Bedah Pemikiran Adonis

Jaringan Islam Liberal Bedah Pemikiran Adonis

Nara Sumber : M. Jadul Maula & Ulil Abshar-Abdalla

Moderator : Abdul Moqsith Ghazali

Moderator (Abd Moqsith Ghazali):

Teman-teman sekalian, di depan kita sudah hadir dua pembicara sebagai pengantar awal diskusi ini. Yang pertama adalah Muhammad Jadul Maula, direktur eksekutif LKiS Jogjakarta dan yang kedua Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal. Saya berharap Jadul dapat mengambil bagian pertama untuk berbicara pemikiran-pemikiran keislaman Adonis. Saya melihat Jadul telah membawa salah satu karya penting Adonis, yaitu al-Tsabit wa al-Mutahawwil. Bagian kedua, Ulil Abshar Abdalla akan berbincang tentang perspektif kebudayaan Adonis, karena Adonis memang seorang budayawan. Ulil tampaknya telah memegang buku Adonis yang lain yang berjudul al-Kitab dan al-Nashsh al-Qur`aniy wa Afaq al-Kitabah. Buku al-Kitab saya lihat merupakan antologi dari puisi Adonis.

M. Jadul Maula

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada temen-temen JIL yang memberi kesempatan kepada saya untuk mengembangkan beberapa kalimat tentang Adonis, sesuatu yang beberapa tahun ini terus-menerus saya tunda. Undangan JIL ini membuat saya membuka-buka kembali buku-buku Adonis. Sebenarnya, konsentrasi saya masih terpecah antara membaca buku Adonis dan mengingat-ingat pengalaman perjumpaan saya dengan buku Adonis yang berjudul “al-Tsabit wa al-Mutahawwil”. Saya tidak tahu mengapa saya mendapatkan buku Adonis itu. Persisnya, saya mendapatkan buku itu pada tahun 90-an. Namun, saya sudah lupa apakah saya pernah membaca buku itu atau belum. Kalau sudah, bagian yang mananya yang sudah dibaca, saya juga tidak tahu. Lalu, sekarang saya mesti mendiskusikan buku Adonis itu.

Terus terang, perjumpaan saya pertama kali dengan buku Adonis itu diawali oleh sebuah mimpi. Barangkali ini satu-satunya satu-satunya perbuatan saya yang dilakukan karena dorongan mimpi. Al-kisah, saya bermimpi dikejar-kejar seorang polisi bersama dengan seorang teman saya yang seorang aktivis. (Saya dengan teman aktivis itu pada tahun 90-an memang lagi seneng-senengnya berdemonstrasi). Dalam mimpi, saya dengan teman aktivis itu diburu oleh beberapa polisi ke tempat-tempat persembunyian yang ahirnya sampai di rumah seorang kyai. Dalam mimpi itu, kiai tersebut menyuruh saya untuk membeli kitab Badai` al-Zuhur–Ulil sangat tahu isi kitab tersebut. Ketika terbangun saya terheran karena begitu jelasnya seakan tidak dalam mimpi. Saya langsung pergi ke toko buku Beirut yang khusus menjual kitab-kitab kuning. Saya kemudian mencari kitab tersebut, sekali-kali berbuat dengan mengikuti mimpi.

Di luar dugaan, sambil bertanya tentang kitab itu, saya juga melihat kitab Adonis yang berjudul Al-Tsabit wa al-Mutahawwil. Saya baca waktu itu cuma judulnya. Yang saya tahu waktu itu bahwa penulis buku ini adalah seorang pemikir Muslim kontemporer. Kita tahu bahwa masa itu adalah era kegairahan membaca buku-buku keislaman progresif yang ditulis oleh Arkoun, Hassan Hanafi, dan lain-lain. Al-Tsabit wa al-Mutahawwil ini kiranya adalah buku sebangsa itu. Yang aneh, seorang teman bertanya; dimana beli buku ini. Dia lalu datang ke toko buku itu yang ternyata sudah tidak ada lagi. Bahkan, ada

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 1 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

seorang teman dari Mesir yang menyatakan kekagetannya tatkala mengetahui bahwa saya memiliki buku Adonis itu. Menurutnya, di Mesir saja agak sulit mendapatkan buku itu. Saya baca buku tersebut sambil membanding-bandingkan dengan buku-buku Aljabiri, Hassan Hanafi, Arkoun untuk ditempatkan dalam konteks tersebut, walau sebenarnya agak kurang pas.

Baru belakangan saya menyadari bahwa ada hubungan antara kitab Bada`i al-Zuhur dan al-Tsabit wa al-Mutahawwil Adonis. Artinya, bahwa mestinya kita memperlakukan buku pertama-tama bukan sebagai bahan diskusi untuk mencari pemikiran Islam yang baik dan benar; atau analisis yang mendalam tentang metodologi ushul fikih. Buku harus diperlakukan sebagai satu cerita. Bahwa buku punyak konteksnya sendiri, tak terkecuali konteks kearaban buku Adonis itu. Jadi titik tolak Adonis dalam menulis bukunya itu bukan karena–mungkin seperti kegelisahan teman-teman JIL dan temen temen yang lain–merebaknya fenomena formalisasi Syariat Islam, Laskar Jihad dan sebagainya.

Titik tolak kegelisahan Adonis dalam menulis buku ini, pertama kali karena penelitian puisi. Adonis membaca puisi-puisi Arab sejak zaman kuno sampai abad-20. Dia ingin membuat satu diwan, satu antologi. Ia kemudian terkaget ketika membaca semua puisi itu selalu menggerakkan pembacanya ke masa lalu. Ada semacam otoritas yang selalu menarik pembacanya ke imajinasi, nalar, prosedur, pembenar lalu kembali ke masa lalu. Dengan ini, ia lalu gelisah. Jadi, kegelisahan Adonis sebagai budayawan adalah mengapa kultur Arab itu tidak bisa hidup di zaman sekarang dengan santai, bebas, tanpa kecemasan. Kultur Arab cenderung memusuhi masa sekarang. Hidup di dalam modernitas selalu cenderung dengan kegelisahan dan bermusuhan. Ini karena ada suatu nalar yang menarik ke masa lalu.

Adonis lalu mencari jawaban, salah satunya melalui membaca puisi-puisi briliannya Imru`ul Qais. (Secara pribadi, saya agak kurang senang dengan pola penghafalan puisi-puisi seperti yang diterapkan di Fakultas Adab IAIN). Beberapa puisi yang kayak puisinya Imru’ul Qois itu jadi contoh untuk balaghoh, kayak bifa nabghi min dzirkra habibin wamanzili. Jadi itu menjadi satu yang tidak dianalisis menurut apa ya, tapi untuk membuktikan kehebatan ilmu balaghah dalam menemukan keindahan kata, menemukan tentang kefasihan dan seterusnya. Dia menemukan bahwa tidak seluruh puisi jahiliyah berkecenderungan untuk kembali ke satu yang asal, tetap, pasti, tidak bisa diotak-atik. Dia menemukan bahwa dalam puisi-puisi Imru`ul Qais itu ada satu kebebasan, satu pencarian terhadap konvensi-konvensi, ungkapan, sususan kata, yang tidak mesti mengacu pada ukuran di masa lalu. Itu satu kreativitas. Itu lalu Adonis menjelajahi itu, lalu, jadi supaya gampang kitab ini kita namai kang saukid dan kang mutahawwil, kisah tentang, dulu Muslim Abdurrahman itu kang towil, ini apa kang tsabit dan kang mutahawwil. Nah dia ingin menelusuri sebetulnya bagaimana sejak dahulu kala dalam kultur Arab itu pertarungan antara katakanlah yang menghendaki status quo, tetap, dengan kekuatan yang menghendaki perubahan-perubahan.

Dan dia pada akhirnya menemukan bahwa ternyata agama Islam itu mempuyai peranan yang sangat penting dan menentukan dalam sejarah kultur Arab. Jadi Islam itu baru datang di tanah Arab abad VII, tapi pada akhirnya zaman sekarang kita tidak bisa kembali ke masa lalu sebelum Islam itu datang kecuali melalui filter Islam. Jadi Islam itu sesuatu yang baru sebetulnya, tapi pada gilirannya ia menjadi sesuatu yang menjadi masa lalu dan sekaligus dia menentukan, mendefinisikan masa lalunya sendiri, jadi menjadi

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 2 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

satu kekuatan yang memutus ingatan bangsa Arab terhadap masa lalunya sendiri sehingga mematok hanya Islamlah masa lalu kultur Arab, bangsa Arab. Jadi, sulit lagi dibedakan antara Islam sebagai bangsa Arab, Arab adalah Islam. Dia lalu memfokuskan pada apa saja yang terjadi pada Arab, dia lalu sebetulnya memakai ukuran orang-orang Arab juga, dia pakai ijma’ juga. Dia lalu meneliti produk-produk kultural yang tertulis pada masa-masa yang disepakati oleh para sarjana sebagai masa kodifikasi, masa tadwin, masa pembukuan, masa penulisan beberapa literatur penting dalam masa bangsa Arab.

Dan itu pada abad pertama hijriyah sampai abad ke tiga. Jadi kalau kita baca karya Hassan Hanafi, al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd ketika mereka berbicara al-turats al-qadim itu sebenarnya mengacu kepada produk-produk dari abad satu, ketiga, sampai kelima Hijriah. Jadi, upaya para pemikir Arab kontemporer pun sudah menyepakati satu tradisi penelitian turats yang mengacu pada karya-karya yang terbit yang dicetak pada abad satu sampai abad lima Hijriyah, atau kira-kira abad ke 7M sampai abad 10 M. Dan Adonis pun melakukannya. Disitu mulai dibentuk dan diproduksi satu mushaf, satu keyakinan, satu ketetapan-ketetapan bagaimana Islam itu harus dipikirkan, bagaimana Islam itu mesti diproduksi bagaimana Islam mesti dijalankan itu pertarungannya ada di situ. Keprihatinan Adonis adalah bahwa seolah-olah pada zaman sekarang ini, ketika kita kembali ke masa lalu, jadi semua pertarungan untuk memperebutkan Islam di Indonesia dan seluruh dunia itu selalu kembali ke masa lalu yang satu yang sulit. Keprihatinan adonis adalah kenapa bisa jadi begitu.

Soalnya ketika kita kembali pada sejarah itu ternyata yang namanya al-ashl itu tidak satu, tapi banyak. Jadi, misalnya kenapa kalau kita berfikir silam mesti mengacu kepada al-Qur’an, sumber ajaran Islam. Sekarang orang tidak akan berani, tidak akan mendapatkan legitimasi, berbicara Islam dengan tidak mengutip al-Qur’an. Kalu kita kembali ke masa lalu ternyata itu bukan produk dari sejarah. Itu adalah produk dari sejarah yang pada zaman sebelum hal itu terbentuk, itu sebetulnya banyak sekali kekuatan yang berdebat, yang berperang apakah kalau memikiran Islam itu harus mengutip al-Quran atau tidak. Jadi itu perdebatan. Dalam buku Atsabit wa al-Mutahawwil, konstruksi yang paling kuat, yaitu yang merujuk kepada nash al-Qur’an, diwakili oleh karya Imam Syafi’i. Kekuatan atau gerak yang mengatakan bahwa sejarah masyarakat itu tidak mesti diatur berdasakarkan wahyu, diwakili oleh kelompok-kelompok yang dengan tema itqal al-nubuwah, jadi kalau atheismenya Yunani itu membunuh dewa, atheisme Barat itu membunuh Allah, atheisme Arab itu membunuh Nabi, Nabi telah mati.

Gerakan itu juga sangat kuat. Namun, dalam pertarungan sejarah, kelompok ini kalah dan lalu kena stigma dan selalu dituduh zindik, ilhad. Itu juga sebagian dari pertarungan pada masa lalu yang al-ashl-nya belum ditetapkan satu. Jadi masih belum ada kesepakatan. Lalu Adonis mengatakan bahwa al-Tsabit (yang tetap) itu menjadi identik dengan al-madli (masa lalu), al-itba’ (meniru), mencontoh (taklid), al-daulah al-khilafah, al-jamaah, Allah, persatuan dan seterusnya. Sementara al-mutahawwil adalah al-hadhir, yaitu yang merujuk ke masa depan, al-aql, al-fard (individu), pluralitas, khilaf, al-ibda` (kreasi).

Jadi, Adonis dalam buku ini ingin menceritakan kembali bahwa al-ashl itu tidak tunggal, selalu ada kekuatan yang mendorong kepada yang tetap (status quo), selalu ada kekuatan yang mengajak kepada kemajuan. Sejak zaman dahulu kala itu selalu begitu. Sehingga, dengan cara ini yang ingin dia obati sebetulnya penyakit zaman sekarang.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 3 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Misalnya, dia mengatakan bahwa al-hadatsah yang ditakuti oleh bangsa Arab itu sebetulnya bukan reperesentasi dari Barat. Tetapi, sesungguhnya merupakan representasi dari masa lalu. Dulu orang-orang zindik yang kita takuti, sekarang ini kita selalu membesarkannya menjadi modernitas.

Demikian juga ulama-ulama al-Azhar yang selalu mendeklarasikan untuk kembali kepada nash dan masa lalu. Itu sebetulnya bukanlah reaksi spontan terhadap yang sekarang, tetapi merupakan pelebaran atau pembesaran dari yang dulu sebagai satu kekuatan yang tetap. Dengan begitu, ia mengisahkan kembali bahwa yang pokok (asal) dan masa lalu itu tidak tunggal, tapi selalu ada dua. Dia berharap mengobati kembali penyakit kejiwaan. Saya sering mengatakan bahwa orang Islam atau orang Arab pada zaman sekarang ini selalu berpusat ke atas, ditarik kemasa lalu yang sangat jauh, pusat ke bawah ditarik ke masa depan yang juga tidak pecah. Jadi, oleh modernitas ini pusat ke bawah ini di tarik ke yang tidak terbatas, ke masa depan, lepas lalu ke atas ditarik ke masa lau untuk kembali kepada al-Quran dan hadits. OK mungkin itu pengantar dan terimakasih.

