IKHLAS

IKHLAS

Jangan pernah anda remehkan

Amal apapun yang telah anda kerjakan

Bla dilakukan dengan ikhlas.

Amal sedikit pun jikadibarengi dengan ikhlas,

Akan menjadi banyaklah pahalanya.

Ikhlas merupakan amalan hati yang paling utama, paling penting, paling tinggi, dan paling pokok. Ikhlas merupakan hakikat agama dan kunci dakwah para rasul ‘alaihimus salam sejak dahulu.

Padahal nereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mreka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah(98): 5)

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allohlah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az. Zumar(39):3)

Ikhlas adalah inti badah dan jiwanya. Ibnu Hazm telah mengatakan bahwa niat adalah rahasia ibadah. Fungsi ikhlas dalam amal perbuatan sama dengan kedudukan ruh pada jasad kasarnya. Oleh karena itu, mustahil suatu amal ibadah dapat diterima bila tanpa ikhlas, sebab kedudukannya sama dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa.

Tulus tidaknya niat adalah pokok yang melandasi diterima atau ditolaknya amal perbuatan dan yang menghantarkan pelakunya beroleh keberuntungan atau kerugian. Tulus tidaknya niat adalah jalan yang menghantarkan ke surga dan ke neraka, karena sesungguhnya cacat dalam berniat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, sedang merealisasikannya dengan baik akan menghantarkan pelakunya ke dalam surga.

MAKNA IKHLAS

Kholaso, akar katanya adalah khuluuson atau kholaashon, artinya jernih dan bersih dari pencemaran. Dikatakan kholashosy sayai-u artinya sesuatu menjadi murni. Kholllllashtu ilaa syai-in artinya aku sampai pada sesuatu. Kholaashus samini artinya samin murni.

Lafazh ikhlas menunjukkan pengertian jernih, jerni, bersih, dan suci dari camuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni artinyabersih tanpa campuran , baik yang bersifat materi maupun non materi. Dikatakan: “Aku memurnikan ketaatanku hanya kepada Alloh,” Artinya hanya bertujuan karena Alloh tanpa riya’. Al Fairuzabadi telah mengatakan : “ ikhlaslah karena Alloh,” artinya meninggalkan riya’ dan pamer.

Ikhlas merupakan istilah tauhid. Orang-orang yang ikhlas adalah mereka yang mengesakan Alloh dan merupakan hamba-hambaNya yang terpilih. Adapun pengertian ikhlas menurut istilah syara’ adalah seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim RA. Berikut” mengesakan Alloh Yang Hak dalam berniat melakukan ketaatan, bertujuan hanya kepadaNya tanpa mempersekutukan-Nya dengan suatu pun.

Ungkapan ulama salaf sehubungan dengan pengertian ikhlas beragam, seperti penjelasan berikut:

1 melakukan amal karena Alloh semata; tiada bagian bagi selain Alloh di dalamnya;

2 mengesakan Alloh yang Hak dalam berniat melakukan ketaatan;

3 membersihkan amal dariperhatian makhluk;

4 membersihkan amal dari setiap pencemaran yang dapat mengeruhkan kemurniannya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak perduli semua penghargaan yang ada dalam kalbu orang lain lenyap kalau memang harus demikian jalannya, demi meraih kebaian hubungan kalbunya dengan Alloh SWT, sedang dia tidak menginginkan sama sekali ada orang lain yang mngetahui amal kebaikannya barang seberat dzarrahpun . Alloh SWT. Telah berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah(98): 5)

Alloh telah berfirman kepada Nabi-Nya:

Katakanlah: “Hanya Alloh Saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”(QS. Az Zumar(39):14)

“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam; tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang dperintakan kepadakudan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri(kepada Alloh) .” (QS. Al an’am (6) 162-163)

Alloh SWT berfirman :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.(QS. Al Mulk(67):2)

Yang dimaksud dengan lebih baik amalnya ialah yang paling ikhlas dan paling benar.

Al Fudhail bin Iyadh sehubungan dengan pengertian ini, pernah ditanya:” Apakah yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?” Al Fudhail menjawab: “ Sesungguhnya amal perbuatan itu meskipun benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima; begitu juga halnya jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima pula. Jadi mal perbuatan haruis dilakukan dengan ikhlas dan benar. Yang dimaksud dengan ikhlas ialah dikerjakan hanyalah karena Alloh; dan yangdimaksud dengan benar ialah dilakukan sesuaidengan tuntunan sunnah.” Selanjutnya, Al Fudhail membaca firman-Nya:

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah iamengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahf i(18): 110)

Alloh swt telah berfirman:

“Dan Barangsiapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An Nisaa’ (4): 125)

Yang dimaksud dengan kebaikan ialah mengerjakan ketaatan dengan niat yang ikhlas karena Alloh serta mengamalkan ihsan lagi mangikuti tuntunan sunnah. Orang-orang yang menghendaki dari amalnya hanya keridhaan dari Alloh, merekalah yang mendapat berita gembira balasan pahala.

“Dan bersabarlah kemu bersama dengan orang-orang yang menyeru tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS. Al kahfi(18): 28)

“Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Alloh.” (QS. Ar ruum930): 38)

“ Dan kelak akan dijauhkanoerang yang paling taqwa dari neraka itu, yaitu yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya, padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabnya Yang Maha Tinggi; dan kelak ia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al lail (92):17-21)

Berbeda halnya engan orang yang berkarakter kebalikan dari apa yang disebutkan di atas, yaitu orang yang suka riya’ dan pamer dengan amalnya, maka sesungguhnya Alloh mencela mereka dan menyebutkan kesudahan mereka melalui ayat-ayat berikut:

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya , niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan . Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat, kecuali neraka.” (QS. Huud(11); 15-16)

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia , kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuura(42): 20)

“Dan Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Alloh. Dan ( ilmu)Alloh meiputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Anfaal(8): 47)

Akan tetapi, Alloh SWT. Memuji orang-orang yang ikhlas melalui ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al Insan (76): 9)

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi shodaqoh atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan alloh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’(4):114)

“Barang siapa yang memberi keuntungan di akhirat , akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. Asy Syuura(42): 20)

Dalam peperanga uhud Alloh SWT. Bermaksud menimpakan cobaan dan ujian kepada kaum mukminin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

“Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali ‘Imran(3) : 152)

Sehubungan dengan perihal niyat, Rasulullah SAW. Telah bersabda:

“Sesungguhnya semua amal perbuatan itu hanya dinilai berdasarkan niatnya masing-masing.” (HR. Buchari)

Sesungguhnya hal ini merupakan Hadits yang paling penting. Rasulullah telah mengjarkan kepada kita kedudukan niat dalam segala sesuatu yang hendak kita kerjakan, baik dalam mengerjakan shalat, puasa, haji, maupun ibadah lainnya.

Dalam hadits yang lain disebutkan melalui sabdanya yang mengatakan:

“Barang siapa yang berperang di jalan Alloh tanpa niat kecuali hanya ingin mendapatkan ternak unta, maka yang akan didapatkannya hanyalah apa yang diniatkanya yaitu.” (HR. Nasa’i dan Ahmad)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s