Bertawasul dengan peninggalan Para Nabi

aaa

Perhatikan Firman Alloh Swt dalam surah al-baqarah /2 : 248 :
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya :”Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”. (QS.al.baqarah/2 : 248)

Tafsir ayat :
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan dalam tarikh, Ibnu Jarir berkata tentang tabut ini, “Ketika mereka berperang melawan salah satu musuh, maka tabut ini ada bersama mereka yang berada di Qubbah zaman, sebagaimana disebutkan.Mereka berharap kemenangan dengan berkah tabut ini dan karunia Alloh yang terdapat di dalamnya yang berupa ketenangan serta sisa dari peninggalan keluarga Musa dan Kelurga Harun.
Namun, ketika mereka sedang berperang melawan penduduk Gaza dan Asqalan, mereka dikalahkan oleh penduduk Gaza dan Asqalan ini, dan memaksa mereka untuk merampas tabut, sehingga tabut ini terlepas dari tangan mereka.
Ibnu Katsir berkata,”mereka mengalahkan musuh-musuh mereka dengan sebab tabut ini.Dalam tabut terdapat baskom yang terbuat dari emas yang dipakai untuk membasuh dada para nabi.(Al-Bidayah, 2/8)
Ibnu katsir mengatakan dalam tafsirnya,”di dalamnya terdapat tongkat musa, tongkat Harun, dua papan dari Taurat dan baju harun.Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa didalamnya terdapat tongkat dan dua sandal.”
Al-Qurtubi mengatakan,” tabut ini adalah tabut yang diturunkan Alloh kepada Adam AS.Tabut ini ada bersama Adam hingga akhirnya sampai ke tangan Ya’kub AS.Tabut ini dibawa oleh Bani Israil sehingga dengannya mereka dapat meraih kemenangan ketika melakukan peperangan.Kemudian ketika mereka durhaka, mereka meremehkan tabut sehingga mereka dikalahkan oleh musuh mereka dan Tabut ini diambil darinya”(Tafsir al-Qurtubi, 3/247)
Semua ini pada hakekatnya, tidak lain merupakan bentuk bertawasul dengan peninggalan-peninggalan para nabi.Jadi, tidak ada makna lain dalam penggunaan tabut dalam perang-perang mereka kecuali alasan tersebut.Dan Alloh SWT meridhai itu semua, dengan dalil bahwa Alloh SWT akan mengembalikan tabut kepada mereka dan menjadikannya sebagai tanda dan alamat atas kebenaran datangnya Raja Thalut dan perilaku ini tidak diingkari.
Dalam manaqib Fatimah binti Asad, Ibu Ali bin Abi Thalib, disebutkan bahwa ketika Fatimah binti Asad ini meninggal dunia, maka Rasulullah SAW menggali liang kuburnya dengan tangan beliau sendiri, dan mengangkat tanahnya dengan tangan beliau sendiri.Ketika sudah selesai , maka Rasulullah SAW masuk dan berbaring didalamnya, seraya mengucapkan,”Ya Alloh, yang menghidupkan dan mematikan.Dialah Dzat yang maha hidup, yang tidak mati, berilah ampunan untuk Ibu Fatimah binti Asad, tuntunlah hujjahnya, luaskanlah tempat masuknya, dengan (hak) kebenaran nabi-Mu dan para nabi yang sebelumku, sesungguhnya engkau adalah Dzat yang maha mengasihi.”Kemudian nabi membaca takbir empat kali dan memasukkannya ke liang lahat bersama Abbas dan Abu bakar as-Shidiq.Hadis ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.Didalamnya sanadnya terdapat nama Ruh bin shalah, yang dianggap tsiqqah oleh ibnu Hibban dan Al Hakim.Kedua Hafidz ini menganggap hadits ini sahih.Demikian pula Al-Haitami dalam majmu’ Az-Zaawaid, yang mengatakan bahwasanya perawi-perawinya adalah sahih.Hadist ini juga diriwayatkan oleh Ibnu abdul Barr dari Ibnu Abbas dan oleh Ibnu abu syaibah dari Jabir serta diriwayatkan oleh Ad-Dailami dan Abu Na’im.Sanad-sanadnya saling menguatkan antara satu dengan lainnya dengan kuat dan teliti.
Ibrah
Dari keterangan hadis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa para nabi yang digunakan untuk bertawassul oleh Nabi Muhammad SAW kepada Alloh SWT mereka semua telah meninggal dunia, maka inilah yang menjadi dasar diperbolehkannya bertawassul kepada Alloh SWT dengan hak (bil haq) dan ahli hal (bi ahlil haq), baik masih hidup maupun sudah meninggal dunia.Termasuk dengan peninggalan-peninggalan mereka, seperti tabut yang disebutkan dalam ayat diatas.Wallahu A’lam.(b 260-2-13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s