PERKAWINAN ADAT JAWA DALAM PERSEPSI ILMU BUDAYA

PERKAWINAN ADAT JAWA DALAM PERSEPSI ILMU BUDAYA

Melakoni perkawinan dalam jagat pikir orang jawa tidak sesederhana .Orang seperti menapaki dunia baru, dua dimensi dunia yang sama pentingnya, yang mesti diperjuangkan untuk sebuah ide dan harmoni.dua dunia itu adalah  dunia spiritual, gaib, mistis dan dunia riil, jagat alit dan jagat gedhe, bukan untuk dipertentangkan atau berjalan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama menggapai harmoni. Maka dalam konsep ini orang Jawa mencap ‘tidak jawa’ terhadap orang yang tidak ‘menerapkan’ budaya Jawa dan sebaliknya menyebut Jawa atau njawani meskipun terhadap orang yang secara genetika bukan keturunan Jawa (Benedict R.O.G. Anderson, 1996)

Hal ini berarti, apabila individu atau jagat alit (mikrokosmos) tidak menerapkan kelaziman jagat gedhe (makrokosmos) , maka ini inharmoni. Tuntutan penerapan ini pantas dimengerti karena orang Jawa sebagai individu, jagat alit (mikrokosmos) tunduk pada masyarakat, dan masyarakat tunduk pada masyarakat, dan masyarakat tunduk pada alam, jagat Gedhe (makrokosmos).

Berdasarkan konsep pandangan itulah maka perkawinan menurut adat jawa bukan remeh temeh, semata persoalan formal semata.Lebih dari itu perkawinan merupakan upaya untuk menghadirkan dan mensinergikan dua konsep dunia itu secara bersama; sebuah perjalanan spiritual dan kultural yang aplikasinya bermuara pada masyarakat, jagat gedhe (makrokosmos).

Perkawinan berfungsi menjadi semacam upacara pengukuhan, inisiasi, perubahan dimensi jeneng (status) ke jeneng yang lain.Dalam hal ini orang jawa memberikan nama baru, satu nama yang digunakan untuk kedua insan yang telah menikah sebagai perlambang bahwa jagat manusia ketika sebelum menikah masih sendiri-sendiri, belum bulat dan setelah menikah menjadi bulat dengan satu nama, yang untuk itu semua perlu didukung upacara.

Secara lebih terinci, jagat kosmis, Jawa ketika berbicara perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan dapat ditelusur melalui konsep kadang papat lima pancer, yaitu kawah berwarna putih menemani arah wetan, mengawali kehidupan manusia, getih berwarna merah, menemani arah kidul, puser berwarna hitam menemani arah kulon, adhi ari-ari berwarna kuning menemani arah lor dan pancer berisi dua anasir mar dan marti yang keluar melalui Marga-hina, dimana mar dan marti ini akan selalu menjadi jodoh. Perkawinan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan hakekatnya hanyalah gambaran pertemuan Mar dan marti yang sudah berjodoh sejak sebelum lahir.

Dalam nuansa semacam ini “pertemuan” (baca : perkawinan) memiliki relevansi dengan arti perkawinan secara faktual bahwa perkawinan dalam jagat tradisi Jawa tidak dimulai dengan nikah, melainkan diinisiasikan dengan upacara, Sebuah upacara peralihan status, dari satu jeneng (status) ke jeneng lain yang lebih tinggi (Djojodigoeno : 1957), dari status remaja ke status dewasa berumah tangga.Dalam konteks ini perlu dipahami bahwa bagi orang Jawa perkawinan atau pernikahan sering tidak dirasakan sebagai aqad (perjanjian), tetapi semata-mata dirasakan sebagai upacara saja.Selain itu perkawinan Jawa Pra –Islam juga mengenal istilah Patiba sampir, yaitu saegala sesuatuyang diucapkan  oleh seorang putri kepada lelakinya.Kata-kata tersebut merupakan bagian dari saksi, janji atau permintaan untuk terlaksananya perkawinan. (Edi Sedyawati, 1993)

Dalam tataran praktiknya , pernikahan adat Jawa hanya dengan mengundang tetangga sebagai saksi, dikepayakke (diumumkan ) lalu ujub diucapkan, bahwa si Perempuan dan si laki-laki telah berjodoh, untuk selanjutnya hidup sebagai suami istri, dan diupacarai.

