Oleh: sururudin | Maret 14, 2009

MANAJEMEN RUMAH TANGGA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menjadi prinsip dalam kehidupam rumah tangga adalah mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Keselamatam yang ingin dicapai adalah keselamatan 5 aspek, yaitu :

1. Selamat Jiwa : untuk menjaga jiwa manusia agar tetap bersih dan tidak dikotori berbagai hal yang dapat merusak, maka manusia diharamkan memakan yang tidak halal, membunuh, membiarkan dalam diri penyakit iri, dengki, dendam sombong, serta berbagai bentuk perbuatan yang dapat merusak ketaentraman jiwa seperti serakah, takut yang berlebihan dan selalu bimbang.

2. Selamat akal : menghindari diri dari makan dan minum yang dapat merusak akal manusia, fungsi otak dapat terganggu bila mengkonsumsi minuman keras dan sejenisnya

3. Selamat Keturunan : adalah untuk menjaga keturunan agar jelas orang tua dari anak yang dilahirkan dan yang akan bertanggungjawab bagi pendidikan dan nafkahnya, sebab itulah diharamkan zina, pergaulan bebas, bank sperma, dan lain-lain yang menjurus kepada ketidak jelas asal usul manusia yang terlahir di dunia ini.

4. Selamat harta : harta adalah anugarerah Tuhan yang dititipksn kepada manusia, maka manusia diwajibkan mencari harta dengan cara yang halal.

5. Selamat Martabat: manusia tidak diperbolehkan untuk merendahkan orang lain sekalipun berbeda jenis, bangsa, suku, warna kulit, pendidikan, jabatan dan harta maupun kecantikan atau bentuk tubuh, serta tidak dibenarkan adanya diskriminasi

B. Diskriminasi Singkat

Pernikahan atau berumah tanggan adalah, mengikat kedua bani Adam pria dan wanita dengan akad nikah dengan tata cara sesuai dengan ajaran agama.

Adapun tujuan perkawinan adalah sebagai berikut :

1. Membina kehidupan keluarga yang tenang dan bahagia

2. Hidup saling mencintai dan mengasihi

3. Melanjutkan dan memelihara keturunan

4. bertaqwa kepada Allah SWT dan membentengi dari perbuatan maksiat atau dengan kata lain menyalurkan naluri seksual secara halal.

5. membina hubungan kekeluargaan dan mempererat silatrrahmi antar keluarga.

C. Tujuan Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran Umum: setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta dapat memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknik mengelola rumah tangga secara baik dan benar agar tercipta keluarga bahagia dan sejahtera

2. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mempelajari modul ini peserta:

a) Mampu menguraikan tentang Manajemen Rumah Tangga serta mengenal pola-pola manajemen yang sesuai

b) Mampu mengidentifikasi problematika yang terjadi di dalam rumah tangga dan mampu memecahkan permasalahannya.

c) Mampu memjelaskan dan membuat stimulasi tentang menajemen rumah tangga

D. Pokok Bahasan Dan Sub Pokok Bahasan

1. Pokok Bahasan

a) Bagaimana melaksanakan manajemen rumah tangga yang mudah dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga setiap harinya.

b) Mengelola sumber-sumber daya rumah tangga yang ada, serta menempatkan fungsi-fungsi manajemen untuk tujuan suci dan ideal dari sebuah rumah tangga.

2. Sub Pokok Bahasan

a) Manajemen rumah tangga masyarakat pada umumnya

b) Rumah tangga yang ideal dan yang terjadi dalam realita

c) Permasalah yang timbul dan upaya pemecahannya

BAB II

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

KONSEP RUMAH TANGGA YANG SUKSES

A. Pengertian dan Tujuan Rumah Tangga

Pengertian manajemen, menurut system informasi manajemen nasional (SIMNAS) Lemhanas adalah: “Usaha pendinamisasian, pengarahan, pengkoordinasian, proses pengambilan keputusan, penata laksana pengendalian,pemeliharan dan pengembangan suatu organisasi dengan cara yang berdaya guna dan berhasil guna untuk mewujudkan organisasi”.

Pendapat lain menyebutkan bahwa manajemen adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana mangatur dan memimpin serta menggerakkan oarang yang mencapai suatu tujuan tertentu.

Manajemen mengandung aneka macam kegiatan antara lain:

1. Perencanaan (planning) artinya: membuet rencana kerja, jalan atau usaha-usaha yang akan ditempuhserta menetepkan tujuan yang akan dicapai.

2. Pengorganisasian (organizing) yaitu:pengaturan dan tata kerjadalammelaksanakan rencana pekerjaan termasuk meresapi adanya adanya tujuan bersama, adanya pola yang menetapkan pembagian tugas wewenag serta hubungn antara kerja dengan petugas, menaati peraturan, disiplin dan herarchidalam pekerjan dan sebangainya.

3. Pengarahan (Directing / Leading) artinya:pemimpin dan kepemimpinan yang akan memimpin dan mengatur jalannya semua rencana.

4. Pengawasan (Controlling) yaitu: mengontrol dan mengendalikan apakah semua rencana berjalan lancar atau apakah hasil pekerjaan sesuai dengan standar yang diinginkan ataukah ada halangan dan rintangan atau terdapat kelainan-kelainanyang harus diperbaiki. Dalam hal ini harus ada kemampuan untuk mengetahui letak kesalahan sehingga tindakan koreksi dapat dilakukan sedini mungkin.

5. Koordinasi (Coordinating) yaitu kerjasama dengan pembagian tugas dan wewenang yang rapi harus terjalin dengan baik, tanpa koordinasi antara unsur-unsur yang berkepentingan semua rencana tak mungkin berjalan lancar dan tujuan yang menjadi sasaran tak mungkin tercapai dengan berhasil.

Pengertian

Pengertian rumah tangga menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) adalah : “Suatu yang berkenaan dengan urusan kehidupan di rumah atau yang berkenaan dengan keluarga “.

Pendapat lain mengatakan dalam sebuah rumah tangga mempunyai nilai-nilai yang sangat agung dan luhur karena di dalam rumah tanggalah individu-individu dibina sejak awal untuk menjadi generasi yang diharapkan untuk siap menjadi penerus dan pejuang di muka bumi.

Pengertian rumah tangga disini adalah “ keluarga” yang ditinggal dalam satu atap. Kata keluarga itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Kula yang berarti famili dan Warga yang berarti anggota. Jadi Keluarga adalah anggota famili yang terdiri dari Ibu (Istri), Bapak (suami), dan anak yang tinggal dalam satu rumah tangga. Dari bahsa Jawa Kuno disebutkan bahwa Keluarga terdiri dari dua kata : Kawulo dan Wargo. Kawulo artinya menghambakan diri, sedangkan Wargo artinya anggota. Jadi maksudnya bahwa seseorang yang dalam lingkungannya mempunyai hak dan kewajibannya terhadap terselenggaranya sesuatu yang baik bagi lingkungannnya. Keluarga merupakan suatu kesatuan (kelompok ) yang anggota-anggotanya mengabdikan diri kepada kepentingan-kepentingan kelompok tersebut.

