soekarno

Bung Karno pun Berganti Nama

TERLAHIR dengan nama Kusno Sosro Sukarno, proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, dipanggil Kusno oleh keluarga, kerabat dan kenalan dekatnya. Perpaduan darah Jawa-Bali dari sang ayah, Raden Sukemi Sosrodiharjo yang sangat kental diwarnai sinkretisme ajaran Kejawen dengan sang ibu yang berasal dari Kasta Brahmana Ida Ayu Nyoman Rai membentuk Kusno kecil menjadi pribadi yang kompleks. Pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI 4 Juli 1927) yang pernah dibuang ke Flores dan Bengkulu ini pun sangat menyukai pertunjukan wayang kulit dengan kisah-kisah dari Ramayana maupun Mahabarata. Ia sangat terpengaruh oleh kisah-kisah tersebut. Sehingga janganlah heran Bung Karno sangat menyerap ajaran-ajaran Kejawen yang diutarakan lewat wayang dan kemudian menerapkan dalam kesehariannya di partai politik maupun ketika menjadi presiden.

Masa kecil pencetus ajaran Marhaenisme yang pernah mendekam di penjara Sukamiskin Bandung ini ternyata tidak seperti bocah lainnya. Ia kerap sakit-sakitan, bahkan pada usia 7 tahun sempat menderita penyakit tifus yang sangat parah sehingga membuat kedua orangtuanya menjadi sangat khawatir. Sang ayah yang memang sangat kental dengan ajaran kejawen pun lantas berkesimpulan bahwa Bung Karno keabotan jeneng. Panggilan Kusno pun diganti menjadi Sukarno dengan harapan agar ia menjadi seperti Karna yang merupakan salah seorang ksatria dalam Mahabharata.

Percaya tidak percaya, yakin tidak yakin, fakta membuktikan kesehatan Kusno kecil yang berganti sapaan menjadi Karno berangsur membaik. Ia pun mampu menyelesaikan pendidikannya hingga meraih gelar sarjana dari THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung dan lulus 25 Mei 1926.

Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I. nama Sukarno sempat berubah menjadi Soekarno sesuai ejaan penjajah Belanda. Tetapi lantas beliau sendiri mengganti namanya menjadi Sukarno karena memang seperti itulah anma aslinya. Namun ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah.

Persoalan pergantian nama merupakan sesuatu yang penting bagi Bung Karno. Baginya, suatu nama bukanlah sekadar tanpa arti. Dalam pidatonya tertanggal 30 September 1965 ia sempat mengkritik pers yang kurang tepat dalam menulis nama anak-anaknya. Nama Megawati sebetulnya Megawati Soekarnaputri, bukan Megawati Soekarnoputri. Demikian pula dengan Guntur Soekarnaputra. (Din/Khuzna)

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s