SMART MEMORIZING (Memorizing with Fun)

SMART MEMORIZING

(Memorizing with Fun)

Tujuan Instruksional Umum

Mampu mengembangkan kemampuan menghafal secara optimal, sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar yang kreatif.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah proses pembelajaran ini peserta didik dapat:

1. Menghafal nama-nama alat-alat transportasi

2. Menghafal suku-suku yang terdapat di seluruh dunia

3. Membuat cerita kreatif dan lucu dari kata-kata yang telah dihafalkan

Metode

1. Diskusi terarah

2. Praktek dan Simulasi

3. Penugasan

Alat Bantu

1. Gambar alat-alat transportasi

2. Gambar suku-suku di dunia

Langkah-langkah

1. Persiapan

  • Fasilitator mempersiapkan materi gambar-gambar di transparan atau media lain.
  • Fasilitator mempersiapkan desain ruangan kelas untuk proses belajar mengajar.

2. Proses Pembelajaran

  • Fasilitator menyampaikan metode belajar dan menghafal (Smart Memorizing)
  • Fasilitator menyampaikan tujuan pokok pembelajaran
  • Fasilitator menanyakan kepada beberapa orang tentang jumlah nama-nama suku-suku di seluruh dunia yang telah mereka hafal
  • Fasilitator menjelaskan cara menggunakan metode smart memorizing pada peserta sambil mempraktekkannya.
  • Praktek bersama-sama.

Penugasan

1. Membuat cerita yang menarik dan lucu dari gambar-gambar yang telah dihafalkan.

2. Membuat ilustrasi yang menarik sesuai dengan cerita yang telah dibuat.


MATERI

SMART MEMORIZING

Smart memorizing (SM) adalah tekhnik menghafal yang kembangkan dari metode pembelajaran quantum (Quantum Learning). Di mana seseorang menghafal, bukan saja menghafal pesannya saja tapi juga mengembangkan kesan yang kuat dari materi atau objek yang dihafalkan. Di dalam metode ini, dikembangkan proses pembelajaran yang berbasiskan pada kreatifitas pembelajaran dan rasa senang dalam belajar.

Terdapat dua penekanan utama dalam metode ini yang perlu dijelaskan di awal untuk memudahkan pemahaman terhadap tekhnik SM. Yang pertama adalah rasa senang dalam belajar (Learning with Fun), artinya rasa senang dan ekspresi kesenangan dihadirkan sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. Sebagai ilustrasi, pada saat berada di bangku kuliah atau sekolah, kita cenderung lebih mudah mengingat materi yang disampaikan oleh dosen/guru yang disukai daripada dosen/guru yang tidak disukai. Kita akan memiliki semangat yang kuat dalam belajar, jika kita tahu sesuatu yang spesial akan diperoleh jika mendapatkan hasil atau nilai yang bagus. Contoh lain, seorang atlet memiliki motivasi berprestasi yang kuat jika ia memperjuangkan sesuatu yang sangat berkesan baginya.

Konsep menghadirkan kesenangan dan kebahagiaan dalam proses belajar, didasarkan atas temuan dari Dr. Daniel Goleman (dalam DePorter, 2007: 22) yang menyatakan bahwa:

Dalam tarian perasaan dan pikiran, kekuata emosi menuntun keputusan kita saat demi saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional, mengaktifkan atau menonaktifkan pikiran itu sendiri. Bisa dibilang, kita mempunyai dua otak, dua pikiran, dan dua jenis kecerdasan: rasioanl dan emosional. Bagaimana kita berkiprah dalam hidup dan belajar ditentukan oleh keduanya, bukan hanya IQ, melainkan kecerdasan emosional juga berperan.

Dan lebih dari penjelasan dari Goleman di atas, dapat ditemukan juga hasil penelitian dari Howard Gardner, seorang peneliti dan psikolog dari Harvard University, yang menjelaskan tentang kecerdasan berganda. Ia menyebutkan bahwa (dalam DePorter, 2007: 23):

Kita harus menggunakan keadaan positif anak untuk menarik mereka ke dalam pembelajaran di bidang-bidang di mana mereka dapat mengembangkan kompentensi….Anda belajar dengan segenap kemampuan jika Anda menyukai hal-hal yang Anda pelajari dan Anda senang jika terlibat dalam hal tersebut.

Atau dengan kalimat yang berbeda dari Dr. Robert Sylwester, dalam bukunya A Celebration of Neurons (dalam DePorter, 2007: 23) bahwa:

Dengan memisahkan emosi dari logika dan pemikiran dalam kelas, kita telah menyederhanakan manajemen sekolah dan evaluasi, tetapi kita juga telah memisahkan dua sisi pada sebuah koin, dan akibatnya, kehilangan suatu hal yang penting. Kita tak mungkin bias memisahkan emosi dari kegiatan penting lain dalam kehidupan. Jangan coba-coba…..

