Bagelen

Bagelen dengan sejarahnya yang panjang

Nama Bagelen, muncul dalam sejarah nasional sejak adanya Perjanjian Giyanti 13 Februari 1775, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti tersebut terjadi akibat dari perang saudara antara Susuhunan Paku Buwono III dengan Pangeran Mangkubumi atau Pangeran Sambernyowo yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Baik oleh Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta afdeling (wilayah) Bagelen tidak masuk dalam “wilayah negara”. Oleh sebab itu, afdeling tersebut dinamakan Mancanegara Kilen (sebab letaknya disebelah barat negara). Dalam perjanjian giyanti juga disebutkan Bagelen yang sebelumnya menjadi wilayah “negara agung” kerajaan Mataram juga dibagi menjadi dua bagian. Sebagian masuk wilayah Kasunanan Surakarta dan sebagian masuk wilayah Kasultanan Yogyakarta. Arti negara agung adalah sebuah wilayah yang banyak berisi tanah jabatan atau tanah lungguh atau tanah bengkok milik para pejabat kerajaan dan pangeran.

Seorang Belanda bernama A. Van Poel mengatakan nama Bagelen berasal dari istilah kethol Bagelen, yaitu priyayi atau bangsawan setempat yang ada di tanah Bagelen. Menurutnya Bagelen berasal dari nama orang. Pendapat tersebut berdasarkan cerita dan data yang dikumpulkan dari para kethol Bagelen. Dari cerita para kethol Bagelen dahulu ada wanita bernama Roro Rengganis yang mempunyai keahlian menenun. Setelah dewasa Roro Rengganis yang masih merupakan ketirunan raja dipersunting oleh Joko Awu-awu Langit yang berasal dari Gunung kelir. Dan setelah menikah kemudian menjadi Adipati dan bergelar Cokropermono.

Sementara ada dua versi yang menyebutkan asal-usul Joko Awu-awu Langit yang pertama disebutkan berasal dari Gunung Kelir dan dari Ambar Ketawang. Gunung Kelir merupakan kawasan pegunungan yang sangat tinggi menjulang seperti mau merapat ke langit. Versi kedua berasal dari daerah pantai yang ujung daerah tersebut mirip merapat ke langit. Sehingga disimpulkan oleh versi kedua kalau Joko Awu-awu Langit berasal dari Ambar Ketawang. Karena Awu-awu Langit artinya memang sama dengan Ambar Ketawang. Namun A. Van Poel berkeyakinan Joko Awu-awu Lngit berasal dari Gunung Kelir. Dari hasil perkimpoian antara keduanya dikarunia tiga orang anak, yaitu; Roro Taker, Roro Pitrah dan Bagus Gentho.

Pada hari selasa wage kebetulan Joko Awu-awu Langit sibuk menumpuk padi di lumbung. Sedangkan istrinya sebuk menenun, datanglah seekor anak sapi dari arah belakang yang dikiranya anaknya Bagus Gentho yang minta minum. Kemudian Roro Rengganis menyusuinya dengan cara menyampirkan payudranya ke belakang, sebab kopek. Melihat hal tersebut Joko Awu-awu Langit menegur istrinya sambil tertawa. Mendapat teguran itu Roro Rengganis merasa terhina dan marah terhadap suaminya. Akhirnya keduanya bertengkar, apalagi ketika mencari kedua anaknya yaitu Roro Taker dan Roro Pitrah. Disemua tempat tak juga diketemukan, dan akhirnya mereka diketemukan berada di bawah tumpukan jerami yang ditumpuk oleh ayahnya sendiri. Atas kejadian tersebut Roro Rengganis makin marah dan kemudian mengusir suaminya.
Joko Awu-awu Langit kemudian pergi dari rumah dan membawa anaknya yang masih hidup yakni Bagus Gentho. Sepeninggal suaminya kemudian Roro Rengganis mengalami duka yang dalam, hatinya sangat pegal (jawa-pegel). Dalam keadaan duka itu kemudian beliau pergi bertapa ke arah barat dan tidak pernah kembali. Menurut para kethol Bagelen Roro Rengganis kemudian melakukan tapa brata, dan karena kesungguhan dalan bertapa kemudian beliau bisa muksa (hilang) bersama raganya.

Dengan terjadinya peristiwa dalam keluarga Adipati Cokropermono pada hari selasa wage hingga kini dianggap sebagai hari naas bagi orang Bagelen. Sedang desa tempat tinggal Roro Rengganis karena hatinya pegal sejak mengalami kehancuran keluarganya akhirnya diberi nama “Kapegelan” yang berasal dari kata “Pegel”. Dari nama kapegelan tersebut akhirnya berubah menjadi Bagelen. Demikian juga Roro Rengganis yang sering disebut Roro Wetan disebut juga Nyai Kapegelan atau Nyai Bagelen.

zeth is offline QUOTE
  #2
Kalau kita tarik garis mundur, ternyata Bagelen mempunyai sejarah yang panjang berhubungan dengan kerajaan Mataram Kuno.
Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindumaupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.

Pusat kerajaan Medang

Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

Sesungguhnya, pusat Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,

 Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
 Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
 Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
 Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
 Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
 Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
 Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)

Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.

Awal berdirinya kerajaan

Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya.

Dinasti yang berkuasa

Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.

Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada nama raja pertama Medang, yaitu Sanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa. Menurut teori van Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan atas Medang direbut oleh Wangsa Sailendra yang beragama BuddhaMahayana.
Mulai saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra. Berkat perkimpoian itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan istananya ke Mamrati. Peristiwa tersebut dianggap sebagai awal kebangkitan kembali Wangsa Sanjaya.

Menurut teori Bosch, nama raja-raja Medang dalam Prasasti Mantyasih dianggap sebagai anggota Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Sementara itu Slamet Muljanaberpendapat bahwa daftar tersebut adalah daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Medang, dan bukan daftar silsilah keturunan Sanjaya.

