Tahlilan/Yasinan (amalan atau hadiah pahala untuk orang mati serta dalilnya)

Tahlilan/Yasinan (amalan atau hadiah pahala untuk orang mati serta dalilnya)

BY SALAFYTOBAT

Setelah kita membaca uraian diatas mengenai amalan orang hidup yang bisa bermanfaat bagi si mayit, pembacaan Al-Qur’an dikuburan, ruh-ruh kaum muslimin, talqin dan lain sebagainya insya Allah jelas bagi pembaca bahwa amalan-amalan yang dikerjakan saudara-saudara kita itu mempunyai dalil dan akar yang kuat. Begitu juga dengan majlis dzikir tahlilan/yasinan yang sering kita lihat, dengar atau kita alami sendiri terutama di Indonesia. Didalam majlis ini diadakan pembacaan bersama ayat Al-Qur’an dan berdo’a yang ditujukan untuk kita, kaum muslimin umumnya dan khususnya untuk saudara-saudara kita muslimin yang baru wafat atau yang telah lama wafat. Tahlilan ini boleh diamalkan baik secara berkumpul maupun perorangan.

Hal yang sama ini dilakukan juga baik oleh ulama maupun orang awam dibeberapa kawasan dunia umpamanya: Malaysia, Singapore, Yaman dan lainnya.

Memang berkumpul untuk membaca tahlilan ini tidak pernah diamalkan pada zamannya Rasulallah saw. dan para sahabat. Itu memang bid’ah (rekayasa), tetapi bid’ah hasanah (rekayasa baik), karena sejalan dengan dalil-dalil hukum syara’ dan sejalan pula dengan kaidah-kaidah umum agama. Sifat rekayasa terletak pada bentuk berkumpulnya jama’ah (secara massal), bukan terletak pada bacaan yang dibaca pada majlis tersebut. Karena bacaan yang dibaca disana banyak diriwayatkan dalam hadits Rasulallah saw. Tidak lain semuanya ini sebagai ijtihad para ulama-ulama pakar untuk mengumpulkan orang dan mengamalkan hal tersebut.

Bacaan Tahlilan yang dibaca di Indonesia, Malaysia, Singapora, Yemen ialah: Pertama-tama berdo’a dengan di-iringi niat untuk orang muslimin yang telah lama wafat dan baru wafat tersebut, kemudian disambung dengan bacaan surat Al-Fatihah, surat Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqoroh :255) dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an, tahlil (Pengucapan Lailahaillallah) tasbih (Pengucapan subhanallah), sholawat Nabi saw. dan sebagainya. Setelah itu ditutup dengan do’a kepada Allah swt. agar pahala bacaan yang telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang-orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdo’a pada Allah swt. agar dosa-dosa orang muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat diampuni oleh-Nya. Nah, dalam hal ini apanya yang salah…? Allah swt. Maha Pengampun dan Dia telah berfirman akan mengabulkan do’a sese- orang yang berdo’a pada-Nya !

Sedangkan mengenai makanan-makanan yang dihidangkan oleh sipembuat hajat itu bukan masalah pokok tahlilan ini tidak lain hanya untuk menggembirakan dan menyemarakkan para hadirin sebagai amalan sedekah dan dan tidak ada paksaan ! Bila ada orang yang sampai hutang-hutang untuk mengeluarkan jamuan yang mewah, ini bukan anjuran dari agama untuk berbuat demikian, setiap orang boleh mengamalkan menurut kemampuannya. Dengan adanya ini nanti dibuat alasan oleh golongan pengingkar untuk mengharamkan tahlil dan makan disitu. Ini sebenarnya bukan alasan yang tepat karena Tahlil tidak harus diharamkan atau ditutup karena penjamuan tersebut. Seperti halnya ada orang yang ziarah kubur beranggapan bahwa ahli kubur itu bisa merdeka memberi syafa’at pada orang tersebut tanpa izin Allah swt., keyakinan yang demikian ini dilarang oleh agama. Tapi ini tidak berarti kita harus mengharamkan atau menutup ziarah kubur karena perbuatan perorangan tersebut. Karena ziarah kubur ini sejalan dengan hukum syari’at Islam !

Sekali lagi penjamuan tamu itu bukan suatu larangan, kewajiban dan paksaan, setiap orang boleh mengamalkan menurut kemampu annya, tidak ada hadits yang mengharamkan atau melarang keluarga mayyit untuk menjamu tamu orang-orang yang ta’ziah atau yang berkumpul untuk membaca do’a bersama untuk si mayyit..

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Umm mengatakan bahwa disunnahkan agar orang membuat makanan untuk keluarga mayyit sehingga dapat menyenang kan mereka, yang mana hal ini telah diriwayatkan dalam hadits bahwa Rasulallah saw. tatkala datang berita wafatnya Ja’far bersabda; ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan’ (Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang sholat, bab ke 23 ‘Sholat jenazah dan hukum-hukumnya’ hadits nr. 602 jilid 1 hal. 216)

Tetapi riwayat itu bukan berarti keluarga si mayyit haram untuk mengeluar- kan jamuan kepada para tamu yang hadir. Begitu juga orang yang hadir tidak diharamkan untuk menyuap makanan yang disediakan oleh keluarga mayyit. Penjamuaan itu semua adalah sebagai amalan sedekah dan suka rela terserah pada keluarga mayyit. Rasulallah saw. sendiri setelah mengubur mayit pernah diundang makan oleh keluarga si mayyit dan beliau memakan nya.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:

“Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliaupun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

Golongan pengingkar majlis tahlilan ada juga yang mengatakan bahwa membaca Tahlilan/Yasinan dirumah si mayyit yang baru wafat, diadopsi oleh para Da’i terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan Animesme ruh-ruh keluarga yang wafat akan datang kerumahnya masing-masing setelah pada hari 1-3-7 dan seterusnya, dan ruh-ruh ini mengharap sajian-sajian dari keluarganya, bila tidak mereka akan marah dan lain-lain. Setelah mereka masuk Islam, akidah yang sama tersebut masih dijalankan golongan ini (repot untuk dihilangkannya). Maka para Da’i penyebar pertama Islam di Indonesia termasuk wali songo merubah keyakinan mereka dan memasukkan ajaran-ajaran dzikir untuk orang yang telah wafat itu. Jadi para Da’i/ahli dakwah ini tidak merubah adat mereka ini tapi memberi wejangan agar mereka berkumpul tersebut membaca dzikir pada Allah swt. dan berdo’a untuk si mayat, sedangkan sajian-sajian tersebut tidak ditujukan pada ruh mayat tapi diberikan para hadirin sebagai sedekah/ peng hormatan untuk tamu !

Penafsiran golongan ini bahwa majlis tahlilan sebagai adopsi dari Hindu yang tidak beragama Islam dan mempunyai banyak Tuhan dan sebagainya ini ialah pemikiran yang tidak benar serta dangkal sekali ! Penulis sejarah seperti ini adalah penulis yang hanya mengarang-ngarang saja dan anti majlis dzikir. Pengarang ini tanpa memperhatikan tulisan atau ucapannya sehingga dia telah menyamakan kaum muslimin termasuk para Da’i, ulama pakar maupun orang awam yang ikut bercengkerama pada majlis tahlilan/ yasinan ini dengan orang-orang kafir Hindu yang tidak bertauhid. Hati-hatilah !!

Para Da’i sebelum datang di Indonesia sudah mengenal dan mengamalkan majlis dzikir, walaupun cara mereka mengamal kan berbeda dengan kita yang di Indonesia tapi intinya sama mereka mengenal riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hadiah pahala amalan yang bermanfaat untuk mayit. Semuanya ini (dzikiran, hadiah pahala amalan) sudah diterangkan dalam hadits Rasulallah saw.,  wejangan para ulama pakar dari semua madzhab Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Imam Ahmad beberapa ratus tahun sebelum para Da’i datang ke Indonesia.

Sedangkan cara pengamalan majlis dzikir ini berbeda-beda tapi inti dan maknanya sama yaitu pembacaan doá dan penghadiahan pahala bacaan ini kepada orang yang telah wafat. Ada yang mengamalkannya sendirian/per-orangan saja dan ada yang mengamalkan dengan mengumpulkan orang banyak untuk berdo’a bersama yang ditujukan untuk si mayyit. Bertambah banyak orang yang berdo’a kepada Allah swt. sudah tentu bertambah baik dan lebih besar syafa’at yang diterima untuk si mayyit itu .

Didalam Islam kita dibolehkan serta dianjurkan untuk berdakwah dengan cara apapun selama cara tersebut tidak keluar dari garis-garis syariat akidah Islam. Dengan demikian para Da’i merubah keyakinan orang-orang Hindu yang salah kepada yang benar yang sesuai dengan syari’at Islam. Dakwah mereka ini sangat hebat sekali mudah diterima dan dipraktekan oleh orang-orang yang fanatik dengan agama dan adatnya yang tadinya di Jawa 85 % beragama Hindu menjadi 85% beragama Islam sehingga mereka memeluk agama yang bertauhid satu !

