Oleh: Mawar | September 21, 2009

Mempertegas Komitmen Syahadat

Mempertegas Komitmen Syahadat

Syahadat (Confession of Faith) adalah pengakuan dan kesaksian yang dinyatakan oleh seorang muslim berkenaan dengan kepercayaannya kepada Allah yang Maha tunggal dan nabi Muhammad.Kepercayaan kepada Allah dan nabi Muhammad merupakan satu kesatuan akidah yang tidak dapat dipisahkan.

Percaya kepada Allah saja tanpa disertai percaya kepada nabi Muhammad merupakan kepercayaan yang tidak benar. Juga, percaya kepada nabi Muhamad saja tanpa disertai percaya kepada Allah merupakan kepercayaan yang salah.Itulah sebabnya , dalam perspektif islam , doktrin tersebut disebut syahadatain (dua kalimat syahadat) yang lafaznya berbunyi :Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.(aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).

Bagi anak muslim yang lahir dari orang tua muslim, syahadat itu diajarkan dan ditanamkan ke dalam jiwanya sejak usia dini. Bagi non muslim yang beralih ke agama islam , syahadat itu dibaca oleh muallaf tadi sebagai awal pengakuan dan penegasan terhadap asas kepercayaan barunya.

Selain mengajarkan kepercayaan kepada Nabi Muhammad, islam juga mengajarkan kepercayaan kepada 24 nabi lain yang diutus oleh Allah. Itu berarti bahwa doktrin tauhid sebenarnya merupakan kesinambungan ajaran para nabi yang diutus oleh Allah.

Syahadat ditempatkan sebagai pilar pertama rukun islam.Hal ini mempertegas kenyataan bahwa segala amal ibadat yang dilakukan oleh Muslim harus berpangkal dan bertolak dari syahadat. Dengan kata lain, syahadat adalah pilar penyangga segala amal ibadat yang dilakukan oleh muslim.Syahadat merupakan sumber energi batiniah dan motivasi spiritual yang sangat vital yang mendorong muslim untuk selalu berbakti dan mengabdi kepada Allah dan rasul-Nya.

Syahadat merupakan dasar dan fondasi amal ibadat mahdah dan ibadat social lainnya .Syahadat merupakan pendorong bagi muslim untuk melakukan kesalehan individual dan kesalehan social.Syahadat menjadi pengerem dan pencegah bagi muslim untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama.

Ajaran syahadat yang merupakan komitmen ilahiyyah inilah yang secara kuat mendorong Muslim untuk, antara lain melaksanakan ibadat puasa di bulan suci ramadhan. Melalui ibadat puasa, Muslim mempertegas komitmen syahadatnya dengan menempa mental-spiritualnya selama sebulan penuh.Prof Dr Faisal Ismail MA,Dubes RI dikuwait Rubrik hikmat romadhan KR senin pon 7 september 2009(17 pasa 1942)

Oleh: Mawar | September 21, 2009

PUASA, AJARAN PENGENDALIAN DIRI

PUASA, AJARAN PENGENDALIAN DIRI

Allah menjadikan nafsu sebagai salah satu elemen penting dalam penciptaan manusia. Sebagai unsure yang melengkapi penciptaan manusia, nafsu mempunyai fungsi tersendiri .Nafsu seks, misalnya, berfungsi sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan keturunan. Tanpa dilengkapi nafsu seks, kehidupan manusia sudah musnah dan punah sejak dulu kala.Perkawinan hanya merupakan sarana untuk bertemunya pria-wanita dalam ikatan yang legal dan sakral.

Tetapi perkawinan itu sendiri tidak akan memberikan keturunan kalau nafsu seks tidak ada dalam diri pria-wanita yang hidup dalam ikatan pernikahan.Sebagai elemen yang hidup dan aktif, sudah pasti nafsu itu mendesakkan dorongan-dorongan dalam diri manusia.Jika manusia dapat mengendalikan dorongan nafsunya, ia menjadi pemenang.Jika tidak, ia menjadi pecundang.

Dalam Al-Qur’an, Allah secara spesifik memberikan gambaran tentang nafsu ini.”Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.(QS Yusuf :53) Ayat ini menjelaskan bahwa nafsu selalu mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang tercela, tidak terpuji, keburukan , kebejatan dan kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati oleh Allah.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad memperingatkan kepada para sahabat (dan kepada umat islam secara keseluruhan)agar waspada terhadap godaan nafsu ini.

Seusai perang badar (perang besar antara pasukan muslim dan pasukan kafir Quraisy), nabi berkata kepada para sahabat,” Kita akan menghadapi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi”. Para sahabat lantas bertanya,” perang apa itu, ya Rasulullah?” nabi segera menjawab,”perang melawan nafsu!”. Perang melawan pasukan musuh dapat diantisipasi karena dapat terlihat secara fisik.Tetapi perang melawan nafsu sulit diantisipasi karena nafsu itu tidak tidak tampak secara fisik.

Lima Jeis nafsu

Kalangan ahli membagi nafsu menjadi lima jenis.Pertama, nafsu hayawaniah (hewaniyah) yang mendorong manusia berperilaku seperti binatang.Secara fisik, ia adalah manusia, tetapi perbuatannya sangat jahat seperti binatang buas.Hukum rimba, terror, dan praktik-praktik homo homini lupus (Yang kuat memangsa yang lemah) adalah cerminan dari nafsu hewaniyah ini.

Kedua, nafsu amarah (marah) yang mendorong manusia suka mengumbar rasa amarah.Manusia dengan sifat seperti ini suka melampiaskan amukan kemarahannya sehingga merugikan orang yang terkena amarahnya itu.Ketiga, nafsu mulhimah yang memberikan ilham kepada manusia untuk melakukan kebaikan.Keempat, nafsu lawwamah yang selalu mengajak manusia kejalan kebenaran.Nafsu ini menjelma sebagai rasa eling yang selalu mengingatkan manusia untuk melakukan kritik diri dan koreksi diri: meninggalkan keburukan dan mengerjakan kebaikan dan kebajikan.

Kelima, nafsu mutmainnah yang memberikan rasa tenang kepada diri manusia dalam menerima dan melaksanakan kebenaran Allah.Segala macam keinginan dan perbuatan yang tercela sudah lenyap dari lintasan ingatan manusia yang memiliki jiwa mutmainnah ini.

Sudah pasti, yang kita lawan adalah nafsu Hewaniyyah dan nafsu amarah karena kedua jenis nafsu ini mendorong manusia ke jalan yang tercela, tidak terpuji, bejat dan jahat.Strategi perlawanannya adalah dengan cara melakukan mawas diri, pengendalian diri, control diri,.Benteng dan tameng pengendalian diri ini antara lain diajarkan oleh puasa Ramadan.

Selama sebulan umat islam dilatih dan ditempa secara fisikal dan mental-spiritual dengan tujuan untuk mengendalikan diri dari segala perbuatan yang tercela, tidak terpuji, nista, keji, dan mungkar.Tempaan fisik dan spiritual yang dihasilkan dari ibadah puasa ini sudah pasti akan membawa manusia muslim itu semakin kuat dalam melakukan praktek-praktek control diri dan pengendalian diri.

Dengan bekal moral dan modal spiritual, manusia muslim akan berhasil melawan dan mengalahkan nafsu hewaniyah dan nafsu amarahnya.Kemudian manusia muslim secara pasti akan merengkuh mulhimah dan Lawwamah.Dari tahapan ini, manusia muslim akhirnya akan sampai ke nafsu mutmainnah: jiwa tenang,damai, tentram dan pasrah dalam menerima segala anugerah dan Kebenaran Allah.Semoga Allah berkenan mengantar kita ke tingkatan nafsu mutmainnah melalui ibadah puasa yang kita amalkan.

Tulisan Prof.Dr.Faisal Ismail MA Dubes RI di Kuwait di KR jumat Pon 28 Agustus 2009 Rubrik Opini.

Oleh: Mawar | September 21, 2009

MITOS SEPUTAR MALAM PERTAMA

MITOS SEPUTAR MALAM PERTAMA

TAK SELALU HARUS KELUAR DARAH

 

Malam pertama masih menjadi bahan pembicaraan menarik di masyarakat, bahkan, sebagian besar masih menganggap malam pertama sebagai patokan apakah wanita masih perawan atau tidak. Bagaimana yang benar ?

Pentingkah darah pada malam pertama (MP)”Darah pada MP berasal dari selaput dara yang robek saat senggama.Ada tidaknya darah pada MP sebenarnya bukan patokan bahwa pasangan wanita sudah tidak virgin (perawan)lagi,” itu kata Dr,dr.Akmal Taher, Sp.B, Sp.U dari departemen Urologi FKUI-RSCM. Pasalnya, tidak semua selaput dara dapat koyak dan mengeluarkan darah dengan segera.”Ada jenis selaput dara yang sifatnya kaku.Selaput dara jenis ini ada kemungkinan tidak akan berdarah padamalam pertama, kedua atau malah beberapa minggu, “ jelas akmal.

Bahkan, ada wanita yang sejak lahir memang tidak mempunyai selaput dara. Biasanya selaput dara yang tidak elastis akan koyak dan berdarah betulan setelah melahirkan anak.”Selain karena jenisnya, selaput dara juga dapat robek karena factor non medis seperti kecelakaan, naik kuda, bersepeda, lompat tinggi, senam, atau masuknya jari atau alat pada saat pemeriksaan dokter. Jadi soal darah pada MP sebaiknya secara bijak diketahui oleh kedua pasangan,” lanjut akmal.

Tujuannya agar pasangan bias saling memahami.”Ada wanita yang memang sejak lahir tidak punya sel darah.Jadi, jangan lagi banyak berharap ada darah pada malam pertama,” wanita terkadang juga tidak punya pengetahuan tentang hal tersebut,”sehingga langsung berkesimpulan bahwa dirinyalah yang bersalah.Nah, seharusnya itu tidak perlu terjadi.”

Pada beberapa keadaan, wanita mengalami senggama tapi selaput darahnya tetap utuh.”Dengan demikian, tidak perlu dikaitkan lagi dengan MP.Tidak ada keharusan mengweluarkan darah atau tidak pada MP.Darah bukan lagi menjadi ukuran seorang wanita itu perawan atau tidak.”

 

EJAKULASI DINI ITU BIASA

Banyak mitos yang salah perihal malam pertama.Apa saja dan bagaimana yang seharusnya ?

1.Membayangkan MP seperti yang ada dibuku atau komik

Ini salah, karena data di buku atau komik itu belum tentu kebenarannya.Data yang diberikan di buku atau komikpun biasanya tidak jelas.”Sebenarnya presentase orang yang mengalami apa yang digambarkan dalam buku-buku tentang MP itu mungkin sedikit, namun itu kemudian jadi peristiwa yang luar biasa dan dimasukkan ke majalah, sehingga pembaca menanggapinya dengan serius dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mestinya memang begitu.”

2. Merasa gagal jika tidak bisa memperoleh kepuasan di MP

Ini tentu tidak benar, seharusnya pasangan beranggapan bahwa tidak diperolehnya kenikmatan seperti yang dibayangkan di MP adalah soal biasa.

3. Ejakulasi pertanda kegagalan MP

Sebetulnya persoalan ejakulasi dini merupakan hal biasa, apalagi bagi pasangan yang sangat tidak berpengalaman.Ejakulasi dini menyangkut masalah control dini terhadap badan dan pikiran.Agar tidak memperoleh apa yang tidak dinginkan dan dapat bertahan lama, untuk urusan ini sebenarnya bisa dilatih.

