HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDO’A

HUKUM MENGUSAP WAJAH

SETELAH BERDO’A

Mengusapkan kedua telapak tangan ke muka setelah berdoa adalah fenomena  umum yang bisa disaksikan di tengah-tengah masyarakat.Hal ini sudah menjadi kebiasaan sebagian orang setelah selesai berdoa. Bahkan mengusap muka tersebut seolah-olah ada kaitannya dengan adab berdo’a.Sehingga terasa kurang mantap dan terasa janggal apabila hal itu tidak dilakukan.Bahkan orang yang tidak mengusap muka setelah berdoa dipandang  asing karena perbuatannya itu.

Bagaimana sebenarnya hokum mengusap muka setelah berdo’a, sahkah derajat dalil-dalil yang digunakan sebagai hujjah (argumentasi) .Dalam hal ini akan dikaji secara singkat untuk menjadi bahan renungan bersama dalam rangka menuju ibadah yang lebih sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam.

Hadits-hadits tentang Mengusap wajah setelah berdo’a

  1. Hadits Umar bin Al-Khaththab Radliyallahu’anhu

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال كان رسول الله صلي الله عليه و سلم اذا رفع يديه في الد عاء لم يحطهما حتي يمسح بهما وجهه ( رواه الترمذي)

“Dari Umar bin Al Khaththab Radliyallahu ‘Anhu berkata adalah Rasululloh Shallallahu Alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya ( dalam berdoa) beliau tidak meletakkan kedua tangannya sehingga mengusapkan ke Wajah”.(HR. At Tirmidzi)[1]

  1. Hadits Abdullah bin abbas Radliyallahu ‘anhu

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا دعوت الله فادع بباطن كفيك ولا تدع بظهورهما فإذا فرغت فامسح بهما وجهك

Dari IbnuAbbas radliyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jika engkau berdoa kepada Allah, maka berdoalah dengan telapak tanganmu, dan jangan berdoa dengan punggungnya, jika engkau telah selesai usapkanlah keduanya ke wajah”.(HR. Ibnu Majah)[2]

  1. Hadits As Saaib bin Yazid dari ayahnya

عن السائب بن يزيد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا دعا فر فع يديه مسح وجهه بيديه ( روا ه أبو داود)

Dari Saaib bin Yazid dari bapaknya bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya apabila berdoa (kemudian) mengusap wajah beliau dengan kedua tangannya”.(HR Abu Dawud)[3]

Kedudukan Hadits Mengusap Wajah Setelah berdo’a

Hadits dari Umar bin Al-Khaththab Radliyallahu “anhu (No 1) didalamnya terdapat seorang rawi yang bernama Hamad bin Isa Al Juhany” dia dilemahkan oleh para Ulama hadits. Dia dikenal dengan julukan “Ghariiqul Jahfan” (orang yang tenggelam dalam lembah Jahfan).

Pada Hadits Abdullah bin Abbas (n0 2) terdapat seorang perawi  bernama “Shalih bin Hassan Abdul Harits Al Madany Al Bashry” dimana Imam al-Bukhori mengomentarinya dengan :”Matrukul Hadits (Haditsnya ditinggalkan)”.Abu Hatim mengatakan : “Ini adalah hadits Munkar” (al ‘Ilal, karangan Ibnu abi Hatim).

Kemudian pada hadits As Saaib bin Yazid dari ayahnya (No.3)terdapat beberapa cacat dan kelemahan, diantaranya terdapat rawi yang bernama “Ibnu Lahi’ah” dia berubah hafalannya setelah terbakar kitab-kitabnya.Disamping itu termasuk  “Mudallas”.Kemudian perawi yang lain yang dilemahkan adalah “Hafs bin Hasyim bin “Utbah bin Abi Waqqash” dia adalah Majhul (tidak dikenal jati dirinya).

Dari pemaparan diatas, ditarik kesimpulan bahwa hadits tentang mengusap wajah setelah berdo’a adalah DHA’IF JIDDAN (Sangat lemah).Wallahul Muwaffiq-

Para Ulama Yang melemahkan

Hadits Mengusap Wajah setelah berdo’a

Para Ulama yang melemahkan hadits tersebut diantaranya : Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Hatim Ar Razi, Yahya bin Ma’in, Al Imam An Nawawi, Il Imam Al Bayhaqi, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah, Muhammad Nashiruddin Al Bani, Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah.

FATWA-FATWA ULAMA TENTANG MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

Ibnu Abdis Salam

Beliau berkata setelah melarang seseorang mengusap wajah usai berdo’a diluar sholat : “Tidak ada yang melakukannya kecuali orang yang jahil (bodoh)”(lihat Mughnil Muhtaj, karangan As-Syaibani : 1/167).

Imam An Nawawi

“Kesimpulan dari Ashab kami (para pengikut Madzhab As Syafi’I ) ada tiga pendapat : yang benar adalah disukai mengangkat tangan tanpa mengusap wajah; Kedua : Kedua-duanya tidak disukai (mengangkat tangan dan mengusap wajah); ketiga : keduanya disukai, adapaun selain (mengusap) wajah , seperti dada dan selainya telah sepakat Ashab kami bahwa hal itu tidak disukai , bahkan ibnu shabbagh dan yang lain mengatakan makruh”.

Ibnu Taimiyyah

Ketika ditanya tentang hokum mengangkat tangan saat berdo’a dan mengusap wajah sesudahnya, beliau menjawab : “Bahwa Nabi Shallahu Alaihi wa sallam mengfangkat kedua tangan beliau Shallallahu Alaihi wa sallam saat berdoa, maka dalam hal ini banyak terdapat pada hadits-hadits yang shahih.Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan beliau (setelahnya), maka tidak ada kecuali satu atau dua hadits, (dan) kedua-duanya tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi).Wallahu a’lam.Lihat Majmu’ Fatawa : 22/519 dan Mukhtashar Fatawa Mishriyyah).

Hukum beramal dengan Hadits-hadits Lemah

Ibadah harus berdasarkan dalil-dalil yang jelas kesahihannya sehingga hadits-hadits yang lemah tidak boleh diamalkan untuk patokan.

Syaikh albani  berkata bahwa hadits Dha’if (lemah) hanya mendatangkan sangkaan yang salah (Dhanul Majruh). Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan muhaqiq (peneliti hadits) barang siapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dha’if dalam Fadaail amal, hendaklah ia mendatangkan bukti (dalil).

Selanjutnya, syaikh Muhammad Nashirudin Albani berkata, tidak dibolehkan beramal dengan hadits-hadits lemah dalam perkara fadhaail amal, sebab menyelisihi hokum asal dan tidak ada dalilnya.Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat tersebut dan konsisten dengan syarat-syarat itu ketika mengamalkan hadits –hadits lemah.[4]

Rujukan

  • Hukum mengusap Wajah Setelah berdoa, abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisy
  • Membongkar kesesatan Tahlilan, Yasinan..,Basyaruddin bin Nurdin Shalih

[1] Al Maktabah As Syamilah, Kutubul Mutun, Sunan At Tirmidzi hadits No .3308.

[2] Ibid, Sunan Ibnu Majah hadits No. 1171

[3] Al Maktabah As Syamilah, Kutubul Mutun, Sunan Abu Dawud Hadits no

[4] Para Ulama yang membolehkan beramal dengan hadits dha’if mensyaratkan beberapa syarat diantaranya : tidak menyakini bahwa hadits tersebut berasal dari nabi, kedhaifannya tidak sangat, Ada hadits Shahih yang menjadi pokok sandaran (hadits dhaif itu hanya pendukung dan tidak berlawanan dengan hadits yang shahih)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s