IBNU RUSYD, SEJARAH HIDUP DAN KRITIKNYA TERHADAP AL GHAZALI

IBNU RUSYD, SEJARAH HIDUP DAN KRITIKNYA TERHADAP AL GHAZALI

  1. Pendahuluan

Di antara kitab-kitab yang sangat populer dalam dunia filsafat Islam bahkan dalam lingkungan filsafat Kristen di zaman pertengahan adalah “Tahafut al-Falasifah” karya Imam al Ghazali dan kitab “Tahafut-Tahafut” karya Ibn Rusyd. Dua kitab tersebut sangat erat kaitannya sehingga  yang satu tidak disebut tanpa lainnya, terutama kitab yang terakhir ini yang di dalamnya Ibn Rusyd menangkis serangan  al Ghazali paragraph demi paragraph. Kitab yang pertama ditulis pada tahun 484 H, sedangkan kitab yang kedua ditulis lebih kurang seratus tahun sesudah itu.

Al Ghazali, dalam khatimah “Tahafut al-Falasifah” dengan uslub dialogis mengkafirkan para filosof dan keharusan hukuman – hukuman mati bagi siapa yang menganut aqidah mereka itu. Karena mereka menyimpang dalam tiga perkara : (1) pandangannya tentang keqadiman alam, dan bahwa semua jauhar itu qadim juga, (2) pandangannya bahwa pengetahuan Tuhan itu tidak menjangkau  “al Juziat al hadisah min al asykhas, partial yang merupakan ciptaan baru dari suatu komponen dan, (3) pandangannya tentang kebangkitan rohani dan jasad dan penghimpunannya kelak di akhirat.[1]

Pandangan – pandangan al-Ghazali seperti yang disebutkan di atas mendapat sanggahan/kritikan dari Ibn Rusyd sekaligus sebagai pembelaan terhadap filosof, dalam karyanya yang terkenal “Tahafut al-Tahafut”.

Uraian mengenai sanggahan Ibn Rusyd pandangan – pandangan tersebut dan pembelaan terhadap para filosof menjadi sangat menarik karena akan menyuguhkan kejelasan mengenai kedudukan filsafat dalam pemikiran Islam. Pemikiran folosofis al-Ghazali cenderung untuk disepakati mempengaruhi belahan Timur  Dunia Islam sampai dewasa ini dan dituding sebagai biang keladi redupnya kreatifitas dan dinamika dalam berfilsafat. Sementara itu pemikiran filosofis Ibn Rusyd mulai diselidiki dan disepakati mempunyai pengaruh yang tidak kecil dalam pemikiran Barat sejak abad pertengahan.

Memang Ibn Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur dikarenakan beberapa sebab. Pertama, tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diedarkan serta dilestarikan , sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat  filsafat dan filosof. Kedua Eropa pada zaman  Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibn Rusyd, sedangkan di Timur ilmu dan flsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistik dan keagamaan. Sebenarnya dia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama-agama memenangkan pertikaian itu di Timur , dan ilmu memenangkannya di Barat.[2]

Dalam pembahasan makalah berikut ini, permasalahan dibatasi dengan mengacu pada kritikan/bantahan Ibn Rusyd terhadap tuduhan al-Ghazali, terhadap pemikiran-pemikiran filosof, yaitu masalah kekekalan alam, masalah Tuhan tidak mengetahui rincian yang terjadi di alam ini, dan masalah kebangkitan tidak dengan jasmani. Namun sebelumnya didahului dengan uraian tentang Ibn Rusyd secara ringkas beserta karyanya.

  1. Riwayat Hidup Ibn Rusyd

Nama lengkapnya Ibn Rusyd ialah Muhamad Ibn Muhamad Ibn Rusyd[3] lahir di Cordova pada 520 H/1126 M. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu Fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia.[4] Latar belakang keagamaan inilah yang memberinya kesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam  studi-studi keislaman . Al-Qur’an beserta penafsirannya, Hadist Nabi, Ilmu Fiqh, bahasa dan Sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari gurunya masing-masing, disamping teologi Islam, dan ilmu-ilmu lainnya seperti : matematika, astronomi, logika, fisika, kedokteran serta filsafat.