Contoh yang diajukan Slamet Muljana adalah Rakai Panangkaran yang diyakininya bukan putra Sanjaya. Alasannya ialah, prasasti Kalasan tahun 778 memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Dengan demikian pendapat ini menolak teori van Naerssen tentang kekalahan Rakai Panangkaran oleh seorang raja Sailendra.
Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versi Prasasti Mantyasih mulai dari Rakai Panangkaran sampai dengan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Sedangkan kebangkitan Wangsa Sanjaya baru dimulai sejak Rakai Pikatan naik takhta menggantikan Rakai Garung.

Istilah Rakai pada zaman Medang identik dengan Bhre pada zaman Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.
Slamet Muljana kemudian mengidentifikasi Rakai Panunggalan sampai Rakai Garung dengan nama-nama raja Wangsa Sailendra yang telah diketahui, misalnya Dharanindra ataupun Samaratungga. yang selama ini cenderung dianggap bukan bagian dari daftar para raja versi Prasasti Mantyasih.

Sementara itu, dinasti ketiga yang berkuasa di Medang adalah Wangsa Isana yang baru muncul pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini didirikan oleh Mpu Sindok yang membangun istana baru di Tamwlang sekitar tahun 929. Dalam prasasti-prasastinya, Mpu Sindok menyebut dengan tegas bahwa kerajaannya adalah kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.

zeth is offline QUOTE
Unread 14-04-2011, 11:34 PM   #3
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Daftar raja-raja Medang

Menurut teori Slamet Muljana, daftar raja-raja Medang sejak masih berpusat di Bhumi Mataram sampai berakhir di Wwatan dapat disusun secara lengkap sebagai berikut:

1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang
2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
4. Rakai Warak alias Samaragrawira
5. Rakai Garung alias Samaratungga
6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
8. Rakai Watuhumalang
9. Rakai Watukura Dyah Balitung
10. Mpu Daksa
11. Rakai Layang Dyah Tulodong
12. Rakai Sumba Dyah Wawa
13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
14. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
15. Makuthawangsawardhana
16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir

Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja.

Struktur pemerintahan

Raja merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara denganDatu yang berarti “pemimpin”. Keduanya merupakan gelar asli Indonesia.

Ketika Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti dengan gelar Sri Maharaja. Kasus yang sama terjadi pada Kerajaan Sriwijaya di mana raja-rajanya semula bergelar Dapunta Hyang, dan setelah dikuasai Wangsa Sailendra juga berubah menjadi Sri Maharaja.
Pemakaian gelar Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetap dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja versi Prasasti Mantyasih yang menyebutkan hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu.

Jabatan tertinggi sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa.
Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta.

Jabatan sesudah Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.
Jabatan tertinggi di Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang atau setara dengan Rakryan Mapatihpada zaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.

Keadaan penduduk

Penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.
Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi.

zeth is offline QUOTE
Unread 14-04-2011, 11:38 PM   #4
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Konflik takhta periode Jawa Tengah

Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan (sekitar 856 – 880–an), ditemukan beberapa prasasti atas nama raja-raja lain, yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal ini menunjukkan kalau pada saat itu Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya maharaja di Pulau Jawa. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang.

Dyah Balitung yang diduga merupakan menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan seluruh Jawa, bahkan sampai Bali. Mungkin karena kepahlawanannya itu, ia dapat mewarisi takhta mertuanya.
Pemerintahan Balitung diperkirakan berakhir karena terjadinya kudeta oleh Mpu Daksa yang mengaku sebagai keturunan asli Sanjaya. Ia sendiri kemudian digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak diketahui dengan pasti apakah proses suksesi ini berjalan damai ataukah melalui kudeta pula.
Tulodhong akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat sebagai pegawai pengadilan.

Teori van Bammelen

Menurut teori van Bammelen, perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Letusan tersebut disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik berupa abu dan batu.
Istana Medang yang diperkirakan kembali berada di Bhumi Mataram hancur. Tidak diketahui dengan pasti apakah Dyah Wawa tewas dalam bencana alam tersebut ataukah sudah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja selanjutnya yang bertakhta di Jawa Timur bernama Mpu Sindok.

Mpu Sindok yang menjabat sebagai Rakryan Mapatih Hino mendirikan istana baru di daerah Tamwlang. Prasasti tertuanya berangka tahun 929. Dinasti yang berkuasa di Medang periode Jawa Timur bukan lagi Sanjayawangsa, melainkan sebuah keluarga baru bernama Isanawangsa, yang merujuk pada gelar abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

Permusuhan dengan Sriwijaya

Selain menguasai Medang, Wangsa Sailendra juga menguasai Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya Prasasti Ligor tahun 775 yang menyebut nama Maharaja Wisnu dari Wangsa Sailendra sebagai penguasa Sriwijaya.
Hubungan senasib antara Jawa dan Sumatra berubah menjadi permusuhan ketika Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah Medang. Menurut teori de Casparis, sekitar tahun 850–an, Rakai Pikatan berhasil menyingkirkan seorang anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa putra Samaragrawira.

Balaputradewa kemudian menjadi raja Sriwijaya di mana ia tetap menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.
Rasa permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.

Peristiwa Mahapralaya

Mahapralaya adalah peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasarkan berita dalam prasasti Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas sehingga muncul dua versi pendapat. Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan yang lainnya menyebut tahun 1016.
Raja terakhir Medang adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa mengirim pasukan untuk menggempur ibu kotaSriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.

Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkimpoian putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.
Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernamaAirlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.

Peninggalan sejarah

Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Medang juga membangun banyakcandi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB) sebagai salah satu warisan budaya dunia

Kepustakaan
 Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
 Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
 Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
 Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS

zeth is offline QUOTE
Unread 14-04-2011, 11:44 PM   #5
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
“Dyah Balitung Watukura” Raja Agung dari Tanah Bagelen

Kerajaan Medang i Bhumi Mataram ketika diperintah oleh Raja Dyah Balitung Rakai Watukura kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas. Meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur hingga ke pulau Bali. Dan kerajaan tersebut dikenal juga dengan nama “Galuh”. Kehidupan kerajaan Mataram pada masa itu belum banyak terungkap. Namun dari beberapa relief yang ditemukan di candi- candi di Jawa Tengah banyak yang mencerminkan kebesaran kerajaan tersebut seperti: Borobudur dan Prambanan. Dalam sejarah Mataram Kuno, telah ada hubungan diplomatik dengan luar negeri seperti yang terungkap dalam kronik dan catatan Tiongkok.