Dalam setiap masayarakat pasti akan dijumpai adanya keluarga karena keluarga merupakan bagian / unit terkecil dari masyarakat. Secara antropologis (kultural antropologi), keluarga dibedakan menjadi keluarga inti (nuclear family ) dan keluarga luas (extended family). Kedudukan rumah tangga dalam suatu masyarakat menjadi sangat penting dan menentukan keutuhan, kelangsungan tatanan masyarakat itu sendiri. Kalau keluarga itu baik maka masyarakatpun akan menjadi baik, dan demikian sebaliknya. Oleh karena itu setiap orang merasa berkepentingan untuk menciptakan tatanan keluarga / rumah tangga yang baik, kuat dan mandiri.

Tujuan

Sebagaimana lazimnya bahwa tujuan perkawinan adalah mewujudkan suatu kehidupan keluarga yang aman tentram, rukun, damai, bahagia dan sejahtera yang dipatrikan dengan rasa cinta dan kasih sayang (happy family life).

Kaitan dengan manajemen, maka diantaranya prinsip manajemen adalah menetapkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dalam berumah tangga yaitu :

  1. Membina kehidupan keluarga yang rukun, tenanag dan bahagia
  2. Hidup saling mencintai dan kasih mengasihi
  3. Melanjutkan dan memelihara keturunan manusia
  4. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan membentengi diri dari perbuatan maksiat atau dengan kata lain menyalurkan naluri seksual secara halal.
  5. Membina hubungan kekeluargaan yang akrab dan mempererat silaturahmi antara keluarga.

B. Hak Dan Kewajiban

Hak dan kewajiban suami-istri menurut UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tercantum dalam Pasal 30 dan 31.

Dalam Pasal 30 dinyatakan bahwa suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Kemudian dalam Pasal 31

(1) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hal dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.

(2) Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

(3) Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Mengenai kewajiban suami-istri selanjutnya dijelaskan dalam Pasal 33: Suami-istri wajib saling cinta-mencintai, hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir-batin yang satu kepada yang lain.

Dalam Pasal 34 dinyatakan :

(1) Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

(2) Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

(3) Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-msing, dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.

Mengenai rumah tangga sebagai tempat kediaman suami-istri dijelaskan dalam Pasal 32 sebagai berikut :

(1) Suami-istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap

(2) Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) pasal

ini ditentukan oleh suami-istri.

Hak dan kewajiban suami istri diatur oleh masing-masing hukum agama. Contohnya sebagaimana didalam agama Islam, hak dan kewajiban suami istri diatur sebagai berikut:

Hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga

1. Hak Istri

a. Hak mengenai harta,yaitu mahar atau maskawin dan nafkah.

b. Hak mendapatkan perlakuan yang baik dari suami.

Agar suami menjaga dan memelihara istrinya dengan maksud agar rnampu menjaga kehormatan istri, tidak menyia-nyiakannya (diberi nafkah) maupun membimbing untuk selalu melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.

2. Hak Suami

Ketaatan istri kepada suami dalam melaksanakan urusan rumah tangga termasuk di dalamnya memelihara dan mendidik anak, selama suami menjalankan ketentuan-ketentuan Tuhan yang berhubungan dengan kehidupan suami-istri.

3. Hak Bersama Suami-Istri

Hak-hak bersama di antara kedua suami-istri adalah:

a. Halalnya pergaulan mereka sebagai suami-istri dan kesempatan saling menikmati atas dasar kerjasama dan saling mernerlukan.

b. Sucinya hubungan perbesanan.

Dalam hal ini istri haram bagi laki-laki dari pihak keluarga sebagaimana suami haram bagi perempuan pihak keluarga istri.

c. Berlaku hak pusaka-mempusakai

Apabila salah seorang diantara suami-istri meninggal maka salah satu berhak mewarisi, walaupun keduanya belum bercampur.

d. Pelakuan dan pergaulan yang baik.

Menjadi kewajiban suami-istri untuk saling berlaku dan bergaul dengan baik, sehingga suasana menjadi tenteram rukun dan penuh dengan kedamaian.

4. Kewajiban Istri

a. Hormat dan patuh kepada suami dalam batas-batas yang ditentukan oleh norma agama dan susila.

b. Mengatur dan mengurus rumah tangga, menjaga keselamatan dan mewujudkan kesejahteraan keluarga.

c. Memelihara dan mendidik anak sebagai amanah Allah.

d. Memelihara dan menjaga kehormatan serta melindungi harta benda keluarga.

e. Menerima dan menghormati pemberian suami serta mencukupkan nafkah yang diberikannya dengan baik, hemat dan bijaksana.

5. Kewajiban Suami

a. Memelihara, meminpin dan membimbing keluarga lahir batin, serta menjaga dan bertanggung jawab, atas keselamatan dan kesejahteraan keluarga.

b. Memberi nafkah sesuai dengan kemampuan serta mengusahakan keperluan keluarga terutama sandang, pangan dan papan.

c. Membantu tugas-tugas istri terutama dalam hal memeliharan dan mendidik anan dengan penuh rasa tanggung jawab.

d. Memberi kebebasan berpikir dan bertindak kepada istri sesuai dengan ajaran agam, dan tidak mempersulit apalagi membuat istri menderita lahir batin yang dapat mendorong istri berbuat salah.

e. Dapat mengatasi keadaan, mencari penyelesaian dengan bijaksana dan tidak berbuat sewenang-wenang.

6. Kewajiban Bersama Suami-Istri

a. Saling menghormati orang tua dan keluarga kedua belch pihak.

b. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang

c. Masing-masing harus dapat menyesuaikan diri, seia sekata, percaya- mempercayai serta selalu bermusyawarah untuk kepentingan bersama.

d. Hormat-menghormati sopan-santun, penuh pengertian serta bergaul dengan baik.

e. Matang dalam berbuat dan berpikir serta tidak bersikap emosional dalam persoalan yang dihadapi.

f. Memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka rahasia pribadi.

g. Sabar dan rela atas kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan masing-masing.

C. Kesejahteraan Keluarga

Tujuan dari mengatur rumah tangga dengan manajemen yang baik adalah demi tercapainya apa yang disebut “rumah tangga sejahtera bahagia” atau kesejahteraan keluarga.

Kesejahteraan keluarga ditentukan oleh terpenuhi atau tidaknya kebutuhan keluarga tersebut. Jika setiap orang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya walaupun secara minimal sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki maka orang itu dapat disebut sejahtera.

Kebutuhan pokok manusia untuk dapat disebut sebagai sejahtera adalah sebagai berikut :

1. Kebutuhan jasmani umpamanya pakaian, makanan, perumahan, pemeliharaan, kesehatan dan sebagainya.

2. Kebutuhan rohani seperti filsafat hidup, agama, moral dan lain-lain

3. Kebutuhan sosial kultural umpama pergaulan, kebudayaan dan sebagainya.

Semua kebutuhan ini saling kait-mengkait dan secara minimal harus terpenuhi.

