AKIKAH

 

AKIKAH

ASAL USUL AKIKAH

Abu Umar mengatakan menurut Abu Ubeid, kata Akikah scr bahasa bimakna rambut yang tumbuh dikepala bayi yang baru saja dilahirkan, dan kambing yang disembelih untuk anak yang baru lahir tsb dinamakan akikah, karena ketika kambing disembelih, rambut anak juga dicukur.

Sedang Imam Ahmad mengatakan akikah bermakna memotong kurban saat anak lahir.

 

PENSYARIKATAN HUKUM AKIKAH

Menurut Imam Malik, sebenarnya akikah telah diperintahkan sejak lama dan menjadi Sunah Setengah Wajib (Sunat Muakadah). Imam Malik, Imam Syafi’I Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan al-Thabari berpendapat bahwa akikah merupakan sunah yang wajib dilaksanakan.

Sedang menurut Ibnul Mundzir akikah telah dipraktekkan di daerah Hijaz dimasa lalu dan dijalankan oleh para ulama. Para sahabat yang menetapkan masalah akikah ini adalah Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, dan Aisyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Fatimah binti Rasululloh.

Adapun para Ahli Hadist, para Fuqoha, dan sebagian besar para ulama Ahlussunah berpendapat bahwa akikah merupakan Sunah Rasul yang harus ditegakkan.

Menurut Riwayat Imam Bukhori, Rasululloh bersabda : “Setiap anak yang lahir ada akikahnya maka tumpahkan darah dan buanglah penyakitnya”. Maksudnya dikeluarkan akikahnya.

Akikah dikeluarkan pada hari ke 7, lalu bayi diberi nama dan dicukur rambutnya, kemudian diberi minyak Za’faran dan disedekahkan dengan emas seberat rambut bayi tersebut. Namun demikian Menurut Aisyah ra, apabila tidak mampu di hari ke 7 bisa dilakukan pada hari ke 14 atau ke 21.

Sedangkan kambing yang disembelih menurut Aisyah ra Rasululloh bersabda : “Akikah bagi anak laki-laki 2 ekor kambing dan bagi anak perempuan 1 ekor kambing”.

Bila anak belum dikeluarkan akikahnya maka orang tuanya belum bisa mendapat safa’at/pahala anaknya sampai akikah dikeluarkan oleh ayahnya. Rasululloh bersabda :” Siapa yang baru mendapat kelahiran anak lalu ingin beribadah dengannya, maka keluarkanlah akikah”.

Anak adalah titipan Gadai yang harus ditebus sehingga setelah dikeluarkan akikah maka anak tsb resmi 100% mjd milik orang tuanya.

Akikah adalah kewajiban seorang ayah. Hal ini berdasarkan Riwayat Imam Ahmad yang ditanya oleh sahabat Said Alsyalinji, : tentang seseorg yang diberi tahu oleh ayahnya bhw ia belum melakukan akikah untuknya. Apakah sang anak harus melakukannya sendiri ? Imam Ahmad menjwb, kewajiban tsbt berlaku bagi ayah.

Akikah mempunyai kedudukan lebih utama dibandingkan sedekah kepada fakir miskin dengan nilai yang sama. Dalam riwayat Abu Harits, menurutnya jika berhutang, semoga Allah memberikan ganti padanya, sebab ia telah menghidupkan sunah. Dalam masalah ini Abu Abdillah menjawab, aku berharap, jika orang itu berhutang, Allah akan cepat memberikan ganti padanya, sebab ia telah menghidupkan salah satu sunah Rasulullah saw dan mengikuti ajarannya.

Namun demikian mengambil hadist yang diriwayatkan Imam Turmudzi karena anak terikat dengan akikah, maka dapat diinterprestasikan anak bisa mengakikahkan dirinya sendiri, bila ayahnya belum mengakikahkannya.

 

PENTASARUFAN AKIKAH

Syarat Kambing yang diakikahkan sama seperti syarat kambing untuk kurban. Menurut Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’ kedudukan akikah sama dengan kurban, hewan akikah tidak boleh cacat, kurus, patah dan sakit. Daging dan kulitnya sama sekali tidak boleh dijual. Daging akikah dibagikan dg dimasak terlebih dahulu, termasuk tulang2nya dan boleh ditambah garam atau bumbu, berbeda dengan pembagian hewan korban yang dibagikan dalam bentuk yang masih mentah.

Akikah bisa dimakan sebagian dan sebagian yang lain dibagikan dengan model walimah yakni diundang. Dan diperkenankan pula memberikan akikah kepada wanita yang membantu proses kelahirannya.

HIKMAH AKIKAH

LAIN-LAIN

Bagaimanakah hukumnya satu akikah untuk banyak orang.

Dalam kitab al-Jami’ al-Khallal berbicara mengenai hukum seekor unta yang diperuntukkan bagi tujuh orang. Ia mendengar Abdul Malik ibn Abdul Hamid yang bertanya kepada Abu Abdillah, bagaimana kalau melakukan akikah dengan satu ekor unta untuk tujuh orang ? Ia menjawab, Aku belum mendengar tentang hal itu. Tapi aku kira ia tidak membenarkan seekor unta untuk tujuh orang dalam akikah. Jadi akikah harus berupa kambing, satu ekor kambing untuk satu anak.

Apakah boleh diganti dengan unta atau sapi.

Dalam hal ini terjadi khilafiah dari para fuqoha, Sahabat Anas ibn Malik melakukan akikah untuk anak laki-lakinya yang bernama Abdurahman dengan menyembelih unta, namun sebagian ulama tidak membenarkan hal tersebut karena Rasulullah memerintahkan akikah dengan kambing.

Apakah anak bisa mengakikahkan sendiri.

Al-Khalal menjelaskan bahwa yang berkewajiban akikah adalah ayah, bukan anaknya. Tetapi dalam hadist mungkar , Ahmad berkata, “Riwayat Abdullah ibn al-Muharrar dari Qotadah dari Anas bahwa Nabi saw menyembelih akikah adalah hadist mungkar.

KESIMPULAN

Dari berbagai dasar dan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa akikah harus dikerjakan karena :

Hukum akikah adalah setengah wajib (Sunah Muakadah).

Dengan Akikah tersebut berarti orang tua sudah mendapatkan safaat dari kebaikan anaknya. Sehingga sudah dapat beribadah bersama-sama dengan anaknya tersebut.

Akikah disandarkan pada adanya kemampuan, jika tidak dapat dilaksanakan di hari ke 7 bisa diundur di hari ke 14 atau ke 21. Bahkan bisa dilakukan oleh anaknya sendiri, bila ternyata orang tuanya belum melaksanakannya.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s