RUKUN DAN PERSYARATAN PERNIKAHAN

RUKUN DAN PERSYARATAN PERNIKAHAN


 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذى نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ ب الله من شرورانفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهدى الله فلا مضلّ له ومن يضلل فلا هادي له اشهد ان لااله الاّ الله و حد ه لا شريك له واشهد انّ محمّدا عبده ورسوله اللهمّ صلّ وسلّم وبارك عل سيّد نا محمّد واله وصحبه ا جمعين امّا بعد فيا ايّها الحا ضرون اتّقوا الله حقّ تقا ته ولا تمو تنّ الاّ وانتم مسلمون

قال على ومن اياته ان خلقلكم مّن انفسكم ازوا جالّتسكنوا اليه وجعل بينكم مودّعك ورحمه انّ فى ذلك لآاية لقوميّتفكرون

وقل الله تعلى فيه القران وعاشروهنّ ب المعروف وقل الله تعلى ايضا يااليهنّاس اتّقوا رباّ قم اّلذى خلقلكم مّن انفس وا حده وخلق منها زوجهاوبثّ منهما رجال كثيرونشآء

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita, terutama kepada calon pengatin berdua, mudah-mudahan selalu dikaruniakan kesehatan dan keberkahan yang berlimpah. Shalawat dan salam mudah-mudahan tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya termasuk kita semuanya yang ada di tempat ini. Amien.

 

Saudara-saudara yang berbahagia,

 

Pada kesempatan khutbah nikah ini saya akan menyampaikan kepada hadirin tentang syarat dan rukun dalam perkawinan. Hal ini bermaksud agar masyarakat lebih mengetahui syarat syahnya pernikahan.

Menurut Syariat Islam, setiap perbuatan hukum harus memenuhi dua unsur yaitu : rukun dan syarat. Rukun ialah unsur pokok atau tiang dalam setiap perbuatan hukum. Sedangkan syarat adalah unsur pelengkap dalam setiap perbuatan hukum. Jadi dalam setiap perbuatan hukum harus memenuhi kedua unsur tersebut.

Pernikahan adalah suatu perbuatan hukum. Agar pernikahan bisa dianggap syah maka harus memenuhi kedua unsur tersebut.

Adapun mengenai Rukun dan Syarat nikah tersebut adalah sebagai berikut :

 

RUKUN NIKAH

Pernikahan atau perkawinan harus memenuhi rukun sebagai berikut :

  1. Harus ada calon mempelai laki-laki dan perempuan.
  2. Wali dari calon mempelai perempuan.
  3. Dua orang saksi laki-laki.
  4. Ijab dari wali calon mempelai perempuan.
  5. Kabul dari calon mempelai laki-laki atau wakilnya.

 

SYARAT NIKAH

  1. Syarat menurut syariat.

 

Calon pengatin pria sebagai berikut :

 

1. Beragama Islam.

2. Terang prianya (tidak banci).

3. Tidak dipaksa.

4. Tidak beristeri empat orang.

5. Bukan mahrom calon isteri.

6. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan calon isteri.

7. Mengetahui calon isteri todak haram dinikahinya.

8. Tidak sedang dalam ihram haji atau umrah.

 

Calon pengatin wanita sebagai berikut :

 

1. Beragama Islam.

2. Terang wanitanya (tidak banci).

3. Tidak memberi ijin kepada wali untuk menikahkannya.

4. Tidak bersuami dan tidak dalam iddah.

5. Bukan mahrom calon suami.

6. Belum pernah dili’an oleh calon suami.

7. Terang orangnya.

8. Tidak sedang dalam ihram haji atau umrah.

 

Syarat-syarat wali :

1. Beragama Islam.

2. Laki-laki

3. Baligh

4. Berakal

5. Tidak dipaksa.

6. Adil (bukan fasik).

7. Tidak sedang ihram haji atau umrah.

8. Tidak dicabut haknya dalam menguasai harta bendanya oleh pemerintah (Mahjur Bissafah).

8. Tidak rusak pikirannya larena tua atau sebagainya.

 

Syarat-syarat saksi :

1. Beragama Islam

2. Laki-laki

3.Baligh

4. Berakal

5. Adil

6. Mendengar tidak tuli

7. Melihat tidak buta

8. Bisa bercakap-cakap tidak bisu

9. Tidak pelupa muhafal

10. Menjaga harga diri

11. Mengerti maksud ijab dan qobul

12. Tidak meramgkap sebagai wali.

 

  1. Syarat menurut Peraturan Perundang-undangan.

Pada Pasal Undang-undang No. 1 tahun 1974 disebutkan :

 

1. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan ke dua calon mempelai.

2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua.

3. Dalam hal salah seorang dari ke dua orang tua telah meninggal atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat (2) Pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.

4. Dalam hal ke dua orang tua telah meninggal dunia atau tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas selama mereka masih hidup dan mampu menyatakan kehendaknya.

5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang tersebut atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melaksanakan pernikahan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut.

 

Pasal 7 Undang-undang No. 1 tahun 1974 menyebutkan :

 

1. Perkawinan hanya dapat diizinkan jika fihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan fihak perempuan sudah mencapai umur 16 tahun.

2. Dalam hal penyimpangan pada ayat 1 tersebut dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak maupun pihak wanita.

3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tersebut berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut tanpa mengurangi apa yang dimaksud Undang-Undang ini.

 

Demikianlah Rukun dan Syarat nikah yang semestinya kita semua ketahui agar perkawinan ataupun pernikahan legal demi hukum. Mudah-mudahan berguna dan bermanfaat sebagai bekal pertama dalam melangsungkan pernikahan. Semoga anda sekalian diberikan keluarga yang bahagia lahir batin, sakinnah,mawaddah dan rahmah. Amien.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Iklan

2 Comments

  1. Assalamu’alaikum…

    Apa hukumya jika ada pernikahan tetapi pengantin wanita SAMA SEKALI tidak mencitai suaminya dan saat ijab qobul pengantin wanita menagis karena tidak IKHLAS dia menikah…
    Pengantin wanita menikah karena TERPAKSA menuruti kemauan ibunya.
    Apakah Allah meridhloi pernikahan itu dan apaka pernikahan itu sah…
    karena pernikahan itu LAHIR BHATIN bukan cuma LAHIRnya.

    1. Mr.Solikin yang saya hormati
      Undang-undang perkawinan (UUP) pasal 6 ayat I menyatakan,” perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua mempelai”.Ternyata masih muncul juga adanya perkawinan yang dipaksakan ataupun terpaksa.Hemat saya , itulah bagian dari nilai budaya gender yang belum memberi hak penuh kepada anak perempuan dalam memilih dan menentukan pasangannya.Orangtua seharusnya lebih arif menyadari berbagai akibat yang mungkin terjadi jika perkawinan itu dipaksakan antara lain silang selisih dalam kehidupan rumah tangga, bahkan terjadinya perceraian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s