Dalam sejarah Rajakula Tang (Hsin tang Shu) tahun 618-906 M, dan sejarah Rajakula Sung tahun 906-1279 M diperoleh keterangan tentang keadaan di Jawa Tengah pada waktu itu. Di dalam Hsin Tsing shu disebutkan bahwa raja tinggal di Cho’Po tetapi moyangnya yang bernama “ki- yen” berpindah ke timur ke Pu- Lu- Kia –Seu. Di sekitarnya ada 28 kerajaan kecil yang tunduk. Ada 32 pejabat tinggi yang salah satunya Ta Tso Kanhiung.

Dalam catatan dinasti Sung disebutkan tiga putera raja menjadi pembantu- pembantu raja. Mereka bersama- sama mengurus soal pemerintahan bersama empat pejabat kerajaan yang bergelar Rakyan. Mereka mempunyai penghasilan tetap, dan sesekali mereka juga memperoleh hasil bumi.
Disamping itu juga ada 300 pejabat sipil yang dianggap sejajar dengan “siu- tsai” di Tiongkok. Mereka bertugas mencatat penghasilan kerajaan, mereka juga mempunyai kira- kira 1000 pegawai rendahan yang bertugas mengurus benteng dan parit kota, dan lumbung- lumbung kerajaan. Para prajurit, panglima perang masing-masing mendapat 10 tail emas tiap setengah tahun. Dan ada 30.000 prajurit yang dibayar setengah tahun sekali sesuai dengan pangkat masing- masing.

Dyah Balitung Rakai Watukura berkuasa antara 899-910 masehi. Menurut profesor Purbacaraka Dyah Balitung adalah seorang pangeran yang berasal dari Kedu selatan (Bagelen), sebab nama Watukura dijadikan gelar pelungguhannya dan tempat tersebut merupakan nama sungai yang ada di tanah Bagelen. Bahkan sampai sekarang ada desa yang bernama Watukura yang terdapat di kecamatan Purwodadi. Dari 38 prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Dyah Balitung diketahui bahwa beliau mempunyai 4 gelar yaitu :

1. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu
2. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawasamarattungga
3. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawotsawatungga
4. Janardanottungga Dyah Balitung

Dalam prasasti “ Watu Kuro” disebutkan adanya tempat mekdis penjenazahan di Watukura. Dyah Balitung naik tahta karena perkimpoian, hal ini bisa dilhat dari gelar rakai yang dipakai seperti yang dikatakan dalam prasasti Mantyasih, sebab pada waktu menikah ia masih bergelar “haji” atau raja bawahan.
Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung, sistem perekonomian telah tertata baik. Bahkan dalam prasasti Ayam Teas yang menyebutkan Dyah Balitung sebagai Sri Maharaja dan bertiti masa 822 saka atau tahun 900 M, disebutkan desa Ayam Teas yang dijadikan sebagai tanah perdikan sebagai tempat pedagang. Tempat tersebut tidak diperbolehkan dilewati oleh para petugas pajak.
Dan hanya 3 pejabat dari setiap daerah bebas yang diperbolehkan membawa secara bebas 20 ekor kerbau, 40 ekor sapi, 80 ekor kambing dan telur satu kandang dalam kendaraan. Dengan demikian jelaslah bahwa pada masa kekuasaan Dyah Balitung selain pertanian dengan sistem irigasi, tata niaga, peternakan, kerajinan dan perpajakan juga sudah berjalan secara teratur.

Dalam prasasti Panunggalan (818 saka) disebutkan haji Rakai Watuhumahang memberi anugerah kepada Dapunta di Kabikuan Panunggalan atas hak perdikan tanah daerah mereka.
Jika benar Dyah Balitung itu anak Watuhumahang, maka kesimpulannya dia merupakan anak seorang haji bukan anak Sri Maharaja. Menurut Purbacaraka kata “dharma” (dharmmadaya mahasambhu) ditafsirkan merupakan gelar dengan kata tersebut adalah raja yang naik tahta karena perkimpoian. Dalam prasasti Kubu-kubu (827 saka) tentang peresmian kubu-kubu menjadi sima, diuraikan pimpinan upacara wedhati dan makudur antara lain membanting telur dan memanggal leher ayam.
Penutupannya memberi keterangan tentang Raja Dyah Balitung yang kembali ke keraton. Dalam tahun 899 Dyah balitung sudah memakai Abhiseka Sri Dharmmodaya Mahasambhu, sedangkan perkimpoiannya disebutkan pada prasasti 907, maka tidak mungkin perkimpoian itulah yang menyebabkan dirinya menggunakan gelar.
Gelar tersebut mengandung arti “ yang kebajikannya selalu meningkat dan yang maha pemurah” sehingga mungkin gelar itu dipakai karena Dyah Balitung yang berhasil membawa keluarga raja yang dipimpinnya ke puncak kekuasaan. Dyah Balitung semakin meluaskan kekuasaan sehingga kemudian bergelar Sri Iswarakesawotsawatungga atau Sri Iswarakesawasamarattungga yang artinya yang terkemuka dalam peperangan yaitu siwa dan wisnu.

