HAL-HAL YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT

HAL-HAL YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT

Syekh Utsmaini menjelaskan bahwa maksud dari Firman Alloh SWT Surat an-Najm : 39)

وأن ليس للإنس إلا ما سعى

“Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya “ adalah

Bahwa seseorang itu tidak berhak atas hasil usaha orang lain, sebagaimana seseorang juga tidak akan menanggung beban dosa orang lain sedikitpun.Bukan bermaksud bahwa pahala dari usaha orang lain tidak dapat sampai kepadanya (mayit), berdasarkan banyak nash-nash (baik al-Qur’an atau hadits) yang menerangkan bahwa pahala dari usaha orang lain bisa sampai kepada seseorang dan bermanfaat baginya apabila diniatkan untuk nya.Diantaranya sebagai berikut :

1.Doa

Doa yang ditujukan untuk mayit akan bermanfaat baginya, berdasarkan nash-nash dari al-Qur’an, hadits dan ijma’ kaum muslimin.

Alloh SWT telah berfirman kepada nabi SAW :

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنت

“….dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan…”(QS.Muhammad : 19)

Alloh SWT juga berfirman,

والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رءوف رحيم (10)

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa,”Ya rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, Sesungguhnya engkau Maha penyantun lagi maha penyayang.”(QS.al-Hasyr : 10)

            Yang dimaksud dengan “Orang-orang yang telah beriman lebih dahulu” adalah kaum muhajirin dan Anshor.Sedangkan “orang-orang yang datang sesudah mereka” adalah para tabi’in dan generasi setelah mereka (seterusnya)sampai datang hari kiamat.

            Telah shahih dari Rasulullah SAW bahwa beliau menutup (kedua mata ) Abu Salamah SAW setelah kematiannya sambil berdoa :

اللهم اغفر لأبي سلمة, وا فع درجته في المهديين, واخلفه في عقبه، وافسح له في قبره, ونورله فيه”

 “Ya Alloh, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dari golongan Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk), gantikanlah ia (dengan yang lain) untuk keluarganya (yang ia tinggalkan), lapangkanlah dan terangilah untuknya di dalam kuburnya.

            Dan bahwa Rasulullah SAW menyalati jenazah kaum muslimin serta mendoakannya.Beliau juga menziarahi pekuburan dan mendoakan para penghuninya.Hal ini diikuti oleh umat beliau.Sehingga hal itu menjadi perkara yang amat dimaklumi dari agama Islam.

            Dan telah shahih dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda :

وما من رجل مسلم يموت, فيقوم على جنازته أربعون رجلا لا يشركون با لله شئا, إلا شفعهم الله فيه”

Tidaklah seorang muslim meninggal, kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun, melainkan Alloh akan akan menerima syafa’at mereka untuknya.

            Dan ini tidak  bertentangan dengan hadits :

“إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : إلا من صدقة جارية , أو علم ينتفع به, أو ولد صالح يدعوله

“Jika seorang mati maka terputuslah amal-amalnya kecuali dari tiga hal : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.”(Diriwayatkan oleh Muslim)

Karena yang dimaksud dalam hadits ini ialah amal orang itu sendiri bukan amal orang lain (yang dihadiahkan) untuknya.Adapun doa anak shalih dijadikan sebagai bagian dari amalnya, karena anak itu merupakan hasil jerih payahnya, sebab ia (sebagai orangtua) merupakan sebab adanya si anak.Jadi seolah-olah doa si anak untuk orang tuanya itu seperti doa si orangtua itu untuk dirinya sendiri.Berbeda halnya dengan doa dari selain anak untuk saudaranya (sesame muslim) sebab itu bukan merupakan hasil jerih payahnya meskipun doa tersebut bermanfaat untuknya.Jadi perkecualian dalam hadits tersebut terkait putusnya amalan si mayit itu sendiri, bukan terputusnya amalan orang lain (yang dihadiahkan) untuknya.Oleh sebab itu (Nabi SAW) tidak mengatakan,

“انقطع العمل له”

“Terputus seluruh amal untuknya”, tetapi beliau mengatakan,

“انقطع عمله”

“Terputus amalnya”.Dan antara kedua ungkapan tersebut terdapat perbedaan yang jelas.

2.Shadaqah atas nama si Mayit

Dalam shahih Bukhari dari Aisyah RA:

أن رجلا قال للنبي صلعم “إن أمي افتلتت نفسها (ماتت فجأة) و أظنها لو تكلمت تصدقت, فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال نعم”

Ada seorang laki-laki berkata  kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya ibuku mati mendadak dan saya kira kalau beliau sempat bicara niscaya dia akan bershadaqah.Apakah ibuku akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah atas nama beliau ? “Rasulullah SAW menjawab,” Ya.”