Tak ada salahnya pasangan melakukan konseling seks sebelum menikah.Paling tidak pasangan memiliki pengetahuan minimal tentang seksualitas , sehingga persepsi atau pengetahuan tentang seksualitas yang salah bias dihindari.”Diskusi tentang seks juga akan menjaga orang tidak melakukan pernikahan senggama pranikah,” ujat akmal.Mitos MP berpotensi merusak kebahagiaan, oleh karena itu diperlukan pengetahuan untuk bias menikmati MP.

 

TAKUT TAK LULUS TES

Apa yang dialami wanita menghadapi MP?

1.Tegang

Kekhawatiran ini muncul akibat informasi dari bacaan yang salah dan tidak akurat.Biasanya , setelah membaca cerita tentang MP yang mengatakan sakit dan ada pendarahan pada vagina, wanita akan membayangkannya terus.Sebetulnya tak perlu risau dan takut, hadapilah MP dengan perasaan tenang dan santai.

 

2.Takut tak lulus “tes keperawanan”

Hal ini dikarenakan takut akan sangkaan pasangannya nanti.Sebenarnya, kegelisahan itu tidak sepenuhnya beralasan.Istilah di dunia barat, tempat tidur pengantin pada malam pertama hanya sebagai dasar untuk memberikan kasih saying, cinta, ikatan menyenangkan, kehangatan, dan kedekatan.Yang terjadi, karena ketakutan, maka MP lantas dianggap sebagai laboratorium tempat tes keperawanan.

 

NYERI SAAT SENGGAMA

Wanita biasanya akan mengalami nyeri saat melakukan senggama pada MP.Penyebabnya banyak, bisa karena factor komunikasi , rasa tidak percaya, ketidaktahuan tentang masalah seksual, tidak cukup merangsang, infeksi local yang tidak diadari, lubrikasi yang tidak cukup, atau vaginismus.

Nah, untuk menghilangkan rasa nyeri terbut, yang harus diperhatikan antara lain :

 

  • Komunikasi yang baik

Senggama untuk pertama kali memang tidak mudah.Harusnya, setiap pasangan saling berkomunikasi, jangan malu. Beri tahu pasangan, apa saja yang ia rasakan.Di Indonesia, soal kumunikasi menjadi hal yang paling bermasalah,” papar akmal.

Yang terjadi, justru sangat kontras dengan keadaan sebenarnya di masyarakat. Contohnya, dikantor, banyak orang (laki-laki atau perempuan) membicarakan soal kemaluan dan cerita jorok tanpa sungkan, tapi saat bersama istrinya, membicarakan soal seks sepertinya sesuatu yang tabu dan tak pernah dilakukan.”Padahal, seharusnya tak perlu lagi canggung membicarakan soal seks dengan pasangan.”

 

  • Pentingnya pengetahuan tentang seks

 

Setiap pasangan harus tahu bahwa rasa nyeri mungkin terjadi karena saat penis mulai masuk ke vagina, selaput dara akan meregang dan mengakibatkan nyeri, dan itu tergantung elastisitasnya.Elastisitas selaput dara tergantung juga dari kebiasaan aktivitas vanita.”Kalau wanitasering berolahraga, vaginanya dengan sendirinya akan secara otomatis cukup elastis, sehingga tidak merasa sakit saat senggama.Tapi ada juga yang kurang elastis sehingga memang merasa sakit.”

 

  • Tidak cukup terangsang

Rasa nyeri juga bisa karena kurangnya perangsangan.Setelah perangsangan cukup, lendir akan keluar di selaput bagian dalam vagina, sehingga membuat licin.Penyebab lain rasa nyeri secara fisik adalah infeksi local yang tidak disadari.”Selain itu, ada pula yang disebut kebasahan yang tidak cukup dan vaginismus atau kontraksi otot vagina.”

 

LAKI-LAKI TAKUT GAGAL

Apa yang ada dibenak laki-laki tentang malam pertama ? sebuah survey menunjukkan hasil yang bervariasi :

1.Takut gagal

Perasaan ini sering menghinggapi lelaki saat menghadapi MP.Takut tak bisa memuaskan pasangan, dan sebagainya.Perasaan ini muncul, karena pengetahuan yang didapat Cuma dari teman, buku, tabloid, atau blue film (BF) yang belum tentu benar.data dari sumber-sumber tersebut sama sekali tidak akurat.

2.Penuh fantasi

Setelah melihat dan membaca, laki-laki membayangkan akan melakukan MP seperti yang ia lihat atau baca di media.Tentu, sangat salah jika pembahasan dan perlakuannya lantas harus seperti apa yang dibaca, dilihat dan ditonton.

 

3.Takut ejakulasi dini

Masalah ini sebenarnya sangat biasa.Pada orang yang sangat tidak berpengalaman, keadaan ini pasti akan dilaluinya.

4.Tak mampu merobek selaput dara

Merobek selaput dara oleh beberapa pihak dianggap merupakan tanda keberhasilan perkawinan, ditandai ada tidaknya darah dari alat kelamin wanita.Ini tidak betul.Jika sejak awal sudah merasa takut, tentu ia tidak akan bisa melakukan itu.

 

5. Harus Minum obat kuat

Konsep ini dilakukan karena laki-laki takut takbisa membuktikan bahwa ia mampu.Yang lebih salah ia merasa bahwa hanya MP yang jadi penentu kehidupan seks selanjutnya.Anggapan bahwa MP merupakan malam yang akan menjadi kenangan memang benar, namun menganggap MP sebagai satu-satunya tujuan perkawinan tentu tak benar.

Jadi, jangan terlalu membesarkan apa yang akan terjadi pada MP.

 

Majalh perkawinan & keluarga No.393/2005 hal : 7-10

Oleh: Mawar | September 21, 2009

ADA APA DENGAN MALAM PERTAMA

ADA APA DENGAN MALAM PERTAMA

 

Malam pertama memiliki arti khusus bagi setiap pasangan suami istri.Disinilah untuk pertama kalinya laki-laki dan perempuan yang baru diikat dalam tali pernikahan bertemu dalam satu ranjang pelaminan. Pertemuan pertama ini merupakan peristiwa penting dalam rangkaian ritual pernikahan dan dapat mempengaruhi secara psikologis terhadap perjalanan kehidupan rumah tangga selanjutnya.

Setiap pasangan pasti punya pengalaman yang berbeda dengan malam pertamanya. Sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan bagi pihak suami atau istri di malam pertamanya boleh jadi akan mempengaruhi perjalanan rumah tangga mereka.Ibu Lenny termasuk yang mengalami kekecewaan di malam pertamanya. Sang suami menurutnya cenderung kasar dalam memulai hubungan suami istri (jima’) sedangkan dirinya menyukai kelemah lembutan. Pengalamannya itu membekas dan mempengaruhi ibu Lenny sehingga setiap kali melakukan jima’ dengan suaminya ia sama sekali tidak dapat menikmati dan selalu merasa kesakitan.Di sisi lain ia juga tidak mampu berterus terang kepada suaminya mengenai keadaan ini , dan akibatnya hingga memiliki tiga orang anak ia merasa belum dapat mencintai suaminya!

Lain lagi pengalaman Bapak Danu yang terus menyimpan kekecewaan kepada istrinya karena tidak menjumpai adanya darah di malam pertama dank arena itu ia menduga istrinya sudah tidak perawan lagi. Bapak Danu merasa dibohongi, karena istrinya tidak berterus terang tentang keadaannya sebelum mereka menikah, sedangkan untuk bertanya ia khawatir istrinya tersinggung.Dan yang terjadi akhirnya hingga delapan tahun usia pernikahannya merasa tidak dapat mencintai istrinya.

Kita boleh saja mengomentari dua kejadian diatas dengan menyalahkan Ibu Lenny atau Bapak Danu, tetapi kenyataanya mereka tidak bahagia dalam rumah tangganya karena kekecewaan di malam pertama!

 

ISLAM DAN MALAM PERTAMA

Malam pertama merupakan salah satu rangkaian ritual pernikahan yang mendapat perhatian dalam islam.Nabi kita yang mulia mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan pasangan pengantin pada malam pertamanya agar semua aktivitas bernilai ibadah disisi Alloh SWT.Diantara tuntunan beliau SAW adalah :

  1. Sholat Dua raka’at ketika masuk menemui istri

Setelah acara walimah /resepsi selesai dan suasana sudah tenang, suami akan masuk ke kamar pengantin untuk menemui istrinya.Pada saat itu disunnahkan bagi kedua mempelai melaksanakan sholat dua rakaat.

  1. Membaca Doa bagi mempelai laki-laki

Setelah selesai melaksanakan sholat, disunnahkan bagi mempelai laki-laki untuk membaca doa sebagaimana sabda Rasululloh SAW : “Jika salah seorang kamu menikahi perempuan, maka hendaklah ia membaca doa :”Allohumma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi’.Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepada-mu kebaikannya dan kebaikan yang telah engkau adakan untuknya : Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang engkau adakan untuknya.(HR Abu Dawud)

  1. Mencairkan suasana dengan saling berdialog

Jika setelah itu suasana masih kaku, biasanya bagi istri, sebaiknya suami tidak tegesa-gesa dengan langsung jima’.imaklah kisah malam pertama Syaikh Asy-Sya’bi , seorang Tabi’in terkenal yang menikahi seorang perempuan dari Bani Tamim bernama Zainab binti Hudhair. Syekh Asy-Sya’bi menuturkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Ahkamun Nisaa’ : Setelah selesai walimah dan suasana tenang kembali, aku masuk menemuinya dan berkata,”Sesungguhnya termasuk Sunnah mengerjakan sholat dua raka’at.Lalu aku berdiri melakukannya dan memohon kepada Alloh agar melimpahkan kebaikan di malam ini. Ketika aku berpaling ke kanan mengucapkan salam, aku melihatnya ikut sholat dibelakangku. Kemudian ketika berpaling kekiri, aku sudah melihatnya sudah berada ditempat tidurnya.Akupun mengulurkan tanganku, tetapi ia berkata,”sabarlah, sesungguhnya aku adalah perempuan yang asing bagimu. Demi Allah , kini aku sedang meniti jalan yang paling berat yang sebelumnya belum pernah kualami. Engkau adalah laki-laki asing , aku belum mengenal perangaimu, maka ceritakanlah hal-hal yang engkau sukai unuk aku kerjakan dan hal-hal yang engkau benci untuk aku hindari.Akupun menjawab,” aku suka ini dan ini, aku benci ini dan intu,…sementara ia mendengarkanku dengan penuh perhatian.Akhirnya malam yang paling indah itupun aku raih.”

