Data warga bermasalah Dinsos DIY

Wates,
Beberapa pejabat di Pemkab Kulonprogo mengaku terkejut ketika membaca data warga yang bermasalah di Kulonprogo yang dibuat Dinas Sosial DIY. Terutama data anak jalanan Kulonprogo yang ternyata jauh lebih tinggi dibanding Kota Jogja, dalam data tersebut.
Pemprov DIY melalui Dinas Sosial telah melakukan pendataan terakhir secara lengkap, dari nama dan alamatnya. Dalam data terserbut menunjukkan jumlah warga yang bermasalah di setiap kabupaten / kota.
Untuk Kulonprogo warga bermasalah sosial ini terdapat balita terlantar 1.778, anak terlantar 8.492, anak jalanan 248, gelandangan 99, pengemis 88 dan WTS 21 orang.
Mengomentari data tersebut Kepala Dinas Dukcapilkabermas Drs Sarjono yang menangani masalah sosial mengaku heran juga dengan data tersebut. Ia mempertanyakan kriteria yang diterapkan di Kulonprogo dengan kota Jogja apakah sama apa tidak.
“Misalnya saja untuk anak jalanan. Menurut hemat saya, di Kulonprogo tempat untuk mangkal anak jalanan di Kulonprogo jauh lebih sedikit dibanding dengan kota Jogja. Secara visual juga nampak menonjol mana anak jalanan di Kota Jogja dengan yang ada di Kulonprogo” kata Drs Sarjono
Sarjono mengakui kalau masalah pengangguran di Kulonprogo cukup banyak. Namun apakah anak yang menganggur juga bisa disebut anak jalanan; ini yang perlu diklarifikasi.
Terpisah Ketua DPRD Kulonprogo Drs H Kasdiyono juga mengaku kaget dengan data yang disajikan oleh Dinas Sosial DIY tersebut. Ia mempertanyakan metode pendataannya, dan kapan dilakukannya.
“Ini saya kira perlu diklarifikasi. Kalau data tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh yang mendata ini mungkin tidak perlu dirisaukan di Kulonprogo. Namun kalau baru sebatas membuat data, perlu klarifikasi agar datanya lebih akurat” katanya tegas terhadap para wartawan di Gedung Kaca Pemkab Selasa (11/3).
Dikatakanya, data seperti itu dapat menjadi data base yang digunakan untuk menyusun perencanaan pembangunan di suatu daerah. Kekeliruan data akan berakibat perencanaan program pembangunan yang disusun menjadi tidak tepat, dan tentu saja pelaksanaan pembangunan menjadi tidak efektif.
“ Saya pernah menyoroti masalah seperti itu, yaitu ketika disebutkan data anak usia sekolah SD yang tidak sekolah di Kulonprogo tinggi. Ternyata setelah diteliti kenyataan sebenarnya tidak seperti itu” kata Kasdiyono.

(udin/Dwi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s