PENENTUAN LOKASI BANGUNAN DI FASILITAS PROSES BERDASARKAN RESIKO

PENENTUAN LOKASI BANGUNAN DI FASILITAS PROSES
BERDASARKAN RESIKO

Oleh: Slamet Suryanto*

Bangunan-bangunan di area proses (pabrik) tidak dapat dipungkiri mempunyai resiko terhadap bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh berbagai kejadian potensial yang tidak diinginkan yang disebab kondisi operasi, bahan-bahan yang terlibat, tata letak peralatan dan bangunan, rancangan bangunan dan sebagainya. Ini berarti bahwa penghuni bangunan atau orang-orang yang memanfaatkan bangunan-bangunan tersebut mempunyai resiko yang mungkin diakibatkan oleh berbagai macam kejadian diantaranya, bahaya kebakaran, ledakan, atau terlepasnya bahan-bahan berbahaya/beracun yang dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan pemakai bangunan.

Evaluasi resiko terhadap bangunan memerlukan kondisi yang sangat luas. Hal ini disebabkan  selain kondisi proses dari suatu fasilitas dengan fasilitas lain sangat bervariasi dan juga  adanya variasi dalam hal rancangan, konstruksi, lokasi, tingkat hunian maupun fungsi dari suatu bangunan di area proses. Beberapa gedung mungkin hanya mempunyai potensi resiko kecil terhadap penghuni dan tidak memerlukan tindakan lebih lanjut. Tetapi, kebalikannya beberapa gedung boleh jadi memerlukan upaya-upaya untuk menurunkan resiko.

Tujuan dari evaluasi penempatan bangunan pada fasilitas adalah untuk meyakinkan bahwa lokasi suatu bangunan adalah memadai terhadap bahaya-bahaya yang ada di sekelilingnya.

Kata-kata kunci: bangunan, analisa resiko, analisa resiko kuantitatif, tingkat hunian, kriteria resiko yang ditetapkan, BLEVE, ledakan awan uap(VCE), resiko individu, resiko maksimum individu dan resiko sosial.

Bahaya-Bahaya Terhadap Penghuni/Pemakai Bangunan di Area Proses

Area proses merupakan tempat yang berbahaya dimana berbagai macam bahan dengan karakteristik dan kondisi proses yang beragam dapat terlibat, diantaranya bahan yang dapat menyala dan terbakar (flammable dan combustible materials), bahan beracun, bahan mudah bereaksi dan sebagainya. Kondisi proses yang dapat menyebabkan bahaya diantaranya kondisi proses yang ekstrim, temperatur yang tinggi atau terlalu rendah (cryogenic), tekanan tinggi, volume yang besar, fase bahan yang multifase, dan sebagainya. Sifat dan kondisi yang telah disebutkan di atas dapat menyebabkan suatu insiden atau kecelakaan dari yang bersifat ringan sampai dengan yang berkategori bencana atau katastropik.

a. Bahan Dapat Menyala (Flammable Materials)

Bahan dapat menyala, jika menyala, dapat memberikan paparan panas kepada bangunan baik dari pool fire, jet fire, flash fire atau fireball (lihat definisi). Disamping itu, beberapa bahan tersebut dapat membentuk awan uap (vapor cloud) yang dapat bercampur dengan udara, dan jika terjadi penyalaan yang terlambat (delayed ignition) serta kondisi lapangan mendukung, maka akan dapat menyebabkan Ledakan Awan Uap (vapor cloud explosion, VCE). Bergantung kepada besarnya ledakan, dan lokasi serta konstruksi bangunan, ledakan dapat menyebabkan berbagai tingkatan resiko terhadap penghuni bangunan.

* HSE Engineer di Manajemen Proyek Hilir Pengolahan Dit. Hilir Pertamina.
*Anggota AIChE (American Institute of Chemical Engineers) dan NFPA (National Fire Protection Association).

b. Bahan Beracun

Bahaya lain yang kemungkinan dapat terjadi pada penghuni/pemakai bangunan adalah terpapar bahan beracun yang masuk ke dalam bangunan.

c. Bahan Proses Lain

Bahan lain yang mempunyai potensi bahaya adalah bahan-bahan yang dapat terdekomposisi melalui reaksi liar, reaksi kimia atau reaksi thermal. Bahkan bahan-bahan seperti ini dapat menghasilkan ledakan, terlepasnya senyawa beracun, kebakaran, dan bahaya proyektil kepada penghuni bangunan di area pabrik proses.

d. Kondisi Proses Yang Ekstrim

Kondisi proses yang ekstrim, misal temperatur dan tekanan yang tinggi, dapat mempunyai potensi bahaya meskipun melibatkan bahan-bahan yang dalam kondisi atmosfer tidak berbahaya. Sebagai contoh terjadinya BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion, lihat definisi) yaitu jika cairan disimpan dalam kondisi temperatur di atas titik didihnya (kondisi atmosfer) dapat menguap dengan kecepatan eksplosif jika terdepresi melalui kefatalan/kerusakan pada wadahnya. Sebagaimana terjadi pada gas-gas yang terkompresi, ekspansi dari uap dapat menghasilkan gelombang kejut.