  1. Melakukan Jima’

Dalam melakukan jima’ pertama ini hendaknya suami tidak tergesa-gesa.Keduanya hendaknya memeperlakukan pasangannya dengan lemah lembut.Interaksi yang lemah lembut dan penuh kasih sayang akan memudahkan mereka melakukan jima’ pertama kali.Sebaiknya keduanya mempelajari terlebih dahulu adab-adab dan tata cara jima’ yang diajarkan Rasululloh SAW.Sudah banyak buku karya ulama yang membahas tema ini, diantaranya Imam AlGhazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Dalam salah satu pembahasannya beliau menulis tentang adab-adab jima’ sebagai berikut :

 

a.Membaca Basmallah dan berdo’a sebelum melakukan jima’.”Dari Abdullah bin Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda :”Jika salah seorang kamu ingin berjima’ dengan istrinya, hendaklah ia membaca : “Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithana wa rozaqtanaa’(dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkanlah syetan dari apa yang engkau rizqikan kepada kami). Maka seandainya ditakdirkan dari hubungan itu seorang anak, anak itu tidak akan diganggu syetan selama-lamanya.”(HR Bukhari dan Muslim)

b. Melakukan pemanasan (pengantar) jima’ dimaksudkan agar suami tidak mendatangi istrinya dalam kondisi istri tidak siap.Pada hakikatnya perempuan menginginkan dari laki-laki seperti laki-laki menginginkannya dari perempuan, hanya saja kesiapan perempuan untuk melakukan jima’ tidak muncul setiap saat sebagaimana laki-laki. Beberapa pengantar jima’ misalnya: salaing mencumbu dengan melakukan hubungan ringan sebelum jima’ dengan berciuman, berpelukan dan perbuatan lain, kesemuanya dimaksudkan untuk memberi rangsangan dan membangkitkan gairah untuk melakukan jima’. Dengan melakukan pengantar jima’ ini diharapkan keduanya dalam kondisi benar-benar siap untuk berjima’ sehingga keduanya dapat meraih kepuasan.

C. Melakukan Jima’ tanpa tergesa-gesa.Lakukanlah jima’ dengan kelembutan dan penuh kasih saying.Jika dalam melakukan jima’ pertama ini ternyata masih terdapat kesulitan, jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikannya pada saat itu juga. Bersabarlah, mungkin akan mudah setelah berlangsung beberapa hari.Dan apabila suami mencapai kepuasan lebih dahulu, hendaknya tidak tergesa-gesa beranjak dari istrinya, tunggulah sampai istri dapat meraih kepuasan.

Dengan memperhatikan tuntunan Rasulullah SAW tersebut malam pertama disamping akan menjadi kenangan indah bagi kedua pihak, sekaligus juga bernilai ibadah disisi Allah SWT. Nah bagaimana dengan malam pertama Anda?(majalah bulanan No 393/2005 hal 3-6, Perkawinan & keluarga menuju keluarga sakinah)

 

Oleh: Mawar | September 6, 2009

Kebiasaan yang Merusak Pernikahan

Tak banyak orang yang menyadari bahwa beberapa kebiasaannya membuat hubungan dengan orang yang ia cintai menjadi berantakan. Ingin tahu kebiasaan apa saja?

Menyalahkan orang lain memang lebih mudah ketimbang melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Tapi benarkah kegagalan hubungan berasal dari pasangan, atau jangan-jangan kebiasaan Anda penyebabnya. Berikut beberapa kebiasaan yang harus Anda hindari karena dapat berakibat buruk pada pernikahan.

Berhenti mendengarkan
Kadang pernikahan yang telah berjalan lama membuat Anda dan pasangan sudah saling mengenal secara menyeluruh. namun yang sering terlupakan adalah, setiap manusia pasti mengalami perubahan. Mulai dari sikap, cita-cita, keinginan dan masih banyak lagi. Jangan buru-buru emosi saat merasa pasangan tak lagi seperti yang Anda kenali dulu. Coba diingat kembali, pernahkah Anda meluangkan waktu di sela kesibukan untuk sejenak mendengarkan kisahnya? Pernahkah Anda dengan sabar mendengarkan keluh kesahnya setiap ada masalah di kantor hanya untuk 10 menit saja? Jika jawabannya tidak, maka jangan heran jika secara tidak disadari, hubungan Anda dan pasangan semakin ada jarak. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang memiliki masa pacaran panjang atau lama.

Menghilangkan romantisme
Umur pernikahan bukan alasan untuk berhenti bersikap romantis. Romantisme adalah milik siapapun, muda atau tua. Untuk para orang dewasa, tentu saja bukan romantisme yang menggebu-gebu layaknya anak ABG yang harus ditampilkan. Tapi ucapan sederhana seperti ‘Aku sayang kamu’ untuk memulai dan menutup hari tentunya tak berlebihan bukan?

Menyalahkan pasangan dalam segala hal
Merasa pasangan selalu membuat Anda kesal dengan sikap pelupanya, sikap cueknya juga kecerobohannya? Pernahkan Anda mengingatkan pasangan dengan bahasa dan tutur kata yang lembut tanpa emosi, ketimbang langsung marah, mengamuk dan menyulut pertengkaran berkepanjangan? Cobalah untuk tidak menyalahkan pasangan setiap saat. Jika memang ada kesalahan kecil yang dilakukannya, lebih baik ingatkan dia dengan tutur kata yang lembut. Tak ada gunanya bertengkar, karena hal itu tak akan mengubah apapun.

Lari dari pertengkaran
Jika memang ada hal yang harus dibicarakan, walau hingga harus bertengkar, tetap harus Anda hadapi. Pertengkaran juga merupakan salah satu cara untuk saling mengenal. Menahan emosi hanya akan menciptakan bom waktu dalam pernikahan Anda. Jika memang ada sesuatu yang menganjal, sebaiknya utarakan sebelum emosi Anda memuncak. Menahan emosi dengan keluar rumah dan melampiaskan kegalauan bersama teman atau sahabat juga tidak disarankan. karena dalam emosi yang tidak stabil, segala hal buruk bisa saja terjadi.

Jika memang Anda dan pasangan tak bisa lagi menyelesaikan perselisihan, lebih baik minta bantuan orang ketiga yang sifatnya netral. Misalnya konsultan pernikahan.

Tak jujur soal keuangan

Tahukah Anda bahwa perselisihan soal keuangan merupakan penyebab perceraian utama, bukan perselingkuhan atau perbedaan pendapat. Untuk itu, ada baiknya untuk terbuka soal keuangan. Susunlah perencanaan keuangan Anda berdua dengan pasangan. Jika ada masalah, jangan ragu juga untuk membicarakannya bersama.

Berhenti bersolek dan memperhatikan diri
Walau Anda dan pasangan sudah terikat janji di hadapan Tuhan dalam sebuah pernikahan, namun itu bukan alasan untuk berhenti bersolek dan memperhatikan penampilan diri. Berdandan demi suami Anda bukanlah hal yang salah. Senangkan hati pasangan Anda dengan menjadi wanita yang cantik jiwa juga raga.

http://id.she.yahoo.com/kebiasaan-yang-merusak-pernikahan.html diakses tgl 23-10-2012 jam 20.00

Oleh: Mawar | September 6, 2009

FILSAFAT JAWA UNTUK INDONESIA

FILSAFAT JAWA UNTUK INDONESIA

Badan njaba wujud kita iki

Badan njero munggwing jroning kaca

Ananging dudu pangilon

Pangilon jroning kalbu

Yeku wujud kita pribadi

Tinitah jro panyipto

Ngeremken pandulu

Luwih gede berkahira

Lamun Janma wus gambuh ing badan batin

Sasat SRIRA BATHARA

(Serat Dewa-Ruci)

Pengantar Kutipan tersebut diatas adalah salah satu bait serat Dewa-Ruci, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia, kurang lebih adalah sebagai berikut : (Badan luar/lahir/fisik kita ini, Adalah badan didalam kaca, namun bukannya cermin melainkan didalam Cipta, Sambil memejamkan mata, sungguh lebih besar barokahnya, manakala manusia sudah mengenal dengan betul Badan batin, Seolah-olah Badan cahaya).Psikologi jawa itu bukan “Trikhotomi”, melainkan “dikhotomi”, karena Cipta dan rasa itu menyatu, dengan sosok miring/gambar -wayang-nya adalah arjuna, sedangkan karsanya dilambangkan Bima.Orang jawa yang cipta-rasanya dominan, seyogyanya mengambil lakon Cipta-Hening/Arjuna-Wiwaha sebagai acuan hidup; sedangkan kalau yang dominant itu karsanya, dipersilahkan mendalami serat Dewa-ruci.Mereka yang akrab dengan persoalan-persoalan Filsafat, tentu segera merasakan nuansa Eksistensialisme Sartre, dengan Being-In-Itself serta Being-For-Itself, antara bayangan dalam cermin serta cermin tanpa bayangan/Being and Nothingness (Sartre, 1943).

Filsafat itu apa? Dari sejarahnya yang panjang setidak-tidaknya orang akan mendapatkan 5 kandungan maknawi filsafat.Pertama, Pengantar Hikmah.Disini orang menjadi lapang dada; pendirian kokoh, namun lentur, sehingga beban terasa ringan; ingatan pun meninggi, sehingga urutan kejadiannyapun benar,””Beserta kesulitan itu kemudahan”.Dengan begitu orang akan siap berprestasi.Untuk makna yang pertama ini, Orang jawa mengemasnya dalam filsafat UDENG/Mudheng.Puncaknya ialah sosok Darmakusuma atau lebih jelas lagi SAMI-AJI, lambing Ratu adil, raja tanpa mahkota, bahkan memakai UDHENG (destar/ikat kepala, yang didalamnya tersimpan “Kesaksian Awal-Akhir/lahir Batin”, yakni layang Kalimasada/kalimah syahadat).

Kedua, Sistem hakikat, mencakup syariat yang informative, Tarekat yang transformative, Hakekat yang konformaatif, serta makrifat yang illuminatif.Halnya tersimpul dalam Dentawyanjana, Sistem alphabet, Neng-ning-Nung-Nang/kakang kawah, adhi Ari-ari/Kakangne mBarep-Adhine Wuragil.Keempat, Pandangan hidup demi hidup abadi.(Tanggal pisam kapurnaman), Kelima, Induk segala pengetahuan, Mbobot”Firman yang membadan”/Jiwa kang kajawi.

Pokok-pokok Bahasan Garis-garis besar bahasannya akan mencakup 7 hal : 1) Penelusuran Nilai filsafat jawa; 2) Filsafat Jawa diantara filsafat Etnis lainnya; 3) Karakter manusia Jawa; 4) Karakter pemimpin jawa;5) Filsafat Jawa dan pencerahan; 6) Titik singgung Filsafat jawa dalam pembangunan; 7) Kontribusi filsafat Jawa dalam pembentukan karakter Bangsa dan Negara.