Pada akhir kekuasaannya dia bergelar “Garuda Muka” seperti yang disebutkan dalam prasasti Tulanan (832 saka). Mungkin saja gelar itu berkaitan dengan wisnu yang dianggap sebagai tokoh pembebas. Dalam masa kekuaasaan Dyah Balitung selain dewa-dewi siwais, menurut prasasti kedu (907 M) disebut tentang penghormatan terhadap dewa. Disebutkan bahwa dewa yang berakhiran dengan kara “ swara” seperti Pouteswara, Malangkuseswara dan Silabheseswara. Sedangkan tanah palungguhannya tempat yang bercampur dengan monumen megalitikh.

zeth is offline QUOTE
Unread 14-04-2011, 11:50 PM   #6
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Prasasti Canggal

Berdasarkan prasasti canggal yang ditemukan di daerah Sleman disebutkan bahwa nama sebuah pulau “Yawadwipa” kaya akan padi-padian dan jewawut serta tambang emas. Mula- mula diperintah oleh seorang raja bernama Sanna, namun setelah baginda mangkat kedudukannya digantikan oleh keponakannya bernama Sri Sanjaya, putera Sannaha saudara perempuan raja Sanna.
Menurut penulis sejarah Ratu Sanjaya menakhlukkan atau mendirikan kerajaan di wilayah Bagelen. Satu abad kemudian keratonnya dipindahkan ke wilayah Wonosobo, yaitu suatu wilayah yang sangat subur dan strategis.

Sanjaya adalah keturunan dari raka- raka yang bergelar syailendra. Arti syailendra adalah Syaila: batu, gunung dan indra : raja. Jadi syailendra adalah raja gunung atau tuan yang datang dari gunung. Mungkin juga tuan yang turun dari khayangan, karena menurut kepercayaan gunung merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewata. Raja Sanjaya adalah seorang ahli kitab suci dan keprajuritan dan selama masa kekuasaannya berhasil menakhlukkan kerajaan- kerajaan di sekitarnya. Bahkan dalam “kitab Parahiyangan” yang berasal dari Jawa Barat disebutkan daerah kekuasaannya hingga Bali, Kerajaan Melayu, Kemir (kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, sedangkan negeri Tiongkok diperanginya.

Raja Sri Sanjaya dinilai sebagai raja besar yang sangat dihormati, karena terkenal kesohorannya di India. Bahkan hubungan kenegaraannya hingga sampai ke Afrika – Iran – Tiongkok, karena angkatan lautnya maupun angkatan daratnya kuat dan besar.

Menurut kitab sejarah dinasti Tang Kuno (618-906), di pulau jawa terkenal sebuah kerajaan bernama “Ho-Ling” yang terletak di sebuah pulau di laut selatan. Kotanya dikelilingi pagar kayu, rajanya berdiam di istana tingkat, beratap daun-daun palma.
Raja duduk diatas singgasana dari gading. Penduduknya pandai menulis dan mengenal ilmu falak. Kalau makan duduk dan menggunankan tangan tanpa alat apapun, minuman kerasnya tuak.
Di pegunungan ada daerah bernama “ Lang- pi –ya” tempat raja selalu pergi untuk melihat laut. Diungkapkan pula bahwa tahun 640 M kerajaan jawa mengirimkan utusan ke Tiongkok, demikian juga pada tahun 6576 M. Dalam menafsir berita yang ditulis dari dinasti Tang tentang kerajaan “Ho-Ling” disebutkan raja hidup dalam kota Cho- p’o yang dikelilingi 28 kerajaan-kerajaan kecil yang semuanya mengakui kewibawaannya.

Menurut kronik tersebut raja dibantu 32 orang pegawai tinggi. Wilayah kerajaan Sanjaya tersebut berbentuk segitiga tempat yang sekarang dikenal dengan nama “Ledok” merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Bassisnya pantai selatan, puncaknya gunung Prahu (dieng) dan sungai utamanya Bagawanta.

Gagasan Van der Meulen SJ tentang Bagelen yang disamakan dengan Holing dalam kronik Tiongkok secara historical geography dipandang cukup logis oleh N. Daljoeni. Holing menurut Van der Meulen sebenarnya Halin singkatan dari “Bhagahalin” (Bagelen), yaitu kerajaan yang berlokasi di lembah sungai Bagawanta.
Bagelen tersebut sama dengan Pagelen yang disebut dalam babad tanah jawi, kerajaan yang semula diperintah oleh raja Kanuhun. Menurut Dr. N Daljoeni apa yang dilakukan WJ Van der Meulen dengan menggali isi kitab ceritera Parahiyangan dan babad Tanah Jawi, merupakan sumbangan yang telah membuka sejarah yang gelap abad 5 sampai 7 di jawa tengah.

Sedangkan dari hasil penelitian arkkeologi dikabupaten Pekalongan, Batang dan Kendal memberi suatu gambaran baru tentang kemungkinan daerah – daerah penting dan perkiraan pusat Kerajaan Mataram Kuno di tiga daerah kabupaten tersebut, kearah selatan semakin banyak ditemukan data arkeologi baru termasuk prasasti Sojomerto sampai disebelah utara yakni temuan- temuan di pegunungan dieng.

zeth is offline QUOTE
Unread 14-04-2011, 11:56 PM   #7
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Prasasti Kayu Ara Hiwang Cikal Bakal Purworejo

Kayu Antan merupakan tempat di tepi sungai Bagawanta, tempat tersebut merupakan tanah “swatantra” atau perdikan. Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan di bawah pohon sono tepi sungai Bagawanta wilayah Boro Wetan, yang sekarang masuk wilayah Boro Tengah kecamatan Banyuurip.
Prasasti tersebut diresmikan oleh Dyah Mala (Sala) yang merupakan Rakai dari Wanua Poh yaitu putra dari sang Ratu Bajra (daksa) yang tinggal di Wanua Pariwutan. Sang Ratu Bajra dalam hirarki kekuasaan Maharaja Dyah Balitung Watukura adalah orang kedua setelah raja. Upacara penetapan sima terjadi pada tahun 823 saka atau 901 Masehi, tanggalnya 5 Oktober.
Prasasti Kayu Ara Hiwang dalam seminar hari jadi kabupaten Purworejo tanggal 28 September 1993 dijadikan sebagai sumber primer menentukan hari jadi. Nama Sima diketahui dari Prasasti itu memuat peristiwa penting yakni: upacara pematokan sebagai sebuah sima atau tanah perdikan yang dibebaskan dari kewajiban pembayaran pajak bagi sima yang dipersembahkan untuk parahyangan. Prasasti itu dibuat pada tahun saka 823 pada bulan Asuji hari ke 5, bulan paro peteng, vurukung senin pahing (wuku) mrgasira, bersamaan dengan siva.

