KI AGENG WONOLELO

KI AGENG WONOLELO

Ki Ageng Wonolelo adalah cucu dari syekh Dumadil Qubro atau lazim juga disebut Pangeran Blancak Ngilo.Atau cucu buyut dari kanjeng Sunan Lawu. Ayah Ki Ageng Wonolelo adalah Syeh Kaki, salah satu dari dua anak Pangeran Blancak Ngilo.Saudara Syeh kaki adalah Syeh Bela Belu. Sedang dua saudara Ki Ageng wonolelo adalah Syeh Wasibageno dan Panembahan Bodo.

Kisah Ki Ageng Wonolelo dimulai ketika Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Brawijaya V mengalami masa surut. Ditengah suasana yang demikian Prabu Brawijaya V mengumpulkan semua putera-putrinya. Pada Intinya semua putra-putrinya diperintahkan untuk menyebar diseluruh penjuru Nusantara. Mereka semua diperintahkan untuk bertapa brata dan mengamalkan semua kebaikan demi kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian diharapkan kelak mereka semua menjadi orang yang berguna secara lahir batin bagi lingkungan tempat tinggalnya. Dengan begitu mereka akan menjadi panutan atau pemimpin di berbagai wilayah itu.

Dari sekian putra-putri Prabu Brawijaya itu hanya Pangeran Blancak Ngilolah yang tidak kelihatan menghadap. Hal ini menggelisahkan hati Prabu Brawijaya.Prabu Brawijayapun mendatangi kediaman Pangeran Blancak Ngilo.Ketika sampai disana Prabu Brawijaya merasa terkejut sekaligus gembira.Pasalnya didalam rumah itu kelihatan bahwa Pangeran Blancak demikian tekun bersemadi.

Prabu Brawijaya pun menanyakan kabar Pangeran Blancak Ngilo sekaligus memberikan titahnya agar Pangeran Blancak Ngilo pergi ke sudut-sudut wilayah Nusantara untuk mengembangkan wilayah tersebut sekaligus  menyebarkan agama. Pangeran Blancak Ngilopun mengajukan usulan agar Prabu Brawijaya bertindak adil atau membagi adil semua perintah dan wasiatnya.Membagi adil ini dalam bahasa Jawa disebut didum adil  dibagi secara adil atau merata.Berdasarkan hal ini Pangeran Blancak Ngilo kemudian mengembara dan menyamar dengan nama Syeh Dumadil Qubro .Nama Dumadil berasal dari usulannya agar didum adil seperti tersebut diatas.

Sebelum mengembara, Syeh Dumadil Qubro menghadap kepada gurunya yakni Syeh Maulana Maghribi. Ada banyak petuah atau wejangan yang diberikan  Syeh Maulana Maghribi kepada Syeh Dumadil Qubro. Ia juga mengatakan bahwa pengembara annya nanti akan sampai di alas Mentaok.Dialas Mentaok ini akan bertemu seseorang yang amat tinggi ilmunya. Akan tetapi Syeh Maulana Maghribi tidak memberitahukan siapa nama orang tersebut sekalipun beberapa kali Syeh Dumadil Qubro mendesak gurunya untuk memberitahukan jati diri orang tersebut.

Pengembaraan Syeh Dumadil Qubro dilakukan dengan menuju arah barat dari kerajaan Majapahit.Syeh Maulana Maghribipun  dalam hati berkehendak untuk mengunjungi tempat tinggal Syeh Dumadil Qubro .Tidak terkatakan bagaimana sulit dan beratnya pengembaraan Syeh Dumadil Qubro ini. Perjalananannya pun sampai di Hutan atau Alas Mentaok. Saat itu Alas mentaok terkenal akan kelebatan pepohonannya sekaligus terkenal akan kewingitan dan binatang-binatang liarnya.(Albes Sartono/Jbo Koran Merapi Pembaruan, kamis Kliwon 11 Februari 2010)

Iklan