PENANGANAN PSIKIATRIS PADA KORBAN PASCA BENCANA

PENANGANAN PSIKIATRIS PADA KORBAN PASCA BENCANA

Bencana merupakan kejadian diluar kemampuan manusia, disebabkan oleh kekuatan dari luar, terjadi secara mendadak, dapat menyebabkan kerusakan baik jasmani maupun rohani.Bencana dapat terjadi secara individu maupun massal, yang dapat merupakan permasalahan manusia, yang mengalami ataupun menyaksikan.

Semua pendekatan terhadap permasalahan manusia seyogyanya didekati secara menyeluruh (holistik) dengan memperhatikan manusia itu juga perlu diikhtiarkan suatu pendekatan secara detail (segi demi segi) yang ada relevansi tinggi dengan gambaran menyeluruh yang disebut pendekatan elektik, kedua pendekatan ini perlu saling integrasi. Dapatlah dimengerti bahwa pada keadaan darurat disamping gangguan psikis akibat kerusakan fisik maupun goncangan peristiwa.

Kesehatan meliputi kesehatan badan, rohani (mental), dan social, dan bukan hanya keadaan yang bebas penyakit , cacat dan kelemahan.Dikemukakan bahwa kesehatan jiwa (mental health) menurut faham ilmu kedokteran pada waktu sekarang adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis, (serasi),dan memperhatikan semua segi –segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungan dengan manusia lain.

Tingkah laku yang timbul akibat suatu bencana dipengaruhi oleh fakor-faktor ; genetic, persepsi sejak kecil tentang penderitaan, pengalaman tentang sakit dan nyeri , keadaan hidup sekarang maupun keinginan dan harapan untuk masa depan atau dengan kata lain manifestasi gangguan /keadaan jiwa seseorang dipengaruhi oleh factor organobiologik, psikoedukatif, sosiokultural, dan religi.Dalam penanganannya secara psikiatrik diperlukan pendekatan fisik yang dikenal sebagai istilah somatoterapi dapat dalam bentuk pembedahan, farmakoterapi, (obat-obatan) dan fisioterapis. Pendekatan psikis dikenal dengan istilah psikoterapi yang dapat berupa terapi suportif ataupun genatik dinamik.sedang pendekatan lingkungan (sosio cultural) dilakukan dengan manipulasi lingkungan dan sosioterapi.

Psikoterapi merupakan salah satu cara pendekatan terhadap masalah emosional yang dilakukan oleh seseorang yang sudah terlatih, professional, dan sukarela dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah, menghambat gejala yang ada, mengkoreksi perilaku yang terganggu dan mengembangkan pertumbuhan kepribadian secara positif.Tidak semua orang yang mendapat trauma mengalami stress, stressor psikis misalnya kekecewaan dan kehilangan , stessor social misalnya banjir, ternodai dan kemiskinan.

Stessor dapat berasal dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh  dimana stressor itu akan menghasilkan atau mendapat jawaban dari manusia berupa serangkaian reaksi fisiologik yang disebut sindrom adaptasi umum.Sumber stress selain karena tekanan (baik dari dalam diri maupun dari lingkungan) juga dapat oleh karena konflik atau frustasi. Frustasi timbul apabila indvidu sedang berusaha mencapai kebutuhan atau tujuannya tetapi mendadak timbul halangan, ada ral melintang, yang merupakan frustasi baginya dan yang dapat menimbulkan stress padanya. Stress adalah reaksi non spesifik seseorang terhadap suatu stressor baik fisik, psiis (emosional) , sosiokultural, konflik terjadi bila kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan.

Tidak semua orang yang stress akan bermanifestasikan gangguan jiwa yang sama.Hal ini dipengaruhi oleh banyak factor (multifaktorial) yang secara garis besar terdiri dari factor psikogenik/psokoedukatif misalnya interaksi ibu dengan anak, peranan ayah, persaingan antar saudara ataupun intelegensi dan factor sosiobudaya misalnya kondisi perkotaan atau pedesaan, pengaruh-pengaruh rasial dan keagamaan dan pola asuh anak.