Radix Penadi mengungkapkan bahwa pada saat itu Raka dari Vanua Poh bernama Dyah Sala (Mala) putra sang Bajra yang tinggal di Parivutan menandai desa Kayu Ara Hiwang yang masuk wilayah Vatu Tihang menjadi tanah perdikan untuk dipersembahkan bagi “parahyangan” selain itu pangeran dari Parivutan mensucikan semua kejelekan.
Dalam prasasti itu juga disebutkan Rakryan dari Watu Tihang Pu Sanggrama Surandhara, penduduk galak yang masuk wilayah Mahmili menerima pakaian ganja haji patra sisi satu set, perak satu kati dan prasada vohring sebanyak sata swana.
Dalam prasasti tersebut juga disebutkan nama- nama pejabat antara lain: Rakryan Pu Rama dari Patimpuh. Pamagat Valdihati Pu Dangpit, penduduk Pasamuan yang masuk wilayah Valdihati. Tuhan dari Mukudur Sang Vangun Sugih Pu Maniksa, penduduk Medang di bawah Vadihati. Sang Maklambi Manusuk, Sang Tulumpuk Pu Naru penduduk Pupur di bawah Vadihati. Pangkat Panusung dari Makudur Sang Daluk Pu Tangak, ayah dari Lacita, kakek dari Muding penduduk Taji.
Para pejabat tersebut menerima “pasek” berupa pakaian berwarna satu set emas dalam jumlah tertentu ada yang enam masa ada pula yang menerima dua belas masa. Pengangkat Panusung dari Tuhan, badan kesatuan para nayaka di bawah Vatu Tihang.

Raka dari Vaskar tal, Pu Pudraka penduduk dari kasugihan di bawah Dagihan. Mangrupi tuhan dan badan kesatuan nayaka, Raka dari Pakambingan Pu Pandava, penduduk Lamyar di bawah Varu Ranu. Tuhan dari Lapuran, Raka dari Vatu Hyang dan Lampuran Pu Manu, penduduk dari Panggamulan.

Di bawah Manungkyli, Parujar dari Sang Alas Galu. Pu Viryya, penduduk dari Paka-Lang-kyang di bawah pagar Vsi. Matanda dari Sang Dasagar, Pu Tuan penduduk dari Sru Ayun dibawah Hino. Tuhan dari Raka Dvaraga si Myat Hayu Parvvta, penduduk dari Summilak dibawah Vka. Tuhan dari Martandakan Samgat Gunung Tanayan Pu Basu penduduk dari Kalungan di bawah Vka juga menerima masing- masing satu set pakaian berwarna sejumlah masa emas.

Menurut Drs. MM Sukarto K. Atmodjo, penetapan menjadi sima tersebut meliputi: gua, katika, gaga dan semua dipersembahkan kepada parahyangan di Parivutan.
Dari nama- nama tempat watu tihang, diidentifikasikan sebagai Salatiang di kecamatan Loano karena dekat dengan tempat tersebut banyak ditemukan batu- batu tegak seperti tiang Batu (Sela Tihang), Mantyasih (Meteseh- Magelang), Taji(daerah Prambanan), dan Kalungan (Kalongan – Loano).yang cukup menarik sima Kayu Ara Hiwang dipersembahkan untuk parahyangan yang masuk dalam wilayah Pariwutan tempat sang Ratu Bajra tinggal. Dalam pengertian lain parahyangan tersebut menjadi tanggungjawab Sang Ratu Bajra.

Seorang penulis menfasir sang Ratu Bajra adalah Daksa, orang kedua dalam hirarki pemerintahan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura. Selain berkedudukan sebagai Mahapatih i Hino, ternyata disebut juga sebagai sang ratu, yang kedudukannya setingkat raja.
Dengan demikian yang dinamakan “parahyangan” tersebut bisa dipastikan merupakan tempat yang sangat penting sebagai tempat para dewata atau dewa atau nenek moyang bertempat tinggal. Dan dalam kepercayaan jawa maupun tradisi nenek moyang raja- raja Mataram yakni Syailendra. Yang berarti Syaila= batu atau gunung dan Indra = raja. Syailendra artinya Raja gunung atau tuan yang datang dari gunung. Mungkin juga tuan yang turun dari kahyangan, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewata. Dan satu-satunya tempat yang sesuai.
Menurut Thoyib Djumadi bahwa yang disebut “Parahyangan” dalam prasasti Batu Kayu Ara Hiwang adalah Seplawan. dan patut disebut “parahyangan” tidak lain adalah Seplawan yang terletak dipegunungan Menoreh yang letaknya relatif dekat dengan Kayu Ara Hiwang. Dari uraian tersebut terungkap bahwa dari tanah lungguh Maharaja Dyah Balitung Watukura yang meliputi aliran sungai Bagawanta atau sungai Watukura merupakan wilayah Galuh yang merupakan asal muasal nama Bagelen.

zeth is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 12:00 AM   #8
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Sejarah Berdirinya Purworejo bersumber pada Prasasti Kayu Arahiwang

Konon pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.

Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.

Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu.

Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.
Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “Parahiyangan”. Atau para hyang berada.Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.

Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).

Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.

UPACARA PERTAMA

Pada tanggal 5 Oktober 901 M di Boro Tengah Dilakukan upacara, dimana upacara tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano).
Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak.

