BERTUTUR MENURUT CARA ISLAM.

BERTUTUR MENURUT CARA ISLAM.

Dalam pertuturan, Islam menitik beratkan perkara-perkara berikut:-
i.Perkataan yang bermenafaat

ii.Tidak lucah, kotor dan keji

iii.Istilah yang sopan dan mudah difahami

iv.Menggunakan nada yang sesuai dengan suasana

v.Tiada unsur-unsur pembohongan, fitnah umpatan dan sebagainya.

Demikianlah contoh-contoh sudut kehidupan yang sering kita terlupa bahawa sudut-sudut itu perlu diserasikan dengan Islam dan tidak terasing daripadanya.

BERPAKAIAN MENURUT CARA ISLAM

Sebagai cara hidup yang lengkap, Islam juga mengatur penganutnya cara berpakaian iaitu:-

i.Menutup aurat

ii.Tidak berpakaian ala-perempuan/lelaki

Dalam soal berpakaian Islam amat menitik beratkan agar pakaian kita menggambarkan kita sebagai muslim.

BERSAHABAT MENURUT CARA ISLAM
Setiap muslim mesti hidup bermasyarakat. Hidup bersahabat dalam Islam mesti dalam lingkungan yang dibenarkan oleh syara’ iaitu:-

i.Bergaul dengan rakan-rakan yang baik akhlak dan taat beragama.

ii.Jauhilah dari bersahabat baik dengan rakan-rakan yang mendorong kepada perkara maksiat.

iii.Carilah rakan-rakan yang boleh berkongsi suka dan duka.

BERHIBUR MENURUT CARA ISLAM

Islam menegah umatnya sentiasa dalam keadaan murung dan sedih.

Berhibur menurut cara Islam dikira berpahala jika
i.Hiburan yang tidak ada unsur-unsur lucah, menghina agama,
menaikkan syahwat’ dan memuja agama lain dan lain-lain.

ii.Hiburan yang tidak melalaikan dari mengerjakan suruhan kewajipan agama.

iii.Hiburan yang tiada percampuran lelaki dan wanita

iv.Hiburan yang tidak melalaikan dari mengerjakan kewajipan dunia.

v.Tiada berlaku pengagungan artis.

BERSUKAN MENURUT CARA ISLAM

Islam lebih menyayangi penganutnya yang kuat lagi cergas daripada umatnya yang berpenyakit, malas dan lembik. Aqal yang sihat terletak pada tubuh badan yang sihat.

Permainan kita dianggap berpahala oleh Allah S.W.T. apabila perkara-perkaratersebut diraikan:-

i.Matlamat kita bermain adalah supaya badan kita sihat seterusnya kita mampu beribadat kepada Allah S.W.T.

ii.Permainan kita tiada unsur-unsur perjudian.

iii.Kemenangan atau kekalahan bukanlah semata-mata matlamat sebaliknya kesihatan dan ukhuwah diutamakan.

iv.Berpakaian menutup aurat dan tiada percampuran lelaki dan
perempuan.

v.Permainan tidak dicemari dengan kata-kata lucah.

vi.Tidak mengabaikan suruhan agama dan kewajipan dunia seperti menunaikan solat dan menuntut ilmu..

etika bebicara

Setiap orang pasti ingin selalu berbicara. Namun, tidak setiap orang yang berbicara itu mempunyai memperhatikan etika dalam menyampaikan pesannya. Sebagai Muslim, hendaknya dalam berbicara, kita memperhatikan beberapa etika yang bisa mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Di antara etika berbicara yang dianjurkan oleh Islam adalah;
pertama, hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan. Allah SWT berfirman, ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS Annisa [4]: 114).

Kedua, sebaiknya orang berbicara dengan suara yang jelas agar dapat didengar, tidak terlalu keras, tidak pula terlalu pelan. Selain itu, jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW bersabda, ”Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Ketiga, hendaknya orang yang berbicara jangan membicarakan semua apa yang didengar, sebab bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa. Nabi SAW bersabda, ”Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Nabi SAW bersabda, ”Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Kelima, berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aisyah RA menuturkan, ”Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya.” (Mutta-faq’alaih).

Keenam, hindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Nabi SAW bersabda, ”Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun.” Para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apa arti mutafaihiqun?” Nabi menjawab, ”Orang-orang yang sombong.” (HR At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Terakhir, dalam berbicara sebaiknya kita menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS Alhujurat [49]: 12).

Semoga setiap pembicaraan yang kita lakukan menjadi bermanfaat dengan memperhatikan etika berbicara. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s