Dengan demikian, dapat temukan sebuah benang merah dalam proses pembelajaran bahwa seyogyanya pendidikan adalah sesuatu yang menyenangkan bukan menjadi beban bagi siapa pun baik guru lebih-lebih bagi para murid. Dapat dibayangkan pendidikan yang telah kita lalui mulai dari pendidikan tingkat dasar hingga sekarang, merupakan proses perjalanan panjang yang tiada hentinya. Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing apakah proses panjang ini dilalui dengan perasaan senang, ataukah justru sebaliknya kita sangat terbebani, atau mungkin kita lalui sebagai bagian yang tidak bisa dihindari sehingga mau tidak mau tetap harus dijalani dengan segenap emosi apa pun dan beban apa pun.

Merujuk pada fenomena yang terjadi di dunia pendidikan yang terdapat di Indonesia – yang pada umumnya – masih berpola konvensional dalam sistim pembelajarannya maka dapat dipastikan sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses kegiatan belajar-mengajar, lebih-lebih melihat pendidikan di Indonesia yang masih berpola satu sisi yaitu menggerakkan otak kiri saja tanpa menghadirkan otak kanan. Artinya pendidikan yang menghadirkan keseriusan yang kering akan kesenangan di dalamnya. Pendidikan yang mengharuskan peserta didik untuk menghafal sekian banyak materi (informasi) tanpa mereka mengetahui manfaat, keuntungan dari mempelajari materi-materi tersebut (kesan).

Hal yang kedua yang akan dijelaskan sebelum mempraktekkan SM adalah pola pembelajaran yang kreatif. Artinya pembelajaran yang tidak bersifat monoton dengan jenis kreatifitas yang terbatas pada satu jenis saja, tetapi dengan menggunakan berbagai kemungkinan metode psikomotorik selama proses pembelajaran. Saya kira untuk mendalami kebijaksanaan kreatifitas ini dapat dilihat misalnya dalam Film Freedom Writers. Di mana seorang guru Bahasa Inggris menemui kendala untuk menyampaikan materi pembelajarannya. Ia berada pada sebuah komintas sekolah yang penuh dengan stereotipe rasial yang sangat kentara, sekolah yang terpolarisasi oleh geng-geng remaja, sekolah yang penuh dengan kenakalan remaja, dan berbagai masalah lainnya. Di antara kebingungannya, si guru ini menemukan metode kreatif yang sangat tepat untuk dilaksanakan dalam kegiatan belajar-mengajarnya.

Menurut hemat penulis, guru-guru di Indonesia pun pada dasarnya mampu melaksanakan ini dengan terus memikirkan dan mengembangkan metode-metode kreatif yang memungkinkan untuk dipraktekkan dalam situasi yang mereka butuhkan. Dalam kreatifitas ini, peserta didik dan fasilitator pada intinya berada dalam kondisi belajar dan bermain (Learning with Game)

Dengan demikian, terdapat dua hal yang menjadi dasar dalam SM, yaitu Learning with Fun dan Learning with Game. Dimana kedua hal ini untuk menggerakkan kedua belah otak kiri dan kanan secara lebih optimal dan bekerja secara sinergis. Otak kiri akan menyimpan informasi sedemikian rupa, sementara otak kanan menyimpan kesan dan aspek artisitik dan kreatif dari informasi yang didapat, seperti otak kiri mengingat lirik lagu dan otak kanan mengingat nada-nadanya.

Gambar 1 Fungsi otak kiri-otak kanan

(Microsoft Encarta Encyclopedia 2004)

MENGHAFAL PESAN ATAU MENDAPATKAN KESAN

Sebagaimana telah disebutkan di awal SM, bukanlah metode menghafal pesan sebaliknya perpaduan antara penerimaan pesan dan internalisasi kesan dalam memori dengan tujuan untuk membentuk memori jangkan panjang (long term memory – LTM). Dengan metode ini pesan yang telah diterima tidak mudah hilang dari memori, atau dalam istilah masyarakat “masuk telinga kanan keluar telingan kiri”.

Praktek I

Coba hafalkan kata-kata berikut secara berurutan dalam waktu 4 menit. Setelah itu sebutkan secara berurutan:

Dapatkah Anda menghafalkan semuanyanya? Atau Anda mengalami kesulitan untuk mengingatnya? Tapi bagaimana jika kita menggunakan metode yang seperti ini:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s