Berdzikir pada Allah swt. itu boleh diamalkan setiap detik, menit, hari, bulan dan lain-lain lebih sering lebih baik. Dakwah yang bisa merubah adat buruk suatu kaum kepada adat yang sejalan dengan syari’at Islam serta bernafaskan tauhid adalah dakwah yang sangat baik sekali. Dengan demikian kaum itu akan kembali kejalan yang benar yang diridhoi Allah swt. Jadi para Da’i waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat hindu sebagai mana pandangan golongan pengingkar tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang benar yang dibolehkan oleh syari’at Islam. Dalam hal ini apanya yang salah….?

Sejarah mencatat juga bahwa penyebar Islam yang pertama kali ke Indonesia  dari Gujarat, Cina, Persia dan Iraq dimulai pada permulaan abad ke-12 M ( jadi sebelum wali songo). Di negara penyebar-penyebar Islam (para Da’i) yang pertama kali di Indonesia ini sudah sering diadakan kumpulan/majlis dzikir dan peringatan-peringatan keagamaan diantaranya peringatan hari lahir dan wafatnya Nabi saw. (silahkan baca bab maulidin Nabi saw. dalam buku ini), peringatan kelahiran dan kewafatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw., peringatan kelahiran dan kewafatan Sayyidah Fatimah Az-Zahra putri Muhammad saw. dan lain sebagainya, walaupun cara mereka mengadakan peringatan-peringatan tersebut tidak persis atau sama dengan kita di Indonesia, tapi inti dan maknanya sama memperingati, menghadiahkan pahala bacaan dan mendo’akan orang-orang yang telah wafat.

Jadi majlis dzikir dan penghadiahan pahala bacaan yang dibaca ini sudah diamalkan oleh para ulama pakar sebelum penyebar-penyebar Islam ini datang ke Indonesia ! Hal yang sama sering diamalkan juga oleh kaum muslimin dari berbagai madzhab: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan sebagainya diseluruh dunia, yang mana pengikut madzhab-madzhab ini sudah ada dimulai pertengahan abad ke 8 M atau sekitar tahun 100 Hijriah yaitu mulai zamannya Imam Ja’far Shodiq ( 80-148 H/ 699-765 M) bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib kw., yang mana Imam Hanafi, Imam Malik ra pernah berguru pada Imam Ja’far ini.

Tidak lain mengumpulkan orang untuk peringatan keagamaan ini dan berkumpulnya orang-orang untuk membaca tahlil adalah hasil ijtihad yang baik dari para ulama pakar, yang semuanya ini tidak keluar dari garis yang telah ditentukan oleh syari’at. Amalan ini mereka teruskan dan jalankan di negara kita yang mana sampai detik ini diamalkan oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia.

Malah sekarang bisa kita lihat bukan hanya di negara kita saja, tetapi peringatan-peringatan Maulidin Nabi saw. dan kumpulan majlis dzikir ini sudah menyebar serta dilaksanakan oleh sebagian besar kaum muslimin diseluruh dunia dari berbagai madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan lain-lain) diantaranya: Malaysia, Indonesia, Mesir, Irak, Iran, Afrika, Turki, Yemen, Marokko, negara Saudi Arabia, Pakistan dan sebagainya.

Umpama saja, kita tolerans dan benarkan sejarah yang ditulis oleh golongan pengingkar ini mengenai majlis tahlilan tersebut, sekali lagi umpamanya diketemukan sejarah yang benar/authentik dari zamannya para Da’i ke Indonesia yaitu meneruskan adat Hindu ini dengan mengarahkan kepada amalan-amalan dzikir/tahlilan yang ditujukan untuk yang hadir dan si mayit apanya yang salah dalam hal ini ?

Para Da’i merubah dan mengarahkan adat Hindu yang keliru ini yang mempercayai akan marahnya ruh kerabat-kerabat mereka yang baru wafat bila tidak diberi sajian-sajian kepada si mayyit ini selama 1-3-7 hari  kepada adat yang dibolehkan dan sejalan dengan syari’at Islam. Dengan demikian adat-adat hindu yang masih dilakukan oleh orang-orang yang baru memeluk agama Islam/ muallaf ini, diteruskan dengan bacaan-bacaan dzikir serta do’a-do’a pada Allah swt. yang bisa bermanfaat untuk si mayyit. Sedangkan sajian-sajian yang biasanya oleh kaum Hindu disajikan kepada ruh si mayyit, dirubah oleh para Da’i untuk disajikan kepada para kerabat mereka atau kepada para hadirin yang ada disitu.

Sedangkan waktu pelaksanaan berdzikir dan berdo’a kepada Allah swt. untuk si mayyit  selama 1-3-7 hari atau lebih banyak hari lagi, ini semua boleh diamalkan. Karena didalam syari’at Islam tidak ada larangan setiap waktu untuk berdzikir dan berdo’a kepada Allah swt. yang ditujukan baik untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Malah sebaliknya banyak riwayat-riwayat Ilahi dan hadits Rasulallah saw. yang menganjurkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdzikir dan berdo’a setiap saat, lebih banyak waktu yang digunakan untuk berdzikir dan berdo’a itu malah lebih baik!!

Sekali lagi bahwa para Da’i waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat hindu sebagaimana pandangan golongan pengingkar tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang benar yang dibolehkan oleh syari’at Islam. Dua kata-kata mengadopsi dan mengajari itu mempunyai arti yang berbeda!

Jika pikiran golongan pengingkar yang telah dikemukakan dituruti, beranikah mereka ini menuduh puasa sunnah ‘Asyura (10 Muharram) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dan beliau anjurkan kepada para sahabatnya sebagai perbuatan meniru-niru orang Yahudi atau sebagai adopsi dari kaum ini? Karena puasa sunnah ‘Asyura dianjurkan oleh Rasulallah saw. setelah beliau melihat kaum Yahudi di Madinah puasa pada hari 10 Muharram tersebut. Beliau saw. bertanya kepada kaum Yahudi mengapa mereka ini berpuasa pada hari itu ? Mereka menjawab; Pada hari ini Allah swt. menyelamatkan nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka. Kemudian Nabi saw. menjawab: Kami lebih berhak memperingati Musa dari- pada kalian! (Nahnu aula bi muusaa minkum).

Begitu juga Nabi saw. pernah ditanya mengenai puasa sunnah setiap hari Senin, beliau saw. menjawab; ‘Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu juga (Allah swt.) menurunkan wahyu kepadaku’. Mengapa golongan pengingkar ini tidak menuduh puasa sunnah hari Senin yang dilakukan Nabi saw. untuk memperingati hari kelahiran beliau dan menghormati turunnya wahyu yang pertama, sebagai perbuatan meniru-niru golongan Kristen yang memperingati hari kelahiran Yesus ?

Wahai golongan pengingkar, janganlah kalian selalu mencari-cari alasan untuk melarang orang tahlilan dengan memasukkan macam-macam riwayat atau sejarah yang mana semuanya ini tidak ada sangkut pautnya dengan larangan agama untuk membaca tahlilan dan hanya menambah dosa kalian saja !! Jadi selama ini yang mengatakan menurut ceritera bahwa tahlilan, yasinan adalah warisan atau adopsi dari kepercayaan Animesme, Hindu atau Budha adalah tidak benar! Ini hanya sekedar Dongengan Belaka yang diada-adakan oleh mereka yang anti majlis dzikir.

Mereka juga mengatakan seperti biasanya amalan-amalan tersebut adalah Bid’ah, Syirk dan sebagainya karena tidak pernah dilakukan atau dianjurkan oleh Rasulallah saw., para sahabat atau tabi’in, dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sambil mengambil dalil hanya dari beberapa bagian al-Qur’andan Sunnah yang sepaham dengan pikiran mereka dan meninggalkan serta melupakan dari surat-surat Al-Qur’an dan Sunnah yang lainnya. Mereka lebih mengartikan Bid’ah secara tekstual (bahasa) daripada secara Syari’at. (Baca keterangan mengenai Bid’ah).

Ingatlah saudara-saudaraku, mereka ini berkumpul untuk berdzikir pada Allah swt. dengan niat dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya yang mana dzikir ini sudah pasti mendapat pahala karena banyak ayat ilahi dan hadits Rasulallah saw. mengenai pahala bacaan-bacaan dzikir (tahmid, sholawat, takbir, tahlil dan lain-lain) yang dibaca dimajlis-majlis tersebut (rujuklah pahala baca Al-Qur’an dan sebagainya dibuku ini). Bila golongan yang tidak senang amalan tersebut serta ingin menyerukan yang baik dan melarang yang munkar/jelek, laranglah dan nasehatilah  secara baik pada orang-orang yang melanggar agama yang pelanggaran tersebut sudah disepakati oleh seluruh ulama madzhab Sunnah tentang haramnya (pelacuran, peminum alkohol dan lain-lain). Janganlah selalu menteror, mensesatkan atau mengharamkan majlis dzikir, tawassul, tabarruk dan sebagainya yang semuanya mempunyai dalil.

