IKHLAS* (lanjutan)

IKHLAS* (lanjutan)

Dengan berbekal ikhlas, seseorang dapat meraih pahala dari amal yang dikerjakannya meskipun dia tidak mampu menyelesaikannya. Bahkan keikhlasannya dapat menghantarkannya pada kedudukan para syuhada dan orang-orang yang berjihad meskipun dia meninggal dunia di atas peraduannya.

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperolh kendaraan untukm membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mta karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At Taubah(9): 92)

Rasulullah SAW. Telah bersabda;

“Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah karena terhalang oleh udzurnya; tidaklah sekali-kali kita menempuh lereng dan tidak pula mngarungi lembah, melinkan mereka senantiasa bersama kita.” (HR. Bukhari) menurut riwayat Muslim disebutkan: “Melainkan mereka ikut berbagi pahala bersama kalian.”

Dengan ikhlas, seseorang dapat meraih pahala meskipun keliru dalam upayanya, seperti mujtahid, orang alim, dan ahli fiqh, karena melalui ijtihadnya dia berniat dengan menuangkan segenap kemampuanya untuk meraih kebenaran. Sesudah itu, seandainya dia masih juga belum dapat meraih kebenaran, dia tetap beroleh pahala dari upayanya.

Seseorang dapat selamat dari cobaan berkat ikhlas, dan ikhlas akan menjadi pelindung baginya dari nafsu syahwat dan dari terperangkap ke dalam cengkeraman orang-orang fasiq dan pendurhaka. Oleh karena itulah, Alloh menyelamatkan Yusuf AS. Dari bujuk rayu istri Al ‘Aziz:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf(12); 24)

“Tetapi hamba-hamba Alloh yang dibersikan dari dosa. Mereka memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan; dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan di dalam surga-surga yang penuh nikmat.” (QS. Ash-Shoffaat(37): 40-43)

Ikhlas dalam bertauhid disebutkan keutamaanya oleh Rasulullah SAW. Melalui sabdaya:

“Tidaklah sekali-kali seorang hamba mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallah dengan ikhlas (dari dalam lubuk hatinya), melainkan dibukakan baginya semua pintu langt hingga tembus sampai ke ‘Arsy selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar (HR . Tirmidzi)

Ikhlas dalam bersujud disebutkan keutamaanya oleh rasulullah SAW. melalui sabdanya:

“Tidalah sekali-kali seorang hamba melakukan sujudnya kepada Alloh sekali sujud, melainkan ditinggikan baginya satu derajat karena sujudnya dan digugurkan karenanya sebaian dari dosa-dosanya.” (HR. Tirmidzi)

Ikhlas dalam berpuasa disebutkan dalam keutamaanya oleh rasulullah SAW. Melalui sabdanya:

“Barang siapa puasa Romadon karena iman dan mengharap pahala Alloh, niscaya akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. bukhari)

Dalam hadits yang lain disebutkan sebagai berikut:

“Barang siapa puasa sehari di jalan Alloh, niscaya Alloh akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh (perjalanan) tujuh puluh musim gugur (tahun).” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam mengerjakan qiyamul lail disebutkan keutamaanya oleh Rasulullah SAW. Melalui sabdanya:

“Barang siapa melakukan qiyam dalam bulan Romadhon karena iman dan mengharapkan pahala Alloh , niscaya akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam meninggalkan hal yang diharamkan, mencintai Alloh, dan dalam bershodaqoh, keutamaanya disebutkan dalam Hadits yang menceritakan tujuh orang yang mendapat naungan dari Alloh pada hari kiamat pada hari tiada naungan, kecuali karena naunganNya. Ikhlas berangkat ke masjid keutamaanya disebutkan oleh sabda Nabi SAW. Berikut

“Barang siapa yang berangkat menuju ke masjid tanpa ada tujuan lain, kecuali hanya ingin menunaikan shalat, maka tidaklah sekali-kali dia melangkah sekali langkah melainkan ditinggikan baginya satu derajat berkat langkahnya. Dan jika dia sholat, para malaikat tetap memohonkan rahmat baginya selama dia masih berada di tempat sholatnya seraya mengatakan:’Ya Alloh, rahmatilah dia. Ya Alloh, rahmatilah dia. Ya Alloh rahmatilah dia, Ya Alloh kashanilah dia. Seseorang diantara kalian masih dianggap berada dalam sholatnya selama dia menungggu kedatangan waktu shalat (yang lain).” (HR. Bukhari)

Ihlas dalam memohon kematian yang syahid disebukan keutamaanya oleh sabda Nabi SAW:

“Barang siapa meminta kepada Aloh dari lubuk hatinya yang terdalam untuk mati syahid, niscaya Alloh akan menghantarkannya pada kedudukan pada syuhada meskipun dia mati di atas peraduannya.” (HR. Muslim)

Ikhlas dalam menghantarkan jenazah disebutkan keutamannya oleh sabda Nabi SAW;

“Barang siapa menghantarkan jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala Alloh, sedang dia selalu menemaninya sampai mensholatkannya dan selesai dari pekuburannya, maka sesunguhnya dia dalam kepulangannya membawa pahala dua qiroth yang setiap qirath sama besarnya dengan bukit Uhud. Dan barang siapa yang mensholatkannya, kemudian pulang sebelum mengebumikannnya, maka sesungguhnya dalam kepulangannya dia membawa pahala satu qirath.” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam bertobat disebutkan perihal keutamaannya dalam sebuah hadits yang menceritakan perihal orang yang telah membunuh seratus orang dan malaikat rahmat yang membawanya.

