadapi tahapan DHARMA sebelum Mokswa, menggapai kebebasan paripurna disisI Tuhan. Dharma itu identik dengan Dien, sedangkan kalau “Agama” yakni system “A” –tidak; “Gama”-kacau sebagai obyek –material, sedangkan ayat-ayat yang diwahyukan kepada para Rosul Alloh Swt sebagai obyek formalnya, demi kelanjutan karya Tuhan,”Membangun surga disisi-Nya”, dengan cara menjadikan Nusantara sebagai TAMAN SARI (NYA) DUNIA.Langkah bersamanya misalnya ialah “Parade Budaya Nusantara”. Dalam hal ekonomi misalnya bias dicontoh GEBU MINANG, “Gerakan Seribu (rupiah/ per bulan) demi ke-Minangkabauan”.Kalau saja225 juta Penduduk Indonesia, terutama muslimnya infaq shodaqoh seribu rupiah seperti warga minangkabau, maka setiap bulan akan terkumpul dana bersih Rp. 225 Milyar, sebagai “Air bersih” pencuci kereta Pusaka, lambing Negara setiap kali Karaton Ngayogyakarta “Njamasi” kereta kencana. Bahwa kenyataannya kini justru orang berebut air kotor bekas cucian “kereta”, oleh Sinuwun (alm) HB IX, yang demikian itu mengisyaratkan kekeliruan kita bersama yakni “berebut” uang pinjaman dari LN. Uang itu sama dengan “air kotor”/sisa bekas sedangkan “Air Bersih”-nya bias juga ilmu ekonomi global.

Bagaimana dengan Kalimantan, Borneo/Brunai/yang berarti Wurunai yakni “Ibu” atau Per-empu-an? Sudah selayaknya Borneo dipersiapkan sebagai ibu kota(Dunia), sebagaimana yang diproyeksikan Bung Karno, yakni Palangka-Raya sebagai ibu-kota (baru).Dalam hubungan ini, Sri Sultan HB X, menyatakan : “Meski dari factor historis cultural Yogyakarta dianggap memiliki keunggulan, tetapi setelah terbukti Yogyakarta adalah daerah rawan gempa, Yogya harus tahu diri dan menyisihkan percaturan nominasi” (noor, A., 2007).

Adapun mengenai saudara-saudara kita dari tanah Bugis khusunya, Sulawesi pada umumnya yang terkenal dengan semangat “bahari”-nya mengilhami Jerome Suzuki, sebagai Marco polo abad XX, untuk menjadikan nusantara sebagai pangkal tolak “kesadaran melaut”’ justru ketiak tokoh ini bermaksud keliling dunia, harus berhenti dan merenungkannya kembali, ketika ia melihat relief “kapal” Phenisi yang bertiang dua, sementara kapal layar manapun waktu itu baru bertiang satu.Demikianlah maka muncul spekulasi, “aneh” jangan-jangan istilah Venezia itu derivate dari kata Phenisi. Sungguh di dunia ini hanya kita orang-orang Indonesia yang dikaruniai manugerah tanpa tanding yakni TANAH -AIR, Sementara bangsa-bangsa lain hanyalah “tanah” melulu, baik sebagai “Moeder-land/motherland, ataupun “Father-land”. Masalahnya ialah janganlah kiranya kita terus menerus “mabuk daratan”, lupa lautan.

Sedangkan suku Asmat yang patung “burung”-nya berkembang menggapai langit/semesta, mengingatkan filsafat Jawa dibalik ungkapan “Krama-Inggil” ketika seorang sinuwun “sinewaka”/dalam arti menghadirkan “kesadaran kosmis”’ maka arah tuju pusat perhatian menyatukan “bukung-tukung/guna penthole” (mlebu plengking metu plengkung/tugu ana penthole”’ sebagai penjabaran tugu Linga-Yoni. Didalam kosmologi Jawa, dibalik nama-nama makanan, yakni buah surgawi, yang digapai melalu upacara pala karma, dengan tingkatan karma-andhap, karma madya serta karma inggil, emi laku SARIRA-SATUNGGAL (setubuh) sekaligus SARI-RASA- TUNGGAL (yang berarti senyawa)

