Oleh: Mawar | Maret 11, 2011

TEKNIK EVALUASI DAN PELAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN AGAMA

http://www.kangnasrulloh.co.cc/2009/06/teknik-evaluasi-dan-pelaporan-kegiatan.html dicopi tgl 11-3-2011 jam 06.00 wib

TEKNIK EVALUASI DAN PELAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN AGAMA

(Meteri Diklat Penyuluh Agama Fungsional)
Oleh: Hj. Siti Maryam Ahmad, S.Ag, M.Pd
BALAI DIKLAT KEAGAMAAN JAKARTA
Jl. Rawa Kuning, Pulo Gebang, Cakung- Jakarta Timur
Tilp. (021) 480 3577- 480 3578
BAB II
PENGERTIAN EVALUASI
A. Definisi Evaluasi
Evaluasi mempunyai kata dasar value (satu kata terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah nilai). Penilaian mempunyai kata dasar nilai, sama dengan evaluasi. Kata penilaian berasal dari kata kerja menilai, dan kata dasar nilai. Nilai inilah ukuran baik buruk. Dalam kaitan ini, pengertian baik dalam kaitan penyuluhan sering dinyatakan benar, betul, bagus, berhasil, sopan, memuaskan, memenuhi syarat, berguna, manfaat, kemajuan, menyenangkan, dan kata-kata lain yang bermakna baik.
Sedang pengertian buruk dinyatakan dengan kurang, merugikan, membosankan, memuakkan, tidak memenuhi syarat, dan kata-kata lain yang bermakna buruk.
Evaluasi sering diartikan secara sempit, dan memandang evaluasi hanya berdasarkan aktivitas yang penting dan menonjol. Prof. DR. Atwi Suparman dan DR. Purwanto (Universitas Terbuka) mengutip definisi yang dikemukakan oleh Departemen Pendidikan Negara Bagian California, Cronbach dan Suppes serta A Joint Commitee on Standard of evaluation sebagai berikut:
Evaluasi adalah proses menentukan nilai atau efektivitas suatu kegiatan untuk membuat keputusan.(Cronbach & Suppes, 1989). Evaluasi adalah suatu proses di mana data yang relevan dikumpulkan dan ditransformasikan menjadi informasi bagi pembuatan keputusan. (Departemen Pendidikan Negara Bagian California). Evaluasi adalah adalah suatu pemeriksaan atau penyelidikan yang sistematis tentang manfaat atau kegunaan dari sesuatu berdasarkan standar tertentu. (A Joint Commitee on Standardof Evaluation).
Dari ketiga definnisi tersebut Atwi dan Purwanto (2000) menyimpulkan bahwa:”evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan informasi yang valid (sahih, benar) dan reliabel (teruji, terpercaya) untuk membuat keputusan tentang program pendidikan dan pelatihan”.
Juni Pranoto dan Sutrisno (2006) menyimpulkan dari pendapat diatas dengan definisi: ”Evaluasi adalah suatu rentetan kegiatan yang dilakukan secara teratur dan sistematis, dengan menerapkan prosedur ilmiah, dimulai dengan penentuan tujuan, perencanaan, pengembangan instrumen, pengumpulan data/ informasi yang valid (benar) dan reliabel (teruji), penganalisaan data dan menafsirkannya dengan tujuan untuk menentukan nilai sesuatu dengan membandingkan dengan standar penilaian yang sudah disepakati, untuk membuat keputusan tentang program pendidikan dan pelatihan.
Definisi tersebut juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan penyuluhan, karena pada hakekatnya penyuluhan juga termasuk kegiatan atau proses pendidikan.
Berdasrkan definisi tersebut, maka melakukan penilaian atau evaluasi penyuluhan perlu dilakukan secara teratur, menggunakan prosedur, perlu ada data yang diolah sehingga dapat menjadi informasi. Evaluasi akan menghasilkan sesuatu yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan. Oleh karenanya apabila data yang dikumpulkan tidak valid, maka akan menjadi informasi yang tidak valid dan reliabel pula. Dampak selanjutnya adalah akan berakibat salah atau tidak benarnya membuat kesimpulan sebagai bahan untuk mengambil keputusan dan kebijakan tentang penyuluhan selanjutnya. 