Di antara gurunya tempat mendapatkan pendidikan di kota kelahirannya, disebutkan seperti belajar  hadist dari Abul Qasim, Abu Marwan Ibn Massarat dan Abu Abdullah Marzi, belajar fiqh dari Hafidz Abu Muhamad Ibn Rizqi, belajar ilmu ketabiban dari Abu Ja’far. Lingkungan keilmuan dan keluarganya sejalan dengan kecerdasan dan ketekunannya, memberi peluang baginya untuk menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan di bidang sastra, hukum, teologi, filsafat dan ketabiban.[5]

Ibn Rusyd hidup dalam suasana politik yang sedang berkecamuk, yaitu pada saat pemerintahan Almurafiah yang digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy pada tahun 543 H/1148 M yang setahun kemudian menaklukkan Cordova.[6] Golongan Almuhadiah yang dipimpin Ibn Turmat menyatakan diri sebagai gerakan al-Mahdi. Gerakan itu berusaha mengikuti jejak golongan Fatimiah yang berhasil mendirikan kekaisaran di Mesir yang diwarnai semangat berfilsafat, penafsiran astronomi dan astrologi, dengan tiga orang pewarisnya Abd al-Mu’min, Abu Ya’cub dan Abu Yusuf yang kepada mereka Ibn Rusyd pernah mengabdi karena semangat berilmu dan berfilsafat yang cukup terkenal.[7]

Latar belakang keluarga yang berkecimpung di bidang ilmu, ditambah dengan proses belajar dan lingkungan masyarakat yang gandrung kepada berbagai ilmu itu, sudah barang tentu mewarnai dan mendorang Ibn Rusyd menjadi seorang ilmuan yang menyebabkan ia dipercayai menduduki jabatan yang sesuai dengan keahliannya. Keilmuan yang tinggi dan prestasi yang memuaskan dapat mengilhami untuk menulis berbagai buku dalam berbagai bidang ilmu baik tulisan asli maupun ringkasan dan ulasan dari buku-buku yang ditulis oleh ilmuan sebelumnya.

Semasa hidupnya Ibn Rusyd pernah memegang jabatan penting, diantaranya pada tahun 1169 M/560 H ia diangkat menjadi hakim di Sevilla dan kemudian di Cordova pada tahun 1171 M/ 567 H. dan pada tahun ini, ia banyak menulis buku terutama tentang filsafat, pada tahun 1182 M Ibn Rusyd dipanggil ke Marokko untuk diangkat sebagai dokter pribadi Khalifah Abu Yakub, dan kemudian diminta kembali ke Cordova untuk memangku jabatan hakim Agung.[8]

Sebagai ilmuan Ibnu Rusyd lebih menonjol dalam bidang hukum Islam, kedokteran, dan filsafat. Keahliannya dalam ilmu fiqh ( hukum Islam) membawanya dalam kedudukan sebagai hakim pada beberapa kota sebagaimana yang disebutkan di atas, dan keahliannya di bidang kedokteran membawanya pada kedudukan sebagai dokter istana. Adapun keahliannya di bidang filsafat menjadikannya sebagai orang yang dekat dengan Khalifah dan mempunyai pengaruh yang besar di kalangan istana. Oleh karena itu ia mendapatkan penghargaan yang tinggi dari khalifah Abu Yacub Yusuf Al-Mansur untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles.[9]

Kedudukan yang tinggi dan terhormat sebagaimana yang diungkapkan di atas, ternyata membawa resiko yang besar bagi diri Ibn Rusyd, ia tidak disenangi oleh ulama dan fuqaha. Ia dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam.[10]Khalifah terpaksa memenuhi permintaan dan tuduhan itu. Dengan mempersona non gratakan Ibn Rusyd dan dikurung disuatu kampung Yahudi bernama Alisanah, sebagai akibat fitnahan dan tuduhan telah keluar dari Islam yang dilancarkan oleh golongan penentang Filsafat, yaitu fuqaha dan ulama.[11]