Konsep Resiko Untuk Evaluasi Penempatan Bangunan

Resiko adalah suatu ukuran kerugian cedera (sampai dengan kefatalan) pada manusia atau kerugian ekonomi yang dinyatakan dalam frekuensi kejadian dan besarnya konsekuensi (kerugian atau cedera). Jadi untuk menentukan resiko dari suatu kejadian, potensi konsekuensi dan frekuensi (tingkat kebolehjadian)nya diperkirakan. Angka resiko dinyatakan dalam angka yang diharapkan dari puncak kejadian per satuan waktu.

Resiko dapat diukur dan dinyatakan dalam berbagai cara. Untuk resiko bangunan, berdasarkan publikasi CCPS, terdapat beberapa ukuran resiko yang sesuai untuk mengevaluasi bangunan di fasilitas proses yaitu resiko maksimum individu, resiko sosial dan resiko kelompok.

Resiko maksimum individu (RMI) didefinisikan sebagai resiko terbesar yang terpapar pada individu dalam suatu populasi. Dalam kasus orang yang berada dalam bangunan di area proses adalah orang yang paling banyak menggunakan waktunya pada bangunan yang dievaluasi. RMI dihitung dengan cara frekuensi kejadian yang menyebabkan kerusakan pada bangunan secara memadai sehingga menyebabkan terjadinya cedera serius atau kefatalan dikalikan dengan probabilitas cedera serius atau kefatalan. Angka yang diperoleh kemudian dikalikan dengan fraksi hunian individu (yaitu prosentase waktu yang digunakan di bangunan). Total resiko maksimum pada individu adalah jumlah angka resiko individu yang dihitung untuk setiap kejadian.

Resiko sosial adalah ukuran resiko yang terkait dengan insiden yang berpotensi berdampak pada suatu populasi. Dalam hal ini, resiko suatu insiden tidak dibatasi oleh area proses namun resiko masyarakat sekitar industri juga dihitung. Pada kasus ini, suatu kejadian besar tunggal dapat berdampak pada berbagai bangunan dan berbagai individu baik yang berada di dalam maupun yang berada di luar bangunan. Dengan konsep yang mirip dengan resiko kelompok, CCPS memperkenalkan konsep resiko kelompok untuk menyatakan resiko sosial yang terbatas untuk studi penempatan fasilitas. Sehingga resiko kelompok dapat didefinisikan sebagai resiko untuk mengukur resiko kolektif terhadap semua orang di dalam bangunan yang dapat terpapar oleh suatu kejadian atau berbagai kejadian.

Douglas Hobbs memberikan contoh yang cukup jelas untuk konsep ini sebagai berikut:

Frekuensi kejadian ledakan awan uap pada suatu kilang berdasarkan data adalah 4,3 x 10-4 ledakan per tahun dan probabilitas penghuni bangunan terpapar kejadian tersebut adalah hampir 1,0. Maka resiko individu dapat dihitung dengan formula:

Ri = Frekuensi x Probabilitas x Fraksi Waktu

Dengan asumsi bahwa individu tersebut menggunakan 100% waktunya pada bangunan yang dievaluasi yaitu 40 jam per minggu, maka fraksi waktu terhitung adalah 0,238 (40 jam/168 jam per minggu).

Sehingga resiko individu untuk 100% tingkat hunian dan satu kali kejadian ledakan awan uap adalah:
Ri = (4,3 x 10-4 ledakan per tahun) x (1,0 kefatalan/ledakan) x 0,238
= 1,02 x 10-4 kefatalan per tahun

Dalam evaluasi resiko terhadap bangunan di area proses, CCPS memberikan diagram alir pelaksanaan evaluasi tersebut. Pada halaman berikutnya dapat dilihat diagram tersebut.

Drawing
Identifikasi Bahaya dan Evaluasi

Tahap pertama dalam pengkajian resiko bangunan di area proses adalah mengidentifikasi skenario insiden yang membahayakan penghuni gedung. Skenario kecelakaan adalah urutan kejadian yang menyebabkan sesuatu dimana harus menjadi perhatian. Sesuatu khusus yang harus menjadi perhatian adalah terjadinya kebakaran, ledakan dan tersebarnya uap beracun yang dapat berdampak kepada bangunan-bangunan di area proses.

