PENANGANAN HEWAN QURBAN

PENANGANAN HEWAN QURBAN
Melalui pelaksanaan ibadah Qurban, menjadi momentum besar untuk mendorong masyarakat peternak Indonesia bangkit memberikan kontribusi nyata dalam upaya menggerakkan perekonomian nasional dan pemenuhan konsumsi gizi masyarakat (protein) terutama dari sector peternakan.Upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan ibadah Qurban sebagai perintah Alloh untuk meningkatkan Iman dan Takwa kita kepada Alloh, serta kepada fakir miskin, sehingga pelaksanaannya sudah semestinya dilaksanaka berdasarkan pada tuntunan secara Syar’I dan memperhatikan factor-faktor kesehatan sebagai berikut:
I.Dasar Hukum
1.Undang-undang no.18 tahun 2009, tentang peternakan dan kesehatan Hewan.
2.Peraturan Pemerintah No.15 Tahun 1977, tentang Penolakan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan
3.Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1983, tentang kesehatan Veteriner.
II.Persyaratan Hewan Qurban
1.Hewan sehat:
a.Tidak cacat misalnya tidak pincang, tidak buta, telinganya tidak rusak, gemuk, tidak kurus serta ekornya tidak terpotong.
b.Lubang alami (mulut, hidung, anus, telinga, mata, kelamin) terlihat bersih dan normal tidak ada gejala sakit, seperti keluar lender, atau cairan lender, atau cairan tubuh lainnya secara tidak sadar.
c.Mata cerah bersinar
d.Kulit halus mengkilat tidak kusam berdiri(Njegrik).
e.Umur hewan untuk Qurban
2.Domba atau kambing yang telah berumur satu tahun atau lebih (yang telah berganti gigi/poel)
3.Sapi/kerbau yang telah berumur minimal 2 tahun atau yang telah berganti gigi.Penentuan umur kambing/domba dapat dilakukan dengan memperhatikan pergantian gigi pertama menjadi gigi terasah.
III.Syarat Penyembelih (Modin)
1.Laki-laki muslim dewasa(baligh)
2.Sehat jasmani dan rohani serta mengetahui prinsip dasar Qurban
3.Memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis dalam penyembelihan secara halal yang baik dan benar
IV.Syarat Peralatan
1.Pisau yang digunakan harus tajam, cukup panjang.
2.Bersih, tidak berkarat.
3.Peralatan pendukung:Ember, plastic, wadah, talenan, pisau dan seluruh peralatan yang kontak dengan daging maupun jeroan harus bersih, dan senantiasa dijaga kebersihannya.
V.Syarat Sarana
1.Kandang penampung sementara harus bersih, kering dan mampu melindungi hewan dari panas matahari dan hujan.Pada kandang tersebut, tersedia pula air minum bersih dan pakan yang cukup untuk hewan.
2.Tempat penyembelihan harus kering dan terpisah dari sarana umum.
3.Lubang penampung darah berukuran:
Panjang 0,5 M x lebar 0,5 M xkedalaman 1 M untuk tiap 10 ekor kambing.Sedangkan untuk 10 ekor sapi, panjang 1m x lebar 0,5 m x panjang 1m
4.Tersedia air bersih untuk mencuci peralatan dan membersihkan jeroan.
5.Jeroan yang telah dicuci, untuk lebih menjamin kebersihannya dan tampak segar, bersih dan keset dapat dicelupkan dalam air mendidih selama 2-3 menit, kemudian ditiriskan dan disiram dengan air secukupnya.
6.Tersedia tempat khusus untuk penanganan daging dan penanganan jeroan yang harus terpisah antara keduanya, serta selalu dijaga kebersihannya.
7.Tempat penanganan tersebut diatas perlu dijaga agar tidak terkena sinar matahri langsung, artinya harus membuat peneduk/pelindung (tratakan), sehingga daging tidak rusak oleh karena air hujan dan terik matahari.