Dan janganlah mudah mengafirkan golongan muslimin yang berdosa tersebut selama mereka masih mentauhidkan Allah swt. dan mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Camkanlah hadits Rasulallah saw. yang mengecam orang yang menuduh muslimin sebagai kafir, fasiq, munafik karena hanya amal perbuatan mereka tersebut !

Bila golongan pengingkar ini tidak mau mengamalkan tawassul, tabarruk, ziarah kubur, kumpulan majlis dzikir dan sebagainya, disebabkan mengikuti wejangan ulama-ulama mereka yang melarang hal tersebut, silahkan dan itu adalah urusan mereka sendiri dan tidak ada kaum muslimin lainnya yang mencela, mensesatkan mereka atau merasa rugi dalam hal ini, karena semuanya itu amalan sunnah bukan wajib. Tapi janganlah, karena keegoisan dan kefanatikannya pada wejangan ulamanya sendiri, menyuruh dan mewajibkan muslimin seluruh dunia untuk tidak melaksanakan tawassul, tabarruk, kumpulan dzikir bersama dan sebagainya, sampai-sampai berani mengkafirkan, menghalalkan darahnya, mensesatkan dan memunkarkan mereka karena mengamalkan hal-hal tersebut. Orang-orang yang mengamal kan kebaikan ini sebagai amalan tambahannya serta mereka tidak mensyariatkan atau mewajibkan amalan-amalan tersebut.

Pikiran mereka seperti itu juga akan dibodohkan oleh muslimin, karena banyak  wejangan ulama-ulama pakar yang berkaitan dengan amalan-amalan diatas serta mereka ikut bercengkerama didalam majlis-majlis tersebut ! Bagi non-muslim akan lebih mempunyai bukti atas kelemahan muslimin dan mereka akan berpikiran bahwa agama Islam adalah agama yang suka mencela, tidak toleransi, dengan sesama agamanya saja mereka mensesatkan atau menghalallkan darahnya apalagi dengan kita yang non-muslim !

Perselisihan/perbedaan dalam  hal tersebut seharusnya diselesaikan secara baik oleh sesama ulama-ulama Islam, sehingga bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat Islam.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perbedaan pendapat setiap manusia atau golongan itu selalu ada, tetapi bukan untuk diperuncing atau dipertajam. Setiap golongan muslimin berdalil pada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw., tetapi berbeda cara penafsiran dan penguraiannya. Alangkah baiknya kalau sesama muslim satu sama lain tidak mengkafirkan, mensesatkan pada orang yang senang mengamalkan amalan-amalan sunnah yang baik itu ! Begitupun juga kita harus saling toleransi baik antara muslimin sesamanya atau antara muslimin dan non-muslimin (yang tidak memerangi kita). Dengan demikian keharmonisan hidup akan terlaksana dengan baik.

Telah dikemukakan juga bahwa kita dibolehkan mengeritik, mensalahkan akidah atau keyakinan suatu golongan muslimin yang sudah jelas dan tegas dilarang oleh agama umpamanya; menyembah berhala, mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai anak Allah swt., menyerupakan/tasybih Allah swt. dengan makhluk-Nya, tidak mempercayai adanya Malaikat, menghalalkan makan babi, main judi, membolehkan orang meninggalkan sholat wajib dengan sengaja dan sebagainya, ini semua sudah jelas bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Semoga kita semua diberi Taufiq oleh Allah swt. Amin

COPY HTTP://SALAFYTOBAT.WORDPRESS.COM TGL 10-11-2010 PKL 22.00

Iklan

10 Comments

  1. Tidak sampai, dan ini adalah pendapat Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Qs. An-Najm (39);53). Dan juga hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda, “Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, atau anak yang shalih yang mendoakannya, atau ilmu yang bermanfaat”.

    Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya, beliau tidak katakan amalan orang lain (melainkan amalannya –pentj), orang yang membolehkannya bersandar kepada alasan ini, dan sebenarnya tidak ada dalil yang tegas untuknya, bahkan dalil yang tegas adalah bahwa ketika dua anak perempuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggal dunia, dan Utsman bin Madz’un, Hamzah, serta beberapa orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan untuk mengirim bacaan untuk mereka? Atau beliau tidak memerintahkannya? Beliau tidak memerintahkan untuk membacakan Al Qur’an untuk mereka.

    Manusia (sekarang) lebih memperhatikan bid’ah dan meninggalkan yang wajib, saya tidak katakan mereka meninggalkan sunnah, bahkan mereka meninggalkan yang wajib.

    Katakan kepada mereka, orang-orang yang lalai; mana yang harus didahulukan membayarkan hutang-hutang si mayyit atau membacakan untuknya Al Qur’an?! (Akan tetapi) yang mereka dahulukan adalah membaca Al Qur’an. Mana yang lebih utama juga membayarkan hutang-hutangnya atau membacakan untuknya Al Qur’an?! Mereka mengutamakan membacakan Al Qur’an. Kaum muslimin telah mengambil ajaran Islam melalui taklid, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (Qs. Al Baqarah; 111).

    Tidak ada riwayat yang menerangkan kalau Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu membacakan Al Qur’an untuk Fathimah Radhiyallahu ‘Anha disaat Fathimah Radhiyallahu ‘Anha wafat, mana (riwayat) tersebut dengan sanad yang shahih?! Mana (riwayat) anak-anaknya Abu Bakar (pernah) membacakan Al Qur’an kepada Abu Bakar As-Shiddiq?! Yang penting saudara-saudaraku fillah, sekalian kesengsaraan dan kerugian ada pada selain jalan Allah Ta’ala.

    Apabila seseorang mewakafkan tanah demi bacaan Al Qur’an (agar dibacakan untuknya Al Qur’an -pentj) maka wakaf tersebut batil (tidak sah -pentj) dan dibagi-bagikan di antara ahli warisnya kecuali kalau para ahli waris ingin agar tanah tersebut tetap untuk kemaslahatan seperti untuk madrasah tahfidz Al Qur’an atau untuk sumur (umum) atau yang lainnya dari maslahat-maslahat yang bermanfaat, maka yang demikian itu tidak mengapa. Wallahul musta’an.

    1. sepertinya kang “bisri aja” harus baca hadist2 berikut:

      Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata,?Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya ??. Rasulullah SAW menjawab,?Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya ?. Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan. (HR. Al-Bukhari).

      Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, sedangkan para fuqoha seperti Imam Asy-Syafi`i ra. dan lainnya. Sedangkan Imam Malik ra. mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

      Dari ?Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:? Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya?(HR. HR Bukhari dan Muslim)

      Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:? Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:? saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya?(HR. HR Bukhari)

      Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab

      Read more: http://penjagaquran.blogspot.com/2011/04/melakukan-ibadah-untuk-orang-yang-sudah.html#ixzz1SbxKTz3m