Karakter Manusia Jawa

Prof.Dr. Soeharso yang dalam rangka Simposium Nasional th. 1970, di Universitas Gadjah Mada membawakan topic bahasan “Sekitar Wulang-wulang Kejawen, mengemukakan suatu karakter menonjol manusia Jawa dalam kaitannya dengan orang Cina serta Belanda, bahwa “Yen wong Jawa ilang kasutapane, padha karo Cina ilang petunge utawa landa ilang Budayane”.Bersama dengan laku “Tarak Brata”’ “Tapa Brtata” serta “Puja Brata”’ maka kualitas “Tapa” itu sangat mulia dimata orang Jawa, sebagaimana halnya menjadi salah satu syarat memperoleh guru, yakni manusia Utama, yang baik martabatnya”, syukur apabila bertemu dengan manusia ahli laku/tapa, “ingkang wus amungkul” (Wulang-Reh/Wedhatama).

Karakter atau Candra-Jiwa itu menurut Prof.Drs.Mr.Notonagoro adalah resultante akhir gaya tarik menarik unsure-unsur kepribadiannya. Yang ideal buat Manusia Indonesia umumnya, Jawa khususnya ialah karakter yang harmonis, “selaras-Srasi-seimbang”, tidak dalam konotasi amorph (ini bukan, itu bukan kalau demikian maka lalu bukan-bukan, sebab itupun bukan), melainkan keseimbangan suatu segitiga emas (nya) Plato, dimana garis tinggi (lambang cita-cita) adalah garis berat (lambing potensi) juga garis bagi modus operandi (lambing kemampuan membagi wkatu/ skala prioritas) sedemikian rupa sehingga lingkaran dalam konsentris dengan lingkaran luar.NING-RAT sejati, yang tidak sama dengan Feudalisme.Ning itu “outside-Looking-in: Rat itu “inside looking out”. Dengan demikian orientasinya justru transenden, “Raga-Suksma”/”nginang-suksma” sarira NIR.”Pamor”-nya amurba, warangka manjing Curiga”, sebagaimana lakon TUGU WASESA,.paska”Curiga manjing warangka”/lakon BIMA SUCI.Lakunya?Tarak Brata, bukannya “Nandhing sarira” antar Diri individual, melainkan ASTHA-BRATA, lakon perpindahan dari Ramayana/berintikan “Libido-sexualis”/mbabar, gelar “gumelar.MATI Jawa itu tidak sama dengan “mati”/maut bahasa Indonesia.Mati (Jawa) itu ber-akar kata ATI, kalau pasif ng-ATI ATI, kalau aktif M-ATI kelanjutan P-ATI yang berate JUMENENG, seperti kata Pangeran Pati, Pangeran yang nantinya Jumeneng AJI/Ratu.

Disinilah masalahnya, yakni “Wong Jawa Kari separo” keterpisahan atau keterbelahan antara URIP lan PATI.Kalau orang Jawa bermaksud menggunakan istilah “mati”/Ind. Itu istilahnya justru “layu”/lelayu, “laya”/pralaya, loyo (alm), antara ONKOWIJOYO dengan BIMANYU, satu sosok dengan 2 nama.Dalam kaitan ini visi Sinuwun HB IX, sangat menarik di sekitar upacara “Jamasan” kereta Pusaka.

“Yang seharusnya diperebutkan itu bukan air bekas cucian, melainkan air bersihnya yang tersisa. Bahwa Rakyat berebut air kotor, itu peringatan bahwa kita bereebut air kotor, yakni uang pinjaman LN., padahal seharusnya kita berebut ilmu ekonomi mereka/ilmu adaministrasi pengelolaan system keuangannya”.

Laku atau langkah berikutnya TAPA-BRATA, Tepa-Sarira, diperolehnya Kaca-Diri “KACA MAWA RASA”,Kacawirangi (Soedjonoredjo, 1937), sesuai dengan ungkapan Wong Jawa nggone RASA.Puncaknya ialah laku MAWAS DIRI, Mulat Sarira-Satunggal/Sari-Rasa-Tunggal, PUJA-BRATA.Pada tingkatan ini orang telah gentur tapane, “meninggalkan dunia” sebelum meninggal dunia, lulus Setya-Wacana, BER-BUDI, Bawa-Laksana, Anggung Binathara/Soca-Bathara, Lingga-Bathara, Sarira-Bathara.

