KEBEBASAN BERPENDAPAT DI KALANGAN INTELEKTUAL MUDA(MAHASISWA) PERLU PEMUPUKAN.

KEBEBASAN BERPENDAPAT DI KALANGAN INTELEKTUAL MUDA(MAHASISWA) PERLU PEMUPUKAN.

OLEH: Tri Heni W

Yogyakarta adalah kota pelajar di sini banyak sekali tempat-tempat untuk menimba ilmu baik formal maupun informal.Pendidikan formal ada baik dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi.Di kota kecil yogyakarta ini ada banyak sekali pilihan sekolah formal,Dari sekolah yang bertaraf biasa dan bertaraf internasionalpun tersediaa dikota kecil ini,Dan sekolah yang berbiaya murah dan berbiaya mahal juga tersedia tergantung dari keampuan finansial saja dalam bidang nonformal banyak sekali pesantren-pesantren yang bermunculan di kota ini dari pesantren yang masih mengajar secara konvensional maupun pesantren yang sudah modern semua tersedia untuk pengembangan ilmu agama para generasi muda.Dan banyak sekali para generasi muda yang datang dari penjuru pelosok negeri ini untuk menimba ilmu agar kelak di kemudian hari dapat mengembangkan diri menjadi generasi muda yang bermanfaat untu bangsa dan negara ini.Dan kampus salah satu tempat yang menjadi tujuan para generasi muda datang dari daerah-daerah yang ada di negeri ini untuk mengembangkan minat dan bakat mereka sesuai dengan bidang yang mereka inginkan dan mereka anggap mampu untuk menekuninya.Dunia kampus adalah tempat para generasi muda menimba ilmu,Namun selain tempat pendidikan formal diharapkan kampus juga adalah sebagai tempat pengembangan sikap diri karena di masa ini negara ini tidak hanya membutuhkan manusia yang pandai dalam ilmu-ilmu tertentu atau yang sering kita sebut para kaum intelektial namun negra ini juga memburuhkan generasi yang kritis dan dinamis untuk selalu berpendapat dan mengeluarkan ide-ide untuk kemajuan bangsa dan negara ini.Karena di negara ini banyak sekali orang yang pandai dalam segala ilmu namun setelah menjadi pelaksana negara mereka lupa menggunakan ilmu mereka untuk kemajuan kehidupan bangsa dan negara namun mereka hanya menggunakanya untuk kepentingan dirimereka semata.Sehingga dengan adanya hali itu mereka cenderung merugikan negara terutama menyengsarakan rakyat banyak di seluruh pelosok negara ini.Oleh karena itu di harapkan kampus tidak hanya mencetak generasi yang pandai dalam hal ilmu saja namun juga harus menciptakan generasi muda yang peka terhadap lingkungan dan juga generasi muda yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat baik didalam kampus maupun diluar kampus karena hal itu berfungsi sebagai kontrol sosial untuk melindungi pihak-pihak yang lemah.

Kebebasan berpendapat mahasiswa hendaknya tidak dipasung. Kepada para mahasiswa justru harus didukung untuk mengembangkan kebebasan berpendapat dan kebebasan mimbar. Dengan cara ini, maka upaya peningkatan pemahaman nilai-nilai humanisme akan terpenuhi karena pada dasarnya mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan untuk kemajuan bangsa dan negara agar tercapai apa yang menjadi cita-cita bangsa indonesia yaitu menciptakan negara yang adil dan makmur.Oleh karena itu kampus sebagai tempat generasi muda menimba ilmu pengetahuan harus juga memberi fasilitator agar generasi muda dapat mengembangkan diri dalam bersikap kritis karena dengan sikap tersebut mahasiswa akan dapat menyumbangkan daya pikirnya untuk kemajuan bangsa dan negara.Oleh karena itu kampus harus mendukung kebebasan berpendapat para mahasiswa dengan memberikan kebebasan kepada mahasiswa agar bersikap kriti terhadap apapun baik dalam hal kebijakan

“Oleh karena itu, saya akan memberikan waktu saya-paling tidak sebulan sekali-untuk selalu bertemu dengan wakil-wakil mahasiswa, membicarakan apa saja. Para mahasiswa berhak kritis, bahkan harus kritis, dan mengatakan secara jujur apa adanya. Dengan demikian, kita mendidik mahasiswa untuk bisa memilih nilai yang dianggap benar. Saya tidak ingin membuat mahasiswa menjadi robot,” kata Dr Paulus Suparno SJ MST, rektor baru Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta masa bakti tahun 2001-2005, usai pelantikan, Sabtu (11/8). Dr Paulus Suparno SJ menggantikan Dr M Sastrapratedja SJ yang sudah menjabat rektor selama dua periode. ( KOMPAS:11/8 )

Dikatakan, kejujuran mahasiswa dalam menanggapi persoalan yang ada di kampus maupun di luar kampus sering disuarakan terlalu keras melalui mimbar bebas atau majalah. Hal ini, sering kali menimbulkan reaksi “kurang enak” dari yang lain. “Soal cara, tentu bisa dicari pemecahannya atau dipelajari. Tetapi, terus berpikir kritis adalah sebuah keharusan yang dimiliki mahasiswa. Salah satu upaya untuk melatih mahasiswa kritis adalah melalui kebebasan berpendapat atau kebebasan mimbar,” lanjut Paulus Suparno.