Sementara itu perlu diingat bahwa ketika filsafat lahir pertama kali di Ionia (Yunani Kuno), maka mitologi lalu diganti oleh Pencerahan akal budi. Atlas yang semula adalah Dewa penyanga bumi, menjadi peta bumi.Ketika pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945, apakah sejak saat itu Mitos lalu “Lenyap”? Apakah tahapan Metafisis-Ontologis menggantikan mitologi) sementara itu Negara Barat bahkan telah mencapai tahapan ilmiah-Fungsional? (Peursen, 1988). Ada 2 jawaban hipotetik terhadap problema demikian itu. Pertama dibalik mitologi tradisonal terdapat nilai-nilai yang perlu digali; kedua, kadar kajian kefilsafatan tidak berkembang atau bahkan rudiment, sampai-sampai kita sekedar ikut modernitas namun hanya sebagai pelengkap pelaku atau bahkan Pelengkap penderita.Maka perlu penegasan karakter ketimuran kita, agar kita tidak malah menjadi obyek penderita residu Modernisme Barat. Rentangan diakhronik sinkhronik pencerahan ke Budhaan di Timur segelombang dengan momentum munajatnya Nabi Musa, kalimullah, a.s., namun Dunia belum memahami bahasa RUH apalagi Bahasa terpuji sebagai suatu system. Filsafat Jawa untuk Indonesia, bahkan untuk dunia mengandung potensi mBobot RUH (“Jiwa kang kajawi”’ bahkan Hamemayu Hayuning’Rat”. (baca lampiran : BERJALAN DI TEMPAT)

Kearifan local (Jawa, Sunda, Bali, Minang, Batak, Aceh, Borneo, Bugis, Maluku, Papua, dan suku-suku lainnya)demi”mata-Air”-nya yang jernih harus tetap dijaga Muara Besarnya yang satu dan sama, yakni Lautan Indonesia demikian pula kesepakatan kita bersama disertai TUAH SAKATO-nya yakni pancasila dengan inti Filsafat Gotong-Royongnya harus bermuara pada skala Glonal-Universal, yang tidak lain adalah FILSAFAT ORGANISME/Filsafat proses (Witehead, 1979) yang memandang semeta itu sebagai berstruktur (Lahir-Batin) dan berproses (Awal-akhir). Dalam hal kajian structural itu Filsafat Jawa mengemasnya dalam ajaran Pamoring Kawula-Gusti, sedangkan mengenai kajian proses-fungsionalnya, Sangkan-Paraning Dumadi.(Wedyodiningrat, 1952)

Penelusuran Nilai Filsafat Jawa Bahwa filsafat jawa itu mengandung nilai berskala Dunia, terbukti dengan diakuninya beberapa Global Cultural Heritage, yakni Borobudur, Tosan aji, serta Pergelaran wayang Purwa.Borobudur yang dalam Babad tanah jawi disebut sebagai “Bangunan seribu Ksatriya terkurung dalam snagkar”, menyadarkan tema Pencerahan yang membebaskan, yakni Ruh dari kurungan Spasial & Temporal, “Jiwa kang kajawi”. Dengan demikian pendapat bahwa manusia itu mikrokosmis, sementara alam ini makrokosmis sudah semestinya dikoreksi; benar manusia itu mikrokosmis dalam hal tubuh jasmaninya, sementara Ruh itu urusan-Nya.Antara yang mikro dan yang makro itu terdapat sekat, hijab/kelir tanpa batas (menurut umar khayyam), yang menurut filsafat jawa disebut “Aling-aling”. Mereka yang bersekutu dengan “aling-aling” disebut maling. Inilah pangkal penyakit social, yakni korupsi.Perilaku koruptor itu sesungguhnya mendholimi diri sendiri.Pernyataanya “Aku ambilnya mumpung tidak ada orang”, membatalkan dirinya sebagai orang dan karenanya tertutuplah kesempatan “Kalenggahan”’ “Jumenengan”pamoring kawula-Gusti.

Bagaimana halnya dengan filsafat dibalik Tosan Aji, agar orang bersifat “Kandel” Kalingga-murda, dapat dipercaya sebagai andalan dalam kehidupan bersama, atau bahkan menjadi personifikasi sebagai SANG AJI ? tentu saja memilih dan memilah ‘guru bakal”, guru dadi”’ bakale/begitu bahannya demikian pula bakale/nanti jadinya, yakni memilih bahan yang anti karat, kalis dari segala yang mengotori.Bahwa dalam kamus Tosan Aji dikenal besi Akhidiat, memberi pelajaran pentingnya archetypus illahi dari laku “adeg-adeg”, ngadeg-jejeg, bahkan madeg-pribadi. Bahan pilihan itupun masih harus ditempa gara luluh dengan pamor “langit” dari meteor, sebagai lambang Ajaran Jawa, “Pamoring Kawula-Gusti”’ baik dalam makna”immanensi” curiga manjing warangka) ataupun Transcendensi (“Warangka manjing Curiga”). Agar nyatalah keindahan “pamor”nya, maka warangkanya harus berlalu, ngunus curiga, demi “Jiwa kang kajawi”’ Sejatosing boten wonten punopo-punopo , kajawi kang kajawi/sejatine ora ana apa-apa, kajaba kang kandha.Itulah lakon MURWA-KANDHA/MURWA-KALA, tuntunan dibalik tontonan Wayang Purwa.

Lakon mengurai keruwetan/”Ruwatan”, baik itu dengan totntonan wayang Purwa dengan lakon Murwakala ataupun Pukulan sarung Gada Inten, ternyata malah harus dengan dikoreksi, dengan reformasi Dentawyanjana (Sistem Alfabet Jawa) sesuai dengan kekeliruan hal ihwal “waktu” (KALA) yakni “kama salah tetes” menjadi KAMA BATHARA.Ketika Bathara kala dipukul dengan sarung Gada inten, maka berkeping-kepinglah dirinya menjadi “Kala-bang”/Terorisme, “Kala Menthel”/Hedonisme, “Kala”/Laso, jerat Hutang piutang, yang ternyata sampai kini malah makin merajalela.

Filsafat jawa sebagaimana yang tersirat berupa “tuntunan” dibalik Tontonan Wayang Purwa/dibalik wayang kulit memperlihatkan bahwa manusia jawa sungguh-sungguh menekuni Libido-Sexualis di balik kisah Ramayana, serta Libido-Maortalitas dibalik kisah Maha-Barata umumnya, Barat-Yuda khususnya. Kisah perangnya perang atau perang besar antara Kurawa dan pandhawa itu bukan lagi perang saudara, melainkan transformasi diri dari diri Ontoseno (“Air”) yang penuh keikhlasan transformasi diri dari Nar ke Nur/Wisanggeni, sementara Tirta sublimatif menjadi NIRTA.Hakikatnya ialah REVOLUSI SPIRITUAL, tanpa huru-hara apalagi berdarah-darah (Jacob, 2004). Itulah sebabnya maka pertunjukan wayang kulit/Purwa, diawali dan diakhiri dengan ditegakkannya Gunungan/kayon.Filsafat Kayon/Gunungan tadi bukan hanya sebagaimana namapak pada ungkapan SRI-GUNUNG serta SRI-TAMAN, Melainkan bahkan menggapai kejiwaan syukuran bagi para pemimpin sebagaimana yang dipergelarkan GUNUNGAN (kakung 7 putri), yang istilah resminya untuk memperlihatkan bahwa pemimpin itu yakni mereka yang berkelapangan itu syukurannya bergunung-gunung, ialah “Ancala”/gunung putra & ancala putri sehingga sistemnya memungkinkan laku “Mancala-putra &Mancala putri, dalam arti terbukanya kesempatan seluas-luasnya bagi angkatan muda untuk mendapatkan lapangan pekerjaan khususnya, aktualisasi diri pada umumnya.

Terhadap kritik yang mengatakan bahwa filsafat jawa itu serba lambat, sebagaimana nampak pada pedoman “Alon-alon waton klakon” yang dalam bahasa indonesianya ialah “Biar lambat asal selamat” sebagai sesuatu yang menghambat pembangunan , semuanya itu seharusnya “Empan-papan, kala-mangsa, lambe asti, duga prayaga, eguh-tangguh”. Itulah sisi Evolusionitisnya; padahal disisi lain Filsafat Jawa itu juga Revolusiner, sebagaimana nampak pada ungkapan TANGGAL SEPISAN KAPURNAMAN, yang berarti baru tanggal satu sudah terang bulan, sebagaimana juga pada perbuatan menenun : SENTEG PISAN ANIGASI, menggerakkan alat tenun sekali, begitu langsung memotong benang terakhir yang evolusionistis itu yang lahir/Rakyat sementara yang Revolusioner itu Batin/Jiwa/Pemimpin.

Filsafat Jawa diantara Filsafat Etnis lainnya

Bahwa dalam filsafat jawa terkandung bibit patriotisme dan Nasionalisme terbukti dari ungkapan “Samuduk bathuk sanyari Bumi”. Walaupun demikian Filsafat Jawa mengandung kelemahan yang nyata dalam hal pandangannya mengenai “uang”.Betapapun “saktinya” seorang jawa, namun tidak ada yang kebal menghadapi “peluru emas”.Bahwa terhadap tahapan kehidupan menurut ajaran Hindu & Budha, yakni KAMA, HARTA, DHARMA dan MOKSWA, orang Jawa bahkan menemukan personifikasinya, yakni “Kama” pada laku membongkar, Bung Karno, dalam hal “Harta” pada sosok Suharta, namunternyata disitu yang seharusnya “Hambeg Parama Ata, ternyata kesrimpet harta benda.Kini bersama-sama dengan suku bangsa lainnya manusia Indonesia menghadapi tahapan DHARMA sebelum Mokswa, menggapai kebebasan paripurna disisI Tuhan. Dharma itu identik dengan Dien, sedangkan kalau “Agama” yakni system “A” –tidak; “Gama”-kacau sebagai obyek –material, sedangkan ayat-ayat yang diwahyukan kepada para Rosul Alloh Swt sebagai obyek formalnya, demi kelanjutan karya Tuhan,”Membangun surga disisi-Nya”, dengan cara menjadikan Nusantara sebagai TAMAN SARI (NYA) DUNIA.Langkah bersamanya misalnya ialah “Parade Budaya Nusantara”. Dalam hal ekonomi misalnya bias dicontoh GEBU MINANG, “Gerakan Seribu (rupiah/ per bulan) demi ke-Minangkabauan”.Kalau saja225 juta Penduduk Indonesia, terutama muslimnya infaq shodaqoh seribu rupiah seperti warga minangkabau, maka setiap bulan akan terkumpul dana bersih Rp. 225 Milyar, sebagai “Air bersih” pencuci kereta Pusaka, lambing Negara setiap kali Karaton Ngayogyakarta “Njamasi” kereta kencana. Bahwa kenyataannya kini justru orang berebut air kotor bekas cucian “kereta”, oleh Sinuwun (alm) HB IX, yang demikian itu mengisyaratkan kekeliruan kita bersama yakni “berebut” uang pinjaman dari LN. Uang itu sama dengan “air kotor”/sisa bekas sedangkan “Air Bersih”-nya bias juga ilmu ekonomi global.

Bagaimana dengan Kalimantan, Borneo/Brunai/yang berarti Wurunai yakni “Ibu” atau Per-empu-an? Sudah selayaknya Borneo dipersiapkan sebagai ibu kota(Dunia), sebagaimana yang diproyeksikan Bung Karno, yakni Palangka-Raya sebagai ibu-kota (baru).Dalam hubungan ini, Sri Sultan HB X, menyatakan : “Meski dari factor historis cultural Yogyakarta dianggap memiliki keunggulan, tetapi setelah terbukti Yogyakarta adalah daerah rawan gempa, Yogya harus tahu diri dan menyisihkan percaturan nominasi” (noor, A., 2007).

Adapun mengenai saudara-saudara kita dari tanah Bugis khusunya, Sulawesi pada umumnya yang terkenal dengan semangat “bahari”-nya mengilhami Jerome Suzuki, sebagai Marco polo abad XX, untuk menjadikan nusantara sebagai pangkal tolak “kesadaran melaut”’ justru ketiak tokoh ini bermaksud keliling dunia, harus berhenti dan merenungkannya kembali, ketika ia melihat relief “kapal” Phenisi yang bertiang dua, sementara kapal layar manapun waktu itu baru bertiang satu.Demikianlah maka muncul spekulasi, “aneh” jangan-jangan istilah Venezia itu derivate dari kata Phenisi. Sungguh di dunia ini hanya kita orang-orang Indonesia yang dikaruniai manugerah tanpa tanding yakni TANAH -AIR, Sementara bangsa-bangsa lain hanyalah “tanah” melulu, baik sebagai “Moeder-land/motherland, ataupun “Father-land”. Masalahnya ialah janganlah kiranya kita terus menerus “mabuk daratan”, lupa lautan.