Setelah beberapa orang terkemuka dari kota Siville dapat meyakinkan Khalifah tentang kebersihan diri Ibn Rusyd dari tuduhan dan fitnahan tersebut, baru dapat dibebaskan. Akan tetapi tidak lama kemudian fitnahan dan tuduhan dilemparkan lagi pada diri Ibn Rusyd sebagai akibatnya pada kali ini ia diasingkan ke negeri Maghribi ( Maroko ). Buku-buku karangannya semua di bakar, terutama buku-buku filsafat, kecuali buku-buku kedokteran, astronomi dan matematika. Akhirnya Ibn Rusyd wafat tanggal 10 Desember 1198 M bertepatan dengan tanggal 9 Shafar th. 595 H dalam usia 72 tahun dan dimakamkan di Maroko.[12] Tiga bulan kemudian jenazahnya dipindahkan di Cordova. Keranda dan sisa-sisa bukunya diangkut kiri kanan punggung seekor keledai. Ahli tasawuf terkenal Muhyiddin Ibn Al Arabi (w.1240), menghadiri pemakamannya kembali, bungkusan buku-buku diimbangi oleh mayat.[13]

  1. Karya-Karyanya

Ibn Rusyd seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah putus membaca dan menela’ah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal  dalam perkawinan dirinya.

Lebih jelas lagi dalam kitab at-Takmilah, Ibn al-Abbar melukiskan pribadi Ibn Rusyd sebagai berikut:  Abul Walid Muhamad Ibn Ahmad Ibn Ahmad Ibn Rusyd tidak pernah lahir di Andalus seorang insane yang sebanding dengannya dalam kesempurnaan, ilmu dan keutamaan. Kendatipun disegani dan dimuliakan, ia sangat rendah diri terhadap orang lain. Sejak kecil sampai tua, ia menaruh minat kepada ilmu, sehingga diriwayatkan bahwa ia tidak meninggalkan bernalar dan membaca sejak mulai berakal, kecuali malam meninggal ayahnya dan malam membina keluarganya ( malam perkawinan ). Ia menulis mengulas dan meringkaskan  kira-kira sepuluh ribu lembar kertas. Ia gemar kepada ilmu orang-orang dulu, sehingga menjadi imamah (pimpinan) dalam zamannya. Fatwanya dalam ilmu kedokteran dan ilmu fiqh menjadi pegangan orang, di samping pengetahuannya yang luas dalam bahasa dan sastra Arab.[14]

Ungkapan tersebut menunjukan bahwa Ibn Rusyd adalah seorang ulama dan sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan zamannya yang tercermin dalam pelbagai judul kitab yang ditulisnya. Karangannya meliputi berbagai ilmu seperti fiqh, usul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak dan filsafat. Tulisannya adakalanya merupakan karangan sendiri, ulasan atau ringkasan.

Menurut Ernest Renan, seorang peneliti sarjana Perancis telah berusaha mencari buku-buku karangan Ibn Rusyd di pelbagai perpustakaan di Eropa. Di perpustakaan Eskurial di Madrid, ia telah menemukan suatu daftar buku-buku karya Ibn Sina, al-Farabi dan Ibn Rusyd. Dalam daftar tersebut ia menemukan karya Ibn Rusyd sebanyak 78 judul, baik dalam bidang filsafat, kedokteran, fiqh maupun teologi.[15] dengan rincian dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

28  judul dalam ilmu filsafat

20 judul dalam ilmu kedokteran

8 judul dalam ilmu hukum Islam (fiqh)

5 judul dalam ilmu kalam ( teologi )

4 judul dalam ilmu buntang ( astronomi )

2 judul dalam ilmu sastra Arab

11 judul dalam perbagai ilmu pengetahuan lain.

Buku – buku tersebut hampir semuanya dalam bahasa latin dan Ibrani yang merupakan terjemahan dari buku-buku asli yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian buku-buku asli telah hilang, kecuali sepuluh buah dalam ilmu filsafat, tiga buah dalam ilmu kedokteran, tiga buah dalam ilmu hukum dan dua buah dalam ilmu kalam.

Diantara buku-buku Ibn Rusyd yang terkenal dan sampai kepada kita adalah :

  1. Bidayatul Mujtahid, dalam ilmu fiqh;

Buku ini bernilai tinggi, karena berisi perbandingan mazhab (aliran-aliran) dalam fiqh dengan menyebutkan alasan masing-masing.

