Titik balik Peradaban

NGARSA Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sering kali mengungkapkan tema Titik Balik Peradaban, baik dalam berbagai forum dialog maupun di media massa. Istilah “Titik Balik” itu secara resmi merupakan judul buku tulisan Fritjov Capra. Buku lainnya yang menjadi pengantar hal ihwal “titik balik” bertitel The Tao oh the Physics. Karya kelanjutannya The Hidden Connection.
Sebelum menukik tentang “Titik Balik”, ada baiknya ingatan pembaca disegarkan kembali makna “Pergelaran” yaitu dengan mengacu gelar Sultan selengkapnya, yakni Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping X. Kandungan makna gelar itu pernah dijelaskan untuk umum ketika Beliau menerima gelar adat Minangkabau, beberapa tahun lalu, sebagai berikut:
Ngarsa Dalem (yang di depan anda)
Sampeyan Dalem (kaki anda)
Ingkang Sinuwun (yang diminta)
Kangjeng Sinuwun (tekad disertai daya)
Hamengku Buwono (yang mencakup, meliputi semua segala syahadat
awal-akhir, lahir-batin)
Senopati Ing Alaga (panglima di medan juang)
Abdur-Rahman (hamba Tuhan, Kawula Gusti)
Sayidin Panatagama Khalifatullah (penghulu peñata agama,
pemeran/wakil Tuhan)

Kemasan makna gelar itu terurai mulai dari “jangkah” (gerak langkah kaki) itu dalam rangka “jangka”, yaitu tekad penuh daya; itulah kesaksian total (awal-akhir, lahir-batin). Tahap berikutnya, Panglima Pemenang di arena laga, tidak lain adalah Nafsu Muthmainnah (QS 89: 27-30), dan itulah ajaran Kawula-Gusti –yang diperkenankan-Nya menjadi wakil Tuhan di muka bumi ini.
Gelaran seperti itu tidak dapat dilepaskan dengan Wedharan serta Wisikan. Lengkapnya Wisikan Ananing Dat, Wedharan Wahananing Dat, serta Gelaran Kahananing Dat. Itu semua dibabarkan sebagai “pusaka” Jawa (Jiwa kang Kajawi) sebagai salah satu kearifan lokal Nusantara –yang harus tetap dipelihara kandungan mata air jernihnya (banyu bening-nya), namun tetap bermuara pada “laut” Indonesia yang satu yang sama.
Tentang Wisikan Ananing Dat, yakni “sesungguhnya tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang “berkata” tanpa kata itu, merupakan momentum Eneng-Ening (Murwa Kandha). Itulah maklumat Ratu yang sadar kosmis, yang ketika sinewaka, yakni menghadirkan terus kesadaran murni, tanpa beban itu, Pancering Tingal Dalem tidak lain tertuju ke TUGU GOLONG GILIG (lambang kesatuan lingga yoni). Kalau itu telah tercapai, maka Ngarsa Dalem kondur angedaton serta lelangen di Taman Sari “Ruang Rohani”. Sementara Pepatih atau Warangka Dalem metu njaba (keluar) sesuai dengan pedoman Wedharan serta Gelaran.
Nah, Tabloid Anda, Taman Sari, ini berturut-turut akan memaparkan kearifan lokal Nusantara, dimulai dari Jawa, mencakup Catur Sagatra (Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, Kasultanan serta Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta). Tentu saja tak ketinggalan Cirebon dan Banten, kemudian ke luar Jawa.