Ulil Abshar Abdalla:

Menambahi apa yang telah disampaikan oleh Jadul. Saya akan mencoba untuk tidak mengulang atau mengambil aspek yang telah diambi oleh saudara Jadul mengenai Adonis. Saya akan mencoba untuk membahas Adonis, meskipun ini masih coba-coba karena saya baru mendapatlkan buku yang akan saya ulas di sini itu baru dua hari yang lalu dari teman yang pulang dari Mesir, buku yang sudah saya tunggu lama karena buku ini dikabarkan kepada saya oleh Adonis sendiri dan saya belum pernah membacanya kecuali baru dua hari yang lalu. Selama dua hari itu saya berusaha keras untuk memahaminya. Saya tidak dapat menangkap secara utuh kata kunci dari buku itu, kecuali hanya lamat-lamat sejumlah sinyal.

Saya lupa tahun berapa Adonis lahir. Yang jelas dia sekarang berumur sekitar 70 tahun, usia yang sudah relatif tua namun masih enerjik dan sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol. Orangnya sangat informil dalam pengertian tidak pernah resmi ketika diajak bicara dan seterusnya. Sekilas posturnya membuat saya ingat Mas Goenawan Muhammad. Saya pernah menyebut, kalau hendak membandingkan antara Adonis dan penulis Indonesia, saya ibaratkan Adonis itu adalah Goenawan Muhammad-nya Timur Tengah. Dia membangun karirnya semula sebagai seorang penyair, tapi kemudian menonjol sebagai seorang pengulas dan pengkritik budaya, budayawan yang cukup dihormati di Timur Tengah. Dia berasal dari Syiria. Saya bertemu dengan dia setahun yang lalu di Berlin dalam satu konfrensi mengenai Islam dan Eropa. Dia hadir dalam forum itu untuk membaca puisi dan memberikan orasi. Dia bercerita sejarah kepenulisannya yang sangat menarik. Dia menulis pertama kali pada umur sekitar 16 dan 15 tahun, saat ia masih duduk dibangku SMA. Pada masa itu, ia menulis masih menggunakan nama aslinya, yaitu Ali Ahmad Said. Pertama kali ia mengirimkan tulisannya dalam bentuk puisi ke sebuah majalah lokal di Syiria.

Ketika itu, dia sama sekali tidak dikenal sebagai penulis. Namun, sang redaktur luar biasa kaget ketika membaca keindahan dan kedalaman makna puisi anak muda itu. Sebelum puisi itu dimuat, sang redaktur betul-betul sama penulis puisi tersebut hingga akhirnya ia dipanggil untuk menemui sang redaktur. Si redaktur kemudian tambah kaget bahwa ternyata si penulis puisi tersebut adalah seorang anak muda yang baru berumur 16

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 4 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

tahun. Dan tentu dimuat karya itu dan setelah itu ia kemudian diangkat sebagai redaktur di majalah tersebut. Sebenarnya cerita kecil ini menunjukkan bahwa dia sebetulnya mempunyai bakat yang luar biasa untuk menjadi seorang penyair hebat. Dan memang kemudian dia lahir sebagai seorang penyair yang besar di dunia Arab sekarang ini. Dia mungkin sekarang ini salah seorang penyair terbesar di dunia Arab dan dia adalah penulis yang sangat prolifik sekali. Bukunya mungkin sampai sekarang sudah 30-an. Buku yang diulas oleh Saudara Jadul, Atsabit wa al-Mutahawwil, sesuatu yang tetap dan berubah, artinya, itu sebetulnya semula merupakan disertasi di Beirut di Fakultas Sastra. Dia juga mempunyai antologi puisi, kemudian dia juga membuat suntingan-suntingan terhadap puisi Arab klasik maupun modern, banyak sekali. Kemudian, yang menarik buat saya, dia adalah menyunting sejumlah teks-teks yang bukan sastra saja tapi juga teks-teks keagamaan. Misalnya dia menyunting teks-teks dari Muhammada Abduh.

Dia membuat kutipan-kutipan yang dianggap relevan dari Muhammad Abduh, kemudian Rasyid Ridla, seorang intelektual Islam dari Mesir. Yang menarik adalah dia menyunting dari tulisan Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabiyah. Jadi saya rasa sesuatu yang agak aneh karena hampir seluruh karir intelektual Adonis itu dipakai untuk mengkritik apa yang ia sebut sebagai al-Tsabit, sesuatu yang konstan, stagnan, tetap dalam budaya Arab dan itu salah satu-nya diwakili dalam corak pandangan keagamaan yang literalistik. Tapi dia, saya tidak pernah baca buku ini. Saya kira menarik, apa yang membuat dia tertarik kapada Muhammad bin Abdul Wahab dari segi apanya, karena ini pendiri Wahabiyah dan saya kira tidak ada yang menarik dari Wahabiyah.

Akan tetapi, Adonis membuat suntingan, kumpulan beberapa kutipan yang dia anggap relevan menarik dari pendiri gerakan Wahabiyah ini. Ini sekilas dari karya Adonis. Karya yang sekarang ini ada di tangan saya, ini karya yang dia anggap dalam pengakuan dirinya sendiri sebagai karya terbesar dia yang dia sebut sebagai magnum opus dia sendiri. Ketika saya tanya, apa karya yang paling membanggakan dari diri anda, dia mengatakan kitab yang baru dilesaikan 4, 3 tahun yang lalu judulnya al-Kitab, artinya kitab, sudah jelas tidak perlu diterjemahkan, gerr.

Tetapi Sebelum saya masuk mungkin perlu kata pengantar kenapa al-Kitab itu adalah judul yang bermakna sekali. Dalam tradisi penulisan sastra Arab, di dalam sejarah intelektual Arab, hanya ada satu kitab yang judulnya Al-kitab sebelum Adonis, jadi disebut sebagai al-kitab, The Book, sang buku, kira kira begitu. hanya satu kitab didalam tradis intelektual Arab yang dijuduli dengan al-Kitab yaitu buku yang ditulis oleh imam Sibawaih. Imam Sibawaih ini adalah orang non Arab dari negara Persia. Dia adalah orang yang pertama kali meletakkan landasan tata bahasa Arab atau ilmu nahwu. Dia yang pertama kali membuat kodifikasi, kanonikasi tata bahasa Arab untuk pertama kali dengan cara sistimatis dan bukunya itu luar biasa karena apa yang dia jerjakan di situ bukan kanonisasi atau kodifikasi, membukukan tata bahasa Arab, tapi juga semacam ulasan kefilsafatan mengenai bahasa. Jadi di situ antara pembahasan filsafat dengan bahasa dan tata bahasa itu campur aduk, belum terpisahkan secara jelas karena masih dalam aformasi awal sebagai sebuah disipli.

Nah, buku Adonis itu disebut oleh dia sebagai al-Kitab. Dan kalau dalam tradisi sastra Arab, ketika menyebut kata al-Kitab maka asosiasi orang langsung pada al-Kitab karya Imam Sibawaih. Karena itu satu-satunya kitab yang disebut sebagai al-Kitab. Nah Adonis, dengan sengaja menyebut bukunya yang tiga jilid–saya hanya membawa satu jilid saja–karena saya belum selesai semuanya. Ini pun baru saya baca sekitar sepertiga

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 5 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

nya. Buku ini ia sebut sebagai al-Kitab untuk meniru Sibawaih. Dan mungkin dia punya ambisi besar. Dan sebetulnya dengan buku ini, Adonis hendak meletakkan dasar yang baru mengenai sesuatu yang dia sendiri belum tahu apa bentuknya. Buku ini sebetulnyasebagai suatu genre, itu sesuatu yang agak aneh karena satu pihak buku seperti puisi tapi juga seperti rekaman sejarah. Jadi ini puisi yang tidak jelas karena karakternya itu antara epik tapi juga puisi yang sangat liris sekali.

Epik karena ini bercerita mengenai peristiwa peristiwa penting dalam sejarah Islam–nanti akan saya terangkan strukturnya. Dengan buku ini, Adonis sebenarnya ingin menta`sis, membuat asas, melandaskan, membuat sesuatu yang baru bagi sesuatu yang dia belum tahu bentuknya apa di masa depan. Nah dia sebutlah al-Kitab. Nah, buku ini aneh sekali. Buku ini disebut oleh dia sebagai manuskrip yang konon ditulis oleh penyair Arab besar yang namanya al-Mutanabbi. Kemudian diedit dan diterbitkan oleh Adonis. Di sini saya melihat ada semacam permainan, main-main. Yang jelas ini bukan manuskrip karena ini karangan dia sendiri, tetapi ini dia sebut sebagai manuskrip yang ditulis oleh al-Mutabnabbi. Al-Mutanabbi artinya orang yang mengaku sebagai Nabi. Mutanabbi ini salah satu penyair besar Arab. Dalam sastra Arab klasik, ada tiga penyair besar yang tidak bisa dilupakan yaitu al-Mutanabbi, Abu al-‘Ala al-Ma’arri, dan al-Muhturi. Al-Mutanabbi salah satu penyair besar Arab, konon dia seorang penyair yang ingin menyaingi al-Qur’an dari segi keindahan syairnya sehingga dia menyebut dirinya sebagai al-Mutanabbi, nama dia yang aseli adalah Abu Thoyyib al-Mutanabbi.

Al-Mutanabbi ini salah satu penyair yang dikagumi oleh Adonis dan dia sepertinya mengasosiasikan dirinya dengan Mutanabbi. Nah, al-Mutanabbi ini menarik sebagai seorang penyair karena dia hidup pada zaman Dawlah Abbasiyah pada sekitar abad IX, X M. Al-Mutanabbi ini penyair yang hidupnya penuh dengan kelak-kelok yang dramatis. Satu ketika dia pernah menjadi penyair kerajaan, tapi kemudian satu ketika yang lain dia pernah dimusuhi oleh pihak kerajaan dan terlunta-lunta, dan terakhir hidupnya dia meninggal dengan cara yang tragis karena dia hidup miskin sekali, padahal dulu dia adalah seorang penyair istana yang dihormati dan kaya tapi kemudian jatuh miskin dan dimusuhi oleh raja dan dijauhi oleh masyarakat dan kemudian dia banyak sekali menulis syair-syair yang berbau sangat pesimis sekali. Nah, saya menduga bahwa Adonis seperti mengasosiasikan dirinya dengan al-Mutanabbi .

Salah satu tema yang menjadi pergulatan Adonis dan sering dibahas dalam berbagai ulasan dan esai dia adalah tema tentang kekerasan. Ada buku dia yang lain yang tidak saya bawa malam ini tentang menulis dan penulisan bahasa dan kekerasan; sebuah kumpulan esai dia mengenai hubungan antara sastra Arab, bahasa dan kekerasan. Tema kekerasan merupakan tema yang sentral di dalam karya-karya dan pemikiran Adonis karena dia melihat bahwa budaya Arab sejak masa klasik sampai sekarang sebetulnya sarat dengan kekerasan dan kekerasan itu bukan saja merupakan peristiwa yang eksternal terhadap manusia-manusia Arab itu sendiri tetapi kekerasan adalah sesuatu yang sepertinya prinsip di dalam alat-alat kebudayaan yang dipakai oleh orang Arab itu sendiri, di dalamnya termasuk bahasa tentunya.

Dia menggambarkan dalam satu esainya bahwa sejak pertama kali saya menulis, bahasa telah menampik saya, dan dia mengangap dirinya sebagai penyair yang memakai bahasa di mana bahasa yang dia pakai itu sendiri tidak pernah menerima dia dengan baik. Dia bekerja sebagai penyair dengan peralatan yang tidak berdamai dengan dia. Bahasa yang dipakai oleh dia adalah semacam tempat pengungsian yang disebut dia al-madfa

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 6 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

pengungsian bagi dia. Bagi dia memakai bahasa Arab juga memakai alat kekerasan itu sendiri. dan disitulah dia menjelaskan betapa sulitnya menjadi seorang penyair dalam kontek seperti ini.

Saya akan masuk begini. Struktur buku ini menarik. Tadi saya katakan bahwa buku ini adalah kombinasi antara epik dan puisi liris yang menggambarkan pengalaman pribadi Adonis. Tetapi cara Adonis menulis puisi ini seperti dia menempatkan dirinya sebagai al-Mutanabbi dan kemudian dia mencoba untuk melihat sejumlah peristiwa-peristiwa besar terutama peristiwa peristiwa kekerasan di dalam sejarah Islam sejak zaman setelah wafatnya Nabi sampai abad sekarang ini. Jadi, dia mencoba untuk menjadi al-Mutanabbi masuk ke lorong waktu, kembali ke belakang mencoba untuk bagaimana melihat Islam dalam kacamata atau pandangan al-Mutanabbi sebagai seorang yang pesimis, yang sinis menurut dia. Nah puisi ini strukturnya terdiri dari tiga bagian. Jadi, saya tunjukkan di sini. Bagian tengah ini adalah teks utama. Sebetulnya teks utama ini adalah komentar al-Mutanabbi atas sejumlah peristiwa yang terjadi pada setiap fase dalam sejarah Islam.

