SEMARAK LABUHAN PANTAI CONGOT

 

 

Emang unik  acara labuhan di pantai Congot waktu pagi hari tanggal satu syuro 1435 H, bagaimana tidak unik jika banyak orang dari berbagai penjuru tempat berdatangan ke pinggir pantai Congot untuk menyaksikan acara tersebut, Banyak orang mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek nenek ada disitu berdesak-desakkan mendekati rombongan orang yang hendak melakukan labuhan.

Mobil-mobil dan motor-motor dan sepeda ontel memenuhi jalanan menuju pantai dan otomatis menjadi lahan parkir, termasuk TPI alias tempat pelelangan ikanpun menjadi lahan parkir, terpaksa warga sekitarpun jadi juru parkir.

Bayangkan sejak pagi hari pukul 03.00 mobil, motor, sepeda ontel hingga pejalan kaki, tiada hentinya menuju ke pantai Congot, padahal malam itu suara pementasan wayang juga masih terdengar , pementasan wayang dan ruwatan digelar tiap malam satu syuro  di kawasan Gunung lanang bayeman, yang sore harinya dihadiri juga dihadiri Bupati, wakil bupati maupun anggota DPRD.

Masyarakat berduyun-duyun seakan menemukan hiburan baru, bisa menikmati kebersamaan bersama banyak orang, bahkan berdesak-desakan untuk menyaksikan labuhan, setelah itu ikut memperebutkan barang-barang yang dilarung ke laut.

Banyak orang datang ke tempat tersebut sekedar hiburan, untuk mengobati rasa penat, juga memanfaatkan liburan tahun baru hijriyah 1435 H, apalagi di tempat tersebut juga bisa ditemui orang yang berjualan, bisa jajan dong.

Suara adzan subuh dan lalu lalang orang jalan menuju ke Masjid , mushola, atau surau juga ikut meramaikan pagi hari itu, sejak pukul 04.00 hingga 04.30, kaum muslimin menjalankan sholat subuh.

Dan puncak keramaian jalanan menuju ke pantai setelah sholat subuh menjadi semakin meningkat, kemungkinan selesai sholat subuh kemungkinan lain karena sudah bangun dan tertarik juga mendengar banyak kendaraan menuju pantai.

Dan pada pukul 05.00 hingga 05.30 pinggir pantai jadi semakin ramai serombongan orang mengarak barang-barang ada kendang dan perangkat musik lainnya juga nampan-nampan berisi tumpeng, juga hasil bumi lainnya seperti pisang , melon, bahkan ada bermacam bunga, dan juga ada dua kepala kerbau, dan setelah ada upacara doa berbahasa Jawa dilanjutkan dengan melemparkan barang-barang tersebut ke laut, dan sebagian warga ikut merebutkannya.Uang receh juga ikut dilempar-lempar hingga jatuh ke tanah diperebutkan warga, para warga senang memperebutkannya.Betul-betul hiburan yang gratis.

masyarakat datang ke tempat tersebut memang murni mencari hiburan, bukan untuk yang lain semisal mengalap berkah, mencari jimat  ataupun membuang sial, masyarakat zaman sekarang  sudah tidak percaya dengan hal-hal berbau mistik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s