BUPATI LANTIK PEJABAT ESELON

Wates,
Ternyata komitmen Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menghargai peran perempuan dilingkup pemerintahan sangat tinggi. Hal ini terlihat dijajaran instansi pucuk pimpinan dipercayakan kaum perempuan makin lama makin bertambah. Dalam momentum bulan April yang merupakan kelahiran sosok pejuang emansipasi wanita RA Kartini, dimanfaatkan Bupati Kulonprogo dengan menambah lagi jumlah pejabat perempuan menempatkan camat wanita. Jabatan Camat Pengasih yang kosong karena Drs.Djemakir pensiun, diisi sosok perempuan yang sebelumnya menjabat Kepala Kantor Arsip Daerah, Dra.Sri Harmintarti,MM. Sehingga dari 12 camat, tiga camat dijabat perempuan yakni camat Panjatan, Ir.Aspiyah,MSi, camat Kokap Dra.Sri Utami,M.Hum dan Dra.Sri Harmintarti,MM.
Pengambilan sumpah dan pelantikan dilakukan Bupati H.Toyo Santoso Dipo di Gedung Kaca, Pemkab Sabtu (12/4). Dalam pelantikan tersebut muncul wajah baru dilingkup pemkab, Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan Investigasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Yogyakarta, Suta’at,Ak sebagai Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Sementara pejabat sebelumnya Budi Wibowo,SH,MM digeser sebagai Kepala BAPPEDA, dan selanjutnya Drs.Darto,MM menempati pos baru sebagai Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan (Perindagkoptam) yang beberapa lama telah kosong sejak Ir.H.Subito pensiun.
Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo berharap perubahan posisi pejabat struktural dapat membawa spirit baru menuju suatu perubahan yang lebih baik bagi pemerintahan dan untuk berusaha sekuat tenaga dalam mensukseskan Kulon Progo Go International yang endingnya adalah demi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang didalamnya termasuk perluasan kesempatan kerja ,mengentaskan masyarakat Kulon Progo dari belenggu kemiskinan, dengan menjalankan program pembangunan daerah yang partisipatif, rasional, efektif dan efisien.
“Menciptakan kondisi lingkungan kerja yang baik dan manajemen by objecktiv di masing-masing instansinya. Sebagai seorang manager hendaknya mampu menangkap peluang, memahami kondisi lingkungan kerja, bekerjasama dan menjalin komunikasi yang baik antar sesama pejabat maupun dengan stafnya. Sebagai pejabat pula diharapkan dapat bersikap bijak dan perlu memahami akan arti pentingnya sikap keteladanan seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi stafnya,”katanya.
Ditambahkan,sebagai pemimpin tidak ada salahnya jika saudara melihat kembali kearifan lokal budaya leluhur agar didalam kerja kita lebih termotivasi. Pertama, ” Dadi pemimpin mono kudu wani ndadani, wani nggetih lan wani mati.” Wani ndadani artinya berani menanggung beban tugas dan tanggung jawab serta konsekuensi logis dari jabatan yang diembannya. Wani nggetih artinya berani berkorban. Wani mati artinya berani mengambil keputusan sekalipun hal itu bersifat mengandung resiko yang kadang relatif agak nyrempet bahaya, jika yakin keputusan itu dipandang yang terbaik bagi kesejahteraan masyarakat.
Kedua, Pemimpin mono kudu duwe watak Bhairawa anoraga, yang artinya perkasa di luar dan lembut didalam. Hal ini dikandung makna bahwa pemimpin itu haruslah dapat menjaga citra sebagai orang yang tidak lemah dan tidak mudah putus asa serta dapat menempatkan diri dalam setiap penampilannya agar aura kewibawaannya terjaga dengan baik akan tetapi haruslah pula mempunyai kelembutan hati laksana seorang bapak didalam membina, mengarahkan dan memberdayakan anak-anaknya atau stafnya.
Ketiga, Pemimpim mono ojo nganti dhuweni laku sing sinebut esuk tempe sore dele. Artinya pemimpin haruslah mempunyai konsistensi dalam bersikap maupun bertindak, glethek pethele pemimpin mono ojo nganti mencla mencle. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah berhati-hati dan dipikir yang matang sebelum melangkah ataupun bertindak.
Keempat, Trape trapsila dadya pusakane pasrawungan. Trape urip ben bisa tepaslira. Artinya tata susila pergaulan dijaga teguh di masyarakat dan senantiasa dapat membawa diri untuk dapat tepa slira dan dapat menempatkan diri ( isa mapanke awak ) secara pas dalam hidup bermasyarakat.
Kelima, Lingga bawana tata, tuhu tulusing jaman. Artinya kalau hidup manusia itu baik dan menebarkan keharuman nama serta menjalani hidup secara teratur maka bakal tercatat dalam sejarah panjang generasi mendatang. Pepatah mengatakan harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading.

(Humas/Dwi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s