Yang disortir oleh Adonis sendiri, peristiwa yang paling tragis dalam sejarah Islam, kekerasan yang kadang-kadang vulgar sekali dan tak tergambarkan sebetulnya dan dia kumpulkan semua itu dalam bagian yang kiri ini. Bagian ini merupakan komentar yang pendek-pendek. Nah, inilah isi pokoknya. Dan begitulah ia menulis puisi sampai tiga jilid, berapa halaman saya tidak tahu, sampai seribu halaman. Saya akan mencoba membaca beberapa peristiwa-peristiwa kekerasan dan bagaimana itu kemudian dilihat oleh Adonis melalui kacamata al-Mutanabbi. Saya akan ambil contoh, ini kekerasan dimulai sejak terbunuhnya Umar, kholifah kedua dalam Islam kemudian berlanjut sampai ke Utsman, Ali, Muawiyah dan seterusnya sampai sekarang ini. Tetapi, disela-sela itu juga ada beberapa momen dalam sejarah Islam yang dia kutip sebagai momen-momen yang bagi dia sangat penting untuk ditonjolkan karena momen itu berarti bagi dia sebagai seorang penyair. Saya mulai dari peristiwa pertama. Ini peristiwanya adalah begini.

Di dalam ingatan al-Mutanabbi tertimbun ingatan seperti ini. Mereka–maksudnya sahabat Nabi setelah Nabi wafat mereka tidak mengurus jenazah nabi, mereka justru berebut untuk membicarakan tentang kekhilafahan–ini bukan bahasa puisi, ini terjemahan biasa saja. Syahwat akan kekuasaan menghabiskan manusia dan menimbun mereka di dalam padang pasir–ini bagian pertama. Kedua, ini kata-kata Abu Bakar setelah meninggalnya Nabi–ini pertama kali kekerasan yang direkam oleh Adonis. Abu Bakar ketika menggantikan Nabi sebagai khalifah pertama, bahwa satu peristiwa penting yang dia hadapi adalah memerangi orang murtad. Nah, ini kata-kata Abu Bakar yang dia kutip. Bakarlah mereka, rampaslah harta mereka, bunuhlah anak-anak mereka, bunuhlah istri-istri mereka, jadikannlah mereka sebagai debu yang berterbangan.

Tapi, yag menarik adalah ini kata-kata diucapkan oleh –jadi saya kira kata-kata ini akan menjadi tragis dan kekerasan artinya menjadi vulgar kalau kita letakkan dalam konteks ini: Abu bakar adalah sahabat pertama yang dianggap paling terhormat oleh umat Islam, kholifah pertama yang konon ditunjuk langsung oleh Nabi–bukan ditunjuk tapi secara implisit Nabi menganggap dia sebagai orang yang patut menggantikan dia, orang yang direstui oleh Nabi. Tetapi, mengucapkan kalimat sangat vulgar seperti itu, kekerasan yang luar biasa: bakarlah mereka, bakar! Bakarlah mereka! rampaslah harta mereka! bunuhlah anak-anaknya dan jadikan mereka sebagi pasir yang berhamburan,.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 7 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Kemudian ini komentar dari Adonis dengan menggunakan mulut al-Mutanabbi. Dia mengatakan begini –tidak bisa dipuisikan ini:

Benar sebagian pikiran-pikiran itu seperti ketumpuhan yang liar yang memangsa tetapi dia tidak bisa memangsa kecuali manusia–saya nggak tahu apa ini artinya, Mas Gunawan Muhammad yang tahu. Ini peristiwa vulgar pertama yang sarat dengan kekerasan. Yang kedua, Adonis berpindah kepada satu momen lain. Salah satu momen yang sering dia tunjuk adalah dia sering kali menyebutkan sejumlan nabi-nabi di dalam tradisi Arab–nabi-nabi palsu yang mencoba untuk menyaingi nabi itu sendiri. Jadi, ketika Nabi masih hidup banyak sekali nabi-nabi yang mengaku sebagai nabi dan ingin menyaingi kenabian nabi. Nah ketika nabi wafat, nabi-nabi palsu –dalam tanda kutip dihormati dan dipuji oleh Adonis karena orang-orang ini sebetulnya adalah sisa-sisa dari kebesaran abad jahiliyah yang lampau. Oleh Adonis, orang-orang ini dipuji sebagai orang-orang yang menderita kekerasan kerena munculnya Nabi. Nah ada seorang nabi palsu yang namanya Thulaikhah bin Khuwailid al-Asady, al-nabiy al-kadzab, nabi palsu. Thulaikhah mengatakan begini: Qala jibrilu li, Jibril datang kepadaku dan berkat: Tuhan tidak butuh kepada wajah-wajah yang terbalut di dalam sorban melakukan sholat, Tuhan tidak butuh orang-orang yang shalat, kira-kita begitu. La tusholluni ghoira al-hayah, jangan sholat kecuali kepada kehidupan itu sendiri.

Kemudian yang kedua, ini kekerasan lagi. Ada kekerasan yang sedikit ada humornya: kekerasan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid, salah seorang sahabat yang dikenal pandai berperang karena mempunyai keterampilan memainkan pedang dan seterusnya. Khalid bin Walid pernah membunuh seorang yang dituduh murtad yaitu Malik bin Wairah, sebenarnya bukan dituduh murtad tapi Kholid bin Walid itu bertemu dengan seseorang yang bernama Malik bin Wairah. Dia mengaku Islam tapi Khalid tidak percaya kalau dia sudah Islam dan dibunuh. Jadi, Malik mengucapkan syahadat tapi Khalid tidak percaya: kamu bersyahadat karena takut saya. Dia tidak percaya lalu dibunuh saja. Setelah Malik dibunuh kemudian istrinya dikawini. Ini contoh saja. Ini kata-kata Adonis dalam menceritakan peristiwa itu. Mereka menangkap Malik, memenggal lehernya dan meletakkan kepalanya di atas tungku. Tungku itu matang sebelum kepalanya matang. Mereka membunuhi keluarga Malik satu demi satu, kecuali istrinya Malik, Kholid terpincut kepadanya dan kemudian mengawininya. Di sini ada kekerasan tapi juga ada erotisme yang campur menjadi satu. Dan sebetulnya di dalam isi puisi di dalam pembagian dalam buku Adonis ini, rasa cinta saling berkait berkelindan dan itu menambah tragisnya kekerasan yang dia ceritakan.

Misanya ambil contoh lagi yang sangat vulgar sekali –saya tidak bawa yang jilid ketiga, tentang Muawiyah ini, pendiri dari Dinasti Umawiyah. Ini kata-kata Adonis bercerita tentang Muawiyah: Mereka berkata, Muawiyah menetapkan, memutuskan, menitahkan untuk membunuh anak-anak perempuan dan kemudian berkata kepada Husr, bunuhlah teman-teman Ali yang masih muda, yang dewasa, yang anak-anak dan perempuan. Bunuhlah mereka semua. Kedua, dua anak Ibn Abbas–ini adalah sepupunya Nabi–bersembunyi di rumahnya. Keduanya di sembelih oleh tangan Husr. Kedua anak itu disembunyikan oleh ibunya. Mereka membunuh seratus perempuan karena dendam dengan perempuan itu–maksudnya perempuan yang menyembunyikan kedua anak itu. Ini luar biasa ini, bagaimana Muawiyah memperlakuakan para lawan-lawan politiknya. –di Kufah saat itu, para pendukung Ali, para pendukung Abbas, Tholkhah dan seterusnya-, betul-betul brutal sekali.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 8 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Buku ini sebetulnya rekaman kekerasan di dalam sejarah Islam, kemudian Adonis berusaha melihat itu kembali dan melalui mata al-Mutanabbi dan sebetulnya tema-tema kekerasan ini kita kaitkan dengan tema-tema yang dibahas oleh al-Mutanabbi dan oleh Adonis ini juga sangat relevan. Misalnya, di dalam sejumlah esai-esainya, ia membahas tentang bagaimana di dalam kehidupan intelektual Arab itu sebetulnya unsur-unsur yang statis, yang al-tsabit, konstan, yang tetap itu lebih menonjol ketimbanng al-mutahawwil, sesuatu yang berubah, bergerak, dinamis, progresif. Dan dominannya unsur-unsur yang konstan dalam budaya Arab itu sebetulnya adalah mewakili atau lambang atau alusi terhadap peristiwa lain atau fakta lain yaitu tentang kekerasan yang begitu inheren dalam budaya Arab itu sendiri.

Di akhir presentase ini saya ingin menyinggung sedikit, Adonis ini sebetulnya orang yang dikutuk oleh banyak ulama di Timur Tengah, buku-bukunya dilarang beredar di Saudi, oleh mufti besar Saudi yang sudah meninggal, Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, yang dikenal dengan bin Baz, yang buta itu: dia disebut sebagai hubal modern yaitu arca yang dihormati sekali pada masa jahiliyah yang konon Hubal ini arca yang prestisius pada masa jahiliah dan diletakkan di Ka’bah, kemudian ketika Nabi berhasil menaklukkan Masjidil Haram kota Makkah dan kemudian menghancurkan arca-arca itu–ini konon menurut Ricord–saya tidak tahu mungkin ini dongeng tapi ini hampir dikenal oleh semua orang, jadi semua tahu: Ketika dihancrkan hubal ini, muncul mambang kayak hantu perempuan, Mak Lampir gitu, mambang itu muncul jadi kayak ruhnya terbang gitu dan itu diceitakan oleh banyak orang, direkam dalam buku sejarah. Nah oleh Abdullah bin Baz, Adonis disebut sebagai Hubal modern karena dia betul-betul representasi dari kembalinya unsur-unsur jahiliah dalam tradisi Jazirah Arab modern, karena memang Adonis banyak sekali memuji para nabi-nabi palsu. Saya bacakan:

Dia, memuji mereka karena bagi dia, nabi-nabi palsu ini adalah sisa-sisa kekuatan jahiliyah kuno yang bertahan atas tabi’ Islam. Tetapi, anehnya Adonis ini menulis sebuah teks yang luar biasa tentang al-Qur’an–satu kitab suci yang dibawa oleh nabi beneran, bukan nabi palsu. Adonis menulis sebuah teks tentang al-Qur’an dan tafsir al-Quran yang saya kira bahkan seorang Islam yang imannya mendalam pun belum tentu bisa menulis seperti ini. Judul tulisannya, yang kemudian menjadi judul dari kumpulan esai-esainya yaitu al-Nashsh al-Qur’ani wa Afaq al-Kitabah, (Teks Al-Qur`an dan Horison Penulisan). Menurut teori dia, al-Qur’an adalah satu teks yang pertama-tama dialami oleh orang Arab sebagai suatu keajaiban bahasa. Jadi, sebetulnya al-Qur’an itu sebagai keajaiban, bukan keajaiban yang lain-lain. Tapi, pada menit pertama, keajaiban al-Qur`an itu adalah keajaiban literer atau keajaiban bahasa. Pada menit berikutnya baru keajaiban yang lain. Al-Qur’an itu sebetulnya membawa satu jenis atau genre penulisan baru yang betul-betul tidak pernah dikenal dalam tradisi literer Arab kuno.

Al-Qur’an bukan sejenis puisi dalam pandangan Adonis. Bukan juga sejenis prosa, karena al-Qur’an–tentu bukan semuanya, beberapa aspek yang menonjol dalam al-Qur’an–adalah ada gabungan yang misteri antara puisi dan prosa. Saya tidak akan membahas panjang lebar di sini, tetapi dia menunjukkan betapa al-Qur’an ini memulai suatu genre penulisan baru di dalam tradisi Arab setelah masa jahiliah. Tetapi, dia menyayangkan bahwa al-Qur’an yang dulu membangkitkan jenis penulisan baru itu kemudian oleh kalangan agamawan pada vase-vase berikutnya justru tidak difahami sebagai teks sastra, melainkan sebagai teks hukum.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 9 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Ini saya kutipkan salah satu aposisi dari esai dia yang menarik: Kita menyebut al-Qur’an sekarang ini bukan sekedar buku belaka, dia adalah juga legislator, sesuatu yang melahirkan hukum, yang menimbulkan hukum, yang meletakkan suatu hukum. Dan al-Qur’an sebagai legislator sebetulnya adalah bersifat politis. Oleh karena itu, al-Qur`an sebagai bentuk penulisan di dalam cara pembacaan yang populer di dalam Islam bukan pertama-tama merupakan suatu kesenian, tetapi dia adalah merupakan suatu akhlak atau moral. Dia bukan buku yang menerbitkan rasa keindahan tetapi buku yang menerbitkan suatu tuntutan untuk tunduk kepada Tuhan. Jadi kritik dia adalah–dan ini juga kembali kalau kita ingat tema kekerasan dalam tulisan Adonis sebetulnya memperlakukan al-Qur`an sebagai kitab legislasi atau kitab yang mencantumkan hukum dan meletakkan hukum itu sebetulnya adalah sejenis kekerasan atas kitab suci itu sendiri: Kitab-kitab suci yang dipandang sebagai buku hukum sebetulnya adalah kitab yang tidak lagi membawa satu pembebasan tapi adalah kekerasan karena kitab yang seperti itu hanya meminta ketundukan, bukan kebebasan. Sekian terimakasih.

Moderator (Abd Moqsith Ghazali)

Saya kira secara sederhana kedua nara Sumber ini membedah dua buku yang ditulis oleh Adonis; yang satu Atsabit wa Al-Mutahawwil dan al-Kitab. Walaupun Ulil sendir sudah banyak menjelaskan tentang isi-isi puisi dari Adonis sendiri. tapi mungkin kita perlu memeberikan kesempatan waktu untuk mas Gunawan: orang pertama yang mengintrodusor tokoh Adonis di Indonesia: bagaimana pandangan seorang penyair terhadap penyair lain seperti Adonis ini–kata Trisno sesama penyair atheis. Kalau Ulil tadi bicara bahwa Adonis pernah mengatakan bahwa di setiep erotisme selau ada kekerasan, ini menarik. Silahkan Mas Gunawan!