  1. Fashlul Maqal bi ma bainal Hikmah.. wa Syari’ah min al ittishal, dalam ilmu kalam . Buku ini ., dimaksudkan untuk menunjukan adanya persusuaian antara filsafat dengan syari’at, dan sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1895 M. Oleh Muller, ahli ketimuran Jerman.
  2. Manahij al-Adillah fil aqaid al-Millah, juga dalam ilmu kalam.

Buku ini menguraikan tentang pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahan-kelemahannya, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Muller tersebut pada tahun 1895 juga.

  1. “Tahafut al-Tahafut”, suatu buku yang terkenal dalam lapangan filsafat dan ilmu kalam, dan dimaksudkan membela filsafat dari serangan al-Ghazali dalam bukunya “tahafit al-Falasifah”.

Buku “tahafut at-Tahafut” berkali-kali diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh Van den Berg terbitan tahun 1952.[16]

  1. Dalam Ilmu Kedokteran, al-Kulliyat

Bahan yang terpenting dalam buku ini, suatu kenyataan ilmiah yang oleh ilmu kedokteran modern dibenarkan dan ditegaskan kebenarannya, bahwa penyakit cacar tidak mendatangi seseorang dua kali, dan menjelaskan pula tugas selaput jala mata.[17]

Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Rusyd disamping sebagai ahli hukum, filosof, dokter juga dikenal sebagai penulis yang produktif pada zamannya. Bahkan hampir separoh dari umurnya dipenuhi oleh karya-karya yang bermunculan, sejak ia berumur 36 tahun sampai dengan 70 tahun. Tulisan-tulisan tersebut hampir tiap tahun dihasilkan oleh Ibn Rusyd.

Untuk jelasnya, sebagian hasil karya Ibn Rusyd  yang ditulis berdasarkan tahapan umurnya, dapat disebutkan sebagai berikut :

–          Pada umur 36 tahun ia menulis “ Al Kulliyat bit tib”

–          Pada umur 43 tahun ia menulis “Syarh ash Shogir lil Juziyat walhayawan”

–          Pada umur 44 tahun ia menulis “Syarh al-Wasit lit Tabi’ah wat-Tahlilat”

–          Pada umur 45 tahun ia menulis “Syarh as-Sama wal-Alam”

–          Pada umur 49 tahun ia menulis “Syarh al-Shogir lil Fashohah uzs Syi’ri lima ba’da at-Tabi’ah

–          Pada umur 51 tahun ia menulis “Syarh al-Wasit lil Akhlak”

–          Pada umur 53 tahun ia menulis “Ba’du Ajzai mim madah al-Ajram”

–          Pada umur 54 tahun ia menulis “Al-Kasyf an manahij al Adillah”

–          Pada umur 61 tahun ia menulis “Syarh al-Kabir lit-Tobi’ah.”

–          Pada umur 68 tahun ia menulis “Syarh Chalinus”.

–          Pada umur 70 tahun ia menulis “Al Mantiq.[18]

Itulah sebagian dari karya Ibnu Rusyd yang dapat diungkapkan berdasarkan dan informasi sejarah, tentu saja yang belum sempat dicatat masih banyak.

  1. Kritikan/Bantahan Ibnu Rusyd Terhadap Tuduhan al-Ghazali.

Sebagaimana diketahui bahwa Imam al-Ghazali mengkafirkan para filosof dalam tiga masalah (1)  Kekadiman alam, (2) Allah tidak mengetahui hal-hal yang kecil-kecil (juziyat) dan (3) pengingkaran kebangkitan dan pengumpulan jasad hari kiamat.[19]

  1. Kaqadiman Alam

Mengenai masalah alam qadim, antara kaum teologi dan kaum filosof, memang terdapat perbedaan tentang artiالأحداث dan قديم  . Bagi kaum teolog  “al-ihdas” mengandung arti menciptakan dari tiada, sedang kaum filosof kata itu berarti menciptakan dari “ada”. Adam (tiada), kata Ibn Rusyd tidak bisa dirubah menjadi wujud (ada).