Sedangkan suku Asmat yang patung “burung”-nya berkembang menggapai langit/semesta, mengingatkan filsafat Jawa dibalik ungkapan “Krama-Inggil” ketika seorang sinuwun “sinewaka”/dalam arti menghadirkan “kesadaran kosmis”’ maka arah tuju pusat perhatian menyatukan “bukung-tukung/guna penthole” (mlebu plengking metu plengkung/tugu ana penthole”’ sebagai penjabaran tugu Linga-Yoni. Didalam kosmologi Jawa, dibalik nama-nama makanan, yakni buah surgawi, yang digapai melalu upacara pala karma, dengan tingkatan karma-andhap, karma madya serta karma inggil, emi laku SARIRA-SATUNGGAL (setubuh) sekaligus SARI-RASA- TUNGGAL (yang berarti senyawa)

Karakter Manusia Jawa

Prof.Dr. Soeharso yang dalam rangka Simposium Nasional th. 1970, di Universitas Gadjah Mada membawakan topic bahasan “Sekitar Wulang-wulang Kejawen, mengemukakan suatu karakter menonjol manusia Jawa dalam kaitannya dengan orang Cina serta Belanda, bahwa “Yen wong Jawa ilang kasutapane, padha karo Cina ilang petunge utawa landa ilang Budayane”.Bersama dengan laku “Tarak Brata”’ “Tapa Brtata” serta “Puja Brata”’ maka kualitas “Tapa” itu sangat mulia dimata orang Jawa, sebagaimana halnya menjadi salah satu syarat memperoleh guru, yakni manusia Utama, yang baik martabatnya”, syukur apabila bertemu dengan manusia ahli laku/tapa, “ingkang wus amungkul” (Wulang-Reh/Wedhatama).

Karakter atau Candra-Jiwa itu menurut Prof.Drs.Mr.Notonagoro adalah resultante akhir gaya tarik menarik unsure-unsur kepribadiannya. Yang ideal buat Manusia Indonesia umumnya, Jawa khususnya ialah karakter yang harmonis, “selaras-Srasi-seimbang”, tidak dalam konotasi amorph (ini bukan, itu bukan kalau demikian maka lalu bukan-bukan, sebab itupun bukan), melainkan keseimbangan suatu segitiga emas (nya) Plato, dimana garis tinggi (lambang cita-cita) adalah garis berat (lambing potensi) juga garis bagi modus operandi (lambing kemampuan membagi wkatu/ skala prioritas) sedemikian rupa sehingga lingkaran dalam konsentris dengan lingkaran luar.NING-RAT sejati, yang tidak sama dengan Feudalisme.Ning itu “outside-Looking-in: Rat itu “inside looking out”. Dengan demikian orientasinya justru transenden, “Raga-Suksma”/”nginang-suksma” sarira NIR.”Pamor”-nya amurba, warangka manjing Curiga”, sebagaimana lakon TUGU WASESA,.paska”Curiga manjing warangka”/lakon BIMA SUCI.Lakunya?Tarak Brata, bukannya “Nandhing sarira” antar Diri individual, melainkan ASTHA-BRATA, lakon perpindahan dari Ramayana/berintikan “Libido-sexualis”/mbabar, gelar “gumelar.MATI Jawa itu tidak sama dengan “mati”/maut bahasa Indonesia.Mati (Jawa) itu ber-akar kata ATI, kalau pasif ng-ATI ATI, kalau aktif M-ATI kelanjutan P-ATI yang berate JUMENENG, seperti kata Pangeran Pati, Pangeran yang nantinya Jumeneng AJI/Ratu.

Disinilah masalahnya, yakni “Wong Jawa Kari separo” keterpisahan atau keterbelahan antara URIP lan PATI.Kalau orang Jawa bermaksud menggunakan istilah “mati”/Ind. Itu istilahnya justru “layu”/lelayu, “laya”/pralaya, loyo (alm), antara ONKOWIJOYO dengan BIMANYU, satu sosok dengan 2 nama.Dalam kaitan ini visi Sinuwun HB IX, sangat menarik di sekitar upacara “Jamasan” kereta Pusaka.

“Yang seharusnya diperebutkan itu bukan air bekas cucian, melainkan air bersihnya yang tersisa. Bahwa Rakyat berebut air kotor, itu peringatan bahwa kita bereebut air kotor, yakni uang pinjaman LN., padahal seharusnya kita berebut ilmu ekonomi mereka/ilmu adaministrasi pengelolaan system keuangannya”.

Laku atau langkah berikutnya TAPA-BRATA, Tepa-Sarira, diperolehnya Kaca-Diri “KACA MAWA RASA”,Kacawirangi (Soedjonoredjo, 1937), sesuai dengan ungkapan Wong Jawa nggone RASA.Puncaknya ialah laku MAWAS DIRI, Mulat Sarira-Satunggal/Sari-Rasa-Tunggal, PUJA-BRATA.Pada tingkatan ini orang telah gentur tapane, “meninggalkan dunia” sebelum meninggal dunia, lulus Setya-Wacana, BER-BUDI, Bawa-Laksana, Anggung Binathara/Soca-Bathara, Lingga-Bathara, Sarira-Bathara.

Orang tidak lagi “mata-dhuwitan” atau “mata-keranjang”, melainkan matanya berkaca-kaca “Air-Mata” MATA-AIR surgawi /Soca-Bathara, berlinang “air mata” oleh “mata-air surgawi”’ sumber makrifat “Nglinang-Suksma sarira NIR” disetati dumelingnya Bisikan tanpa suara”/Wisikan Ananing Dzat: “Sejatine ora ana apa-apa” kajaba kang kandha.Sejatosipun boten wonten punapa-punapa; (kajawi KANG KAJAWI)

Karakter Pemimpin Jawa

Orang Jawa mengenal tingkatan sambat-sembut, sistem predikabilia, yakni : tingkat rendah/raksasa: “Jegang parcaka belah, Iblis laknat jeg-jeggan”, akibat dari retaknya “kaca-diri” penuh des-integrasi; tingkat madya: “Jagad Dewa Bathara, Ora jagad Pramudita”, dimana orang mengutamakan”keadilan komutatif; tingkat utama, “Iwang Suksma Adi-Luwih, Hong Buwana Langgeng”. Kalau tingkatan menengah/madya itu tingkatan Ksatriya, maka tingkatan utama itu adalah tingkatan Ksatriya-Pinandhita.

Ramayana karya Walmiki, yang berintikan ajaran Libido-Sexualis, dengan pemeran utamanya “Kera putih” yakni Anoman/lambang “Bibit unggul”, disamping Prabu Rama penjelmaan Wisnu, di pulau Jawa berkesinambungan dengan Maha-Barata karya agung pujangga Wiyasa mengenai Libido-Mortalitas, yakni ketika Begawan Kesawasidhi/penjelmaan Kresna mengajarkan laku Astha-Brata, kepada sang Arjuna.Belakangan anak Arjuna, yakni Ongkowijoyo harus diperkuat oleh Wahyu Widayat yang ada pada Bima, dengan cara Wara Subrada harus mandi di sungai Serayu (Sir-Rahayu), sehingga dengan demikian Ongkowijoyo itu juga bernama BIMANYU (putra sang Bima).

Religiusitas yang ada pada Prajnya-paramita/Roro Jonggrang yang mengundang Bandung Bodowoso untuk menyatu dengannya, asal ia bisa menyiapkan seribu candi semalam, dan yang ternyata gagal, mengatar hal-ihwal seribu ksatriya yang terkurung dalam sangka yakni Stupa Borobudur, mengilhami kita semua akan agenda : “Pencerahan seribu corona bulan”, yakni demi ruh yang makro-kosmis terhadap raga yang mikro-kosmis.Antara Raga dan Jiwa terbentang sekat “aling-aling”, isi kesadaran refleksi dari dunia fenomenal ini; mereka bersekutu dengannya disebut “maling”/”ndhaku aling-aling”; inilah pangkal korupsi.

Bahwa atas pertanyaan Sultan Demak, Sunan Kalijaga menerangkan perihal Ratu adil kaping telu, ternyata kini bukannya arti urutan pertama, kedua lalu ketiga, melainkan lebih sesuai apabila halnya difahami sebagai Ratu Adil adilnya Adil atau Adil tiga kelipatan, yakni adil komutatif, Adil Legal serta Adil Distributif.Teori keadilan bersegi tiga ajaran Aristoteles itu dalam pancasila dan karena pancasila memperoleh dua penguatan, yakni sila kedua serta sila Pertama, sementara Adil komutatif itu sila Ketiga, legal itu keempat sedangkan Sila kelima identik dengan adil secara distributif.

Kalau diingat bahwa goncangan kosmologis yang menyertai kedatangan islam itu terjadi pada th 1400 S, sebgaimana ungkpan “Sirna ilang kertaning bumi”, yakni 1400 S/1478 M, sedangkan (Sabdo-palon) sabda itu kata palon itu wilayah atau kandang, sementara selama itu ia “aling-alingan padhang dan akan menampakkan keseimbangan baru 5 abad kemudian, maka sangat menarik ungkapan Sunan kalijaga perihal masa datangnya Ratu Adil tiga kali lipat itu :

Ratu adil telu Dereng kelampahan mangkin

Taksih kirang gangsal jaman

Tetapira angidaki

Saking pangandika Nata

Nanging Jaman wuri-wuri

Ilang kaelokanipun

Karana sagunging Janmi

Amung mbujeng kalahiran

Tan wonten nedya martapi

Ngengungaken suka-suka

Ngengenaken sangga-runggi (Mangunwijoyo, M.Ng.,1917)

Kalau didasarkan pada “jangka-jangkah” demikian maka kejadiannya berkenaan dengan tahun 1478 + 500 = 1478 M, bertepatan dengan saat ketika R.I. memiliki GBHN disertai momentum penghayatan, baik mengenai pancasila umumnya ketuhanan khususnya. Hanya saja yang menonjol bukan “penghayatan”-nya, melainkan “project”-nya.Kalau saja sila ke-5 itu dibingkai oleh keadilan ilahiah tanpa batas, maka sila ke-4 seharusnya menemukan sosok yang “lagnyana suwung”, sehingga apapun akan menghasilkan kesamaan “Tak terhingga”.