            Muslimpun meriwayatkan yang serupa dari hadits Abu Hurairah RA.Dan shadaqah itu murni merupakan ibadah maliyyah (harta).

3.Puasa atas nama mayit

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda,

“من مات و عليه صيام صام عنه وليه”

Barangsiapa yang mati dan punya tanggungan puasa wajib, maka walinya (ahli warisnya) menggantikannya berpuasa.

Alloh SWT berfirman,

وأولواالأرحام بعضهم أولى ببعض فى كتب الله إن الله بكل شئ عليم

Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Alloh.Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.”(QS.Al-anfaal : 75)

Dan berdasarkan hadits nabi SAW:

“ألحقوا الفرائض بأهلها, فما بقي فهو لأولى رجل ذكر”

“Berikanlah warisan itu kepada yang berhak (ahli waris).Dan apa yang tersisa maka diberikan kepada orang laki-laki paling dekat (kepada mayyit).”(Muttafaqun ‘alaih)

Dan puasa itu murni merupakan ibadah badaniah.

4.Haji atas nama orang lain

Dalam Shahihain (al-Bukhari dan muslim) dari ibnu Abbas RA:

أن امرأة من خثعم قالت : “يا رسول اللة ، إن فريضة الله على عباده في الحج أدركت أبي شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة أفأحج عنه؟ ” قال : “نعم”

Bahwa seorang wanita dari kabilah Khats’am berkata, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Allah telah mewajibkan para hamba-Nya untuk berhaji.Tapi aku mendapati ayahku sudah tua renta lagi tidak bisa tegak (duduk) diatas tunggangan (kebenaran) .Bolehkah saya mewakilinya berhaji?” Rasulullah SAW menjawab ,” Ya (boleh).

            Dan itu terjadi pada haji Wada’.

Dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Abbas RA,

أن امرأة من جهينة قالت للنبي صلعم :”إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت, أفأ حج عنها؟”قال :”نعم, حجي عنها, أرأيت  لو كان على أمك دين أكنت قاضية؟ اقضوا الله, فا الله أحق بالوفاء”

Bahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah berBahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah berkata kepada Nabi SAW,”Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk haji, namun ia belum sempat berhaji hingga wafatnya.Apakah aku boleh mewakilinya berhaji?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, berhajilah mewakilinya,Apa pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, bukankah kamu akan melunasinya? Tunaikanlah (hutang kepada) Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditunaikan (hutang) kepadanya.”

            Jika dikatakan, ini kan  amal si anak untuk orangtuanya, sedangkan amal si anak termasuk amal orangtuanya sebagaimana dalam  hadits yang lalu,

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث

Dimana dalam hadits ini doa anak untuk orangtuanya dianggap sebagai amal orang tua.Hal ini dapat dijawab dari dua sisi/sudut.

Pertama : bahwa Nabi SAW tidak menjelaskan alasan dibolehkannya si anak berhaji mewakili orangtuanya hanya karena dia itu sebagai anaknya.Tidak pula mengisyaratkan demikian.Bahkan dalam hadits terkandung peniadaan alasan tersebut.Karena nabi SAW menyamakan dengan urusan pelunasan hutang yang bisa dilakukan oleh anaknya atau orang lain.Dan beliau SAW menjadikan hal itu sebagai alasan (sebab) utama, yakni melunasi sesuatu yang bersifat wajib (hutang) atas nama si mayit.

Kedua:Telah datang dari nabi SAW apa yang menunjukkan kebolehan berhaji mewakili orang lain meskipun bukan anaknya.Dari ibnu Abbas RA bahwa nabi SAW mendengar seorang laki-laki berkata

(لبيك عن شبرومة), “Kupenuhi panggilan-Mu (ya Allah) untuk (mewakili) Syubrumah.”Nabi SAW bertanya ,”siapa Syubrumah itu?” ia menjawab ,”Saudaraku atau kerabatku.”Nabi SAW bertanya,”Apakah kamu sudah haji untuk dirimu sendiri?” Laki-laki itu pun menjawab,”Belum.”Lalu Nabi SAW bersabda,”Haji dulu untuk dirimu kemudian baru untuk Syubramah.”

