Pola pergaulan menurut kristen

pola pergaulan menurut kristen

Ajaran Moral ini mengingatkan kita akan Kasih dan Kebijaksanaan Yesus terhadap orang yg justru sudah bersalah/ketangkap basah, kata Yesus :
“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
“Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” “Aku juga tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi ”
(Bdk Yohanes 8:2-11)

Sila dalam Buddha Dharma sering diterjemahkan sebagai moral, kebajikan, atau perbuatan baik.” Dalam pengertianl Sila dan Vinaya dijelaskan bahwa Ajaran Buddha tentang Sila adalah etika Buddhis, petunjuk dan latihan moral yang membentuk prilaku yang baik. Sedangkan menurut Kosa Kata Bahasa Pali, Sila dalam pengertian luas padanannya adalah “etika” sedangkan dalam pengertian sempit padanannya adalah “moral”.

Buddhaghosa dalam Kitab Visuddhimagga menafsirkan sila sebagai berikut ; Pertama , sila menunjukkan sikap batin atau kehendak (cetana); Kedua ,menunjukkan penghindaran (virati) yang merupakan unsur batin (cetasika); Ketiga , menunjukkan pengendalian diri (samvara); dan ke empat menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah di tetapkan (avitikhama) . Hal-hal tersebut dinamakan sila karena mengandung dua aspek mendasar yaitu; pertama, menimbulkan harmoni dalam hati dan pikiran (samadhana), dan ke dua mempertahankan kebaikan dan mendukung pencapaian batin yang luhur (upadharana).

Ciri yang menonjol dari Sila adalah ketertiban dan ketenangan. Fungsi (rasa) dari sila adalah menghancurkan kelakuan yang salah dan menjaga seseorang agar tetap tidak melakukan tindakan yang salah. Manifestasi (paccupatthana) dari sila adalah kesucian, baik dalam perbuatan, ucapan, ataupun pikiran. Sebab terdekat yang menimbulkan (padatthana) sila adalah adanya tahu malu( hiri) dan takut akan akibat perbuatan yang salah (ottappa).

Menurut bentuknya sila dibedakan atas dua aspek perumusan; negatif (varitta-sila) dan positif (caritta-sila). Yang pertama penolakan terhadap perbuatan yang buruk, dan yang kedua merealisasi terhadap perbuatan yang baik. Setiap rumusan sila mengandung aspek yang berpasangan, dan saling bergantungan. Kedua aspek tersebut jelas terlihat pada semua ajaran Buddha: Jangan berbuat jahat, kembangkan perbuatan bajik, dan sucikan pikiran. (Dhammapada; 183)

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s