Usaha kita di dalam mengoptimalkan sumber daya manusia adalah melakukan prevensi, promosi maupun rehabilitasi yang dimulai sejak awal yang dengan sendirinya memperhatikan segi-segi organobiologik, psikoedukatif, dan sosiokultural dengan jalan tindakan somatoterapi seperti pembedahan, farmakoterapi, dan fisoterapi, pemberian psikoterapi dan manipulasi lingkungan.

Salah satu pendekatan psikologis yang kita gunakan dalam kesempatan ini adalah pemberian psikoterapi yaitu suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional penderita yang dilakukan oleh seseorang yang terlatih, professional dan sukarela.Hal ini bisa dilakukan oleh tenaga medic, para medic maupun non medic yang terkait.

Diantara psikoterapi yang sederhana di dalam mengoptimalkan potensi seseorang adalah terapi suportif yang bisa diterapkan pada penderita psikosis , neurosis maupun reaksi situasional sementara, baik dalam bentuk individual maupun kelompok dengan menggunakan komunikasi verbal maupun non verbal. Hal ini dilandasi pengertian bahwa perilaku manusia ini dapat dipahami dan dapat dirubah.

Tujuan utama terapi Suportif adalah memperkuat defens-defens yang ada pada penderita atau dengan maksud mengurangi gejala-gejala sehingga penderita dapat berfungsi sesehat mungkin dengan taraf waktu penderita belum mendapat gangguan mental emosional, sebagai langkah untuk menuju keseimbangan relative, mengurangi taraf anxietas, kegelisahan dan stress, mempertinggi daya tahan tubuh umum/ toleransi untuk observasi diri dan pengertian diri hanya secara perlahan dan bertahap. Terapi suportif diberikan penderita dengan kekuatan ego yang sangat goyah sehingga usaha-usaha kita sebagai therapist adalah menyadarkan penderita dari konflik-konflik jiwanya yang terpendam yang membahayakan  keutuhan kepribadian penderita atau kemungkinan timbulnya kecemasan yang lebih hebat dibanding dengan bila  kita membuka dunia dalamnya dengan terapi non suportif.

Terapi ini dapat diberikan pada penderita dengan intelegensi borderline ke atas, dan kepada penderita yang kepribadiannya rapuh atau retak pun terapi ini dapat diberikan.Dapat pula diberikan pada penderita dengan taraf  kecerdasan terlalu rendah dan kepada mereka yang mekanisme defensnya terlalu kuat dimana kita tidak dapat memberikan pengertian terhadap latar belakang apa yang menjadi gangguan yang dideritanya, serta terhadap penderita yang premorbidnya mempunyai kepribadian yang kokoh pula.Dapat diibaratkan seperti suatu strategi tindakan “penyelamatan nyawa” dari seorang penderita yang terancam maut(live saving procedure).

Diantara cara psikoterapi suportif yang sering digunakan adalah :

a.       Ventilasi atau katarsis

Yakni membiarkan penderita mengeluarkan isi hati sesukanya, agar merasa lega dan cemasnya berkurang, dan dapat melihat masalah dalam proporsi yang benar.Ditanggapi dengan sikap empati, tidak interupsi.

b.      Persuasi

Yakni penerangan yang masuk akal tentang timbulnya gejala-gejala dengan kata halus dan tegas mengajak seseorang melakukan sesuatu.

c.       Sugesti

Yakni secara halus dan tidak langsung menanamkan pikiran atau membangkitkan kepercayaan tertentu , dengan sikap yang menyakinkan dan menunjukkan otoritas professional secara empati

d.      Reasurance atau penjaminan kembali

Yaitu melakukan komentar halus atau sambil lalu dan pertanyaan yang hati-hati, bahwa penderita mampu berfungsi secara  adekuat; dapat juga secara tegas dengan menunjukkan pada apa saja yang telah dicapainya.

e.      Guidance atau bimbingan

Yaitu secara praktis memberi petunjuk-petunjuk kepada penderita mengenai kehidupan sehari-hari, mengenai hal-hal pemeriksaan, pengobatan dan rehabilitasi serta mengenai prosedur-prosedur  yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, sehingga penderita lebih sanggup mengatasi.

f.        Konseling atau penyuluhan

Yaitu suatu bentuk wawancara untuk membantu penderita memahami dirinya sendiri lebih baik sehingga ia dapat mengoreksi suatu kesukaran dengan lingkungannya sekitar, pendidikan, pekerjaan, perkawinan dan masalah pribadi lainnya.