Gunawan Mohamad:

Pertama, saya tidak ingat bahwa saya orang yang pertama kali memperkenalkan Adonis ke Indonesia. Dan kalau boleh saya tolak, Adonis itu dari bahasa Inggris atau Prancis. Jadi saya tidak layak untuk mengomentari –Jadul sudah bicara itu. Saya ketinggalan, jadi saya tidak layak untuk berbicara lebih panjang. Yang ingin saya tanyakan adalah Ketika Adonis mengutip beberapa fase dalam sejarah Islam, seperti untuk membunuh anak-anak oleh Muawiyah, apakah cerita ini dan catatan ini tidak merupakan korban dari hiperbol yang mungkin biasa dalam syair Arab. Mungkin yang dikatakan dalam sejarah Arab–ini kan ngawur: itu singkirkan aja, suruh pergi anak-anaknya, tadi kok di gambarkan ada penyair-penyair itu, para pendeta yang berkata; bunuh! Ini kan hiperbol. Apakah tafsir dari sejarah Adonis ini berdasarkan suatu cerita yang sebenarnya berasal dari tafsir lain.

Kedua, kalau dalam sejarah Islam begitu banyak kekerasan mestinya agama ini tidak bisa bertahan lama. Mungkin ada yang lain yang menyebabkan lahirnya konsensus itu. Nah, saya ingin tanya apakah beda antara buku yang kedua yang di sebut Ulil itu tadi yang pertama itu beda tahunnya bagaimana yang mngenai qur;an sebagai pembawa Islam terbaru ataukah al-Kitab. Ini dari segi kronologi buku saya ingin tahu sebab ini penting dilihat. Tapi menarik bagi saya bahwa Adonis menekankan kembali qur’an sebagai puisi. Ketika saya menulis –waktu itu tahun berapa ya- itu saya belum membaca Adonis yang sekarang ada dikonfirmasi dari teman juga. Bahwa itu bukan hukum tapi puisi dan sebagai puisi itu bisa mempunyai tafsir yang macem-macem tidak perlu pengantara dan

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 10 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

tidak perlu kekuasaan untuk menekankan kepatuhan. Jadi sekali lagi minta koreksi, saya lupa kalau saya memang mulai menyebut Adonis pertama kali mungkin tapi memperkenalkan tidak tidak. Saya taupun nggak kok. Tahu dari Ulil. Terimakasih.

Moderator (Abd Moqsith Ghazali)

Mungkin karena Mas Gun ini bertanya tidak menjawab, gerr, saya persilahkan teman teman yang lain bertanya, tapi saya persilahkan untuk tidak sekedar bertanya: penanya yang baik adalah penanya yang menjawab pertanyaannya sendiri. Silahkan… atau dijawab dulu dari Mas Gun tadi.

Ahmad Sahal (Freedom Institute)

Terimakasih, sayang saya seperti Mas Gun tidak sempat mendengar Jadul. Mungkin Jadul nanti bisa memulainya lagi dalam bahasa jadul sendiri yang singkat. Nggak masalah kan sudah dari Jogja, sayanya yang kasihan. Saya juga ingin minta komentara atau jawaban dari Jadul tentang beberapa hal yang dengan bagus sekali dilontarkan Ulil. Pertama soal Nabi bajakan itu ya. Kalau dulu waktu saya di madrasah itu selalu, guru saya mengajarkan mengenai nabi bajakan itu selalu digambarkan dengan cara karikatur. Jadi nabi palsu itu pokoknya orang-orang yang niru-niru al_qur’an tapi gagal gitu lho. Misalnya mereka bikin ayat al filu ma al-fil ma ma adraka ma al fil, jadi gajah, apakah itu gajah, gajah adalah binatang yang punya belalai; jadi sesuatu yang sudah selas begitu. Jadi semuanya nabi palsu itu goblok banget.

Jadi tidak digambarkan dalam penjelasan guru saya tadi mengenai perasaan kehidupan. Saya tidak tahu mungkin ada bagian-bagian lain dari puisi-puisi nabi palsu untuk dilihat; seberapa jauh mereka sholat kepada kehidupan ketimbang sholat kepada tuhan. Kedua, mengenai syi’ir-syiir jahiliah, warisan jahiliah. Bagaimana kalau misalnya Adonis dibandingkan dengan Toha Husain meskipun di abukan seorang penyair, dia seorang buta –katanya penyair kan buta- Dia seorang yang menafsirkan al-Qur’an dan mengatkannya dengan syiir jahiliah yang juga kontroversial di Mesir pada masa itu. Nah saya ingin tahu aja, karena bagi saya menarik mengaitkan keislaman dengan warisan jahiliah dengan cara yang membikin orang Arab marah.

Ketiga, tentang perayaan kehidupan tadi. Kalau kita nonton film Iran filmnya Ki Restami itu ada beberapa bagian yang saya kira salah satu ciri khas dari, atau tema sentral yang dibawa oleh Ki Restami dengan sangat halus adalah merayakan tentang yang sekarang ketimbang yang nanti. Kalu anda nonton the windwr caries itu kan ada adegan dia dengan dokter dan ngobrol ketika naik motor dan dia juga mengutip Umar Kayam yang mereyakan kesekarangan ketimbang nanti. Nah pertanyaan saya, seberapa jauh tema kesekarangan itu, tema hayat itu atau tema tentang dunia kini –karpediem itu kalau makai istilah- memwarnai tema dalam sastra Arab yang tidak terkontaminasi atau yang tidak dipengaruhi oleh Islam. Nah kalau kita lihat, Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan orang yang mempunyai kehidupan itu kan selali dikecam karena orang ini merasa hidupnya abadi, jadi mereka mengganggap bahwa orang-orang yang menyukai kedupan itu mereka sebenarnya berada dalam satu ilusi karena mereka merasa bahwa hidupnya abadi, padahal kan enggak. Jadi potret yang ditampilkan al-Quran terhadap orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang salah, tetapi dalam sastra arab kan cukup banyak seperti, saya kira bukan hanya para mutanabbi tapi para penyair arab yang sekuler itu

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 11 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

lebih menyukai kehidupan yang profan –saya tidak tahu apakah Abu Nuwas apakah seperti itu- Jadi saya minta komentar ulil dan Jadul. Jadul mungkin agak banyak Jad!

Imdadun Rakhmat (Lakpesdam NU)

Saya Cuma pengen tahu masalah siapa saja yang memepengaruhi pemikiran Adonis itu karena kalau saya melihat, misalnya tadi, Mas Ulil menyebutkan gaya puisi Adonis adalah perpaduan antara epik dan puisi liris dan itu juga yang dikemukakan –mungkin Issai. Di sini sejauh mana pengaruh penyair-penyair Eropa termasuk Issai sendiri, Fucault apalagi tadi dikabarkan dengan ada bahasa dan kekuasaan segala macem karena di sini seperti kita tahu bersama, gelombang atheisme yang berkembang pesat di Eropa waktu itu mungkin bisa menjadi daya kekeuatan Adonis untuk menulis itu semua. Kedua, metodologi sejarah yang digunakan Adonis. Artinya buat, saya sendiri masih sangsi, apakah seandainya seorang Abu Bakar berkata seperti itu.

M. Jadul Maula

Terimakasih. Tadi presentasi reviw Ulil terhadap beberapa buku Adonis yang lain itu menjawab beberapa tanda tanya saya ketika saya bolak-balik buku Atsabit wa al-Mutahawwil. Saya tadi, presentasa saya terlalu singkat pada intinya tapi karena sebenarnya agak, saya sebetulnya berharap teman JIL udah membagikan daftar isi sehingga saya nggak perlu –ini tadi ada yang sms saya selamat berceramah, jadi tadi saya agak tidak enak juga. Atsabit wa al-Mutahawwil ini empat jiid. Jadi ada dua jilid pertama berbicara soal bagaimana prinsip-prinsip tentang Atsabit wa al-Mutahawwil itu dirumukan. Yang dua buku berikutnya, bicara soal shodmah al-hadatsah, soal benturan modernitas dan yang agak menjawab Ulil Adonis memasukkan kajian tentang al-Kaukibi, al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha di dalam satu sub bab di sini ini cetakan yang baru itu masuk tapi cetakan yang dulu tahun 90-an itu belum masuk. Jadi dalam cetakan baru itu dimasukkan sebagai kasus yang menuju apa yang mau dia sampaikan. Nah yang kedua sebellum saya mau lagi, saya ingin, pertanyaan yang kedua ketika saya berbicara ini, Adonis ini hanya memeulai merumuskan bagaimana kultur Islam membentuk kultur Arab, memulainya pada vase ba’da wafatinnabi setelah nabi mati. Kenapa tida tidak berani masuk ke wilayah pada zaman nabinya itu sendiri, ternyata agak terjawab di buku berikutnya. Yang ketiga, saya jadi ingt tadi Ulil banyak membacakan tentang ekspos kekerasan yang sangat dahsyat yang itu terjadi sejak zaman nabi. Lalu saya jadi ingat memang pertama mungkin itu efek dari kekhasan penulis-penulis islam, lalu ada satu enggambaran fragmen satu kekerasan yang dilakukan oleh kelompok atsabit ini. Yang selalu dalam buku Atsabit wa al-Mutahawwil itu kelompok status quo itu selalau orang mesti penyatuan antara agama dan negara, lalu gerakan al-Mutahawwil itu pemberontakan kaum Syiah, ya, kalau eksperimentasi pemikiran-pemikiran seperti: Abu Nuwas, Arwani dan sebagainya itu juga orang yang selalu diidentifikasi ada pengaruh Syiah dan sebagainya.

Kalau kita baca juga tulisan Ali syariati itu juga sering menggambarkan momen-momen sejarah tentang kekerasan terhadap ahl bait itu luar biasa. Dan itu lalau memang mengeksploitasi emosi memang, yang dibangkitkan adalah keharuan. Nah tapi saya ingin melihatnya lebih positif sebetulnya tujuan Adonis itu adalah bagian dari proses filing ya. Dia ingin menunjukkan begini, saya minta untuk ngambar, agak sulit memang menggambarkan, seolah-olah mesti mengakaji Rasyid Ridla dan sebagainya. Seandainya

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 12 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Atsabit itu saya gambarkan sebagai derak yang ke bawah, vertikal, lalu wa al-Mutahawwil itu gerak maju, horisontal. Dalam sejarah peradaban Islam itu kan sebenarnya dua hal yang menurut Adonis mestinya siakui sebagai sama-sama prodak yang sah dari kultur islam dan asama-sama untuk dirujuk juga perlu dibedakan mana yang ini asli yang tidak asli ata yang ini yang benar menurut Allah, ini adalah ndak. Kekerasan kekerasan yang diungkap kembali oleh Adonis saya kira ingin menggambarkan bahwa proses yang ada sekarang ini lalu ada karena benturan yang sangat keras, jadi yang ini ini kemudian menjadi hancur berkeping-keping lalau yang ada seolah-olah itu hanya Atsabit dan Atsabit yang selalu dirumuskan Syafi’I, lalu kekhalifahan itu dipegang oleh Abu bakar, orang-orang Quraisy yang non Ahl Bait. Saya kira begitu. Lalu nanti puisinya dibangun oleh al-Jahid dan juga dari segi bahasa. Jadi seolah hanya in aja yang asal. Seluruh pemikiran Islam Yang ada sekarang inimacem-macem, kalau tidak bisa dibenarkan oleh ukuran-ukuran ini ya, menurut ismam Syafi’I lalu dari segi bahasa menurut ukuran al_jahid itu tidak disebut kultur Arab yang asli yang benar yang legitimit dan seterusnya.

Nah dia mengungkapkan kekerasan-kekerasan bahwa proses dari dua gerak ini menjadi satu ini sebenarnya melalui proses kekerasan pada akhirnya. Tapi pada akhirnya ini di eksploitasi bukan Cuma kekerasanya menurut saya tapi ingin mengembalikan krsadaran orang Arab zaman sekarang bahwa mestinya kita kembali kepada asal yang dua ini Atsabit wa al-Mutahawwil sehingga dia ingin membikin salah satu tesis –dia kan kultur yang sehat, kalau kita ingin membenahi satu kultur itu bukan merubahnya dari luar, menghancurkan melalui dengan teori-teori Barat dan sebagainya tapi mengubahnya dari dalam, membangkitkan ingatan asli kutur itu yang sebetulnya tidak satu tapi bermacam-macam. Pada akhirnya menurut saya, gerak kebudayaan yang ingin dibangkitkan, yakni disehatkan kembali oleh Adonis adalah kalau gerak ini dua ini diakui lalu menjadi seperti roda, kita ingat kereta api yang zaman dulu itu dia bisa rodanya maju ke depan kalau dia ditarik oleh dua gaya. Jadi di sini ada as dan ini ini. Jadi dua gaya yang bergerak ke depan dan ke belakang itu lalu mengerakkan lingkaran as yang di tengah ini. Ini bergerak lalu roda bergerak berjalan ke depan. Dalam mekanika modern kemuan in menjadi prinsip listrik AC itu yang bolak-balik itu kan menjadi energi untuk bisa jalan ke depan.