Seterusnya upacara menjadi sangat penting , karena upacara hakekatnya sebagai pen-tashih dengan mengundang  partisipasi individu, masyarakat dan kekuatan  jagat gedhe dengan segala misterinya untuk mendukung terwujudnya cita-cita mempelai. Dalam upacara perkawinan Jawa makna yang dominan dimunculkan justru bagaimana upacara itu menghasilkan sesuatu yang harmoni dengan masyarakat sambil tunduk pada alam.Maka lazimnya upacara perkawinan Jawa dalam tataran aplikasinya dialkukan melalui petung yang njlimet dengan memperhatikan konsep  cokro manggilingan, yang intinya manusia  tergantung pada konsep perputaran roda waktu yang ajeg (konstan) , hari baik dan buruk itu tinggal kita cocokkan  dengan perputaran waktu itu. Kemudian dengan sesaji yang lengkap, bahasa yang tharik-tharik, rumah yang ditata, pernik dan ragam hiasannya, tata urut bentuk ritualnya yang semuanya menyiratkan simbol , harapan, dan konsep cita ideal perkawinan.

`        Pada dimensi lain perkawinan dalam adat jawa membutuhkan kehadiran sesaji yang menjadi bagian tata cara, doa material simbolis pada Tuhan yang mengusung terwujudnya keinginan sebuah rumah tangga, sebuah ideal perkawinan.Sesaji diharapkan dapat menjadi media pendamai, pengharmoni terhadap ancaman yang datang dari kekuatan potensi jahat makhluk halus, kekuatan jahat yang bermaksud menggagalkan cita-cita mulia sebuah perkawinan.

Diluar semua itu upacara perkawinan adat jawa juga memuat kepentingan kebahagiaan dengan kekuasaan.Meminjam istilah Friederich Nietzche hidup ini sebagai der Wille zur Macht (kehendak untuk berkuasa).Kebahagiaan menurutnya adalah perasaan  akan bertambahnya kekuasaan, seakan tujuannya untuk lebih berkuasa meraih status, mengasah pamor kekuasaannya (hakekat upacara adalah mengasah pamor ben mencorong).Seperti yang dilustrasikan oleh John Pemberton dalam On The Subject of “Java”, bagaimana perkawinan Pakubuwana VII yang “keluarga Ningrat” dengan putri dari Dinasti Madura Cakraningrat, yang menunjukkan kekuatan logistik yang serba lengkap, malam laksana siang, dengan ilustrasi, Gebyar gebyar ting gelebyur, sumilak angilat thathit, manceret mancurat muncrat”, menghias kota Surakarta bak istana Indraloka.

Dalam filosofi Jawa, konsep perkawinan ini selalu disandingkan dengan istilah metu, manten, dan mati. Van Gennep dalam kajian teori-teori agama primitifnya menyebut istilah itu sebagai life cycle rites (siklus hidup) patokan yang diikuti dan merupakan ritus  tertua dalam kehidupan manusia. Secara teoritis ia melihat bahwa tiap masyarakat secara bewrulang dengan interval waktu tertentu memerlukan apa yang disebut “regenerasi” semangat kehidupan sosial. Pendapat ini diperteguh W. Robertson Smith, bahwa upacara yang bernuansa ritus semacam perkawinan itu berfungsi mengintensifkan solidaritas masyarakat yang cenderung mengalami kelonggaran karena berbagai macam persoalan yang terjadi seiring waktu.

Di samping makna sosial itu Mircea Eliade melihat bahwa upacara semacam itu dalam bahasa Mircea Eliade memiliki muatan simbol, mitos, ritus dan mantra sebagai konsep metafisis dunia kuno yang tidak dirumuskan dalam bahasa teoritis, lebih banyak diturun wariskan  dengan bahsa praktik , dan merupakan sistem penegasan koheren yang rumit tentang ultimate (realitas akhir).sistem yang dapat dipandang sebagai bahan metafisis oleh generasi penerusnya.

Oleh karena itu, ketika kita menyimak perkawinan adat Jawa, banyak ubarampe, mulai sesaji, ragam hias ornamen tarub dan pelaminan sampai persoalan tata riasnya yang memainkan tata warna, letak, bentuk, aroma , rasa, dan jumlah yang dirumuskan dalam makna simbol yang sering tidak dimengerti bahkan oleh peracik sendiri dalam dimensi teoritis. Maka yang kemudian dipahami budaya ini dianggap sebagai gugon tuhon, ela-elu yang tidak punya dasar.Wallahu a’lam ( Banun Al Amien, Bakti 187/Januari 2007)

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di Pernikahan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke PERKAWINAN ADAT JAWA DALAM PERSEPSI ILMU BUDAYA

  1. artav berkata:

    Salam, ini merupakan kunjungan pertama saya, memang saya belum mengerti benar tentang topik yang anda bahas, namun stelah membaca tulisan anda, pengetahuan saya tentang adat istiadat di Indonesia semakin betambah, sungguh menakjubkan. Saya salut dengan blog anda, salam hormat saya artav 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s