HUKUM PADUSAN JELANG RAMADHAN

Bagaimana Hukum ‘Padusan’ Jelang Ramadhan?

krjogja.com

Suasana padusan di Umbul Ingas, Klaten, Jawa Tengah.
A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, assalamualaikum

ustad menjelang puasa di Jawa khususnya ada tradisi ‘padusan’ yaitu mandi sehari sebelum ramadhan. itu dalam islam hukumnya bagaimana ya?

Adi Yogya

Jawaban:
Padusan berasal dari kata dasar adus, yang artinya mandi dengan maksud penyucian diri agar dapat menjalani peribadahan di bulan suci Ramadhan dalam kondisi suci. Padusan dilakukan dengan adus kramas, mandi besar, untuk menghilangkan hadast besar dan kecil.

Pada awalnya, padusan dapat dilakukan dimanapun dengan menggunakan air suci dan yang menyucikan. Dengan demikian tidaklah perlu untuk melakukan padusan harus di suatu belik atau sumber air tertentu, harus memakai air tujuh rupa, air tujuh sumber dll.

Di Sumatera Barat juga dikenal Balimau yang dalam bahasa Minang berarti mandi dengan disertai keramas merupakan salah satu tradisi yang selalu hadir mewarnai datangnya bulan puasa.

Dalam perkembangannya saat ini, tradisi ini telah dilakukan oleh banyak kaum muslimin secara salah kaprah. Terjadi berbagai kemungkaran serius dalam melakukan tradisi ini, antara lain:

i.Meyakini padusan sebagai sebuah kewajiban agama yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Padahal tidak ada dalil syar’i dari Al-Qur’an, hadits Nabi SAW, dan contoh dari para shahabat.

ii.Banyak orang yang meyakini bahwa padusan harus dilakukan di tempat yang wingit, angker ataupun bertuah. Praktek ini bisa dirasuki oleh unsur khurafat dan rawan mengarah kepada syirik.

iii.Padusan massal berbau wisata dan maksiat di tempat-tempat umum seperti umbul, telaga, kolam renang, pantai, dan lokasi-lokasi lain yang bisa digunakan umum untuk mandi bersama; laki-laki dan perempuan, tua dan muda,yang bukan mahram, yang berenang, mandi, telanjang bulat, dan membuka (baca:mempertontonkan aurat) di muka umum. Ini merupakan kemungkaran besar yang melicinkan jalan bagi perzinahan.

Dari Abu Hurairah R.A dari Nabi SAW bersabda: “Telah ditulis bagi manusia bagian dari dosa zina, dan ia tidak bisa menghindarinya. Zina kedua mata adalah dengan melihat (hal yang diharamkan syariat untuk dilihat). Zina kedua telinga adalah mendengarkan (hal yang diharamkan oleh syariat untuk didengar). Zina lisan adalah dengan berbicara (hal yang diharamkan untuk dibicarakan). Zina tangan adalah dengan memegang (hal yang diharamkan untuk dipegang). Zina kaki adalah dengan melangkah (ke arah yang diharamkan). Zina hati adalah dengan berangan-angan dan menginginkan (hal yang diharamkan). Sedangkan kemaluan akan merealisasikannya atau membatalkannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dengan lafal Muslim).

Na’udzu billah, kita berlindung kepada Allah dari semua kemungkaran tersebut.

Ust. Tajuddin Pogo,Lc,MH

http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/ustadz-siaga/12/07/19/m7cogm-bagaimana-hukum-padusan-jelang-ramadhan diakses tgl 8/7/2013 jam 3.49

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s