Orang tidak lagi “mata-dhuwitan” atau “mata-keranjang”, melainkan matanya berkaca-kaca “Air-Mata” MATA-AIR surgawi /Soca-Bathara, berlinang “air mata” oleh “mata-air surgawi”’ sumber makrifat “Nglinang-Suksma sarira NIR” disetati dumelingnya Bisikan tanpa suara”/Wisikan Ananing Dzat: “Sejatine ora ana apa-apa” kajaba kang kandha.Sejatosipun boten wonten punapa-punapa; (kajawi KANG KAJAWI)

Karakter Pemimpin Jawa

Orang Jawa mengenal tingkatan sambat-sembut, sistem predikabilia, yakni : tingkat rendah/raksasa: “Jegang parcaka belah, Iblis laknat jeg-jeggan”, akibat dari retaknya “kaca-diri” penuh des-integrasi; tingkat madya: “Jagad Dewa Bathara, Ora jagad Pramudita”, dimana orang mengutamakan”keadilan komutatif; tingkat utama, “Iwang Suksma Adi-Luwih, Hong Buwana Langgeng”. Kalau tingkatan menengah/madya itu tingkatan Ksatriya, maka tingkatan utama itu adalah tingkatan Ksatriya-Pinandhita.

Ramayana karya Walmiki, yang berintikan ajaran Libido-Sexualis, dengan pemeran utamanya “Kera putih” yakni Anoman/lambang “Bibit unggul”, disamping Prabu Rama penjelmaan Wisnu, di pulau Jawa berkesinambungan dengan Maha-Barata karya agung pujangga Wiyasa mengenai Libido-Mortalitas, yakni ketika Begawan Kesawasidhi/penjelmaan Kresna mengajarkan laku Astha-Brata, kepada sang Arjuna.Belakangan anak Arjuna, yakni Ongkowijoyo harus diperkuat oleh Wahyu Widayat yang ada pada Bima, dengan cara Wara Subrada harus mandi di sungai Serayu (Sir-Rahayu), sehingga dengan demikian Ongkowijoyo itu juga bernama BIMANYU (putra sang Bima).

Religiusitas yang ada pada Prajnya-paramita/Roro Jonggrang yang mengundang Bandung Bodowoso untuk menyatu dengannya, asal ia bisa menyiapkan seribu candi semalam, dan yang ternyata gagal, mengatar hal-ihwal seribu ksatriya yang terkurung dalam sangka yakni Stupa Borobudur, mengilhami kita semua akan agenda : “Pencerahan seribu corona bulan”, yakni demi ruh yang makro-kosmis terhadap raga yang mikro-kosmis.Antara Raga dan Jiwa terbentang sekat “aling-aling”, isi kesadaran refleksi dari dunia fenomenal ini; mereka bersekutu dengannya disebut “maling”/”ndhaku aling-aling”; inilah pangkal korupsi.

Bahwa atas pertanyaan Sultan Demak, Sunan Kalijaga menerangkan perihal Ratu adil kaping telu, ternyata kini bukannya arti urutan pertama, kedua lalu ketiga, melainkan lebih sesuai apabila halnya difahami sebagai Ratu Adil adilnya Adil atau Adil tiga kelipatan, yakni adil komutatif, Adil Legal serta Adil Distributif.Teori keadilan bersegi tiga ajaran Aristoteles itu dalam pancasila dan karena pancasila memperoleh dua penguatan, yakni sila kedua serta sila Pertama, sementara Adil komutatif itu sila Ketiga, legal itu keempat sedangkan Sila kelima identik dengan adil secara distributif.