Seseorang perlu menjelaskan kepada dirinya melaui ucapannya tentang berbagai hal yang diniatkannya agar pahalanya bertambah. Seperti halnya seseorang yang ingin bershodaqoh tetapi tidak punya harta, lalu dia mengatakan pada dirinya “ seandainya aku punya harta seperti anu, tentulah aku akan bershodaqoh seperti dia. ” Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah SAW. Telah bersabda:

“ Masing-masing dari keduanya beroleh pahala yang sama.”HR. Ibnu Majah)

Sesungguhnya sepanjang sejarahnya umat ini telah melahirkan banyak orang yang ikhlas. Perjalanan hidup mereka menjadi teladan bagi generasi sesudahnya dan juga menjadi anutan dalam kebaikan. Oleh karena itulah, Alloh melestarkan sirah dan sebutan mereka mereka agar dapat dijadikan sebagai anutan oleh orang-orang sesudahnya; dan yang menjadi pimpinan mereka adalah Nabi Muhammad SAW., para penolong nabi-nabi lainnya, dan praa sahabat yang telah berhasil menalukkan berbagai negeri berkat keiklasan mereka, dan juga para tabi’in yang mengikuti jejak mereka sesudahnya.

‘Abdah bin Sulaiman menceritakan pengalamannya: “Dahulu kami berada dalam suatu pasukan khusus yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Mubarak di negeri romawi. Setelah kami berhadapan dengan musuh, terjadilah perang sengit selama satu jam. Pasukan musuh terpukul mundur berkat keberanian seseorang dari pasukan muslimin. Setelah perang usai pasukan kaum muslimin mengerumuni orang tersebut untuk mengenalnya dari dekat. Orang itu mengenakan cadar yang menutupi wajahnya dan setelah lelaki itu membuka tutup wajahnya, ternyata dia adalah Abdulah bin Mubarak. Maka ‘Abdah bin Sulaiman selaku komandan pasukan berkata dengan nada tidak percaya: “ Ternyata orang yang membuat aku malu adalah engkau, wahai abu ‘Umar?”

Al Hasan mengatakan bahwa dahulu seseorang menghafal al Qur’an, sedang tiada seoranpun yang mengetahuinya; dan sesungunya dahulu ada seseorang yang mengeluarkan shodaqoh yang sangat banyak, tetapi tiada seorangpun yang mengetahuinya. Dahulu seseorang mengerjakan sholatnya dalam waktu yang cukup lama di dalam rumahnya, sedahng tiada seorang manusia pun yang mengetahuinya. Sesungguhnya saya pernah menjumpai banyak orang yang menurut hemat saya tiada seorangpun dimuka bumi ini mapu beramal seperti mereka secara sembunyi-sembunyi, melainkan pasti melakukannya dengan terang-terangan.

Dahulu kaum muslimin bersungguh-sungguh alam berdo’a, tetapi tidak pernah terdengar dari mereka suatu suarapun, kecuali hanya bisikan antara mereka dan Tuhan mereka.

“Berdo’alah kepada tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al A’rof(7): 55)

‘Ali bin Makkar Al Bashri, seorang ahli zuhud , telah mengatakan : ‘Sungguh, besua dengan setan lebih aku sukai daripada bersua dengan si Fulan, karena aku khawatir akan bersikap basa-basi bila bersua dengannya sehingga membuat harga diriku jatuh di mata Alloh.” Dan memang ulama’ salaf pada masa lalu merasa enggan untuk melakukan sikap basa-basi dan penuh dengan kepura-puraan.

Adz Dzahabi telah mengatakan bahwa Ibnu Faris telah meiwayatkan dari Abul Hasan Al – Qaththan yang telah mengatakan: ” Pengliihatanku mengalami Musibah. Menurut hemat saya, hal itu merupakan hukuman bagi diriku, karena aku sering banyak bicara dalam perjalanan. ”Adz Dzahabi memberikan komentarnya: ” Dia memang benar, demi Alloh, karena sesungguhnya mereka (ulama salaf) selain memiliki tujuan yang baik dan niat yang benar,

Kebanyakan dari mereka merasa takut banyak bicara dan memamerkan pengetahuannya.’

Hisyam Ad-Dustuwaiy telah mengatakan: ”Demi Alloh, saya sama sekali tidak mampu mengungkapkan bahwa pada suatu hari aku pergi untuk mencari sebuah Hadits guna meraih ridha alloh ‘Azza Wajalla.

*) Muhammad bin Shalioh al Munajjih, Silsilah Amalan Hati, PT. Irsyad Baitus Salam, 2006

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di IKHLAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s