Metode Penelitian hadis

  • Metode Penelitian hadis

  • Takhrij al-Hadis adalah penelusuran / pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan.

  • Pentingnya takhrij al-hadis:

  1. untuk mengetahui asal usul riwayat hadis

  2. untuk mengetahui seluruh riwayat hadis

  3. untuk mengetahui ada atau tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad yang diteliti.

  • Metode takhrij ada 2 macam:

  1. bil lafz (kata)

  2. bil maudhu’ (tema/topik masalah)

  • kamus hadis untuk M.T. bil lafz: المعجم المفهرس الالفاظ الحديث النبوى (kar. Dr.A.J. Wensick) memuat 9 kitab hadis (sahih al-Bukhori, sunan Abi Daud, sunan at-Turmudzi, sunan an-Nasa’i. sunan Ibnu Majah, sunan ad-Darimi, Mutawatta’, dan musnad Ahmad bin Hambali.

  • Rujukan untuk M.T. bil maudhu’ : مفتاح كنوز السنة Kar.Dr.A.J. Wensinck, dkk. Memuat 14 kitab hadis (9+5) musnad zaid bin Ali, musnad Abi daud at-Tayalisi, Thabaqat in Sa’ad, sirah ibn Hisyam, dan Maghazi al-Waqidi.

  • منتخب كنزالعمل karya Ali bin Hisyam ad-Din al-Mutqi, memuat 20 kitab hadis.

Menurut istilah ilmu hadis, al-I’tibar berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seseorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untu bagian sanad dari sanad hadis dimaksud.

Untuk memperjelas dan mempermudah proses kegiatan al-I’tibar, diperlukan pembuatan skema untuk seluruh sanad bagi hadis yang akan diteliti. Dalam pembuatan skema, ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian yakni 1 jalur seluruh sanad; 2. nama-nama periwayat untuk seluruh sanad; 3. metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat.

Berangkat dari definisi itu dapatlah dikemukakan bahwa unsur-unsur kaidah kesahihan hadis adalah sebagai berikut:

  1. Sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung mulai dari mukhorj-nya sampai pada nabi

  2. seluruh periwayat dalam hadis itu harus bersifat adil dan dabit

  3. hadis itu, jadi sanad dan matn-nya, harus terhinar dari kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illat).

Ulama hadis sependapat bahwa ada dua hal yang harus diteliti pada diri pribadi periwayat hadis untuk dapt diketahui apakah riwayat hadis yan dikemukakannya dapat diterima sebagai hujah ataukah harus ditolak. Kedua hal itu adalah keadilan dan ke-dabit-annya. Keadilan berhubungan dengan kualitas pribadi, sedang kennya berhubungan dengan kapasitas intelektual. Apabila kedua hal itu dimiliki oleh periwayat hadis, maka periwayat tersebut dinyatakan sebagai bersifat siqah. Istilah siqah merupakan gabungan dari sifat adil dan dabit. Untuk sifat adil dan sifat dabit. Masing-masing memiliki kriteria tersendiri.

Keempat butir sebagai kriteria untuk sifat adil itu adalah: 1. beragama islam; 2. mukalaf (mukallaf0; 3. melaksanakan ketentuan agama; dan 4. memelihara muru’ah.

Adapun memelihara muru’ah, seluruh ulama sependapat untuk menjadikannya sebagai salah satu kriteria sifat adil. Arti muru’ah ialah kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal itu dapat diketahui melalui adat istiadat yang berlaku di masing-masing tempat. Contoh-contoh yang dikemukakan oleh ulama tentang perilaku yang merusak atau mengurangi muru’ah antara lain ialah; makan di jalanan, buang air kecil di jalanan, makan di pasar yang dilihat oleh orang banyak, memarahi istri atau anggota keluarga dengan ucapan kotor, dan bergaul dengan orang yang berperilaku buruk. Bila periwayat hadis tidak memelihara muru’ah, maka dia tidak tergolong sebagai periwayat yang adil dan karenanya, riwayatnya tidak diterima sebagai hujah.

Berdasarkan kriteria sifat adil yang telah dikemukakan di atas, maka hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang yang suka berdusta, suka berbuat mungkar atau sejenisnya, tidak dapat diterima sebagai hujah. Bila riwayatnya dinyatakan juga sebagai hadis, maka hadisnya adalah hadis yang berkualitas sangat lemah (daif), yang oleh sebagian ulama dinyatakan sebagai hadis palsu (hadis maudu’)

    1. periwayat yang bersifat dabit adalah periwayat yang a). hafal dengan sempurna hadis yang diterimanya, dan b). mampu menyampaikan dengan baik hadis yang dihafalnya itu kepada orang lain.

    2. periwayat yang bersifat dabit ialah periwayat yang selain disebutkan dalam butir pertama di atas, juga dia mampu memahami dengan baik hadis yang dihafalnya itu.

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di Hadist. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Metode Penelitian hadis

  1. m.nurmualif berkata:

    ditambah………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s