Peristiwa 5 Otober 901 M itu akhirnya ditetap kan dalam sebuah sidang DPRD Kabupaten Purworejo tanggal 5 Oktober 1994 ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.

zeth is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 03:46 AM   #9
kaskuser
senowibi's Avatar
UserID: 1504965
Join Date: Mar 2010
Location: Surabaya. Indonesia
Posts: 303
senowibi tidak memiliki reputasi
hmmmm pembahasan menarik, monggo dilanjut kang

setiap nama daerah ini muncul ada 2 hal yang kerap bikin tersenyum :
1. Ini daerah leluhur dari nenek saya.
2. Mantan cewek ane juga asli daerah ini

Tapi memang daerah tersebut tidak setenar daerah-daerah lain, padahal klo didalami cukup banyak sejarah penting yang terjadi di daerah ini.

Quote:
nyumbang sedikit

Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi.

Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.

Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.

Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu.

Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.

Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada.

Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.

“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”

Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).

Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.

Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano).


Last edited by senowibi; 15-04-2011 at 04:11 AM..

senowibi is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 03:51 AM   #10
kaskus addict
Xiao.Qiao's Avatar
UserID: 2759542
Join Date: Mar 2011
Location: SF144-SF389
Posts: 2,167
Xiao.Qiao  sedang di jalan yg benar
sambungan atau cabang dari sini ya mbah?
Xiao.Qiao is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 09:16 AM   #11
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Quote:
Originally Posted by Xiao.Qiao View Post
sambungan atau cabang dari sini ya mbah?

Bukan..disana ane mau bahas soal peradaban Nusantara..cuman pada nanya OOT.

zeth is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 11:17 AM   #12
kaskuser
Teghe's Avatar
UserID: 926437
Join Date: Jun 2009
Posts: 304
Teghe tidak memiliki reputasi
Quote:
Originally Posted by zeth View Post
Bukan..disana ane mau bahas soal peradaban Nusantara..cuman pada nanya OOT.

kalau setau saya mbah,bagelen terkenal akan keilmuan dan kebatinannya

Teghe is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 12:45 PM   #13
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Quote:
Originally Posted by Teghe View Post
kalau setau saya mbah,bagelen terkenal akan keilmuan dan kebatinannya

Mempunyai sifat dan tradisi tersendiri,gan. Soal ilmu spiritualnya, ane malah ndak tau.

Hasil Kerja Walisongo di Kawasan Purworejo

Oleh M Burhanudin

Akhir abad ke-15, melalui Walisongo, Islam semakin menyebar luas di Jawa. Namun, ada satu wilayah yang saat itu masih hutan belantara, mayoritas penduduknya masih belum beragama Islam. Daerah itu bernama Bagelen, yang pada saat itu meliputi wilayah Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo, dan Kutoarjo.

Datanglah Sunan Kalijaga ke wilayah itu. Saat masuk ke Bagelen, ia konon bertemu tukang nderes atau pencari nira kelapa yang bernama Cakrajaya. Kagum dengan tingginya ilmu Sunan Kalijaga, Cakrajaya bermaksud berguru.

Sunan Kalijaga menyuruh Cakrajaya bersamadi di dekat Sungai Bagawanta, lalu meninggalkannya sendiri. Setahun kemudian, ia bersama muridnya datang ke dekat sungai tempat Cakrajaya bertapa. Namun, di tempat itu tak terlihat apa-apa, kecuali rerumputan liar. Sunan Kalijaga menyuruh muridnya membakar rerumputan liar itu.

Ternyata, Cakrajaya yang tak lain keturunan Nyai Ratu Bagelen masih bertapa di tempatnya semula. Namun karena tempatnya dibakar, punggung Cakrajaya gosong. Sejak saat itulah, Cakrajaya yang dikenal memiliki ilmu agama yang teguh disebut dengan Sunan Geseng (dari kata gosong).

Melalui Sunan Geseng inilah dakwah agama Islam di Kadipaten Bagelen berkembang. Sebagai murid Sunan Kalijaga, gaya dakwah Sunan Geseng pun tak berbeda dengan metode gurunya, yakni mengakomodasi ajaran Syiwa-Buddha dalam Islam. Terjadilah akulturasi. Akulturasi ini menghasilkan komunitas Islam-Kejawen yang kuat di Bagelen. Komunitas ini masih bertahan hingga kini.

“Di Bagelen, yang termasuk sekarang di Purworejo, banyak penganut Kejawen. Tetapi, mereka beragama Islam. Adat dan tata cara Jawa, seperti menjamas pusaka, menghormati pepunden, dan kepercayaan akan sengkala Jawa masih dipertahankan, meski mereka itu shalat,” ujar Oteng Suherman, pakar Sejarah Purworejo yang lama mendalami Komunitas Bagelen.

Perpaduan Islam-Jawa ini menjadikan masyarakat Bagelen memiliki karakter khas. Sejak dulu warga Bagelen dikenal pemberani, jujur, setia, dan berjiwa besar. Tak ayal bila Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama), banyak merekrut orang Bagelen untuk perang melawan adipati di Jawa Timur yang menolak tunduk.

Pada zaman kolonial Belanda, Bagelen adalah medan tempur Pangeran Diponegoro. Banyak prajurit Diponegoro dari Bagelen. Bahkan, di sini pulalah tentara Belanda banyak yang terbunuh.

Syiwa-Buddha

Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.

Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.

Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.

Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.

Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.

Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.

Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.

Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.

Masih tampak

Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

“Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,” tuturnya.

Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.

Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.

Sumber : http://www.kompas.com/kompascetak/06…teng/30793.htm ==>> maaf, arsip lama sekali, mungkin udah tidak di ketemukan dlm filenya

zeth is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 07:32 PM   #14
kaskus holic
rakyat bergitar's Avatar
UserID: 576258
Join Date: Oct 2008
Location: bumi nusantara
Posts: 801
rakyat bergitar tidak memiliki reputasi
ijin membaca dan menyelami lebih dalam… matur nuwun mas zeth..

rakyat bergitar is offline QUOTE
Unread 15-04-2011, 10:37 PM   #15
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Quote:
Originally Posted by rakyat bergitar View Post
ijin membaca dan menyelami lebih dalam… matur nuwun mas zeth..

