Wanita Renta Tinggal Sebatang Kara

Wanita Renta Tinggal Sebatang Kara

Dohar Franklin Sianipar

28/11/2010 07:15

Liputan6.com, Padang Lawas: Siti Tirawan hidup seorang diri. Nenek yang diperkirakan berusia 130 tahun itu tinggal sebatang kara di Desa Aek Barumun, Sosa, Padang Lawas, Sumatra Utara, seperti ditemui SCTV, baru-baru ini.

Tak hanya sebatang kara, Siti Tirawan juga hidup dalam kemiskinan. Untuk makan sehari-hari, dia mendapat dari belas kasih para tetangga.

Sebagai bentuk syukur atas sedekah orang lain, Siti Tirawan membalasnya dengan memberi pelajaran agama. Dia mengaku mendapat ilmu agama saat belajar di pesantren.

Tak banyak aktivitas yang dilakukan Siti Tirawan. Setiap hari dia terlihat berjalan kaki menuju sumur untuk mengambil air. Sang nenek berharap, pemerintah bisa peduli lagi dengan rakyat miskin. Apalagi, saat ini banyak orang yang tak peduli dengan kaum papah.(ULF)

http://berita.liputan6.com/sosbud/201011/308744/Wanita.Renta.Tinggal.Sebatang.Kara diakses tgl 5-12-2010 jam 23.00

Banyak Orang Miskin Terlupakan

Banyak Orang Miskin Terlupakan

Suhatman Pisang dan Wahyudi
Kondisi Mirza Gunawan.

01/05/2010 16:02 | Kemiskinan

Banyak Orang Miskin Terlupakan  

Suhatman Pisang dan Wahyudi


Kondisi Mirza Gunawan.
01/05/2010 16:02 | Kemiskinan

Liputan6.com, Tanjungjabung Timur: Hanya berbaring ke kiri dan kanan jika ingin tidur telentang, Mirza Gunawan bocah yang tinggal di Tanjungjabung Timur, Jambi, merasa tidak sanggup. Ini lantaran ia menderita pembengkakan kelenjar lendir di sekitar pantat.

Saat SCTV menjenguk, baru-baru ini, kondisi bocah berusia delapan tahun itu memburuk. Kakinya mengecil dan praktis tidak mampu beraktivitas. Bahkan, beberapa syaraf mati di sekitar pantat Mirza. Dia memang ditangani rumah sakit umum daerah, namun peralatan terbatas, jadilah Mirza mendapat perawatan seadanya. Kesedihan yang ditambah karena biaya berobat harus dibayar.

Di bagian lain negeri ini, kemiskinan masih menyergap sebagian besar warganya. Tepatnya di Kendal, Jawa Tengah. Siapa pun pasti miris dengan bayi bernama Misbahul. Ia seperti korban perang, kurus hanya tulang berbalut kulit.

Saat bernapas pun, Misbahul sangat menderita. Penderitaan yang tidak diinginkan kedua orangtua Misbahul yang hanya buruh tani, kepedihan yang semakin menyesakkan karena jatah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sudah habis. Artinya, orangtua Misbahul harus mencari biaya untuk buah hati mereka.

Mirza Gunawan dan Mizbahul, hanyalah potret buram kehidupan sebagian besar penduduk negeri ini. Kemiskinan yang berbaur dengan gemerlapnya pejabat negeri yang gemar korupsi. Korupsi yang merampas hak orang miskin.(ANS)

http://kesehatan.liputan6.com/berita/201005/275039/Banyak.Orang.Miskin.Terlupakan DIAKSES 5-12-2010 PUKUL 23.00

Bahasa Arab Dasar 40: Macam-Macam Lam

Bahasa Arab Dasar 40: Macam-Macam Lam

أَنْوَاعُ اللاَّمِ
(Macam-macam lam)

Macam-macam lam:

1. لاَمُ حَرْفِ الْجَرِّ

Contoh:

هَذَا الْكِتَابُ لِمُؤْمِنٍ (Buku ini milik seorang mu’min)

هَذَا الْكِتَابُ لِمُؤْمِنَيْنِ (Buku ini milik dua orang mu’min)

هَذَا الْكِتَابُ لِمُؤْمِنِيْنَ (Buku ini milik orang-orang mu’min)

2. لاَمُ كَيْ

Contoh:

خُلِقْتَ لِتَعْبُدَ اللهَ (Kamu diciptakan agar kamu menyembah Allah)

خُلِقْتُمَا لِتَعْبُدَا اللهَ (Kalian berdua diciptakan agar kalian berdua menyembah Allah)

خُلِقْتُمْ لِتَعْبُدُوْا اللهَ (Kalian semua diciptakan agar kalian semua menyembah Allah)

3. لاَمُ الْجُحُوْدِ

Contoh:

مَا كَانَ الْمُسْلِمُ لِيَشْرَبَ الْخَمْرَ (Tidaklah seorang muslim itu akan minum khomr)

مَا كَانَ الْمُسْلِمَانِ لِيَتَحَاسَدَا (Tidaklah dua orang muslim itu akan saling mendengki)

مَا كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ لِيَتْرُكُوْا الصَّلاَةَ (Tidaklah orang-orang muslim itu akan meninggalkan shalat)

4. لاَمُ الأَمْرِ

Contoh:

لِيَدْخُلْ فِى الْمَسْجِدِ (Hendaklah ia masuk ke masjid)

لِيَدْخُلاَ فِى الْمَسْجِدِ (Hendaklah mereka berdua masuk ke masjid)

لِيَدْخُلُوْا فِى الْمَسْجِدِ (Hendaklah mereka semua masuk ke masjid)

5. لاَمُ التَّوْكِيْدِ

Contoh:

لَيَدْخُلُ فِى الْمَسْجِدِ (Sungguh ia akan masuk masjid)

لَيَدخُلاَنِ فِى الْمَسْجِدِ (Sungguh mereka berdua akan masuk masjid)

لَيَدْخُلُوْنَ فِى الْمَسْجِدِ (Sungguh mereka semua akan masuk masjid)

Sumber dari

http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-40-macam-macam-lam.html diakses tgl 1-7-2012 jam 16.00 wib

Bahasa Arab Dasar 49: Naibul Fa’il

 

Bahasa Arab Dasar 49: Naibul Fa’il

 

نَائِبُ الفَاعِلِ
(Naibul Fa’il)

Naibul fa’il adalah isim marfu’ yang terletak setelah fi’il majhul untuk menunjukkan orang yang dikenai pekerjaan.

Contoh:

ضُرِبَ الْكَلْبُ (Anjing itu telah dipukul)

يُكْتَبُ الدَّرْسُ (Pelajaran sedang ditulis)

Ketentuan-ketentuan naibul fa’il

1. Naibul fa’il merupakan isim marfu’. Asal dari na’ibul fa’il adalah sebagai obyek (maf’ul bih) yang mempunyai I’rob nashob. Tatkala failnya dihapus, maka maf’ul bih menggantikan posisi fa’il yang mempunyai I’rob rofa’.

Contoh:

نَصَرَ زَيْدٌ مُحَمَّدًا (Zaid menolong Muhammad)

Tatkala fa’ilnya dihapus, menjadi:

نُصِرَ مُحَمَّدٌ (Muhammad ditolong)

2. Naibul fa’il harus diletakkan setelah fi’il. Apabila ada isim marfu’ yang terletak di depan /sebelum fi’il maka dia bukan naibul fa’il.

Contoh:

مُحَمَّدٌ نُصِرَ (Muhammad ditolong)

مُحَمَّدٌ bukan naibul fa’il. Hal ini karena ia terletak di depan fi’il.

Naibul fa’ilnya adalah berupa dhomir mustatir yang terdapat pada fi’il نُصِرَ yang taqdirnya adalah هُوَ

3. Fi’il yang dipakai adalah fi’il majhul.

Contoh:

ذَبَحَ مُحَمَّدٌ الْبَقَرَ (Muhammad menyembelih sapi)

مُحَمَّدٌ bukan sebagai na’ibul fail karena fi’il yang dipakai bukan fi’il majhul.

4. Fi’il yang dipakai harus selalu dalam bentuk mufrod

Contoh:

قُتِلَالْكَافِرُ (Seorang kafir itu telah dibunuh)

قُتِلَ الْكَافِرَانِ (Dua orang kafir itu telah dibunuh)

قُتِلَ الْكَافِرُوْنَ (Orang-orang kafir itu telah dibunuh)

5. Bila naibul fa’ilnya mudzakkar, maka fi’ilnya mufrod mudzakkar. Bila naibul failnya muannats maka fi’ilnya mufrod muannats.