B. Fungsi Evaluasi
Untuk dapat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran atau penyuluhan, perlu dilakukan evaluasi. Penyuluhan adalah kegiatan yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan meningkatnya pengetahuan, ketrampilan dan tingkah laku yang diharapkan dimiliki tersuluh setelah selesai mengikuti atau menyelesaikan pengalaman pembelajaran melalui penyuluhan. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil penyuluhan.
Adapun fungsi evaluasi adalah:
1. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan penyuluhan; dalam hal ini tujuan khusus maupun tujuan umum. Tujuan khusus atau tujuan yang dapat terukur, dibuktikan, setelah proses penyuluhan selesai. Dengan fungsi ini dapat diketahui tingkat penguasaan bahan pembelajaran yang dikuasai oleh peserta penyuluhan. Dengan kata lain dapat diketahui hasil belajar yang dicapai peserta penyuluhan. Sedang tujuan umum biasanya bersifat kualitatif dan hasilnya baru tampak beberapa saat seteleh selesai kegiatan (evaluasi sumatif)
2. Untuk mengetahui keefektifan proses penyuluhan yang dilakukan penyuluh agama; penilaian ini dimaksudkan sebagai fungsi feed back bagi penyuluhan berikutnya. Dengan fungsi ini penyuluh dapat mengetahui berhasil atau tidaknya penyuluhan. Rendahnya hasil penyuluhan tidak semata-mata disebabkan kemampuan peserta penyuluhan dalam menangkap materi, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya penyuluh menyampaikan penyuluhan. Melalui penilaian, berarti menilai kemampuan penyuluh itu sendiri, dan hasilnya dapat dijadikan bahan dalam memperbaiki uahanya, yaitu pada waktu melakukan penyuluhan berikutnya.
3. Secara komprehensif sebagai pengukur keberhasilan dilihat dari berbagai aspek; misalnya dari aspek peserta, aspek materi, aspek metoda, aspek sarana dan prasarana sekaligus dari aspek penyuluh sendiri.

Prof. DR. Abudin Nata (Dasar-dasar Pendidikan: 2001) mengutarakan fungsi evaluasi antara lain:
1. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran secara komprehensif yaitu dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap peserta pembelajaran.
2. Sebagai umpan balik atau feedback bagi kegiatan selanjutnya. Umpan balik ini dapat ditujukan kepada pembuat kebijakan maupun pelaksana kebijakan.
3. Sebagai tolok ukur bagi pendidik sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan
4. Bagi peserta didik dijadikan alat untuk mengetahui seberapa banyak materi yang diterima dapat dikuasai
5. Bagi masyarakat dapat dijadikan informasi, dan ikut menilai sejauh mana kegiatan pembelajaran itu berhasil.
6. Sebagai alat seleksi untuk mengamati peserta didik atau pembelajar mana yang punya kemampuan dan perhatian kurang, lebih atau sekedar mengikuti proses pembelajaran.
7. Sebagai alat diagnostik; Jika alat evaluasinya bagus dapat untuk mengetahui kelemahan peserta pembelajaran, dan perlu langkah konsultatif berikutnya.

Langkah pertama yang harus ditempuh penyuluh dalam melakukan penilaian adalah menetapkan ”Apa yang akan menjadi sasaran atau obyek penilaian”. Hal ini penting diketahui agar memudahkan penyuluh dalam menyusun alat evaluasi.

C. Sasaran Evaluasi Penyuluhan
Pada umumnya ada tiga sasaran evaluasi penyuluhan (mengadopsi penilaian pada proses pembelajaran)
1. Mengevaluasi segi tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, ketrampilan peserta penyuluhan sebagai hasil dari proses penyuluhan.
2. Mengevaluasi isi atau materi penyuluhan, yaitu tentang penguasaan terhadap materi yang disajikan
3. Mengevaluasi proses penyuluhan itu sendiri. Proses penyuluhan perlu dievaluasi secara objektiv oleh penyuluh, sebab baik buruknya proses juga berpengaruh terhadap hasil penyuluhan yang dicapai peserta.

Dalam paradigma baru , khususnya evaluasi dengan pendekatan andragogy (bukan paedagogi), evaluasi lebih banyak diarahkan kepada perubahan sikap dan prilaku peserta penyuluhan atau pembelajar. Sedang pada pendekatan paedagogis evaluasi masih dengan sasaran kemampuan peserta dapat menyerap materi penyuluhan.
Menurut Juni Pranoto (2006) objek atau sasaran evaluasi sangat ditentukan oleh Model evaluasi. Bermacam macam Model evaluasi pembelajaran salah satunya yang dikemukakan oleh Stuflebeam dalam bukunya Educational Evaluation and dicision Making, menggolongkan sasaran evaluasi pembelajaran ada pada 4 dimensi yang terkenal dengan evaluasi CIPP (Contect, Input, Proses dan Product). Dengan model CIPP ini jika diaplikasikan dalam evaluasi penyuluhan maka yang menjadi sasaran adalah:
1. Contect (konteks) : yaitu evaluasi yang ditujukan kepada sistem dan tujuan
Penyuluhan, kondisi-kondisi aktual yang menjadi pertimbangan
mengapa penyuluhan dilakukan dan apa kira-kira dampak dari
program yang akan dicapai
2. Input(masukan) : masukan merupakan faktor yang menentukan kelancaran proses dan kualitas penyuluhan. Beberapa masukan penting dalam penyuluhan adalah: Peserta penyuluhan, tujuan materi penyuluhan, metoda dan bahan penyuluhan. Penyuluh, sarana dan prasarana penyuluhan
3. Process (proses) :Aktivitas atau partisipasi peserta, penggunaan media pembelajaran, suasana tempat penyuluhan, cara penyuluh menyampaikan penyuluhan, konsistensi materi yang disampaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan, pola interaksi antara penyuluh dengan peserta penyuluhan
4. Product (Output) : yaitu hasil yang dapat dicapai oleh peserta penyuluhan, baik
penguasaan pengetahuan, ketrampilan maupun perubahan sikap. Untuk evaluasi aspek produk dapat dibedakan hasil yang dapat dilihat jangka pendek dan kemampuan jangka panjang. Untuk hasil jangka pendek biasanya aspek prilaku masih pada taraf pengetahuan dan pemahaman, sedang untuk hasil jangka panjang dapat dilihat apakah hasil penyuluhan sudah tampat pada aplikasi kehidupan se-hari-hari.

