POTENSI MANIPULASI DALAM PROSES SERTIFIKASI GURU

Dalam diskusi terbuka potensi manipulasi dalam proses sertifikasi guru dibalai Kunti gedung Wanitatama Jl. Solo Yogyakarta, Prof. DR. Rahmat Wahab, mengemukakan ada beberapa perilaku yang berpotensi untuk terjadinya manipulasi dalam proses sertifikasi guru yaitu; Pertama, adanya kesengajaan atau ketidaksengajaan pemalsuan ijazah , sertifikat, Diklat, Makalah, dan termasuk penerbitan surat-surat penting. Kedua SK pengangkatan tugas mengajar, Ketiga Longgarnya pengawasan pada level Sekolah dan Dinas, Keempat Kurangteliti assessor dalam proses penilaian, Kelima Proses portopolio yang terlalu longgar. Juga apa sanksi apabila ada guru yang ketahuan manipulasi untuk sertifikasi ? apakah dia tetap lolos ? Dan terhadap Portopolio cukup dicoret apabila tidak sesuai, kecuali apabila itu pemalsuan ijazah. Kenapa dinas meloloskan , padahal bisa diketahui misalnya ada guru, baru dua tahun dia lulus SI/ D4 kok sudah sertifikasi ini pasti ada sesuatu ?

Dan yang harus dihindari, pertama Pemalsuan Ijazah, sertifikat dan plagiat karya ilmiah. Dan apabila ditemukan demikian peserta tersebut harus dikeluarkan dari daftar sertifikasi dan dia tidak diusulkan lagi selama 2 tahun. Dan yang perlu mendapat perhatian guru-guru didaerah terpencil.

Adapun Timbul contoh seorang guru yang sudah lulus sertifikasi, kembali mengingatkan tentang UU guru dan Dosen, dan Permen no 12 tahun 2007. Dan menurutnya guru jangan melakukan manipulasi cukup menyusun dan mengumpulkan apa yang telah dia miliki.

Prof Johar selaku dewan pendidikan kabupaten Sleman mengingatkan bahwa peningkatan kesejahteraan guru belum tentu meningkatkan mutu, dan mengutip pernyatan Bung Hatta, korupsi adalah budaya bangsa kita, sehingga tepat bila ajaran agama menyuruh sholat karena untuk mensinkronkan antara ucapan, pikiran, hati, dan tindakan dengan 5 kali dalam sehari.Supaya jangan sampai container hati penuh dengan bisikan syetan.

Demikian juga dengan Widi SH dari lembaga ombudsman Swasta DIY yang menyatakan Sertifikasi ternyata sistemnya bisa ciptakan niat bagi guru untuk melakukan manipulasi. Sebagaimana telah dipahami bahwa kejahatan bisa tercipta karena adanya niat dan kesempatan. Apalagi guru selalu jadi obyek regulasi.

Beberapa penanggap seperti Nurrahman kepala SMK I bantul yang kebetulan tidak lolos sertifikasi karena pada saat uji sertifikasi nggak hadir karena ada keluarga yang operasi di rumah sakit, juga mengeluhkan tentang kreteria penilaian lolos atau tidak lolosnya guru dalam proses sertifikasi, ternyata dirinya tidak lolos karena nilainya hanya 789 padahal masa kerjanya sebagai guru sudah 28 tahun, demikian juga penanggap dari guru SMA kolombo yang kebetulan pengurus MGMP ekonomi propinsi DIY, yang menyatakan seharusnya kalau mau meningkatkan kualitas guru jangan pakai portopolio, demikian juga dengan Pardiyanti seorang penilik pendidikan.

Menjawab beberapa tanggapan tersebut Rahmat wahab menjelaskan bahwa maksud dari Sertifikasi guru sebenarnya untuk memperjelas kerja guru sebagai profesi, seperti juga yang telah dilakukan oleh profesi akuntan maupun Notaris sudah jelas sebagai profesi. Dan kalau ada yang menemukan adanya manipulasi tunjukkan, guru diharapkan menjadi professional sebagaimana profesi akuntan atau notaries, dokter. Dan awal dari penyimpangan ada pada ijazah. Dan amanah diperlukan dalam proses sertifikasi, baik pengawas, Kepala sekolah. Kepala sekolah punya tanggung jawab untuk mengendalikan guru dibawahnya, juga perlunya diberi waktu pelonggaran untuk komplain. Prof Joharpun menambahkan perlu dibentuk lembaga profesi guru. Demikian pula widi SH juga menyatakan bahwa komplain harus bisa ke sekolah ke Dinas maupun ke Assesor.(Udin)

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s