Contoh:

نُصِرَ مُحَمَّدٌ

نُصِرَتْ مَرْيَمُ

يُضْرَبُ مُحَمَّدٌ

تُضْرَبُ مَرْيَمُ

6. Apabila susunan sebelum fa’ilnya dihapus menpunyai dua maf’ul bih (obyek), maka setelah failnya dihapus, maf’ul bih pertama menjadi naibul fail sedangkan maful bih kedua tetap manshub sebagai maf’ul bih.

Contoh:

مَنَحَ مُحَمَّدٌ الْفَقِيْرَ طَعَامًا (Muhammad memberi orang fakir itu makanan)

Tatkala fa’ilnya dihapus, maka fi’ilnya harus dirubah menjadi bentuk majhul. Kemudian maf’ul bih pertama ( yaitu الْفَقِيْرَ ) berubah menjadi naibul fail, sehingga I’robnya menjadi rofa’. Adapun maf’ul bih ke dua ( yaitu طَعَامًا )tetap manshub sebagai maf’ul bih.

مُنِحَ الْفَقِيْرُ طَعَامًا (Orang fakir itu diberi makanan)

Sumber :

http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-49-naibul-fail.html diakses tgl 1-7-2012 jam 13.00 wib

TINJAUAN MAQASHID ASY-SYARI’AH TERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA

TINJAUAN MAQASHID ASY-SYARI’AH TERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA

Skripsi/Undergraduate Theses from digilib-uinsuka / 2010-01-21 13:26:49
Oleh : ASNAWI – NIM. 04350018, Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dibuat : 2010-01-21, dengan 1 file

Keyword : perkawinan beda agama, tinjauan Maqashid Asy-Syari’ah

ABSTRAK
Dalam Islam, perkawinan dianggap sebagai lembaga suci dan sah untuk mengikat laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan untuk membina rumah tangga (keluarga) yang bahagia, kekal dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Di samping itu juga, Sedangkan dalam rumusan Pasal 1 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Mengingat pentingnya arti perkawinan dalam Islam, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan perwujudan tujuan perkawinan harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Beberapa hal yang berkaitan dengan perkawinan yang harus dipenuhi sebelum melangsungkan perkawinan yaitu di antaranya adalah meliputi syarat dan rukun perkawinan. Dalam Undang-Udang Perkawinan syarat sahnya perkawinan yaitu harus dilaksanakan terhadap pasangan seagama. Atas dasar tersebut penulis meneliti tentang asas hukum Yurisprudensi MA register No. 1400K/Pdt/1986 tentang kasus pernikahan beda agama dan meninjaunya dengan maqashid asy-syari’ah. 

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), di mana sumber datanya diperoleh dari pengumpulan data dan informasi melalui penelitian buku-buku yang relevan dengan pembahasan skripsi. Dalam penelitian ini penyusun menggunakan tipe penelitian deskriptif analitik yaitu dengan mengumpulkan data kemudian dari data tersebut disusun, dianalisis dan ditarik kesimpulan. Sedangkan pendekatan penelitian yaitu menggunakan pendekatan yuridis normatif. Pendekatan yuridis yaitu dengan menilik putusan hakim Mahkamah Agung RI, dengan seluruh perangkat peraturan perundangundangan yang ada di Indonesia terutama yang berkaitan dengan masalah yang penulis angkat. Sedangkan pendekatan normatif yaitu dengan mengkaji masalah dengan meninjaunya dengan konsep maqashid asy-syari’ah.

Hasil penelitiannya adalah bahwa asas hukum Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam memutuskan kasus pernikahan beda agama antara Andi Nonny Gani P. dengan Adrianus Petrus Hendrik Nelwan adalah kebebasan atau kemandirian. Di mana hakim Mahkamah Agung memiliki kebebasan untuk memutuskan tentang perkawinan beda agama tersebut dengan pertimbangan bahwa menurut hakim MA, UU Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan beda agama. Bahwa dalam Islam perkawinan adalah suatu ikatan yang suci untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, putusan Hakim Mahkamah Agung dalam Yurisprudensi register Nomor 1400K/Pdt/1986 dalam kasus pernikahan antara Andi Vonny Gani P. dengan Adrianus Petrus Hendrik Nelwan tidak sesuai dengan cita kemaslahatan yang ingin dicapai Islam. Yaitu terkait dengan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Pernikahan antara orang yang berbeda agama lebih banyak madlaratnya dibandingkan maslahatnya. Dengan demikian, Putusan Hakim Mahamah Agung tersebut adalah melenceng dari hakikat dan tujuan dasar syari’at Islam dalam bidang perkawinan.