Kalau diingat bahwa goncangan kosmologis yang menyertai kedatangan islam itu terjadi pada th 1400 S, sebgaimana ungkpan “Sirna ilang kertaning bumi”, yakni 1400 S/1478 M, sedangkan (Sabdo-palon) sabda itu kata palon itu wilayah atau kandang, sementara selama itu ia “aling-alingan padhang dan akan menampakkan keseimbangan baru 5 abad kemudian, maka sangat menarik ungkapan Sunan kalijaga perihal masa datangnya Ratu Adil tiga kali lipat itu :

Ratu adil telu Dereng kelampahan mangkin

Taksih kirang gangsal jaman

Tetapira angidaki

Saking pangandika Nata

Nanging Jaman wuri-wuri

Ilang kaelokanipun

Karana sagunging Janmi

Amung mbujeng kalahiran

Tan wonten nedya martapi

Ngengungaken suka-suka

Ngengenaken sangga-runggi (Mangunwijoyo, M.Ng.,1917)

Kalau didasarkan pada “jangka-jangkah” demikian maka kejadiannya berkenaan dengan tahun 1478 + 500 = 1478 M, bertepatan dengan saat ketika R.I. memiliki GBHN disertai momentum penghayatan, baik mengenai pancasila umumnya ketuhanan khususnya. Hanya saja yang menonjol bukan “penghayatan”-nya, melainkan “project”-nya.Kalau saja sila ke-5 itu dibingkai oleh keadilan ilahiah tanpa batas, maka sila ke-4 seharusnya menemukan sosok yang “lagnyana suwung”, sehingga apapun akan menghasilkan kesamaan “Tak terhingga”.

Kepemimpinan jawa itu tersimpulkan dalam ajaran Ki Hajar Dewantara : “Ing ngarsa sung tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tut wuri Handayani”.Adapun yang menjadi tauladan utama Jawa tidak lain adalah Panembahan Senopati :

Nuladha laku utama

Tumraping wong tanah jawi

Wong agung ing Ngeksiganda

Panembahan senopati

Kapati amarsudi

Sudaning hawa lan napsu

Pinesu tapa brata

Tanapi ing siyang ratri

Amemangun karyenak tyasing sasama

Saben Mendra saking wisma

Lelana laladan sepi

Ngisep sepuhing sopana

Mrih pana pranweng kapti

Tis-Tising tyas marsudi

Mardawaneng budya tulus

Mesu reh kasudarman

Neng tepining jalanidhi

Sruhing brata kataman wahyu dyatmika

Demikian indah dan terkenalnya kutipan Serat Wedhatama, karya Kg M.N.IV., tetapi demikian pula tersebarnya salah kaprah berkenaan dengan mitos disekitar laku “KRAMA -INGGIL” antara P. Senopati dengan Kg Ratu Kidul, suatu peristiwa meditasi tingkat tinggi, bernuansa mistik, yang menjadi jelas manakala orang membahasnya berbekal misteri tentang “air” temuan Dr. Masaru Emoto ( ); halnya sesungguhnya identik dengan “tidur syahid”, yang dari sudut mistik dapat dijelaskan demikian :

The putting to sleep “normal

Self”wich usually wakes, and the awakening

That transcendental self “wich usually sleep” (Underhill, 1960)

“Mendra saking wisma” yang arti kesehariannya “keluar dari rumah”, di dalam konteks lakunya P.Senopati justru oncat dari Raga” atau Raga suksma (Soedjonorejo, 1937). Laku demikian itu berkembang terus sehingga pada pribadi sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo menjadi 16 term “monodualis, yakni :

