ISRA’ MI’RAJ DAN URGENSI WAKTU

ISRA’ MI’RAJ DAN URGENSI WAKTU

Isra’ mi’raj yang kita kenal sebagai rihlah Rasulullah saw, memuat doktrin yang sangat menakjubkan.Karena itu, ia dapat digali dari berbagai sudaut pendekatan.ia mengandung doktrin ‘ubudiyyah, Psikologis, pengembangan spiritualitas, moral, dan sekaligus ilmu pengetahuan. Isra’ mi’raj sarat dengan ibrah (pelajaran ) dan juga fenomena yang ujungnya membuahkan antara lain syariat shalat lima waktu, dapat kita pahami dan dekati dengan teori hidup spiritualisme dalam bentuk tarbiyah dan Riyadhah yaitu pendidikan dan latihan.

Latar Belakang

Ketika Nabi saw tengah meniti “diklat” ruhani itu, datanglah ikhwal yang tak terduga sebelumnya , yaitu Isra’ Mi’raj. Ahwal ini boleh jadi sejenis “Kompensasi psikologis” yang diarsalkan langsung oleh Alloh SWT. Sebab waktu itu Nabi SAW tengah mengalami fragmen-fragmen penderitaan  yang sifatnya Basyariah (manusiawi) sekali.

Pertama, setelah berdakwah 12 tahun di Mekkah mengajak orang ke ajaran tauhid mengesakan Alloh, Rasululloh SAW, mendapat cacian dan perlawanan yang cukup berat dari masyarakat Kafir Quraisy, sampai terjadinya pemboikotan ekonomi terhadap Rasululloh saw dan para sahabat pengikut setianya

Kedua, meninggalnya Abu Thalib, paman dan sekaligus pendukung risalah beliau, bamper, dan pelindung dakwah Nabi, di saat beliau  membutuhkannya. Namun hingga ajalnya, ia tidak sempat mengucapkan dua kalimah syahadat, inilah yang membuat Rasululloh saw teramat sedih (Qs. Al Qoshosh : 56)

.Ketiga, disusul Siti Khadijah, sebagai istri, penyalur logistik perjuangan nabi, penasihat, penyokong spiritual, motivator dakwah nabi, juga dipanggil Alloh.Hal ini secara langsung berimplikasi terhadap stabilitas “temperatur batin ” Rasululloh

Keempat, saat keluar dari pengasingan menuju Thaif beliau justru mendapat caci makian dan lemparan batu dari anak-anak sampai badan, wajah, dan kaki beliau berlumuran darah. (Husein Haikal, Hayat Muhammad, (lentera Internusa : 1997)

Keempat peristiwa itu membuat “temperatur batin Rasululloh tidak stabil” Bahkan beliau hampir-hampir berputus asa.Sehingga pada puncak segala Fragmen tersebut. Alloh swt mengetahui kondisi kejiwaan hamba dan kekasihnya nya itu, maka pada 27 Rajab tahun ke 12 dari kenabian, beliau di isra’ mi’rajkan oleh Alloh swt sebagai media penghibur duka (QS. Al Isra (1) : 1) .

Dengan menggunakan “pesawat”  yang di design khusus berupa hewan Buraq (kilat), yaitu jenis hewan yang berwarna putih, berbadan panjang, lebih besar dari khimar (keledai) tetapi bukan kuda , jika kecepatan cahaya 300.000 KM /detik.Buraq lebih dari itu, (hadits Shohih Muslim Juz I hal 91-92  babul al Isra’ Rasululloh saw wa Farada sholat). Beliau sebagai basyar (manusia) oleh karena itu jasad dan Ruh serta jiwa nabi Muhammad SAW yang berisra’ Mi’raj, jadi bukan hanya ruhnya saja. Hal ini sebagaimana redaksi ayat QS. 17 : menggunakan  kata :’Abdihi yang berarti hambanya. Seanadainya hanya ruh beliau yang berisraj mi’raj , tentu redaksi ayatnya bukan “BI abdihi” tetapi mestinya “bi ruuhi abdihi’ (Wallahu a’lam).

Perjalanan itu dimulai dari masjid Al-Haram  (Mekah) menuju Al Aqsha (Palestina/ sidratul Muntaha ) melewati gugusan atmosfir, ionosfir, stratosfir, dan toposfir terus menuju langit pertama terus menuju langit pertama hingga gugusan langit yang ketujuh. Ketika samapi di Sidratul muntaha, Rasululloh melaju sendiri tanpa ditemani malaikat Jibril kemudian ke Mustawa untuk menghadap Alloh Swt.

Kalau hal ini kita kaji dari perspektif Psikologis, Isra’ Mi’raj mengandung dimensi-dimensi setidaknya sebagai tes keimanan (QS. 2 : 155 : 3 : 186 ; 47 : 31 ; 29 : 2,-3).Adanya sarana perjalanan Berupa Buraq ; konon mempunyai kaki bisa mulur mungkret seperti Shock-Breker, hal ini sebagai bentuk kecanggihan  dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Disediakan penunjuk jalan (guide), yaitu malaikat Jibril yang memberikan “instruksi” kepada nabi sehingga perjalanan malam  itu bisa efelktif  dan efisien. Bekal kesiapan Nabi, dada nabi saw dibedah, dicuci hatinya, diisi dengan iman, islam ilmu, dan hikmah sebagai bentuk kesiapan nabi.Dan nabi saw berhenti pada tempat tertentu, di Thaliban, Madyan, Thursinai, Baitul Lahm dan Baitul Maqdis sebagai bentuk pembelajaran nabi dalam memahami geografi bumi.

Selain itu juga mengandung perspektif psikologis sebagai terapi jiwa (wisata religius) hal ini diakui oleh para psikolog yang menyatakan bahwa berwisata / rekreasi merupakan kebutuhan jiwa .Dan yang paling penting hasil dari perjalanan malam itu, berupa perintah mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari semalam.(sentot Haryanta, 2001) Bakti 194 / Agustus 2007 hal 9)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s