ILMU DAN PEMBELAJARAN (LANJUTAN)

ILMU DAN PEMBELAJARAN

(Lanjutan)

Syafi’i menunjukkan eksistensinya sebagai ahli ibadah. Ia membagi malam menjadi tiga bagian, sepertiga untuk malammu, sepertiga untuk sholat, dan sepertiga lainnya untuk tidur. Ar Rabi’ berkata,” Syafi’i menamatkan Al Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak enampuluh kali. Semua itu dilakukan di dalam sholat. Sedang Al Buwaiti, salah seorang sahabatnya menamatkan Al Qur’an sebanyak satu kali setiap malam.

Husail al Karabisi – rahimallahu ta’ala mengatakan “Aku sering bermalam bersama Syafi’i. Ia sholat sepertiga malam. Aku melihatnya membaca Al Qur’an melebihi lima puluh ayat. Kalaupun lebih, maka seratus ayat. Setiap kali melewati ayat rahmat, ia memohon kepada Alloh untuk dirinya dan seluruh orang Mukmin. Dan setiap kali membaca mengenai ayat tentang azab, Ia memohon kepada Alloh keselamatan untuk dirinya dan seluruh orang mukmin. Ia membatasi pembacaan Al Qur’an hanya lima puluh ayat, hal itu menunjukkan keluasannya dalam (memahami) rahasia-rahasia Al Qur’an.

Syafi’i berkata: “ Aku tidak merasa kenyang sejak enambelas tahun, karena kekenyangan dapat memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membanyakkan tidur, dan menjadikanmu seseorang lemah untuk beribadah.’ Ia pun mengatakan,” Aku tidak pernah bersumpah dengan nama Alloh SWT. Baik dalam perkara yang benar maupun perkara yang bohong.”

Ia pernah ditanya mengenai suatu masalah, tetapi ia diam saja. Lalu ditanya,” Mengapa engkau menjawab? ’ Ia menjawab” Hingga aku tahu apakah keutamaan itu ada dalam diamku atau dalam memberi jawaban.”

Ahmad bin Yahya mengatakan,” Pada suatu hari, Syafi’i keluar dari pasar lampu, maka kami mengikutinya. Tiba-tiba ada seorang yang mengupat seorang ulama’. Maka Syafi’i menoleh kepada kami seraya berkata, “Sucikan pendengaranmu dari mendengar perkataan kotor, sebagaimana kamu mensucikan lidahmu dari mengatakannya. Karena pendengar adalah sekutu bagi yang mengatakannya. Orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam bejana-bejanamu. Kalau perkataan orang bodoh itu di tolak, maka yang menolaknya menjadi bahagia, sebagaimana celaka orang yang mengatakannya.”

Syafi’i berkata ,’ Seorang bijak menulis surat kepada orang bijak yang lain. Ia mengatakan ,” Engkau telah diberi ilmu. Jangan engkau mengotori ilmumu dengan kegelapa dosa karena engkau akan tetap berada dalam kegelapan pada hari cahaya para ilmu bersinar dengan ilmu mereka dihadapan mereka.”

Adapun mengenai kezuhudannya, hal itu tampak pada perkataannya ,” Barang siapa mengatakan bahwa ia menggabungkan antara kecintaan pada dunia dan kecintaan pada Penciptanya, maka ia telah berdusta.”

Pernah cemetinya jauh dari tangannya, lau seseorang mengambilkannya, maka ia memberikan uang kepada orang itu sebagai balasan atasnya sebanyak lima buluh dinar. Kedermawan Syafi’i lebih terkenal daripada matahari.

Yang menunjukkan ketakutanya kepada Alloh dan perhatiannya kepada akhirat adalah diriwayatkan tentangnya bahwa Sufyan bin Uyainah meriwayatkan sebuah hadits menegenai hal-hal yang menggetarkan hati, maka Imam Syafi’i jatuh pingsan, bahkan dikatakan kepadanya ia telah meninggal dunia. Lalu Sufyan bin Uyainah mengatakan,” Jika telah meningal maka telah meningal orang yang yang paling utama pada zamannya.” Ketika sebagian mereka mebaca, ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu) (QS. AL Mursalat:35) Maka imam Syafi’i terlihat warna kulitnya berubah, badannya bergetar, dan ia mengalami guncangan yang sangat berat, kemudian jatuh pingsan. Maka ketika siuman, ia mengucapkan,” Aku berlindung kepadamu dari kedudukan orang-orang yang berdusta dan penyimpangan orang-orang yang lalai. Ya Alloh kepadaMu tunduk hati orang-orang arif dan kepadaMu merendah orang-orang yang merindukanMu. Ya Alloh anugerahkan kepadaku kemurahanMu, naungi aku dengan tiraiMu, lindungilah aku , dan ampunilah kelalaianku dengan kemuliaan WajahMu.

Adapun eksistensinya sebagai orang yang mengetahui rahasia-rahasia hati , yaitu ketika ia ditanya mengenai riya’ . secara sepontan ia mengatakan ,” riya’ adalah fitnah yang diikat dengan hawa nafsu dengan tali- tali penglihatan hati para ulama’. Mereka melihatnya dengan pilhah jiwa yang jelek. Maka terhapuslah amalan mereka. “Ia pun pernah mengatakan’” Jiika engkau takut ujub (bangga diri) menimpamu, maka lihatlah keridhoan yang engkau cari, pada kenikmatan mana yang engkau dambakan , dari hukuman mana yang engkau hindari, ampunan mana yang engkau syukuri dan ujian mana yanng engkau ingat.”