Yang terjadi adalah wujud berobah menjadi wujud dalam bentuk lain. [20]Demikian juga kaum teolog, qadim mengandung arti sesuatu yang berwujud tanpa sebab. Bagi kaum filosof qadim tidak mesti mengandung arti hanya sesuatu yang berwujud tanpa sebab tetapi boleh juga berarti “sesuatu yang berwujud dengan sebab” dengan kata lain sungguhpun ia disebabkan ia boleh bersifat qadim, yaitu tidak mempunyai permulaan dalam wujud Qadim, dengan demikian, adalah sifat bagi sesuatu yang dalam kejadian kekal, kejadian terus menerus yaitu kejadian yang tidak bermula dan tak berakhir.[21]

Dalam pemikiran al-Ghazali , sewaktu Tuhan menciptakan alam , yang ada hanya Tuhan. Tidak ada sesuatu yang lain disamping Tuhan ketika Ia menciptakan alam. Terhadap pemikiran al –Ghazali tersebut Ibn Rusyd mengajukan bantahannya, bahwa sewaktu Tuhan menciptakan alam sudah ada sesuatu disamping Tuhan. Dari sesuatu yang telah ada dan diciptakan Tuhan, itulah Tuhan menciptakan alam. Untuk memperkuat bantahannya Ibn Rusyd mengemukakan beberapa ayat dalam al-Qur’an.

Artinya: Dan Dialah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari dan tahtaNya (pada waktu itu) berada di atas air, agar Ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (Hud : 7)

Ayat tersebut, menurut Ibn Rusyd menjelaskan bahwa sewaktu Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada sesuatu di samping Tuhan, yaitu air.

Artinya : Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa keduanya menjawab: kami datang dengan suka hati (Fushshilat :11).

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit telah ada uap disamping Tuhan. Dalam memberi komentar ayat yang terakhir ini Ibn Rusyd mengatakan : ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa langit diciptakan dari sesuatu. Pendapat kaum teolog tidak sesuai dengan arti lahir ayat mereka dalam hal ini sebenarnya memakai ta’wil. Disini terjadi perbedaan penafsiran ayat. Kaum filosof termasuk Ibn Rusyd mengambil arti lafdzi, sedangkan bagi kaum teolog termasuk al-Ghazali mengambil bentuk pengertian dalam arti ta’wil.

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum bumi dan langit diciptakan, telah ada benda lain, yaitu air dan uap, jadi bukan diciptakan dari tiada, oleh karena itu alam ini dalam arti unsurnya bersih kekal dari zaman lampau yaitu qadim.

B. Tuhan tidak mengetahui perincian (juziyat)

Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang di langit dan yang di bumi, baik sebesar zarrah sekalipun adalah suatu hal yang telah digariskan dengan jelas dalam al-Qur’an, sehingga telah merupakan consensus dalam kalangan umat Islam. Hanya bagaimana Tuhan mengetahui hal-hal yang parsial ( juziyat ) terdapat perbedaan jawaban yang diberikan.[22]

Terhadap tuduhan al-Ghazali, bahwa Tuhan tidak mengetahui princian yang ada dalam alam ini, Ibn Rusyd mengatakan bahwa al-Ghazali salah faham, karena tidak pernah kaum filosof mengatakan  yang demikian.[23] Menurut Ibn Rusyd Tuhan mengetahui sesuatu dengan zatNya pengetahuan Tuhan tidak bersifat juz’I maupun bersifat kulli, sebagaimana manusia, pengetahuan Tuhan tidak mungkin sama dengan manusia[24], karena pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari wujud, sedangkan pengetahuan manusia adalah akibat.[25]

Selanjutnya pengetahuan manusia bersifat baharu dan pengetahuan Tuhan bersifat qadim, yaitu semenjak awal Tuhan mengetahui segala hal-hal yang terjadi di alam, sungguh betapun kecilnya.[26]

Jadi, bagi Ibn Rusyd bahwa Tuhan tidak mengetahui peristiwa-peristiwa kecil/perincian, artinya Tuhan tidak mengetahui perincian itu dengan ilmu baru, dimana syarat ilmu baru itu dengan kebaharuan peristiwa/perincian tersebut, karena Tuhan menjadi sebab (illat) bagi perincian tersebut, bukan menjadi akibat (musabbab ) dari padanya seperti  halnya dengan ilmu baru, ilmu Tuhan bersifat qadim tidak berubah, karena perubahan peristiwa. Ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian Tuhan Yang Maha Mengetahui segala-galanya.

