KI HAJAR DAKA

KISAH Ki Hajar Daka adalah kisah wayang kulit pusaka dan kisah gamelan keramat. Kisah itu kini tersimpan kuat di lereng Merbabu, tepatnya di Desa Dakan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Yang disebut Ki Hajar Daka sendiri adalah tokoh leluhur Desa Dakan yang keberadaan makamnya berada di atas Desa Dakan, di lereng gunung Merbabu. Selain makam ki Hajar, di bawah makam Ki Hajar ada rumah kecil kosong yang telah dipugar. Menurut kepercayaan penduduk, seperti diceitakan juru kunci makam, Sutyoso (46 tahun), rumah kecil kosong itu adalah petilasan padepokan Ki Ageng Hajar Daka. Sementara di seputar makam ada pula beberapa makam. Satu di antaranya makam dekat makam Ki Hajar menyerupai makam Ki Hajar sendiri. Ada kemungkinan makam yang mirip makam Ki Hajar adalah makam istri Ki Hajar atau paling tidak orang yang sangat dekat dengan Ki Hajar. Sedangkan makam-makam yang lainnya dianggap sebagai makam pengikut setia Ki Hajar.
Ki Hajar sewaktu hidup sempat meninggalkan perangkat hasil budaya berupa satu kotak wayang kulit. Seperangkat wayang kulit ini sangat dihormati penduduk Desa Dhakan. Meski bentuknya sangat sederhana tetapi begitu dipercaya sebagai pusaka penduduk desa Dakan. Wayang adalah pusaka milik penduduk bukan milik pribadi.
Dari penuturan Sutyoso , yang melanjutkan cerita tutur dari orang tuanya (Sudarjo) dan nenek moyangnya, Ki Hajar dahulu adalah tokoh agama yang membawa budaya wayang kulit. Entah alasan apa, Ki Hajar sampai menetap di daerah Dakan ini. Sebetulnya, nama Desa Dakan ini bermula dari kta duka, yang berartri marah. Dahulu, Ki Hajar bernama lengkap Ki Hajar Windu Sono. Tempat Ki Hajar bertempat tinggal di sebuah desa yang sekarang bernama Desa Windu. Karena ada yang memfitnah dirinya, Ki Hajar menjadi marah atau dalam bahasa Jawa duka. Maka di tempat Ki Hajar duka inilah, menjadi desa Dakan yang artinya tempat Ki Hajar duka (marah).
Masih dari penuturan Sutyoso, jumlah wayang kulit yang dimiliki Ki Hajar ada dua kotak. Tetapi, yang satu kotak tersimpan dalam batu yang mirip kotak penyimpan wayang kulit pada umumnya yang berada pada sebuah makam. Sedangkan kotak wayang kulit yang lainnya hingga kini masih ada di Dusun Dakan sebagai barang pusaka milik masyarakat Desa Dakan. “Jadi wayang kulit ini adalah milik warga Desa Dakan. Bukan milik perorangan, sebagai barang pusaka. Tetapi sering diaku milik orang pribadi,” jelas Sutyoso yang orng tuanya yang telah meninggal juga adalah juru kunci makam Ki Hajar Daka.
Menurut Sutyoso, selain peninggalan Ki Hajar berupa wayang kulit, juga ada peninggalan lain berupa seperangkat gamelan. Tetapi sekarang ini seperangkat gamelan yang merupakan peninggalan Ki Hajar yang seharusnya keberadaannya selalu melekat dengan wayang kulit sudah tidak satu lagi. “Ini yang menjadi keprihatianan masyarakat Desa Dakan. Bahkan terdengar khabar gamelan itu sudah dijual kepada orang perorangan. Akibatnya, kalau ada pertunjukkan wayang dengan menggunakan wayang pusaka, masyarakat desa Dakan sudah tidak banyak yang menyaksikan,” tutur Sutyoso.
Dari penuturan masyarakat seputar lereng Merapi-Merbabu, kisah wayang pusaka ini sangat kondang. Selain wingitnya wayang kulit, keunikan pagelaran wayang kulit. Gamelan yang sangat sederhana karena jumlah dan jenisnya yang tidak seperti lazimnya, hanya mirip gamelan untuk jathilan jaran kepang. Jenis gamelan yang ditinggalkan adalah berupa kethuk, kenong, sarong, gong dan kendhang. Kecuali itu, menurut tradisi, dalangnya pun harus makan sirih kinang kalau mau pentas. Tetapi, tradisi pagelaran seperti itu agaknya telah ditinggalkan. “Saya sudah tidak pernah nonton lagi jika wayang kulit pusaka itu ipentaskan. Karena sudah tidak seperti dahulu lagi,” kata Sutyoso.
Menurut Suwandi, penduduk Ngipik – Blabak, Magelang, yang pernah menyaksikan pagelaran wayang pusaka Ki Hajar Daka pada tahun 1955 – 1963, wayang pusaka di Dusun Dhakan itu sungguh-sungguh keramat. Tetapi tidak kalah keramatnya adalah makam Ki Hajar yang berada di Desa Dakan itu sendiri. “Pernah di tahun 1963, wayang pusaka pentas di Karisidenan Magelang, menurut cerita, saat acara goro-coro, wayang berupa punakawan tidak ada. Ternyata esoknya sudah di rumah Ki Dalang pada waktu itu. Wayang punakawan ini pulang dahulu kaena sesaji yang ada kurang lengkap, kurang bothok kacang tholo yang disebut amplas. Beberapa hari setelah pentas, ada kesaksian dari penduduk desa, pada waktu tengah malam saat wayang digelar dalam pentas di Karisidenan Magelang, dilihatnya punakawan ini berbondong-bondong berjalan dan sempat disapa dan memberikan jawaban bahwa mereka adalah punakawan dari Dakan. Masih menurut Suwandi dan dibenarkan oleh Sutyoso, kecuali peninggalan wayang kulit dan gamelan, masih ada peninggalan lain berupa kitab kuno berbentuk kipas. Kitab ini memiliki huruf yang sangat an eh dan hingga kini belum ada yang bisa membacanya.
Kisah wayang kulit yang angker juga dituturkan oleh dalang kondang di Kabupaten Mgelang, Ki Hadi Susanto (52 tahun). “Saya sendiri pernah menyaksikan pagelaran wayang kulit itu. Tetapi untuk ukuran budaya pedalangan, pagelaran wayang kulit di Dhakan ini sangat unik karena berbeda dengan pakem yang biasa dilakukan para dhalang. Tetapi orang tidak boleh mengejek atau mentertawakan,” tutur Ki Hadi Susanto. Menurut Ki Hadi, pernah terjadi orng mentertawakan pagelaran wayang kulit di Dhakan yang sngat aneh dan ganjil, namun tak lama kemudian mulutnya tak bisa kembali dari posisi tertawa itu. Bahkan, kata Ki Hadi lebih lanjut memberi kesaksian, meski jumlah perangkat gamelan begitu sederhana, tetapi kalau didengar dari kejauhan sangat mirip dengan bunyi gamelan biasanya.
***
Udara dingin senantiasa hadir di sepuar makam Ki Hajar ini. Kecuali udara yang dingin, suara air gunung yang jernih dan sangat dingin, juga terlihat pemandangan alam yang luar biasa indah. Gungung Telomoyo dan Gunung Andong di wilayah Grabag-Magelang terlihat ramah bersama sorot matahari di sore hari.
Menyaksikan keberadaan Desa Dakan, sebetulnya masyarakatnya tidak jauh berbeda dengan masyarakat desa-desa di pegunungan. Kecuali kesederhanyaannya, juga kekekunan menghadapi hidup. Ada semangat gotong royong, kerukunan antar penduduk, rajin bekerja. Itulah keramahan budaya yang membalut hidup penduduk Dusun Dhakan. Keramahan budaya ditambah dengan keindahan pemandangan alam serta kesuburan tanah Desa Dhakan, sebenarnya adalah cirri khas bangsa Indonesia