Kepemimpinan jawa itu tersimpulkan dalam ajaran Ki Hajar Dewantara : “Ing ngarsa sung tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tut wuri Handayani”.Adapun yang menjadi tauladan utama Jawa tidak lain adalah Panembahan Senopati :

Nuladha laku utama

Tumraping wong tanah jawi

Wong agung ing Ngeksiganda

Panembahan senopati

Kapati amarsudi

Sudaning hawa lan napsu

Pinesu tapa brata

Tanapi ing siyang ratri

Amemangun karyenak tyasing sasama

Saben Mendra saking wisma

Lelana laladan sepi

Ngisep sepuhing sopana

Mrih pana pranweng kapti

Tis-Tising tyas marsudi

Mardawaneng budya tulus

Mesu reh kasudarman

Neng tepining jalanidhi

Sruhing brata kataman wahyu dyatmika

Demikian indah dan terkenalnya kutipan Serat Wedhatama, karya Kg M.N.IV., tetapi demikian pula tersebarnya salah kaprah berkenaan dengan mitos disekitar laku “KRAMA -INGGIL” antara P. Senopati dengan Kg Ratu Kidul, suatu peristiwa meditasi tingkat tinggi, bernuansa mistik, yang menjadi jelas manakala orang membahasnya berbekal misteri tentang “air” temuan Dr. Masaru Emoto ( ); halnya sesungguhnya identik dengan “tidur syahid”, yang dari sudut mistik dapat dijelaskan demikian :

The putting to sleep “normal

Self”wich usually wakes, and the awakening

That transcendental self “wich usually sleep” (Underhill, 1960)

“Mendra saking wisma” yang arti kesehariannya “keluar dari rumah”, di dalam konteks lakunya P.Senopati justru oncat dari Raga” atau Raga suksma (Soedjonorejo, 1937). Laku demikian itu berkembang terus sehingga pada pribadi sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo menjadi 16 term “monodualis, yakni :

Dat-Sifat Suara-Gema Rasa Pangrasa Lautan ikan Cipta Ripta Pradangga Gendhing Yang disembah Sastra Gendhing Yang menyembah Papan tulis tulisannya Kodrat iradat Manikmaya SH Guru Kadim baru Dhalang Wayang Yang bercermin Busur Anak panah Bayangannya Wisnu Kresna Laku “konspirasi” itu tidaklah partial, melainkan total sebagai kesatuan Inspirasi Religiusitas dan Aspirasi Kultural Universal sebagaimana tercermin pada nama Penguasa Tertingggi tatanan Jawa, yakni nama para sinuwun (yang diminta) dan/sinuhun (yang dijunjung tinggi) misalnya Amangku-Rat, Paku Buwana, Hamengku-Buwana, atau Paku-Alam serta Mangku-Negara, sebagai pengejawantahan dari filsafat NING-RAT, yang tidak Feudal, justru karena NING itu “Outside-looking-in”, sedangkan RAT itu “Inside-looking-out”.Ajaran Ning-rat itu kosmologis, sementara kalau Feudalisme itu penuh gaya perebutan kepemilikan atas tanah (feud/Feudum). Bagi orang kebanyakan serta laku keseharian, upaya menggapai momentum pencerahan itu adalah ANCER/PANCER kehidupan, sebagaimana tersirat dibalik ungkapan “Keblat Papat, Lima Pancer” serta “Sedulur Papat, lima pancer”, kakang kawah, Adhi Ari-ari”, bahkan “kakangne’ mBarep, Adhine Wuragil”, suatu hal yang seolah-olah mustahil. Bukankah anak tertua itu anak sulung, sedangkan yang termuda itu anak bungsu? Bagaimana yang tertua masih punya kakak, sementara yang termuda masih mempunyai adik ? soal demikian itu seperti mencari titik awal dan titik akhir dari perjalanan “waktu”. Yang lebih awal dari anak pertama adalah BYAR, sedangkan yang kemudian setelah si bungsu adalah SURUP/SUMURUP,sehingga Filsafat pencerahan Jawa terungkap dalam terminology SUMURUPA BYARE. Dalam kaitannya dengan tema Pencerahan itulah maka terkenal ucapan yang sangat menarik, sekaligus menghapus kritikan orang atas “ajaran” “Alon-alon waton klakon”, yang mengisyaratkan bahwa orang Jawa itu serba lamban, yakni ungkapan TANGGAL PISAN KAPURNAMAN, baru tanggal satu, ternyata telah bulan purnama .Filsafat Jawa tidak berhenti pada laku main-mata dengan “mata” hari, demi hari, demikian pula tidak terkurung oleh laku penjumlahan demi penjumlahan, sebab berapapun dan betapapun hasilnya tidak pernah akan mencapai kualitas infinitum, lambang ketak-terhinggan/Primordialitas ilahi, sehingga oleh karenanya laku Jawa terus menerus menambah kepekaan rasa sehingga didapatkanlah mata” hari-abadi, sekali-gua “matahari”-abadi, yang tidak lain ialah Sang Yang MANON, yang terus menerus “memata”, terus serta serba “melihat”.(Tansah ASON-TINON) Itulah laku “mulat sarira-satunggal”/’ sari-rasa-tunggal”, mengenal diri sendiri, tidak dalam “nandhing –sarira” seperti yang dimaksud oleh buku Nisa Jawa Silang Budaya (Denys Lombardt, 2000), melainkan justru fenomena “Sesungguhnya tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang berkata”tanpa kata”.Itulah laku Murwa Kandha” (sajatine ora ana apa-apa”, kajaba kang kandha”, sekaligusMurwa-Kala, meruwat “Kama salah tetes”. Mereka yang telah mencapai momentum pencerahan faham penuh atas ungkapan “Sri Gunung–Sri Taman”, gunung yang nampak indah dari jauh, ternyata tidak demikian ketika orang mendekatinya, sebaliknya Sri Taman, kalau orang mendekatinya, “taman” itu bukan hanya indah dari dekat, melainkan bahkan akan semerbak juga bau harum bunga kembang setaman.Kualifikasi Sri gunung itu juga berlaku bagi keindahan corona bulan , yang indah dari jauh sementara kalau didekati bahkan wajahnya kasar, bopeng, dan tanpa cahaya.Walaupun demikian karena jasa corona bulan juga maka terjadinya kembang corolla bunga di taman. Demikianlah maka al-Qur’an menggambarkan keindahan/kebenaran wahyu Alloh itu seperti terang 1000 cahaya corona bulan yang harumnya melebihi jangka waktu 1000 bulan skala waktu. Bagaimana serta siapakah yang menerima anugerah “pencerahan” seperti itu ? Diri yang tenang, Nafsu Muthmainnah (QS 89 : 27-30), yang mencapai kepekaan optimal sehingga mampu menangkap “perintah”Nya untuk mulih-PULIH, yang oleh Filsafat Proses atau Filsafat Organisme, yakni Filsafat Gotong-Royong Semesta disebut Apotheosisme (Whitehead, 1979).

Persinggungan Filsafat Jawa dalam Pembangunan

National Geographic Indonesia, terbitan terbaru, yakni Agustus 2008 menyatakan sesuatu yang sangat menarik perihal Indonesia, bahwa :

“Salah satu fakta terpenting tentang Indonesia adalah kenyataan bahwa Indonesia sangat ingin belajar” (halaman 33) (Bowie, B.M., 1955)

Demikianlah maka bagi manusia Jawa kisah yang tertuang pada dua karya besar pujangga India, yakni Ramayana, karangan Empu Walmiki serta Mahabharata karya Wiyasa, dipelajari dengan sangat mendalam. Bahwa Ramayana itu mengenai Libido-sexualis”, sementara Baratayudha sebagai bagian terpenting dari Maha-Bharata itu mengenai “Libido-mortalis”, dibuat makin “hidup” berkenaan dengan hal-hal berikut :

Anoman malumpat sampun

Prapteng Witing Naga-sari

Mulat mengandhap katingal

Wanodyayu kuru aking Gelung rusak wor lan kismo

Kang iga iga kaeksi

(Anoman yang lahirnya adalah kera putih, makna batinnya ternyata adalah sperma manusia, yang ketika bangkit tidak boleh “Kama salah-tetes”, melainkan bahkan Kama Bathara. Kama salah tetes itu berkenaan dengan lahirnya Bhatara Kala, lambang “Waktu yang merugi”.Sehingga upacara Ruwatan itu tidak cukup dengan “Caraka-Balik” atau dengan “memukulkan sarung Gada-Inten, melainkan dengan Reformasi Total Alfabet Jawa/dentawyanjana :

KAMA BATHARA

GADA SANYATA

NALA PADHANGA

JAWAHACAYA (Supadjar, D.,2007)

Demikianlah wasiat Sultan Agung dalam karyanya yang terkenal, yakni serat Sastra-Gendhing”/perihal “Kesatu-paduan” kesatuan visual dan auditif, dengan inti laku MAMASUH MALANING BUMI –MANGASAH MINGISING BUDI. Sri Sultan H.B. X, didalam karyanya, yakni SABDA, ketika menguraikan bab “Falsafah Kepemimpinan Jawa” menyebutkan 7 amanah yang termuat dalam serat Sastra-Gendhing tersebut, yakni :

1. Swadana Maharjeng-tursita (Seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian).

2. Bahni-bahna Amurbeng-jurit, (selalu berada didepan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran)

3. Rukti-setya Garba-rukmi, (bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa)

4. Sripandnyasih-Krami (bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas)

5. Galugana-Hasta (mengembangkan seni Sastra, seni-suara dan seni-tari guna mengisi peradapan bangsa)

6. Stiranggana-Gita (sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan umat manusia)

7. Smara-bhumi Adi Manggala (tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dariwaktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada) (Oka kusumayudha, 2003)

Filsafat Jawa dan Pencerahan

Inilah bagian yang paling menarik manakala orang berbicara tentang filsafat Jawa, dengan tetap mengingat bahwa Jawa itu tidak terbatas pada kesukuan, melainkan suatu system bulat laku-lakon, yakni sebagaimana ditekankan oleh Sinuhun P.B.IX, bahwa “Jawa” itu “Jiwa kang Kajawi”, atau menurut ungkapan dalam Serat Wedhatama :

Sapantuk wahyuning Allah

Gya dumilah mangolah ngelmu bangkit

Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning Jiwangga

Yen mangkono kena ingaran wong sepuh

Lire sepuh sepi hawa

Awns roroning atunggil (Soedjonoredjo, 1937)

(Siapapun yang kepekaannya cukup dan menangkap firman Tuhan, maka ia seperti obor penerang mengolah laku jumenengan, Bangkit secara konspiratif luluhnya raga oleh Jiwa.Kalau demikian maka ia termasuk orang sepuh (wutuh tangguh) karat kualitas kehidupannya, bebas dari gaya yang menyimpang, sebaliknya awas atas ajaran “Mono-dualisme” S.Agung.

Bagaimana halnya dengan “Pembangunan Kejiwaan” sesuai dengan prioritas lagu kebangsaan “Bangunlah jiwanya” mendahului “bangunlah badannya”? kisah perang Barata-Yuda” itu bukan lagi “perang saudara” melainkan berhubung dengan perang besar pada setiap diri, yakni Transformasi Diri dari Diri yang dibawah kendali “raga” (kurawa) menjadi diri yang sub-ordinatif terhadap jiwa (Pandhawa). Siapakah yang pertama kali menanyakan hal itu ? justru kekuatan muda, yakni Wisanggeni (baca : Wi-sanggeni/wis –anggeni) lambing sadar ke-api-an, serta Ontoseno, lambang sadar ke-lautan/kerakyatan. Ketika sang Hyang Wenang memberi tahu bahwa itu bergantung kepada dirinya, maka angkatan muda yang akan tampil, tidak lagi berada pada diri ke-api-an atau mencair melulu, melainkan harus transformasi dulu dari NAR ke NUR, sementara kondite NIRTA.