Setiap orang memiliki potensi yang ada dalam dirinya sebagai karunia dari Tuhan YME kepada setiap orang yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kesejahteraan hidup yaitu:

1. Sumber yang ada pada manusia, yaitu tenaga, minat dan kesanggupan, ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

2. Sumber non manusia yaitu: waktu, uang, materi dan fasilitas umum yang dalam sekolah-sekolah kesejahteraan keluarga dikenal dengan sebutan 6 M, yaitu: Man, Money, Method, Material, Machine, dan Market.

Semua sumber ini harus dikelola dengan baik untuk dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan hidup dalam rumah tangga.

Bagaimana mengelola potensi dan sumber yang dimiliki untuk mencapai keluarga sejahtera ?

Mengelola Sumber Daya untuk kesejahteraan (keluarga) harus dilakukan secara berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).

D. Rangkuman

Pada Kegiatan Pembelajaran I diuraikan tentang manajemen secara umum yang dapat juga diterapkan didalam mengelola dan membina kehidupan rumah tangga. Sehingga tujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang aman, tentram, rukun dan damai dapat tercapai. Untuk menciptakan rumah tangga yang sejahtera diperlukan perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, pengendalian dan koordinaasi/ kerjasama maupun komunikasi antara anggota keluarga yang lazimnya terdiri

dari unsur Ibu (istri), Bapak/ Ayah (suami), dan Anak. Di dalarn rurnah tangga inilah anggota keluarga mengabdikan diri sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing agar tercipta keluarga yang sejahtera. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, maka bila keluarga itu baik akan berdampak baik pula pada masyarakat sendiri atau sebaliknya.

Keluarga sejahtera ditentukan oleh terpenuhi atau tidaknya kebutuhan keluarga tersebut walaupun secara minimal sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Kebutuhan pokok manusia agar dapat dikatakan sejahtera meliputi kebutuhan jasmani (sandang, pangan, pagan), kebutuhan rohani (falsafah hidup, agama,dan lain-la 7), kebutuhan sosial kultural (pergaulan, budaya, dan sebagainya).

Untuk menciptakan keluarga yang sejahtera diperlukan pengelolaan sumber daya dan potensi keluarga secara berdaya guna dan berhasil guna.

E. Latihan

Coba diskusikan dengan rekan Anda tentang hak dan kewajiban anggota keluarga dalam menciptakan suasana rumah tangga yang sejahtera.

F. Evaluasi

1. Apa yang Anda ketahui tentang fungsi-fungsi manajemen dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga?

2. Menurut Anda factor-faktor apa saja yang perlu diperhatikannya mencapai keluarga sejahtera.

3. Dari Kegiatan Pembelajaran I, sasaran dan tujuan apa saja akan dicapai dalam berumah tangga, coba jelaskan.

BAB III

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

PROBLEMATIKA RUMAH TANGGA DAN PEMECAHANNYA

A. Gangguan-gangguan Terhadap Kerukunan

Pada umumnya setiap keluarga ingin membina dan mempertahankan suasana rukun dan damai serta serasi diantara anggotanya. Banyak dari anggota keluarga melakukan usaha kearah terwujudnya situasi yang diidamkan meski usaha tersebut biasanya dilakukan tanpa rencana, tanpa ilmu dan tanpa pengalaman.

Walaupun keinginan dan usaha itu serius, namun dalam kenyataannya kerukunan itu kadang kurang berhasil diciptakan dan apabila sudah tercipta ada saja yang mengalami gangguan. Demikian pula kerukunan dan keserasian antara suami dan istri itu adakalanya terancam oleh gangguan-gangguan. Gangguan-gangguan ini ditimbulkan oleh perbedaan-perbedaan yang nyata antara suami dan istri, perbedaan-perbedaan mana sekarang muncul atau menampakan diri. Atau berupa perselisihan-perselisihan paham mengenai pelbagai masalah didalm mana kehidupan mereka berdua. Dengan demikian terjadilah ketegangan yang akhirnya menjadi persengketaan atau konflik (Marital Conflict = konflik antara suami dan istri). Sering pula konflik itu berbentuk pertengkaran (Marital Quarrels).

Dengan demikian didalam membina rumah tangga memiliki problem spesifik, tetapi problem yang sering berkembang menjadi batu sandungan hampir sama karakteristiknya antara lain: persepsi terhadap rizki, egoisme dan perkembangan psikologi pasangan.

Persepsi Terhadap Rizki Keluarga

Banyak pasangan ketika barn menikah belum memiliki harta apa-apa, tetapi kemudian mereka hidup berkecukupan. Sebaliknya ada yang ketika menikah sengaja mencan pasangan atau mertua orang kaya, ternyata tak terlalu lama sudah jatuh menjadi orang miskin. Ada yang semula suami lancar sebagai pencari nafkah, tetapi kemudian jatuh sakit berkepanjangan sehingga tak lagi produktip kemudian sumber rezki berpindah melalui istri.

Masalah saluran rizki bisa menjadi problem orang ketika memandang bahwa rizki itu hanya rizkinya, bukan rizki keluarga. Suami yang sukses kemudian merasa tinggi hati dan memandang rendah istrinya yang hanya nyadong (hanya mengandalkan penghasilan suami) dan sebaliknya istri memandang sebelah mata suami. Inilah yang sering menjadi kerikil tajam meski rizki melimpah, meskipun sebenarnya rizki tersebut adalah rizki keluarga.

Dalam rumah tangga, sifat egois dan tinggi harga diri sering merubah keadaan normal menjadi tidak normal. Apa yang semula biasa saja (proporsional) dipersepsikan sebagai tidak menghargai, menyakiti dan sebagainya. Sehingga yang semestinya seiring sejalan berubah menjadi beban bagi salah satunya. Ada istri atau suami yang merasa disakiti padahal tidak ada yang menyakitinya dan merasa tidak dihargai.

B. SumberTerjadinya Konflik

Di dalam rumah tangga, ketegangan maupun konflik merupakan hal yang biasa, perselilisihan pendapat, perdebatan, pertengkaran, saling mengejek atau bahkan memaki lumrah terjadi. Tetapi semua itu terjadi tidak berlangsung lama.

Mengapa Konflik Itu Terjadi?

Mengapa antara suami dan istri terjadi perselisihan dan persenyketaan, padahal ingin hidup bersama secara rukun, damai, dan saling mencintai. Konflik itu terjadi karena suami dan istri hidup bersama dan bergaul secara dekat dan erat sekali. Sekurang-kurangnya 12 – 15 jam dalam sehari saling bertemu, terkecuali apab;,Ia salah seorang tinggal berjauhan.

