IKHLAS* (lanjutan)

IKHLAS* (lanjutan)

‘Umar bin Khatab RA. Telah mengatakan : “ Barang siapa mempunyai niat yang ikhlas dalam hal kebenaran meskipun terhadap dirinya sendiri niscaya Alloh akan memberikan kecukupan kepadanya antara dia adan orang lain.’

Diantaa kisah yang menakajubkan perihal orang – orang yang ikhlas adalah peristiwa yang dialami oleh seorang penggali terowongan. Waktu itu pasukan kaum muslimin mengepung benteng musuh yang kuat, sedang pasukan kaum muslimin merasa sangat kerepotan menghadapi hujan anak panah musuh dari atas benteng mereka. Maka ada salah seoang dari pasukan kaum muslimin yang diam-diam membobol benteng musuh dengan menggali terowongan yang tembus ke dalam benteng. Akhirnya pasukan kaum muslimin berhasil memasuki benteng musuh dan beroleh kemenangan. Akan tetapi lelaki si pembuat terowongan itu tidak diketahui, lalu Maslamah, paglima Pasukan kaum Muslimin, ingin mengenal lelaki itu dengan maksud akan memberinya penghargaan. Segala upaya telah dilakukannya, tetapi dia masih belum berhasil menemukannya. Akhirnya dia memohon kepada Aloh agar mendatangkan lelaki itu kepadanya. Maka pada suatu malam datanglah kepadanya seseorang yang meminta syarat kepadanya agar jika dia menceritakan kepadanya siapa dirinya, dia tidak mencarinya lagi untuk selamanya. Maslamah pun mau berjanji kepada lelaki itu untuk memenuhi perminaanya; dan disebutkan bahwa Maslamah sesudah peristiwa itu senantiasa mengatakan dalam do’anya: ” Ya Alloh, himpunkanlah diriku nanti bersama dengan si penggali terowongan itu.”

Amal sembunyi-sembunyi lebih disukai oleh ulama salaf daripada amal terang-terangan.

Hammad bin Yazid telah mengatakan dalam riwayat nya bahwa dahulu Ayyub bila menceritakan suatu hadits, ia langsung tersentuh hatinya hingga air matanya keluar. Bila air matanya keluar, dia memalingkan mukanya seraya bersin dan mengatakan : “ Maaf, saya sedang flu berat. ” Dia berpua-pura terserang influenza demi menyembunyikan air mata tangisannya.

Al Hasan Al Bashri telah mengatakan: ” Dahulu seorang lelaki (dari kalangan ulama’ salaf) bila duduk menajar di majlisnya dan air matanya hendak keluar, dia berupaya untuk menahannya agar tidak sampai keluar. Akan tetapi, jika tidak tetahankan, diapun bengkit dan peri, lalu mennagis di luar majlisnya.

Muhammad bin Wasi’, salah seorang tabi’in , mengatakan bahwa dahulu seseorang menagis setiap kai melakukan qiyamul lailnya selama 20 tahun, sedang istrinya sendiri tiak mengetahuinya.

Imam Al Mawardi mempunyai kisahnya sendiri sehubungan denan topik ikhlas ini berkenaan dengan karya-karya tulis yang cukup banyak mnegenai tafsir, fiqih, dan cabang ilmu lainnya, namun tiada suatu karya tulispun hasil jerih payahnya yang muncul semasa hidupnya. Akan tetapi ketika saat kewafatnya telah dekat, dia berpesan kepada seseorang yang dipercaya olehnya: ” buku-buku yang ada di tempat anu semuanya adalah hasil karya tulisku, dan aku berpesan kepadamu jika aku sedang menghadapi kematian dan saaat naza’ku, letakkanlah telapak tanganmu pada telapak tanaganku. Jika aku menggenggamkannya, bahwa itu menunjukkan bahwa tiada satupun dari hasilkarya tulisku yang diterima oleh-Nya. Oleh karena itu, aku berpesan kepadamu agar kemu membawa semua buku itu pada malam hari ke sungai Tigris, kemudian lemparkanlah semua ke dalamnya. Sebaliknya, jka aku membuka telapak tanganku, maka ketauhilah bahwa semuanya itu diterima dariku dan aku berhasil meraih ketulusan niat sebagaimana yang kudambakan sejak semula.” Setelah kematian datang menjemputnya, ternyata dia membukakan telapak tangannya, maka sesudah itu barulah buku-bukunya dimunculkan.