Tamsil Agung”Krama-Inggil” antara P. Senopati dengan Kg Ratu (kidul) hakikatnya adalah tauladan luluhnya kesadaran ke-api-an dengan ketidak sadaran ke-lautan, menjadi Sadar kosmis NUR, dhampar tajalli-Nya Allah sebagaimana proyeksi DHARMA-semesta/DIEN, seperti yang dimaksudkan oleh agenda berikutnya paska ketertiban semata (A-gama) (Surat Hud, ayat 7)

Agar Indonesia tidak “berjalan ditempat” berkenaan dengan agenda “pemindahan kekuasaan” (dari colonial ke nasional, dari orde lama ke Orde baru, dari orde baru ke Orde reformasi, serta dari pemilu ke pemilu berikutnya), maka Indonesia harus “menjemput bola” tidak berhenti pada bahasa “tongkat” nabi Musa, kalimullahg, a.s., melainkan menangkap BAHASA RUH, yang mbabar dari virgin Mariam, yakni mengikuti laku JIWA kang KAJAWI, “Pamoring Suksma murba raga, “Harangka manjing Curiga”/kukut/Racut (S.Agung, tt)

Keunikan Indonesia itu antara lain nampak pada istilah “Mata-Hari”, “Empu-Lsut”, disertai kata-kata “mata-pelajaran”, “mata-anggran”, “mata-pena”, “mata-Hati”, atau berhubung dengan kota “per-empu-an” berikut dominannya jiwa ke-ibu-an sebagaimana nampak pada kata “ibu-jari”, “Ibu-kota”, “nomor-induk”, “induk pasukan”, “Ibu-pawiyatan”. Hal yang demikian itu sehrusnya menyadakan semua fihak akan pentingnya Induk Pelajaran, disertai laku kosmologis di balik cara hidup NING-RAT, YAKNI TIDAK FEUDAL, JUSTRU KARENA NAMA AGUNG Ratu-yang sadar kosmid itu adalah Amangku-Rat, m-AKU Buwana, Hamengki-Buwana, m-Aku Alam, Mangku-Negara.

Dialog antara Kg Sunan Kalijaga dengan P. Senopati ketika meditasi di Bang-bang Lipura, bahwa sekedar kalenggahan Wahyu itu belum cukup, kecuali disertai dengan “kaki-tangan”, maka kiranya lahirnya PARIKESIT paska Brata-Yuda, terjadi tidak semata-mata berhenti pada sosok Ongko wijoyo/lambing keuangan, melainkan sisi yang lainnya yakni BIMA-NYU.Kita menjadi sadar bahwa Agri-Cultura yang investasinya lipat 70-an, kalah dengan kekayaan lautan kita yang tidak lagi memerlukan fase investasi, kalau saja Tekhnologi Kelautan kita sembada.dunia kini tidak berhenti pada Demokrasi, serta Tekhnokrasi, melainkan tengah menata Merito-krasi, system Labuh-Labet.

Daftar Literatur

Agung, S., Serat Pangracutan,”De Bliksem”, Solo

Bowie, B.M., 1955, “Sang raksasa Muda”, National Geographic, Indonesia 2008

Jacob. T. 2004., “Revolusi spiritual, tanpa huru-hara, tanpa bverdarah darah “, SKH KedaulatanRakyat, 15-11-2004

Kusumayudha, O.,2003, Sabda, Ungkapan Hati Seorang Raja (Sri Sultan Hamengku Buwono X), BP Kedaulatan Rakyat, YK

Lombard, D., 2000, Nusa Jawa : Silang Budaya, jilid 2, Gramedia Pustaka utama, Jkt

Mangunwijoyo.,M.Ng.,1917, serat lambing Projo, TKS, Kediri

Noor, A., 2007, Palangka Raya, Ibu Kota Indonesia Masa Depan, KNPI, kota Palangka Raya

Peursen, C.A.Van, 1988, Orientasi di Alam Filsafat, terjemahan Dick Martoko, Gramedia, Jkt

Sartre, J.P., 1943, L’etre et le Neant, Essai d’ontologique Phenomenologique, translated by Hazel E.Barnes, 1976, Being and Nothingness, An Essays on Phenomenological Ontology, Methuen & co, Ltd, London

Soedjonoredjo, R., 1937, Serat Wedhotomo Winardi, TKS, Kediri

Supadjar, D.,2007, wulang Wuruk Jawa, Pustaka Damar-Jati, YK

Underhill, E.,1960, Mysticism, Methuen & Co, Ltd, London

Wedyodiningrat.,dr KRT, R., 1952, Himpunan karangan, Jiwa-Baru, YK

Whitehead, A.N., 1979, Process and Reality, The Free Press, NY

Yasadipura, R.Ng., tt. Serat Dewa Ruci, KBK, Yogyakarta

(Artikel Liseum di pelatihan guru)

Oleh: Mawar | September 6, 2009

10 Tips Menguatkan Ikatan Pernikahan

Oleh Redbook

Kunci menjaga kebahagiaan pernikahan bukanlah asmara, tapi hal sederhana yang selalu Anda lakukan — atau jatuh cinta lagi dengan pasangan Anda. (Oleh Holly Corbett, REDBOOK)

1. Jangan pernah mengubah pasangan
Mungkin Anda berharap dia melipat kaus kakinya, atau ngobrol dengan teman Anda tanpa diminta. Namun, ketidakmampuannya merapikan rambut saat di toilet mungkin adalah kepribadian yang membuat Anda tertarik kepadanya untuk pertama kali.

”Salah satu hal menyenangkan yang bisa kita lihat dari pasangan bahagia adalah mereka saling mengerti perbedaan masing-masing, dan tidak mencoba mengubah kepribadian masing-masing,”  kata Darren Wilk, seorang Gottman Couples Therapist bersertifikat yang membuka praktik pribadi di Vancouver, Kanada.

“Daripada berusaha mengubah kepribadian pasangan, lebih baik fokus pada kelebihan masing-masing.”

Untuk lebih memahami kelebihan masing-masing, mungkin Anda dapat mengikuti kuis cepat tentang kepribadian pasangan Anda.

2. Ungkapkan sesuatu dengan baik

Apakah Anda ingin dia lebih sering mencuci pakaian atau lebih memperhatikan anak-anak? Pasangan Anda akan mengubah sikap mereka jika dia merasa nyaman. “Lakukan itu seperti Anda sedang memberi bantuan. Lakukan seperti ‘ini caranya yang bisa membuat aku bahagia,’ karena semua orang ingin membuat pasangan mereka bahagia,” kata Wilk.

“Ketika Anda mengungkapkan kebutuhan Anda, ungkapkan seperti Anda memang benar-benar menginginkan dan bukan sebaliknya.” Jangan mengatakan, “Saya benci ketika kamu harus melakukan semua hal dengan terjadwal,” cobalah mengatakan, “Aku akan senang jika menjalani hari secara spontan.”

3. Berikan apresiasi

Memberikan apresiasi kepada pasangan Anda itu penting, namun terkadang sejumlah pasangan sering lupa melakukannya. “Penelitian yang dilakukan pakar hubungan Gottman menunjukkan, dalam kehidupan sehari-hari, pasangan yang bahagia memiliki 20 momen positif, seperti saling memandang, memuji, atau memberikan sentuhan sayang,” kata Wilk.

Katakan hal positif kepadanya tiga kali sehari, dan spesifik. Jangan mengatakan, “Kau adalah ayah yang baik.” Berikan pula alasannya. “Kamu baik karena kamu membantu anak kita dengan menyelesaikan teka-teki itu, sedangkan aku tidak pernah sabar untuk melakukannya.”

4. Fokus pada hal-hal positif
“Pasangan yang tidak bahagia terjebak dalam pemikiran negatif,” kata Wilk. “Anda akan selalu menemukan apa yang Anda cari. Jika Anda mencari hal-hal yang mengganggu Anda dan kesalahan yang dilakukan pasangan, Anda akan menemukannya setiap hari. Jika Anda melihat hal benar yang dilakukan pasangan, Anda akan menemukannya setiap hari.” Ini adalah pilihan untuk pola pikir, jadi ketika Anda marah, bayangkanlah sesuatu tentang pasangan yang membuat Anda terkesan untuk menghilangkan pikiran negatif Anda.

5. Ingatlah kenangan manis

“Pasangan bahagia cenderung menulis ulang sejarah dengan  membicarakannya secara terus-menerus dan berfokus pada saat-saat bahagia,” kata Wilk. Dengan menghidupkan kembali kenangan dengan pasangan Anda, itu benar-benar mengubah pola pikir Anda, dan bagaimana cara Anda melihat dia dan berpikir tentang hubungan Anda.

Cobalah lakukan  ini setiap kali Anda merasa hubungan Anda membutuhkan dorongan: Ingatlah ketika Anda pertama kali berkencan, atau saat-saat terbaik dari hubungan Anda (seperti saat Anda melakukan piknik dadakan di taman ketika waktu makan siang, atau saat ulang tahun dia mengajak Anda untuk menggali kenangan masa lalu.

6. Jangan pernah menjadi musuh

“Kadang-kadang bukti suatu hubungan ada pada saat pasangan Anda membutuhkan, dan memberi dukungan tanpa perlu menyampaikan solusi,” kata Wilk. “Kita ingin seseorang mendengarkan keluhan kita.” Kuncinya adalah terus memberi dukungan, dan tidak pernah mengabaikannya, bahkan jika Anda mengetahui kenapa dia mengeluh.

Misalnya, jika dia marah karena bosnya menarik proyek dan memberikannya kepada orang lain di kantor, sekarang bukan saatnya untuk mengatakan, “Yah, mungkin kamu tidak berusaha dengan baik.” Saat seperti itu dia membutuhkan dukungan, dan ia ingin mendengar Anda berkata, “Itu pasti sangat sulit.”

Pasangan yang bahagia mengetahui kapan harus berhenti berbicara.

7. Terus jaga hubungan
Kepercayaan, keamanan, dan komitmen merupakan elemen kunci dalam setiap hubungan, namun memiliki pasangan tidak berarti Anda dapat memperlakukan hubungan Anda seperti batu, dan berhenti berusaha. “Hubungan adalah ekosistem yang rapuh, dan itulah mengapa tingkat perceraian bisa mencapai 50 persen,” kata Wilk. “Pasangan yang bahagia terus berpacaran, saling bercerita tentang kelebihan masing-masing, dan melakukan banyak hal bersama-sama.”

8. Lakukan bersama-sama
“Ini bukan hanya tentang kencan, namun pasangan yang bahagia tampaknya melakukan banyak hal duniawi bersama-sama,” kata Wilk. “Mereka memiliki kebiasaan kecil yang mereka putuskan untuk melakukannya bersama-sama, baik membayar tagihan bulanan atau melipat pakaian.”

9. Sadari saat pasangan Anda sedang butuh perhatian
Pasangan yang berbahagia menyadari tindakan kecil pasangannya yang sedang membutuhkan perhatian. Ketika tim Gottman mempelajari 120 pasangan yang baru menikah, mereka menemukan bahwa pasangan yang masih bertahan selama enam tahun berikutnya memperhatikan perubahan tersebut sebanyak 86 persen dari keseluruhan waktu mereka. Ini berbeda dengan 33 persen pasangan yang menyisihkan waktunya, mereka pada akhirnya bercerai.

Jadi cermatilah berbagai hal kecil dan berikan tanggapan terhadap keinginan pasangan Anda dalam berhubungan. Seperti jika Anda sedang berbelanja kebutuhan dapur dan dia dengan santai mengatakan bahwa dia tidak pernah makan Fruit Loops (makan sereal) sejak kecil, maka belilah makanan itu dan tunjukkan padanya bahwa Anda peduli.

10. Lakukan hal-hal kecil bersama

“Untuk membuat hubungan menjadi menyenangkan, Anda tidak dapat hanya melakukan berbagai hal besar seperti, ‘Saya tidak minum minuman keras, saya membayar tagihan, saya tidak memukulmu, kita pergi ke Hawaii tahun lalu’,” kata Wilk. “Hal semacam itu tidak akan membuat hubungan pasangan menjadi bahagia dalam keseharian mereka.”