Ada beberapa macam sebab terjadinya konflik. Pertama sebab-sebab yang pada suatu ketika menimbulkan konflik dan yang kedua adalah sebab-sebab yang lebih mendalam (sebab pokok atau sumber konflik). Sebab-sebab yang termasuk dalam kategori pertama yaitu hal-hal yang pada suatu ketika menggerakkan suami istri untuk bersengketa (faktor-faktor dalam persengketaan). Umpamanya yang seorang berpendapat atau menuduh partnernya:

1. Berbuat sewenang-wenang

2. Melakukan kekejaman kepada yang lain

3. Menyeleweng dengan orang lain

4. Membohongi, menipu yang lain

5. Memboroskan uang yang seharusnya untuk kepentingan keluarga

6. Suka bergaul dengan teman-teman yang tidak baik

7. Tidak berdisiplin di dalam rumah

8. Pencemburu, cerewet dan sebagainya

9. Sang istri tidak mau mengurus rumah tangga sebagaimana mestinya

10. Peminum

11. Tidak jujur secara umum, termasuk di tempat keda, dalam bisnis dan sebagainya

Pertentangan juga sering ditimbulkan karena:

1. Mertua dan ipar

2. Antara suami dan istri memang banyak perbedaan

3. Mempunyai anak-anak darl perkawinan lain (sebelumnya)

4. Penghasilan tidak cukup dan kebutuhan hidup serba mahal

5. Kebiasaan-kebiasaan (habits) dan seseorang yang menjengkelkan orang lain

6. Tidak mendapat kepuasan dalam berhubungan suami-istri,atau salah seorang menolak ajak suami atau istri

7. Salah seorang lekas marah atau mulai merasa tersinggung,dan lain sebagainya.

Sumber Konflik

Selain beberapa hal tersebut diatas, sumber konflik dapat disebabkan karena:

1. Ketidakmampuan atau kekurangmampuan dari suami atau istri untuk “membuat penyesuaian” (to make adjustments), yang mutlak diperlukan agar hubungan suami istri menjadi rukun.

2. Baik pria maupun wanita sebelum menikah kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas-tugas, peran sebagai suami maupun istri,persoalan dan kesulitan-kesulitan yang kelak akan dialami dalam membina keluarga.

3. Pada umumnya pria dan wanita,sejak masih anak-anak hingga remaja sering diberi pengertian yang kurang tepat tentang perkawinan, peranan maupun tugas-tugas dalam suatu pekawinan.

4. Adanya salah persepsi bahwa unsur utama dalam perkawinan harus berdasarkan “cinta”, pare remaja kadang-kadang belum memahahi dan meresapi apa sebenarnya arti cinta, sehingga tidak dapat membedakan antara cinta yang tutus dengan hanya “rasa tertarik”, ingin memiliki, menguasai dan menikmati, padahal unsur kecocokan (compatibility) juga merupakan faktor penting.

5. Adanya ketidakstabiIan ekonomi di dalam keluarga juga merupakan salah satu sumber teoadinya konflik.

C. Bidang-bidang Yang Rawan

Suami dan istri dapat berbeda kecenderungannya, berlainan pahamnya dan berlawanan keinginannya mengenai macam-macam soal. Tegasnya bidang-bidang rawan itu bermacam-macam dan banyak jumlahnya.

Make konflik itu dapat terjadi dalam hal atau bidang :

. Bidang-bidang Yang Rawan

1. Mengenai penggunaan penghasilan keluarga (uang) atau kebijaksanaan menyusun pelaksanaan anggaran rumah tangga

2. Mengenai pergaulan dengan teman-teman tertentu, disenangi oleh suami umpanya, sedangkan istri tidak suka dengan orang tersebut

3. Dibidang agama atau ketekunan beribadat

4. Hubungan dengan mertua dan ipar

5. Mengenai “hobbies”

6. Soal menyatakan kasih sayang

7. Cara melakukan hubungan seks, atau hubungan seks itu yang hanya dinikmati oleh satu pihak saja

8. Pendidikan anak

9. Pengertian mengenai kegiatan wanita (istri); soal istri bekerja

10. Barangkali juga soal bisnis, politik dan sebagainya

Disamping itu, kalau suami atau istri atau keduanya sudah membiasakan diri berselisih terus-menerus mengenai segala macam soal, make konflik itu dapat terjadi mengenai apa saja.

D. Pemecahan Masalah Rumah Tangga

1. Kecocokan (Kompatibilitas)

Dari berbagai uraian terdahulu dapat ditarik kesimpulan bahwa ada sebab-sebab dan faktor-faktor yang sebenarnya dapat dihindarkan atau diatasi bilamana pihak-pihak yang bersangkutan memiliki kemampuan dan kemauan.

Tetapi ada juga sebab-sebab atau faktor-faktor yang berada diluar jangkauan suami dan istri untuk mengelak atau menanggulanginya yaitu sumber-sumber dan faktor-faktor dari lingkungan luar yang berupa sosial dan ekonomi. Begitu pula penyebab-penyebab yang sebenarnya berada dalam wilayah kekuasaan suami dan istri untuk menghindarkannya. Ada yang harus diketahui dan sebenarnya dapat dielakkan sebelum menikah yaitu perbedaan-perbedaan yang terlalu besar yang terdapat diantara berdua. Jadi sebenarnya sewaktu mencari jodoh hendaklah memilih orang yang sebanyak mungkin cocok dan jangan yang terlalu banyak perbedaannya.

2. lntegritas Dan Iman

Faktor-faktor penting dalam membina rumah tangga adalah integritas dan iman. Suami-istri yang jujur, berbudi harus yang tawakal dan mentaati peraturan-peraturan Tuhan serta menjauhi larangan-Nya, akan lebih mampu membina hubungan yang rukun, serasi dan mesra.

Suami dan istri yang kurang imannya dan rendah ahlaknya, mullah saja terjadi kericuhan, kebohongan, kecurigaan, merugikan, sating menyakiti didalam rumah tangganya. Istri yang berahlak dan beriman tidak akan nyeleweng, sebaliknya suami yang berbudi dan tact kepada Tuhan akan memegang tegung amanah. Cinta,

kompabilitas, kesehatan fisik dan mental “Emotional Matur,,–v,” (kedewasaan emosional), ahlak, budi dan iman adalah prasyarat atau “Prerequisites” untuk keberhasilan berumah tangga. Bilamana faktor-faktor tersebut terdapat pada suami dan istri, maka kesulitan-kesulitan lain yang timbul kemudian, kesulitan ekonomi, faktor-faktor lingkungan luar akan dikendalikan dengan tidak perlu menimbulkan konflik.