Ditambahkan, dengan membuat mahasiswa kritis, diharapkan mampu mengurangi ketidaktahuan mereka untuk dijadikan alat mencapai tujuan oleh orang atau kelompok lain. “Untuk itu, kita perlu bicara bersama, dan sekali lagi, jangan sampai mahasiswa hanya menjadi robot,” tambahnya.

Mengacu pada peran universitas pada seminar menjelang pergantian Dekan akhir Juli ini, disebutkan bahwa universitas merupakan medium untuk melayani masyarakat. Secara spesifik disebut masyarakat yang terdiri dari kaum muda. Dalam seminar yang mengulas sambutan Pater Jenderal Serikat Jesus, Peter-Hans Kolvenbach SJ, itu disebutkan, melalui lembaga bernama universitas, ia bukan berdiri sebagai menara gading. Universitas tidak ada bagi dirinya sendiri, tetapi bagi masyarakat. Namun, apa pun konteksnya, universitas harus memberi tantangan pada masyarakat. Dalam interaksi pengaruh timbal-balik yang tidak sama, konteks lokal dan global mempengaruhi universitas, dan universitas terpanggil untuk mempengaruhi masyarakat secara lokal dan global.

Paulus Suparno menegaskan tiga hal yang akan menjadi prioritasnya. Pertama, keterbukaan dan membina kerja sama antarfakultas. Kedua, masalah kesejahteraan pegawai, terutama bila dikaitkan dengan peraturan pemerintah yang baru. “Mau tidak mau saya harus banyak bicara dengan yayasan. Selain itu, juga diperlukan transparansi. Karyawan atau dosen juga perlu tahu seluruh pendapatan, berapa yang dikeluarkan rutin, dan keperluan-keperluan lain,” tambahnya. Ketiga, pemahaman nilai-nilai humanistik dalam segala bidang. (KOMPAS)

Sementara itu, Sekretaris Pelaksana Kopertis V Drs Ari Sudarman MEc mengingatkan tiga hal menonjol yang akan mempengaruhi perkembangan perguruan tinggi swasta (PTS), yaitu persaingan antarperguruan tinggi yang makin ketat, tuntutan masyarakat akan kualitas pendidikan dan layanan yang semakin tinggi, serta pemberian otonomi pemerintah pusat yang semakin besar.

Lembaga pendidikan formal sepertinya mengingkari ternyata mengingkari kesetiaanya, oleh karena meski didalam literatur akademik simultan, fungsi konserfatiflah yang masih dominant. Bukti konsefatifme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Menurut Ash Hartwell, diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori-teori dan ide-ideilmiah untuk dapat mempengaruhi isi, proses, dan sruktur persekolahan (sudarwan denim:2003).

Indikasi yang belum menunjukkan karakter geliat progresivitas dalam pendidikan hendaknya dicari pemecahanya secara real. Jangan kemudian transformasi ilmu pengetahuan menemui kendala yang menghambat laju perubahan dan perkembangan pendidikan masyarakat. Koesnadi hardjosoemantri menuliskan bahwa Perguruan Tinggi di negara maju dan Negara berkembang peranya sangat berbeda. Di Negara-negara maju, peran perguruan tinggi tidak dituntut untuk banyak berperan dalam masyarakat, akan tetapi di Negara berkembang dengan basis kognitif masyarakatnya yang masih rendah, menuntut perguruan tinggi untuk selalu membantu dan berperan dalam masyarakat (swara:2006). Maka dari itu progresitivitas dalam pendidikan, terutama di Negara-negara berkembang harus terus ditingkatkan untuk memenuhi dan menjawab masalah-masalah di masyarakat yang dinamis. Ia harus benar-benar fungsional dan bertanggung jawab bagi pengembangan keilmuan dengan penuh integritas.

Perkambangan Universitas yang mengarah kesuatu lembaga yang professional dan teknokrat memang tidak bisa dibantah. Hal itu tentu harus dibarengi dan tidak terlepas dari ketersediaan dana dan pengelolaanya yang profesional. Universitas hendaknya tidak hanya mengandalkan dana dari satu sisi saja tetapi dapat juga menggali dari stake holder yang terlibat dan peduli di dalamnya. Hal itulah yang kemudian sekarang memunculkan istilah otonomi Universitas.

Penulis adalah mahasiswa Pkn 04

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s