Dipun sekecak aken, mas

zeth is offline QUOTE
Unread 16-04-2011, 02:46 AM   #16
kaskus freak
pocongkgondrong's Avatar
UserID: 40031
Join Date: Jun 2004
Location: North Celebes
Posts: 30,211
pocongkgondrong  akan menjadi terkenalpocongkgondrong  akan menjadi terkenal
weleh..selama ini ane cuma tau bagelen kalo mau ke purworejo naik bis mbah….pokoknya kalo dah sampe bagelen gak berani tidur lagi takut kebablasan sampai kutoarjo

ternyata bagelen punya peran cukup penting dalam sejarah ….sayang ya mbah, daerah yang sarat dengan sejarah malah tidak jadi kota/kabupaten…jadi tidak begitu familiar nama bagelen ….

pocongkgondrong is offline QUOTE
Unread 17-04-2011, 12:07 AM   #17
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Quote:
Originally Posted by pocongkkgondrong View Post
weleh..selama ini ane cuma tau bagelen kalo mau ke purworejo naik bis mbah….pokoknya kalo dah sampe bagelen gak berani tidur lagi takut kebablasan sampai kutoarjo

ternyata bagelen punya peran cukup penting dalam sejarah ….sayang ya mbah, daerah yang sarat dengan sejarah malah tidak jadi kota/kabupaten…jadi tidak begitu familiar nama bagelen ….

Heheh..ane juga kenal ama pelosok kota Kutoarjo..bablas lagi udah Kebumen.
Wah..Bagelen panjang sejarahnya..jaman perang Diponegoro aja ada 3000 orang yg jadi pengikut beliau.

zeth is offline QUOTE
Unread 20-04-2011, 02:08 PM   #18
kaskus addict
UserID: 312382
Join Date: Aug 2007
Posts: 3,307
winfighter13 tidak memiliki reputasi
Mohon ditambah lagi ceritanya Mas Zeth, buat nambah wawasan sejarah saya, khususnya bagelen/purworejo, maklum mas, saya anaknya perantau, sangat jarang pulang kampung, kalau ke purworejo, hanya kalau ada acara2 tertentu saja.

kalau mau ke rumah mbah juga naik bis…,harus pinter2 liat patokannya, takut nyasar kebablasan sampai jogya…he he..[patokannya ya patung Jendral ahmad yani]

terima kasih

winfighter13 is offline QUOTE
Unread 20-04-2011, 09:00 PM   #19
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Quote:
Originally Posted by winfighter13 View Post
Mohon ditambah lagi ceritanya Mas Zeth, buat nambah wawasan sejarah saya, khususnya bagelen/purworejo, maklum mas, saya anaknya perantau, sangat jarang pulang kampung, kalau ke purworejo, hanya kalau ada acara2 tertentu saja.

kalau mau ke rumah mbah juga naik bis…,harus pinter2 liat patokannya, takut nyasar kebablasan sampai jogya…he he..[patokannya ya patung Jendral ahmad yani]

terima kasih

zeth is offline QUOTE
Unread 20-04-2011, 09:05 PM   #20
zeth [$]
Budaya Enthusiast
zeth's Avatar
UserID: 85570
Join Date: Jun 2005
Location: Jawa
Posts: 6,471
zeth  akan menjadi terkenal
Raden adipati aryo cokronagoro I

Lahir dengan nama Raden Mas Reso Diwiryo, pada Rebo Pahing, 17 Mei 1779. Tempat kelahirannya Desa Bragolan, wilayah bagian (afdeling)Bagelen (sekarang masuk Kecamatan Purwodadi). Sebagai putera sulung dari Raden Bei Singawijaya (ayah) dan Raden Ayu Singawijaya (ibu), setelah remaja RM Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan, Keraton Surakarta. Tugasnya adalah mengawasi irigasi di daerah Ampel, Boyolali.

Kisah pengabdian Reso Diwiryo di Keraton Surakarta bermula karena ayahnya sempat tinggal di kota raja Surakarta sebagai seorang empu. Dikisahkan, ketika menginjak usia tua dan menderita lumpuh, RB Singawijaya mengundurkan diri dari abdi dalem Keraton Surakarta dengan jabatan terakhir Mantri Gladhag. Tonggak pengabdian di Kasunanan Surakarta selanjutnya diserahkan kepada putera sulungnya, yakni Reso Diwiryo.

Setelah menjadi tenaga magang, Reso Diwiryo berpeluang menjadi abdi dalem dengan pangkat Mantri Gladhag. Tugas Mantri Gladhag diceritakan menjadi pengawas narapidana yang akan menjalani sidang pengadilan. Diceritakan pula jika tugas Mantri Gladhag memimpin kantor yang mengurusi pajak keraton.

Sebagai Mantri Gladhag, kinerja RM Reso Diwiryo dinilai cukup berhasil sehingga diangkat sebagai Penewu Gladhag pada 1815. Kesuksesan ini dikisahkan karena ia berhasil melaksanakan tugas pemetaan ulang wilayah Keraton Surakarta yang diperintahkan oleh junjungannya, Sunan Paku Buwono VI.

Pemetaan ulang harus dilakukan karena pada tahun 1812 pemerintahan kolonial Belanda bertekuk lutut oleh pasukan Inggris pimpinan Gubernur Jenderal Raffles. Akibat status quopemerintahan di Batavia (Jakarta), Keraton Surakarta yang dibantu laskar India (Sipahi) mencoba melawan bala tentara Inggris.

Perlawanan itu membuat Inggris berang dan segera mengambilalih wilayah afdeling yang dikuasai Kerajaan Surakarta. Situasi ini membuat para Pangeran dan pembesar Keraton yang mempunyai tanah bengkok (siti lenggah) di sekitar Kedu harus siap-siap memindahkan hak milik tanahnya ke wilayah bagian Bagelen (sebagai daerah yang masih menjadi wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta).