Proses pengkajian resiko dimulai dengan mengidentifikasi skenario insiden yang sesuai dengan fasilitas yang sedang dikaji. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Mengidentifikasi inventori bahan-bahan yang dapat menyala dan terbakar di dalam area proses dimana dia berada. Dengan cara yang sama lakukan pula identifikasi bahan lain atau kondisi proses yang dapat menyebabkan ledakan, reaksi kimia liar, kebakaran atau terlepasnya bahan-bahan beracun.

Identifikasi kejadian awal yang kredibel (kejadian yang mempunyai potensi probabilitas atau konsekuensi yang cukup tinggi) untuk insiden yang menyebabkan kebakaran, ledakan atau terlepasnya bahan-bahan beracun.

Lakukan identifikasi kejadian lanjutan yang dapat memicu atau menghentikan pengembangan skenario kecelakaan.

Untuk setiap kejadian awal, tentukan berbagai macam variasi kecelakaan.

Lakukan identifikasi terhadap jangkauan dari berbagai variasi skenario kecelakaan yang berpengaruh terhadap bangunan dan penghuninya.

Dokumentasikan proses evaluasi bahaya yang telah dilakukan untuk penentuan frekuensi dan konsekuensi dari pengembangan skenario insiden.

Teknik Untuk Evaluasi Bahaya Terhadap Bangunan di Area Proses

Terdapat berbagai macam teknik yang dapat digunakan untuk mengevaluasi bahaya-bahaya terhadap bangunan. Diantara teknik evaluasi bahaya yang dapat digunakan adalah:
FTA (Fault Tree Analysis)
ETA (Event Tree Analysis)
HAZAN (Hazard Analysis)
Dow Fire & Explosion Index
Mond Index, dsb.

Faktor-Faktor Yang Dipertimbangkan dalam Kajian Resiko Bangunan di Area Proses

1. Seleksi Skenario

Dengan teknik yang telah disebutkan di atas maka daftar potensi skenario insiden dapat dibuat. Daftar tersebut kemudian disaring untuk mendapatkan jumlah skenario minimum yang diperlukan untuk dikaji sehingga menggambarkan spektrum kemungkinan insiden dan memenuhi persyaratan studi. Berikut adalah saran untuk melakukan seleksi skenario:
Identifikasi resiko yang dapat diabaikan sehingga tidak diperlukan evaluasi lanjutan.
Kelompokkan insiden yang relatif sama ke dalam sub kelompok dan ganti mereka dengan salah satu insiden yang ekivalen.

Faktor-faktor yang akan mempengaruhi pengelompokan adalah kesamaan dalam inventori, komposisi, kecepatan pengeluaran, dan lokasi pengeluaran.

2. Evaluasi Konsekuensi

2.1. Kebakaran

Jenis kebakaran yang tidak terkontrol di dalam area proses adalah sebagai berikut pool fire, jet fire, flash fire atau fireballs. Jenis-jenis kebakaran ini dapat menyebabkan atau dihasilkan dari ledakan di area proses.

Produk-produk kebakaran dari suatu kebakaran dapat masuk ke dalam bangunan dan dapat menyebabkan masalah pada pernapasan, bahaya kefaalan tubuh, kebakaran di dalam bangunan, atau bahaya yang menyebabkan kemampuan pandang berkurang sehingga dapat menghambat untuk mendapatkan jalur aman ke luar dari bangunan.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam evaluasi ini adalah:

a. Bahan Yang Terlibat

Bangunan-bangunan yang terletak di dekat peralatan yang memproses bahan dapat menyala (flammable materials) berpotensi terpapar kebakaran. Daftar material mudah menyala dapat dilihat pada NFPA Code 30.

b. Tingkat Hunian Bangunan

Jika berdasarkan evaluasi awal telah ditentukan bahwa lokasi yang dikaji dapat mengakibatkan kebakaran, bangunan-bangunan yang dievaluasi kemudian dibandingkan dengan kriteria tingkat hunian bangunan yang ditetapkan oleh perusahaan. Kriteria beban tingkat hunian yang digunakan beberapa perusahaan bervariasi antara 200 – 400 jam personil per minggu.

Contoh perhitungan beban tingkat hunian

Kriteria suatu perusahaan terhadap beban tingkat hunian adalah 400 jam per minggu. Suatu kafe terletak di dalam area kilang minyak dimana unit proses yang terdekat dengan kafe tersebut adalah 100 meter. Kafe tersebut buka dari jam 06:00-08:00, 11:30-13:30, dan 17:00-19:00 dengan basis harian. Kira-kira 200, 350 dan 150 orang secara berturut-turut menggunakan kafe tersebut untuk makan pada hari kerja. Pada akhir pekan rata-rata 100 orang menggunakan fasilitas tersebut. Rata-rata setiap individu menghabiskan waktu 30 menit setiap kali berada di kafe.