3. Kemauan,, Kemampuan Dan Kesempatan

Di dalam kehidupan berkeluarga, bagaimanapun juga kesulitan-kesulitan mungkin saja muncul sehingga hubungan yang tac -nya cukup rukun menjadi terancam. Oleh karena itu harus diketahui bahwa ada syarat lain yang diperlukan untuk menjamin keberhasilan dalam rumah tangga, yaitu kemampuan dan kemauan untuk mengusahakan kerukunan serta keserasian dengan upaya nyata yang telah dipikirkan, dirundingkan, dan direncanakan terlebih dahulu. Apa saja yang kita inginkan didunia ini – tidak akan datang dengan sendirinya. Begitu pula keberhasilan berumah tangga atau kerukunan tidak akan terwujud dengan sendirnya melainkan hanya akan datang sebagai hasil usaha yang direncanakan dan diarahkan secara rasional.

Suami dan istri harus berkemauan dan berusaha untuk memecahkan dan menyelesaikan kesulitan yang dihadapi keduanya harus memiliki keyakinan bahwa dengan kemauan dan kemampuan segala kesulitan dapat ditanggulangi.

4. Terapi Psikollogis

Ada tiga teori untuk menerangkan mengapa “Sesuatu” berlangsung dengan baik dan ditempat lain atau pada orang lain “Suatu” itu justru tidak dapat berlangsung.

a. Teori Transaksional

Menurut teori ini, hubungan antar manusia (interpersonal) berlangsung mengikuti kaidah transaksional yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu, putus atau bahkan berubah menjadi permusuhan. Oleh karena itu seyogyanya suami istri selalu saling memberikan yang terbaik.

b. Teori Peran

Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana peran setiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario itu sudah “tertulis” seorang Presiders harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami istri ayah, anak, mantu, mertua dan seterusnya. Menurut teori ini jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmonis tetapi jika menyalahi skenario maka is akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara.

c. Teori Permainan

Menurut teori ini, klasifikasi manusia itu hanya terbagi tiga yaitu anak-anak orang dewasa dan orang tua. Anak-anak biasanya menjadi, tidak mengerti dan kurang bertanggungjawab. Sedangkan orang dewasa biasanya bersikap lugas, sadar akan akibat yang akan terjadi. Adapun orang tua biasanya dapat memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain dengan batas-batas yang jelas dan tegas karena

orang tua mempunyai kecenderungan untuk menyayangi. Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang semestinya ditunjukkan.

E. Rangkuman

Setiap keluarga selalu ingin merasa tentram, sejahtera dan hidup dalam suasana rukun, tenang dan damai. Namun demikian kadangkala mengalami gangguan sehingga terjadi ketegangan yang akhirnya menjadi konflik antara suami istri (marital conflict) atau pertengkaran (marital quarrels). Konflik dalam rumah tangga dapat terjadi karena adanya perselisihan dan persengketaan diantara anggota keluarganya yang hidup dalam sate atap maupun saling berjauhan. Konflik itu sendiri disebabkan karena beberapa factor dari yang ringan sampai yang berat (pokok), dari yang bersifat internal dan eksternal, demikian juga sumber/ penyebab konflik dapat berasal dari suami atau istri maupun anggota keluarga lain karena adanya perbedaan dan ketidak cocokan (incompatibilitas). Banyak faktoryang dapat mempengaruhi kehidupan rumah tangga. Permasalahan yang timbul did alam rumah tangga clapati diminimalkan dengan mengingat beberapa faktor antara lain: adanya kecocokan dalam memilih suami atau istri, integritas dan iman seseorang juga merupakan falktor penting dalam membina kehidupan berumah tangga, adanya kemauan, kemampuan dan kesempatan dalam menghadapi kesulitan sehinga berhasil membentuk keluarga yang rukun, tenang, damai dan sejahtera. Faktor lain adalah dengan terapi psikologis yang terdiri dari teori transaksional, teori peran dan teon permainan dapat pula membantu untuk memecahkan permasalahan yang mungkin terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

F. Latihan

Coba Anda identifikasi problematika apa saja yang dapat timbul dalamkehidupan rumah tangga, mengapa hal tersebut dapat terjadi kemudian diskusikan bagaimana cara menyelesaikannya.

G. Evaluasi

  1. Apa yang Anda ketahui tentang konflik yang terjadi dalam rumah
  2. Kemukakan pendapat Anda mengapa gangguan terdapat dalam rumah tangga dan bagaimana mencegahnya
  3. Bidang-bidang mana saja yang dianggap rawan dalam memicu konflik?

BAB IV

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3

KEBERHASILAN MANAJEMEN RUMAH TANGGA

A. Kepemimpinan

Sejumlah orang yang bekerja-sama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama diperlukan pimpinan dan pemimpin. Bila dua orang saja bersekutu dan bekerja-sama sudah memerlukan adanya pemimpin.

Bahkan tiga orang saja berjalan salah seorang dari mereka harus menjadi pemimpinnya.

Keluargapun memerlukan pimpinan dan seorang pemimpin. Pemimpin ini mutlak harus ada karena pemimpinlah yang bertanggung-jawab untuk mengambil keputusan-keputusan yang berupa tujuan, sasaran, standar, garis-garis kebijaksanaan, prosedur, metode, prioritas, peraturan, program kerja maupun anggaran. Pemimpin harus pula mengorganisir, mengkoordinir, memberikan pengarahan dan melakukan pengendalian. Singkatnya Kepala rumah tangga yang melaksanakan manajemen keluarga dan sebagai pemimpin dalam hubungan suami istri.

Siapa pemimpin atau kepala keluarga itu? Di Indonesia menganut paham bahwa suami adalah kepala rumah tangga. Dalam Undang­Undang Perkawinan pun ditetapkan bahwa suami adalah kepala keluarga. Sebagai kepala dan akan diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan YME tentang pelaksanaan dan hasil kepemimpinannya.

B. Peran Dan Fungsi Manajemen

Dalam suatu rumah tangga/ hidup berkeluarga sudah diberi petunjuk oleh Tuhan YME agar selalu menggunakan akal sehat dan selalu berusaha untuk mensukseskan kehidupan rumah tangga dengan usaha yang sesuai menurut prinsip dan proses tertentu yang diajarkan oleh ajaran agama masing-masing.

Sukses dalam hidup berumah tangga bukanlah satu-satunya yang diinginkan oleh manusia dalam hidup ini. Begitu pula kesulitan yang dihadapi dalam rumah tangga bukanlah satu-satunya kesulitan yang terjadi antar manusia dan segera harus dipecahkan dan diselesaikan.

Dengan manajemen, ternyata rumah tangga dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat dijamin keberhasilannya dan kesulitan yang dihadapi dalam setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan baik.

Prinsip dan proses manajemen modern dapat dipraktekan dalam mengelola kehidupan rumah tangga pada umumnya. Mengingat bahwa keluarga juga merupakan suatu organisasi sosial dengan sejumlah orang (suami, istri dan anak-anak) yang bergabung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara bersama. Hubungan antara suami istri juga merupakan suatu hubungan sosial yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sama bagi setiap hubungan sosial dengan ada keistimewaan-keistimewaannya.