            Di kitab “Bulughul Maram”(Ibnu Hajar) berkata,”Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah.”Dan dalam kitab “al-furu” (IbnuMuflih) mengatakan ,” sanadnya jayyid (baik), Imam Ahmad berhujjah dengannya dari (jalur)periwayatan Shahih.Namun di lain kesempatan beliau merajihkan bahwa hadits tersebut mauquf (hanya sampai sahabat).Jika yang marfu’ (Hadits yang disandarkan kepada nabi SAW) itu shahih maka boleh dijadikan hujjah, jika tidak maka itu adalah perkataan sahabat yang tidak didapati ada (sahabat lain) yang menyelisihinya, sehingga ia menjadi hujjah dan dalil yang menunjukkan bahwa amalan ini  termasuk perkara yang dimaklumi kebolehannya menurut mereka (para sahabat).Kemudian telah shahih hadits ‘Aisyah RA tentang puasa,

“من مات وعليه صيام صام عنه وليه”

“Barangsiapa yang mati dan punya tanggungan puasa wajib, maka walinya (ahli warisnya)menggantikannya berpuasa.”

            Yang dimaksud wali adalah ahli waris, baik anak ataupun bukan.Dan apabila hal ini dibolehkan untuk amalan puasa, sementara puasa itu murni merupakan ibadah badaniah, maka untuk haji (yang merupakan amalan ibadah) yang disertai dengan harta lebih utama dibolehkan.

5.Berqurban atas nama orang lain

            Telah tersebutkan dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Anas bin Malik RA berkata :

“ضحى النبي صلعم بكبشين أملحين أقرنين, ذبحهما بيده, وسمى وكبر,ووضع رجله على صفاحهما”

Nabi SAW pernah berqurban dengan dua ekor domba putih yang bertanduk.Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, mengucapkan basmalah dan takbir, serta meletakkan kaki beliau ditepi badan kedua domba tersebut.

Imam ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ RA, bahwa nabi SAW bila hendak berqurban beliau membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk dan berwarna putih.lalu beliau menyembelih salah satunya sambil berkata,”Ya Alloh, (Qurban) ini atas nama umatku semua, yaitu siapapun yang telah mempersaksikan keesaan-Mu dan mempersaksikan aku sebagai penyampai (risalah)”.Kemudian beliau menyembelih yang kedua sambil berkata,”(Qurban) ini atas nama Muhammad dan keluarga Muhammad.”

            (Al-Haitsami) berkata dalam majma’ Az-Zawaid,”Sanadnya hasan.”Sementara (Ibnu Hajar) tidak menghukuminya dalam kitab at-Talkhish.

Berqurban adalah ibadah badaniyah yang bertopang pada harta.Dan nabi SAW telah berqurban atas nama keluarga serta seluruh umatnya, dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu akan bermanfaat bagi orang-orang yang diperuntukkan kepadanya Qurban tersebut serta pahalanya akan sampai kepada mereka.Sebab jika tidak demikian, maka tidak ada gunanya Qurban yang diatasnamakan untuk mereka.

6.Pembalasan orang yang dianiaya terhadap orang yang menganiaya, dengan mengambil (pahala) amal shalehnya (yang menganiaya).

Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa nabi SAW bersabda,

من كانت عنده مظلمة لأخيه فليتحلله منها, فإنه ليس ثم دينار ولا درهم, من قبل أن يؤخد لأخيه من حسناته, فإن لم يكن له حسنات أخذ من سيءات أخيه فطرحت عليه”

“Barangsiapa yang pernah melakukan suatu kezhaliman terhadap saudaranya maka hendaklah ia (segera) meminta dimaafkan (dihalalkan) darinya, karena nanti disana (hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham , sebelum diambil (pahala) kebaikan-kebaikannya untuk (diberikan kepada) saudaranya itu.Jika ia tak memiliki kebaikan-kebaikan maka (dosa) keburukan-keburukan saudaranya akan diambil lalu dilemparkan (ditimpakan) kepadanya.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW pernah bertanya (kepada para sahabat),

أتدرون ما المفلس”؟

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut (Pailit) itu ?”

Mereka (sahabat) menjawab,

المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع

“Orang yang bangkrut (pailit) diantara kami adalah orang yang tak punya dirham dan harta benda apapun.”Maka Nabi SAW bersabda,

ان المفلس من امتي يأتي يوم القيامة بصلاة و صيام و زكاة, ويأتي قد شتم هذا, وقدف هذا, وأكل مال هذا, وسفك دم هذا , وضرب هذا,

فيعطى هذا من حسناته, وهذا من حسناته, فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخد من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار”

“Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat  dengan membawa (pahala) sholat, puasa, dan zakat.Namun diapun datang (dalam keadaan )pernah mencaci orang , menuduh orang, memakan harta orang (tanpa hak), menumpahkan darah orang dan memukul orang .Maka (pahala) kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada setiap orang (yang ia zhalimi) itu.Jika kebaikannya telah habis sementara belum tergantikan (kezhaliman) yang ada padanya maka akal diambil (dosa ) keburukan-keburukan dari setiap orang (yang ia zhalimi) itu lalu dilimpahkan kepadanya kemudian ia pun dicampakkan ke dalam neraka.”