Copyrights : Copyright (c) 2009 by Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserve

copy dari http://u1nsuk4.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka–asnawinim0-3241

diakses tgl 5-12-2010 jam 08.00

AL-THUYUR FI AL QURAN AL KARIM (DIRASAH FI QISHSHAH QURANIYAH)

AL-THUYUR FI AL QURAN AL KARIM (DIRASAH FI QISHSHAH QURANIYAH)

Skripsi/Undergraduate Theses from digilib-uinsuka / 2010-01-21 12:01:35
Oleh : LIAN NUR HIDAYATI – NIM. 05110046, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dibuat : 2010-01-21, dengan 1 file 

Keyword : kisah, al- Qur’an, karakteristik, peran, burung

ABSTRAK
Sebagai kitab suci umat Islam, al-Qur’an telah memberi tuntunan seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa kisah teladan yang mampu memberi jalan petunjuk dan keteladanan hidup manusia. Dari segi kesusastraannya, kisah dalam al Qur’an mempunyai banyak manfaat, yaitu kisah-kisah tersebut bisa merangsang pembacanya untuk terus mengikuti peristiwa dan pelakunya sehingga pembaca akan bisa menilai karakter tokoh dan peristiwa dalam kisah tersebut. Kisah juga mempunyai pengaruh yang cukup luas dari kalangan masyarakat, tua muda, terpelajar, dan orang biasa. 

Menurut para sastrawan kisah merupakan, alat terbaik untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan dari pada cabang-cabang kesusastraan lainnya. Salah satunya adalah kisah burung pada kisah para nabi dalam al-Qur’an. Para burung tersebut sangat berperan dalam keutuhan kisah. Selain mempunyai peran, para burung tersebut juga membawa pesan moral yang mengandung beragam makna penting atas kekuasaan dan rahmat Allah swt. Mereka juga mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dalam kisah al-Qur’an. Seperti kisah burung hud-hud nabi Sulaiman yang menjadi pembawa berita tentang kerajaan Saba’ dan burung gagak dalam kisah Nabi Adam yang telah memberi tahu tata cara menguburkan orang yang sudah mati. Itu semua tidaklah suatu kebetulan, namun dibalik peristiwa itu ada suatu tanda yang memberi pesan moral dan manfaat bagi kehidupan manusia. Adapun tentang bahasa yang mereka gunakan, hal itu telah dibuktikan secara ilmiah dan pasti bahwasanya bahasa mereka tidak serupa dengan bahasa manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi di antara mereka. Oleh karena itu, pembahas berupaya mengungkap karakteristik, peran mereka dan pesan moral dari kisah para burung pada kisah nabi dalam al-Qur’an dengan menggunakan kajian kisah al-Qur’an.

Copyrights : Copyright (c) 2009 by Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

http://u1nsuk4.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka–liannurhid-3228 diakses tgl 5-12-2010 jam 09.00