Dat-Sifat Suara-Gema Rasa Pangrasa Lautan ikan Cipta Ripta Pradangga Gendhing Yang disembah Sastra Gendhing Yang menyembah Papan tulis tulisannya Kodrat iradat Manikmaya SH Guru Kadim baru Dhalang Wayang Yang bercermin Busur Anak panah Bayangannya Wisnu Kresna Laku “konspirasi” itu tidaklah partial, melainkan total sebagai kesatuan Inspirasi Religiusitas dan Aspirasi Kultural Universal sebagaimana tercermin pada nama Penguasa Tertingggi tatanan Jawa, yakni nama para sinuwun (yang diminta) dan/sinuhun (yang dijunjung tinggi) misalnya Amangku-Rat, Paku Buwana, Hamengku-Buwana, atau Paku-Alam serta Mangku-Negara, sebagai pengejawantahan dari filsafat NING-RAT, yang tidak Feudal, justru karena NING itu “Outside-looking-in”, sedangkan RAT itu “Inside-looking-out”.Ajaran Ning-rat itu kosmologis, sementara kalau Feudalisme itu penuh gaya perebutan kepemilikan atas tanah (feud/Feudum). Bagi orang kebanyakan serta laku keseharian, upaya menggapai momentum pencerahan itu adalah ANCER/PANCER kehidupan, sebagaimana tersirat dibalik ungkapan “Keblat Papat, Lima Pancer” serta “Sedulur Papat, lima pancer”, kakang kawah, Adhi Ari-ari”, bahkan “kakangne’ mBarep, Adhine Wuragil”, suatu hal yang seolah-olah mustahil. Bukankah anak tertua itu anak sulung, sedangkan yang termuda itu anak bungsu? Bagaimana yang tertua masih punya kakak, sementara yang termuda masih mempunyai adik ? soal demikian itu seperti mencari titik awal dan titik akhir dari perjalanan “waktu”. Yang lebih awal dari anak pertama adalah BYAR, sedangkan yang kemudian setelah si bungsu adalah SURUP/SUMURUP,sehingga Filsafat pencerahan Jawa terungkap dalam terminology SUMURUPA BYARE. Dalam kaitannya dengan tema Pencerahan itulah maka terkenal ucapan yang sangat menarik, sekaligus menghapus kritikan orang atas “ajaran” “Alon-alon waton klakon”, yang mengisyaratkan bahwa orang Jawa itu serba lamban, yakni ungkapan TANGGAL PISAN KAPURNAMAN, baru tanggal satu, ternyata telah bulan purnama .Filsafat Jawa tidak berhenti pada laku main-mata dengan “mata” hari, demi hari, demikian pula tidak terkurung oleh laku penjumlahan demi penjumlahan, sebab berapapun dan betapapun hasilnya tidak pernah akan mencapai kualitas infinitum, lambang ketak-terhinggan/Primordialitas ilahi, sehingga oleh karenanya laku Jawa terus menerus menambah kepekaan rasa sehingga didapatkanlah mata” hari-abadi, sekali-gua “matahari”-abadi, yang tidak lain ialah Sang Yang MANON, yang terus menerus “memata”, terus serta serba “melihat”.(Tansah ASON-TINON) Itulah laku “mulat sarira-satunggal”/’ sari-rasa-tunggal”, mengenal diri sendiri, tidak dalam “nandhing –sarira” seperti yang dimaksud oleh buku Nisa Jawa Silang Budaya (Denys Lombardt, 2000), melainkan justru fenomena “Sesungguhnya tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang berkata”tanpa kata”.Itulah laku Murwa Kandha” (sajatine ora ana apa-apa”, kajaba kang kandha”, sekaligusMurwa-Kala, meruwat “Kama salah tetes”. Mereka yang telah mencapai momentum pencerahan faham penuh atas ungkapan “Sri Gunung–Sri Taman”, gunung yang nampak indah dari jauh, ternyata tidak demikian ketika orang mendekatinya, sebaliknya Sri Taman, kalau orang mendekatinya, “taman” itu bukan hanya indah dari dekat, melainkan bahkan akan semerbak juga bau harum bunga kembang setaman.Kualifikasi Sri gunung itu juga berlaku bagi keindahan corona bulan , yang indah dari jauh sementara kalau didekati bahkan wajahnya kasar, bopeng, dan tanpa cahaya.Walaupun demikian karena jasa corona bulan juga maka terjadinya kembang corolla bunga di taman. Demikianlah maka al-Qur’an menggambarkan keindahan/kebenaran wahyu Alloh itu seperti terang 1000 cahaya corona bulan yang harumnya melebihi jangka waktu 1000 bulan skala waktu. Bagaimana serta siapakah yang menerima anugerah “pencerahan” seperti itu ? Diri yang tenang, Nafsu Muthmainnah (QS 89 : 27-30), yang mencapai kepekaan optimal sehingga mampu menangkap “perintah”Nya untuk mulih-PULIH, yang oleh Filsafat Proses atau Filsafat Organisme, yakni Filsafat Gotong-Royong Semesta disebut Apotheosisme (Whitehead, 1979).