Apabila kebaikan-kebaikan itu dapat dicabut pahalanya dari pelakunya (untuk dialihkan ) kepada orang lain sebagai pembalasan (atas kezalimannya terhadap orang lain itu) tentu hal itu menjadi bukti bahwa (pahala) kebaikan-kebaikan itu bisa dialihkan dari pelakunya kepada orang lain dengan cara menghadiahkannya.

7.Beberapa manfaat lainnya (yang diperoleh seseorang ) melalui amal orang lain.

            Seperti diangkatnya derajat keturunan di Surga ke derajat (yang sama dengan derajat) bapak-bapak mereka, ditambahkannya pahala (shalat) berjama’ah sesuai banyaknya jumlah, sahnya sholat orang yang bersendiri dengan bergabungnya orang lain dalam shaf bersamanya, serta (dihasilkannya) keamanan dan pertolongan dengan adanya orang-orang , sebagaimana (diriwayatkan) dalam shahih muslim dari Abu Burdah dari bapaknya (Abu Musa RA) bahwa nabi SAW menengadahkan kepalanya ke langit dan adalah beliau  SAW sering menengadahkan kepalanya ke langit-, lalu beliau SAW bersabda,

النجوم أمنة للسماء, فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد, وأنا أمنة لأصحابي, فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يو عدون, وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون”

“Bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit, dimana bila bintang-bintang tiada (dengan berjatuhan) tibalah bagi langit apa yang telah dijanjikan (terbelah pada hari kiamat).Dan aku adalah pengaman bagi para sahabatku, dimana bila aku tiada (wafat) tibalah bagi para sahabatku apa yang dijanjikan (dengan munculnya fitnah-fitnah).Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku, dimana bila mereka telah tiada (wafat) tibalah bagi umatku apa yang dijanjikan (dengan munculnya bid’ah-bid’ah dalam agama).

Dan dalam Shahih Muslim pula dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda :

“يأتى على الناس زمان يبعث منهم البعث فيقولون: انظروا هل تجدون فيكم أحدا من أصحاب النبي صلعم فيوجد الرجل فيفتح لهم به, ثم يبعث البعث الثالث فيقال : انظروا هل ترون فيهم من رأى من رأى أصحاب النبي صلعم , ثم يكون البعث الرابع فيقال : انظروا هل ترون فيهم أحدا رأى من رأى أحدا رأى أصحاب النبي صلعم فيوجد الرجل فيفتح لهم به”

“Akan tiba kepada manusia suatu masa dimana akan diutus sekelompok orang dari mereka lalu  mereka berkata, “lihatlah apakah kalian mendapati salah seorang sahabat nabi SAW diantara kalian ?’ maka didapatilah satu orang, yang kemudian dengan sebabnyalah mereka memperoleh kemenangan.Kemudian diutuslah kelompok yang kedua, lalu mereka berkata,” apakah ada diantara kalian orang yang pernah berjumpa sahabat nabi SAW ?”(maka didapatilah satu orang) , yang kemudian dengan sebabnyalah mereka mendapat kemenangan.Kemudian diutuslah kelompok yang ketiga lalu dikatakan ,’’ lihatlah apakah ada diantara mereka seseorang yang pernah berjumpa orang yang berjumpa sahabat nabi SAW? ‘(Maka didapatilah satu orang  yang kemudian dengan sebabnyalah mereka diberi kemenangan), kemudian diutuslah kelompok yang keempat, lalu dikatakan , Lihatlah apakah ada diantara mereka seseorang yang pernah berjumpa dengan orang yang pernah berjumpa dengan seorang sahabat nabi SAW?’ maka didapatilah satu orang, yang kemudian dengan sebabnyalah mereka diberi kemenangan.

            Jika telah jelas bahwa seseorang bisa mendapat manfaat melalui perantaraan orang lain serta amal orang lain, maka diantara syarat untuk memperoleh manfaat tersebut (yang harus dipenuhi) adalah bahwa ia termasuk diantara golongannya yaitu (bahwa) ia adalah seorang muslim.Adapun orang kafir maka tidak akan memperoleh manfaat dari amal shalih yang dihadiahkan kepadanya, lagi pula memang tidak boleh dihadiahkan kepadanya, sebagaimana tidak boleh didoakan untuknya kebaikan dan dimintakan ampunan baginya .Alloh SWT berfirman,

ماكان للنبي والذين ءامنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحب الجحيم (113)

Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka , bahwa orang-orang musryik itu adalah penghuni neraka jahannam.”(QS. At-taubah : 113)

Dinukil dari fatawa No 250 Kitab Majmu’ Fatawa Wa Rasail ibnu Utsamain, Juz 17 halaman 256-262.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s