Nah ini kan selalu mengandaikan ada kekuatan yang lalu itu terpusat, atsabit lalu juga ada yang al-Mutahawwil dan dua gaya ini satu kultur mestinya bergerak. Kenapa kultur Arab menjadi inkhibat, menjadi jatuh dan sebagainya, karena daya ini sudah dihancurkan lalu yang ada hanya satu ini. Itu satu. Nah tapi apakah memang kekerasan itu saya kira memang betul betul terjadi tapi juga tidak se.. itu bagian dari..Saya ingin memekai teorinya Mahmud Muhammad Toha, salah satu spiritual dalam Islam; jadi kalau tuhan ingin menaikkan drajat spiritual atau akal pikirn satu kaum dia akan meniupkan ruhnya. Tiupan ruh tuhan ini mesti akan berefek kepada kekerasan. Siapa yang bisa mengatasi kekerasan ini? yan karena spiritnya dan akalnya. Kalau dia tidak bisa mengatasi dalam situasi yang kacau itu dia akan hancur. Jadi semacam, itu ada efek-efek semacam itu. Salah satu sifat dari Tuhan itu kan memang al latif lembut al rahman penyayang, itu kan juga al mudhil menyesatkan, juga aljabbar, orangorang pesantren itu biasanya kalau ingin maju mereka kan membaca waidza batosytum batosytumm jabbarin. Jadi diberi bekal dan itu menurut saya di dalam pada satu saat orang itu orang suci jadi

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 13 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

apa lembat lembut dan pada saat tertentu bisa keras dan itu sesuatu yang saya kira efek dari kekeuatan itu.

Saya sering menggambarkan bahwa nabi Muhammad sesekali tidak kuat untuk menghindari kekerasan karena kekerasan itu mesti terjadi sebagai bagian dari seseuatu yang harus terjadi supaya sejarah itu bisa naikatau hancur. Itu kan sejal sekali di dalam qur’an itu surat al-nasr idza jaa nasru Allahi wal fath ketika datang pertolongan allah dan pertolongan telah tiba lalu kamu melihat orang orang masuk ke agamamu semua itu tuhan bukan memerintahkan setelah kemenangan itu untuk sukuran tapi fasabbihbihamdirabbika wastaghfir selalu di dalam qur’an itu kemenangan politik selalu diikuti kekelahan moral maupun kemenangan politik selalu diikuti perintah untuk istighfar. Jadi itu menggambarkan satu situasi yang sering kali dihadapi oleh orang-orang suci di mana ketika dia ingin mengajarkan, menjalankan satu kehendak tuhan di satu sisi dengan kekerasan yang mungkin timbul dari itu itu tidak terhidarkan. Salah satu gambaran yang baik menurut saya film Holywood the one of..yang disitu…

Membebaskan rakyat Prancis dari jajahan Ingris dan sebagainya. Itu kan kemudian ketika terjadi-peperengan-peperangan sebagai akibat dari kepasrahan dia menjalankan kehendak Tuhan, dia akan menangis. Nah pada zaman nabi ini juga sering dimuat tentang kisah bagaimana penyair Khanifiyah Umayyah bin Abi Sholad yang pertama tama merasa bahwa senetulnya drajat spiritualnya lebih tinggi dari Muhammad tapi ketika dia mendengar Muhammad menerima wahyu, dia tidak percaya lalu, Umayyah bin Abi Sholad ini orang yang beriman kepada Tuhan tapi tidak mengikuti agama Muhammad karena dia sudah menemukan enam tanda. Jadi orang Arab mengatakan kenabian akan turun kalau ada tujuh tanda yang datang. Jadi dimungkinkan nabi-nabi palsu –sebetulnya bukan nabi palsu tapi orang yang mengharap-harapkan ingin menjadi nabi karena sudah ada –kalau Jawa ini akan muncul satrio piningit atau setelah goro-goro ini akan muncul ratu adil di tanah Jawa, Juga dikalangan orang-orang Arab pula waktu itu berdasarkan ramalan-ramalan kitab suci kutno pada saat itu di makkah memang akan dibangkitkan seorang nabi sehingga berlomba-lomba dan konon di dalam kitab suci itu nabi yang akan datang namanya Muhammad sehingga banyak orang yang sebelumnya nggak ada orang tua menamai anaknya Muhammad setelah itu memang banyak menurut cerita ada delapan atau berapa yang pada waktu anaknya lahir itu dinamai Muhammad bahkan ada cerita bahwa Abdulmutholib ketika pertama kali yang kelak nabi Muhammad beneran ini lahir itu pertama kali namanya bukan Muhammad sebetulnya tapi dinamai Kusam lalu Abdulmutholib karena dia ingin –mungkin cucu saya yang menjadi nabi dia lalu meminta untuk namanya diganti menjadi Muhammad. Jadi sebetulnya itu semacam eforia, orang ingin berlomba lomba mengejar –dan tidak hanya orang Arab kuno tetapi orang-orang Yahudi dan Nasrani pun sangat mengharapkan bahwa orang-orang akan turun itu dari kalangan mereka.

Jadi itu memang sebetulnya butuh kekerasan-kekerasan yang dilakuakan itu bukan hiperbolik, mungkin saja terjadi tapi kita butuh penelusuran kontek sejarah yang lebih kuat lalu lebih berimbang karena memang salah satu keberatan Umayyah bin Abi Sholad untuk mengakui Muhammad itu nabi karena dia melihat perang Badar. Dia sebetulnya ingin baiat kepada Muhammad tapi ada orang yang mencegah di tengah jalan: Kamu betul mau ikut Muhammad? Coba lihat itu korban perang Badar, kalau Muhammad bener-bener seorang nabi dia tidak akan mungkin mengizinkan anak membunuh bapaknya, saudara membunuh saudaranya, paman membunuh

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 14 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

keponakannnya dan sebagainya. Jadi begitu melihat perang Badar, ini kan sesuatu yang dahsyat menurut orang Arab karena di dalam masyarakat kesukuan baru pertama kali terjadi bunuh bunuhan yang begitu besar antarkeluarga; itu tidak mungkin terjadi dalam masyarakat kesukuan, karena masyarakat kesukuan itu kalau anggota suku yang jahat pun di bunuh orang lain itu suku tidak akan, justru membela dan akan memerangi suku lain yang membunuh anggota sukunya. Tapi ini justru satu suku saling bunuh-bunuhan yang luar biasa, lalu dia berfikir, kalau Muhammad bener-bener tidak mungkin akan mengizinkan hal itu terjadi.

Nah, mungkin bias dari kegelisahan Adonis yang dia kemudian memunculkan bahwa kekerasan itu satu sisi sehingga efeknya itu hanya perrasaan murni. Kita bisa akan tergerak kalau misalnya mendengar kisah yang diceritakan Ali syari’ati ketikan menceritakan peristiwa pascapengangkatan Abu Bakar sebagai Kholifah. Itu kan terjadi peristiwa yang sebetulnya sangat, Jadi pusat pemerintahan Abu Bakar di dalam masjid, nah rumah ahl bait kan berrsebelahan dengan mesjid ini, ini kepala negaranya di sini, posisinya di sini. Ini sesuatu yang sangat mengganggu Umar bin Khottob karena waktu itu Ali bin Abi Tholib, siti Fatimah, dan beberapa orang-orang non Quraisy, jadi para imigran-imigran ya: Amar bin Yaser, Nizar al-Ghifari, orang-orang yang berkumpul ingin baiat kepada Ali. Ini kan sangat mengganggu sekali. Ali Syariati mengambarkan betapa Umar lalu lalau segera memerintahkan orang-orang untuk membakar rumah nabi. Jadi belum ada seminggu nabi Muhammad wafat, itu Umar bin Khottob memerintahkan sahabat-sahabat untuk membakar rumah Nabi. Di dalamnya masih ada sayyidina Ali dan Siti Fatimah. Ini sesuatu yang sangat luar biasa. Ini tentara pada bingung maju mundur untuk menjalankan ini dan akhirnya siti Fatimah muncul lalu tentara ini tidak berani.

Mumpung di cerita ini sebernarnya saya ingin mempuanyai pertanyaan untuk Adonis, sayang di sini tidak hadir, gerr, bahwa Adonis memunculkan bahwa mula-mula yang namanya atsabit dirumuskan, lalu terjadi persekutuan antara yang namanya al-din dan al-daulah ini kan pada peristiwa tsaqifah ini, dan Adonis hanya menyebut sampai proses bagaimana Abu Bakar membacakan hadits nabi al-a’immah min quraisyin itu dan ini menjadi kesepakatan, lalu di situ Adonis menyebutkan bahwa perserikatan antara al-din, agam , negara dan teks itu menjadi seseuatu persekutuan yang mutlak di situ. Itu sebetulny menurut saya sangat tidak historis, dia tidak lengkap menceritakan itu karena sebetulnya yang namanya teks pada zaman ini itu belum dirumuskan, satu, dan pada zaman ini juga yang namanya kesepakatan bahwa teks itu menjadi rujukan tunggal itu juga tidak terjadi, karena perdebatan Abu Bakar dan fatimah di ruang ini, ketika perintah Umar bin Khottob membakar ini tidak ditaati oleh tentara lalu Abu Bakar maju –yang terkenal Umar bin Khottob membawa pedang dan Abu Bakar membawa kapas. Lalu terjadi dialog, Abu Bakar mengatakan begini: Wahai Fatimah, saya ini orang yang paling cinta nabi dan saya sangat mencintai nabi, saya mencintai nabi dan keluarganya lebih dari kecintaan saya pada diri dya dan keluarga saya.

Lalu fatimah menjawab, kalau begitu kenapa kamu mau menerima jabatan kholifah yang mestinya bukan hakmu. Lalu Abu Bakar menjawab: Pertama saya ingin menyelamatkan umat islam dari perpecahan. Yang kedua, karena saya mendengar –semoga kamu juga mendengar- nabi pernah bersabda bahwa kami, golonga npara nabi itu tidak diwarisi dan tidak mewariskan. Siti fatimah menjawab –ini kan haditsm ini teks-: kalu saya bacakan kepadamu hadits apakah kamu juga akan menerima? Abu Bakar mengatakan ya. Saya akan menerima. Fatimahmembacakan hadits juga: ridlo fatimah

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 15 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

ridloya wa shuhtu fatimah shuhti jadi kalau fatimah rela aku rela kalau Fatimah marah aku marah, kata nabi begitu. Abu bakara mengatakan, ya saya mendengar. Jadi pada saat itu perdebatan belum ada yang menang dan kalah Abu Bakar mundur dan kita tahu dari sejarah bahwa siti Fatimah itu sampai beberapa bulan beliau wafat itu tidak pernah bai’at kepada Abu Bakar dan Umar bahkan tidak sholat bersama mereka. Jadi, menurut saya, dalam peristiwa Tsaqifah bin Said antara yang namanya teks itu belum mutlak selamanya ditaati, dibukukan itu belum dan oreng selalu berdebat memang menggunakan apa otoritas. Itu yang pertama. Yang kedua dalam perdebatan ini meskipun Abu Bakar menggunakan hadits selalu dijawab oleh Fatimah dengan menggunakan hadits dan itu tidak ada yang menang masing-masing, dan di dalam narasinya Adonis, kelompok Abu Bakar ini atsabit kemudian keturunan dari Siti fatimah ini nantinya yang akan menajdi al-Mutahawwil.

Dan pada hadits ini menurut saya, baik yang astabit maupun yang al-mutahawwil semuanya membutuhkan nash, itu soal nash. Yang kedua soal kholifah. Abu Bakar pun menurut saya tidak mengaku bahwa kekhalifahan dirinya itu disepakati oleh seseorang dan didukung oleh agama, kira-kira begitu. Sehingga dari sejarah kita tahu Abu Bakar tidak mau menggelari dirinya dengan kholifatu rasulillah, penggantinya rasulillah tapi Khoolifatu sebetulnya itu artinya orang yang datang setelah Muhammad, artinya bukan pengganti karena Muhammad yang asli itu tidak pernah bisa dihgantikan. Sebutan kholifah pun pada waktu itu artinya bukan pengganti rasulullah. Karena itu pasti belum disepakati oleh sahabat. yang ketiga, Abu Bakar menjadi kholifah itu tidak penuh. Jadi sebagai kholifah, sebagai presiden tapi masih memerah susu, jadi nggak ada gajinya, jadi masuknya kantor part timer, tidak penuh. Jadi itu masih belum… Jadi gambaran Adonis yang mengacuh pada peristiwa Tsaqifah bani Saidah sebgai satu titik tolak dalam sejarah yang menjadi acuan ketika dia menceritakan atsabit bagaimana al-din al –saulah dan al-nas itu bersatu itu sebetulnya menurut saya bisa dipertanyakan ulang dan ini sebetulnya nanti arahnya rekomendasi Adonis tentang bagaimana kita mesti menghancurkan atsabit itu berarti mengahancurkan nash qur-an, di aspek yang al-mutahawwil saya kira bangyak asperk yang menceritakan bagaimana orang-orang kayak Arrowandi, Abu Bakar Arrozi terus Jabir bin hayyan dsb mengembangkan satu cara berfikir yang empiris yang lalu menolak wahyu dijadikan dasar bagi pemgelolaan sejarah lalu dengan sangat baik saya kira menceritakan tentang Abu Nuwas sebagai pembaharu dalam berpuisi tapi sekaligus agama dengan –menurut saya itu yang terbagus penjelasan mengenai Abu Nuwas yaitu opini kekuatan di sini, dia ketika menjelaskan tentang Arrazi dan seterusnnya sebetulnya dia mengutip Abdurrahman Badawi dalam sejarah sejarah atheis Islam itu. seketika menceritakan banyak hal, aia hanya bertumpu pada Ibnu Khodun dan seterusnya tetapi ketika dia menulis Abu Nuwas itu salah satu kekuatan dia ketika mengkaji puisi-puisinya dan dia menulisakan bagaimana Abu Nawas sebetulnya mengacaukan semua konstruksi agama tentang hidup, tentang berfikir, tentang kesalehan dsb sedemikian rupa secara kuat. Itu satu pembahasan yang tersendiri.