Beberapa Jenis gangguan psikiatrik yang berkaitan dengan bencana

Sindrome otak organic

Dikenal sindrom otak organic akut dan kronis , perbedaan ini  bukan semata-mata karena lamanya perlangsungan akan tetapi lebih kearah fungsionalnya. Pada sindrom otak organic akut sifatnya masih reversible, sedang pada yang kronis merupakan kebalikannya.

Sindrom otak organic akut terjadi karena adanya kerusakan jaringan otak yang dipengaruhi oleh luasnya permukaan. Untuk kerusakan yang sedikit , manifestasi gangguan jiwanya dipengaruhi oleh letak lesi.

Sindrom otak organic Akut (Delirium)

Salah satu penyebabnya adalah trauma kepala , dengan gambaran utama suatu keadaan kesadaran yang berkabut atau penurunan kejernihan kesadaran akan lingkungan.

Kriteria Diagnosis :

A.      Kesadaran yang berkabut, yang disertai berkurangnya kemampuan untuk memusatkan, memindahkan dan mempertahankan perhatian pada stimulus lingkungan.

B.      Paling sedikit terdapat dua gejala dari :

1.       Gangguan Persepsi : salah tafsir, ilusi, atau halusinasi

2.       Pembicaraan yang kadang-kadang inkoheren

3.       Gangguan siklus tidur bangun, dengan insomnia malam hari atau mengantuk pada siang hari

4.       Bertambah atau berkurangnya aktivitas psikomotor

C.      Gangguan orientasi dan daya ingat

D.      Gambaran klinik yang timbul dalam waktu pendek  (biasanya beberapa jam atau hari dan sering berfluktuasi sepanjang hari).

E.       Terdapat factor organic spesifik yang secara etiologic dinilai berhubungan dengan gangguan itu, yang terbukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau tes laboratorium.

Sindrom otak organic dengan Demensia

Salah satu penyebabnya  dapat oleh karena cedera otak khususnya hematom subdural, sehingga timbulnya dapat mendadak tetapi kemudian dapat menetap.

Kreteria Diagnosis

A.Kehilangan kemampuan Intelektual yang sedemikian beratnya sehingga menghalangi fungsi social atau pekerjaan

B. Rendahnya daya ingat

C. Paling sedikit terdapat satu dari yang berikut :

1.       Rendahnya kemampuan daya piker abstrak yang ditandai oleh penafsiran peribahasa secara konkrit, ketidakmampuan untuk mencari persamaan dan perbedaan antara kata-kata yang mirip atau berkaitan, kesukaran dalam mengartikan kata-kata, konsep, dan tugas-tugas serupa.

2.       Rendahnya daya nilai

3.       Gangguan lain dari fungsi kortikal yang lebih tinggi misalnya afasia (gangguan berbahasa karena disfungsi otak), apraksia (gangguan untuk melakukan aktivitas motorik meskipun pengertian dan fungsi motorik cukup baik), agnosia (kegagalan untuk mengenal meskipun indra sensorik berfungsi baik), kesukaran konstruksional (kesukaran untuk meniru bentuk tiga dimensi, menyusun balok atau batangan dalam pola tertentu).

4.       Perubahan kepribadian , misalnya perubahan atau aksentuasi dari cirri kepribadian premorbid.

D. Tidak ada kesadaran berkabut

E. Salah satu dari (1) atau (2)

1.       Terdapat factor organic spesifik yang dinilai mempunyai hubungan Etiologik dengan gangguan itu, yang terbukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium.

2.       Apabila tak terbukti suatu factor penyebab organic dapat diduga apabila kondisi-kondisi selain gangguan mental Organik dapat disingkirkan ; dan gangguan perilaku yang terjadi merupakan manifestasi dari gangguan fungsi kognitif dalam pelbagai aspek.