Bilamana anggota keluarga (suami dan istri) benar-benar ingin hubungan antara keduanya menjadi rukun dan kesulitan-kesulitan akan dapat diselesaikan, maka keduanya harus mau dan mampu mengatur serta mengurus hubungan antar keluarga secara sadar, rasional dan terarah untuk menggunakan cara-cara manajemen termasuk didalamnya metode “Problem-Solving”.

Menurut ilmu manajemen, upaya mewujudkan kerukunan, memecahkan dan menyelesaikan persengketaan dan mensukseskan hubungan antara suami istri harus diselenggarakan dengan cara sebagai berikut :

1. Menilai rumah tangga itu sendiri, apakah rumah tangga itu sendiri cukup sehat ataukah memang tidak memenuhi syarat untuk suatu rumah tangga yang sukses. Kemudian diusahakan mendapat petunjuk atau data yang direncanakan. Bagaiman kira-kira situasi hubungan diantara mereka itu di bulan dan tahun mendatang sehingga dapat diperkirakan dengan cara mengenal kepribadian masing-masing, mengenal anak-anak, mengenal lingkungan, pekedaan maupun penghasilan dari pasangannya.

2. Apakah yang diinginkan di dalam membina rumah tangga tentu harus ada tujuan yang pasti dan jelas. Tujuan ini tidak boleh hanya berupa slogan-slogan atau garis-garis umum saja, melainkan harus merupakan sasaran yang konkrit. Jika sasaran/ tujuan ini belum ada, maka langkah pertama harus ada kata sepakat mengenai apa yang menjadi target bersama.

3. Mengenai beberapa hal pasangan suami istri harus mampu bersama­sama menyetujui dan menetapkan standar tentang kerukunan, suasana damai, tingkah-laku atau perilaku ketertiban dan kesopanan dalam rumah, kebersihan, kepuasan dalam hubungan seks dan sebagainya.

Konflik sering terjadi karena suami dan istri berbeda paham umpamanya mengenai cara hidup (mewah, cukup comfortable atau sederhana), pergaulan sosial (sang istri ingin banyak-banyak bergaul dengan orang lain, sang suami lebih suka menikmati ketenangan dirumah dengan istri dan anak-anak). Mengenai pendidikan anak-anak, mengenai hubungan seks (frekwensinya, cara-caranya menghadapi persoalan-persoalannya) dan sebagainya. Persoalan-persoalan tersebut sangat sensitive bila paham masing-masing terlalu berbeda sehingga konflik mungkin akan sering terjadi. Padahal persoalan-persoalan tersebut adalah lumrah sekali dan dapat diduga akan muncul, bahkan berulang­ulang, maka sehaiknya pasangan suami istri secepat berunding dan mengambil keputusan yang jelas dan pasti sampai mendetail mengenai cara hidup yang akan ditempuh, pergaulan pendidikan anak-anak, hubungan seks, mengatur rumah, membelanjakan uang dan lainnya. Menurut istilah manajemen, mereka harus menyepakati dan menetapkan (memutuskan) “kebijaksanaan-kebijaksanaan” tertentu yang selanjutnya akan menjadi pedoman atau pegangan bagi mereka berdua.

4. Prosedur-prosedur, metode-metode dan peraturan-peraturan mengenai pelbagai soal yang selalu terjadi (makan harus bersama sampan barn sesudah mandi, cara menggunakan kamar mandi bangun jangan terlambat, berpakaian necis berbicara sopan,, soal menggunakan kendaraan (mobil), menyuruh pembantu dan sebagainya). Dalam kategori ini termasuk soal disiplin yang sangat besar artinya bagi ketertiban dan perdamaian dalam rumah tangga.

5. Prioritas, ada pepaah yang berbunyi : “besar pasak daripada tiang” antara suami dan istri sering terjadi cekcok karena sang istri suka membelanjakan penghasilan (gaji suami) tidak sebagaimana diinginkan sang suami. Maka sebaiknya cepat-cepat menetapkan suatu “Skala Prioritas”, maksudnya hendaklah ditetapkan secara jelas dan berurutan mana yang pertama mesti dibeli atau dibayar apa yang nomor dua apa yang kemudian boleh menggunakan biaya sebagai prioritas ketiga dan seterusnya. Skala prioritas mutlak perlu karena yang diinginkan itu memerlukan uang, selalu banyak, padahal uang masuk terbatas sekali dan biasanya itu ke itu juga dari bulan ke bulan. Kalau ada rizki istimewa yang halal barulah boleh dipenuhi keinginan-keinginan yang lain.

6. Sebaiknya juga ada semacam program kerja, yaitu bilamana ada keinginan-keinginan tertentu yang ingin direalisasikan.

7. Akhirnya setiap keluarga atau rumah tangga harus memiliki anggaran belanja. Maka suami dan istri secara tekun dan serius dipersilahkan memutuskan pos demi pos. berapa jumlah yang harus dibelanjakan dalam setiap bulan untuk melaksanakan usaha-usaha tertentu guna kesejahteraan keluarga.

Masing-masing anggota rumah tangga harus melaksanakan fungsinya dan menyelesaikan pekerjaannya dengan bekerjasama. Umpamanya memelihara ketertiban dan kebersihan mendidik anak­anak menghadapi orangtua dan mertua dan sering juga dalam bidang hubungan dengan pihak luar yang bersifat sosial. Keriasama yang rapih, lancar dan menyenangkan hanya mungkin dicapai bila ada ketegasan tentang soal-soal untuk apa harus ada kerjasama, sasaran-sasaran apa yang hendak dicapai kapan bagaimana dan dimana serta dengan menggunakan alat-alat atau bahan-bahan apa bekerjasama. Kerjasama hanya akan lancar dan tidak menimbulkan kejengkelan bila masing-masing selalu siap bersedia, mampu dan ikhlas untuk bekerja datau menyiapkan diri untuk dapat terjadinya kerjasama tersebut. Untuk ini jauh sebelumnya diantara mereka harus tercapai pengertian dan persetujuan cara-cara dan syarat-syarat bekerjasama itu. Kekurangan-kekurangan dalam hal inilah yang sering akan menimbulkan keteganan dan akhimya konflik.

C. Koordinasi

Suami dan istri mempunyai peranan yang berbeda dalam tugas dan pekerjaannya. Maka selalu ada resiko yang muncul karena setiap anggota keluarga melakukan macam-macam pekerjaan alam suatu lingkungan rumah tangga.

bahwa setiap dari mereka itu melakukan macam-macam pekerjaan dalam lingkungan rumahtangga itu, secara yang tidak jelas ada hubungan langsungnya dengan tujuan hidup bersama.

Sekurang-kurangnya sang istri berpendapat bahwa kegiatan­kegiatan suami itu tidak benar untuk kepentingan bersama atau sebaliknya. Untuk menghindarkan ini perlu ada usaha pengkoordinasian oleh kepala keluarga. Kegiatan-kegiatan tentu saja bermacam-macam, tetapi harus dijaga bahwa selalu seimbang, tidak terlalu menuju kesatu jurusan saja dijaga timingnya.dan dijamin selalu bahwa segala aktivitas itu benar-benar dan jelas menuju kepala perpaduan (integrasi) demi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Usaha pengkoordinasian ini juga perlu untuk menjamin agar perbedaan diantara suami dan istri tidak menjadi lebih melebar.