Beban tingkat hunian kafe terhitung:

Makan pagi    : (0,5 jam x 200 orang x 5 hari) + (0,5 jam x 100 orang x 2 hari) = 600
Makan siang    : (0,5 jam x 350 orang x 5 hari) + (0,5 jam x 100 orang x 2 hari) = 975
Makan malam: (0,5 jam x 150 orang x 5 hari) + (0,5 jam x 100 orang x 2 hari) = 475
Beban tingkat hunian bangunan tersebut adalah 2.050 jam per minggu.

Dengan beban tingkat hunian melebihi kriteria yang ditetapkan perusahaan maka bangunan tersebut menjadi obyek untuk dievaluasi lebih lanjut.
c. Jarak (Spacing)

Dampak radiasi panas umumnya secara siknifikan dapat dikurangi dengan jarak. Bangunan umumnya terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar (non combustible materials) kecuali bangunan tersebut terpapar langsung oleh suatu kebakaran. Beberapa standar yang ada mengenai jarak adalah memfokuskan terhadap bahaya kebakaran dan tidak pada perlindungan terhadap personil. Bahkan standar pada industri asuransi dirancang untuk melindungi aset dan meminimalkan gangguan bisnis pada saat terjadi insiden. Untuk itu pembaca disarankan untuk berhati-hati dalam pemilihan standar agar sesuai dengan tujuan penerapannya.

Berikut beberapa standar mengenai jarak dan pembaca disarankan untuk mengevaluasinya sebelum digunakan.

IRInformation IM.8.0.1.1., Oil and Chemical Properties Loss Potential Estimation Guide dan IM. 2.5.2. Plant Layout and Spacing for Oil and Chemical Plants.

FM 7-44, Spacing of Facilities in Outdoor Chemical Plants.

API RP2510, Design and Construction of LPG Installation.

NFPA 80A, Recommend Practice for the Protection of Buildings from Exterior Fire Exposures.

d. Teknik Pengurangan Resiko (Mitigation) dan Prosedur Darurat

Tingkat bahaya yang mengancam penghuni bangunan yang yang terpapar kebakaran bergantung kepada hal-hal berikut:

– Jarak terhadap sumber kebakaran
– Bahan konstruksi bangunan
– Sistem untuk mencegah kebakaran
– Sistem tanggap darurat bangunan tersebut

Dalam evaluasi resiko penghuni bangunan di area proses, hal-hal sebagai berikut juga harus menjadi bahan pertimbangan: penyediaan waktu yang cukup bagi penghuni untuk meninggalkan bangunan, sistem untuk mencegah kebakaran dan sistem tanggap darurat. Untuk sistem tanggap darurat dalam bangunan evaluasi dilakukan terhadap:

ketersediaan alat pelindung diri yang sesuai
ketersediaan waktu bagi penghuni untuk memakai alat pelindung diri
ketersediaan waktu bagi penghuni untuk mencapai tempat berkumpul dalam keadaan darurat
arah angin pada saat evakuasi
prosedur untuk penghentian operasi pabrik secara aman (untuk bangunan yang secara khusus mengendalikan proses)

2.2. Ledakan

Beberapa faktor berikut harus menjadi pertimbangan dalam melakukan evaluasi tingkat resiko ledakan terhadap bangunan-bangunan di area proses. Terdapat 3 tahap yang harus dilakukan, yaitu: Identifikasi Bahaya dan Bangunan, Evaluasi Bangunan dan Manajemen Resiko.

2.2.1. Identifikasi Bahaya dan Bangunan

Setidaknya ada 4 macam hal yang perlu diperhatikan dalam evaluasi bangunan-bangunan di area proses, yaitu: informasi proses, bahan-bahan proses yang terlibat, kondisi khusus lokasi dan beban tingkat hunian.

(a). Informasi Proses

Tahap awal dari identifikasi dan evaluasi bahaya pada bangunan di area proses adalah mendapatkan segala macam informasi yang berkaitan dengan informasi keselamatan pada fasilitas tersebut. Tabel 1 berikut merupakan acuan informasi apa saja yang diperlukan sebagai bahan evaluasi.

