RASULLAH MUHAMMAD SAW.

SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Bani Hasyim, salah satu klan dari suku kuat Quraisy yang menguasai Makkah, pusat utama perdagangan di semenanjung Arab. Daerahnya sangat luas, berukuran sekitar satu juta mil persegi. Sebagaian besar wilayah ini terdiri dari padang pasir dan pegunungan, tempat hidup suku Badui yang dikenal sebagai penggembala yang sering berpindah pindah. Kebiasaan sosial di kawasan itu mencerminkan lingkungan yang dalam aspek sosial, membantu membentuk masyarakatnya. Keluarga besar atau klan merupakan inti masyarakat. Beberapa klan akan membentuk suku. Setiap suku dipimpin seorang kepala yang merupakan primus inter pares, yang pertama diantara yang lain. Kepala suku ini biasanya dipilih melalui suatu kesepakatan diantara sesama tokoh masyarakat. Aturan-aturan kesukuan sangat berpengaruh dalam masyarakat.

Di masa muda Nabi, agama berarti sekian banyak dewa dan dewi yang sering disembah melalui pohon atau batu. Sementara aturan kesukuan menggalakkan kesadaran muru’ah, kejantanan, yang merupakan kebanggaan para kesatria suku, tetapi perlakuan terhadap wanita sangat buruk. Pembunuhan bayi perempuan merupakan praktik yang umum dilakukan. Masyarakat berada ditebing anarki dan kekacauan. Karenanya, masa sebelum datang Islam dikenal sebagai Jahiliyyah atau zaman kebodohan.

Nabi dilahirkan sekitar 570 Masehi di Makkah. Ayahnya meninggal beberapa pekan sebelum kelahirannya. Karena merupakan kebiasaan bagi seorang bayi yang baru lahir untuk disusui seorang ibu angkat, pada awalnya Nabi dipelihara oleh seorang wanita Badui, Halimah. Hubungan ini memastikan kedudukan Halimah pada tempat istimewa dalam penghormatan dan kisah-kisah Muslim.

Ibunda Nabi meninggal saat usia Nabi enam tahun dan beliaupun tinggal dengan kakeknya, Abdul Mutthalib. Hanya dua tahun kemudian, kakeknya juga meninggal, dan Nabi pun berada dalam pemeliharaan pamannya, Abu Thalib, seorang pedagang. Perasaan kehilangan di usia yang demikian muda menjadikannya pribadi yang pemikir dan sensitif. Ia sangat menekankan perlunya mengasihi anak yatim, wanita, dimana golongan lemah dalam masyarakat. Sebagai seorang laki-laki, ia menggembala domba di padang pasir. Belakangan ia akan mengenang hal itu dengan kesyukuran yang bersahaja, ‘Allah sabdanya,’ Tidak akan mengutus nabi yang bukan penggembala.’

Rasulullah adalah laki-laki yang siddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (penyampai risalah), fathonah (cerdas), beliau pernah hijrah ke Madinah karena menghindari pembunuhan masyarakat Quraysi. Zaman rasulullah kehidupan masyarakat di Madinah sangat Islami dan hukum ditegakkan dengan seadilnya. Banyak para sohabat dan orang yang hidup pada masa rasulullah datang sendiri mengakui kesalahan dan minta dihukum dengan sadil-adilnya. Begitulah peradaban pada zaman rasulullah yang terkenal disebut dengan peradaban madaniyyah atau masyarakat madaniy. Bagaimana dengan zaman sekarang ?

Pada zaman itu umat Yahudi dan Nasrani sangat dilindungi dan hidup damai. Tidak ada peradaban yang paling bagus sampai saat sekarang, yang melampaui peradaban zaman rasulullah. Kita bisa mencontoh dengan karakter yang selalu berjama’ah sholat fardhu dan masjid merupakan jantung dan pusat peradaban. Rasulullah mampu merubah masyarakat Afrika utara yang paganisme menjadi masyarakat yang Islami dan sejahtera. Islam telah terbukti sebagai rahmatan lil ‘Aalamiin di Timur Tengah dan mampu membangkitkan kebodohan pada zaman itu menjadi bangsa yang gemilang dari masa Rasulullah, Khulafaurrasyiddin, Umayyah, Abasiyyah, Fatimiyah, dan Turki Usmani. Kita bisa mengulang kegemilangan tersebut dengan cara tetap menjadikan masjid sebagai jantung peradaban dan memacu pemuda kita untuk mencintai ilmu pengetahuan dan banyak melakukan penelitian.

About these ads