Yang menunjukkan bahwa dengan fiqih dan perdebatan ia mengharap keridhaan Alloh Swt. Adalah perkataannya,” Akui ingin sekali agar manusia mengambil manfaat dari ilmu ini sedangkan akau tidak dihubungkan sedikit pun dngnnya.” Ini merupakan bukti kongkret bahwa ia tidak menginginkan pujian manusia. Ia berkata’” Sungguh aku tidak mendebat seseorang, lalu ingin agar ia salah. Dan apabila aku berbicra kepada seseorang , maka sungguh aku menginginkan agar ia mendapat petunjuk, berbuat baik, mendapat pertolongan, serta memperoleh bimbingan dan perlindungan Alloh Swt, dan aku menginginkan agar Alloh menampakkan kebenaran melalui lidahnya atau melalui lidahku”.

Ahmad bin Hambal berkata,” Sejak empat puluh tahun aku selalu mendoakan Syafi’i dalam setiap sholatku,”

Adapun Imam Malik ra., ia dihiasi dengan lima perangai ini. Hal ini ditunjukkan ketika ia ditanya,” Apa pendapatmu tentang menuntut ilmu, wahai Malik?” Ia menjawab,” Kebaikan yang indah, namun perhatikanlah yang tidak pernah meninggalkanmu dari pagi hingga malam, lalu kerjakanlah!” Imama Syafi’i ra. Berkata,” Aku melihat Imam Malik ra. ditanya mengenai empatpuluh masalah darinya. Ia berkata dalam tiga puluh dua masalah darinya, aku tidak tahu. Kezuhudan dan kewara’annya lebih terkenal dari yang dapat disebutkan.”

Adapun Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa ia biasa menghidupkan setengah malam. Kemudin ada seseorang yang menunjuk kepadanya dengan mengatakan ,” Ini adalah orang (Abu Hanifah) yang menghidupkan seluruh malamnya (dengan beribadah)’ maka setelah itu ia terus mnghidupkan seluruh malamnya. Ia berkata,” Aku malu untuk disebutkan sifat yang tidak ada pada diriku.”

Demikian halnya, Ahmad bin Hambal dan Sufyan. Kezuhudan dan kewara’annya mereka lebih terkenal daripada yang dapat disebutkan. Kini, perhatikanlah orang-orang mengaku sebagai pengikut mereka. Apakah pengakuan mereka itu benar atau tidak?

Ilmu –ilmu Tercela: sihir, mantra, Ramalan, dan Sebagainya

Sihir dan mantra menyebabkan berbagai kerusakan. Sementara ramalan dilarang. Rasulullah bersabda,” Jika disebutkan ramalan, diamlah.”

Beliau merintahkan untuk diam, karena manusia cenderung melupakan hukum sebab akibat, yakni perantara-perantara, padahal ia adalah faktor yang tidak dapat dibaikan dalam menentukan suatu akibat. Tidak dapat dipungkiri bahwa perhitungan tidak dapat ditinggalkan dan ditolak, namun ia hanya merupakan pengantar pada apa yang ada di baliknya. Maka hendalklah membatasinya sekedar keperluan. Ambillah ilmu kimia untuk kedokteran seperlunya, dan ilmu perbintangan (asronomi) untuk mengetahui posisi dan petunjuk arah kiblat.

Etika Guru dan Murid

Murid memiliki etika dan tugas yang banyak, namun kami susun dalam tujuh bagian:

Pertama, mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq, kerena sabda Nabi SAW. ,” Islam dibangun dengan dasar kebersihan.”

Kebersihan yang dimaksud bukan dalam pakaian, melainkan dalam hati. Hal tersebut ditunjuikan dalam firman Alloh Swt. Sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis (QS. At taubah: 28), karena najis tidak khusus pada pakaian. Batin yang tidak bersih dari najis tidak akan menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak akan disinari dengan cahaya ilmu.

Ibnu Mas’ud berkata,” Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya periwayatan. Melainkan ilmu adalah cahaya yang terpancar dalam hati.”

Sebagian muhaqqiq mengatakan,” kami mempelajari ilmu karena selain Alloh, maka ilmu itu menolak kecuali untuk Alloh, yakni, ilmu tertolak dan tercegah dari kita, sehingga tidak menampakkan hakikatnya kepada kita. Kita hanya memperoleh ungkapan dan lafaznya.

Kedua, mengurangi hubungan (keluarga) menjauhi kampung halamannya sehingga hatinya hanya terikat pada ilmu. Sesungguhnya Alloh tidak menciptakan dua hati dalam dadanya. Karena itu diakatakan bahwa ilmu tidak memberikan kepadamu sebagiannya sebelum engkau menyerahkan padanya seluruh jiwamu.

Tidak bersifat sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru, bahkan ia harus menyerahkan segala urusan kepadanya, seperti orang yang sakit keras menyerahkan urusannya kepada dokter tanpa memutuskan sendiri suatu keperluannya. Hendaklah ia berkhidmad kepada guru, sebagaimana diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit mensalatkan jenazah, lalu bagalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, dan Ibnu Abbas segera mengambil kendali bagal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, Lepaskanlah dirimu, wahai anak paman rasulullah! “ Ibnu Abbas menjawab,” Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada para ulama dan orang-orang tua .” lalu Zaid mencium tangannya seraya berkata,:” Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada Ahl Bayt Nabi Saw. Rasulullah Saw. bersabda,” Sikap menjilat bukanlah akhlaq seorang Mukmin kecuali dalam menuntut ilmu.”

Dikatakan ilmu tidak dapat bersatu dengan orang yang sombong sebagaimana banjir tidak dapat mencapai tempat yang tinggi.

*) Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin (Mutiara Ihya’ Ulumuddin), Al Ghozali, Muassasah Al Kutub Al Tsaqofiyyah, Cetakan I , Beirut, 1410/1990

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s