Tabel 1 – Contoh Data Keselamatan Proses Yang Diperlukan

MSDS (Lembar Data Keselamatan Bahan)
Tingkat hunian
Prosedur tanggap darurat
Inventori bahan
Temperatur, tekanan, kecepatan alir dan kondisi operasi lain
Konstruksi, bahan dan dimensi bangunan
Jarak antara unit proses dan bangunan
Data frekuensi ledakan pada fasilitas yang mirip
Prosedur operasi
Sejarah insiden di lokasi tersebut
Rancangan dan konstruksi lengkap bangunan
Prosedur dan catatan inspeksi dan perawatan
Sistem pengurangan resiko (aktif dan pasif)
Informasi lain yang terkait dengan manajemen sistem keselamatan

(Dikutip dari API RP752 Management of Hazards Associated With Location of Process Plant Building, 1995)

(b) Bahan-Bahan Yang Terlibat

Bahan-bahan yang berpotensi untuk dievaluasi adalah bahan-bahan yang dapat menyala (flammable materials) baik bahan kimia maupun hidrokarbon terutama yang mempunyai kondisi operasi relatif tinggi serta yang mempunyai potensi untuk membentuk ledakan awan uap (VCE) jika terlepas. Namun demikian, ledakan dapat terbentuk melalui BLEVE, VCE, terdekomposisinya bahan kimia (contoh ethylene oksida) atau terjadinya kesalahan mekanis.

(c) Kondisi Lokasi

Beberapa kondisi lokasi yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkontribusi terjadinya ledakan adalah:
Tata letak peralatan
Jarak antar unit atau dengan bangunan
Sumber penyalaan
Potensi jumlah bahan yang terlepas
Derajat jebakan (degree of confinement)
Bentang lahan (topografi)
Kecepatan lepas bahan (release rate)
Saluran buang

Ledakan awan uap umumnya tidak akan terjadi jika kondisi lingkungan yang membentuk bentang lahan area proses berbentuk terbuka jika suatu bahan yang dapat menyala terlepas ke lingkungan dengan kecepatan lepas rendah. Susunan atau tata letak yang perlu mendapat perhatian adalah susunan bejana, kolom, pipe rack dan peralatan lain yang kemungkinan dapat membentuk suatu jebakan bagi uap yang terlepas.

Sistem mitigasi fasilitas proses, seperti peralatan depresi atau emergency shutdown juga akan berpengaruh dalam menghindari atau mengurangi terjadinya ledakan, diantaranya adalah dengan mengurangi jumlah bahan berbahaya yang terlepas ke lingkungan.

(d) Tingkat Hunian

Bangunan-bangunan yang teridentifikasi mempunyai potensi untuk terkena dampak ledakan kemudian ditentukan beban tingkat huniannya dibandingkan dengan kriteria perusahaan untuk beban tingkat hunian.

2.2.2. Evaluasi Bangunan

Evaluasi terhadap bangunan dilakukan dengan cara melakukan perbandingan terhadap standar industri/perusahaan dan analisa konsekuensi. Meskipun sampai saat ini berbagai standar industri mengenai rancangan dan jarak bangunan untuk mengantisipasi ledakan telah dikembangkan, pembaca harus mencermati secara khusus tujuan dibuatnya setiap standar tersebut. Sebagai contoh, beberapa standar dibuat untuk fasilitas proses bahan kimia dan bukan untuk kilang minyak.

Tahap berikutnya adalah menganalisa konsekuensi terjadinya ledakan yang menimpa suatu bangunan. Tujuan analisa konsekuensi adalah memperkirakan besarnya ledakan dan mengevaluasi dampaknya terhadap suatu bangunan, derajat kerusakan serta derajat keparahan terhadap penghuni dan peralatan dalam suatu bangunan.

Jika tingkat tekanan ledakan (overpressure) dari suatu skenario ledakan telah terhitung, maka hasilnya dibandingkan dengan spesifikasi rancangan bangunan. Jika bangunan tersebut mampu melindungi penghuni dari efek ledakan maka bangunan tersebut tidak dievaluasi lebih lanjut. Sebaliknya jika tingkat tekanan ledakan melebihi spesifikasi bangunan maka bangunan tersebut wajib dievaluasi lebih lanjut.

Berbagai dampak tingkat tekanan ledakan pada bangunan dapat dilihat pada Tabel 2:

Klasifikasi Konsekuensi    Penjelasan    Tingkat Tekanan Ledakan
Pada Bangunan
Psi (Bar)

Kecil    Kerusakan pada asesoris struktur bangunan. Bangunan masih bisa diperbaiki. Kemungkinan mengakibatkan cedera pada penghuni karena pecahan kaca, dsb.    > 0,5 (>0.03)

Sedang    Kemungkinan terjadinya deformasi structural bangunan. Bangunan masih dapat dipergunakan dengan perbaikan. Terdapat beberapa reruntuhan dan penghuni kemungkinan dapat terluka akibat bahan reruntuhan.
> 1 (>0,07)
Berat    Kemungkinan terjadinya kerusakan pada struktur yang terisolasi dari bangunan. Beberapa bagian bangunan kemungkinan runtuh. Bangunan tidak dapat digunakan lagi dan harus diganti. Kemungkinan terjadi cedera serius atau kefatalan pada beberapa penghuni bangunan.
>2 (>0,14)
Bencana    Struktur bangunan runtuh total. Kemungkinan terjadi cedera serius atau kefatalan pada semua penghuni bangunan.
>3 (>0,21)
Dikutip dari : Guidelines for Evaluating Process Plant Buildings for External Explosions and Fires, CCPS-AIChE, 1996.