Pendekatan kasus sindrom Otak Organik karena ruda paksa (kecelakaan)

`Selain istirahat di tempat tidur dan mengobservasi karena dalam waktu 24-48 jam dapat terjadi komplikasi , bila perlu dapat diberi sedative, tetapi norkotika merupakan kontra indikasi.

Pendekatan Psikologis :

  • Diterangkan tentang gangguannya
  • Ditentramkan dengan kata-kata, diusahakan katarsis (Ventilasi) yakni membiarkan penderita mengeluarkan perasaan atau pikiran secara sadar disertai emosi yang bersangkutan sehingga lega.Jangan terlalu banyak memotong pembicaraannya.Biarkan ia mengeluarkankekhawatiran, impuls-impuls, kecemasan, masalah keluarga, perasaan bersalah dan sebagainya.
  • Berikan persuasi ialah penerangan yang masuk akal tentang timbulnya gejala , kritik diri sendiri oleh penderita penting sekali untuk secara perlahan penderita menjadi yakin bahwa gejalanya akan hilang.
  • Berikan reassurance atau penjaminan kembali yang dilakukan melalui komentar yang halus atau sambil lalu dan dengan pertanyaan hati-hati, bahwa penderita mampu berfungsi secara adekuat.Dapat juga diberi secara tegas berdasarkan kenyataan atau dengan menekankan pada apa yang telah dicapai oleh penderita.
  • Jangan pusatkan perhatian di kepala
  • Jangan ditakut-takuti nantinya akan dapat menimbulkan gangguan neurosis atau psikosomatis.

Sindrom Kepribadian Organik

Salah satu penyebabnya adalah sindrom pasca kontusio.Gambaran klinisnya tergantung sifat dan lokalisasi patologiknya.

Kreteria diagnosis :

A.Terdapat perubahan jelas dalam perilaku atau kepribadian yang mencakup paling sedikitdari yang berikut :

1.       Labilitas emosional, misalnya ledakan kemarahan atau tangisan mendadak;

2.       Rendahnya dalam pengendalian impuls, misalnya penurunan daya nilai normal social perilaku seksual ang tidak senonoh, mencuri barang di took.

3.       Sikap apatis atau masa bodoh yang jelas, misalnya hilang minat pada hobinya.

4.       Sikap curiga atau gagasan paranoid.

B. Tidak terdapat tanda-tanda delirium, demensia, sindrom afektif organic, atau halusinasi organic

C. Tedapat factor organic spesifik yang dinilai mempunyai kaitan etiologic dengan itu, yang terbukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan laboratorium

D. Diagnosis ini tidak ditegakan pada anak atau remaja, apabila mereka menunjukan gambaran klinik yang hanya terbatas pada gangguan pemusatan perhatian.

Pendekatan yang dilakukan dengan suportif terapi seperti pada sindrom otak organic. Penderita jangan terlalu cepat kembali ke tugas yang melelahkan, tetapi juga jangan terlalu lama istirahat yang nanti kemungkinan dapat menimbulkan neurosis.

Gangguan Stres Pasca Trauma

Timbulnya gangguan ini pada seseorang tidak semata – mata tergantung beratnya trauma fisik. Gejala dapat timbul segera atau tidak lama sesudah trauma, dapat pula muncul sesudah periode laten beberapa bulan.Disebut gangguan stress Pasca Trauma Akut bila muncul dalam masa enam bulan sesudah trauma psikologik yang pada umumnya berada diluar batas – batas pengalaman manusia yang lazim, terjadi dan berlangsung tidak lebih dari enam bulan. Keadaan ini mempunyai prognosa yang lebih baik daripada yang timbulnya baru sesudah enam bulan pasca trauma.

Gambaran klinisnya yang menonjol adalah kecemasan terlepas dari etiologinya. Gambaran utama timbulnya gejala khas sesudah peristiwa trauma psikologis yang berada di luar batas-batas pengalaman manusia yang lazim terjadi, trauma itu dapat dialami sendiri (perkosaan, penyerangan) atau dialami bersama dengan sekelompok orang lain misalnya bencana alam, perang, kecelakaan mobil, bencana akibat sengaja dibuat oleh manusia misalnya pemboman, penyiksaan.

Kreteria Diagnosis :

A.Terdapat stressor berat yang jelas, yang akan menimbulkan gejala penderitaan yang cukup berarti bagi hampir setiap orang.