Persinggungan Filsafat Jawa dalam Pembangunan

National Geographic Indonesia, terbitan terbaru, yakni Agustus 2008 menyatakan sesuatu yang sangat menarik perihal Indonesia, bahwa :

“Salah satu fakta terpenting tentang Indonesia adalah kenyataan bahwa Indonesia sangat ingin belajar” (halaman 33) (Bowie, B.M., 1955)

Demikianlah maka bagi manusia Jawa kisah yang tertuang pada dua karya besar pujangga India, yakni Ramayana, karangan Empu Walmiki serta Mahabharata karya Wiyasa, dipelajari dengan sangat mendalam. Bahwa Ramayana itu mengenai Libido-sexualis”, sementara Baratayudha sebagai bagian terpenting dari Maha-Bharata itu mengenai “Libido-mortalis”, dibuat makin “hidup” berkenaan dengan hal-hal berikut :

Anoman malumpat sampun

Prapteng Witing Naga-sari

Mulat mengandhap katingal

Wanodyayu kuru aking Gelung rusak wor lan kismo

Kang iga iga kaeksi

(Anoman yang lahirnya adalah kera putih, makna batinnya ternyata adalah sperma manusia, yang ketika bangkit tidak boleh “Kama salah-tetes”, melainkan bahkan Kama Bathara. Kama salah tetes itu berkenaan dengan lahirnya Bhatara Kala, lambang “Waktu yang merugi”.Sehingga upacara Ruwatan itu tidak cukup dengan “Caraka-Balik” atau dengan “memukulkan sarung Gada-Inten, melainkan dengan Reformasi Total Alfabet Jawa/dentawyanjana :

KAMA BATHARA

GADA SANYATA

NALA PADHANGA

JAWAHACAYA (Supadjar, D.,2007)

Demikianlah wasiat Sultan Agung dalam karyanya yang terkenal, yakni serat Sastra-Gendhing”/perihal “Kesatu-paduan” kesatuan visual dan auditif, dengan inti laku MAMASUH MALANING BUMI –MANGASAH MINGISING BUDI. Sri Sultan H.B. X, didalam karyanya, yakni SABDA, ketika menguraikan bab “Falsafah Kepemimpinan Jawa” menyebutkan 7 amanah yang termuat dalam serat Sastra-Gendhing tersebut, yakni :

1. Swadana Maharjeng-tursita (Seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian).

2. Bahni-bahna Amurbeng-jurit, (selalu berada didepan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran)

3. Rukti-setya Garba-rukmi, (bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa)

4. Sripandnyasih-Krami (bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas)

5. Galugana-Hasta (mengembangkan seni Sastra, seni-suara dan seni-tari guna mengisi peradapan bangsa)

6. Stiranggana-Gita (sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan umat manusia)

7. Smara-bhumi Adi Manggala (tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dariwaktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada) (Oka kusumayudha, 2003)

Filsafat Jawa dan Pencerahan

Inilah bagian yang paling menarik manakala orang berbicara tentang filsafat Jawa, dengan tetap mengingat bahwa Jawa itu tidak terbatas pada kesukuan, melainkan suatu system bulat laku-lakon, yakni sebagaimana ditekankan oleh Sinuhun P.B.IX, bahwa “Jawa” itu “Jiwa kang Kajawi”, atau menurut ungkapan dalam Serat Wedhatama :

Sapantuk wahyuning Allah

Gya dumilah mangolah ngelmu bangkit

Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning Jiwangga

Yen mangkono kena ingaran wong sepuh

Lire sepuh sepi hawa

Awns roroning atunggil (Soedjonoredjo, 1937)

(Siapapun yang kepekaannya cukup dan menangkap firman Tuhan, maka ia seperti obor penerang mengolah laku jumenengan, Bangkit secara konspiratif luluhnya raga oleh Jiwa.Kalau demikian maka ia termasuk orang sepuh (wutuh tangguh) karat kualitas kehidupannya, bebas dari gaya yang menyimpang, sebaliknya awas atas ajaran “Mono-dualisme” S.Agung.