Pekerjaan memetakan ulang wilayah Keraton Surakarta memang tidak mudah. Karena hasilnya terus mengecewakan, para pangeran dan pembesar kerajaan mendesak raja supaya memilih petugas pemetaan yang kompeten. Kemudian Paku Buwono VI menugaskan Reso Diwiryo yang melakukannya.

Karena kinerjanya luar biasa, pemetaan ulang tanah Keraton Surakarta berhasil diselesaikan dalam waktu cepat. Hasil itu membuat para pangeran dan pembesar Keraton merasa puas, karena dapat segera mengetahui batas wilayah hak atas siti lenggah mereka yang baru. Atas prestasi itu, Reso Diwiryo dinaikkan pangkatnya sebagai Penewu Gladhag dan diberi gelar Raden Ngabei Reso Diwiryo.

Prestasi itu membuat RNg Reso Diwiryo semakin populer di mata pangeran dan pembesar keraton. Popularitas ini semakin berlanjut ketika Paku Buwono VI memerintahkan untuk memindahkan binatang peliharaan kesayangannya, yakni seekor banteng ganas ke kandang yang baru. Lagi-lagi Reso Diwiryo berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Pada tahun 1819, Paku Buwono VI memerintahkan Reso Diwiryo dan RNg Wongsocitro membasmi para perampok yang merajalela di wilayah Bagelen. Para pemimpin perampok yang sangat meresahkan rakyat sekitarnya itu berhasil ditangkap dan dilucuti sehingga wilayah Bagelen kembali aman. Kembali kinerja Reso Diwiryo semakin cemerlang dengan prestasi ini.

Pada tahun 1820, para Mantri Gladhag dan Penewu Gladhag mendapat perintah untuk membuat sumur di dalam keraton. Uniknya pengerjaan sumur ini diawasi langsung oleh Sunan Paku Buwono VI. Ada kisah yang cukup mencengangkan dalam pengerjaan sumur itu yang terjadi sewaktu istirahat makan siang. Saat itu seluruh abdi dalem sudah keluar sumur, dan tinggal Reso Diwiryo yang terakhir akan naik. Ketika akan mencapai bibir sumur, Sunan Paku Buwono mengulurkan tangan untuk menggapai tangan Reso Diwiryo dalam rangka menolongnya ke luar dari lubang sumur.

Namun tangan Reso Diwiryo salah tangkap. Yang dipegangnya justru gagang keris pusaka keraton yang terselip di pinggang Sunan Paku Buwono VI. Namun anehnya Sri Sunan justru sekaligus menyerahkan sarung kerisnya sambil berkata bahwa keris Kyai Basah itu memang sengaja akan diberikan.

Melihat peristiwa itu, seluruh abdi dalem pekerja penggali sumur menjadi terkesima. Mereka langsung menyadari bahwa Reso Diwiryo adalah abdi kinasih Sri Sunan karena loyalitas dan kepatuhannya kepada sang Raja. Peristiwa itu cepat menyebar ke seluruh isi istana. Para pangeran dan pembesar keraton lalu menyadari bahwa Reso Diwiryo telah mendapat anugerah dari Raja Surakarta.

Ketika mendengar peristiwa itu, Patih Danurejo memanggil Reso Diwiryo untuk menghadap. Di kepatihan, ia minta agar keris itu diperlihatkan. Patih Danurejo kemudian berujar bahwa keris itu hanya layak dimiliki oleh orang yang memiliki jabatan serendah-rendahnya bupati. Lagi pula keris pemberian Sri Sunan masih ber-kerangka emas campuran (mamas). Karena itu Patih Danurejo menyarankan agar keris itu ditukar dengan keris miliknya yang berkerangka emas murni. Ia pun langsung memperlihatkan keris yang dimaksud yang pada saat itu sedang digenggam istrinya.

Namun Reso Diwiryo menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia berkilah bahwa keris itu adalah miliknya yang saat sedang menggali sumur dipegang oleh Sri Sunan. Ia meyakinkan bahwa keris yang diberikan Raja adalah keris seorang Penewu dan bukan keris Raja.

Patih Danurejo tentu saja kecewa dengan jawaban itu. Ia menganggap Reso Diwiryo sudah berbohong. Setelah peristiwa itu ia langsung menyimpulkan bahwa Reso Diwiryo adalah abdi dalem yang tidak setia sehingga tidak layak menjadi Penewu Gladhag. Ia pun menurunkan pangkat Reso Diwiryo menjadi Mantri Gladhag.

Konon, Reso Diwiryo menjadi sakit hati. Ia merasa terhina dan malu karena hanya dalam soal keris, pangkatnya harus diturunkan. Tapi sebagai abdi dalem setia ia tidak mau berontak meski harus hidup di lingkungan keraton dengan menanggung malu. Akhirnya ia memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya yang kemudian diserahkan kepada anak sulungnya, yakni Ngabei Cokrosoro.

Sebagai seorang Priayi (Jawa:kenthol) Bagelen, Reso Diwiryo merasa dirinya diperlakukan sewenang-wenang. Namun kesetiaan terhadap raja adalah segala-galanya. Ia yakin benar bahwa Kyai Basah sangat tak ternilai. Baginya keris itu tidak bisa diukur dengan uang atau emas murni dan bahkan harus dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Sejak saat itu, Reso Diwiryo mengunci diri dari kehidupan luar. Ia tidak sudi lagi berhubungan dengan pembesar maupun para priyayi keraton. Yang kerap menyambanginya adalah Pangeran Kusumoyudo, seorang sahabat sejatinya yang datang untuk bertukar pikiran. Pangeran Kusumoyudo selalu meyakinkan bahwa kebenaran suatu saat pasti datang meski membutuhkan perjuangan yang berat.

Reso Diwiryo kemudian menjalani laku tirakat (yakni syarat yang dilakukan dengan menahan hawa nafsu berupa berpuasa, berpantang dan sebagainya untuk mencapai suatu maksud tertentu). Selain ingin membersihkan rohani, ia berharap agar Tuhan YME dapat memberikan keadilan serta melapangkan pintu kebenaran.

– bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s