B. Penghayatan berulangkali dari trauma itu yang dibuktikan oleh terdapatnya paling sedikit satu dari hal yang berikut :

1. Ingatan yang berulang dan menonjol tentang peristiwa itu

2. Mimpi berulang dari peristiwa itu

3.Timbulnya secara tiba-tiba perilaku atau perasaan, seolah-olah peristiwa traumatic itu sedang timbul kembali, karena berkaitan dengan suatu gagasan atau stimulus lingkungan.

C. Penumpulan respon terhadap, atau berkurangnya hubungan dengan dunia luar, yang mulai beberapa waktu sesudah trauma dan dinyatakan oleh paling sedikit satu dari hal yang berikut :

1.Berkurangnya secara jelas minat terhadap satu atau lebih aktivitas yang cukup berarti

2. Perasaan terlepas atau terasing dari orang lain.

3.Efek yang menyempit.

D.Paling sedikit ada dua dari gejala berikut, yang tidak ada sebelum trauma terjadi :

1.Kewaspadaan atau reaksi terkejut berlebihan

2.Gangguan tidur

3.Perasaan bersalah karena lolos dari bahaya maut, sedangkan orang lain tidak, atau merasa bersalah tentang perbuatan yang dilakukannya agar tetap hidup.

4.Rendahnya daya ingat atau kesukaran konsentrasi

5.Penghindaran diri dari aktivitas yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa traumatic itu.

6.Peningkatan gejala-gejala apabila dihadapkan pada peristiwa yang mensimbolisasikan atau menyerupai peristiwa traumatic itu.

Pendekatan Gangguan Stres Pasca Trauma

  • Terapi tingkah laku, desentisisasi dan belajar kembali
  • Rehabilitasi
  • Psikofarmaka : Transquilizer atau antidepresan
  • Manipulasi lingkungan

Kecemasan

Kecemasan adalah ketegangan, rasa tak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasa ada sesuatu yang tak menyenangkan dan sumbernya tidak jelas, pada ketakutan sumber jelas, sehingga pada ketakutan dapat ditanggulangi dengan menjauhkan diri dari sumber bahaya. Keluhan yang timbul dapat berupa keluhan fisik seperti gelisah, gemetar, keringat berlebihan, denyut nadi cepat, tensi meninggi, mulut kering pernafasan cepat, sukar tidur, diare ataupun meningkatkan frekuensi kencing.Keluhan psikis dapat berupa mudah tersinggung, gangguan konsentrasi, pelupa.

Untuk menurunkan derajat kecemasan penderita memerlukan rasa aman. Penolong hendaknya meyediakan waktu untuk mendengarkan keluhan penderita.Beri dorongan dengan sikap ramah tapi tegas.Jangan menunjukkan sikap jengkel atau marah, sebaiknya mengerti perasaan dan tingkah laku penderita serta menanyakan kebenaran-kebenaran interpretasi kita.Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan secara singkat , jangan memberi keterangan banyak oleh karena daya ingat dan konsentrasi penderita terganggu.Dorong agar penderita berani mengungkapkan perasaan secara terbuka.Bila penolong akan meninggalkan penderita beritahukan kapan akan kembali dan tepati.Jika perlu ada pengganti.Puji setiap usaha positif. Bila terjadi perubahan pengobatan  atau tindakan, beritahu secara singkat mengapa hal itu terjadi.Setelah penderita tenang , kooperatif dan komunikatif tugas penolong adalah berusaha menggali latar belakang permasalahannya, membantu penderita mengenali permasalahan yang sebenarnya dan cara yang dipakai penderita dalam mengatasi permasalahannya selama ini (denial, rasionalisasi, proyeksi, represif, reaksi formasi , undoing, regresi, identifikasi, kompensasi, displacement, acting out, sublimasi, simbolisasi dan sebagainya).

Bila penderita Nampak gelisah alihkan kepada hal yang lain, dekati dengan cara tak langsung.Usahakan penderita berani menghadapi kenyataan yang ada dan memakai kenyataan itu tidak menimbulkan permasalahan yang akan datang, bila dapat mengatasi ujian dengan cara yang wajar.Keluarga perlu dilibatkan agar mengetahui penyebab penyakit penderita dan diajak bersama mencari jalan keluar yang memadai.