  1. Kebangkitan jasmani tidak ada

Dalam kitab Tahafutul Falasifah, al-Ghazali menunjukan kepada filosof yang mengatakan bahwa di akhirat nanti manusia akan dibangkitkan kembali dalam wujud rohani, tidak dalam wujud jasmani. Atas dasar kepercayaan ini, mereka dan para penganut pendapat tersebut dianggap kafir oleh al-Ghazali, karena dalam al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa manusia akan mengalami berbagai kenikmatan jasmani nanti di surga.

Tentang masalah pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tidak menyebut – nyebut hal itu. [27]Semua agama menurut Ibn Rusyd mengakui adanya hidup kedua di akhirat sungguhpun ada perbedaan pendapat mengenai bentuknya.[28] Namun, perlu disadari maksud pokok dari Syari’at adalah menghimbau manusia untuk selalu melakukan perbuatan terpuji dan meninggalkan perbuatan jahat sehingga ajaran yang dibawa oleh agama harus sesuai dengan tanggapan dan pemikiran orang awam. Karena itu, kebangkitan di akhirat harus disampaikan dalam wujud jasmani. Untuk itu, Ibn Rusyd dalam kitabnya “Tahafut al-Tahafut” mengemukakan firman Allah yang maksudnya perumpamaan surga bagi orang-orang muttaqin disisi Allah, sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Dan juga sabda Rasulullah saw. Artinya : Di dalammya ( surga ) terdapat apa yang tidak pernah mata melihat dan telinga mendengar  serta tidak pernah tergores dalam kalbu manusia. Ini berarti kata Ibn Rusyd – bahwa dalam surga, manusia tidak dalam wujud jasad, dan apa yang diajarkan al-Qur’an tentang surga dan isinya harus difahami secara metafora. Demikian pula Ibn Abbas mengatakan bahwa tidak akan dijumpai di akhirat hal-hal yang bersih keduniaan kecuali nama saja, hidup di akhirat lebih tinggi dari hidup di dunia.[29]

Dalam pada itu, Ibn Rusyd juga mengkritik al-Ghazali, karena dalam beberapa tulisannya terjadi kontradiksi. Tulisannya dalam buku Tahafut al Falasifah bertentangan dengan apa yang ia tulis dalam bukunya mengenai tasawuf. Dalam buku Tahafut al Falasifah, al-Ghazali mengatakan tidak ada orang Islam yang berpendapat adanya pembangkitan jasmani, sedangkan dalam buku tentang tasawuf ia menerangkan bahwa dalam pendapat kaum sufi yang ada nanti ialah pembangkitan rohani, bukan pembangkitan jasmani, tak dapat dikafirkan. Apalagi al-Ghazali mendasarkan pengkafirannya pada ijma’ ulama.[30]

Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pertentangan antara Ibn Rusyd (kaum filosof) dengan al-Ghazali (kaum Teolog) berkisa sekitar interprestasi tentang ajaran-ajaran dasar Islam, bukan tentang terima atau tolaknya ajaran-ajaran dasar itu sendiri. Baik Ibn Rusyd ( kaum filosof ) maupun al Ghazali ( kaum teolog ) tetap mengakui Tuhan sebagai pencipta alam diciptakan. Hanya yang menjadi permasalahan ialah, apakah semenjak azal Tuhan menciptakan sehingga alam dengan demikian menjadi qadim, ataukah Tuhan menciptakan tidak semenjak azal, sehingga alam bersifat baru. Kaum filosof ( Ibn Rusyd ) berpendapat Tuhan menciptakan semenjak qidam sedangkan kaum teolog ( al Ghazali ) tidak semenjak qidam. Kedua fihak mengakui adanya hari perhitungan dan yang di permasalahkan adalah apakah yang menghadapi perhitungan itu roh atau tubuh, ataukah hanya roh manusia saja. Menurut kaum filosof ( Ibn Rusyd ) hanya roh, sedangkan menurut kaum teolog ( al-Ghazali ) tubuh dan roh. Kedua golongan sama-sama mengakui bahwa T uhan mengetahui perincian ( juziyat ) dan yang dipersoalkan kaum filosof cara Tuhan mengetahui yang juhalziyat itu.