    2. Terimakasih tanggapannya dari kang Bisri dan Abu Umar

      HAL-HAL YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT
      Syekh Utsmaini menjelaskan bahwa
      Maksud dari Firman Alloh SWT Surat an-Najm : 39)
      وأن ليس للإنس إلا ما سعى
      “Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya “ adalah
      Bahwa seseorang itu tidak berhak atas hasil usaha orang lain, sebagaimana seseorang juga tidak akan menanggung beban dosa orang lain sedikitpun.Bukan bermaksud bahwa pahala dari usaha orang lain tidak dapat sampai kepadanya (mayit), berdasarkan banyak nash-nash (baik al-Qur’an atau hadits) yang menerangkan bahwa pahala dari usaha orang lain bisa sampai kepada seseorang dan bermanfaat baginya apabila diniatkan untuk nya.Diantaranya sebagai berikut :
      1.Doa
      Doa yang ditujukan untuk mayit akan bermanfaat baginya, berdasarkan nash-nash dari al-Qur’an, hadits dan ijma’ kaum muslimin.
      Alloh SWT telah berfirman kepada nabi SAW :
      واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنت
      “….dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan…”(QS.Muhammad : 19)
      Alloh SWT juga berfirman,
      والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رءوف رحيم (10)
      Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa,”Ya rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, Sesungguhnya engkau Maha penyantun lagi maha penyayang.”(QS.al-Hasyr : 10)
      Yang dimaksud dengan “Orang-orang yang telah beriman lebih dahulu” adalah kaum muhajirin dan Anshor.Sedangkan “orang-orang yang datang sesudah mereka” adalah para tabi’in dan generasi setelah mereka (seterusnya)sampai datang hari kiamat.
      Telah shahih dari Rasulullah SAW bahwa beliau menutup (kedua mata ) Abu Salamah SAW setelah kematiannya sambil berdoa :
      اللهم اغفر لأبي سلمة, وا فع درجته في المهديين, واخلفه في عقبه، وافسح له في قبره, ونورله فيه”
      “Ya Alloh, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dari golongan Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk), gantikanlah ia (dengan yang lain) untuk keluarganya (yang ia tinggalkan), lapangkanlah dan terangilah untuknya di dalam kuburnya.
      Dan bahwa Rasulullah SAW menyalati jenazah kaum muslimin serta mendoakannya.Beliau juga menziarahi pekuburan dan mendoakan para penghuninya.Hal ini diikuti oleh umat beliau.Sehingga hal itu menjadi perkara yang amat dimaklumi dari agama Islam.
      Dan telah shahih dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda :
      وما من رجل مسلم يموت, فيقوم على جنازته أربعون رجلا لا يشركون با لله شئا, إلا شفعهم الله فيه”
      Tidaklah seorang muslim meninggal, kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun, melainkan Alloh akan akan menerima syafa’at mereka untuknya.
      Dan ini tidak bertentangan dengan hadits :
      “إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : إلا من صدقة جارية , أو علم ينتفع به, أو ولد صالح يدعوله
      “Jika seorang mati maka terputuslah amal-amalnya kecuali dari tiga hal : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.”(Diriwayatkan oleh Muslim)
      Karena yang dimaksud dalam hadits ini ialah amal orang itu sendiri bukan amal orang lain (yang dihadiahkan) untuknya.Adapun doa anak shalih dijadikan sebagai bagian dari amalnya, karena anak itu merupakan hasil jerih payahnya, sebab ia (sebagai orangtua) merupakan sebab adanya si anak.Jadi seolah-olah doa si anak untuk orang tuanya itu seperti doa si orangtua itu untuk dirinya sendiri.Berbeda halnya dengan doa dari selain anak untuk saudaranya (sesame muslim) sebab itu bukan merupakan hasil jerih payahnya meskipun doa tersebut bermanfaat untuknya.Jadi perkecualian dalam hadits tersebut terkait putusnya amalan si mayit itu sendiri, bukan terputusnya amalan orang lain (yang dihadiahkan) untuknya.Oleh sebab itu (Nabi SAW) tidak mengatakan,
      “انقطع العمل له”
      “Terputus seluruh amal untuknya”, tetapi beliau mengatakan,
      “انقطع عمله”
      “Terputus amalnya”.Dan antara kedua ungkapan tersebut terdapat perbedaan yang jelas.
      2.Shadaqah atas nama si Mayit
      Dalam shahih Bukhari dari Aisyah RA:
      أن رجلا قال للنبي صلعم “إن أمي افتلتت نفسها (ماتت فجأة) و أظنها لو تكلمت تصدقت, فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال نعم”
      Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya ibuku mati mendadak dan saya kira kalau beliau sempat bicara niscaya dia akan bershadaqah.Apakah ibuku akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah atas nama beliau ? “Rasulullah SAW menjawab,” Ya.”
      Muslimpun meriwayatkan yang serupa dari hadits Abu Hurairah RA.Dan shadaqah itu murni merupakan ibadah maliyyah (harta).
      3.Puasa atas nama mayit
      Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda,
      “من مات و عليه صيام صام عنه وليه”
      Barangsiapa yang mati dan punya tanggungan puasa wajib, maka walinya (ahli warisnya) menggantikannya berpuasa.
      Alloh SWT berfirman,
      وأولواالأرحام بعضهم أولى ببعض فى كتب الله إن الله بكل شئ عليم
      Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Alloh.Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.”(QS.Al-anfaal : 75)
      Dan berdasarkan hadits nabi SAW:
      “ألحقوا الفرائض بأهلها, فما بقي فهو لأولى رجل ذكر”
      “Berikanlah warisan itu kepada yang berhak (ahli waris).Dan apa yang tersisa maka diberikan kepada orang laki-laki paling dekat (kepada mayyit).”(Muttafaqun ‘alaih)
      Dan puasa itu murni merupakan ibadah badaniah.
      4.Haji atas nama orang lain
      Dalam Shahihain (al-Bukhari dan muslim) dari ibnu Abbas RA:
      أن امرأة من خثعم قالت : “يا رسول اللة ، إن فريضة الله على عباده في الحج أدركت أبي شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة أفأحج عنه؟ ” قال : “نعم”
      Bahwa seorang wanita dari kabilah Khats’am berkata, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Allah telah mewajibkan para hamba-Nya untuk berhaji.Tapi aku mendapati ayahku sudah tua renta lagi tidak bisa tegak (duduk) diatas tunggangan (kebenaran) .Bolehkah saya mewakilinya berhaji?” Rasulullah SAW menjawab ,” Ya (boleh).
      Dan itu terjadi pada haji Wada’.
      Dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Abbas RA,
      أن امرأة من جهينة قالت للنبي صلعم :”إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت, أفأ حج عنها؟”قال :”نعم, حجي عنها, أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضية؟ اقضوا الله, فا الله أحق بالوفاء”
      Bahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah berBahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah berkata kepada Nabi SAW,”Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk haji, namun ia belum sempat berhaji hingga wafatnya.Apakah aku boleh mewakilinya berhaji?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, berhajilah mewakilinya,Apa pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, bukankah kamu akan melunasinya? Tunaikanlah (hutang kepada) Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditunaikan (hutang) kepadanya.”
      Jika dikatakan, ini kan amal si anak untuk orangtuanya, sedangkan amal si anak termasuk amal orangtuanya sebagaimana dalam hadits yang lalu,
      إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث
      Dimana dalam hadits ini doa anak untuk orangtuanya dianggap sebagai amal orang tua.Hal ini dapat dijawab dari dua sisi/sudut.
      Pertama : bahwa Nabi SAW tidak menjelaskan alasan dibolehkannya si anak berhaji mewakili orangtuanya hanya karena dia itu sebagai anaknya.Tidak pula mengisyaratkan demikian.Bahkan dalam hadits terkandung peniadaan alasan tersebut.Karena nabi SAW menyamakan dengan urusan pelunasan hutang yang bisa dilakukan oleh anaknya atau orang lain.Dan beliau SAW menjadikan hal itu sebagai alasan (sebab) utama, yakni melunasi sesuatu yang bersifat wajib (hutang) atas nama si mayit.
      Kedua:Telah datang dari nabi SAW apa yang menunjukkan kebolehan berhaji mewakili orang lain meskipun bukan anaknya.Dari ibnu Abbas RA bahwa nabi SAW mendengar seorang laki-laki berkata
      (لبيك عن شبرومة), “Kupenuhi panggilan-Mu (ya Allah) untuk (mewakili) Syubrumah.”Nabi SAW bertanya ,”siapa Syubrumah itu?” ia menjawab ,”Saudaraku atau kerabatku.”Nabi SAW bertanya,”Apakah kamu sudah haji untuk dirimu sendiri?” Laki-laki itu pun menjawab,”Belum.”Lalu Nabi SAW bersabda,”Haji dulu untuk dirimu kemudian baru untuk Syubramah.”
      Di kitab “Bulughul Maram”(Ibnu Hajar) berkata,”Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah.”Dan dalam kitab “al-furu” (IbnuMuflih) mengatakan ,” sanadnya jayyid (baik), Imam Ahmad berhujjah dengannya dari (jalur)periwayatan Shahih.Namun di lain kesempatan beliau merajihkan bahwa hadits tersebut mauquf (hanya sampai sahabat).Jika yang marfu’ (Hadits yang disandarkan kepada nabi SAW) itu shahih maka boleh dijadikan hujjah, jika tidak maka itu adalah perkataan sahabat yang tidak didapati ada (sahabat lain) yang menyelisihinya, sehingga ia menjadi hujjah dan dalil yang menunjukkan bahwa amalan ini termasuk perkara yang dimaklumi kebolehannya menurut mereka (para sahabat).Kemudian telah shahih hadits ‘Aisyah RA tentang puasa,
      “من مات وعليه صيام صام عنه وليه”
      “Barangsiapa yang mati dan punya tanggungan puasa wajib, maka walinya (ahli warisnya)menggantikannya berpuasa.”
      Yang dimaksud wali adalah ahli waris, baik anak ataupun bukan.Dan apabila hal ini dibolehkan untuk amalan puasa, sementara puasa itu murni merupakan ibadah badaniah, maka untuk haji (yang merupakan amalan ibadah) yang disertai dengan harta lebih utama dibolehkan.
      5.Berqurban atas nama orang lain
      Telah tersebutkan dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Anas bin Malik RA berkata :
      “ضحى النبي صلعم بكبشين أملحين أقرنين, ذبحهما بيده, وسمى وكبر,ووضع رجله على صفاحهما”
      Nabi SAW pernah berqurban dengan dua ekor domba putih yang bertanduk.Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, mengucapkan basmalah dan takbir, serta meletakkan kaki beliau ditepi badan kedua domba tersebut.
      Imam ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ RA, bahwa nabi SAW bila hendak berqurban beliau membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk dan berwarna putih.lalu beliau menyembelih salah satunya sambil berkata,”Ya Alloh, (Qurban) ini atas nama umatku semua, yaitu siapapun yang telah mempersaksikan keesaan-Mu dan mempersaksikan aku sebagai penyampai (risalah)”.Kemudian beliau menyembelih yang kedua sambil berkata,”(Qurban) ini atas nama Muhammad dan keluarga Muhammad.”
      (Al-Haitsami) berkata dalam majma’ Az-Zawaid,”Sanadnya hasan.”Sementara (Ibnu Hajar) tidak menghukuminya dalam kitab at-Talkhish.
      Berqurban adalah ibadah badaniyah yang bertopang pada harta.Dan nabi SAW telah berqurban atas nama keluarga serta seluruh umatnya, dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu akan bermanfaat bagi orang-orang yang diperuntukkan kepadanya Qurban tersebut serta pahalanya akan sampai kepada mereka.Sebab jika tidak demikian, maka tidak ada gunanya Qurban yang diatasnamakan untuk mereka.
      6.Pembalasan orang yang dianiaya terhadap orang yang menganiaya, dengan mengambil (pahala) amal shalehnya (yang menganiaya).
      Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa nabi SAW bersabda,
      من كانت عنده مظلمة لأخيه فليتحلله منها, فإنه ليس ثم دينار ولا درهم, من قبل أن يؤخد لأخيه من حسناته, فإن لم يكن له حسنات أخذ من سيءات أخيه فطرحت عليه”
      “Barangsiapa yang pernah melakukan suatu kezhaliman terhadap saudaranya maka hendaklah ia (segera) meminta dimaafkan (dihalalkan) darinya, karena nanti disana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham , sebelum diambil (pahala) kebaikan-kebaikannya untuk (diberikan kepada) saudaranya itu.Jika ia tak memiliki kebaikan-kebaikan maka (dosa) keburukan-keburukan saudaranya akan diambil lalu dilemparkan (ditimpakan) kepadanya.
      Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW pernah bertanya (kepada para sahabat),
      أتدرون ما المفلس”؟
      “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut (Pailit) itu ?”
      Mereka (sahabat) menjawab,
      المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع
      “Orang yang bangkrut (pailit) diantara kami adalah orang yang tak punya dirham dan harta benda apapun.”Maka Nabi SAW bersabda,
      ان المفلس من امتي يأتي يوم القيامة بصلاة و صيام و زكاة, ويأتي قد شتم هذا, وقدف هذا, وأكل مال هذا, وسفك دم هذا , وضرب هذا,
      فيعطى هذا من حسناته, وهذا من حسناته, فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخد من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار”
      “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) sholat, puasa, dan zakat.Namun diapun datang (dalam keadaan )pernah mencaci orang , menuduh orang, memakan harta orang (tanpa hak), menumpahkan darah orang dan memukul orang .Maka (pahala) kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada setiap orang (yang ia zhalimi) itu.Jika kebaikannya telah habis sementara belum tergantikan (kezhaliman) yang ada padanya maka akal diambil (dosa ) keburukan-keburukan dari setiap orang (yang ia zhalimi) itu lalu dilimpahkan kepadanya kemudian ia pun dicampakkan ke dalam neraka.”
      Apabila kebaikan-kebaikan itu dapat dicabut pahalanya dari pelakunya (untuk dialihkan ) kepada orang lain sebagai pembalasan (atas kezalimannya terhadap orang lain itu) tentu hal itu menjadi bukti bahwa (pahala) kebaikan-kebaikan itu bisa dialihkan dari pelakunya kepada orang lain dengan cara menghadiahkannya.
      7.Beberapa manfaat lainnya (yang diperoleh seseorang ) melalui amal orang lain.
      Seperti diangkatnya derajat keturunan di Surga ke derajat (yang sama dengan derajat) bapak-bapak mereka, ditambahkannya pahala (shalat) berjama’ah sesuai banyaknya jumlah, sahnya sholat orang yang bersendiri dengan bergabungnya orang lain dalam shaf bersamanya, serta (dihasilkannya) keamanan dan pertolongan dengan adanya orang-orang , sebagaimana (diriwayatkan) dalam shahih muslim dari Abu Burdah dari bapaknya (Abu Musa RA) bahwa nabi SAW menengadahkan kepalanya ke langit dan adalah beliau SAW sering menengadahkan kepalanya ke langit-, lalu beliau SAW bersabda,
      النجوم أمنة للسماء, فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد, وأنا أمنة لأصحابي, فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يو عدون, وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون”
      “Bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit, dimana bila bintang-bintang tiada (dengan berjatuhan) tibalah bagi langit apa yang telah dijanjikan (terbelah pada hari kiamat).Dan aku adalah pengaman bagi para sahabatku, dimana bila aku tiada (wafat) tibalah bagi para sahabatku apa yang dijanjikan (dengan munculnya fitnah-fitnah).Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku, dimana bila mereka telah tiada (wafat) tibalah bagi umatku apa yang dijanjikan (dengan munculnya bid’ah-bid’ah dalam agama).
      Dan dalam Shahih Muslim pula dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda :
      “يأتى على الناس زمان يبعث منهم البعث فيقولون: انظروا هل تجدون فيكم أحدا من أصحاب النبي صلعم فيوجد الرجل فيفتح لهم به, ثم يبعث البعث الثالث فيقال : انظروا هل ترون فيهم من رأى من رأى أصحاب النبي صلعم , ثم يكون البعث الرابع فيقال : انظروا هل ترون فيهم أحدا رأى من رأى أحدا رأى أصحاب النبي صلعم فيوجد الرجل فيفتح لهم به”
      “Akan tiba kepada manusia suatu masa dimana akan diutus sekelompok orang dari mereka lalu mereka berkata, “lihatlah apakah kalian mendapati salah seorang sahabat nabi SAW diantara kalian ?’ maka didapatilah satu orang, yang kemudian dengan sebabnyalah mereka memperoleh kemenangan.Kemudian diutuslah kelompok yang kedua, lalu mereka berkata,” apakah ada diantara kalian orang yang pernah berjumpa sahabat nabi SAW ?”(maka didapatilah satu orang) , yang kemudian dengan sebabnyalah mereka mendapat kemenangan.Kemudian diutuslah kelompok yang ketiga lalu dikatakan ,’’ lihatlah apakah ada diantara mereka seseorang yang pernah berjumpa orang yang berjumpa sahabat nabi SAW? ‘(Maka didapatilah satu orang yang kemudian dengan sebabnyalah mereka diberi kemenangan), kemudian diutuslah kelompok yang keempat, lalu dikatakan , Lihatlah apakah ada diantara mereka seseorang yang pernah berjumpa dengan orang yang pernah berjumpa dengan seorang sahabat nabi SAW?’ maka didapatilah satu orang, yang kemudian dengan sebabnyalah mereka diberi kemenangan.
      Jika telah jelas bahwa seseorang bisa mendapat manfaat melalui perantaraan orang lain serta amal orang lain, maka diantara syarat untuk memperoleh manfaat tersebut (yang harus dipenuhi) adalah bahwa ia termasuk diantara golongannya yaitu (bahwa) ia adalah seorang muslim.Adapun orang kafir maka tidak akan memperoleh manfaat dari amal shalih yang dihadiahkan kepadanya, lagi pula memang tidak boleh dihadiahkan kepadanya, sebagaimana tidak boleh didoakan untuknya kebaikan dan dimintakan ampunan baginya .Alloh SWT berfirman,
      ماكان للنبي والذين ءامنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحب الجحيم (113)
      Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka , bahwa orang-orang musryik itu adalah penghuni neraka jahannam.”(QS. At-taubah : 113)
      Dinukil dari fatawa No 250 Kitab Majmu’ Fatawa Wa Rasail ibnu Utsamain, Juz 17 halaman 256-262.

  2. Assalamualaikum wr.wb. Maaf pak numpang tanya dikit aja… Rasulullah bersabda: setiap bid’ah adalah sesat. Dan sesat adalah tempatnya di neraka….” Terus ada bid’ah hasanah…. saya jadi bingung nich…. Tks. Wassalamualaikum wr.wb.

    1. wa’alaikumussalam wr wb
      Bid’ah adalah proses kreatif, sehingga yang dimaksud hadits tersebut adalah proses kreatif yang jelek (Bid’ah Sayiah), sehingga kalau ada proses kreatif yang jelek pasti ada proses kreatif yang baik (Bid’ah hasanah).Termasuk proses kreatif yang jelek adalah sholat dzuhur 4 raka’at jadi 8 raka’at, sholat subuh 2 raka’at jadi 4 raka’at, itu yang dilarang oleh Rosululloh.Adapun proses kreatif yang baik , sangat banyak sekali dan itu perlu dikembangkan.seperti proses pengumpulan dan penyusunan mushaf al-qur’an masa abubakar dan Umar, sholat terawih berjama’ah dll.
      Dan jangan sampai mencaci maki, menjelekkan kelompok lain yang berbeda secara cultural , karena jika umat islam ingin maju harus hilangkan sekat-sekat cultural.Ingatlah perintah Alloh : “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan jangan bertolong-tolong kamu untuk berbuat dosa dan permusuhan”
      Intinya proses kreatif positive harus dikembangkan sebagaimana apa yang dilakukan wali songo dalam berdakwah, dan itu harus dilanjutkan dengan proses kreatif positive berikutnya bukan malah dicaci maki dan dijelek-jelekkan.

      1. assalamu’alaikum…
        mau nanya pak… dalam tulisan bapak diatas terdapat kata kata

        “Mereka lebih
        mengartikan Bid’ah secara tekstual (bahasa)
        daripada secara Syari’at.”

        kemudian bapak menjelaskan bahwa bid’ah itu proses kreati. bukankah itu secara tekstual atau kebahasaan pak?? terus yang dimaksud bid’ah secara syariat itu bagaimana???

        syariat itu sendiri artinya apa??

        terimakasih.

  3. Assalamualikum wr.wb

    Pak lalu bagaimana jika kenyataan di masyrakat acara tahlilan seakan-akan menjadi hal yang wajib dilakukan jika ada warga yang tidak melakukan justru dianggap aneh dan menyalahi aturan bahkan bisa jadi dikucilkan, disisi lain bagi sebagian penduduk kita terutama yang ekonominya pas-pasan demi melaksanakan tahlilan 3,7,40,100, 1000 hari harus memaksakan diri karena notabene perlu mengeluarkan biaya, sedang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga saja pas-pasan padahal disuatu daerah tertentu belum tentu sikap gotong royongnya itu tumbuh dengan baik.

    Saya berpikir tidak semua orang yang tdak mengamalkan tahlilan untuk orang meninggal akan menyebut kafir terhadap orang-orang yang mengamalkannya, bukankah yang penting masing-masing pihak menghormati dan menjalankan adab khilafiyah.

    Demikian dari saya, maaf bila ada kata yang kurang berkenan

    Waalaikum salam wr.wb

    1. Terimakasih atas tanggapan pak Tri Wahyudi

      MASALAH SUGUHAN
      DI SAAT KEMATIAN, PERINGATAN 7 HARI, 40 HARI, 100 HARI, 1000 HARI DAN SAMPAINYA PAHALA ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA
      1.MUQADDIMAH
      Di masyarakat Muslim, masih banyak berlaku di saat kematian seseorang, bagi shahibul musibah menyediakan suguhan berupa makanan atau snack kepada para ta’ziyah.Dalam hal ini juga berkembang pendapat yang melarangnya sebab menimbulkan niyahah atau memperberat kepada keluarga mayit di saat baru dalam keadaan susah terutama yang kebetulan kurang mampu.
      Namun juga pendapat mayoritas umat islam, suguhan tersebut dianggap sebagai penghormatan kepada para tamu yang memang dianjurkan agama, dan berpahala besar untuk dihadiahkan kepada mayit, terutama bagi keluarga yang berkemampuan.Disamping itu masih menjadi tradisi di masyarakat, mengadakan peringatan-peringatan hari ke 7, ke 40, ke 100, ke 1000 bahkan selanjutnya haul dan peringatan tahunan yang biasa disebut nyadranan, hal ini diyakini sebagai penghormatan kepada arwah para leluhur yang telah berada di alam barzah.
      II. Bolehkan memberikan suguhan makanan kepada para tamu yang berta’ziyah ?
      Pertama; Bagi yang berkemampuan dan tidak menjadikan kemadhorotan dikemudian hari, maka diperbolekan.Sebab bagaimanapun kondisinya, para ta’ziyah adalah tamu yang mungkin mereka dari rumah yang jauh, menghabiskan tenaga dan waktu yang lama sehingga tentu harus dihormati, diantaranya dengan menyuguhkan minuman atau makanan.
      Hadits Nabi SAW Riwayat Muslim yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah R.A
      menyebutkan :
      و من كان يؤمن با لله واليوم الأخير فا ليكرم ضيفه ………..
      Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan rasul-Nya maka mulyakanlah tamunya(HR Muslim dari Abu Hurairah )
      Juga berdasarkan hadits Nabi SAW Riwayat Bukhari yang bersumber dari Abdullah bin Umar R.A :
      أن رجلا سأ ل النبي صلى الله عليه وسلم أي الإ سلام خير ؟ تطعم الطعام وتقراء السلام على من عرفت ومن لا تعرف (رواه البخارى)
      Seorang sahabat bertanya kepada baginda Nabi saw :”Perbuatan apakah yang paling baik? “Rasulullah saw menjawab :”Memberi makanan dan mengucapkan salam baik kepada yang engkau kenal atau tidak”.(HR Bukhari)
      Pelaksanaan ini tentunya bagi keluarga mayit yang berkemampuan untuk mengadakannya, sedangkan bagi yang tidak mampu tentunya tidak harus mengada-adakan dan memaksakan diri.
      Biaya seyogyanya tidak diambil dari harta warisan yang belum dibagi, apalagi dari harta peninggalan untuk anak yatim.
      Maka sebaiknya para ta’ziyah bisa memberikan sumbangan berupa apa saja (terutama uang) sehingga bisa untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut, juga kebutuhan-kebutuhan keluarga mayit selama dalam masa duka.
      Kedua; Kapan waktu memberikan suguhan
      Apabila dikehendaki untuk memberikan penghormatan dengan memberikan suguhan kepada orang-orang yang berta’ziyah, hendaknya suguhan dikeluarkan sesudah jenazah diberangkatkan menuju makam atau sepulang mereka dari pemakaman.
      Kebolehan memberikan suguhan kepada penta’ziyah ini berdasar hadits Nabi SAW :
      عن عا صم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قا ل : خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو على القبر يو صى الحافر : او سع من قبل رجليه او سع من قبل رأسه. فلما رجع استقبله داعى ى امرأة فجاء وجئ بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فاكلوا ( رواه ابو داود)
      Dari ‘Ashim bin kulaib dari ayahnya, dari salah seorang sahabat anshor, ia berkata: Saya pernah melayat bersama Rasululloh SAW dan disaat itu saya melihat beliau menasehati penggali kubur seraya bersabda : Luaskanlah bagian kaki dan kepalanya.”Setelah Rasulullah SAW pulang, beliau diundang oleh seorang perempuan (istri mayat) dan Rasulullah memenuhi undangan itu dan saya ikut bersama beliau.Ketika beliau datang maka makananpun dihidangkan.Rasulullah SAW mulai makan lalu diikuti oleh para hadirin yang datang, bersama-sama makan….(HR Abu Daud)
      Berdasarkan hadits ini dapat kita pahami bahwa nabi SAW pernah diundang oleh keluarga mayit yakni istri dari orang yang meninggal dunia.Nabi SAW bersama para sahabatnya berkumpul di rumah duka sesudah jenazah dikubur, dan memakan makanan yang disuguhkan kepadanya.
      Berarti bagi keluarga mayit boleh menyediakan makanan dan memanggil orang lain untuk berkumpul dirumahnya untuk makan, demikian pula untuk hari-hari sesudahnya.
      Adapun sedekah/member makanan ini bisa diniyatkan untuk menambah pahala bagi mayit>
      Mengamalkan sabda nabi saw :
      تصدقوا عن أنفسكم و عن موتاكم ولو بسربة ماء. فان لم تقدروا على ذلك فبأية من كتاب الله, فإن لم تعلموا شئا من كتاب الله, فا دعوا بالمغفرة والرحمة فقد وعدكم بالإجابة.( ذرة النا صحين)
      Bersedekahlah kamu walaupun hanya dengan seteguk air, untuk dirimu dan untuk mayit-mayitmu, kalau tidak dapat maka dengan satu ayat dari kitab Allah (Al-Qur’an) kalau tidak mengetahui sesuatu dari kitab Alloh maka berdoalah kepada Alloh minta ampun dan rahmat-Nya.Alloh telah berjanji akan mengabulkannya. (Dzurratunnashihin hal 90)
      Tinggal masalah waktunya, kalau menurut hadits ini jamuan atau makan-makan diadakan setelah mayat diberangkatkan ke makam atau setelah pulang dari kuburan.Adapun apabila suguhan itu diberikan pada saat mayat belum diberangkatkan maka hukumnya bid’ah makruhah. (lihat kitab : Al-Fiqh alal Madzahibil Arba’ah, jilid I hal 457 karya Abdurrahman Al-Jaziri)
      III.Membantu memberi makanan dan materi lainnya kepada keluarga mayit.
      Bagaimanapun keadaannya, orang yang sedang mendapatkan musibah kematian dari keluarganya, adalah orang yang tertimpa kesusahan (musibah).Maka menjadi kewajiban kita sebagai sesame muslim adalah turut berusaha untuk meringankan beban kesusahannya.
      Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Ja’far :
      عن عبد الله بن جعفر رضي الله عنهما قال لما قدم خبر موت ابي قال النبي صلى الله عليه و سلم لأهل بيته اصنعوا لآل جعفر طعاما وابعثوا به اليهم فقد جاءهم ما يشغلهم عنه.( سنن ابو داود, رقم 2735 )
      Dari Abdullah bin Ja’far RA ia berkata : Ketika datang kematian ayahku, Rasulullah SAW berkata kepada keluarganya : “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, lalu kirimkan kepada mereka , telah datang kepada mereka sesuatu yang membuat mereka melupakan makanan”.(Sunan Abu Dawud 2725)
      Syeikh Ahmad Qusyairi bin Shiddiq mengomentari hadits-hadits tersebut dalam kitabnya Bulughul Umniyyah hal 219 menyatakan :
      ان الجاويين غالبا اذا مات احدهم جاءوا الى اهله بنحو الأرز ثم طبخوه بعد تمليك وقد موه لأهله وللحاضرين عملا بخبر : اصنعوا لأ ل جعفر طعاما, ورجاء ثواب الإطعام للميت (بلوغ الأمنية : 219)
      Orang-orang Jawa/Indonesia jika diantara mereka ada yang meninggal dunia, biasanya datang kepada keluarganya si mayit sambil membawa beras dan bahan makanan lainnya, setelah diberikan kepada keluarga simayit kemudian mereka memasaknya dan menyuguhkan kepada keluarga si mayit dan orang-orang yang berta’jiyah dalam rangka mengamalkan hadits : Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far…”dan mengharap pahala sedekah tersebut untuk si mayit.
      Hal ini perlu dilakukan bagi para tetangga dan keluarga dekat mayit.Adapun bagi para tamu ta’ziyah yang jauh rumahnya biasanya diwujudkan dengan uang sepantasnya.
      Berdasar keterangan ini berarti tradisi yang sudah berlaku di masyarakat Jawa/Indonesia adalah diperbolehkan dan tidak dilarang agama.
      IV. Peringatan Kematian 7 hari atau 40 hari
      Sudah menjadi tradisi bagi orang Jawa/Indonesia , kalau ada orang meninggal dunia, malam harinya ada tamu-tamu yang bersilaturahmi, baik tetangga dekat atau jauh.Mereka datang untuk melahirkan bela sungkawa atas musibah yang baru saja menimpa, sambil mendoakan kepada yang baru saja meninggal dunia, maupun keluarga yang ditinggalkan.
      Bagi keluarga yang baru kena musibah, tentu sangat gembira dan senang hatinya, disaat baru dirundung susah, sedih merasa terniang-niang hatinya , karena ditinggalkan keluarga untuk selama-lamanya, ternyata masih banyak yang datang untuk menghibur dan memberikan do’a.Mereka datang mengadakan bacaan-bacaan tahlil , surat ikhlas, surat yasin dsb, pahalanya dihadiahkan kepada yang sudah meninggal dunia.
      Soal ada makanan atau tidak, bukan hal yang penting.Air putihpun jadi, sebagaimana hadits nabi tersebut diatas, hal ini biasa dilakukan sampai hari ke 7 bahkan ada yang sampai hari ke 40.Hal ini bagi yang tidak sepaham dianggap sebagai nihayah (menyiksa diri).Padahal yang disebut nihayah adalah merasa sedih dan bersuara keras sambil memukul-mukul badannya dan menyiksa diri.
      Kedatangan tetangga atau sanak saudara pada saat duka tersebut dengan membaca bacaan-bacaan kalimat thoyyibah ternyata sangat bermanfaat.Disamping bisa menghibur hatinya, juga menyebabkan Alloh menurunkan rahmat-Nya berupa ketenangan dan ketentraman bagi yang sedang tertimpa musibah dan malaikat ikut hadir pada majelis tersebut untuk ikut mendoakan, sebagaimana hadits nabi SAW :
      عن ابي هريرة رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلىى الله عليه و سلم : وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم الا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة وذكرهم الله فيمن عنده.(سنن ابن ماجه 221)
      Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :”Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam salah satu rumah Allah SWT, sambil membaca al-Qur’an bersama-sama, kecuali Allah akan menurunkan kepada mereka ketenangan hati meliputi mereka dengan rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah memujinya dihadapan para makhluk yang ada disisinya (Sunan ibnu Majah, 221).
      Selanjutnya peringatan demi peringatan menjadi tradisi sampai setelah mencapai 100 hari, setahun (haul) dan 1000 hari.
      Hadits yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah :
      قال طاوس : أن الموت يفتنون في قبورهم سبعا : فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الأيام الى ان قال : عن عبيد عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا واما المنافق فيفتن اربعين صبا حا . (الحاوى للفتاوى للسيوطي)
      Imam thawus berkata : seorang yang mati akan memperoleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama 7 hari.Untuk itu sebaiknya mereka (yang masih hidup ) mengadakan sebuah jamuan makan (shodaqoh) untuknya selama hari-hari tersebut.Sampai kata-kata : Dari sahabat Ubaid Umair dia berkata : seorang mukmin dan seorang munafik sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur.Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari(Al Hawi Lil Fatawa Li As-Syuyuti)
      V. Mengadakan acara shodaqoh (selamatan) peringatan untuk orang yang telah meninggal dunia.
      Bagi umat Islam Indonesia/Jawa, mempunyai tradisi selamatan/ shodaqoh untuk memperingati kematian seseorang sejak malam pertama kematian setelah dikubur, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari bahkan selanjutnya setiap tahunnya (haul), dengan cara mengundang tetangga dan family yang banyaknya yang diundang menurut kemampuan kondisi dan situasi.
      Kedatangan para tamu tersebut untuk diminta bantuannya untuk membaca tahlil atau yaasin/Qur’an menurut kemampuan yang empunya hajat/kemampuan para hadirin yang diundang yang pahalanya untuk dihadiahkan /dikirimkan kepada yang telah meninggal dunia, sebagai peringatan hari ke berapa sejak kematiannya, acara diakhiri dengan pemberian shodaqoh berupa makanan yang dibacakan doa.
      Tradisi ini sudah berlaku di masyarakat mulai dari pejabat sampai masyarakat awam, bahkan sudah berlaku sejak nenek moyang sebelum islam dengan tata cara menurut mereka.Akan tetapi ada pula beberapa kalangan umat islam yang tidak setuju terhadap tradisi ini, karena dianggap perbuatan bid’ah, kadang-kadang sampai syirik, perbuatan sia-sia bahkan pemborosan dan menghambur-hamburkan uang.Karena orang yang telah meninggal dunia semua amal terputus tak perlu dikirim apapun.Terserah amal apa yang diperbuat semasa hidupnya itu saja bekalnya.
      Apalagi anggapan bahwa itu peninggalan sebelum islam yang harus ditinggalkan karena merupakan ajaran syirik yang dilarang agama Islam.
      1.Islam adalah agama penyempurna akhlak manusia sebelumnya.
      Anggapan bahwa tradisi peringatan hari kematian seseorang dan selamatan seperti tersebut diatas adalah peninggalan tradisi lama yang sudah mengakar di Indonesia sebelum islam datang.
      Agama Islam bukan agama yang anti tradisi dan harus membasmi tradisi yang sudah ada sebelumnya, apalagi sudah mengakar di masyarakat.Hal tersebut boleh dipakai dan diteruskan dalam islam, kalau memang dipandang masih bermanfaat/ bisa dimanfaatkan .Tentu isinya harus disesuaikan dengan aqidah dan syariat islam.Seperti dalam kaidah Fiqhiyah :
      المحا فظة على القد يم الصالح والأخد با لجديد الأصلح
      Mempertahankan tradisi-tradisi lama yang masih dianggap baik dan bermanfaat dan mengambil yang baru yang lebih manfaat.Dan juga sabda Nabi SAW :
      انما بعثت لأتمم مكارم الأخلا ق
      Sesungguhnya saya diutus oleh Alloh (membawa agama islam ini) untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
      Sejarah keberhasilan para Ulama para wali penganjur agama Islam di Indonesia adalah perpindahan dari kepercayaan /agama lama ke agama Islam dengan serentak dan tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah .Hal tersebut bisa terjadi karena tradisi dan budaya mereka yang sudah melekat dan merakyat tidak dirubah mereka merasa masuk Agama Islam sama saja dengan kebiasaan yang telah mereka lakukan.
      Tinggal isinya oleh para wali penganjur agama Islam sedikit demi sedikit disesuaikan dengan aqidah dan syariat Islam.Cara ini sesuai dengan apa yang difirmankan Alloh dalam Al-Qur’an :
      ادع الى سبيل ربك بالحكمة و المو عظة الحسنة و جا دلهم با لتى هي أحسن………….. (النحل : 125)
      Artinya : Ajaklah (umat manusia) ke jalan Tuhanmu (agama Islam) dengan bijaksana dan pelajaran yang baik dan bertukarpikiranlah dengan mereka dengan cara yang baik……. (An Nahl 125)
      2.Anjuran mengirim doa kepada orang yang telah meninggal dunia.
      Diantaranya hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al Dailami dari Abdullah
      bin Iyasy ra :
      عن عبد الله ابن عياش قال : قال النبي صلعم ما الميت في القبر الا كا الغريق المتغوث ينتظر دعوة تلحقه من اب او ام او اخ او صديق فاذا لحقته كان أحب اليه من الدنيا وما فيها وان الله عز وجل ليدخل على أهل القبور من دعاء أهل الأرض امثال الجبال.وأن هدية الاحياء الى الأموات الإستغفار لهم.(رواه البيهقي في شعب الإيمان الجوز ص : )

      Dari Abdullah bin Iyasy, ia berkata, Nabi SAW bersabda :”Mayit yang ada di alam kubur itu diumpamakan seperti orang yang tenggelam dalam air yang membutuhkan pertolongan.Dia mengharap doa orang yang mendatanginya (menyusulnya) dari ayahnya, ibunya, saudaranya atau temannya.Ketika doa itu datang maka dia sangat gembira, lebih senang daripada diberi dunia seisinya .Alloh memasukkan doa dari penduduk bumi untuk ahli kubur menjadi sebesar gunung.Dan sesungguhnya hadiah orang yang masih hidup kepada orang yang mati adalah memintakan maghfirah (ampunan) untuk mereka. (HR. Albaihaqi dalam Syu’banul Iman 9295 Juz VII hal 16)
      Dan masih banyak hadits-hadits yang sejenis .Sebetulnya ajuran untuk mengirim doa kepada orang yang telah meninggal itu tidak hanya sebatas saat-saat tertentu seperti diatas, tetapi kapanpun saja , terutama setiap ba’dal sholat lima waktu.
      Saat-saat tersebut diatas dilakukan dalam rangka untuk mempererat silaturahim sesame muslim dan tetangga.
      3.Sampaikah pahala amal orang hidup kepada mayit ?
      Tentang sampai atau tidaknya pahala amal orang yang masih hidup kepada mayit adalah di tangan Alloh SWT.Akan tetapi banyak ayat-ayat AlQur’an maupun hadits-hadits nabi tentang sampainya pahala amal atau doa orang-orang yang masih hidup kepada orang yang telah mati).
      Dalam al-Qur’an surat Al-Hasyr 10 disebutkan :
      والذين جا ءوا من بعد هم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا انك رءوف رحيم.( الحشر : 10)
      Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor) mereka berdoa “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkau Maha Pengasih lagi maha penyayang.
      Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang mati bisa mendapatkan manfaat dan istighfar yang dibaca oleh orang yang masih hidup .Yang dimaksud ayat :
      الذين جاءوا من بعدهم
      Adalah generasi setelah para sahabat nabi baik sahabat Anshor maupun Muhajirin yang telah meninggal dunia, generasi tersebut sampai hari kiamat selalu mendoakan ampunan Alloh kepada mereka yang telah wafat.
      Juga hadits nabi SAW riwayat Sayyidina Ali ra. Dalam kitab Washiyyatul Musthofa :
      يا علي : تصدق على موتاك فإن الله تعالى قد وكل ملائكة يحملون صدقات الأحياء اليهم.فيفرحون بها اشد ما كانوا يفرحون في الدنيا. ويقولون اللهم اغفر لمن نور قبرنا وبشره بالجنة كما بشرنا بها

      Hai Ali”bersedekahlah kamu untuk orang-orang yang telah mati.Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala telah mewakilkan kepada para malaikat agar supaya membawa (menyampaikan) pahala shodaqoh orang-orang yang hidup kepada mereka yang telah meninggal, maka mereka akan merasa gembira dengan shodaqoh itu, lebih banyak daripada kegembiraan yang mereka rasakan didunia ini.Dan mereka berdoa”Ya Alloh ampunilah orang yang telah menerangi kubur kami dan gembirakanlah dia dengan surga sebagaimana ia telah menggembirakan kami dengan surge.
      Juga hadits nabi SAW yang bersumber dari Abu Hurairoh ra :
      وعن عائشة رضي الله عنها ان رجلا قال للنبي صلعم إن أمي أقتلتت نفسها واراها لو تكلمت تصدقت فهل لها من أجر تصدقت منها؟ قال نعم.(متفق عليه)
      Dari Aisyah ra : ia bercerita bahwa ada seorang laki-laki datang kepada nabi, lalu berkata :Ibuku meninggal ya Rasul; andaikata dapat bicara niscaya ia pasti akan sedekah.Apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya ? Rasul menjawab :”Ya, dapat”(HR.Bukhori dan Muslim)
      Juga hadits nabi SAW yang bersumber dari Abu Hurairah ra:
      وعن أبي هريرة رضي الله عنه ان رجلا قال للنبي صلعم إن أبي مات ولم يوص أينفعه ان أتصدق عنه ؟ قال نعم (رواه أحمد و مسلم و النساءي و ابن ماجه)
      Dari Abu Hurairah ra ia meriwayatkan :”Ada laki-laki datang ke Nabi SAW, lalu ia berkata : Ya Rasul, ayahku telah meninggal dan dia tidak berwasiat apa-apa , apakah saya bisa memberikan manfaat kepadanya, jika saya bersedekah atas namanya ? Nabi menjawab : Ya, dapat”.(HR Ahmad, Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah. Dalam kitab Nailul Author, Juz IV, hal. 103
      Juga hadis Nabi SAW riwayat Ma’qil bin Yasar :
      عن معقل بن يسار قال : قال النبي اقرءوا يس على موتاكم (رواه أبو داود في سننه)
      Dari Ma’qil bin Yasar ra, ia meriwayatkan bahwa nabi SAW bersabda:”Bacalah Yasin kepada orang-orang matimu”.
      V.PENUTUP
      Masalah ini adalah termasuk masalah khilafiah.Maka diperlukan rasa tasamuh dan toleransi yang tinggi, saling menghormati sesame muslim.
      والله أعلم بالصواب

  4. Namun perlu juga diperhatikan, ibarat memberi opini berbeda ( dissenting opinion ), pengarang kitab i’anah tholibin, dalam kitabnya, tersebut justru memakruhkan pelaksanaan tahlilan 3, 7, 40 dst dan menyebutkan sebagai bid’ah munkaroh makruhah. Meskipun demikian kemakruhannya tidak menghapus pengiriman pahala shodaqohnya. Bahkan dalam buku kumpulan bahtsul masail yang diterbitkan LTN NU juga kurang lebih sama, Yang menjadi pemikiran saya, jika makruh dan munkaroh, mestinya di tinggalkan. Dan saya yakin ada alasan mengapa di makruhkan.. Dulu saya tidak begitu mempermasalahkan tahlilan, namun ketika sudah berkeluarga saya baru menyadari betapa beratnya melaksanakannya bagi orang yang penghasilannya pas-pasan.

  5. Assalamu,alaikum wr.wb,kita ini sama2muslim,alangkah baiknya bersikap merasa bersaudara,jngn mudah menyalahkan apalagi sampai mengkafirkan,ttg amalan2 yg ditujukan kpd ahli kubur,seperti tahlilan,baca Al Qur,an dll,dianggap bid ah sdngkan alasan2 juga telah jelas,bahwa gar kita selalu berdzikir kpd Alloh SWT dimanapun dan kapanpun,masalah diterima / tidak itu bukan urusan manusia itu hak prerogatif Alloh,bolehlah kita fanatik tp jangan menyalahkan yg tak sepaham,jngn bikin gonjang ganjing sesama umat Muslim,kalo begini yg tertawa kan umat tetangga.wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s