Haji dan badal Haji

IMG0253A
Dalam kitab al-Mughni fi fiqhil haji wal Umrah susunan Sa’id ‘Abdil Qadir Basyinfar halaman 14 dijelaskan bahwa syarat-syarat orang yang diwajibkan menunaikan ibadah haji ada lima, yaitu : 1)beragama Islam 2)berakal sehat 3)sudah baligh 4) Merdeka (bukan hamba sahaya) dan 5)Isthitha’ah.Khusus mengenai syarat istitha’ah ditegaskan dalam al-Qur’an surat ali Imron ayat 97 yang artinya :Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Sa’id bin abdil qodir dalam kitabnya yang telah disebutkan diatas, setelah menguraikan pemahaman isthitha’ah menurut imam madhab empat (Abu hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan ahmad bin Hanbal), menyatakan bahwa pengertian isthitha’ah itu mencakup:bekal, kendaraan, keamanan dalam perjalanan, kesehatan badan, dan iklim politik yang kondusif.Mengenai isthitha’ah ini Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid juz 1 hal 233 membedakan menjadi dua macam, yaitu : pertama isthitha’ah untuk mengerjakan sendiri, dan kedua isthitha’ah dengan cara dihajikan oleh orang lain.Isthitha’ah macam kedua inilah yang dalam istilah sehari-hari disebut dengan badal haji.
Berkaitan dengan Isthitha’ah macam pertama Ibnu Rusyid menerangkan bahwa syarat yang harus terpenuhi ada tiga, yaitu: fisik orang tersebut memungkinkan untuk melaksanakan sendiri ibadah haji, memiliki harta yang cukup untuk melaksanakannya, dan keamanannya terjamin.
Sedangkan mengenai isthitha’ah macam kedua di kalangan para imam madhab terjadi perbedaan pendapat.Pendapat imam malik dan Imam Abu hanifah mengenai masalah ini adalah sebagai berikut : Malik dan abu hanifah tidak wajib digantikan orang lain apabila dia isthitha’ah sementara dia tidak mampu mengerjakannya sendiri.
Sementara menurut Asy-Syafi’i: Penggantian oleh orang lain dalam mengerjakan haji merupakan keharusan.Maka menurut madzhabnya (syafi’i) orang yang mempunyai harta yang cukup untuk mengerjakan haji apabila dia tidak dapat mengerjakannya sendiri, wajib digantikan oleh orang lain untuk mengerjakan haji denan hartanya.Demikian pula orang yang telah meninggal dunia sedang dia belum mengerjakan haji, maka ahli warisnya wajib mengeluarkan sebagian dari harta orang yang telah meninggal dunia tersebut untuk menggantikannya mengerjakan haji.
Perbedaan pedapat antara , Malik dan Abu Hanifah dan asy-syafi’i ini dinukil dari kitab Bidayatul mujtahid Juz 1 hal 233-234.Pendapat Malik dan Abu Hanifah mengenai masalah ini, sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut diatas, didasarkan pada qiyas yang menetapkan bahwa kewajiban seseorang untuk melaksanakan ibadah-ibadah itu tidak dapat digantikan oleh orang lain.Para Ulama sepakat bahwa kewajiban seseorang untuk mengerjakan sholat tidak dapat digantikan oleh orang lain.Demikian pula kewajiban seseorang untuk menunaikan zakat tidak dapat digantikan oleh orang lain.
Sementara itu pendapat Asy-Syafi’i didasarkan pada dua hadist dibawah ini:
Hadits pertama, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita dari kabilah khats’am memberitahukan kepada Rasulullah SAW bahwa ayahnya telah terkena kewajiban haji, namun dia telah lanjut usia dan tidak mampu naik kendaraan.Wanita tersebut bertanya kepada Rasulullah saw. Bolehkah aku menunaikan ibadah haji untuk ayahku? Beliau, menjawab : ya.
Hadits kedua, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita dari kabilah Juhainah memberitahukan kepada Rasulullah saw bahwa ibunya telah bernadzar untuk menunaikan ibadah haji, namun sebelum nadzarnya dilaksanakan dia meninggal dunia.Wanita tersebut bertanya kepada Rasulullah saw ; haruskah aku menunaikan ibadah haji untuk ibuku? Beliau menjawab : Ya, tunaikanlah ibadah haji untuk ibumu.
Berkaitan dengan masalah seseorang menggantikan orang lain menunaikan ibadah haji (menjadi badal haji), perlu dikemukakan penegasan As –Sayid sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah Juz 1halaman 538 bahwa seseorang yang menggantikan orang lain menunaikan ibadah haji disyaratkan dia sebelumnya harus sudah pernah menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri.
Persyaratan diatas didasarkan pada hadits riwayat Abu dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang laki-laki yang menunaikan ibadah haji menggantikan orang lain yang bernama Syubrumah.Rasulullah saw bertanya, kepada orang tersebut :Apakah kamu sudah menunaikan ibadah haji untuk dirimu sendiri ? laki-laki tersebut menjawab : Belum, maka, beliau memerintahkan laki-laki tersebut agar dia terlebih dahulu menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri, baru kemudian menunaikan ibadah haji menggantikan orang lain yang bernama Syubrumah.Amin