STPI Curug Bisakah Bangkit Kembali?

STPI Curug Bisakah Bangkit Kembali?

Ironis nian nasib Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), Curug saat ini. Jika pada dasawarsa 1970-an lembaga pendidikan ini pernah dikenal sebagai sekolah penerbang terbesar di Asia, kini Curug tampak menyedihkan. Sementara dunia penerbangan nasional tengah mengalami pertumbuhan pesat, sekolah utama pencetak pilot di Indonesia ini justru sedang terseok-seok kekurangan fasilitas pendidikan, termasuk pesawat latih untuk menggembleng skill penerbang siswa. Selain itu, langkanya bahan bakar avigas pun ikut memperparah kelangsungan sekolah ini. Pesawat-pesawat latih Curug kini sudah tak lagi terbang dan teronggok begitu saja di hanggar dan apron. Berbagai permasalahan kini begitu ruwet mendera mereka. Diam sajakah Pemerintah? Bisakah mereka kembali bangkit?

Penulis: Gatot Rahardjo/Angkasa
Apa yang dikatakan Presiden ICAO (International Civil Aviation Administration), Roberto Kobeh Gonzales, awal Agustus lalu di Denpasar, Bali, mendekati kenyataan. Dunia penerbangan Indonesia, katanya, sangat timpang karena tidak berimbangnya segi bisnis dengan sumber daya manusia (SDM). Akibatnya, banyak terjadi pembajakan serta pengarbitan SDM. Hal ini merupakan bahaya laten yang amat membahayakan aspek keselamatan penerbangan.

Untuk langkah antisipasi, sarannya, laju petumbuhan bisnis penerbangan nasional harus diperlambat. Fakta ini tidak bisa dilepaskan dari sektor pendidikan penerbangan di Indonesia. SDM Lembaga pendidikan dengan sistim yang baik, lengkap sarana dan prasarana pengajaran, serta kualitas dan kuantitas pengajar atau instruktur yang tinggi, tentu akan menghasilkan lulusan yang mumpuni dan berkompetensi.

Sejatinya, untuk memenuhi semua kriteria itulah STPI Curug didirikan. Lembaga pendidikan penerbang ini didirikan pada 1 Juni 1952 dengan nama awal Akademi Penerbangan Indonesia (API). Lembaga ini semula bertempat di Gempol, Kemayoran, Jakarta. Akademi ini berulang kali berubah nama. Sesuai dengan perkembangan kurikulum dan ilmu yang diajarkan, akademi ini kemudian diubah menjadi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) pada tahun 2000.

Visi STPI adalah menghasilkan lulusan yang diakui secara nasional dan internasional untuk menuju pusat unggulan (centre of excellent) yang berstandar internasional. Sementara misinya adalah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta penelitian teknologi terapan di bidang penerbangan. Dengan hal itu diharapkan akan mampu menghasilkan SDM di bidang penerbangan yang berkualitas internasional, mampu bersaing, mandiri dan profesional. Saat ini mereka menggelar empat jurusan, Jurusan Penerbang, Jurusan Manajemen Penerbangan, Jurusan Keselamatan Penerbangan, dan Jurusan Teknik Penerbangan.

Melambungnya kurs dollar AS terhadap rupiah telah membuat Pemerintah kelimpungan memenuhi anggaran pendiudikan yang sebagian besar harus dipatok dalam dollar. Hal ini bisa dimaklumi karena untuk me-maintain kesiapan pesawat, mau tak mau harus ditutup dengan dollar. Maka, dana Rp 25 miliar yang telah disiapkan per tahun pun nilainya langsung anjlok. Akibatnya, satu persatu pesawat pun “bertumbangan”. Pesawat-pesawat ini terpaksa dibiarkan teronggok di pelataran atau hanggar setiap kali jam terbangnya habis dan harus overhaul.

Tak kuat menahan penderitaan, STPI pun menutup Jurusan Penerbang – jurusan yang justru menjadi trademark dari sekolah ini.

Kurang antisipasi
Sebenarnya, dari segi kuantitas, Curug masih berjaya. Lulusannya masih meraja di segenap perusahaan penerbangan nasional. Mereka eksis sebagai operator maupun regulator. Sejak tahun 2000 sampai 2006 saja, jumlah lulusan Jurusan Teknik sudah mencapai 1.011 orang, Jurusan Keselamatan Penerbangan mencapai 1.066 orang, jurusan Manajemen Penerbangan 282 dan Jurusan Penerbang 755.

Jumlah itu, menurut Direktur STPI Darwis Amini, sudah mencukupi. Tetapi bagaimana dengan lulusan penerbangnya? Sejalan dengan menurunya kesiapan pesawat latih, dari tahun ke tahun, jumlahnya pun terus menurun. Tahun 2004 misalnya hanya diretaskan 31 orang, tahun 2005 sempat naik jadi 101, tetapi pada 2006 turun lagi jadi 43. Dari sejumlah itu pun tidak semuanya pilot pesawat tetap. Duapuluh di antaranya adalah Flight Operator Officer.

Untuk jurusan penerbang Curug persisnya membuka tiga program studi (prodi), yakni pilot pesawat sayap tetap, FOO, dan pilot helikopter. Namun dari ketiga prodi ini baru dua prodi pertama yang jalan. Prodi pilot helikopter sampai saat ini belum efektif berjalan.

Turunnya kesiapan pesawat mau tak mau juga membuat jadwal wisuda mulur. Pasalnya, untuk memenuhi jam terbang dan ujian solo, semua taruna harus antri menunggu kesiapan pesawat. Angkatan 59 yang sedianya diwisuda September ini, misalnya, selanjutnya mundur ke lain waktu.

Menurut Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Departemen Perhubungan Dedi Darmawan, yang membawahi STPI Curug, semua itu tak lepas dari kurangnya antisipasi Pemerintah. Liberalisasi dalam bisnis penerbangan tiba-tiba membuat mereka kalang kabut memenuhi kebutuhan pilot yang makin melambung. Masalah ini setidaknya mendera hingga tahun 2006.

Pada 2007, Badan Diklat Perhubungan akhirnya bisa bernafas lega. Anggaran pendidikan di Curug meningkat pesat. Dari sekitar Rp 25 miliar menjadi sekitar Rp 130 milyar. Jumlah ini belum termasuk rencana pembentukan beberapa laboratorium dan simulator pesawat jet. Curug juga diberi kebebasan mengembangkan diri dengan membangun sistim pendidikan tersendiri yang dianggap cocok untuk bangkit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s