Tapi yang ingin saya sampaikan di sini sebetulnya, saya setuju bagaimana dia ingin menggambarkan kembali antara atsabit dan almutahawwil ini sebagai satu kekuatan yang absah di dalam sejarah yang mesti diakui sebagai punya otoritasnya masing-masing, punya kegunaaannya masing-masing yang sama. Tapi penentuan apa yang atsabit dan apa yang almutahawwil itu yang sebetulnya sangat komplek dan lalu penyederhanaan

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 16 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

tentang atsabit itu al-din al-daulah wa al nas itu juga sesuatu yang bisa kita pertanyakan lagi. Mungkin itu sementera.

Ulil Abshar-Abdalla:

Itu tadi bertanya apakah tidak ada unsur-unsur yang superlatis, di dalam penggambaran Adonis tentang kekerasan, sebetulnya Adonis dalam beberapa kutipan-kitipannya sebetulnya ia hanya mengulang atau mengutip beberapa sejarah yang sudah ada. Jadi misalnya dia mengatakan, bunuhlah dan seterusnya itu sebenarnya dia mengutip dari sebuah buku tentang Abu Bakar, itu saja. Jadi itu sebetulnya hanyalah –tadi saya katakan dia mensortir, dia mencoba menampilkan teks-teks yang sebetulnya ada di dalam catatan sejarah yang sudah ada dan kemudian dia angkat kembali dan memang ada unsur superlatif dalam pengertian dia menseleksi teks-teks yang mengarah kepa kekerasan. Dia kumpulkan semua. Jadi memang akibatnya kekerasan itu menjadi begitu daramatis. Betul bahwa Islam sebetulnya tidak identik dengan kekerasan tetapi unru-unsur kekerasan ini yang di dalam pandangan Adonis tersembunyi dalam sejarah ataupun di dalam kesadaran kebudayaan Arab. Yang kedua soal apa tadi…Soal perayaan hidup. Saya sendiri tadi ketika membaca teks Adonis dinis, saya sudah mengatakan bahwa saya menerima buku ini baru dua hari dan terus terang ketika saya membaca pertama kali saya agak bingung karena konstruksi Adonis dalam bukunyaini agak aneh sekali. Ada puisi ada sejarah campur aduk. Nah semula saya belum menemukan polanya tapi pelan pelan mulai kelihatan sebetulnya saya juga baru mengambil satu bagian karena sayan menganggap itu relevan karena di dalam berbagai esai-esainya Adonis terobsesi oleh masalah kekerasan.

Soal perayaan hidup tadi. Saya belum tahu apakah memang nabi-nabi bajakan itu memang menekankan perayaan atas hidup tetapi ada satu esai menarik dari Adonis yang membahas mengenai bagaimana kedudukan bahasa di dalam sastra Arab. Dia menggambarkan begini, di dalam pola berfikir atau di dalam sejarah intelektual islam itu ada dua kaidan atau otentisitas, keaslian. Yang pertama adalah keaslian dari segi bentuk. Yang kedua keaslihan dari segi isi. Dari segi bentuk, sebetulnya keaslihan yag masih dipertahan kan dalam islam itu keaslian yang sumbernya dari masa jahiliah. Jadi saatra arab itu sebetulnya menemukan vase otentiknya itu bukan dalam sejarah Islam nya sendiri tetapi jauh pra islam pada masa jahiliah. Oleh karena itu –dan ini memang agak paradok kalau kita pelajari tafsir atau eksgesis qor;an itu kalau ada sebuah kata dalam al-qur’an yang agak aneh dan tidak dikenal, tidak lazim didengar oleh orang, maka untuk mencari apa arti kata itu biasanya para penafsir itu merujuk kepada puisi puisu Arab kuno.

Jadi sebetulnya secara implisit, alqur;an sebagai penciptaan literar, untuk ukur, parameternya sebetulnya adalah sastra jahiliah. Jadi al-Quran sebagai karya sastra yang hebat,yang mu’jizat itu dia mu’jizat karena parameternya sebetulnya adalah puisi arab jahiliah sehingga masa yan ideal atau mebtuk ideal di dalam pengucapan literer Arab itu sebetulnya bukan pada masa islam. Sebelum islam. Tetapi Isinya adalah Islam. Jadi sebetulnya ada unsur gabungan yaitu unsur jahiliah dan aspek-aspek literar dalam penciptaan saatra arab jahiliah tetapi kemudian isinya diambil dari Islam itu sendiri. Hadi di sini Adonis mencoba untuk menunjukkan bahwa islam sebetulnya tidak memutus sama sekali kaitan dengan vase-vase itu. saya kadang-kadang merasa Adonis ini sepertinya secara implisit mau memuja masa jahiliah dari segi literer.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 17 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Oleh karena itu para penyair yang dia kagumi itu kan -selain penyair pada masa islam al-Mutanabbi karena dia menganggap al-Mutanabbi itu sejarah hidupnya kira-kira kayak dia begitu. tetapi dia juga mengakui para penyair masa jahiliah, yang paling hebat dulu adalah Umruul Qois itu dianggap sebagai, Adonis di dalam buku ini, dia mengutip salah satu komentas sayyidina Ali Kholifah keempat itu tentang Umru’ul Qais. Begini kira-kira: Umruul Qais penyair, penyair, itu saja. al-syair-al syair, diulang dua kali, menunjukkan bahwa ada pujian yang tak terperikan. Betapa hebatnya Umru’ul Qais bahkan di dalam pandangan orang-orang yang hidup pada masa pasca islam. Ya begitulah, saya belum bisa menjawab pertanyaan Sahal karena belum membaca semuanya.

M. Jadul Maula:

Saya ingin menambahi sedikit soal qur’an dan puisi jahiliah. Saya sebenarnya ingin sekali menemukan puisi puisi mualaqat, puisi puisi yang unggul di dalam kebudayaan sastra Arab jahiliah yang selalu menag dalam festifal yang digantung di ka’bah yang tujuh buah. Saya sering kali memdapatkan teks nya. Saya sering mendapatkan puisinya orang jahiliah itu tetapi kaum Hanifiah. Saya tertarik membandingkan karena puisi0puisi orang Hanifiah itu sudah bercerita tentang tuhan yang satu yang maha benar yang punya sifat rahman rahim dan sebagainya itu, asmaul khusna itu. Mereka sudah menceritakan itu. Puisi-puisi mereka juga tema-tema metafisika tentang siksa kubur, tentang surga tentang neraka bahka puisi-puisi hanifiah itu sudah bercerita tentang nabi-nabi.

Jadi ada beberapa cuplikan oleh Said mamluk al_Kimni di dalam beberapa bukunya karena beberapa kalimatnya memang mirip qur’an: arrahman, arrahim, Allahu ahad, allahussomad dan sebagainya itu ada di dalam puisi puisi arab. nah saya pernah, tidak serius, agak iseng juga ingin lebih jauh. Tapi kalau kita baca lebih lanjut qur’an itu ternyata keistimewaan qur;anitu begini: Di dalam puisinya orang orang Hanifiah, tuhan yang satu, Tuhan yang itu itu diceritakan sebagai orang ketiga, dia. Jadi seolah-olah si penyair itu belum pernah ketemu Tuhan beneran, tapi mendengar cerita lalu diceritakan kembali. Qur’an, kadang kadang Tuhan itu disebut dia, kadang-kadang tuhan itu menjadi orang pertama, lalu qul, katakan gitu, jadi ngomong sendiri. Yang tadinya hanya orang ketiga iru menjadi orang pertama, kadanga menjadi orang kedua. Jadi sehingga gambaran tentang Tuhan itu betul betul hadir, hidup di dalam alquran sehingga lalu muhammad tidak bisa ditolak lalu orang-orang pada takluk pada qur’an ini karena di satu sisi mereka tidak bisa membuktikan bahwa qur’an itu bukan dari Tuhan walaupun sulit sekali mereka percaya bahwa qur’an itu dari Tuhan.

Jadi ini posisi ini yang sebetulnya menarik. Saya perceya pada qur’an itu karena memang sebenarnya qur’an sejak zaman orang jahiliah pun mereka tidak bisa membuktikan bahwa qur’an itu bukan dari Tuhan ka rena ada wacana, ada setruktur yang berulang-ulang dimana memang Tuhan hadir bener di dalam subyek, di dalam apa bahasa itu. Sementara dalam puisi jahiliah itu hanya orang ketiga.

Saya kira itu ada hubungannya, bahkan saat Ibnu Mas’ud yang membaca inna al dina ‘inda Allahi al islam sebagai inna al-dina ‘inda Allah al-hanifiyah, tapi saya puy arti begini bahwa ini memang dari tuhan apakah memang kecerdasan Muhammad ini jadi satu dan Muhammad cerdas karena dia dapat wahyu Tuhan atau Muhammad dapat wahyu Tuhan karena cerdas karena cerdas sehingga ia mendapat wahyu Tuhan. Nggak

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 18 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

tahu karena dia cerdas dia bisa menentukan sesuatu yang sungguh tepat seoralh oleh dia memang dari Tuhan, dan pilihan kepada hanifiyah itu kan sebagai dalam kontek Atsabit wa al-Mutahawwil itu bagi dia ini kekuatannya atsabit karena nggak Yahudi nggak Nasrani karena yahudi dan Nasrani Nggak bisa dibuat kekuatan yang atabit untuk kontek bangsa Arab.

Bagaimanapun dia agama yang sudah pernah diekperimentasikan di negara lain. Itu sesuatu yang datang. Jadi Muhammad cerdasnya ini ngak mungkin dijadikan sebagai atsabit, ini hanya kemungkinan yang wa almutahawwil. Tetapi untuk atsabit itu sebenarnya Hanifiyah kenapa karena agama ini merujuk kepada adat istiadatnya nabi Ibrahim, sesautu yang mengakar betul di bangsa Arab dan yang ditunggu-tunggu bangsa arab memang nabi Arab, nah kalau nabi Arab kok membawanya agama impor, itu kan sulit sekali diterima sehingga yang dibangkitkan oleh Muhammad adalah ini hanifiyah yang dipakai sebagai modal dasarnya, tapi kemudian didinamisir sedemikian rupa seperti dalam kasus qur’an itu bahwa kalau di dalam Hanifiyah itu hanya nggak aktif, jadi pihak yang mutakkallamyang dibicarakan tapi di dalam qur’an, Tuhan mutakallim, diaktifakn di situ; diaktifkan sedemikian rupa sehingga Tuhan yang mati, yang beku di dalam puisi-puisi hanifiyah itu hidup, jadi puny kekuatan, punya daya magis untuk menggerakkan, membuat masyarakat itu bergerak, dan itu secara dinamis lalu dibentur-benturkan dengan agamaagama yang lain, sebenarnya itu untuk mengasasah, memaknai kekerasan yang dilakukan dalam konteks peristiwa-peristiwa suci itu seperti ketegaan yang ditujukan misalnya pandai besi untuk mengolah besi yang keras itu supaya menjadi pedang yang landep supaya dia itu perlu satu upaya yang sangat keras, dan di dalam sejarah manusia itu bisa menjadi perang, hina menghina, bisa jadi ejek-mengejek, saya kira di dalam qur’an itu terdapat ungkapan yang keras didalam mengejek: inna Syani’aka huwa al-abtar, itu lebih kasa dari mengatakan Zainuddin tengik, itu qur’an lebih kasar sebetulnya.

Banyak ungkapan yang sangat keras, kasar, tapi itu bagian dari satu pertarungan sejarah yang sangat riil dimana nabi pernah merasa mendapatkan otoritas dari Tuhan untuk menempa masyarakat itu. sehingga seolah berbuat apa saja itu menjadi boleh. Saya ingat Mahmud Muhammad Toha juga yang mencoba menceritakan bahwa bedanya Nabi Muhammad dengan nabi-nabi lain itu begini: nabi Adam itu punya hak untuk berbuat salah lalu dia difonis salah dihukum lalu tobat dan diampuni lalu menjadi nabi. Tetapi ketika sampai pada Muhammad, itu begitu dekatnya Muhammad dengan Tuhan Muhammad berbuat salah, sebelum Muhammad meminta ampun itu sudah diampuni. Bahkan kadang-kadang menjadi preseden hukum. Nabi Muhammad belum sempat meminta maaf itu sudah diampuni, dan menjadi preseden hukum soal nabi mengawini mantan isrtinya Zaid bin Tsabit, Zainab itu. Itu kan kekeliruan manusiawi sebetulnya, tapi sebelum dia bertaubat lalu Tuhan menurunkan ayat lalu itu jadi preseden hukum karena Tuhan ingin memberiukan contoh kepada manusia bahwa boleh mengawini mantan anak istrinya sendiri, jadi preseden hukum bahkan. Jadi ini salah satu kemenangan yang luar biasa yang dimiliki oleh Nabi Muhammad karena itu juga mungkin pencapaian spiritualnya yang sudah begitu dekatnya dengan Muhammad.

Moderator:

Ok. Jam telah menunjukka pukul 9.30 WIB, kita buka termin lagi, tiga orang: Trisno, Novriantoni, Yasir, dan Imdad. Silakan.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 19 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Trisno S. Sutanto (MADIA):

Saya nggak perbah kenal Adonis. Petama kali kenal Adonis saya pikir itu nama grub band. Cuma kebetulan teman saya yang membawa interviw dengan Adonis dan memakai bahasa Inggris yang bisa saya pahami, kalau dia pakai bahasa Arab jadi tidak bisa di baca. Yang menarik untuk saya ada dua cerita di sini dan saya ingin minta komentar, menanggapi sekilas komentar dari Ulil kalau tidak salah. Ulil menceritakan pandangan Adonis mengenai Bahasa dan Adonis mengatakan bahwa bahasa itu semacam pelarian. Saya ingin bertanya dalam konteks ini, pertama mengenai namanya. Rupanya nama Adonis dia pilih karena dia menulis sebelumnya pakai-nama-nama aslinya dia yang tidak pernah terpublikasikan. Jadi dia mengambil nama Adonis. Lalu bisa dipublikasikan jadi perlu ganti nama.

