Seputar Muharram

Seputar Muharram

Oleh sumarno (Bakti-94/April 1999 hal 7)

Setiap tanggal 1 Muharram, umat Islam memperingati (memasuki) tahun Baru Hijriyah.Yaitu Peringatan peristiwa hijrahnya nabi Muhammad dari Makkah al-Munawwaroh.Suatu peristiwa akbar yang sarat makna, penuh nilai, menjanjikan prospek baru dakwah Islamiyyah berikut nuansanya.

Selain ini  menurut para Mufassirin, pada bulan Muharram terjadi pula beberapa peristiwa besar seperti diusirnya Nabi Adam AS dan Siti Hawa dari Surga oleh Alloh SWT; bertemunya kembali mereka berdua di Padang ‘Arafah; mendaratnya kapal nabi Nuh as beserta umatnya dari bencana banjir; Nabi Yunus AS melompat dari atas kapal yang beliau tumpangi sehingga ditelan seekor ikan besar, termasuknya selamatnya Nabi Musa as beserta para pengikutnya dari kejaran tentara Fir’aun.Bagi sekelompok Muslim tertentu , terbunuhnya Husain, cucu nabi Muhammad dalam perang Karbela diyakini juga terjadi pada bulan Muharram .Dari beberapa peristiwa besar itu maka sudah wajar apabila hari /bulan yang “sacral” itu diperingati dan dirayakan oleh Umat Islam diseluruh dunia.

Indonesia, sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, termasuk salah satu Negara yang ikut merayakan  datangnya tahun baru Islam tersebut.Berbagai macam kegiatan, upacara tradisional diadakan secara rutin, meriah dan kadang menjadi tradisi yang turun temurun.

Namun perlu dicatat bahwa peringatan dan penyambutan tahun baru Hijriyah di Indonesia memiliki corak, warna dan rasa tersendiri.Bahkan didaerah-daerah tertentu penyambutan tahun baru hijriyah terkesan antik, unik dan angker.Malah ironisnya ada upacara, tradisi atau perilaku yang justru menyimpang dari nilai-nilai akidah islamiyyah yang murni.

Beberapa kegiatan, aktivitas, upacara tradisi dan perilaku tersebut antara lain :

1.Menyambut dan merayakan datangnya malam tahun Baru Hijriyah dengan hura-hura, foya-foya dan pesta disertai dengan menenggak minuman keras, pergaulan bebas dan lain-lian yang tidak baik.

2. Mendatangi tempat-tempat “keramat” tertentu untuk “nenepi “, “nyenyuwun”, atau melakukan “laku” tertentu dengan harapan mendapat berkah, enteng jodoh, lancer rezeki, memiliki kesaktian, cepat dan sukses dalam jabatan, kekuasaan, dll.

3. Kesakralan bulan Muharram ditafsirkan secara keliru oleh masyarakat yang mengarah kepada kesan angker dan menakutkan.Pada bulan ini orang menganggap tabu melakukan hajat tertentu.Apabila ada orang yang berani melakukan hal-hal tersebut maka masyarakat menyakini bahwa ia akan kualat, mendapat laknat, akan ditimpa musibah, dll.Akibatnya bulan Muharram dipandang sebagai bulan yang harus dijauhi dan dipantangi.

4. Kurang memasyarakatnya pengertian dan makna yang sebenarnya dari tahun baru Hijriyah bagi masyarakat luas termasuk masyarakat muslim, sehingga penyambutan dan peringatan Tahun Baru Hijriyah tidak semeriah dan sehikmad tahun baru masehi.

PR Kita

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa bulan Muharram (tahun baru Hijriyah) belum dipahami secara benar oleh umat Islam .Karena itu menjadi tugas dan kewajiban kita untuk meluruskan tradisi-tradisi penyambutan dan perayaan tahun baru Hijriyah yang “salah” itu :

Adapun langkah-langkah yang dapat kita lakukan antara lain :

1.Menanamkan akidah Islamiyah yang murni secara benar berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, bersih dari sifat Taqlid, bid’ah, Khurafat dan syirik.

2.Memasyaratkan pengertian dan pemahaman bulan Muharram/tahun baru Hijriyah secara benar kepada masyarakat melalui ceramah, diskusi, majelis ta’lim, dan sebagaimana secara intensif.

3.Mengadakan acara atau kegiatan yang agamis –positif bersamaan dengan hari tersebut  sebagai jurus kita untuk mengurangi atau membendung arus masyarakat yang akan melakukan upacara atau kegiatan yang bersifat hura-hura, mubadzir dan maksiat.

4.Memberi contoh langsung kepada masyarakat dengan cara melaksanakan hajatan pada bulan Muharram sehingga masyarakat tahu, sadar dan yakin bahwa bulan Muharrom bukanlah bulan yang angker dan tabu untuk melaksanakan keperluan.

5.Menghilangkan pemahaman masyarakat yang salah terhadap  bulan muharram atau tradisi-tradisi seputar penyambutannya kemudian meluruskannya sesuai ajaran Islam.

Perlu disadari bahwa tugas tersebut bukanlah , yang mudah, singkat dan ringan.Tetapi merupakan tugas berat, sukar dan membutuhkan waktu panjang.Tentu saja untuk dapat melakukan tugas tersebut dibutuhkan kemauan, keyakinan, keberanian, ketekunan, kesabaran, ketegaran serta proses yang panjang.Apalagi masalah ini menyangkut sikap mental, pola pikir dan perilaku manusia yang sudah tertanam kuat sejak lama.Tetapi apakah kita akan berdiam diri dan bersembunyi, sementara kebodohan, kemubadziran, kemungkaran dan kemusyrikan ada di depan kita?

Iklan

Tentang Eyang Surur

Peduli semua
Pos ini dipublikasikan di MUHARRAM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s