VI.Perlakuan pada hewan sebelum disembelih
1.Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan atau pemeriksaan antemortem dilaksanakan oleh dokter hewan atau paramedic kesehatan hewan dibawah pengawasan dokter hewan.
Pemeriksaan Ante Mortem/pemeriksaan sebelum hewan Qurban dipotong, secara awam mencakup:
2.Cek recordingnya, jika ada.
3.Pemeriksaan seluruh lubang alami hewan Qurban (normal : tidak keluar lender/ingus berlebih/berbau busuk,suhu normal, warna pink/tidak merah/merah kebiruan).
4.Cek apakah anus kotor dan periksa kotorannya apakah lembek(diare).
5.Mata cerah, reflek bagus.
6.Periksa kecepatan nafasnya (normal 30-40 kali permenit).
7.Periksalah kondisi kulitnya (normal:halus, mengkilat tidak kusam, berkoreng, kotor, dan berdiri/jegrik).
8.Periksa cara berjalan (normal dan tidak pincang).
9.Performance bagus, gemuk (bagian pantat padat berisi daging, bagian tulang punggung dan tulang iga padat tertutup daging).
10.Hewan diperlakukan secara baik dan wajar dengan memperhatikan azas kesejahteraan hewan, agar hewan tidak stress, tersiksa, terluka dan sakit,
11.Hewan diistirahatkan sekurang-kurangnya 3 hari sebelum disembelih
12.Hewan diberi pakan dan minum yang cukup, dan dipuaskan 12 jam sebelum dipotong, agar isi rumen berkurang, dan darah dapat keluar maksimal dan daging tidak cepat busuk karena kadar glikogen tinggi, serta kadar darah dalam daging rendah.
13.saat penyembelihan, hewan direbahkan secara hati-hati, tidak dengan paksa dan kasar, agar hewan tidak stress, takut, tersiksa dan tersakiti/terluka, serta tidak menimbulkan resiko bagi penyembelih.
VII.Tata Cara Penyembelihan
1.Penyembelihan dilakukan menurut syariat islam, serta memperhatikan persyaratan teknis hygiene dan sanitasi.
2.Hewan disembelih dilehernya dengan sekali memutuskan/memotong tiga saluran, yaitu (a)saluran nafas (trakea/hulqum) ,(b)saluran makanan (esophagus/mar’i), (c)Pembuluh darah(wadajain)
3.Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan benar-benar mati.
4.Hewan yang telah disembelih digantung pada kaki belakangnya agar pengeluaran darah berlangsung sempurna, kontaminasi silang dapat dicegah dan memudahkan penanganan.
5.Saluran makanan dan anus diikat dengan tali agar isi lambung dan usus tidak mencemari daging.
6.Pengulitan hewan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, diawali dengan membuat sayatan pada bagian tengah sepanjang kulit dada dan perut, dilanjutkan dengan sayatan pada bagian medial kaki.
7.Isi rongga dada dan rongga perut dikeluarkan secara hati-hati agar dinding lambung dan usus tidak tersayat atau terobek.
8.Organ dalam/jeroan (hati, jantung, paru-paru, limpa, ginjal, lidah) dan jeroan hijau (lambung, usus, esophagus dan lemak) dipisahkan.
9.Pemeriksaan kesehatan daging(karkas), jeroan dan kepala setelah penyembelihan atau pemeriksaan postmortem dilaksanakan oleh dokter hewanb atau paramedic kesehatan hewan dibawah pengawasan dokter hewan.
Prinsip Pemeriksaan Setelah Hewan Qurban di Sembelih (Post Mortem):
1.Pemeriksaan daging:Hewan Qurban yang telah dikuliti, diperiksa, perhatikan warnanya (normal : merah segar), dan konsistensi (normal : kenyal/tidak terlalu lembek dan terlalu keras).