Sedangkan dampak tingkat tekanan ledakan pada berbagai komponen bangunan dapat dilihat pada Tabel 3.

Komponen Bangunan    Tingkat Tekanan Ledakan    Dampak Komponen
(psi)

Kaca    0,2    Pecah
Kaca    0,5-1,0    Hancur dan dapat penetrasi pada anggota tubuh
Bahan kayu    1,0-2,0    Kerusakan struktur dan berpotensi untuk runtuh
Steel cladding    1,0-2,0    Kerusakan internal terhadap dinding, atap dan perlengkapan bangunan
Concrete-asbestos cladding    1,0-2,0    Hancur
Brick cladding    2,0-3,0    Blow-in
Bangunan tanpa tulangan
(Unreinforced Masonry)    1,0-3,0    Dinding runtuh, kemungkinan hancur

(Dikutip dari API RP752, 1995)

2.3. Analisa Bahan Beracun

Bahan beracun dapat membahayakan bagi penghuni atau pemakai bangunan di area proses. Uap beracun, bergantung kepada jenis, konsentrasi, maupun durasi paparannya, akan memberikan dampak negatif yang bermacam-macam terhadap penghuni bangunan. Penentuan lokasi bangunan di area proses sebaiknya juga mempertimbangkan adanya potensi terlepasnya bahan beracun ini dengan cara melakukan evaluasi resiko.

Pada prinsipnya, evaluasi resiko bangunan di area proses terhadap bahaya terlepasnya bahan-bahan beracun hampir sama dengan evaluasi yang dilakukan terhadap bahaya kebakaran maupun ledakan.

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan pada saat melakukan evaluasi ini adalah:

(a) Bahan Yang Terlibat

Dengan mengacu kepada sifat fisika maupun kimia yang terdapat pada MSDS (lembar data keselamatan bahan) terhadap efek kesehatan atau keselamatan, identifikasi bahan-bahan yang harus dievaluasi ditentukan. Cara lain adalah dengan melihat daftar bahan beracun yang tercantum dalam 29 CFR 1910.119 (code federal regulation)  lampiran A.

(b) Tingkat Hunian

Tingkat hunian bangunan yang dievaluasi dibandingkan dengan kriteria tingkat hunian bangunan yang ditetapkan perusahaan akan menyaring apakah bangunan yang sedang diidentifikasi layak untuk dievaluasi resikonya (lihat contoh penentuan tingkat hunian bangunan pada paragraph sebelumnya).

(c) Kondisi Lokasi

Faktor-faktor yang perlu mendapatkan pertimbangan adalah:
kondisi cuaca
tata letak atau susunan peralatan
jarak bangunan dengan sumber bahan beracun
lokasi masuk bangunan
kondisi parit area proses
tekanan relatif antara dalam bangunan dengan luar bangunan, dsb.

(d) Sistem Tanggap Darurat dan Pengaman Bangunan

Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian diantaranya:
alat pelindung diri bagi penghuni/pemakai bangunan
sistem pengaman bangunan, misalnya adanya detektor bahan beracun, alarm
sistem pengaman proses dalam keadaan darurat
sistem kontrol ventilasi
keefektifan sistem tanggap darurat

Analisa resiko terhadap bahan beracun dilakukan dengan cara mengevaluasi dispersi bahan beracun yang terdapat di area proses untuk memperkirakan konsekuensi dari kejadian yang tidak diharapkan. Selanjutnya diperkirakan frekuensi dari kejadian yang melibatkan fasilitas yang serupa dengan jenis fasilitas yang sedang dievaluasi atau berdasarkan data sejarah fasilitas tersebut selama beroperasi untuk mendapatkan tingkat resiko secara keseluruhan.

Bangunan-bangunan yang dievaluasi kemudian dibandingkan dengan kriteria resiko yang dapat diterima yang ditetapkan perusahaan, jika tingkat resikonya melebihi maka bangunan tersebut menjadi yek untuk dilakukan upaya pengurangan resiko sebagaimana dilakukan terhadap resiko kebakaran atau resiko ledakan.

3. Evaluasi Frekuensi

Evaluasi frekuensi dilakukan pada setiap teknik analisa resiko, baik itu kualitatif maupun kuantitatif. Frekuensi dari suatu kejadian dapat diperoleh dengan berbagai cara, yaitu catatan insiden fasilitas itu sendiri, menghitung dengan metode FTA (fault tree analysis) atau ETA (event tree analysis) atau dengan cara mengadopsi melalui database, diantaranya OREDA (offshore reliability database) dan WOAD (world offshore accidental database).

4. Analisa Resiko

Tahapan selanjutnya adalah melakukan analisa resiko pada bangunan yang dievaluasi, tujuannya adalah untuk menentukan perkiraan resiko individu (individual risk) dan resiko kelompok (aggregate risk) terhadap penghuni suatu bangunan di area proses. Selanjutnya dengan memperkirakan frekuensi kejadian dan konsekuensi kejadian akan dapat ditentukan resiko terhadap penghuni suatu bangunan. Masing-masing resiko terhitung kemudian dibandingkan dengan kriteria resiko perusahaan yang telah ditetapkan untuk analisa berikutnya.

Secara umum tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Identifikasi bangunan-bangunan yang berdekatan dengan unit proses dimana kejadian kemungkinan terjadi.
Tentukan besarnya tingkat konsekuensi kejadian  dan durasi ledakan.
Tentukan frekuensi kejadian berdasarkan catatan atau data pada jenis unit proses yang sama.
Tentukan probabilitas kefatalan penghuni bangunan yang menjadi target.
Hitung resiko setiap individu untuk setiap kejadian tunggal dengan cara mengalikan frekuensi ledakan, prosentase penggunaan waktu oleh individu dan estimasi probabilitas kefatalan penghuni bangunan. Untuk mendapatkan total resiko individu, tambahkan setiap resiko individu dari kejadian ledakan yang potensial.
Hitung resiko kelompok (aggregate risk) terhadap semua penghuni bangunan dengan cara menentukan jumlah setiap prosentase waktu yang digunakan setiap individu penghuni bangunan dikalikan dengan frekuensi dan probabilitas kefatalan yang telah diperkirakan. Untuk mendapatkan total resiko kelompok, jumlahkan seluruh resiko dari semua kejadian yang potensial.
Bandingkan resiko terhitung berdasarkan kriteria resiko perusahaan yang ditetapkan untuk menentukan apakah perlu studi lanjutan atau tidak.

Manajemen Resiko

Setelah analisa resiko dilakukan, tahapan berikutnya adalah menentukan apakah upaya pengurangan resiko (risk reduction measures) perlu dilakukan. Upaya pengurangan resiko dilakukan terhadap bangunan yang tingkat resikonya melebihi kriteria resiko yang telah ditetapkan. Proses keseluruhan identifikasi dan evaluasi, pembandingan dengan kriteria yang ditetapkan serta penghilangan atau pengurangan resiko tinggi yang tidak dapat ditoleransi dikenal sebagai Manajemen Resiko. Diagram berikut menjelaskan proses Manajemen Resiko.

Drawing

Evaluasi resiko terhadap bangunan di area proses akan selalu mendapatkan harga resiko yang variasinya sangat lebar. Hal ini disebabkan lebarnya variasi jenis bangunan, tingkat hunian, lokasi serta variasi proses dan bahan-bahan proses yang terlibat. Bangunan yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan selama analisa resiko dapat dianggap bahwa bangunan tersebut telah sesuai dengan tujuan rancangan dan tidak perlu dilakukan upaya pengurangan resiko. Namun demikian, penerapan sistem manajamen keselamatan harus dilanjutkan.

Bangunan-bangunan yang tingkat resikonya tidak dapat ditoleransi merupakan subyek untuk dilakukan upaya pengurangan resiko. Secara umum upaya pengurangan resiko dapat dikategorikan menjadi 3 macam:

Fungsional – Lakukan kajian kegiatan dan jumlah orang pada bangunan yang terkena dampak, hilangkan kegiatan yang ada atau kurangi jumlah orang yang melakukan kegiatan pada bangunan tersebut.

Pencegahan – Implementasikan upaya untuk mengurangi frekuensi kejadian (yang tidak diinginkan), termasuk mengefektifkan pelaksanaan sistem manajemen keselamatan.

Pengurangan – Penggunaan upaya-upaya (selain fungsional) untuk mengurangi tingkat keparahan kejadian, termasuk mengurangi besarnya potensi dampak ledakan atau kebakaran, atau mengurangi dampak kejadian terhadap bangunan.

