Nama Indonesia Pilihan Kompromi

KONSEP Nation State Indonesia merupakan suatu wujud keinginan berbagai etnis di tanah untuk membentuk suatu kesatuan dalam negera Indonesia. Pilihan nama Indonesia adalah upaya jalan tengah (kompromi) untuk menjaga netralitas negara yang dibentuk tanpa ada dominasi oleh etnis tertentu. Wacana mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara malah akan memecahbelah kesatuan yang telah dibangun pendiri bangsa. Karena nusantara yang berasal dari bahasa Jawa akan memperlihatkan dominannya etnis Jawa.

Perubahan nama Indonesia menjadi Nusantara, kata Guru Besar Fakultas Sastra UGM Prof Dr Bakdi Sumanto, akan membutuhkan waktu panjang dan pemikiran yang matang. Selama 60 tahun seluruh dunia telah mengenal nama Republik Indonesia, bukan Republik Nusantara. Bangsa Indonesia sendiri telah terbiasa menggunakan nama Indonesia. Pergantian nama ini tentu akan membawa dampak politik yang sangat besar. Berbagai urusan birokrasi pun harus ditempuh.

Keinginan membentuk wacana ini, lanjut Bakdi, boleh jadi karena pada masa Orde Baru unsure-unsur keragaman etnik bangsa berada dalam genggaman pemerintah. Pemerintahan pada masa orba, lebih menonjolkan keesaan dari Indonesia, sehingga terkesan mengabaikan kebhinekaan dari etnik-etnik di dalamnya. Tapi harus disadari ini merupakan pilihan untuk menga kesatuan negara; menekan perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Ditinjau dari akar katanya, nama Nusantara berasal dari bahasa Jawa. Jadi bila penggunaan nama Nusantara benar-benar direalisasikan, bukan tidak mungkin hal ini akan mengundang sensitivitas kesukuan. “Budaya Jawa tidak boleh mendominasi”, demikian Bakdi menegaskan. Hal ini akan semakin menambah daftar dakwaan yang ditujukan kepada budaya Jawa. Program transmigrasi dalam kenyataannya memposisikan budaya Jawa sebagai budaya penjajah yang menyingkirkan budaya lokal.

Perubahan nama Indonesia menyangkut kepentingan orang banyak, artinya proses pelaksanaannya harus melibatkan seluruh tatanan bangsa Indonesia. Penentuan nama baru jangan sampai terkesan otoriter dan dipaksakan oleh golongan tertentu saja. Perubahan nama ini pun, latar belakangnya harus rasional, artinya perlu ditelusuri seberapa mendesaknya hingga putusan ini harus diambil. Bila hanya karena maraknya bencana dan kerusuhan dewasa ini, justru saat ini bangsa Indonesia harus reflektif ke dalam. Perhatian terhadap kondisi dalam negeri justru harus diprioritaskan.

Salah Kaprah

Dalam Penilaian Dr Manu Atmaja, dosen Sastra Nusantara UGM, konsep Nusantara saat ini adalah salah kaprah. Istilah Nusantara pada awalnya terdapat dalam naskah Negarakertagama karangan Mpu Tantular. Nusantara mengandung arti pulau-pulau di luar Pulau Jawa yang lokasinya paling dekat dengan Pulau Jawa, yaitu Pulau Madura dan Bali. Sedangkan Pulau yang letaknya berjauhan dengan Pulau Jawa namun masih dalam lingkup Nusantara seperti Kalimantan disebut Dwipantara. Pulau-pulau yang berada di Kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia disebut Desantara.

Nama Indonesia sendiri muncul pada awal abad 20. Arti Indonesia merujuk pada orang-orang yang mendiami pulau-pulau. Dipilihnya kata Indonesia sebagai nama negara dengan pertimbangan bahwa nama Indonesia bersifat netral, tidak mengidentikkan dengan nama salah satu etnis di Indonesia. Konsep Nusantara yang kemudian diusulkan untuk menggantikan nama Indonesia dinilai Manu merupakan lontaran yang bersifat intuitif saja. Artinya, gagasan itu akan cepat dilupakan orang, karena sampai saat ini belum ada langkah nyata untuk mempersiapkan segala sesuatu pasca pergantian nama. Pergantian nama Indonesia menjadi nusantara tidak dapat dikomparasikan dengan pergantian nama orang, atau yang kita kenal dengan istilah ruwatan. Butuh persiapan dan langkah konkret untuk menuju perubahan nama Indonesia

Nama nusantara yang digunakan pada masa sekarang merujuk pada etnik-etnik yang mendiami Indonesia. Bila kemudian istilah Indonesia direpresentasikan dengan istilah nusantara, akan terjadi salah persepsi. Nusantara menggambarkan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas wilayah pulau-pulau. Berkaca pada sejarah masa lampau, ketika Majapahit mengucapkan sumpah Palapa, bukan istilah Nusantara yang digunakan. Sumpah tersebut berisi obsesi untuk menaklukkan negara-negara bawahan dalam kekuasaan masa lampau.

Disinggung kembali tentang kemungkinan beragantinya nama Indonesia menjadi Nusantara, dosen pemerhati kebudayaan ini menegaskan bahwa hal tersebut tidak perlu. Lontaran intuitif tersebut seolah hanya angin lalu saja, karena tidak didasari pengetahuan akan kesejarahan. (Din/Putri)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s