Depresi

Depresi adalah sejenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen Psikologik rasa aman, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, sering disertai komponen somatic seperti anokresia, Konstipasi, kulit dingin, tekanan darah dan denyut nadi menurun sedikit.Gejala depresi sering harus dibedakan dengan cemas, tetapi penderita depresi Nampak selian sedih juga rasa negative terhadap dirinya, ragu-ragu, dan terganggu penghayatan dirinya. Motivasi terganggu, merasa tidak dapat melakukan tugas yang biasanya menjadi tanggung jawabnya, merasa kemauannya lemah, cenderung melarikan diri dari tugas, sangat bergantung pada orang lain dan ingin bunuh diri.Gangguan fungsi somatic yang lain yakni gangguan tidur dan cepat merasa lelah.

Penderita depresi membutuhkan kasih sayang , perhatian, dorongan dan peyakinan kembali secara teratur, bila tidak penderita akan merasa kehilangan, disingkirkan dan marah.Perasaan marah ini menimbulkan perasaan bersalah, penderita cenderung menghukum diri sehingga memperberat depresinya.Penderita perlu didekati, duduk disampingnya tanpa harus memulai percakapan, bila setelah didekati beberapa kali, penderita mulai memperlihatkan reaksi misalnya menoleh, penolong dapat menyapanya, mengucapkan sesuatu tanpa penderita harus menjawab.Dengan demikian penderita merasa ada yang memperhatikan, mendekati, menerima dirinya dan mengasihi. Setelah penderita terbiasa barulah diajak berbicara secara perlahan.Setelah kooperatif dapat diajak bercakap-cakap, beri dorongan agar mau mengungkapkan kesedihannya secara terbuka.Bila penderita menyangkal bahkan marah beri kesempatan mengekspresikan kemarahannya dalam batas wajar. Bila menangis jangan sekali-kali mengucapkan “tak perlu sedih”.Sediakan waktu teratur agar penderita merasa mendapat perhatian serius , ajak membicarakan masalahnya tanpa member nasehat.Usahakan agar penderita  dapat mengatakan secara lisan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, mempertahankan pendapatnya serta membantah pernyataan yang dianggap tidak benar.Penderita dicegah supaya tidak melamun.Dengan terapi kelompok penderita dapat mendengar masalah orang lain sehingga tidak merasa bahwa dirinya mempunyai masalah.Usahakan obat tidak disimpan oleh penderita agar tidak digunakan untuk bunuh diri.Waspadai penderita yang sudah menunjukkan perbaikan tetapi mengatakan putus asa –bahaya bunuh diri. Dalam mengajak melihat permasalahan harus hati-hati agar tidak malah menimbulkan kecemasan.

Agresif

Agresif adalah tindakan menyerang yang disertai dengan kekerasan baik secara fisik verbal atau simbolik terhadap lingkungan atau terhadap diri sendiri. Agresif bisa bersifat positif bila tindakan ini digunakan untuk pemecahan masalah misalnya dipakai sebagai pembelaan terhadap suatu serangan yang nyata. Agresif menjadi negative bila untuk menghancurkan diri sendiri.

Agresif sebenarnya menggambarkan perasaan tidak aman, kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan terhadap orang lain.Gejala yang ditunjukkan dapat pasif agresif.Agresif dinyatakan dengan membantah, sikap menentang, bicara kasar, cenderung menuntut terus menerus, bertingkah laku kasar disertai tindak kekerasan.Permasalahan penderita agresif adalah sikap yang tidak kooperatif , suka menghambat, bermalas-malasan, bermuka masam, menyabot, keras kepala dan pendendam.

Untuk mengatasi meluasnya tingkah laku agresif, sikap penolong yang diperlukan tenang, percaya diri, bijaksana dan tegas, ajak penderita di tempat yang tenang, dorong untuk mengemukakan masalah yang menyebabkan marah dan kesal kemudian dibantu agar mau melihat masalahnya dari sudut pandang yang lain dalam proporsi wajar.