Dalam implementasinya, rekomendasi upaya pengurangan resiko tidak bisa dilakukan begitu saja karena kadang-kadang secara ekonomis rekomendasi tersebut tidak dapat diterima. Metode untuk menilai apakah rekomendasi yang disampaikan dapat diterima, maka digunakan alat evaluasi yaitu Analisa Biaya-Manfaat (Cost Benefit Analysis). Analisa ini mendasarkan pada azas manfaat berupa resiko yang dapat dikurangi apakah ekonomis dengan biaya yang dikeluarkan. Ukuran ekonomis adalah kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan dengan berbagai pertimbangan, diantaranya nilai aset, biaya operasi, biaya perawatan (maintenance), klasifikasi kefatalan dan sebagainya.

Penutup

Implementasi upaya pengurangan resiko pada fasilitas proses dan bangunan-bangunan di area proses merupakan kombinasi strategi yang efektif untuk menurunkan resiko pada personil dan pada perusahaan. Pencegahan dan pengurangan resiko pada sumber kejadian dengan cara mengontrol bahaya atau dengan cara memperlebar jarak personil dengan sumber kejadian akan lebih efektif dibandingkan dengan menerapkan upaya-upaya pengurangan resiko pada bangunan.

Daftar rujukan:

AIChE Center for Chemical Process Safety, “ Guidelines for Evaluating Process Plant Buildings for External Explosions and Fires,” American Institute of Chemical Engineers, New York, NY, 1996.
AIChE Center for Chemical Process Safety, “ Guidelines for Chemical Process Quantitative Risk Analysis,” American Institute of Chemical Engineers, New York, NY, 1989.
American Petroleum Institute, “ Management of Hazards Associated with Location of Process Plant Buildings/CMA Manager’s Guide,” API RP 752, API, Washington, DC, 1995.
Hobbs, D.H.,” Developing Screening Risk Evaluation Criteria for Facility Siting Vapor Cloud Explosion Hazards,” Process Safety Progress Vo. 18 No. 1, 1999.
Rasche, T.,” Database for Application in Quantitative Risk Analysis (QRA), Discussion Paper,” The University of Queensland, 2002.
National Fire Protection Association, “Flammable and Combustible Liquids Code,” NFPA 30, Quincy, MA.
National Fire Protection Association, “ Recommended Practice for the Protection of Buildings from Exterior Fire Exposures Code,” NFPA 80A, Quincy, MA.

Definisi Istilah

BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion): suatu gelombang kejut yang dihasilkan dari penguapan mendadak suatu cairan yang disimpan pada temperatur di atas titik didihnya pada kondisi atmosfer. Bahan cair yang terlibat dapat bahan yang dapat menyala atau pun tidak. Suatu kejadian BLEVE seringkali diikuti dengan fenomena fireball (bola api) jika melibatkan cairan yang dapat menyala dan terlepas dari suatu wadah yang mengalami kerusakan.

Cairan dapat terbakar: suatu cairan yang mempunyai titik nyala (flash point) pada percobaan cangkir-tertutup pada atau di atas 37,8oC (100oF).

Cairan dapat menyala: suatu cairan yang mempunyai titik nyala (flash point) pada percobaan cangkir-tertutup di bawah 37,8oC (100oF) dan mempunyai tekanan uap kurang dari 40 psia pada 37,8oC.

CCPS (Center for Chemical Process Safety): suatu divisi di bawah AIChE (American Institute of Chemical Engineer) yang mengembangkan aspek keselamatan proses di industri kimia.

Fireball atau bola api: uap bahan bakar yang terbakar dengan menghasilkan energi yang dilepaskan dalam bentuk utama berupa radiasi panas. Bagian inti dari awan terdiri dari hanya bahan bakar dan lapisan luar terdiri dari campuran udara-bahan bakar (jika terjadi penyalaan). Awan panas yang terbentuk cenderung meningkat atau ekspansi dan diasumsikan menyerupai suatu bentuk bola.

Flash fire: peristiwa terbakarnya campuran bahan dapat menyala dengan udara dimana penyalaan tanpa menghasilkan tekanan ledakan.

Jet fire: suatu peristiwa kebakaran yang dihasilkan dengan kecepatan tinggi karena bertekanan tinggi.

Pool fire: suatu kebakaran dimana bahan bakar dalam bentuk genangan dan terjadi di atas genangan tersebut.

Vapor cloud explosion (VCE): suatu ledakan yang dihasilkan dari penyalaan awan bahan dapat menyala, baik dalam bentuk uap, gas ataupun butiran cairan (mist) dimana penyalaan terjadi dengan kecepatan sangat tinggi sehingga menghasilkan tekanan ledakan.

Iklan

1 Comment

  1. Assalammualaikum pak sururudin saya mau tanya untuk peraturan atau ketentuan yang mengatur jarak letak workkshop dari LPG plant itu ada di NFPA nomor berapa atau barangkali ada standar lain yang mengaturnya?
    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s