D. Pengarahan dan Pengedalian

Hidup bersama dari hari kehari memerlukan pengarahan dan pengendalian. Artinya pertama, kepala keluarga harus selalu mengambil prkarsa agar partnernya dan anak-anak selalu bergiat dan bersemangat serta siap memberikan petunjuk maupun bantuan. Selanjutnya harus dijamin bahwa segala sesuatu selalu berjalan sebagaimana diinginkan dan digariskan dalam kebijaksanan-kebijaksanaan serta ditentukan oleh prosedur-prosedur peraturan-peraturan lain, program kerja dan anggaran. Inilah usaha untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan bersama dalam kehidupan keluarga.

Bilamana sistim pengendalian ini benar-benar dilaksanakan, maka kesalahan-kesalahan kesulitan-kesulitan atau kelainan-kelainan dan penyimpangan-penyimpanan dapat segera diketahui dan cepat­cepat dikoreksi. Sehingga tidak akan terjadi kesulitan-kesulitan besar dan kegagalan-kegagalan total atau kecelakaan-kecelakaan fatal.

E. Peran Suami Istri

Perempuan dan laki-laki sama keduclukan dan perananya dalam membina rumah tangga dan dalam mewujudkan keluarga sejahtera. Perempuan dan laki-laki sebagai suami istri diberi bekal yang sama dalam membentuk rumah tangga yaitu cinta dan kasih sayang. Kedudukan perempuan cukup penting karena peranannya sebagai istri, sebagai ibu dan mitra suami dalam membina rumah tangga serta mendidik generasi yang lahir dalam keluarga tersebut bersama suaminya.

Perempuan sebagai istri berfungsi sebagai pencipta ketenangan, kemesraan dan kasih sayang. Diantara peran yang-dilaksanakan perempuan dalam keluarga adalah memelihara kesehatan keluarga dengan gizi yang cukup dan rumah tangga yang bersih dan terjamin kesehatannya, sedangkan peran suar-i adalah sebagai mitra sejajar istri dan pelindung keluarga (istri dan anak) juga sebagai pendidik dan emberi nafkah utama serta teman istri dalam suka dan duka.

Peran perempuan sebagai istri dalm rumah tangga adalah sebagai penanggung jawab dan pengelola ekonomi rumah tangga. Pendapatan keluarga yang bersumber dari usaha suami istri diatur pengeluarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Agama mengajarkan tentang beberapa hal:

1. Saling menerima, terimalah ini sebagaimana adanya, kesenangan dan kekurangan.

2. Saling menghargai, menghargai perkataan, perasaan, bakat dan keinginan, serta menghargai keluarganya.

3. Saling mempercayai percaya pribadi dan kemampuannya.

4. Saling mencintai dengan cara lemah lembut dalam pergaulan dan pembicaraan, menunjukan perhatian kepala suami/istri, bijaksana dalam pergaulan, menjauhi sikap egois, tidak mullah tersinggung dan menunjukan rasa cinta.

Ibu juga mendidik generasi muda dan menurunkan budaya dan agama serta norma. Sebagai ibu dapat menciptakan surga bagi anak­anaknya, menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anaknya karena suasana yang nyaman membuat mereka tumbuh dan berkembang dengan sehat jasmai dan rohaninya. Kasih sayang dan perhatian yang cukup serta pendidikan yang tepat akan menghasilkan anak-anak yang baik dan berperilaku terpuji. Lebih lanjut hal ini akan menciptakan Ketahanan Nasional dan kesejahteraan masyarakat luas.

Perempuan menempati kedudukan yang penting di dalam kehidupan keluarga dan sendi dasar kehidupan masyarakat karena perempuanlah yang melahirkan generasi penerus merawat dan mendidik anak, memberikan kasih sayang, perhatian penghargaan dan segala sesuatu yang dibutuhkan anggota keluarga.

Perempuan memiliki hak untuk hidup, menuntut ilmu, bekerja atau beramal shaleh selama tidak merusak diri, agama dan martabatnya sebagai manusia dan betapa mulia kedudukan perempuan dalam menciptakan surga bagi anak-anak dan suami yang mendampingi hidupnya dalam membentuk keluarga sejahtera.

F. Rangkuman

Keberhasilan dalam membina rumah tangga dapat diwujudkan antara lain dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen, karena did dalam rumah tanggapun diperlukan adanya kepemimpinan, koordinasi, pengendalian, yang sesuai dengan peran masing-masing dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala rumah tangga sekaligus sebagai pemimpin dan didampingi istri yang berperan sebagai ibu dengan anak-anak dan mitra suami. Sedangkan anak-anak juga harus bekerjasama saling bahu membahu dalam suatu rumah tangga.

Rumah tangga dapat dikatakan sukses bila masing-masing anggota keluarga melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan peran masing-masing, adanya saling menghormati, menghargai, menyayangi, mengasihi, melindungi, bekerjasama dan saling mengingatkan satu dengan lainnya karena rumah tangga merupakan ajang tumbuh kembangnya nilai-nilai religius, edukatif, rekreatif, sosial dan budaya.

G. Latihan

Coba Anda diskusikan mengapa peran suami dan istri sangat dominan dalam suatu rumah tangga.

H. Evaluasi

1. Menurut Anda, apa saja peran suami dalam mengelola rumah tangga?

2. Bagaimana pula peran istri dalam mengelola rumah tangga?

3. Peran dan fungsi manajemen, apa saja yang dapat diterapkan agar tercapai keberhasilan dalam kehidupan rumah tangga?

BAB V

KEGIATAN PEMBELAJARAN IV
KELUARGA SEJAHTERA DAN BAHAGIA

A. Kriteria

Realisasi dari keluarga sejahtera dan bahagia adalah sesuai dengan Keputusan Dirjan Bimas Islam dan Urusan Haji No. D/7/1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembina Gerakan Keluarga Sakinah pada Bab III, Pasal 3, dinyatakan bahwa Keluarga Sakinah adalah keluarga yang dibina atas perwalian yang sah, mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serai, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketawqaan, dan ahlaq mulia.

Selanjutnya secara rind pada pasal 4 disebutkan ada 5 (lima) macam lingkungan keluarga sakinah:

1. Keluarga Pra Sakinah

2. Keluarga Sakinah I

3. Keluarga Sakinah II

4. Keluarga Sakinah III

5. Keluarga Sakinah III Plus

Untuk hidup bahagia dan sejahtera manusia membutuhkan ketenangan hati dan jiwa yang aman damai sebagai hasil dari iman dan tawa kepada Tuham YME.