Bagaimana halnya dengan “Pembangunan Kejiwaan” sesuai dengan prioritas lagu kebangsaan “Bangunlah jiwanya” mendahului “bangunlah badannya”? kisah perang Barata-Yuda” itu bukan lagi “perang saudara” melainkan berhubung dengan perang besar pada setiap diri, yakni Transformasi Diri dari Diri yang dibawah kendali “raga” (kurawa) menjadi diri yang sub-ordinatif terhadap jiwa (Pandhawa). Siapakah yang pertama kali menanyakan hal itu ? justru kekuatan muda, yakni Wisanggeni (baca : Wi-sanggeni/wis –anggeni) lambing sadar ke-api-an, serta Ontoseno, lambang sadar ke-lautan/kerakyatan. Ketika sang Hyang Wenang memberi tahu bahwa itu bergantung kepada dirinya, maka angkatan muda yang akan tampil, tidak lagi berada pada diri ke-api-an atau mencair melulu, melainkan harus transformasi dulu dari NAR ke NUR, sementara kondite NIRTA.

Tamsil Agung”Krama-Inggil” antara P. Senopati dengan Kg Ratu (kidul) hakikatnya adalah tauladan luluhnya kesadaran ke-api-an dengan ketidak sadaran ke-lautan, menjadi Sadar kosmis NUR, dhampar tajalli-Nya Allah sebagaimana proyeksi DHARMA-semesta/DIEN, seperti yang dimaksudkan oleh agenda berikutnya paska ketertiban semata (A-gama) (Surat Hud, ayat 7)

Agar Indonesia tidak “berjalan ditempat” berkenaan dengan agenda “pemindahan kekuasaan” (dari colonial ke nasional, dari orde lama ke Orde baru, dari orde baru ke Orde reformasi, serta dari pemilu ke pemilu berikutnya), maka Indonesia harus “menjemput bola” tidak berhenti pada bahasa “tongkat” nabi Musa, kalimullahg, a.s., melainkan menangkap BAHASA RUH, yang mbabar dari virgin Mariam, yakni mengikuti laku JIWA kang KAJAWI, “Pamoring Suksma murba raga, “Harangka manjing Curiga”/kukut/Racut (S.Agung, tt)

Keunikan Indonesia itu antara lain nampak pada istilah “Mata-Hari”, “Empu-Lsut”, disertai kata-kata “mata-pelajaran”, “mata-anggran”, “mata-pena”, “mata-Hati”, atau berhubung dengan kota “per-empu-an” berikut dominannya jiwa ke-ibu-an sebagaimana nampak pada kata “ibu-jari”, “Ibu-kota”, “nomor-induk”, “induk pasukan”, “Ibu-pawiyatan”. Hal yang demikian itu sehrusnya menyadakan semua fihak akan pentingnya Induk Pelajaran, disertai laku kosmologis di balik cara hidup NING-RAT, YAKNI TIDAK FEUDAL, JUSTRU KARENA NAMA AGUNG Ratu-yang sadar kosmid itu adalah Amangku-Rat, m-AKU Buwana, Hamengki-Buwana, m-Aku Alam, Mangku-Negara.

Dialog antara Kg Sunan Kalijaga dengan P. Senopati ketika meditasi di Bang-bang Lipura, bahwa sekedar kalenggahan Wahyu itu belum cukup, kecuali disertai dengan “kaki-tangan”, maka kiranya lahirnya PARIKESIT paska Brata-Yuda, terjadi tidak semata-mata berhenti pada sosok Ongko wijoyo/lambing keuangan, melainkan sisi yang lainnya yakni BIMA-NYU.Kita menjadi sadar bahwa Agri-Cultura yang investasinya lipat 70-an, kalah dengan kekayaan lautan kita yang tidak lagi memerlukan fase investasi, kalau saja Tekhnologi Kelautan kita sembada.dunia kini tidak berhenti pada Demokrasi, serta Tekhnokrasi, melainkan tengah menata Merito-krasi, system Labuh-Labet.

Daftar Literatur

Agung, S., Serat Pangracutan,”De Bliksem”, Solo

Bowie, B.M., 1955, “Sang raksasa Muda”, National Geographic, Indonesia 2008

Jacob. T. 2004., “Revolusi spiritual, tanpa huru-hara, tanpa bverdarah darah “, SKH KedaulatanRakyat, 15-11-2004

Kusumayudha, O.,2003, Sabda, Ungkapan Hati Seorang Raja (Sri Sultan Hamengku Buwono X), BP Kedaulatan Rakyat, YK

Lombard, D., 2000, Nusa Jawa : Silang Budaya, jilid 2, Gramedia Pustaka utama, Jkt