Tapi yang menarik, ungkapan dia, bukan hanya mengambil itu untuk dipublish tapi refleksi dia berikutnya. Dia mengatakan bahwa sebenarnya saya tidak punya pikiran. Tapi, ketika saya memilih nama Adonis, maka timbullah perpecahan dari seluruh yang bersifat religio nasionalistik. Saya tertarik kata religio nasionalistik ini karena Ulil pernah satu tempat kos dengan Adonis, jadi mungkin bisa cerita kenapa kok ada perasaan bahwa dia harus lepas dari religio nasionalistik. Nama Adonis jelas dia pilih untuk mengatakan saya bukan Arab, bukan Islam, dan seterusya. Nah kok bisa dimana titik pangkalnya dan apakah itu yang menyebabkan bahasa lalu menjadi tempat, pelarian.

Yang kedua, yang menarik lagi masih berkaitan dengan soal itu tapi lebih kepada Jadul tadi, Adonis juga pernah mengatakan ketika kuliah, katanya, dia melihat bahwa tradisi itu semacam sebuah negasi bukan hanya tentang perayaan kehidupan, meminjam istilah Ahmad Sahal. Tetapi bahwa negasi terhadap kemanusiaan dan kemajuan. Gagasan ini yang tampaknya kalau mengikuti alurnya Jadul, apakah ini dan menjelaskan teori fisikanya Jadul itu. Apakah itu maksudnya. Seluruh tradisi seperti diputus dan disengaja memilih nama yang bukan Arab, bukan Islam, bukan sebagainya itu. Bahkan, di akhir wawancara ia ditanya tentang intelektual Arab, dia berkata, saya sama sekali tidak suka dengan mereka, saya lebih dekat dengan Rilge, dengan Bodeler, dengan Rimbo, dengan Niche, dan sebagainya. Tapi, saya tidak suka dengan intelektual Arab, tandas Adonis. Mungkin bisa dijelaskan.

Novriantoni (JIL)

Dari tadi saya mencari-cari tentang keterkaitan antara pemikiran kebudayaan Adonis dan pemikiran keagamaan. Tadi lebih banyak ditarik kepada keagamaan tapi sebetulnya kalau saya mencermati bukunya Adonis Atsabit wa al-Mutahawwil sebetulnya Adonis menberikan p[erspektif lain tentang pemikiran-pemikiran keagamaan. Menurut saya dia seorang komentator yang baik terhadap pemikir-pemikir islam yang seperti dikatakan Ms Ulil tadi, dia sortir beberapa pendapatnya kemudian dia berikan sebuah teori besar bagaimana corak pemikiran seorang tokoh tersebut, contohnya dia menurut saya seorang intelektual yang lebih jujur dari pada Hassa hanafi yang asal kutip kadang kadang terhadap pemikiran Arab klasik begitu. Adonis ini mengutip dengan sangat rinci atas pemikiran-pemikiran sebelumnya. Seperi dia membahas Muhammad bin Abdul Wahab yang sebetulnya seorang Wahabi yang menurut ukuran Adonis bukanlah seorang yang penting untuk dibahas tapi dia membahas Abdul Wahab untuk membuktikan bahwa sebuah pemikiran bagi Muhammad bin Abdul Wahab adalah bid’ah.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 20 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Dia menulis judul yang sangat unik dalam judul tentag komentarnya thd Muhammad bin Abdul wahab dalam buku Atsabit wa Al Mutahawwil itu, dia mengatakan misalnya Muhammad bin Abdul Wahab, Al Fikru bid’ah, pemikiran merupakan suatu bid’ah, kemudian dia menkaji Muhammad Abduh, dia menyebutnya pemikiran menurut Muhammad abduh Adalah Ibda’ dalah sebuah inovasi. Dia mengutip berbagai pendapat Muhammad Abduh, berbagai pendapat Muhammad bin Abdul Wahab yang mendukung paradigma berpikir masing-masing. Dia ingin menetapkan itu. begitu juga ketika dia mebahas tentang Imam Syafi’i misalnya, dia meneebut Imam Syafi’I sebagai peletak dasar ilmu ushul fikih yang dia sebut puny akecenderunga n arabisme yang sangat kental. Dia menyebutjkan bahwa pemikiran-pemikiran Iman Syafi’I menurut kutipan dari buku-buku Imam syafi’i sendiri, dia membuktikan bahwa Imam Syafi’I adalah seorang intelektual yang sangat punya kecenderungan Arabisme yang berlebihan dan sangat meremehkan kecenderungan dari non Arab.

Saya kira poin=point seperti ini slain poin=point yang sudah dterangkan oleh Mas Jadul tadi, ketika dia mengatakan bahwa ada sebuah paradigma yang tetap dan sebuah paradigma berfikir yang berubah dari pemikiran Arab itu saya pikir penting juga. Saya berusaha memperoleh inti dari buku al-tsabit wa al Mutahawwil Adonis yang saya kira relevan di sini untuk disebutkan. Dia menyebutkan begini, ketika membandingkan antara peradaban Arab dan peradaban Barat yang dia coba bandingkan, dia mengatakan, al-hadloroh al-‘arobi hadzi hadlri al-nadhroh allati araftaha ta’ni al-stsabat ai taqlid aw al-naql. Dia menyebutkan, peradaban itu adalah peradaban menurut yang berdasarkan pada transmisi intelektual dari masa yang lampau menuju masa sekarang, Jadi peran intelektual zaman sekarang dalam kontek peradaman yang seperti ini adalah sebagai penafsir atas produk intelektual masa lampau itu. Makanya dia akhirnya menimpulkan bahwa peradaban Arab itu berdiri atas landasan merujuk kepada masa lalu dan mencari keselamatan dari masing-masing ,elalui itu sendiri. Sementara peradaban barat yang dia sebutkan di sini itu berusaha mencari satu petualangan, katanya thola al-mughomarah, mencari petualan dan wa littisab dan mencari pengungkapan-pengungkapan tebaru. Jadi ini yang mungkin –saya tidak tahu apakah ini sebetulnya memang karakteristiknya tapi dia ingin menjelaskan bahwa pergulatan antara konservatisme dan progresifitas yang kuat sekarang ini erat kaitannay dengan paradigma atsabit wa almutahawwil yang tadi sudah diterangkan dengan Mas jadul dengan baik tadi.

Mungkin contoh yang paling gampang mungkin, kasus Masdar Farid Mas’udi yag punya pikiran orisinil tentang haki tapi dia tidak punya landasan pemikiran dari pemikir-pemikir klasik sehingga oleh ulama-ulama NU, kyai-kyai segala macem ya dianggap itu tidak otentik dan tertolak dengan begitu. saya kira ini cukup penting. Tadi Mas Ulil banyak menceritakan kultur kekerasan yang saya kira betul bahwa dia adalah seorang kultur humanis yang sangat menderita dengan kekerasan dan dia juga pernah menulis setelah jatuhnya baghdad dan setelah Saddam Husyai ditangkap. Dia ingin membuktikan bahwa kekuasaan di tanah Arab dan di tanah Islam sebetulnya tidak bisa bertrasisi terjadi dengan cara yang damai kecuali setelah diruntuhkan seperti itu, dia ingin membuktikan tetapi tadi sangat tragis sekal puisi-puisi yang disampaikan Mas Ulil tadi dan saya kira itulah jeritan dari seorang penyair saya kira. Terimakasih.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 21 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Yasir (TAF):

Osama bin laden ketika menjustifikasi tindakannya dia selalu menggunakan ayat-ayat Qur’an, dia juga menggunakan referensi sejarah masa awal lengkap dengan tokoh-tokohnya. Nah kalau misalnya Adonis telah melakukan proyek kritik terhadap qur’an yang merupakan naskah ini sebetulnya dalam umat Islam sendiri, kitab itu tidak hanya qur’an tapi adalah sejarah pada awal masa Islam dan juga tokoh-tokohnya. Kita juga bisa melihat sejak Ummayah hingga Abbasiyah, masa reproduksi sejarah masa awal Islam ini suatu hal yang besar-besaran. Ini bukan hanya untuk keperluan ilmiyah saja tetapi adalah karena referensi yang sangat sakral, adalah juga kitab suci. Makanya dengan analisis gotak gatik saya kira agenda dalam karya yang mengungkapkan banyak kekerasan yang telah banyak dilakukan oleh para sahabat itu adalah melakukan kritik terhadap nash di luar qur’an yang selalu menjadi referensi sepertti apa yang dilakukan Osama bin Laden.

Juga mengapa itu disebut sebagai al-kitab karena ini adalah fungsinya sama dengan al-qur’an untuk melakukan penelanjangan yang sama terhadap masa itu. Yang kedua, soal al-ashlu Adonis melakukan kritik, al-ashlu dia kemudian juga mencontohkan kembali bukan hanya, baik Mas Jadul maupun Mas Ulil membuat penjelasan yang menarik tentang al-ashlu ini. Kalau Mas Jadul mengatakan bahwa Islam telah memutus hubungan dengan masa jahiliah, kemudian menurut Mas Ulil bahwa Islam tidak memutus hubungan dengan masa jahiliah, maka kesimpulan saya dari beberapa penjelasan itu bahwa Adonis sebenarnya ingin menyampaikan bahwa sebenarnya yang namanya al-ashlu itu tidak hanya satu. Al-ashlu bisa kembali ke masa lalu bisa kembali kepada penyair-penyair.

Arabisme mengatur pemikiran dia, karena ini menjadi bermasalah ketika berbicara soal seksualitas, praktek sosial yang tidak produktif, kenapa misalnya onani dilarang, karena ada ideologi yan mengatur bahwa seksual itu untuk bereproduksi, maka bagaimana jika dibuang-buang. Ada teman saya yang mengatakan, kamu jangan onani mungkin yang keuar itu nanti akan menjadi jenderal. Kaitannya dengan pikiran Adonis adalah ketika kita ingin mencari referensi pemikiran di dunia Arab itu sangat sulit, bagaimana membenarkan praktek seksual yang tidak produktif: homo seksual, onani, itu sangat sulit. Nah dalam masyarakat Islam di Filipina itu ada satu cerita yang menarik bahwa ketika Adam diturunkan karena makan buah Khuldi kemudian Adam dan Hawa diturunkan di tempat yang sangat jauh. Adam saat itu berjalan di Filipina selatan yang saat ini menjadi basis Islam di moro itu. Diceritakan dalam masyarakat Islam disana bahwa Adam telah melakukan persetubuhan terhadap bumi sampai bumi itu berlubang sangat besar karena rindunya terhadap Hawa. Yang saya tanyakan sebetulnya adalah bagaimana sebenarnya pandangan Adonis tentang al-Ashlu yang plural itu tadi dan bagaimana Arabisme dan georafi Arab itu mengatur Pemikiran Adonis.

Imdadun Rakhmat (Lakpesdam NU)

Biasanya pemikir-pemikir Arab yang sering kita kagumi itu selalu merujuk kepada tradisi lama dan melihat tradisi dengan pendekatan-pendekatan yang diimpor dari filsafat Barat. Mungkin, Adonis ini agak lain misalnya dengan Arkoun atau Nasr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya karena dia lebih mempunyai latar belakang bagaimana melihat konstruk budaya masyarakat Arab melalui kajian produk sastra. Nah ini pendekatan siapa yang paling mempengaruhi cara analisa Adonuis.

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 22 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

Ulil Abshar Abdalla:

Jadi Adonis melihat sejarah Arab dengan murung sekali dan tidak ada sesuatu yang menggembirakan. Sejarah Arab penuh dengan kekerasan dan kekerasan. Tadi saya kutip: saya menulis dengan bahasa yang menampik saya, seorang ibu menampik anaknya secara puitis bahkan sebelum anak itu terbentuk di dalam rahimnya dan oleh karena itu pada mulanya adalah pengungsian, murung sekali nada Adonis ini, persis seperti al-Mutanabbi yang pada masa akhir hidupnya hidup miskin diusir dari istana tidak mendapatkan apa-apa dan seterusnya sehingga akhirnya mati dengan amat tragis. Begitulah Adonis. Saya tidak tahu banyak paradok dari Adonis. Dia pesimis pandangan hidupnya, tapi kalau kita melihat bahasanya sungguh cerah sekali. Bentuk pengucapan yang dipakai menurut saya sangat ideosinkretik, bahasa arab yang dipakai Adonis betul-betul bahasa Arab yang khas Adonis. Dan tidak diketemukan dalam pengarang yang lain. Bahkan, sampai dalam gaya yang dia pakai itu jarang saya jumpai pada pengarang yang lain, dan untuk penyair Arab sekarang ini yang sejalan dengan Adonis. Unik sekali dan cerah sekali bahasa Adonis. Ini sangat kontras dengan pandangan hidupnya yang pesimis dan murung terhadap kebudayaan Arab.

Di sisi lain bahasa dia penuh dengan pemberontakan, cerah, dinamis, progresif, dan aspek aspek yang bergerak, petualangan yang sangat luar biasa dan Adonis banyak sekali membangkitkan kata-kata Arab kuno yang sudah jarang dipakai. Amat ajaib sebetulnya penguasaan bahasa Adonis. Saya kira Adonis itu, memang susah diterangkan dalam satu, sebetulnya saya tadi ingin membuat makalah tapi belum selesai. Saya mencoba dalam makalah itu mencoba menciptakan Adonis sebagai diri saya sendiri, karena banyak hal yang paradok dalam Adonis, banyak hal yang dia bahas, yang dia tulis, selalu menantang dan tidak pernah selesai. Saya baca 1/3 ini berkali kali ada hal yang selalu muncul baru dan baru kayak qur’an. Tapi, kata al-Kitab sebagai judul buku Adonis ini terus terang bukanlah kitab alusi, merujuk kepada qur’an tapi merujuk kepada yang saya sebut tadi, Sibawaih, dan sastra Arab kuno.

