Haji dan badal Haji

IMG0253A
Dalam kitab al-Mughni fi fiqhil haji wal Umrah susunan Sa’id ‘Abdil Qadir Basyinfar halaman 14 dijelaskan bahwa syarat-syarat orang yang diwajibkan menunaikan ibadah haji ada lima, yaitu : 1)beragama Islam 2)berakal sehat 3)sudah baligh 4) Merdeka (bukan hamba sahaya) dan 5)Isthitha’ah.Khusus mengenai syarat istitha’ah ditegaskan dalam al-Qur’an surat ali Imron ayat 97 yang artinya :Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Sa’id bin abdil qodir dalam kitabnya yang telah disebutkan diatas, setelah menguraikan pemahaman isthitha’ah menurut imam madhab empat (Abu hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan ahmad bin Hanbal), menyatakan bahwa pengertian isthitha’ah itu mencakup:bekal, kendaraan, keamanan dalam perjalanan, kesehatan badan, dan iklim politik yang kondusif.Mengenai isthitha’ah ini Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid juz 1 hal 233 membedakan menjadi dua macam, yaitu : pertama isthitha’ah untuk mengerjakan sendiri, dan kedua isthitha’ah dengan cara dihajikan oleh orang lain.Isthitha’ah macam kedua inilah yang dalam istilah sehari-hari disebut dengan badal haji.
Berkaitan dengan Isthitha’ah macam pertama Ibnu Rusyid menerangkan bahwa syarat yang harus terpenuhi ada tiga, yaitu: fisik orang tersebut memungkinkan untuk melaksanakan sendiri ibadah haji, memiliki harta yang cukup untuk melaksanakannya, dan keamanannya terjamin.
Sedangkan mengenai isthitha’ah macam kedua di kalangan para imam madhab terjadi perbedaan pendapat.Pendapat imam malik dan Imam Abu hanifah mengenai masalah ini adalah sebagai berikut : Malik dan abu hanifah tidak wajib digantikan orang lain apabila dia isthitha’ah sementara dia tidak mampu mengerjakannya sendiri.
Sementara menurut Asy-Syafi’i: Penggantian oleh orang lain dalam mengerjakan haji merupakan keharusan.Maka menurut madzhabnya (syafi’i) orang yang mempunyai harta yang cukup untuk mengerjakan haji apabila dia tidak dapat mengerjakannya sendiri, wajib digantikan oleh orang lain untuk mengerjakan haji denan hartanya.Demikian pula orang yang telah meninggal dunia sedang dia belum mengerjakan haji, maka ahli warisnya wajib mengeluarkan sebagian dari harta orang yang telah meninggal dunia tersebut untuk menggantikannya mengerjakan haji.
Perbedaan pedapat antara , Malik dan Abu Hanifah dan asy-syafi’i ini dinukil dari kitab Bidayatul mujtahid Juz 1 hal 233-234.Pendapat Malik dan Abu Hanifah mengenai masalah ini, sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut diatas, didasarkan pada qiyas yang menetapkan bahwa kewajiban seseorang untuk melaksanakan ibadah-ibadah itu tidak dapat digantikan oleh orang lain.Para Ulama sepakat bahwa kewajiban seseorang untuk mengerjakan sholat tidak dapat digantikan oleh orang lain.Demikian pula kewajiban seseorang untuk menunaikan zakat tidak dapat digantikan oleh orang lain.
Sementara itu pendapat Asy-Syafi’i didasarkan pada dua hadist dibawah ini:
Hadits pertama, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita dari kabilah khats’am memberitahukan kepada Rasulullah SAW bahwa ayahnya telah terkena kewajiban haji, namun dia telah lanjut usia dan tidak mampu naik kendaraan.Wanita tersebut bertanya kepada Rasulullah saw. Bolehkah aku menunaikan ibadah haji untuk ayahku? Beliau, menjawab : ya.
Hadits kedua, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah memberitahukan kepada Rasulullah saw bahwa ibunya telah bernadzar untuk menunaikan ibadah haji, namun sebelum nadzarnya dilaksanakan dia meninggal dunia.Wanita tersebut bertanya kepada Rasulullah saw ; haruskah aku menunaikan ibadah haji untuk ibuku? Beliau menjawab : Ya, tunaikanlah ibadah haji untuk ibumu.
Berkaitan dengan masalah seseorang menggantikan orang lain menunaikan ibadah haji (menjadi badal haji), perlu dikemukakan penegasan As –Sayid sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah Juz 1halaman 538 bahwa seseorang yang menggantikan orang lain menunaikan ibadah haji disyaratkan dia sebelumnya harus sudah pernah menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri.
Persyaratan diatas didasarkan pada hadits riwayat Abu dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang laki-laki yang menunaikan ibadah haji menggantikan orang lain yang bernama Syubrumah.Rasulullah saw bertanya, kepada orang tersebut :Apakah kamu sudah menunaikan ibadah haji untuk dirimu sendiri ? laki-laki tersebut menjawab : Belum, maka, beliau memerintahkan laki-laki tersebut agar dia terlebih dahulu menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri, baru kemudian menunaikan ibadah haji menggantikan orang lain yang bernama Syubrumah.Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s