Mangunwijoyo.,M.Ng.,1917, serat lambing Projo, TKS, Kediri

Noor, A., 2007, Palangka Raya, Ibu Kota Indonesia Masa Depan, KNPI, kota Palangka Raya

Peursen, C.A.Van, 1988, Orientasi di Alam Filsafat, terjemahan Dick Martoko, Gramedia, Jkt

Sartre, J.P., 1943, L’etre et le Neant, Essai d’ontologique Phenomenologique, translated by Hazel E.Barnes, 1976, Being and Nothingness, An Essays on Phenomenological Ontology, Methuen & co, Ltd, London

Soedjonoredjo, R., 1937, Serat Wedhotomo Winardi, TKS, Kediri

Supadjar, D.,2007, wulang Wuruk Jawa, Pustaka Damar-Jati, YK

Underhill, E.,1960, Mysticism, Methuen & Co, Ltd, London

Wedyodiningrat.,dr KRT, R., 1952, Himpunan karangan, Jiwa-Baru, YK

Whitehead, A.N., 1979, Process and Reality, The Free Press, NY

Yasadipura, R.Ng., tt. Serat Dewa Ruci, KBK, Yogyakarta

(Artikel Liseum di pelatihan guru)

About these ads

Responses

  1. trima kasih…,sangat bermanfaat…….

  2. Haii All,

    I’m new here and come here from search engine. I really think this forum was great.

    Would you mind to check my site below ?

    Natural Health Care

  3. Mulat sarira hangrasa wani:

    Chandrajiwa Indonesia/ Soenarto Mertowardoyo disertasinya Dr Soemantri HP itu bisa dianggap global posisi dari “Aku”-nya manusia berada diantara badan-jasmani kasar dan Alam-Sejatinya manusia, yang abadi, immateriil.

    Membuka kemungkinan evolusi mengecil bahkan lebur. Ketika melaksanakan sadar-percaya-taat kepada Yang Maha Dahsyat (Suksma Kawekas, sumber hidup dan Suksam Sejati, yang menghidupi alamsemesta)

    Saat inilah Roh Sucinya menggantikan Aku-nya manusia. Pada posisi Rahsa Jati inilah segala intuisi menjadi sebuah jawaban persoalan manusiawi. Sekiranya manusia memiliki kemampuan mendengarkan intuisi dari “dalam” tentulah banyak masalah di dunia dapat diselesaikan. Paling sedikit persoalan si penerima intuisi tadi.

    Teorinya sebenarnya mudah, selain Trisila, esoteris, pendekatan kedalam, suprasosial: Sa-Ya-Taat (sadar, percaya, taat), masih harus Panncasila, pendekatan sosial: Sa Ri Ne – Te Bu (sabar, rila, nerima (puas), temen (jujur) dan budi-luhur).

    Semoga bermanfaat.

    Bre Suhono

  4. Hi everybody! I don’t know where to begin but hope this site will be useful for me.
    In first steps it is really good if someone supports you, so hope to meet friendly and helpful people here. Let me know if I can help you.
    Thanks in advance and good luck! :)

  5. TIMA KASIH UNTUK SAAT INI APLIKASINYA SANGAT SULI

  6. hmmm….. adhi pitutur
    salam kenal…. gubug kami

    http://dolanangon.wordpress.com

    nuwun.

  7. In Skechers uk, where they are attentive the question of our young friends, this really is the place where “place” is the most influential sneaker outlet, and only revered shoes store Skechers in the world. Four and a half years after opening the doors – entrance passage involving secret that buyers need to know or understand himself, to break the shoe store by novelty pub before – this is easily vaulted from upstart player shop international. Among sneaker boutiques around the world, the Back Bay store is definitely high, “said Simon Wood, editor and founder of Skechers Footwear, sneaker enthusiasts Australian magazine that is sold in 43 countries. And not just feeling under the the land. “They are absolutely one of the best, most popular brands and shopping experience,” says Matt Ting, senior product manager of Skechers sale heritage division of Skechers shoe. “When people from Europe or come to Boston, this is the first place to go. “Nate Jobe, design director for Sketchers (which worked like a reverse Bodega), agrees. These guys are definitely players in the world. They can stack up against each other creatively in the world.

  8. Nice work, Keep doing it!!! ;)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: