DESA JANGKARAN

JANGKARAN

A.SEJARAH DESA JANGKARAN

Setiap desa atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakn pencerminan dari karakter dan pencirian khas tertentu dari satu daerah .Seajarah Desa atau daerah seringkali tertuang dalam dongeng-dongeng atau carita yang diwariskan secara turun temurun dari mulut ke mulut sehingga sulit untuk dibuyktikan secara fakta. Dan tidak jarang dongeng-dongeng tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu .Dalam hal ini desa Jangkaran juga memiliki hal tersebut yang merupakan identitas dari desa ini yang akan kami tuangkan dalam kisah-kisah dibawah ini.

NAMA DESA JANGKARAN DAN TOKOHNYA

Pada tahun 1813 P.Noto kusumo Putra Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono ke I diangkat menjadi KGPAA Paku Alam I dengan pelenggah yang tersebar disebelah barat (kulon) sungai progo dan seblah utara pantai selatan yang dikenal dengan nama Pasir Urut Sewu, karena letak Pelenggah yang tersebar, atas usul senntono dalem KGPAA Paku Alam I yang bernama Kyai Kawirejo I, Palenggah tersebut dijadikan menjadi satu kesatuan  kemudian diberi nama Kabupaten Karang kemuning dengan ibukota di Brosot dengan Bupati pertama Raden Tumenggung Sosro Digdojo.Pada masa Bupati yang ke II yaitu Raden Riyo Wosodirdjo mendapat perintah dari KGPAA Paku Alam V agar mengusahakan keringnya daerah Rawa Karang kemuning , setelah Rawa Karang Kemuning  tersebut dikeringkan, menjadi tanah persawahan yang sangat subur maka atas perkenan Sri Paduka Paku Alam ke V kabupaten Karang kemuning tersebut diganti namanya menjadi kabupaten Adi karto yang artinya Adi itu Linuwih, Karto Sangat subur dengan ibu kota di Bendungan.Seiring dengan keringnya daerah Rawa tersebut banyak desa-desa bermunculan (semakin luas) termasuk desa Jangkaran yang dulu masuk kebekelan Glaheng dan belum menjadi sebuah desa , baru nama daerah saja dengan nama Jangkaran dan nama Jangkaran itu sendiri bearasal dari JANGKANGAN diambilkan nama sebuah pohon yaitu pohon Jangkang (kepuh) dikarenakan di daerah tersebut banyak pohon Jangkang  (kepuh ) yang besar-besar dan banyak orang menyebutnya dengan nama Jangkangan namun lama kelamaan kata Jangkangan berubah bunyi menjadi Jangkaran

Dan disitu di daerah itu ada sepasang suami isteri yang ikut mencetak daerah itu ( cikal bakal ) dan dituakan sebagai tokoh waktu itu juga disebut dengan nama Kyai dan Nyai Jangkar disesuaikan dengan nama Daerah itu dan samapi sekarang kuburannya masih terawat dilestarikan menjadi pepunden Cikal bakal Pendiri desa jangkaran . Lama kelamaan setelah ada pemerintahan pada tahun 1912 maka daerah Jangkaran dijadikan sebuah desa. Dan berhubung warga desa tersebut belum ada yang memenuhi syarat untuk menjadi lurah / kepala desa maka lurah /kepala desa diambilkan dari desa Tetangga daerah lain lurahnya dari desa Tawangsari bernama Ki Madu Seno dan cariknya dari desa Plumbon bernama Ki Wiryo Pratomo.

B. SEJARAH PEMERINTAHAN DESA JANGKARAN

Sejak zaman Belanda Desa jangkaran berbentuk kalurahan yang dipimpin oleh seorang Lurah yang membawahi 7 pedukuhan yaitu pedukuhan :

  1. Pedukuhan Jangkaran
  2. Pedukuhan Ngentak
  3. Pedukuhan Ngelak
  4. Pedukuhan Kledekan
  5. Pedukuhan Nglawang
  6. Pedukuhan Pasir Mendit
  7. Pedukuhan Pasir Kadilangu

Tiap pedukuhan dipimpin oleh seorang Dukuh dan sebagai imbalan gaji pamong desa diberi tanah garapan yang disebut tanah pelungguh (bengkok)

Seiring dengan perkembangan zaman desa Jangkaran mengalami pemekaran pedukuhan yang semula 7 pedukuhuan menjadi 8 pedukuhan tambah satu pedukuhan yaitu pedukuhan kledekan Lor dan Kledekan Kidul, dari masa berdirinya desa jangkaran Tahun 1912 sampai sekarang telah mengalami beberapa pergantian lurah / kepala desa. Adapaun nama nama lurah / Kepala desa sebagai berikut :

  1. Ki Madu seno tahun 1912 s/d 1932
  2. Ki wirjo Pratomo tahun 1932 s/d 1947
  3. Rnbg. Hatmo Diharjo (PJ Lurah ) tahun 1979 s/d 1983
  4. Raden Darmadi tahun 1983 s/d 2004
  5. Raden Karis tahun 2004-sampai sekarang.

C.SEJARAH PEMBANGUNA DESA JANGKARAN

Pembangunan di desa Jangkaran dapat dicatat pembangunannya dalam beberapa era kepemimpinan Lurah / kepala desa yang masing-masing memiliki hal-hal yang menonjol :

  1. Pada masa kepemimpinan Lurah /kepala desa yang pertama Ki Madu Seno pada tahun 1912 sampai dengan tahun 1932 tidak begitu kentara, peninggalannya yang berupa pembangunan namun paling tidak beliau adalah peletak pondasi pondasi pemula berdirinya sebuah desa yaitu desa Jangkaran.
  2. Pada masa kepemimpinan Lurah / kepala desa yang kedua Ki wirjo Pratomo tahun 1932 sampai dengan 1947 juga belum kentara namun juga paling tidak beliau adalah juga peletak pondasi pondasi rencana pembangunan jangka panjang di desa Jangkaran.
  3. Pada Masa Kepemimpinan Lurah / kepala desa yang ketiga Rngb. Hatmo Diharjo tahun 1947 sampai dengan 1979 pembangunan yang ditinggalkan yaitu :

a. Pasar Glaheng

b. SD Pasir Mendit

c. SD Jangkaran

d. SD Kantor Desa

e. Bali Kesehatan Ibu dan anak (BKIA)

f. Masjid Mustajabah

4. Pada Masa kepemimpinan Pejabat (PJ) Lurah / Kepala Desa yang keempat Amat Djazuli Siswodihardjo Tahun1979 samapi 1983 beliau melanjutkan pembangunan Balai desa Jangkaran dan jalan tembus di Pedukuhan Pasir Medit dan Pasir Kadilangu namun belum sampai selesai.

5. Pada masa kepemimpinan Lurah/ kepala desa yang kelima R. Darmadi tahun 1983 sampai dengan 2004 beliau meninggalkan pembangunan :

    1. Melanjutkan pembangunan jalan tembus di pedukuhan Pasir Mendit dan pasir Kadilangu dan Balai desa yang semula dibangun Lurah / kepala desa sebelumnya dan belum selesai dibangun.
    2. Membersihkan jalan-jalan poros desa dari rerimbunan pohon pohon yang cukup besar dan terutama pohon bambu dan jadilah jalan poros desa yang cukup lebar dan kelihatan terang dari rerimbunan tahun 1985 sampai dengan tahun1990
    3. Pembangunan Jembatan Pasir Mendit, Pasir Kadilangu dana dari APBDES dan swadaya Masyarakat tahun 1985.
    4. Mulai tahun 1985 memperkeras jalan-jalan desa dengan batu putih (makadam) dengan dana APBDes dan swadaya Masyarakat panjangnya kurang lebih 7 KM selesai samapitahun 1996
    5. Pembangunan Taman kanak-kanak Masyitoh dana dari APB Des  dan Swadaya masyarakat tahun 1994
    6. Pembangunan Sistem penjernihan air sederhana (sipas) dana dari Dirjen PU propinsi untuk 6 Pedukuhan yaitu Ngentak, Ngelak, Kledekan Lor, Kledekan kidul, Pasir mendit, dan Pasir Kadilangu tahun 1996.
    7. Pembangunan Pengaspalan jalan se Desa Jangkaran dengan Dana PPK dan swadaya Masyarakat sepanjang kurang lebih 6 KM mulai tahun 2000 sampai dengan 2004.

6.Pada Masa Kepemimpinan Lurah/ Kepala Desa ke 6 R.Karis tahun 2004 sampai sekarang pembangunan yang dibuat antara lain :
1.Pengaspalan jalan di pedukuhan Pasir Mendit/Kadilangu tepatnya jalan tembus dengan dana dari APB Des (DBD), Swadaya Masyarakat dan Bantuan aspal dari Bupati tahun 2004

2.Pembangunan bangket jalan Tembus dengan dana dari PPK dan swadaya masyarakat tahun 2005

3.Pengaspalan jalan di pedukuhan Kledekan kidul dan Nglawang dana dari APB Des (DBD), swadaya Masyarakat dan bantuan aspal dari bupati tahun 2005

4.Rehab makam Kyai dan Nyai Jangkar ditandai dengan pemasangan nisan 2 buah dana dari APB Des dan swadaya masyarakat Ped. Jangkaran.

5.Pembangunan  bangket jalan di Pedukuhan jangkaran (Jln AURI sampai Buk Dondong) dengan dana dari P2MPD TAHUN 2005

6.Pembangunan saluran Pembuangan di Pedukuhan jangkarn, Kledekan Kidul dan Pembuatan Sipas 3 Unit di Pedukuhan Nglawang, Ngelak, Kledekan Lor Dana dari PKPS BBM tahun 2005

7.Pembangunan Drainase di Pedukuhan Ngentak dana dari PPK dan swadaya masyarakat tahun 2006

8.Pembangunan saluran pembuangan di pedukuhan Kledekan Lor dana dari APBDes dan swadaya masyarakat tahun 2006

9.Pembangunan Bangket Jaln di Pedukuhan Jangkaran dengan dana dari APB Des dan Swadaya Masyarakat tahun 2007

10.Pembangunan Gedung TK Permadi Siwi di Pedukuhan Pasir mendit dan dari PPK dan swadaya masyarakat tahun 2007.

D. KONDISI DESA JANGKARAN

Letak Geografi Desa Jangkaran

Desa Jangkaran terletak di Bantaran sungai Bogowonto merupakan dataran rendah (pantai ) memiliki ketinggian 10 m diatas permukaan air laut dengan kondisi :

1. Luas Wilayah                       : 266.1291 Ha

2. Batas Wilayah          :

a.Sebelah utara                   : Sungai Bogowonto

b.Sebelah selatan                : Samodera Indonesia

c.Sebelah barat                   : Kabupaten Purworejo

d. Sebelah Timur                : Desa Sindutan

3. Orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan) :

a. Jarak dari pusat Pemerintahan Kecamatan                 : 5 Km

b. Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten                 : 15 Km

c. Jarak dari pusat Pemerintahan Propinsi                      : 45 Km

d. Jarak dari Ibukota Negara                                        : 380 K

  1. Status tanah :

a.Tanah kas desa           : 6.6055 Ha

b.Tanah PAG                : 95.7180 Ha

c. Tanah Desa lainnya    : 79701 Ha

  1. Peruntukan Tanah :

a) Jalan / Selokan                : 79071 Ha

b) Sawah dan ladang           : 78.0283 Ha

c)Empang                            : 5.0000 M2

d)Pemukiman                      : 64.5321 Ha

e) Kuburan                          : 7.0580 Ha

f) Perkantoran                     : 215 M2

g) Pasar                              : 1800 M2

h) wakaf                              : 7042 M2

  1. Penduduk :

Jumlah Penduduk menurut :

A. Jenis Kelamin     :

1. Laki-laki                   : 959 Jiwa

2.Perempuan                : 969 Jiwa

Jumlah              : 1928

B. Kepala Keluarga :

1. Laki-laki                         : 403 KK

2. Perempuan                      : 53 KK

Jumlah                                 : 456 KK

C.Menurut Agama / Kepercayaan

1.Islam                                : 1912 orang

2. Kristen                            : –

3. Katholik                          : 16 orang

4. Budha                             : –

5. Hindu                              : –

6.Penganut kepercayaan      : –

D. Menurut Mata Pencaharian         :

1. Pegawai Negeri sipil        : 44 orang

2. ABRI                              : 54 Orang

3. Swasta                            : 10 Orang

4. Pedagang                        : 24 Orang

5. Tani                                : 265 orang

6. Tukang                            : 31 orang

7.Nelayan                           : 70 orang

8.Pensiunan             : 15 orang

  1. Fasilitas Sosial dan Ekonomi
  2. a.Tempat Ibadah                 :

1.Masjid                             : 2

2. Mushola                          : 8

3. Gereja                             : –

b. Sekolahan                       :

1. Kelompok bermain                      : 2

2. Taman Kanak-kanak/RA            : 2

3. SD/ MI                                       : 2

4. SMP / Mts                                  : 1

C. Kesehatan                      :

1. Pustu                               : 1

2.Bidan                               : 1

3. DukunBeranak                : 1

4. Posyandu                        : 8

D. Ekonomi

1. Toko                               : 30

2. Warung                           : 15

3. Pasar                              : 1

Data diatas diambil berdasarkan data statistik tahun 2006

6 thoughts on “DESA JANGKARAN

  1. Mantab tenan. Ternyata penulis hebat kancaku iki. Tulisannya juga runtut, terstruktur, dan detail. Mas Muhammad, mbok digawe buku kuwi tulisan2ne. Tak ewangi po piye?

      1. Sederek Irfan@ makamipun kyai lan nyai Jangkar, wonten lor kulon radar auri congot, dusun jangkaran, desa Jangkaran, Temon, Kulon progo/kidul sawah nglongkang dusun jangkaran/lor kulon mushola dusun jangkaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s