‘Ali bin Al Hasan memikul roti di pungungnya pada malam hari menelusuri setiap rumah orang-orang miskin dalam kegelapan malam hari. Shodaqoh memang dapat memadamkan murka Tuhan. Banyak dari penduduk Madinah saat itu yang beroleh penghidupan mereka dengan cuma-cuma, tetapi tidak mengetahui dari mana sumbernya dan siapa yang menghantarkanya kepada mereka. Akan tetapi setelah Ali bin Al Hasan wafat barulah mereka mengetahuinya dan mereka melihat pada punggungnya tanda tanda bekas memikul wadah air dan roti yang dibagi-bagikannya pada malam hari. Disebutkan bahwa Ali bin A Hasan setiap malamnya menjamin kebutuhan pangan sebanyak 100 rumah tangga.

Seperti itulah keadaan dan kisah yang diabadikan oleh Alloh SWT. Agar para pelakunya menjadi pemimpin yang diteladani.

“dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Al Furqaan (25): 74)

Demikian pula seseorang diantara mereka masuk ke dalam kamar peraduan istrinya , lalu mengeloninya. Setelah istrinya tidur, dia bangun perlahan-lahan dari tempat tidurnya dan melakukan qiyamullail tanpa sepengetahuuan istrinya. Begitu pula halnya dengan Dawud bin Abu Hindun; dia puasa selama 40 tahun tanpa diketahui oleh istrinya. Dia mengambil makan siangnya, kemudian menshodaqohkannya kepada orang-orang miskin, lalu dia bergabung dbersama keluarganya untuk makan malam.

Seorang Arab pedalaman selalu bersama dengan Nabi SAW. Ketika Nabi SAW hujrah, dia berkata : Aku ikut hijrah bersamamu!” Pada saat kaum muslimin beroleh ghanimah dari perang khaibar, Nabi SAW. Memberikan bagian ghanimah kepada lelaki pedalaman itu bersama dengan para sahabatnya, sedang lelaki pedalaman itu datang kepada Nabi SAW. Dan berkata kepadanya: ’Apakah gerangan yang barusan sampai kepadaku? Sesungguhnya bukan untuk itu aku megikutimu, tetapi aku mengikutimu agar aku terkena anak panah di jalan Alloh pada bagian ini dari tubuku sehingga aku mati dan dapat masuk surga.” Maka Nabi SAW. bersabda :

“Jika niat benar kepada Alloh, niscaya Alloh akan membenarkanmu.” (HR. An Nasa’i)

Tak lama kemudian, ada musuh yang menyerang dan Alloh memperkenankan apa yang diinginkan oleh lelaki pedalaman tersebut sesuai dengan permintaanya, maka dikatakanlah: “Apakah memang dia? Apakah memang dia? Nabi SAW. Setelah memeriksanya bersabda:

“ternyata benaa dia telah benar kepada Alloh, maka Alloh balas membenarkannya.” (HR Nasai)

Selanjutya, dikafanilah jenazahnya dengan jubah Nabi SAW. Setelah didatangkan kepada Nabi SAW, maka beliau menshalatkannya. Disebutkan bahwa diantara do’a yang diucapkan oleh Nabi SAW dalam sholat jenazahnya untuk lelaki pedalaman tersebut adallah:

“ Ya Alloh, inilah hamba-Mu. Dia Telah Keluar untuk berhijrah di jalan-MU dan gugur sebagai syuhada dan aku menjadi saksi atas hal tersebut.” (HR. Nasai)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s