Mengapa Titik Balik?
Wanita itu sepanjang masa adalah pelengkap pelaku atau pelengkap penderita kaum pria. Lho! Ya begitulah karena wanita tidak dijadikan dari “tanah” , melainkan dari tulang rusuk pria. Sebelum hadirnya Dewi Maria (Maryam) –yang melambangkan peran subjek pelaku penuh, ketika ia yang virgin mbobot dan mbabar Ruh dari rahimnya. Itulah titik balik peradaban, manakala kandungan maknawinya tidak terbatas pada rahim seorang perawan, melainkan justru menerobos lintas batas ruang dan waktu, mengacu ke virginitas alam yang mbabar Ruh dari Alam ke Alif-Lam-Mim. Mereka yang netral dari residu buatan manusia –yang akan selamat mulih-pulih ke “Rahim” Sang Khalik.
Tidak berlebihan kiranya kalau istilah “Materam” dipahami dalam rangka persiapan Rahim Kultural, Spriritual Global,danUniversal. Langkah pertama yang utama ialah laku Njangka dan Njangkah. Kalau seseorang mempergunakan jangka untuk membuat lingkaran bulat, maka pertama kali harus yakin bahwa ujung jarum jangkanya tajam, posisinya madhep-mantep-tetep, tidak goyang. Menurut Ki Hajar Dewantara lakunya adalah Neng-Ning-Nung-Nang: “Enenging salah bawa, Enining ati manungku puja, Dumununging Kasunyatan, Wenanging Jumenengan. Maka kalau ujung jangkanya tumpul dan posisinya goyang, tentunya lingkarannya gagal temu gelang dan tidak bulat.
Hanya saja, perlu disadari bahwa setajam apapun ujung jangka, kalau diperiksa dengan mikroskop elektronik ujung jangka tadi pastilah sangat tumpul. Kalau demikian ujung jangka sebagai lambang HATI (panah yang MANAH) akan mencapai ketajaman optimal kalau mencapai titik NOL –yang pernyataannya “sesungguhnya tidak ada apa-apa”. Simaklah! Gerakan thawaf yang anti jarum jam, sesungguhnya adalah gerakan membuat angka nol, melalui tujuh lingkaran mengitari Kabah, mencakup Hayat, Qodrat, Iradat, Ilman, Kalam, Sami’an, Basiran, agar dengan taqorrub mendekatkan diri kepada-Nya melalui kesaksian bahwa “di dalam Kabah itu tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang masuk ke dalamnya dengan RAGA-SUKSMA bukan Ngrogoh Sukma.

Awal-Akhir, Lahir-Batin
Anda lahir dari mana? Kalau jawabannya dari rahim ibu, itu menurut ilmu kebidanan. Anda lahir dari batin. Jangan keburu bingung dulu. Coba cermati mengenai Gotong-royong sebagai intisari Filsafat Pancasila, menemukan muara globalnya pada Filsafat Proses/Filsafat Organisme –yang memandang semesta realitas ini “berstruktur” (Lahir-Batin) dan “berproses” (Awal-Akhir). Kearifan lokal Jawa mengenal struktur tadi sebagai Pamoring Kawula Gusti. Sementara prosesnya sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Hanya saja perlu diingat bahwa kata-kata “lahir”, “batin”, “awal”, “akhir” itu semuanya adalah bahasa Arab; agar orang tidak kearab-araban, maka harus diungkapkan substrat kearifan lokalnya. Lahir itu babar, gelar, babaran, gumelar; sedang Batin itu gumeleng-gumulung.
Jika demikian, maka orientasi awal-akhir, lahir-batin, itu tidak lain adalah orientasi Cipta Gumeleng, berupa laku lenging cipta wus gumeleng. Mereka yang seperti itulah yang ngasta pusaraning adil, yang menjunjung tinggi pesan Prof. Dr. Mr. Soepomo agar berpegang teguh pada Geistlichen Hintergrund (suasana kebatinan), Hidden Connection (tali-rasa/rasa-tali) sebagai pengikat persatuan kesatuan bangsa.
Mari kita telisik bahwa diri itu “terminal kepribadian”, sehingga diri yang piawai untuk mawas diri, yang muthmainnah, yang mengalami pencerahan terang seribu bulan, yang muter Taman Sari atau Taman Sri Wedari, adalah diri pelaku Titik Balik Peradaban, yang mulih-pulih Jumeneng Pribadi.

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di JAWA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s