Jadul:

Terimakasih. Saya akan mulai dari komentar Novri sekaligus yang ada kaitannya dengan Ulil. Saya tadi lupa untuk menjelaskan dalam konteks apa sebetulnya Adonis menmbicarakan Abduh, Rasdyd Ridla, Muhammad bin Abdul Wahab, dan al-Kawakibi. Adonis membuat definisi yang berbeda tentang al-tsabil wa al-mutahawwil. Al-tsabit itu pemikiran yang mengacu kepada teks untuk membuktikan dari acuan kepada teks itu sesuatu pendapat yang nanti akan mempertahankan teks itu sendiri. Jadi dari teks, untuk teks dan oleh teks. Jadi tidak ada dunia di luar itu. Dan itu nantinya yang ditetapkan untuk semua zaman dan tempat. Sementara al-mutahawwil itu pikiran yang membaca teks tapi juga menerima ta’wil sehingga dimungkinkan sebuah penafsiran untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ini sisi yang pertama.

Yang kedua, (ini kemungkinan lain) bahwa teks mungkin menjadi satu rujukan yang otoritatif dan lalu mengambil rujukan yang lain yaitu akal. Ini agak bergeser sedikit, dan ini dengan definisi dia ingin menunjukkan tambahan dia, ini sub bab baru tentang Ahmad bi Abdul wahab, Muhammad Abduh dan sebagainya. Dia memang berhasil menampilkan bahwa sebagian pemikiran kaum pembaharuan itu memang ingin mengembalikan lagi agama dalam spirit yang awal seperti kebebasan, persamaan,

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 23 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

keadilan. Namun, ini nanti yang akan membuat Adonis kecewa terhadap para intelektual Arab bahwa cita-citanya bagus, tapi yang sebetulnya menjadi soal adalah bahwa agama yang mau dibangkitkan kembali oleh mereka itu sebetulnya sesuatu yang tidak ada. Jadi dia ingin menyebutkan bahwa al-tsabit yag telah mengkonstruksi agama sedemikian rupa itu berapa kali Adonis memisahkan antara al-islamiyah dengan al-din. Al-islamiyah itu nilai-nilai keadilan, persamaan, dan sebagainya yang sejak zaman ketika al-tsabit memang memerangi itu. Al-islamiyah ini kemudian menjadi hilang. Yang ada adalah al-din yang merupakan hasil konstruksi kekuasaan dan kekerasan. Nah, para pembaharu Islam itu belum bisa keluar dari itu. Jadi, Adonis ingin membayangkan al-din itu keluar dalam arti seperti itu.

Nah, tambahan soal lagi yang menjadi parah sebetulnya adalah gabungan agama, kekuasaan dan teks. Adonis menyatakan bahwa hal-hal itu masuk dalam segmen hadatsah yang sebetulnya telah kehilangan salah satu kakinya yaitu negara. Karena sudah tidak ada lagi imperium Islam, yang terjadi adalah negara bangsa. Ini suatu realitas yang sudah berubah. Berubahnya realitas seperti ini menyebabkan definisi al-Din dalam maknanya yang lama sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Di sini Adonis sangat kecewa terhadap orang-orang yang mempertahankan al-tsabit yang beku itu. Dalam konteks itu, Adonis kemudian banyak mengutip Bakunin bahwa kita selamanya akan menjadi budak di dunia sekiranya kita masih mempunyai tuan di langit. Kalimat Bakunin kemudian diradikalkan oleh Adonis bahwa selamanya kita akan menjadi budak di bumi kalau kita masih mempunyai tuan. Sehingga kemudian dia kayaknya sudah tidak bisa berharap banyak. Bahwa selama nash yang sudah dikonstruksi itu tidak bisa dipecah lagi, tidak bisa ditembus, maka kita tidak akan berhasil.

Salah satu yang dikutip Adonis misalnya, dialektika para pembaharu itu perlu dijalankan. Misalnya, Masdar merumuskan bahwa haji termasuk ibadah yang muwassa’ dari sudut waktunya. Dia kemudian mengatakan, kenapa tidak diganti saja; haji diselenggarakan tiga kali dalam setahun. Masalahnya adalah ketika Masdar mengemukakan ini dan lalu ditolak oleh ulama karena tidak ada rujukannya dalam teks, maka Masdar kemudian menyerah dan mengakui bahwa otoritas memang masih berpusat pada teks sehingga dia memerlukan teks sebagai penyangga utama sebuah gagasan. Seandainya dia tidak mengakui. Misalnya, ia membikin panitia haji di luar musim haji. Dan lalu menghubungi swastani, perusahaan pesawat trasnportasi. Lalu dia melangsungkan ritus peribadatan secara lebih aman, nyaman, dan sebagainya. Ini mungkin bisa dilakukan. Dengan ini, maka Masdar akan mendapatkan mendapatkan pelanggan banyak. Kondisi ini dalam suatu waktu kiranya akan menjadi sebuah realitas yang tak terbantahkan, sehingga seseorang bisa melaksanakan ibadah haji sampai empat kali atau lima kali. Jadi Masdar ternyata juga masih mengakui otoritas itu. Jadi, kita selama ini akan sulit menjadi tuan kalau diam-diam masih mengakui otoritas nash (teks) yang menyebabkan kita sulit bergerak.

Dikaitkan dengan contohnya Yasir tadi tentang seksualitas, saya kemarin ketemu dengan KH Husen Muhammad dan beberapa teman lain yang sering mengutip jargon-jargon dan kaidah bahwa al-umuru bi maqashidiha, maslahat sebagai rujukan, yang kemudian berujung pada gagasas ingin membuat ushul fikih baru yang berangkat dari realitas, konteks, dan sebagainya. Kemudian saya bertanya, bagaimana dengan homo seksual. Mereka itu kemudian menjawab bahwa homo seksual merupakan perkara yang tidak ada teks pengaturnya, sehingga saya tidak bisa berpendapat. Pertanyaan saya

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 24 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal

kenapa harus kembali pada teks lagi. Ini saya kira satu ujian ketika kita hendak merumuskan suatu gagasan yang meninggalkan nash dan sebagainya. Kalau mereka berani melakukan homo seksual, saya baru percaya bahwa mereka tidak sedang berada dalam taklukan nash. Tapi kalau tidak berani memasuki tem-tema seksualitas, saya kira agak sulit. Namun, ada temuan yang menarik bahwa kalau pakai definisinya Adonis yang seperti ini, imam Syafii itu sebetulnya brilian dari segi al-mutahawwilnya. Dia lalu menemukan pada kitab Nailul AwthAr bahwa Imam Syafii menghalalkan anal seks. Ini sesuatau yang nggak ada teksnya, tapi dia berhasil membuktikan itu. Maksudnya, ini juga bisa jadi titik tolak bahwa yang dilakukan oleh kaum homo seksual melakukan anal itu boleh. Itu bisa jadi madhzab Syafii.

Hanya, yang mebedakan adalah bahwa kenapa dalam suami-istri yang sudah menikah itu diperbolehkan melakukan anal seks itu, karena di situ ada akad. Saya pernah didatangi kaum homo seks yang meminta untuk dinikahkan. Saya kaget karena sehari sebelumnya saya berbicara di komunitas gay dan saya melihat keseriusan mereka untuk menikah. Saya bilang begini, kalau kamu ingin menikah, dan datang kepada saya, saya ini lembaga kajian Islam, saya bilang begitu. Di dalam Islam itu belum ada tata cara untuk menikahkan gay. Dan kamu keliru kalau minta agama untuk menikahkan kamu. Kalau kamu yakin gay itu sesuatu yang dianugrahkan Tuhan juga, kamu mestinya berani menjadi ulamanya gay untuk menciptakan tata cara pernikahan cara gay sendiri. Karena ini lebih logis. Dulu Wiro Sableng itu kan banyak ritual pernikahan di depan batu, pohon, sungai. Kalau kamu mengembangkan tradisi sendiri, mengembangkan tata cara pernikahan sendiri yang penting bahwa terjadi satu pejanjian yang suci ini bisa maslahat. Dedi Utomo sering mengatakan dulu Tuhan melaknat homo seksual karena Tuhan memang tidak berkepentingan bumi ini kosong. Kalau homo seksual itu dilegalkan maka keberlangsungan manusia ini akan segera terhenti. Jadi eksperimen Tuhan dengan manusia ini akan kalah dengan binatang-binatang buas, karena kemudian tetap menjadi tempat penghunian jin-jin, denosaurus dan sebagainya. Tuhan ingin manusia ini menang di bumi, supaya bumi ipenuh. Problem yang terjadi sekarang malah sebaliknya.

Sekarang, problem kependudukan di dunia ini sungguh luar biasa. Kalau homo seksual menikah sesama mereka, kadang-kadang menjadi bapak kadang menjadi ibunya, lalu mereka mengadopsi anak, masing-masing keluarga itu tiga–itu anak anak yang terlantar yang tidak bisa dipelihara oleh negara, dipelihara keluarga homo seks ini, ini kan mashlahat ‘amah. Dan ini bagian dari maqasid al-syariah. Jadi ini sesuatu yang kalau bisa dilakukan, dapat menembus batas nash. Ini sangat luar biasa. Di sini memang antara al-tsabit dan al-mutahawwil ini sebetulnya sesuatu yang tidak pasti. Jadi, untuk masing-masing kasus selalu ada dinamikanya sendiri.

Jadi kayaknya mereka mungkin menemukan cara menikah diantara merek sendiri. Adam kesepian lalu diciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Lalu Adam bersenang-senang dengan hawa itu artinya Adam bersenang-senang dengan dirinya sendiri. Sehingga, menurut mereka, sesungguhnya mereka melakukan onani. Sehingga, hubungan heteroseksual menurut mereka homo juga, karena perempuan adalah bagian dari dirinya sendiri. Mereka mengembangkan cara beragama sendiri. Ini memang bisa ditembus. Salah satu jalan betapapun sulitnya, kita mesti bisa keluar dan menerobosnya. Mungkin Adonis mengambil cara dengan membangkitkan lagi kultur-kultur jahiliyah, qur’an dipandang sebagai teks sastra dan bukan sebagai teks hukum–sepetrti banyak diungkap oleh para pemikir Muslim kontemporer. Misalnya Muhammad Syahrur. Dia sebenarnya

Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 25 dari 26 halaman Jaringan Islam Liberal Transkrip Diskusi Adonis, 26 Februari 2004 26 dari 26 halaman

ingin mengembangkan metode penafsiran qur’an itu justru berangkat dari ketaatan yang luar bisa pada nash, karena dia akan menghitung kata ini berapa kali di dalam qur’an. Bintu Syati’ pun sebenarnya mengandaikan ketaatan yang luar biasa terhadap nash dalam mengembangkan metode baru dalam pembacaan qur’an . Pada akhirnya, definisi tentang nash itu yang penting diubah. Orang-orang yang saat ini disebut tektualis itu sebetulnya tidak membaca teks secara taat. Ia memilih teks tertentu lalu mengandaikan teks yang lain.

Orang orang yang selama ini disebut kontekstualis sebetulnya tektualis, karena mereka membaca, misalnya wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Itu sebuah teks yang tentu akan diterapkan. Jadi sebetulnya kita akan mengandaikan pembahasan terhadap teks. Maka, kita perlu keluar dari definisi teks yang dikonsumsi oleh fikih yang sebenarnya hanya mengikuti ayat-ayat tertentu saja. 6666 ayat qur’an dalam definisi nash, teks yang digarap oleh fikih hanya 500-an ayat. Ada 5000-an ayat lagi yag sebetulnya mengganggur. Kalau kita bisa menggembangkan teks, lalu dalam arti bahwa qur’an itu teks sastra, lalu bahwa semua kalimat yang ada di dalam ribuan itu sebetulya terbuka untuk dibaca, dan lalu semuanya ambigu, itu sebetulnya akan menimbulkan sesuatu yang sangat revolusioner. Sehingga, ketika kita membaca qur’an yang lahir bukan fatwa hukum, tapi seperti Syahrur membaca qur’an yang lahir misalnya antropogi, yang lahir lalu tafsir antropologi, jadi filsafat, puisi, fisika, sejarah, dan sebagainya.

Menurut saya, Adonis bukanlah pemikir Islam, dalam artian dia mencari metode pemahaman Islam, metode penafsiran baru terhadap qur’an dan sebagainya. Dia ingin menempatkan fase agama di dalam kultur Arab sebagai satu gejala kebudayaan yang memantapkan satu kekuatan untuk estabilish. Dalam konteks itu, Adonis hendak membuka kembali teks keagamaan sebagai gejala kebudayaan yang dimanipulasi, dibonsai menjadi teks hukum lalu diikat dengan berbagai sakralisasi, dengan berbagai usul fikih dst juga dengan teori bahasa juga pada akhirnya diikat juga dengan hadits-hadits, kitab-kitab hadits Imam Bukhori, Imam Muslim dan bahkan dari hadits-hadits Syiah. Padahal, itu sesungguhnya sunah-sunah Nabi yang dikonstruksi menurut tema fikih. Jadi semua diabdikan untuk fikih dan itu menjadi salah satu perekat dalam struktur pemkiran Adonis tentang al-din, qur’an dan nash. Salah satu pengikatnya fikih yang diperkuat dengan bahasa, dengan sakralisasi, dengan senjata, juga dengan buku hadits.

Moderator (Abd Moqsith Ghazali)

Saya kira cukup, sudah jam 10:10. Selamat bertemu lagi bulan Maret depan. Assaalamualaikum. Wr.wb.

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di Ideologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s