Jelas kiranya yang terdapat disini hanyalah perbadaan ijtihad, dan perbedaan ijtihad itu lumrah dalam Islam, tidak membawa kepada kekafiran. Bahkan Nabi bersabda yang artinya “ Jika seorang benar dalam ijtihadnya ia mendapat dua pahala, dan jika salah, mendapat satu”.

Demikianlah, semoga makalah yang diajukan dan didiskusikan bersama ini bermanfaat bagi kita semua. Amin walhadulillah Rabbil ‘Alamin.

DAFTAR BACAAN

  • Al-Ghazali, Imam, Tahafut al-Falasifah, Tahqiq Sulaiman

Dunia, Kairo, Dar al-Ma’arif, 1966

  • Bakker, JMW, Sejarah Filsafat Islam, Yogyakarta Kanisius, 1978
  • Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986
  • Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang 1969
  • Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Taqiq Sulaiman Dunia, Mesir, Dar-al-Ma’arif 1968
  • Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973
  • Syarif, MM (edt), Para filosof Muslim, ( terjemahan ), Bandung, Penerbit Mizan, 1985
  • ——————, Alam Fikiran Islam, ( terjemahan ), Bandung, Penerbit Diponegoro, 1979.

[1] Al-Ghazali, Tahafut al-falasifah, Tahqiq Sulaiman Dunia, Kairo, Dar al Ma’arif, 1966, hal. 307-308

[2] M.M. Syarif, Para Filosof Muslim, (terjemahan), Bandung, Penerbit Mizan, 1985,hal.202.

[3] Harun Nasution, Filsafat dan mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985, hal. 47

[4] M.M. Syarif, op.Cit.,hal. 199

[5] Ibrahim Zaki, dkk.Dairotul Ma’arif al-Islamiyah, Kairo, Maktaba’ah as-Saqafiah, 1962, hal. 98

[6] M.M.Syarief, op.Cit.,hal 197.

[7] Ibid., hal. 200

[8] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1986, hal. 154.

[9] M.M.Syarif, op. Cit., hal.200.

[10]Harun Nasution, Op.Cit., hal. 47

[11] A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1969, hal 178

[12] Muhammad Lutfy Jama’ah, Tarikh Falasifah al-Islam, Mesir, Matba’ah al-Ma’arif, 1927, hal 114.

[13] JMW.Bakker Sy,Sejarah filsafat Dalam Islam, Yogyakarta, Kanisius, 1978, hal. 73-74

[14] Ahmad Daudy, Op.Cit., hal. 155.

[15] Muhammad Lutfy Jam’ah, Op.Cit., hal. 147

[16] A.hanafi, Op.Cit., hal. 179

[17] M.M.Syarif, Alam pikiran Islam (terjemahan), Bandung, penerbit Diponegoro, 1979, hal. 94

[18] Muhammad Lutfy Jam’ah, Op.Cit., hal. 94

[19] Ahmad Fuad Al-Ahwany, Dalam segi-segi  Pemikiran Filsafat Dalam Islam, Ahmad Daudy (edt.)Jakarta, Bulan Bintang, 1984, hal. 66

[20] Ibn Rusyd, Tahafut at-Tahafut, Tahqiq Sulaiman Dunia, kairo, Dar al Ma’arif, 1964, hal. 362

[21] Harun Nasution, Op.Cit., hal. 53

[22] Ahmad Daudy, Op.Cit., hal. 176.

[23] Harun Nasution, Op.Cit.,hal. 53.

[24] Ibrahim zaki, Op.Cit.,hal. 171

[25] Ibn Rusyd, Op.Cit., hal. 711

[26] Harun Nasution, Op.Cit., hal . 53

[27] Ibn Rusyd, Op.Cit., hal.864.

[28] Ibid., hal. 866

[29] Ibid.,hal. 870.

[30] Ibid.,hal.873-874, Harun Nasution, Op.Cit. hal. 53-54

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s