GAMBAR 1
Jika diperhatikan gambardiatas menunjukkan sebagai berikutaaa;
1. Hasil dari proses dapat dibedakan menjadi dua sasaran, yaitu produk dan out put. Dimaksudkan adalah, jika penyuluhan dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat secara fifik benda; bentuk barang, karya tulis, karangan, kaligrafi dan sebgainay. Sedang out put adalah hasil penyuluhan yang bersifat immateri, seperti pengetahuan, ketrampilan atau sikap.
2. Out Come, ada diluar sistem proses penyuluhan. Maksudnya adalah hasil manfaat yang dapat dirasakan baik oleh peserta penyuluhan maupun masyarakat sekitar dilaksanakannya penyuluhan atau dalam permanent system.

D. Jenis Alat Evaluasi
Setelah sasaran penilaian ditetapkan maka langkah selanjutnya adalaah menetapkan alat penilaian yang paling tepat untuk mengevaluasi sasaran. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua (2) jenis yakni : (a) tes dan (2) non tes. Kedua jenis ini dapat digunakan untuk mengevaluasi ketiga sasaran yang disebutkan diatas. Namun untuk mengevaluasi penyuluhan yang sifatnya pendidikan non formal dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.
Jenis Evaluasi:
Secara garis besar penilaian atau evaluasi dibagi dua (2) yaitu
1. Evaluasi/ penilaian formatif; yaitu kegiatan penilaian dilakukan dengan maksud memantau sejauh mana proses pembelajaran atau penyuluhan telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Misalnya penilaian yang dilakukan setelah selesai penyuluhan. Untuk megetahui sejauh mana keberhasilannya maka menggunakan penilaian formatif, dengan maksud untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Evaluasi yang dilakukan penyuluh setelah proses penyuluhan atau bahkan saat proses penyuluhan sedang berlangsung. Seperti melemparkan pertanyaan kepada peserta. Analogi dengan pendidikanformal, seperti evaluasi guru setelah proses belajar mengajar, ulangan harian, pemberian tugas pekerjaan rumah atau hafalan harian dsb.
2. Evaluasi sumatif; yaitu kegiatan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah dapat berpindah dari satu unit atau tingkat ke unit atau tingkat yang lain. Seperti belajar membaca huruf al-Qur’an metode iqra’. Santri perlu mengikuti penilaian sumatif untuk menentukan apakah sudah boleh pindah ke tingkat yang lebih tinggi. Anak sekolah mengikuti ulangan umum atau ujian kenaikan kelas, ujian akhir untuk kelulusan.
Alat Evaluasi:
Salah satu tugas evaluator ketika merencanakan evaluasi adalah mengidentifikasi instrumen yang cocok untuk mengukur tujuan yang hendak dicapai. Ada kemungkinan instrumen yang akan digunakan telah tersedia, dan penyuluh tinggal mempergunakannya, sehingga tidak perlu lagi menyusun sendiri. Atau ada kemungkinan sudah ada instrumen, tetapi kita perlu modifikasi sehingga cocok untuk melakukan evaluasi sebagaimana sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Kemungkinan terakhir adalah penyuluh menyiapkan sendiri instrumen evaluasi. Fungsi instrumen adalah sebagai alat untuk mengumpulkan data dan sebagai alat pengukur.
Dalam hal evaluasi penyuluhan, kita sederhanakan atau kita batasi bahwa evaluasi bukan dalam arti melakukan penelitian secara mendetail, tetapi evaluasi dalam arti untuk mengetahui pelaksanaan proses penyuluhan itu sendiri.

E. Prinsip-prinsip Evaluasi
Beberapa prinsip evaluasi antara lain:
1. Prinsip belajar dari pengalaman; yang dimaksud adalah mengambil pengalaman yang baik akan dilanjutkan, dan yang belum baik akan ditingkatkan. Tidak akan mengulang kegagalan dua kali
2. Prinsip penilaian formatif, yaitu penilaian yang bertujuan untuk mencari feedback atau masukan bagi perbaikan atau penyempurnaan program, kegiatan atau organisasi. Berbeda dengan evaluasi sumatif yang bertujuan untuk mengetahui tahap kemampuan peserta yang akan digunakan untuk penempatan tingkat, kelas atau jenjang.
3. Evaluasi dilakukan secara kesinambungan untuk memperoleh informasi yang diperlukan, untuk menjamin dan meningkatkan mutu kegiatan serta hasilnya.
4. Manfaat hasil evaluasi akan optimal manakala dikomunikasikan secara tepat kepada pihak-pihak yang berkepentingan

Posted by Nasrulloh on 22:12:00. Filed under . You can

About these ads

Responses

  1. setiap kegiatan sangat penting di evaluasi, sebagai salah satu bagian dari manajemen…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: