Pengaruh Islam dalam Penyusunan Sastra Babad

Sebelum berbicara lebih jauh tentang sastra Babad, terlebih dulu yang dimaksud sastra babad dalam tulisan ini adalah sastra sejarah atau buku-buku yang merekam peristiwa dimasa lampau.Adapun definisi sastra babad adalah lukisan unsur pelaku sejarah dalam rangkaian cerita yang mengandung unsur-unsur peristiwa yang telah atau dianggap terjadi dengan ramuan sastra yang mengandung unsur keindahan dan rekaan.
Bertolak dari pengertian diatas, yang dimaksud dengan penyusunan sastra abad adalah penyusunan sejarah di masa lampau, sedang penulis cerita babad adalah pujangga kerajaan.Jadi tidaklah heran jika penyusun cerita babad itu akan menulis sebuah cerita yang akan menjunjung tinggi kewibawaan penguasa (raja) pada waktu itu.Namun demikian, permasalahan yang akan diungkapkan dalam tulisan ini adalah bagaimana pengaruh islam dalam penyusunan cerita babad dan mengapa cerita itu harus ditulis.Untuk mengetahui dua hal permasalahan itu perlu diketengahkan juga tentang asal-usul cerita tersebut, serta apa rahasia dibalik cerita tersebut.
Menurut Dr.Darusuprapta, cerita babad mulai ditulis pada awal abad XVII, yakni zaman Mataram mulai bangkit di bawah Sultan Agung.Sedang menurut Dr.de Graaf, cerita babad mulai ditulis pada sekitar tahun 1635 M, atau lebih awal lagi.Tujuan penulisan cerita babad tidak hanya sekedar menulis sejarah melainkan untuk sarana legetimasi kekuasaan raja-raja (Mataram) yang berkuasa waktu itu.Disamping itu, maksud penyusunan cerita babad adalah sebagai alat pemujaan terhadap seorang raja.
Hal yang perlu diketengahkan adalah bagaimana upaya pengarang (pujangga keraton ) dalam melegitimasi rajanya ? Pujangga kerajaan tentunya tidak akan bercerita tentang peristiwa yang sebenarnya tentang diri raja, melainkan bercerita bagaimana mengangkat kewibawaan seorang raja.Akibatnya didalam menyusun silsilah atau asal-usul raja mataram, pengarang selalu menghubungkan dengan kepercayaan dan pola pikir rakyat pada masa itu yang telah menganut agama islam.Menurut Zarkasyi, agama Islam telah menyebar hampir ke seluruh lapisan masyarakat jawa, terutama di kalangan istana kerajaan.Itulah sebabnya, sultan agung berani mengubah perhitungan tahun, dari tahun saka ke tarikh Islam.
Upaya untuk melegitimasi kekuasaan raja telah dilakukan para pujangga sejak masa-masa sebelumnya, hal ini dapat dilihat pada naskah yang berjudul “serat Pararaton”.Di dalam” serat pararaton” tersebut , diceritakan bahwa ken Arok (Raja Singasari) adalah keturunan Dewa Brahma.Mengapa diceritakan sebagai keturunan Dewa? karena masyarakat pada waktu itu (zaman Singasari) masih menganut ajaran hindu, yang masih percaya adanya Dewa yang berkuasa.Bagaimana dengan upaya legitimasi di dalam cerita babad ?? apakah juga diceritakan bahwa raja-raja mataram masih keturunan dewa seperti halnya raja Ken Arok? tentunya tidak, karena masyarakat pada waktu itu telah menganut ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.
Itulah sebabnya, dalam menyusun silsilah raja-raja mataram , pujangga tidak lagi memilih tokoh dewa melainkan tokoh seorang syekh yang berasal dari Arab.Tokoh Syekh itulah yang akhirnya dapat menurunkan raja-raja di jawa versi cerita babad.Hal itu dilakukan karena pemerintahan zaman mataram masyarakat telah menganut ajaran Islam sampai di seluruh pelosok kerajaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s