2.Pemeriksaan organ dalam:
a.Periksa konsistensinya semua organ dalam
b.Secara normal organ tidak terlalu lembek dan keras serta tidak rapuh
c.Ukuran normal tidak terjadi radang/labuh
d.Warna merah segar, tidak merah kehitaman atau kebiruan/memar
e.Sayat seluruh organ dalam secukupnya untuk mengecek kondisi dalam organ tersebut kemudian cek organ satu persatu.
3.Periksa warna (secara normal merah segar)
4.Sayat hati, apakah terdapat cacing hati (berbentuk daun 1-2 cm), atau ada cairan/eksudat berwarna kuning dan atau keras terdapat pengapuran.
5.Sayat trakea, bronkus sampai paru-paru.Secara normal tidak ada cacing paru, tidak berlendir berlebihan, tidak terdapat cairan atau gumpalan merah/biru pada paru-paru.Secara normal paru merah agak pucat dan ringan,.
6.Sayat jantung
7..Sayat limpa yang normal limpa merah tua.
8.Sayat ginjal, cek apakah ada pengapuran
9.Ingat: jika terdapat kelainan organ tersebut segera laporkan kepada petugas dokter hewan atau mantra setempat untuk mendapatkan saran, sehingga organ tersebut aman dikonsumsi dan terhindar penularan penyakit dari hewan tersebut kepada para penerima hewan Qurban.
10.Daging segera dipindahkan ke tempat khusus untuk penanganan lanjut.
11.Ingat…!!!daging segera dipisahkan tempatnya dengan pengelolaan jeroan.
12.Jeroan dicuci dengan air bersih, dan limbah cucian tidak dibuang pada selokan, sungai/kali.Lebih baik kotoran tersebut dimasukkan dalam lubang tempat penyembelihan diatas lalu ditutup lagi dengan tanah .Jeroan yang telah bersih dicuci, untuk lebih menjamin kebersihannya dan tampak segar, bersih dan keset dapat dicelupkan dalam air mendidih selama 2-3 menit, kemudian ditiriskan dan disiram dengan air secukupnya.

VIII.Penanganan Daging Qurban Yang Higeinis
1.Petugas yang menangani daging harus senantiasa menjaga kebersihan tangan, tempat dan pakaian.
2.Cucilah tangan dengan sabun dan air bersih sebelum menangani daging, setelah keluar dari kamar mandi/toilet, jika tangan terkena/memegang kotoran atau bahan-bahan yang kotor, misalnya setelah menyentuh rambut, muka, mulut. Lubang telinga, lubang hidung, setelah menggaruk, sebelum dan setelah makan.
3.Daging harus selalu terpisah dari Jeroan (jangan disatukan dan bercampur).Tempat penyimpanan, penanganan dan pemotongan menjadi potongan daging, dan jeroan harus terpisah, mengingat jeroan lebih banyak mengandung kuman dibandingkan dengan daging.
4.Daging dan Jeroan yang ditangani harus selalu dicegah terhadap pencemaran dari tangan manusia yang kotor, air yang kotor, peralatan (pisau, talenan, meja, wadah) yang kotor, lalat, atau serangga lainnya dan alas daging yang kotor.
5.Alas plastic atau wadah daging dan jeroan harus bersih dan senantiasa dijaga kebersihannya.
6.Jika memang perlu daging ditimbang dengan timbangan yang bersih, untuk mengetahui jatah masing-masing penerima hewan Qurban).
7.Bagikan potongan daging dalam kantong/wadah yang bersih dan terpisah dari jeroan.
8.Usahakan daging dan Jeroan tidak dibiarkan tersimpan pada suhu ruang/kamar (25-30° C) lebih dari 4 jam.Daging dan jeroan harus disimpan pada lemari pendingin (suhu dibawah 4°C) atau dibekukan.
IX. Penyaluran Hewan Qurban
1.Setelah daging Qurban di bungkus dalam wadah/plastic, siap didistribusikan kepda yang berhak
2.Penyaluran hewan Qurban seyogyanya dilaksanakan secepatnya, karena untuk menghindari kerusakan daging Qurban

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s