Desa Dakan sendiri begitu akrab dengan kabut dan hujan.. Begitu juga dengan udara dingin dan sejuk, adalah sahabat penduduk desa ini. Agaknya udara sejuk dan dingin ini yang setiap hari mampu memberi semangat kerja yang tinggi. Bulan-bulan terakhir ini hujan masih saja turun di daerah Dakan. Bagai air pegunungan yang murni dan bersih hujan diturunkan di Desa Dakan, desa terakhir menuju puncak Merbabu di wilayah Kecamatan Pakis. Namun di tempat tinggi ini guruh guntur kedengaran begitu dahsyat dan terasa mengerikan. Gemuruhnya guntur menggetarkan kaca-kaca rumah, seakan dewa pegunungan yang berseru-seru.
Desa terpencil ini memiliki jalan bebatuan sejauh 10 km dari jalan raya Pakis-Kopeng. Rakyat Dakan sendiri yang mengerjakan pengerasan jalan pedesaan. Rakyat begitu semangat dan rela menyumbangkan tenaga demi kegotongroyongan. Begitu ada embug dessa untuk mengdakan gotongroyong desa, semangat spontan terasa terbakar dalam hati mereka masing-masing. Meski jalan terjal dan panjang bahkan harus melalui perbatasan hutan pinus, mereka tetap saja tekun menata batu-batu besar. Hasilnya, kendaraan roda empat bahkan kendaraan berjenis truk sekalipun dapat masuk ke Desa Dakan guna mengangkut berbagai hasil panen tanah Dakan. Lebih dari sekedar semangat kegotongroyongan adalah semangat kerukunan antar umat beragama di antara penduduk Desa Dakan. Antar kelompok umat antar agama di Desa Dhakan ini saling rukun dan menyadari serta menghargai Cahaya Ilahi yang menerangi masing-masing hati umat manusia.
Bagi pendatang yang datang di desa ini pastilah muncul kekaguman pada semangat rakyat yang menyala-nyala ini, sekaligus bertanya, api apa yang membakar semangat kerja gotong royong penduduk. Misteri semangat rakyat ini akan sedikit terkuak ketika orang tahu bahwa di dalam kotak wayang kulit ini ada tokoh wayang kulit yang di dalamnya bersemayam roh leluhur dengan pakaian senopati. Dari penglihatan supranatuiral yang dilakukan oleh Ki Haryo Hutomo yang mengikuti perjalanan wartawan Taman Sari ke Desa Dhakan terlihatlah roh leluhur bersemayam pada tiga wayang kulit pusaka, yaitu pada tokoh Petruk, tokoh Arjuna dan tokoh Sembadra. . Roh leluhur yang ada di tokoh wayang Petruk ini adalah dahulu adalah seorang senopati yang jiwanya sangat lincah dan rajin. Maka inilah yang mempengaruhi semangat hidup masyarakat Dhakan,” tutur Ki Haryo Hutomo. (Daniel Tatag)

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di Wayang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s