Yang terpenting adalah hal kecil yang ditambahkan, seperti selalu bersama ketika salah satu di antaranya ingin mengungkapkan sesuatu atau mengetahui bahwa dia memebutuhkan pelukan, atau membuatkan makanan favoritnya karena Anda peduli. “Ini juga mendukung gagasan bahwa Anda harus merasa jatuh cinta sepanjang waktu. Pernikahan adalah mengenai kepercayaan dan komitmen serta saling memahami satu sama lain,” kata Wilk. “Itulah cinta yang sebenarnya.”

http://id.she.yahoo.com/10-tips-menguatkan-ikatan-pernikahan.html diakses

tgl 23-10-2012 jam 20.00

Oleh: Mawar | September 6, 2009

Memilih Calon Suami: Pakai Logika Atau Hati?

Tanya:
Saya sedang bingung memilih pria mana yang lebih cocok dijadikan suami. Saya sangat mencintai pacar saya, tapi kami berdua punya sifat dan cara berpikir yang bertolak belakang. Banyak juga sifatnya yang tidak saya suka, terutama sifatnya yang egois dan hidupnya yang semaunya sendiri, tidak tertata. Saya ragu dia bisa jadi pemimpin rumah tangga yang baik.

Sementara ada satu pria lagi yang mengajak saya menikah. Dia orangnya mapan, agamanya baik, pola pikirnya nyambung dengan saya, anaknya dewasa dan bertanggung jawab, tapi saya tidak ada perasaan apa-apa dengan dia. Hanya suka sebatas teman. Yang mana yang harus saya pilih? Haruskah mengikuti hati tapi otak melawan, atau mengikuti logika tapi hati tak merasa?

Leny, 26 tahun

Jawab:

Hai Leny,

Memutuskan menikah janganlah pada saat jatuh cinta, tapi pada saat sedang cinta. Bedanya ada pada penggunaan logika.

Pada saat jatuh cinta (biasanya dalam 6 bulan pertama pacaran) logika seperti lumpuh, segala sesuatu terlihat indah, bahkan berbagai kekurangan pasangan malah terlihat lucu dan menggemaskan. Setelah masa itu selesai, cinta yang ada mulai bisa diajak bicara dengan logika, sehingga penilaian akan sebuah hubungan bisa lebih rasional. Barulah niatan untuk memutuskan sebuah pernikahan bisa diambil dengan segala pertimbangan.

Agak unik saya membaca penilaian Leny terhadap pacar. Punya sifat dan cara berpikir bertolak belakang, banyak sifat yang tidak disuka, dan ragu dia bisa jadi pemimpin rumah tangga. Kira-kira apa yang dimilikinya sampai Leny bisa sangat cinta dan ingin menikah dengannya ya? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan logika dalam hati yang tenang penuh cinta. Bukan hanya cinta pada sang pacar, tapi juga cinta pada diri sendiri, keluarga, dan masa depan yang akan dihabiskan bersamanya.

Di sisi lain ada pria yang mapan, beragama baik, nyambung pikirannya, dewasa, dan bertanggung jawab. Pertanyaan saya sama, apa yang membuat Leny tidak ada rasa dengannya ya? Apapun jawabannya, pernikahan memang tidak seharusnya dipaksakan.

Karena pernikahan tanpa cinta akan membuat hati tersiksa dalam kebersamaan yang tidak diinginkan.

Siapapun yang akan Leny pilih (walau mungkin bukan keduanya), janganlah terburu-buru. Biarkan cinta bicara dengan logika. Tidak seseru saat jatuh cinta memang.

Tapi dalam hidup terkadang tidak seru itu perlu.

Terima kasih sudah berbagi,
Stay In Love
http://id.she.yahoo.com/memilih-calon-suami-pakai-logika-atau-hati.html diakses tgl 23-10-2012 jam 20.00 wib

Oleh: Mawar | September 6, 2009

Pelajari Dulu Hal Ini Sebelum Menikah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jika Anda berpikir untuk menikah dengan seseorang, mungkin ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan apakah dia benar-benar bersedia menikah dengan Anda.

Mau tahu hal apa sajakah itu? Coba simak apa yang perlu Anda ketahui:

1. Ekstra membantu
Jika ia tiba-tiba berminat untuk membantu Anda melakukan hal-hal kecil seperti mencuci piring, membereskan pakaian atau tempat tidur, itu mungkin caranya mencoba membuktikan bahwa ia calon suami atau istri yang baik. Ia ingin Anda menyadari kemampuannya dalam hal domestik.

2. Berbicara tentang kemampuan diri
Tiap pasangan pastinya akan sering menunjukkan kemampuan mereka ketika hendak meminang atau dipinang kekasihnya. Psikolog sekaligus penulis buku Crazy Good Sex, Les Parrot, PhD mengatakan kebanyakan pria ingin merasa mampu dihadapan pasangannya walaupun terkadang harus membual sedikit.

3. Berlaku seperti pertama kali kencan
Ingatlah tingkahnya beberapa minggu terakhir. Jika ia berlaku seperti waktu pertama kali kencan dengan Anda itu bisa menjadi pertanda dia benar-benar gembira telah meminta Anda menikah dengannya. Penulis buku ‘Why Hasn’t He Proposed?’ Tamsen Fadal berpendapat itu cara seseorang memastikan bahwa bila saatnya tiba pasangannya akan menjawab ‘Ya’.

4. Sering bertanya
Parrot mengatakan ketika ingin menikahi seseorang, pasangannya akan lebih sering bertanya sampai ke hal kecil sekalipun seperti masa kanak-kanaknya, hal-hal favoritnya dan sebagainya. Itu karena ia ingin mengetahui lebih dalam soal Anda dan menjadi pribadi yang lebih atau bermakna bagi pasangannya.

5. Lebih mendetail
Menuju hari besar, setiap pasangan akan bersikap lebih mendetail. Perasaan cemas ini muncul karena ia gugup menanti hari itu muncul.

http://id.she.yahoo.com/pelajari-dulu-hal-ini-sebelum-menikah-diakses tgl 23-10-2012 jam 21.00 wib

Oleh: Mawar | September 6, 2009

Tanda-Tanda Belum Siap Menikah

Ketika semua teman Anda mulai menikah, selain merasa turut berbahagia untuk pasangan tersebut, akan mudah bagi Anda untuk merasa iri. Jika pasangan Anda belum juga melamar, godaan tersebut akan menyebabkan timbulnya masalah.

Tetapi meletakkan masalah ke tangan Anda sendiri adalah hal berbahaya. Tidak ada gunanya menikah jika pasangan Anda tidak siap atau hubungan yang Anda bina itu tidak baik. Untuk membantu menghindari masalah perkawinan, berikut adalah 10 tanda Anda terlalu terburu-buru memutuskan menikah.

Anda membanding-bandingkan diri dengan pasangan lain
Ketika pasangan lain yang belum terlalu lama menjalin hubungan memutuskan untuk menikah, hal ini dapat membuat Anda merasa untuk perlu cepat-cepat menikah juga. Perbandingan semacam itu tidak berarti Anda harus terburu-buru menikah. Ingat, menikah bukanlah perlombaan. Ujian sebenarnya dari sebuah hubungan adalah bukan seberapa cepat orang menikah tapi berapa lama mereka dapat mengarungi bahtera rumah tangga setelah itu.

Menghindari berbicara tentang masa depan
Jika pasangan Anda mengelak tentang masalah pernikahan, terus menekannya tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Ia mungkin akan enggan melakukannya sama sekali jika Anda menekannya. Mengubah subjek pembicaraan, membelokkan pertanyaan dan kurangnya antusiasme adalah tanda-tanda seseorang yang didorong terlalu jauh dan terlalu cepat untuk menikah.

Pernikahan tidak praktis
Tidak hanya pernikahan yang membutuhkan biaya, cincin pertunangan juga. Tidak ada gunanya memberikan cincin pertunangan jika Anda dan pasangan Anda mengalami masalah keuangan. Menekan mereka untuk berlutut melamar Anda hanya akan menghasilkan stres dan ketegangan. Tunggu sampai Anda benar-benar siap untuk menikah sebelum berbicara tentang lonceng pernikahan.

Anda lebih ingin upacara pernikahan daripada hubungan pernikahan itu sendiri
Menikah, tidak diragukan lagi memang menyenangkan: Anda terlihat menakjubkan, Anda menjadi pusat perhatian, Anda akan mendapatkan pujian dan hadiah. Tapi ingatlah pernikahan adalah untuk seumur hidup Anda, bukan hanya sehari. Jika Anda lebih menyukai upacara pernikahan daripada hubungan itu sendiri, maka Anda jelas tidak siap untuk menikah.

Anda terlalu tergila-gila merencanakan pernikahan
Apakah Anda merasa sulit untuk tidak memikirkan pernikahan Anda, meskipun tidak pernah ditanyai tentang masalah pernikahan? Jika pikiran Anda terus melayang merencanakan tentang berat tubuh ideal yang harus Anda capai saat menikah nanti maka Anda perlu mengambil napas dalam-dalam dan mencari hobi yang baru.

Anda menyalurkan keinginan orang lain
Menekan kekasih Anda untuk segera menikahi Anda saja sudah cukup buruk, namun membujuk mereka berjalan menyusuri altar hanya demi menyenangkan orang lain itu jauh lebih buruk. Ingat ini bukan masalah soal ibu, nenek, sahabat atau tetangga sebelah Anda yang menganggap sudah saatnya Anda untuk menikah. Perasaan Anda dan pasangan Anda yang lebih penting.

Anda belum pernah mendiskusikan pertanyaan besar tentang pernikahan
Jika Anda membangun kehidupan dengan seseorang, Anda hanya dapat berhasil melakukannya jika Anda memiliki tujuan yang sama. Jika Anda menikah namun baru mengetahui bahwa pasangan Anda tidak setuju pada suatu pemikiran Anda yang mendasar bisa menjadi bencana dalam kehidupan pernikahan. Jika Anda belum membahas isu-isu besar seperti anak-anak dan di mana Anda akan tinggal, maka jelas terlalu dini untuk memutuskan menikah.

Pernikahan bukanlah prioritas
Jika pasangan Anda belum siap menikah, itu tidak selalu berarti kegagalan total. Mungkin ada alasan yang baik untuk menunggu, mungkin mengejar karier terlebih dahulu adalah ide yang lebih baik. Jika keadaannya seperti itu, bersiaplah membicarakan hal itu, menciptakan dasar yang kokoh untuk kehidupan pernikahan bukanlah ide yang buruk dan mungkin akan menggambarkan seberapa serius pasangan Anda ingin menjalin pernikahan dengan Anda.

Anda memaksakan masalah
Fakta Anda mencoba untuk menjadi penanggungjawab penuh pernikahan adalah sama sekali bukan pertanda baik. Hubungan yang terbaik dan paling sukses adalah hubungan yang memerlukan sedikit usaha. Ini mungkin klise tapi benar adanya. Tekanan apapun pada pasangan Anda mungkin terlalu berat. Jika itu memang sudah takdirnya terjadi, maka itu akan terjadi.

Anda tidak harus menikah

Hubungan modern menawarkan kebebasan yang jauh lebih banyak daripada di masa lalu, ketika pernikahan adalah suatu keharusan untuk hidup bersama. Sekarang ini mungkin ada tuntutan lain daripada hal tersebut untuk menjalin hubungan jangka panjang. Tanyakan pada diri Anda apakah Anda benar-benar harus menikah. Apakah pernikahan akan memperkuat hubungan Anda atau itu hanya akan menyebabkan stres dan beban? Jika jawabannya adalah yang terakhir, mungkin Anda harus mempertimbangkan untuk tidak menikah, setidaknya untuk saat ini.

http://id.she.yahoo.com/tanda-tanda-belum-siap-menikah.html diakses tgl 23-10-2012 jam 20.00

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.