Untuk membantu mengatasi tingkah laku agresif, penderita difikasi atau diberi obat. Untuk mengurangi rasa tak aman hendaknya dijelaskan tindakan yang akan dilakukan agar mau mengatakan apa yang diharapkan, bagaimana perasaan tentang dirinya dan perawatannya.Perlu digali latar belakang penderita dalam hubungannya dengan keluarga.Penderita dibimbing untuk mengenali dan mengendalikan dorongan agresif yang timbul, diberi kesempatan untuk mengungkapkan isi hati masing-masing dan mencoba mempertemukannya.

Paranoid

Keadaan paranoid adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perasaan curiga yang tidak beralasan pada orang lain.Penderita dapat tenang, gelisah selalu mencurigai segala sesuatu yang ada diruangannya , selalu ingin tahu dan berusaha mengetahui hal yang dibicarakan atau dilakukan orang lain, cenderung menarik diri, menunjukkan sikap bermusuhan yang sering ditujukan pada orang tertentu yang sangat dicurigai, kadang-kadang bersifat impulsive dan agresif.

Langkah pertama adalah memberikan rasa aman, mendengarkan segala keluhan atau pendapat penderita tanpa menyanggah atau member komentar. Diusahakan tidak tertawa atau berbicara di hadapan penderita bila ia tidak mengetahui apa yang dibicarakan  atau ditertawakan.Karena waham dan halusinasinya   penderita sering tidak mau minum obat, obat disembunyikan di rongga mulut atau ditempat tertentu.keluarga perlu dilibatkan untuk mengenal penderita secara lebih mendalam sehingga mengetahui apa yang seharusnya dilakukan agar dapat menolong penderita, menerima keadaannya, dan melanjutkan perawatan dirumah. Bila penderita tampak tegang  dan menunjukkan sikap permusuhan pada orang tertentu, ajak ke tempat tenang dan dorong agar mau menceritakan sumber ketegangannya.

Mani

Penderita Mani  menunjukkan gejala hipearktif, gaduh gelisah, gembira berlebihan terus menerus, tidak ada rasa takut. Pada dasarnya penderita Mani sama dengan penderita depresi , merasa tidak dapat menerima perasan ini, ia menyangkal hingga timbul kecemasan, penuh kebencian, dan rasa permusuhan terutama terhadap lingkungannya, hingga melontarkan perasaannya secara kasar dalam cetusan pendek dan cepat beralih dari satu topic ke topic lainnya .Penderita bertindak seolah semuanya menjadi kekuasaannya yang penuh, hiperaktif, gaduh gelisah, bicara dan suaranya keras, waktu tidur memendek.Penderita mani memerlukan perlindungan , penerimaan, penghargaan dari orang lain, akan tetapi karena cenderung mengganggu lingkungan, maka perlu kerja sama  yang baik antar petugas dan adanya kesatuan sikap dalam menghadapi agar tidak membingungkan penderita dalam pengalaman emosionalnya.

Usaha pendekatannya menenangkan penderita dengan mengusahakan lingkungannya yang tidak  merangsang, dirawat dalam lingkungan yang terpisah.Orang yang berhubungan dibatasi pengendalian dirinya karena penderita sering bicara apa saja termasuk rahasia dirinya.Usahakan penderita tidak terlibat pertengkaran dengan orang lain karena tingkah lakunya. Bila perlu difiksasi dan beritahu kapan melepaskannya , cegah usaha bunuh diri, sebab bila penderita sudah tenang sering megingat kembali masalahnya, beri pekerjaan yang membutuhkan kelincahan tetapi dapat selesai dalam jangka waktu pendek. Beritahu keluarga apa yang dibutuhkan penderita.

Penutup

Bencana dapat memicu gangguan yang bisa menyangkut keadaan fisik maupun psikis, bisa saja kondisi  akut ataupun puncak/ terminal dari kondisi kronisnya yang dapat mempengaruhi penderita, juga mempengaruhi lingkungannya  yakni petugas dan keluarga penderita sehingga perlu pendekatan terpadu agar sedapat mungkin  mengurangi penderitaan, meminimalkan keluhan, mempertinggi kemampuan, mengembalikan kesibukan dan membangkitkan minat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s