Untuk melestarikan cinta kasih ini, agama memberi saran agar kita secara sadar memelihara dan mengungkapkan secara nyata kasih sayang yang sudah ada, kemudian rajin berdoa kepada Tuhan agar rasa kasih sayang senantiasa dilimpahkan kepada keluarga.

B. Formula Kebahagiaan

Pasangan yang awet tentu memiliki berbagai kiat perkawinan berupa apa yang sebaiknya dilakukan (the does) dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan (the doesn’t) oleh para suami dan para istri.

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan:

1. Menghindari perbuatan yang tidak disenangi oleh pasangan hidupnya sekalipun perbuatan itu hanya sekedar perbedaan selera semata dan sama sekali bukan tergolong perbuatan salah.

2. Usahakan memiliki hobi yang sama, seku rang- ku rangnya ikut menyenangi apa yang disukai pasangan hidupnya.

3. Memberi kejutan dengan membawa sesuai yang disenangi pasangan hidupnya atau dengan selalu menampilkan wajah cerah dan sendagurau sebagai tanda perhatian.

4. Musnahkan surat-surat cinta dan foto kenangan dari (para) mantan pacar.

5. Khusus untuk para istri agar memperhatikan makanan kesukaan suami. Apabila suami akan pergi ke luar kota, benahilah pakaian serta sediakan barang keperluannya lalu catat. Apabila suami pulang dengan membawa bingkisan/ oleh-oleh tampilkanlah rasa senang, sekalipun bingkisan itu sebenarnya kurang berkenan di hati.

Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan :

1. Jangan Coba-coba menghampiri hat-hat yang dilarang oleh agama, sekalipun mula-mula hanya sekedar iseng saja.

2. Jangan terlalu banyak turut campur terhadap pelaksanaan tugas masing-masing.

3. Jangan mementingkan diri sendiri

4. Jangan cemburuan, tapi kewaspadaan tetap dianjurkan.

5. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan.

6. Jangan membiasakan pergi meninggalkan rumah kalau sedang tersinggung oleh pasangan hidup.

7. Jangan suka mendatangi tempat kerja suami.

8. Jangan suka menceritakan keunggulan dan kekayaan keluarga masing-masing atau keluarga orang lain, apalagi kemudian membandingkanya dengan keluarga sendiri.

9. Jangan menceritakan kecantikan atau ketampanan atau ketrampilan orang lain dihadapan pasangan hidup masing-masing.

10. Jangan suka menceritakan kelezatan masakan ibu kandung dihadapan istri saat makan. Kalaupun masakan istri tidak begitu berkenan janganlah sekali-sekali dicela, tetapi tetap dimakan saja dengan tenang.

C. Mawaddah dan Rahmah

Salah satu unsur fitrah menurut Nurcholish Madjid yang kemudian menyebutkan empat tahap rasa cinta antara laki dan perempuan yaitu:

1. Mahabbah: bentuk pertama rasa saling tertarik antara laki-laki dan perempuan dengan pesona ragawi sebagai penyebab utama laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta, baik”bertepuk sebelah tangan” maupun “gayung bersambut”

2. Mawaddah: bentuk yang lebih tinggi dari mahabbah, akrena rasa tertarik kepada lawan jenis tidak semata-mata karena segi jasmani dan penampilan fisik, tetapi karena unsure kepribadian dan nilai-nilai luhur lainnya

3. Rahmah: bentuk cinta kasih ini ditandai oleh rasa kasih sayang yang murni dan tutus serta kualitasnya lebih tinggi lai, karena jenis kasih sayang ini besumber dari sifat Tuhan yang Rahman dan Rahim

4. Sakinah: ikatan perkawinan dan suasana kekeluargaan yang diliputi oleh rasa senang, tentram, sentosa dan bahagia yang sempurna, serta sadar akan kehadiran Tuhan dan penuh harap akan Ridha-Nya. Jenis cinta ini adalah anugerah Tuhan YME kepada kaum yang ulet, tabah dan ikhlas. Keluarga sakinah adalah tujuan dan idaman setiap keluarga

BAB VI

PENUTUP

Nikmat berumah tangga adalah salah satu diantara berbagai kenikmatan yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Hanya dalam ikatan pernikahan (yang baik) terjadi saling berbagi pengalaman dan perasaan, serta saling memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang paling sah, spontan dan murni. Kekeluargaan pun menjadi lebih luas melalui pergaulan dengan keluarga pasangan masing-masing. Bahkan orang tua pun menjadi bertambah jumlahnya, karena mertua setara dengan orang tua. Disamping itu peluang untuk mengembangkan diri dan meraih kebahagiaan terdapat dalam ikatan pernikahan yang puncaknya yaitu kelahiran anak-anak sebagai buah cinta kasih.

Namun semuanya tidak akan terwujud apabila tidak diupayakan secara sadar dan terarah. Dengan demikian ikatan rumah tangga merupakan salah satu ajang perjuangan bagi suami dan istri untuk mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan tidakjatuh begitu saja, tetapi merupakan ganjaran dari kerja keras meraih makna dan tujuan hidup yang didasari keimanan, kesetiaan, kemanfaatan, dan kekeluargaan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

2. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 serta penjelasannya

3. Problem Pelaksanaan Undang-undang Perkawinan dan Pembinaan Keluarga,BP4 Pusat,Jakarta 1977

4. Birruwalidaini, Ta”zhim Kepada Ibu-Bapak, Drs. H. Dahlan AS, Seri Hidup Beragama, Jakarta 1984

5. Membangun Hari Esok yang Lebih Baik, Himpunan Khutbah Pembangunan Satu Tahun, Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Proyek Bimbingan Khutbah / Da”wah Agama Islam Pusat Tahun 1987/1988

6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta 1997

7. Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Ratna Batara Munti, Lembaga Kajian Agama dan Jender, The Asia Foundation, Jakarta 1999

8. Petunjuk Teknis Pembinaan Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Jakarta 1999 / 2000

9. Modul Pembinaan Keluarga Sakinah ( untuk pelatihan Pembina Kelompok Keluarga Sakionah ), Departemen Agama, Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Proyek Peningkatan Kehidupan Keluarga Sakinah, Jakarta Tahun 2000

10. Modul Pendidikan Agama Dalam Keluarga, Departemen Agama, Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Proyek Peningkatan Kehidupan Keluarga Sakinah, Jakarta Tahun 2000

11. Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Sakinah, Departemen Agama , Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, Proyek Peningkatan Kehidupan Keluarga Sakinah, Jakarta Tahun 2001

12. Keluarga Sakinah Rumahku Surgaku, H. Ramlan Marjuned, Media Da”wah Jakarta, 1423 H / 2002

About these ads

Responses

  1. punten nanya
    jika suami tidak kunjung menafkahi lahir sampai degan 5tahun lebih , alsannya macam2, misal jaga anak (kebetulan istri kerja dari sebelum menikah), ga mau kerja sama orang mau saha dll, apkah istri berhak meminta cerai atau seperti apa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: